Selasa, 19 Februari 2013

We called it: Eat For Fun

Spaghetti Aglio e Olio. Pic from Cucina San Savero


Indonesian dream saya sebut sebagai imitasi dari American dream yang tersohor itu. Glorifikasi hidup hasil dari perjuangan tanpa kenal lelah yang telah dimulai dari bangku sekolah hingga perguruan tinggi dilanjutkan kembali dengan bekerja keras dan berkarir dari bawah di dunia korporasi.

Tidak ada istilah “bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian” karena pada kenyataannya yang membedakan cara hidup orang sukses dan orang biasa-biasa saja ada pada kerja kerasnya. Hidup adalah kerja keras, kerja cerdas. Mau kerja keras atau kerja cerdas sama saja, judulnya kerja. Tidak ada kehidupan penuh kesuksesan tanpa kerja. Dari kecil sampai tua, tidak ada istilah bersenang-senang. Karena bersenang-senang yang dimaksud disini adalah bersenang-senang sesaat setelah lelah dipaksa bertarung dan membanting tulang. Bersenang-senang untuk menyegarkan kembali pikiran, agar siap kembali bertarung.

Orang yang hidup di ibukota memilih hidup yang keras ini. Bangun subuh, berangkat satu jam kemudian, menghadapi kemacetan atau kepadatan penumpang, bekerja lembur hingga larut malam atau sampai pagi seolah menjadi makanan sehari-hari. Apa yang didapat? Tentu saja karir gemilang di usia muda, penghasilan besar yang berujung pada meningkatnya kemampuan konsumsi.

Sebagai bangsa yang memang suka dengan hal-hal kebarat-baratan, kebanyakan dari kita juga mengikuti cara barat dalam bersenang-senang, tidak hanya cara pandang mereka terhadap suatu masalah atau cara mereka bekerja. Berpesta, minum-minum, makan enak, mengambil cuti beramai-ramai untuk short trip lalu memampang foto-foto setiap kegiatan di akun instagram dan seluruh social media dengan maksud “berbagi” memang sudah menjadi budaya kita saat ini. Work hard, play hard. Sebuah pembenaran bahwa kita berhak melakukan apapun karena kita sudah bekerja (terlalu) keras untuk itu.

Saya coba soroti salah satu hal yang umum menjadi bentuk dari slogan “play hard” ini, yaitu makan. Makan dalam hal ini bukanlah makan yang biasa asal perut kenyang, tapi esensinya lebih dari itu.

Beef Ribs. Pic from Ligagame

Saya pertama kali mempopulerkan fenomena ini dengan istilah “eat for fun”. Secara harafiah berarti makan untuk bersenang-senang, bukan sekadar untuk kenyang. Rekreasi sesaat. Makanan yang dimakan tidak hanya mengenyangkan, tapi harus memanjakan lidah. Tidak hanya itu, secara kuantitas harus banyak. Terakhir, tempat makannya juga harus senyaman mungkin sehingga bisa sambil mengobrol atau bergosip dengan bebas.

Aglio-olio, ribs, aneka pasta, udon, ramen atau apapun yang asing di telinga dan tidak tercantum dalam kamus bahasa Indonesia dan bukan makanan orang tua kita saat mereka berpacaran jaman dulu adalah makanan kita sekarang. Tidak lupa setelah perut dihajar aneka makanan lezat berkolesterol tinggi itu, kita “cuci” mulut kita dengan satu atau dua scoop ice cream dengan kadar susu tinggi, dengan topping cokelat yang manis. Anda hitung sendiri berapa kadar kalori, lemak dan gula yang ada dalam sebuah acara eat for fun itu.

Eat for fun seolah membawa kita ke dunia lain. Kita lupa bahwa pekerjaan masih menumpuk atau malam sudah semakin larut. Seringkali kita juga lupa bahwa perut sudah semakin buncit dan celana semakin sempit. Eat for fun seperti candu yang membuat kita terlena layaknya orang mabuk.

Saat berada di restoran, kita terbius oleh pelayanan ramah para waiter dan waitress, ambience yang super-cozy, musik-musik pengiring yang romantis dan membuat betah, juga pengunjung-pengunjung lain yang tidak kalah necis dandanannya dengan kita. Sebuah bentuk eskapisme yang mungkin saja tidak berlebihan.

Ramen. Pic from Wikipedia
Lalu, apakah eat for fun itu baik?

Sadar atau tidak, eat for fun sangatlah menguras kantong. Dalam sekali makan, sebuah menu main course bisa dihargai diatas lima puluh ribu rupiah. Minum? Minimal 20 ribu untuk free flow lemon tea. Desert? Bisa lebih mahal dari minuman untuk sebuah eskrim atau cake. Jadi, siapkan saja kocek tebal senilai diatas 100 ribu rupiah untuk sekali makan. Ya, anda hitung saja sendiri rasionya jika anda makan di warung nasi atau jajanan pinggir jalan.

Tidak ada yang salah dari eat for fun, selama kita bisa menjaga hobi itu tidak merusak badan dan tidak mengganggu stabilitas keuangan. Lagipula, dari pembicaraan-pembicaraan remeh di acara makan-makan itu boleh jadi timbul ide-ide segar yang tak terpikirkan sebelumnya.

Jadi, sudah eat for fun yang keberapa kali bulan ini? J