Minggu, 14 Oktober 2018

Karena Jakarta Memang Keras

Beberapa waktu silam sempat baca thread di Twitter tentang kerasnya hidup di beberapa kawasan di Jakarta. Buat anak yang hidup normal dari kecil, lalu sekolah dengan bener, lalu dapet kerjaan di perkantoran mewah, mungkin hal-hal begini gak pernah ditemui, hanya sebatas dengar cerita orang lain. Buat yang kesehariannya kerja di kantoran mewah, lalu menghabiskan weekend nongkrong di mall besar, tinggal di perumahan mewah atau apartemen yang selalu dijaga satpam, mungkin kerasnya ibukota hanya mitos.

Tapi pasti ada aja lah pengalaman-pengalaman menyebalkan sekaligus ngeri-ngeri sedap meski hanya sesekali. Misalnya ketika kebetulan harus naik kendaraan umum karena suatu keperluan mendesak, ketika tidak sengaja berjalan melewati pasar atau terminal, ketika transit di stasiun untuk menuju ke suatu tempat, atau ketika terpaksa berjalan menyusuri titik-titik yang dikenal rawan kejahatan.

Tatapan-tatapan kosong tak bersahabat, maling-maling kelas teri yang senantiasa mengincar apa yang kita kenakan bagai gerombolan hyena, hingga polah preman yang memang selalu ingin mencari masalah. Inilah yang harus siap kita hadapi sebagai pengais rejeki ibukota.

Gua sendiri punya beberapa pengalaman soal itu. Gak banyak sih, dan mungkin buat elo yang baca, mungkin gak seberapa.

Preman di Stasiun Juanda
Banyak sekali kejahatan terjadi dengan latar belakang stasiun kereta. Waktu stasiun dan kereta rel listrik Jabodetabek belum serapi sekarang, gerbong kereta dan stasiun kereta adalah rumah bagi bermacam-macam orang. Pedagang asongan, pengamen, pengemis, preman, pengangguran, tukang parkir, anak punk, alay, anak sekolah, karyawan, orang tua. Ada pula suara tangisan bayi, pekikan emak-emak bercampur jadi satu dalam etalase komunal yang membikin hati tidak nyaman. Jangan pula coba-coba masuk ke toiletnya.

Waktu masih SMA, gue dan beberapa kawan pengen nyari sepatu di daerah Pasar Baru, makanya gue naik kereta sampai stasiun Juanda supaya ngirit ongkos dan waktu tempuh. Baru aja turun, suasana di stasiun udah bikin kewaspadaan meningkat. Bau pesing bercampur bau sampah makanan-makanan busuk sudah menyambut ketika baru melangkahkan kaki ke peron. Sejauh mata memandang, banyak gelandangan tidur di bangku besi atau bersandar seadanya di pilar-pilar. Lalu di tangga, banyak pengemis duduk berbaris. Di lantai bawah, ada sekelompok bapak-bapak main catur sambil memegangi puntung rokok yang sudah mau habis, sekelompok tukang ojek main gaple sambil teriak-teriak, anak-anak kecil berlarian sambil saling berteriak dengan makian kasar, juga preman-preman lokal yang memerhatikan penumpang yang baru turun.

Gue menangkap beberapa pasang mata preman itu mengintai kami, anak-anak sekolah lugu yang seperti mangsa lemah bagi mereka. Benar saja, ketika mendekati pintu keluar, salah seorang preman yang usianya seumuran kami memanggil-manggil dari kejauhan. “Woi! Woi! Anak mana lo pada? Ayo pada ke sini!” 

Sebuah panggilan familiar buat kami, anak-anak sekolah 90an yang sering menghadapi teror pemalakan dari anak sekolah lain atau dari preman sekolah yang sedang mencari jati diri. Kami mempercepat langkah. Si preman pemula tahu gelagat kami yang berusaha kabur. Tak mau kehilangan mangsa dan gagal dalam proses inisiasi di tongkrongan, dia mulai berlari kecil. "Senior-seniornya" hanya memerhatikan dari jauh. Mendengar langkah itu, kami bergegas masuk ke komplek pertokoan Pasar Baru yang ramai. Kami berhasil lolos, sementara si preman bau kencur itu mengoceh dan mengancam. “Awas lu pada nanti ye, gue tungguin lo di pintu keluar!”

Ancaman itu membuat perasaan tidak tenang. Kami lalu mencari-cari rute lain untuk jalan pulang dan memilih naik bus Patas AC buat pulang ke rumah.

Sopir Taksi Jagoan
Masih di stasiun, kali ini kejadiannya di stasiun Jatinegara. Gue bersama keluarga ketika itu baru pulang dari Surabaya. Bokap memang gak biasanya ngajak turun di stasiun ini, karena biasanya kami turun di Gambir. Alasannya lebih dekat menuju ke rumah. Kami pun mendapati suasana kumuh di stasiun itu, berbeda jauh dengan di Gambir.

Baru kami turun dan hendak mencari taksi, bapak-bapak paruh baya menawarkan ‘bantuan’. Ia lalu membawa kami ke sebuah taksi yang bukan Blue Bird. Ketika sampai, sopir taksi bermata sayu ini hanya diam saja. Ia tidak membantu membawakan barang, dan ketika kami masuk pun ia sama sekali gak tersenyum. Gue mulai merasa khawatir.

Keanehan berlanjut. Setelah menyalakan mesin, si bapak-bapak calo tadi mengetuk jendela sopir dengan kasar, yang kemudian dibuka dengan gestur malas dari si sopir sayu. Si sopir lantas mengeluarkan uang seribuan untuk si calo, yang langsung dibalas dengan gebrakan. “Kok cuman seceng? Kurang nih!” bentak si calo. “Ah bacot lo!” Si sopir taksi yang tadinya tak bersuara tiba-tiba berteriak seperti itu sembari melemparkan uang logam seratusan ke arah si calo dengan kasar. Gue yang duduk di kursi depan kaget, sementara bokap dan nyokap mencoba menyarankan si sopir untuk memenuhi permintaan si calo.

