Saya terkejut dan senang ketika mengetahui kabar salah satu
band favorit saya akan menggelar konser di Jakarta. Buat saya, Guns N’ Roses
adalah salah satu inspirasi. Mereka memainkan musik rock yang liar, tanpa batas
dan begajulan. Like a real ROCKSTAR!!
Lengkingan Axl Rose, jiwa dalam solo gitar Slash, dan
kalemnya Izzy Stradlin adalah nyawa dari band ini. Sekarang, nyawa band ini
sudah hilang. Slash telah pergi membentuk Velvet Revolver, Izzy yang suka
menghindari perhatian publik itu kini entah kemana, dan lengkingan Axl Rose
sudah tidak sama lagi seperti dulu ketika dia masih muda.
Dan ketika anda lihat performa mereka sepanjang tahun 2012
di youtube, anda hanya akan melihat sebuah band usang yang sudah tidak ada
apa-apanya lagi. Band lawas yang masih mencoba memunguti sisa-sisa kejayaan
masa lampau namun level performa panggungnya jauh dari era keemasan mereka.
Axl? Sekarang dia tidak lebih dari pria gendut yang menolak
tua. Wajahnya telah dioperasi plastik, suaranya parau, range vokalnya semakin
pendek.
Formasi emas penghuni Rock and
Roll Hall of Fame GNR yang terdiri dari William Bruce Rose alias Axl Rose
(Vocal), Saul Hudson alias Slash (Lead Guitar), Jeffrey Dean Isbell alias Izzy
Stradlin (Rhythm Guitar), Michael Andrew “Duff” McKagan (Bass) dan Michael
Coletti alias Steven Adler (Drum) memang sudah tinggal sejarah, dan kini
tinggal Axl yang masih tersisa didalamnya. Pasti memang soul yang tercipta
sudah berbeda. Terlebih dari genjrengan gitar Slash dan Izzy. Mereka berdua
adalah duet gitaris terbaik sepanjang masa!
Kini GNR berisi personel-personel baru. Bumblefoot dan DJ
Ashba (Lead Guitar), Richard Fortus (Ryhthm Guitar), Tommy Stinson (Bass), dan
Frank Ferrer (Drum). Masih ada lagi keyboardis lawas Dizzy Reed dan Chris
Pitman pada Backing Vocal yang juga tercatat sebagai member resmi band. Total mereka
berdelapan. Itu band rock atau boyband? Ah sudahlah.
Kenapa Axl sampai menggunakan dua orang lead guitarist? Kenapa
harus memasukkan banyak orang untuk menjadi member Guns N’ Roses yang legendaris
itu? Kenapa, kenapa dan kenapa.
Banyak teman saya yang skeptis, bahkan hanya menggeleng
malas pada ajakan saya menonton konser ini. Seolah ajakan ini seperti halnya ajakan
program MLM. Mereka juga berkomentar macam-macam.
“Ini mah bukan GNR, tapi Axl Rose & Friends.”
“GNR sekarang beda, Axl Rose udah beda, musiknya juga udah beda.
Udah bukan GNR yang gue kenal.”
“Axl itu angin-anginan, sejam sebelum tampil dia bisa
seenaknya batalin konser.”
"Ini sih bukan GNR asli, tapi GNR Perjuangan!"
"Ini sih bukan GNR asli, tapi GNR Perjuangan!"
Lalu, apakah saya lantas tidak tertarik menyaksikannya
langsung di Senayan dua bulan lagi? No way!
Buat saya, GNR tetaplah GNR. Lagu-lagu mereka abadi dan
telah mengakar kuat.
Lagu-lagu mereka masih tetap setia di playlist dan setia
mengaum di audio mobil saya walaupun segerombolan anak muda penuh make up sudah
menjadi tontonan sehari-hari di televisi dan menggeser mereka.
Saya tetap dan akan menjadi fans mereka walaupun anak-anak
nongkrong minimarket menggeleng tidak tahu ketika mereka diperdengarkan November
Rain, atau ketika para cewek-cewek berteriak kalo lagu You Could Be Mine terlalu bising buat
mereka.
GNR adalah band favorit luar negeri nomor 5 saya setelah
Metallica, Megadeth, Van Halen, dan Mr. Big. Mereka adalah salah satu band yang
paling saya ingin saksikan langsung performanya. Saya sudah saksikan Megadeth
dan Mr. Big, untuk itu tidak ada alasan buat saya melewatkan konser GNR ketika
mereka hadir di kota saya.
Dan kebetulan tahun ini saya belum pernah sama sekali
menyaksikan konser rock, I mean benar-benar konser rock dari sebuah band rock
tersohor, walaupun mereka memang band lawas. Bicara musik, memang buat saya genre musik itu
hanya dua, yaitu rock dan non-rock. Dan dalam kasus musik rock, makin lawas
adalah makin keren!
Setidaknya seberapapun jeleknya performa mereka nanti,
mereka akan tetap membawakan lagu-lagu-lagu rock kebanggaan mereka, bukan lagu
band lain.
They are still Gun’s and Roses, no matter what they say.