Jumat, 01 Februari 2013

The Art of "Nyepet"

Sesuatu mengusik pagi hari datar saya. Ketika iseng membuka twitter, saya tersenyum melihat orang-orang yang saya kenal sedang beradu argumen.

Ya, mereka menunjukkan ekspresi, emosi dan mencurahkan perasaan lewat mikro blogging ini. Tidak peduli bahwa luapan emosi dan segala tingkah polah itu dilihat oleh banyak orang.

Semua diawali dengan nyepet.

Nyepet memang kosa kata baru tapi lama. Ada yang bilang artinya adalah nyela karena kepepet, nyela yang nyerempet-nyerempet, atau lainnya. Intinya, nyepet berarti kita mencela perbuatan seseorang, atau mengkritik seseorang. Ingat, mencela perbuatan lho, bukan mencela orangnya.

Nyepet ini sebenarnya seru. Kita dibebaskan memainkan kata-kata sekreatif mungkin. Nyepet mungkin tidak menyelesaikan masalah, tapi setidaknya dengan nyepet, orang yang bersangkutan tahu dan sadar bahwa dirinya memang sedang dikritik. Jelas kalo nyepet itu gak diem-diem, beda dengan nyindir.

Nyepet berbeda dengan nyindir, atau nyinyir. Nyepet lebih terbuka, meskipun tingkatannya berbeda dengan nyindir. Nyepet lebih sarkastis, sementara nyindir lebih ke sinisme. Jika nyindir identik dengan kepengecutan, nyepet menawarkan gagasan lebih terbuka dengan menceritakan secara langsung keluhan dan kritik kita terhadap orang yang kita sasar tersebut.

Apakah nyepet itu sepenuh hati? Bisa iya bisa tidak. Ada juga nyepet yang sekadar sambil lalu. Nyepet itu bisa positif atau negatif tergantung dari mana kita memandangnya. Jika kita merasa sakit hati, berarti mungkin kita tidak terima terhadap kritik. Atau kita hanya memang tidak mampu mengendalikan emosi.

Kita bisa menilai seseorang dari bagaimana orang itu bereaksi akan sesuatu. Juga bisa ditentukan apakah orang itu bertindak berdasarkan emosi atau logika. Jika terhadap kritik saja tidak bisa terbuka, bagaimana kita bisa introspeksi diri? Kritik yang konstruktif justru bisa memperbaiki diri kita. 

Atau jika memang kita merasa bahwa diri kita tidak sesuai dengan apa yang telah di-sepet-kan oleh pe-nyepet, ya apa susahnya untuk balas nyepet?

Kadang dunia tidak perlu dipandang seserius itu. Tidak setiap saat kita harus menyalakan antena kewaspadaan dan meninggikan sensitivitas secara berlebihan. Jika kita bisa memandang “saling nyepet” ini sebagai permainan? Why don’t we just laugh about it anyway?

Hidup udah susah, then why so serious?

Tidak ada komentar: