Kamis, 19 Desember 2013

Ironi Anak Orang Kaya

Alkisah ada seorang pemuda. Wajahnya tidak ganteng, tapi tidak juga jelek. Badannya tinggi tegap, pembawaannya ramah dan simpatik. Jika berbicara dengan orang lain, ia nampak antusias bahkan walaupun ia tidak terlalu dekat dengan lawan bicaranya. A decent guy.

Pemuda ini bukan pemuda kebanyakan. Ia anak tunggal yang terlahir dari keluarga menak, alias kaya raya, alias tajir. Keluarganya memiliki banyak harta dan bisnis yang setiap saat siap diwariskan untuk sang pemuda.

Sang pemuda dididik dengan benar. Sekolahnya baik, prestasinya baik, kelakuannya baik. Ia juga sangat nurut dan patuh pada orang tuanya, pada kakek dan neneknya. Ia seperti sudah berkali-kali diberi penegasan bahwa ialah pewaris tunggal kerajaan kecil dari keluarga besarnya, untuk itulah ia harus memiliki sifat-sifat yang dipandang perlu. Jadilah ia dibentuk untuk menjadi anak baik, penurut, sopan, pandai, lurus dan tidak macam-macam. Ia juga tidak sembarang berteman dengan orang. Anda pemabuk? Maaf, lingkaran pergaulan tertutup untuknya.

Sepertinya sudah terlalu banyak cerita picisan semacam ini, dan Anda pasti sudah terlalu bosan mendengarnya. Namun bukan rangkaian cerita tentang nasib si pemuda yang ingin saya sampaikan di sini.

Saya kasihan dengan si pemuda.

Ia memang tidak kekurangan harta, tidak pula kekurangan kasih sayang. Bahkan berlebih. Orang tua dan kakek-neneknya sangat menyayanginya, sangat membanggakannya. Si pemuda telah tumbuh sebagai anak idaman keluarga.  Namun dibalik semua itu, saya melihat hidupnya bagaikan robot. Robot  yang tinggal digerakkan dengan remote kemanapun maunya mereka.

Pemuda ini tidak pernah pulang larut malam bersama teman-temannya. Kegiatannya selalu dipantau, tidak pernah menonton konser hingga menjelang pagi, tidak pernah main Playstation di rumah atau kos-kosan teman sampai pagi, tidak pernah jalan-jalan ke luar negeri bersama teman-teman lalu memajang foto dengan sembrono di instagram dan path. Ia tidak berbicara sembarangan, tidak membuang-buang waktu. Hidupnya datar bagaikan musik... (ah sudahlah).

Satu lagi yang membuat saya kasihan adalah menyangkut perempuan. Sebagai pemuda normal, tentu saja ia mendambakan perempuan untuk menjadi pasangan hidupnya. Cuma ya itu, tidak sembarang perempuan yang diperbolehkan untuk memasuki kerajaan kecil milik keluarga besarnya. Perempuan itu harus cantik, kaya, baik hatinya, baik pergaulannya, sehat, seiman dan satu suku. Perempuan sempurna (di mata keluarga).

Inilah yang saat ini mengganggu pikiran si pemuda. Ia baru saja putus dengan pacarnya, yang sayangnya memang hanya memiliki satu-dua kriteria dari belasan kriteria wajib yang ditetapkan oleh keluarga besar pemilik kerajaan kecil.

Dari lahir, ia sudah dibentuk untuk menuruti kata-kata orang tua dan keluarganya. Iapun tidak sampai hati untuk membangkang. Ia selalu ingat bahwa ia adalah seorang anak baik. Anak patuh dan penurut, kalo gak nurut nanti kualat. Ia seperti sudah di program untuk melakukan hal A, B dan C saja meskipun dunia menawarkan cerita A sampai Z.

Ia seperti mobil ferrari yang dipaksa berkendara sepelan bajaj. Ia bagaikan anak posh yang gagal nonton konser DWP gara-gara terjebak macet, padahal konser itu adalah penanda status gaulnya. Ia seperti kucing ras yang penurut, patuh dan tidak bisa berkelahi sehebat kucing garong. Ia memiliki pensil warna lengkap dengan 320 warna namun hanya boleh menggunakan 16 warna saja dalam menggambar. Ia adalah smartphone mahal yang digunakan oleh Om-om ganjen tapi gaptek. Ia bagaikan drummer metal yang dipaksa memainkan lagu pop!


Boleh saja keluarganya merasa senang dengan apa yang telah dipertontonkan si pemuda. Tapi bagi si pemuda, ia hanyalah menjalankan peran dan belajar untuk memenuhi ekspektasi keluarganya. Masa mudanya berlalu begitu saja tanpa kesan. Ia tidak pernah menikmati jadi robot, namun ia sendiri tidak kuasa untuk mempertanyakan program yang telah ditanamkan pada sistemnya.