Tapi si sopir tetap bergeming. Ia malah bergegas jalan, kali ini sambil mengeluarkan makian selangkangan ke si calo, yang kemudian dibalas dengan pukulan ke body mobil. Taksi pun meninggalkan stasiun Jatinegara dengan tergesa, dan gue terdiam. Baru beberapa detik menginjakkan kaki di Jakarta udah ketemu beginian. Beginilah wajah asli kota ini.

Sepanjang jalan, si sopir taksi sama sekali gak mengajak ngobrol. Ia nampak masih kesal. Tambahan lagi, kelihatannya doi baru mengalami malam yang berat. "Mungkin baru ribut sama istrinya," batin gue. Cara menyetirnya jadi ugal-ugalan, tapi gue gak berani negor. Paling-paling hanya nyokap gue yang sesekali memekik karena ketakutan, dan bokap gue sesekali ngingetin dia untuk pelan-pelan. Tapi tetap aja si sopir jagoan ini gak menggubrisnya.

Untungnya, perjalanan ini berhasil kami lalui dengan selamat sampai di rumah. Nyokap pun langsung protes ke bokap. “Udah deh, lain kali turunnya di Gambir aja.”

DVD Binatang di Glodok
Dulu pas eranya DVD dan VCD, banyak yang berburu film porno di kawasan Glodok. Bener aja, pas gue ke sana bareng teman-teman, kepingan DVD bercover gambar porno ini sampai berkarung-karung banyaknya. Dijual murah pula di tempat emperan pinggir jalan. Kalo gak salah, harganya cuma 4 ribu rupiah per keping.

Ada satu teman gue yang tergoda untuk beli, tapi dia kemudian kecele karena begitu dipasang di pemutar film, isinya adalah video kehidupan aneka binatang, beda jauh dengan covernya. Padahal, tempat yang beneran jual film biru itu letaknya agak masuk ke dalam, dan film-film itu letaknya disamarkan dengan film-film normal lain. Harganya pun lebih mahal, di kisaran 10 ribu - 20 ribu per keping.

Anak Orang Kaya Manja Setan Jalanan
Pernah suatu kali gue pulang larut malam sekitar jam dua pagi karena harus menyelesaikan pekerjaan mendadak di kantor. Saat itu gue bawa mobil sendirian. Lagi enak-enak nyetir dengan kecepatan sedang di dekat Pasar Rumput, mobil di belakang gue main-mainin lampu dim. Gue waktu itu di ruas kanan. Bukannya dia lewatin gue dari kiri, dia malah terus main-mainin lampu jauh supaya gue yang minggir.

Karena lagi malas meladeni, gue pun mengalah dan minggir. Mobil geblek itu pun melewati gue sambil main-mainin pedal gas.

Tibalah gue di sebuah lampu merah, dan gak taunya mobil laknat itu sedang berhenti. Saat sejajar, gue sempat tengok ke kaca mobil itu, yang ternyata gelap. Gue gak mikir macem-macem sampai kemudian dia kembali mainin pedal gas. Norak banget, kaya anak kecil baru pertama kali nonton Fast & Furious.

Lampu berganti hijau, dia tancap gas dan ngebut. Gue cuma geleng-geleng lalu kembali ambil jalur kanan.

Eh gak lama kemudian, gue melihat lagi mobil sinting itu berjalan pelan di jalur kiri. Gue lewatin aja dong, walau pikiran mulai was-was. Bener aja, beberapa detik kemudian si jahanam kembali beraksi main-mainin lampu dim. Kali ini gue mulai kesel, dan gue bersikeras gak mau minggir. Gitu terus kejadiannya sampai lampu merah lagi. Dia kembali menyejajarkan mobilnya dengan gue, tapi tetep gak buka kaca, hanya main-mainin pedal gas.

“Dasar anak kecil cemen. Mungkin di sekolahnya dia terlalu sering kena bully kakak kelas.”

Dia pun terus melakukan itu. Mengintimidasi dengan lampu dim dan mengikuti gue sampai ke Depok! Gue pun berencana ngerjain anak ileran ini dengan membawanya ke daerah dekat rumah dan gue supaya dia kesasar biar tau rasa. Untungnya dia kayaknya udah bosen dan mungkin dia sadar karena udah main kejauhan. Mungkin juga udah ditelpon sama bokapnya yang nyariin mobilnya. Pas gue akhirnya belok ke arah jalanan dekat rumah, dia pun gak ikutan belok. Pastinya dia tersadar tiba-tiba sampai di planet Depok. Lumayan deh, gue jadi gak ngantuk, dan tanpa gue sadari, hanya setengah jam gue habiskan perjalanan dari kantor ke rumah, padahal biasanya satu jam lebih. 

Sebetulnya masih ada pengalaman-pengalaman unik lain. Contohnya: Sekelompok preman menyiram kaca dengan air sabun keruh dan memaksa minta duit, tukang parkir yang seenak jidatnya minta bayaran 20 ribu, pemotor yang nabrak spion tapi ketika diklakson langsung mengacungkan jari tengah, anak-anak kecil yang menunggui gue selesai makan lalu meminta sisa tulang ayam, aktivis kampus bohongan dengan jaket seadanya yang meminta-minta uang untuk membantu korban bencana, para pengemis yang menggunakan monyet untuk meminta-minta di dekat pintu tol, abang opang di kawasan industri yang terlihat gusar ketika tahu gue menggunakan ojek online, gerombolan berpeci yang menggetok mobil taksi yang gue tumpangi karena mereka anggap menghalangi jalan, mas-mas alim yang masih keranjingan judi bola, seorang mantan teman kantor yang dipenjara gara-gara menggelapkan uang klien, expat mantan kantor yang hobi bawa mbak-mbak idabul ke dalam ruangan kerjanya, sopir taksi bapak paruh baya yang dikasih tau jalan malah ngeyel dan marah-marah gak jelas, sopir ojek yang ngajak ngobrol terus-terusan ujung-ujungnya minjem duit dan ugal-ugalan ketika gak dikasih pinjem, penjaga toko yang judes dan sering ribut soal uang kembalian, operator pom bensin yang ngakalin meteran bensin, operator pintu tol yang sengaja ngejatohin uang kembalian, mekanik bengkel yang suka nawarin suku cadang "belinya lewat saya aja, mas", sopir taksi yang marah ketika uang kita kegedean, sopir taksi yang ngoceh gak habis-habis ketika diminta mengantar ke jalan tembus yang sempit, motor yang lewatin trotoar dan lebih galak ketika ditegor, preman komplek sok galak di komplek (tapi cemen di luar komplek), pak ogah yang memaki ketika gak dikasih uang, tukang parkir minimarket yang menyumpahi tabrakan ketika gak dibayar oleh seorang ibu-ibu motor matic, peminta sumbangan bermodal map lusuh dan kertas entah asli atau bohongan, pengamen yang cerita baru keluar dari penjara, mbak-mbak penjaga toko baju metal yang minta nomor henpon, tukang tambal ban yang menolak kerjaan dengan alasan sudah malam, bapak-bapak yang pura-pura salah ambil tas di restoran, bapak-bapak yang asal ambil koper di bagasi bandara, bapak-bapak komplotan copet henpon di angkot, dan lain-lain. 

Bad souls di Jakarta inilah yang ikut membentuk Jakarta yang keras. Mereka di sekitar kita, dan karena itu kita harus 'sadar ruang'.

Minggu, 23 September 2018

Hilangnya Sebuah Kehilangan Besar

Pada suatu sore yang sejuk, gue sudah berseragam lengkap di pinggir lapangan sepak bola. Mamang manajer tim meminta gue bersiap-siap untuk masuk. "Dit, sana pemanasan, bentar lagi elu masuk," pintanya. Lalu gue pun bersiap mengenakan sepatu berwarna putih yang sudah kesempitan, juga kaus kaki yang tidak standar karena terlalu pendek. Kardus air mineral pun gue sobek untuk gue jadikan pelindung kaki karena gue gak bawa. Gue pun bangkit melakukan pemanasan seperti layaknya atlet betulan sambil sesekali menengok ke arah penonton yang mulai membludak.

Tapi sejurus kemudian, ketika si Mamang bersiap menyerahkan secarik kertas pergantian pemain untuk diberikan kepada panitia pertandingan, gue mendadak berubah pikiran.

"Bang, gue kagak jadi main deh."
"Lah, emangnya ngapa?"
"Kagak ngapa-ngapa, ngasih kesempatan aja buat yang muda-muda"

Mamang manajer yang juga didampingi Pak RW pun hanya menggeleng-geleng melihat kelakuan gue ini. "Ah elu. Bisanya ngeles doang." Gue pun nyengir-nyengir.

Logika sebagai pekerja kantoran membuat gue mikir-mikir untuk melakukan aktivitas fisik yang terlalu berat saat berakhir pekan. Aktivitas yang boleh jadi udah gak bisa ditolerir badan gue yang udah terlihat mengalami fase degeneratif. Catatan kesehatan gue senantiasa buruk karena kadar kolesterol dan tekanan darah yang di atas normal. My heart says let's go, but my body says noKebalikannya dari lagu Jin Dalam Botol-nya Christina Aguilera. Jangan sampai faktor kesehatan ini mengganggu pekerjaan. Bisa berabe urusannya. 

Gue pun kembali duduk, melepas sepatu, mengganti kaus, membeli telor gulung dan menyesap kopi sachet (gak mau main bola, tapi makan sembarangan. Sama aja dong, Maleehh), lalu menikmati jalannya pertandingan sebagai penonton yang diiringi logat Betawi-Depok kocak dari pemandu pertandingan. Juga terdengar sayup-sayup pekikan dan teriakan emak-emak yang khawatir anaknya kena sleding. Man, betapa indahnya sore itu. Kadang, elo hanya harus menikmati hal-hal kecil untuk mengadapi permasalahan besar seputar menjadi orang dewasa.

Tapi hal ini juga membuat gue berpikir keras. Sepuluh-lima belas tahun lalu, gue bisa memohon-mohon untuk bisa main di lapangan ini di hadapan banyak orang, tapi ketika kini kesempatan itu datang, gue malah melewatkannya. Agaknya, impian ini sudah lama terevisi, dan kejadian ini hanya memberi afirmasi saja.

Gue tahu, saat itulah gue sudah kehilangan sebuah kehilangan besar. Hilangnya sebuah kehilangan besar akibat tidak main sepak bola.

Dulu ketika masih suka baca kumpulan cerita pengembangan diri bernama Chicken Soup (pasti tau lah), ada sebuah kisah cinta picisan yang sampai sekarang masih gue ingat. Judulnya adalah Hilangnya Sebuah Kehilangan Besar. Inti ceritanya adalah seorang cowok yang nyesel karena gak berani ngajak jalan gebetannya. 

Betapa dia menyesali sikapnya yang cemen itu, karena menurut dia, hal terburuk yang paling mungkin terjadi adalah, paling-paling, ajakannya ditolak oleh si gebetan. Tapi setidaknya, dia gak lagi penasaran. Begitulah, kemudian ia menyesal karena sudah kehilangan kesempatan untuk mencoba hal yang harusnya ia coba.

Gue juga pernah di usia-usia itu, di saat-saat itu. Tapi dulu sih gue gak begitu-begitu amat karena fokus dan kecintaan gue hanya untuk sepak bola.

Beneran, gue gak pernah merasakan yang namanya patah hati atau sedih tak berujung yang gitu-gitu amat hanya gara-gara perempuan. Gue baru merasakan sedih luar biasa itu ketika tim sepak bola gue kalah. Kalo gak percaya, tanya aja ke beberapa orang yang kenal. Dulu gue juga merasa kehilangan ketika gak sempat bermain sepak bola akibat terlalu banyak jadwal bimbel dan kursus. 

Betapa besarnya kecintaan gue pada olahraga ini, memang membuat gue banyak sekali melakukan hal-hal yang gak masuk akal. Gue rela gak jajan agar bisa membeli jersey tim favorit dan mengoleksi kartu bergambar pemain bola. Gue juga selalu begadang untuk nonton bola meski besoknya ulangan. Gue juga dengan senang hati menghabiskan waktu di depan layar kaca saat malam minggu tiba untuk nonton bola, di saat remaja-remaja normal lainnya pacaran. Gue juga pernah memberi ultimatum kepada teman gue yang kepanyakan pacaran hingga gak pernah main bola lagi. "Elu pilih pacar apa bola? Kalo pacaran melulu mendingan gak usah main bola lagi di tim ini!" Dan teman gue itu pun mutusin pacarnya, pada akhirnya.

Sepak bola membuat yang lain terlihat biasa-biasa aja, dan membuat gue berani melawan apa saja, termasuk menegor teman gue yang suka buang-buang waktu untuk kegiatan gak penting seperti pacaran. 

Sampai sekarang pun ketika gue udah jadi bapak-bapak beranak dua dan udah jadi karyawan yang senantiasa mengalami stress pekerjaan, ada beberapa hal di dunia sepak bola yang gue gak bisa tinggalkan sepenuhnya. Gue tentunya masih menonton, meski intensitasnya sudah menurun. Gue juga masih rutin mengikuti perkembangan sepak bola dan masih menulis sepak bola ketika sempat. Bahkan gue masih mengerjakan naskah buku yang akan terbit. Selain itu, gue juga masih suka mencari-cari stadion sepak bola di kota mana pun yang gue kunjungi. 

Akan tetapi, ada satu aspek yang kini hilang, yaitu semakin malasnya gue bermain sepak bola. Padahal, 3 tahunan lalu aja, gue masih getol untuk sekadar bermain futsal kalau diajak. Tapi sekarang, semua rasa itu seperti menghilang. 

Banyak yang bilang bahwa ini adalah faktor U, alias umur. Memang benar, tapi ini hanya salah satu faktor. Sekarang ini, gue sudah kehilangan keinginan untuk bermain bola di lapangan meskipun kesempatan itu terbuka lebar. Kadang memang gue delusional, berharap masih punya tendangan yang keras dengan kaki kanan dan kiri yang sama-sama hidup, lari yang cepat, gerakan yang lincah, dan umpan-umpan yang elegan. 

Menjadi dewasa telah membunuh keinginan-keinginan lain yang dulunya mudah saja untuk dilakukan. Terlalu banyak pertimbangan, terlalu banyak kekhawatiran, terlalu banyak pikiran ini-itu, yang padahal belum tentu terjadi. Tidak lagi mau bermain bola semakin menegaskan hal itu. Don't grow up, it's a trap!


Minggu, 16 September 2018

Mobius, Gagalnya Sebuah Honey Trap

Buat yang doyan dengan film-film spionase namun kental dengan drama dan percintaan, film Mobius (2013) bisa menjadi pilihan. Gue baru nonton film ini semalam ketika ditayangkan di TV kabel, dan karena serunya film ini, gue sampai rela melewatkan sebuah pertandingan Serie A Italia pada jam yang sama.

Spionase memang sebuah kegiatan rahasia pemerintah untuk tujuan tertentu. Yang terlibat dalam praktik ini bukan orang-orang sembarangan. Meski hanya tahu dari film, namun tentu saja ini menggambarkan kenyataan yang ada. Film mungkin memberi terlalu banyak bumbu untuk kepentingan penikmatnya yang memang menantikan sebuah pertunjukan, dan bahkan bumbu-bumbu ini kadang mengalahkan esensi dari filmnya. Ibarat masakan, kadang sambalnya lebih utama ketimbang daging atau ayamnya. Tapi di Mobius, unsur drama dari sebuah operasi honey trap saja sudah jelas akan mengalahkan tujuan utama dari operasinya. Di sini, justru intrik dan roman dari dua tokoh, yaitu Gregory Lioubov dan Alice Redmond menjadi inti dari film.

Dilihat dari nama, sudah jelas asal muasal dari kedua tokoh ini. Gregory adalah seorang Rusia dan Alice adalah seorang Amerika. Cerita di film ini mengisahkan romansa terlarang yang terjalin antara dua kutub yang berbeda haluan dan tujuan.

Akan tetapi karena mereka berdua berada dalam naungan dua agensi besar, FSB dan CIA, kisah cinta ini berubah dari hubungan sembunyi-sembunyi menjadi sebuah honey trap. Seperti diketahui, honey trap adalah sebuah taktik yang lumrah digunakan dalam praktik spionase, yaitu meminta agen menyamar dan bahkan mengizinkannya terlibat dalam hubungan emosional dan intim dengan salah satu orang penting dari lawan demi memperoleh informasi-informasi yang sifatnya rahasia, yang tujuan akhirnya tentu saja melucuti dan melumpuhkan lawan.

Awalnya, keterlibatan dua agen ini adalah untuk menyelidiki seorang oligarki Rusia, Ivan Rostovskiy. Berlatar Eropa (Monako, Moskwa, London), film ini juga menyajikan tiga bahasa untuk dialog, yaitu Prancis, Rusia dan Inggris. Rostovskiy dicurigai atas kegiatan-kegiatannya pencucian uang dan kejahatan transaksi finansial.

Gregory dan Alice awalnya berada di pihak yang sama. Alice, seorang ahli finansial yang mengklaim seorang diri meruntuhkan Lehman Brothers ke dalam krisis, juga pernah meramalkan krisis terhadap negara Spanyol, adalah seorang Amerika yang dilarang bekerja di negaranya karena keruntuhan Lehman Bros yang ia sebabkan. 

Ia kemudian diminta untuk menyelidiki Rostovskiy oleh FSB, yang juga bekerjasama dengan agensi Monako dan Prancis. Alice yang memang memiliki pesona, lantas membuat Rostovskiy terpikat dan malah ingin merekrutnya. Rostovskiy bahkan tertarik secara romansa juga kepada Alice. Ketika Alice dianggap tidak terkendali dan malah membahayakan misi, pimpinan FSB meminta Gregory untuk ikut menyeldiki Alice.

Ketika akhirnya Gregory menemui langsung Alice, ia langsung merasakan hal yang lain. Ternyata hal itu juga dirasakan Alice. Singkat cerita, mereka pun melakukan hubungan terlarang dan sering sekali bertemu. Dan ternyata lagi, keberadaan Alice juga dimanfaatkan oleh....CIA. 

Kisah ini kemudian berkembang lebih jauh, di mana keterlibatan CIA yang juga memiliki keinginan untuk menangkap Rostovskiy. CIA pun mengintai dari jauh misi ini bagaikan seekor singa yang sabar dalam mengincar mangsanya. Dalam misi ini, CIA juga melihat peluang lain, yaitu menyabotase FSB. Situasi inilah yang kemudian membuat Alice berdiri di dua pijakan, alias menjadi agen ganda.

CIA pun mengorkestrasi operasi menjadi sebuah honey trap. Mereka menggunakan Alice untuk menyabotase FSB lewat Gregory, padahal Alice juga tidak tahu bahwa Gregory adalah agen FSB. Alice sendiri tidak tahu bahwa hubungan romansanya dengan Gregory dimanfaatkan oleh CIA, karena yang ia pahami adalah bantuannya kepada CIA akan membersihkan namanya di kampung halamannya, tanpa ada sangkut pautnya dengan Gregory atau FSB.

Honey trap ini memang berhasil menyabotase FSB, di mana reputasi pimpinan teras FSB tergerus akibat keterlibatannya di saga Rostovskiy ini. Tapi bagi Alice dan Gregory, honey trap ini ternyata tidak menghalangi romansa yang telah mereka jalin dengan penuh emosional. Pada akhirnya, tagar #lovewins juga berlaku di film ini, di mana hubungan keduanya berlanjut meski awalnya berbeda kubu. Api romantisme ini sukses dikipas-kipasi oleh sutradara Eric Rochant di antara konflik geopolitik tingkat tinggi dan transaksi-transaksi finansial yang bisa meruntuhkan sebuah perusahaan besar atau sebuah negara besar.

Minggu, 05 Agustus 2018

Si Doel The Movie: Galeri Realita Yang Bukan Nostalgia Belaka

Saat para lelaki jomblo akut termehek khusyuk di atas flyover atau di tangga darurat karena 'modus-modusnya' tak kunjung meluluhkan hati para gebetan, Bang Doel malah ikut termenung dan menangis di atas trem yang membawanya ke pusat kota Amsterdam. Padahal, Bang Doel berada di antara dua wanita cantik, Sarah dan Zainab, yang sama-sama mencintainya dengan tulus. Kenapa mesti kaya begitu, Bang Doel? Kok jadi ibarat tikus mati kelaparan di lumbung padi? 

Kira-kira begitulah premis ngasal yang saya pertanyakan kepada Bang Kasdullah, atau dikenal dengan Doel, anak Betawi asli, mantan penarik oplet yang akhirnya sampai juga ke ibukota Belanda, negara yang juga episentrum filosofi Total Football yang termahsyur itu.

Doel yang kembali muncul mewarnai khazanah perfilman Indonesia setelah empat belas tahun lamanya menghilang (tidak pakai istilah purnama, seperti film yang satunya lagi itu), memang pintar sekali menarik minat penonton 90an yang begitu haus dengan yang namanya nostalgia. Berangkat dari serial 'pendobrak' yang mewarnai masa kecil tontonan berkualitas anak-anak 90an, Si Doel pun menjadi idola. Bukan hanya bagi anak Betawi, tapi juga bagi sebagian anak-anak Indonesia.

Film Si Doel sedari dulu memang menawarkan bumbu utama tragedi dan kesedihan, yang tentu saja diselingi komedi dalam bentuk pemarahnya Mandra, liciknya Mas Karyo, genitnya Engkong Ali, dan slebor-nya Atun. Tragedi yang disiarkan memang tidak jauh dari kehidupan sehari-hari. Meninggalnya Babe Sabeni, berantakannya percintaan Mandra dengan Munaroh, cinta Koh Ahong kepada Zainab yang terus bertepuk sebelah tangan, hingga kabur-kaburannya Mas Karyo setiap mendengar suara kang kredit panci yang datang menagih hutang.

Kini setelah 14 tahun berlalu dan kembali dalam bentuk film layar lebar, Doel pun masih menawarkan bumbu yang sama. Sebelumnya, saya kasih spoiler alert dulu ya, tapi memang sulit menuliskan komentar film ini tanpa menyebutkan inti ceritanya. Yang jelas,  kemalangan, cinta segitiga, cinta bertepuk sebelah tangan, hingga kelucuan yang ditimbulkan Bang Mandra masih menjadi bumbu-bumbu lezat di film ini. Namun jangan khawatir, ada satu lagi tambahan konflik dan haru-biru bagi Bang Doel, yaitu tentang kegetiran hubungan ayah-anak yang terpaksa harus dipisahkan benua dan samudera.

