Minggu, 22 Juli 2018

Alternate Universe

Sembari jari tangan tetap mengetik di laptop kantor, mata saya mencuri pandang ke sudut kanan bawah monitor: melihat jam. Alangkah kagetnya saya ketika waktu menunjukkan pukul sembilan malam. Bagi para workaholik, jam sembilan malam mungkin baru permulaan. Ibarat seniman, inspirasi sedang meluap-meluapnya. 

Tapi maaf, saya bukan dan tidak pernah menjadi seorang workaholik. Saya bahkan tidak mau ikut-ikutan memposting tulisan bertema glorifikasi akan kesibukan bekerja yang memperlihatkan betapa dibutuhkannya saya oleh perusahaan.

Malam itu adalah malam minggu. Malam di mana seekor kerbau yang badannya luar biasa kuat itu pun sedang tertidur pulas setelah lelah seharian membajak sawah. Saya tidak mau sih dibandingkan dengan kerbau, yang saya inginkan adalah pulang ke rumah, menikmati waktu tidur singkat yang berkualitas, dan mengumpulkan tenaga lagi karena hari senin sudah dekat dan rutinitas berjibaku dengan para komuter akan segera kembali.

Selama perjalanan pulang naik kereta, pikiran saya menerawang ke masa dua dekade lalu. Tepat tahun 1998, saya masih duduk di bangku kelas 3 SMP. Bersiap mengikuti ujian akhir, saya teringat betul bahwa saya sama sekali tidak merasa terbebani untuk bisa masuk sekolah favorit. Karena itu memang bukan impian saya, melainkan impian orang-orang terdekat.

Saya punya impian sendiri, yang sayangnya tidak pernah benar-benar terwujud. 'Tidak pernah benar-benar' ini maksudnya adalah saya setidaknya sudah berhasil mencapai beberapa tonggak penting, tapi tidak pernah benar-benar menjalaninya dalam keseharian, seperti orang LDR aja.

Konsep 'menjalani hidup orang lain' dan menjalankan profesi yang 'baik di mata orang lain' akhirnya saya telan. Kadang bikin pengen muntah kalau saya ada hal-hal yang bikin jengkel. Tapi pada akhirnya, saya harus menerima. Saya pun menemukan lebih positif ketimbang menyikapi dengan sinis terus menerus. Yah, misalnya kata-kata 'menjalani impian orang lain' bolehkah diganti menjadi 'membahagiakan orang-orang terdekat' atau 'menjalani hidup yang bermanfaat'.

Seandainya saya bisa memutar waktu ke bangku SMA, saya mungkin akan memaksa orang tua saya untuk bersekolah di fakultas sastra untuk menjadi penulis. Bukan penulis yang suka mengarang buku sih, tapi maksudnya menjalani hidup dengan menulis, bukan berhitung atau berbicara, apalagi berdebat.

Ini adalah dunia paralel yang saya akan jalani jika memilih jalan ini. Saya mungkin akan bekerja sebagai redaktur di sebuah penerbitan, koran atau majalah. Atau mungkin malah memulai karier dari bawah sebagai reporter, lalu kemudian berangsur menjadi editor atau produser. 

Enak sekali membayangkan itu. Memiliki akses tak terbatas pada event olahraga di stadion besar, memotret dari dekat atlet-atlet berjibaku di lapangan atau gelanggang, membidik dukungan para penonton, mewawancarai pelatih. Rasanya hal itu sudah menyenangkan saya. Berada di stadion lebih saya nikmati daripada berada di gedung pencakar langit.

Saya mungkin akan tetap berambut gondrong, tidak punya mobil.. hanya punya motor bebek nyaman yang jarang dipakai berboncengan. Saya juga akan menghadapi risiko kamera dirampas oleh petugas keamanan, tulisan didikte atasan, tulisan dihina oleh geng mas-mas genius, hingga tulisan dikritik oleh netizen yang maha benar dengan segala firmannya... 

Dan entah kenapa, kalau saya menjalani hidup di alternate universe ini, saya yakin kalau saya masih nyaman menjomblo di usia 35an. Ya bagaimana enggak, dengan penghasilan yang tidak seberapa tapi penampilan idealis dan rambut gak trendy, sulit berharap ada cewek kinclong millenial melek finansial yang menaruh minat.

Setidaknya, begitulah bayangan saya dalam bekerja sebagai orang media. Dan begitulah alternate universe saya.

Pada alam yang nyata, bukan alternate universe, saya mengambil jalan aman. Saya menjadi orang lain, saya membangun profil yang bisa diterima dengan baik oleh orang-orang, saya menjadi karyawan di gedung bertingkat tinggi yang memakai baju rapi, dan saya mengenal beberapa teman ambisius yang doyan menciptakan suasana hostile di kantor tapi menampakkan senyum berseri-seri di media sosial.

Menjalani hidup predictable seperti ini terlihat lebih gampang. Orang-orang di LinkedIn mengagumi profil saya dan tempat kerja saya, keluarga mendukung, para kerabat memandang dengan positif saat lebaran, dan kawan-kawan semasa sekolah juga memberikan selamat ketika kami berkumpul di acara reuni.

Ini memang jalan yang aman, tapi ini bukan jalan impian. Sayangnya, saat kita sadar tentang apa yang harus kita lakukan untuk hidup, semuanya sudah terlambat, dan jika kita nekat untuk berpindah jalan, maka kita mungkin akan terkena masalah baru.

Sekali lagi, jalan ini adalah milik orang-orang terdekat, di mana saat ini saya mendedikasikan hidup saya untuk mereka.

Tapi saya yakin, akan ada saatnya suatu hari nanti, jalan alternatif ini akan beririsan dengan jalan yang sedang saya tempuh. Semoga Allah ridho.