Ironis!

Selasa, 26 November 2013

Brendon Grimshaw: Petualang, Pelestari Lingkungan

Brendon Grimshaw. Photo by Theflyingtortoise.blogspot.com

Nama Brendon Grimshaw mungkin asing bagi Anda. Ia bukanlah ahli agama, bukan atlet ternama, bukan aktor terkenal, bukan ilmuan terpandang, bukan sosialita yang banyak berseliweran di pesta-pesta terkemuka, bukan selebtweet yang penuh pencitraan, bukan pula politisi yang pandai bersilat lidah. Ia hanyalah seorang pria sederhana berasal dari Yorkshire, Inggris dengan keinginan yang sederhana yaitu melestarikan alam dengan caranya.

Tahun 60an, takdir membawa Grimshaw bertugas di negara gugusan pulau kecil di timur Afrika, Seychelles. Seychelles adalah negara kecil berpenduduk hanya 85.000 orang dengan banyak pantai-pantai indah belum terjamah, yang juga dalam sejarahnya merupakan tempat persembunyian para perompak, termasuk harta karunnya. Saat bekerja sebagai editor di surat kabar negeri itulah ia mengumpulkan uang dalam jumlah sangat besar saat itu, yaitu 8.000 pound untuk membeli sebuah pulau kecil kosong seluas 0,089 km bernama Moyenne.

Moyenne hanya berjarak 1 jam dari pulau Mahe, pulau utama Seychelles tempat ibukota Victoria berada. Tahun 1973, atau satu dekade setelah membeli pulau ini, Grimshaw memutuskan untuk pindah permanen. Moyenne, yang semula tidak memiliki apapun dan hanya berupa daratan kecil di tengah samudera Hindia, diubah secara drastis oleh Grimshaw bersama dengan orang yang ia pekerjakan yaitu pria lokal bernama Rene Antoine Lafortune.

Jika miliuner-miliuner Rusia dan Arab membeli pulau tropis sekitar wilayah ini untuk dijadikannya tempat peristirahatan sunyi dan mewah, maka Grimshaw tidaklah demikian. Ia dan Lafortune menanam 16.000 pohon, termasuk 700 pohon mahoni. Mereka juga membangun penangkaran bagi burung-burung, juga memelihara 120 ekor kura-kura raksasa yang terancam punah.

Lokasi Moyenne Island. Photo by Dailymail


Kerja keras terus dilakukan Grimshaw dalam mentransformasi pulau ini. Ia tidak menikah, sesuatu yang kelak disesalinya meskipun paham sepenuhnya bahwa dalam realitanya kisah cinta tidaklah seindah ending film produksi hollywood. Tidak akan ada wanita manapun yang sudi menemaninya untuk hidup di sebuah pulau kosong terpencil tanpa adanya mal dan pusat hiburan. Grimshaw sudah hidup dengan realita tersebut, dan berdamai dengannya. Grimshaw sudah cukup puas karena ayahnya, Raymond, sempat menghabiskan waktu bersamanya di pulau itu hingga meninggal. Adiknya juga kini tinggal di pulau Mahe bersama suaminya.

Grimshaw jelas tidak melakukan semua ini untuk uang. Sudah beberapa kali miliuner menawar pulau ini berpuluh-puluh kali lipat dari harga belinya, namun ia selalu menolak. Ia tidak ingin surga yang telah ia bangun ini diubah menjadi resor-resor mewah komersial. Ia memilih menghabiskan masa tuanya sebagai petualang, sebagai sahabat para binatang dan alam di pulau kecilnya, ketimbang menghadiahi sendiri dengan mansion mewah di negerinya yang dapat diperolehnya hasil penjualan pulau Moyenne yang telah ia bangun.

Upaya Grimshaw melindungi pulau ini berhasil. Setelah dua puluh tahun lebih, pemerintah Seychelles menjadikan Moyenne sebagai taman nasional. Dengan demikian, pulau tempat pelestarian kura-kura raksasa, burung-burung dan tanaman-tanaman tropis akan terbebas dari ancaman privatisasi. “Ia adalah Robinson Crusoe modern” ujar Joel Morgan, Menteri Lingkungan Hidup Seychelles, menyamakan Grimshaw dengan seorang petualang terkenal yang mampu bertahan hidup sendiri di sebuah pulau.

Juli 2012 lalu, Grimshaw telah wafat pada usia 87 tahun. Ia dimakamkan di liang lahat yang telah ia persiapkan semasa hidupnya, bersebelahan dengan makam ayahnya di pulau Moyenne. Ia menyusul Lafortune, koleganya yang telah pergi lima tahun sebelumnya.