Doel memang masih menjadi potret anak Betawi membanggakan. Diceritakan sebagai satu-satunya anak Betawi yang 'mentas' di kampungnya, dalam artian mampu menyelesaikan kuliah sampai tingkat sarjana, yang oleh Babe Sabeni disebut sebagai 'Tukang Insinyur'. Doel juga mampu 'menyingkirkan' para pesaing dalam memperebutkan posisi di sebuah perusahaan yang bonafide, dan Doel mampu memperistri seorang wanita cantik keturunan Eropa yang kaya raya. Sebuah versi American Dream dari seorang anak Betawi.

Meski kehidupan telah membawanya jauh dari penarik oplet menjadi seorang insinyur lepas, Doel tetap rajin sembahyang dan megaji hingga di negeri Belanda sekalipun. Doel juga masih sering merenung, pola pikirnya makin filosofis, tindak-tanduknya selalu dipikirkan, dan ia juga makin berkharisma. Perangai dan pembawaan seperti inilah yang kemudian membawanya kepada persoalan yang bittersweet dengan dua wanita cantik sekaligus. Sarah dan Zainab sama-sama mencintainya dengan tulus, meski terlihat jelas hati Doel lebih berat ke Sarah.

Penonton pun diajak menyelami sendiri jalan cerita yang terjadi selama empat belas tahun terakhir. Dalam waktu nyaris dua windu ini, banyak sekali yang sudah berubah, yang kemudian makin menambah bumbu tragedi dan kesedihan dalam film. Bang Mandra yang masih membujang dan jadi pengangguran, Atun yang jadi single mother setelah ditinggal mati Mas Karyo, Mak Nyak yang sakit keras, Koh Ahong yang masih aja ngejomblo meski pabrik batako miliknya makin berkembang, hingga Hans dan Doel yang bernasib sama: ditinggal isteri masing-masing.

Balutan tragedi ini bercampur aduk dalam satu bingkai film, yang dengan apik dipaparkan sepanjang kurang-lebih 90 menit lamanya. Menjadikan film ini seperti layaknya galeri realita yang harus dihadapi dengan perjuangan yang tangguh, alih-alih mempertontonkan hegemoni dan hedonisme. Meski berlatar di Amsterdam, namun Hans dan Sarah diperlihatkan memiliki kehidupan pekerja atau usahawan biasa, bukannya sebagai gambaran orang kaya Eropa yang bebas plesiran dan mem-posting makanan enak, karya seni nan eklektik, bangunan kuno Eropa yang kaya akan sejarah, atau suasana pedesaan yang kental nuansa folk seperti halnya gambar dalam kemasan-kemasan produk makanan atau minuman mereka. 

Seperti yang Hans bilang kepada Doel ketika melihat Doel yang asyik menikmati kota, Hans pun mengungkapkan sebuah potret realita. Ia yang sebagai penduduk asli di Amsterdam sudah tidak bisa lagi menyelami kedamaian dan keindahan kotanya sendiri, seperti yang Doel rasakan sebagai turis. Bagi Hans dan jutaan penduduk Amsterdam lainnya, jika malas, maka ia akan tergeser dan tertendang. Amsterdam tidaklah ubahnya Jakarta, ibukota yang lebih kejam daripada ibu tiri.

Doel pun tidak digambarkan telah memiliki kehidupan yang sangat mapan. Katakanlah, ia belum mampu memanjat hingga tangga tertinggi di korporasi yang bengis, dan mungkin karena idealismenya, ia memilih bekerja sendiri sebagai tenaga ahli lepas. Doel juga mungkin menjalani hidup seperti kita-kita, yang hidup sebagai bagian dari sandwich generation yang harus menanggung beban bukan hanya untuk keluarga kecilnya, tetapi juga keluarga besar. Mungkin karena alasan inilah, plus karena Emaknya sakit keras, Doel masih tinggal di rumah orang tuanya, bukannya di rumah sendiri yang dicicil dengan program KPR berjangka panjang sekaligus berbunga mencekik seperti yang dialami kebanyakan kita-kita ini, tidak pula mengemudikan mobil Jepang mewah kreditan, malah menggunakan jasa taksi daring ketika berangkat ke bandara.

Tapi dari perspektif film, bisa saja memang kehidupan Doel sengaja dibuat masih menempel dengan masa lalunya. Rumah yang sama, oplet yang sama, warung yang sama. Hanya saja kini Mandra sudah dibikinkan kamar di belakang rumah, tidak lagi dibiarkan tidur di oplet atau bale sambil dinyamukin. Karena Mandra pula, film ini jadi seru dan lucu. Mandra yang multi-talented namun underrated ini memang berjasa besar menyemarakkan film. Bahkan, Mandra tidak hanya menunjukkan kekonyolan yang bikin malu Doel seperti halnya saat ia cuek mengenakan sarung di depan Bandara Schipol. Dalam satu bagian, Mandra juga berubah menjadi sosok paman yang mengemong Doel yang masih saja tidak bisa bersikap tegas kepada wanita-wanita di sekelilingnya meski sudah jadi bapak-bapak. Mandra seolah ingin mengembalikan jati diri Doel sebagai anak Betawi, yang harusnya tetap bersikap santai dan tidak berpikir terlalu berat ketika sedang dirundung masalah.

Tanpa Mandra dan celetukannya, film ini memang hanya nostalgia belaka. Tapi dengan Mandra, film ini membungkus nostalgia yang penuh makna sekaligus canda. 

Minggu, 22 Juli 2018

Degeneratif

Ketika saya lebih suka langsung pulang ke rumah selepas bekerja ketimbang ngopi di kafe, dan ketika saya merasa bahwa kurang tidur lebih berbahaya daripada kurang gaul, saat itulah saya merasa mulai menua.

Ternyata, saya tidak sendirian. Ketika bertemu beberapa teman-teman seangkatan, mereka juga mengatakan hal yang senada. Mereka bilang kalau sofa buluk di rumah, anak-anak yang lincah dan istri yang cerewet di dalam rumah yang masa cicilannya masih panjang adalah tempat paling nyaman di dunia. Lebih nyaman daripada kantor, kafe atau tempat nongkrong. Mindset yang bapak-bapak banget kan?

Ada tanda-tanda lain yang tidak hanya dari berupa mindset atau pola pikir saja. Tanda-tanda ini malah berupa yang kasat mata dan sifatnya fisikal terjadi. Saya kasih beberapa contoh.

Seorang teman yang dulunya saya kenal cukup fit karena ia memang rajin berolahraga, tiba-tiba menceritakan tentang kejadian tak biasa yang baru saja ia alami di lapangan basket.

Ketika sedang bermain bola basket santai sepulang dari kantor, ia berbenturan dengan kawannya dalam perebutan bola rebound. Biasanya, ia dapat dengan mudahnya menemukan keseimbangan sehabis benturan, tapi pada saat itu, ia langsung terpental dan terjatuh, dan bahkan ia butuh uluran tangan dari temannya untuk bangkit. Lutut, engkel dan pinggangnya sudah tidak kuat lagi menahan berat badannya yang baru saja terpental. Seketika, ia pun merasa tua, dan mulai sekarang ia tidak lagi berlagak seperti Karl Malone di masa jaya.

Lain lagi dengan teman saya satu lagi. Tanda-tanda fisik ia alami, bahkan ketika tidak berolahraga. Ia mengaku kini mudah mengantuk dan tidak terlalu doyan makan. Ketika saya sedang makan siang dengannya, ia hanya mengemil dan malas 'makan berat'. Ia hanya membeli setangkap roti dan segelas kopi untuk makan siang, padahal dulunya sering makan porsi besar nasi padang atau nasi rames. Di atas jam 8 malam, matanya juga sudah mengantuk, dan ia mengaku tidak sanggup lagi untuk bekerja lembur seperti halnya sepuluh tahun silam.

Dari dua cerita itu, ternyata memang benar kalau saya dan teman-teman seangkatan memang tengah mengalami faktor yang sering diucapkan dengan nada meledek, yaitu 'Faktor U', alias Faktor Umur, yaitu kondisi di mana Tuhan mulai mengambil sedikit demi sedikit kelebihan fisik yang sebelumnya kita nikmati. Selamat datang, fase degeneratif!

Dengan begini, saya jadi perlu mengatur ulang skala prioritas, memperkecil lingkaran pergaulan, dan memfokuskan diri pada hal-hal yang memang harus saya lakukan saja. Sesederhana itu.

Sebuah cara hidup yang sesederhana pergi ke toilet, yaitu selesaikan urusan, bersihkan, lalu tinggalkan. Jangan terlalu banyak dipikirkan.

Ps: Buat yang ngeledek "Tua", mendingan pikir-pikir lagi karena gak ada yang menjamin kalo elo bakal masih dikasih umur untuk bisa merasakan umur kaya gue sekarang. Hahahaha.

Alternate Universe

Sembari jari tangan tetap mengetik di laptop kantor, mata saya mencuri pandang ke sudut kanan bawah monitor: melihat jam. Alangkah kagetnya saya ketika waktu menunjukkan pukul sembilan malam. Bagi para workaholik, jam sembilan malam mungkin baru permulaan. Ibarat seniman, inspirasi sedang meluap-meluapnya. 

Tapi maaf, saya bukan dan tidak pernah menjadi seorang workaholik. Saya bahkan tidak mau ikut-ikutan memposting tulisan bertema glorifikasi akan kesibukan bekerja yang memperlihatkan betapa dibutuhkannya saya oleh perusahaan.

Malam itu adalah malam minggu. Malam di mana seekor kerbau yang badannya luar biasa kuat itu pun sedang tertidur pulas setelah lelah seharian membajak sawah. Saya tidak mau sih dibandingkan dengan kerbau, yang saya inginkan adalah pulang ke rumah, menikmati waktu tidur singkat yang berkualitas, dan mengumpulkan tenaga lagi karena hari senin sudah dekat dan rutinitas berjibaku dengan para komuter akan segera kembali.

Selama perjalanan pulang naik kereta, pikiran saya menerawang ke masa dua dekade lalu. Tepat tahun 1998, saya masih duduk di bangku kelas 3 SMP. Bersiap mengikuti ujian akhir, saya teringat betul bahwa saya sama sekali tidak merasa terbebani untuk bisa masuk sekolah favorit. Karena itu memang bukan impian saya, melainkan impian orang-orang terdekat.

Saya punya impian sendiri, yang sayangnya tidak pernah benar-benar terwujud. 'Tidak pernah benar-benar' ini maksudnya adalah saya setidaknya sudah berhasil mencapai beberapa tonggak penting, tapi tidak pernah benar-benar menjalaninya dalam keseharian, seperti orang LDR aja.

Konsep 'menjalani hidup orang lain' dan menjalankan profesi yang 'baik di mata orang lain' akhirnya saya telan. Kadang bikin pengen muntah kalau saya ada hal-hal yang bikin jengkel. Tapi pada akhirnya, saya harus menerima. Saya pun menemukan lebih positif ketimbang menyikapi dengan sinis terus menerus. Yah, misalnya kata-kata 'menjalani impian orang lain' bolehkah diganti menjadi 'membahagiakan orang-orang terdekat' atau 'menjalani hidup yang bermanfaat'.

Seandainya saya bisa memutar waktu ke bangku SMA, saya mungkin akan memaksa orang tua saya untuk bersekolah di fakultas sastra untuk menjadi penulis. Bukan penulis yang suka mengarang buku sih, tapi maksudnya menjalani hidup dengan menulis, bukan berhitung atau berbicara, apalagi berdebat.

Ini adalah dunia paralel yang saya akan jalani jika memilih jalan ini. Saya mungkin akan bekerja sebagai redaktur di sebuah penerbitan, koran atau majalah. Atau mungkin malah memulai karier dari bawah sebagai reporter, lalu kemudian berangsur menjadi editor atau produser. 

Enak sekali membayangkan itu. Memiliki akses tak terbatas pada event olahraga di stadion besar, memotret dari dekat atlet-atlet berjibaku di lapangan atau gelanggang, membidik dukungan para penonton, mewawancarai pelatih. Rasanya hal itu sudah menyenangkan saya. Berada di stadion lebih saya nikmati daripada berada di gedung pencakar langit.

Saya mungkin akan tetap berambut gondrong, tidak punya mobil.. hanya punya motor bebek nyaman yang jarang dipakai berboncengan. Saya juga akan menghadapi risiko kamera dirampas oleh petugas keamanan, tulisan didikte atasan, tulisan dihina oleh geng mas-mas genius, hingga tulisan dikritik oleh netizen yang maha benar dengan segala firmannya... 

Dan entah kenapa, kalau saya menjalani hidup di alternate universe ini, saya yakin kalau saya masih nyaman menjomblo di usia 35an. Ya bagaimana enggak, dengan penghasilan yang tidak seberapa tapi penampilan idealis dan rambut gak trendy, sulit berharap ada cewek kinclong millenial melek finansial yang menaruh minat.

Setidaknya, begitulah bayangan saya dalam bekerja sebagai orang media. Dan begitulah alternate universe saya.

Pada alam yang nyata, bukan alternate universe, saya mengambil jalan aman. Saya menjadi orang lain, saya membangun profil yang bisa diterima dengan baik oleh orang-orang, saya menjadi karyawan di gedung bertingkat tinggi yang memakai baju rapi, dan saya mengenal beberapa teman ambisius yang doyan menciptakan suasana hostile di kantor tapi menampakkan senyum berseri-seri di media sosial.

Menjalani hidup predictable seperti ini terlihat lebih gampang. Orang-orang di LinkedIn mengagumi profil saya dan tempat kerja saya, keluarga mendukung, para kerabat memandang dengan positif saat lebaran, dan kawan-kawan semasa sekolah juga memberikan selamat ketika kami berkumpul di acara reuni.

Ini memang jalan yang aman, tapi ini bukan jalan impian. Sayangnya, saat kita sadar tentang apa yang harus kita lakukan untuk hidup, semuanya sudah terlambat, dan jika kita nekat untuk berpindah jalan, maka kita mungkin akan terkena masalah baru.

Sekali lagi, jalan ini adalah milik orang-orang terdekat, di mana saat ini saya mendedikasikan hidup saya untuk mereka.

Tapi saya yakin, akan ada saatnya suatu hari nanti, jalan alternatif ini akan beririsan dengan jalan yang sedang saya tempuh. Semoga Allah ridho.

Jumat, 09 Februari 2018

Jabatan

Setelah enam tahun bekerja di perusahaan yang sama, akhirnya saya keluar juga. Tawaran ini datang tepat waktu saat saya memang sudah kepengen berganti suasana dan belajar ilmu baru. Uniknya, saya pindah ke sebuah perusahaan dengan nama populer berawalan huruf D, sama seperti perusahaan sekarang dan sama dengan tempat saya bekerja sebelumnya.

Pertanyaan-pertanyaan dari para kolega pun berdatangan. Umumnya mereka menanyakan empat hal: 1. Naik gaji berapa persen; 2. Posisi/jabatannya apa; 3. Nama kantor baru; 4. Lokasi kantor baru.

Di antara pertanyaan itu, saya paling sering mendapatkan yang nomor 2. Entah berapa orang yang menempatkan persoalan posisi atau jabatan itu sebagai prioritas utama. Jadi, jika mendapatkan kenaikan posisi, maka poin-poin lainnya bisa diabaikan. Pokoknya, posisi lah yang utama. Karena konon katanya posisi ini akan menentukan seberapa besar gaji yang diterima, fasilitas yang dinikmati, dan tentunya hal yang kini sangat mengemuka: GENGSI.

Posisi memang bukan hal sepele. Menyepelekan posisi atau jabatan berarti tidak menghargai perjuangan diri sendiri yang sudah bersusah payah menapaki tangga curam korporasi yang bengis, penuh intrik, drama dan sikut-menyikut. Dan jangan lupa, sejelek-jelek sikap adalah meremehkan diri sendiri. Jadilah banyak sekali orang begitu bangga memaparkan perjalanan kariernya kepada sanak saudara, kerabat atau teman sekolah untuk dijadikan ukuran atau patokan kesuksesan manusia modern.

Dan belakangan ini, entah kenapa saya sering banget melihat teman-teman memajang foto bareng acara kumpul-kumpul kece. Mereka yang fotonya dipajang ini tentunya bukan orang sembarangan. Ada bos besar, ada investor tajir, atau ada pula mereka yang menduduki posisi strategis. Berfoto dengan orang-orang sukses seperti ini tentu saja membanggakan, dong. Kita berada satu circle dan mungkin saja satu grup whatsapp dengan para "big man". Foto-foto pun dengan gampangnya kita kasih kepsyen kece: Bersama bos PT A, juragan PT B, dll. Kalo elo gak punya jabatan kece yang bisa ditulis dengan indah di bagian kepsyen foto, jangan harap deh bisa ikutan nongkrong. Ora sudi!

Dengan membaurkan diri bersama orang-orang sukses, maka kita akan tertular dengan kebiasaan dan tindak-tanduk mereka. Sukses pun akan gampang diraih. Sukses apa? Ya sukses secara materi lah: Rumah mewah, mobil mewah, liburan mewah. Dan semua itu bisa kita dapatkan jika kita punya JABATAN.

Kalo gitu, saya mah apa atuh..