Kisah inspiratif Grimshaw adalah kisah penuh pengorbanan, kesederhanaan, pengabdian dan kebesaran hati seorang yang begitu besar perhatiannya pada kelestarian lingkungan. Ia tidak banyak bicara, hanya berbuat. Boleh jadi, ia sempat berharap untuk menemukan harta karun bajak laut terkenal Oliver Levasseur. Namun seperti yang dikemukakan oleh Simon Reeve dalam artikelnya, Grimshaw sudah dari dulu menerima tawaran para miliuner yang tertarik pada pulaunya, jika memang uang menjadi tujuan.



Trouble In Paradise

Thilafushi: Photo from Dailymail

Apakah yang Anda ketahui dari Maladewa? Pantai-pantai berpasir putih? Air laut berwarna biru muda yang sangat cocok dipakai untuk kegiatan snorkling? Penginapan mewah yang hanya bisa dibayar untuk Anda yang punya uang berlebih? Pemandangan yang sangat keren untuk dipampang pada akun social media? Gambaran surga dunia?

Bagaimanapun Anda memandang Maladewa, atau Maldives, Anda mungkin perlu mencari tahu tentang daerah di sana bernama Thilafushi. Googling, maka Anda akan temukan. Rasanya begitulah pemeo umum yang berlaku pada era digital modern saat dunia telah memilih untuk mengungkap seluruh rahasianya.

Saya yang telah lebih dulu melihat tayangan dokumenternya di sebuah saluran televisi berbayar kebetulan telah mengakses berbagai berita dan artikel yang memuat salah satu pulau yang terdapat dalam gugusan pulau di selatan India ini.

Kencangnya promosi pariwisata, menjamurnya tiket murah, dan berbagai pengalaman seru yang dituangkan oleh para penulis perjalanan telah mengubah wajah banyak tempat di dunia. Kini  banyak tempat yang semula damai, terkucil dan tidak banyak yang memperhatikan berubah menjadi tempat komersil yang penuh dengan manusia-manusia haus liburan, yang telah menabung sepanjang tahun untuk menuju tempat-tempat ini dengan berbagai macam tujuan. Sesuatu yang sayangnya kebanyakan berdampak negatif pada kelestarian lingkungan, meskipun menghasilkan perputaran devisa pariwisata secara masif yang tentu saja akan didukung oleh yurisdiksi manapun.

Kembali ke Thilafushi, okelah saya jelaskan sedikit meskipun Anda sudah melakukan googling. Thilafushi adalah salah satu pulau kecil buatan seluas 7 km yang dibangun pada tahun awal 90an. Thilafushi ‘dikorbankan’ untuk menjadi tempat penampungan sampah raksasa bagi negara liliput ini. Kini, seperti yang teruang dalam Wikipedia, Thilafushi sudah menjadi ‘pulau gunung sampah’ yang ‘didatangi’ 330 ton sampah per hari. Sebagai informasi, seorang turis yang berkunjung ke Maladewa meninggalkan 3,5 kg sampah setiap harinya.

Gunung sampah di "surga". Picture from Wikipedia

Persoalan limbah pariwisata memang sejatinya adalah masalah klasik yang sepertinya hingga kini belum terselesaikan. Pemerintah Maladewa nyatanya memang memilih untuk melakukan lokalisasi pada sampah-sampah ini dengan cara mengorbankan sebuah pulau untuk dijadikan tempat pembuangan sampah akhir. Namun setelah sampah menggunung di pulau ini, mereka seolah tidak mengetahui bagaimana penanganan selanjutnya.

Lokalisasi sampah semacam ini bagaikan menaruh sedikit demi sedikit barang tidak terpakai di gudang rumah kita secara terus menerus, tanpa pernah kita membuang barang-barang lama untuk menggantikan barang-barang yang baru kita tempatkan.


Bukannya bermaksud untuk nyinyir dan menghakimi para turis, namun jika kita mengetahui hal buruk jarang terlihat dan terekspos semacam ini, setidaknya kita dapat memikirkan sesuatu untuk diperbuat, meskipun hanya sekadar membuat tulisan di ruang publik dunia maya seperti yang saya sedang lakukan.

Jumat, 25 Oktober 2013

Sekali Bantai, Dua Spesies Besar Terancam Punah

Saya bukanlah seorang science enthusiast. Walaupun di SMA dulu menghuni kelas 3 IPA, tapi itu hanyalah siasat agar pemilihan jurusan saat kuliah nantinya bisa lebih fleksibel. Anyway, bukan itu yang hendak saya bicarakan.

Secuek-cueknya pelajar pun pasti mengetahui apakah itu rantai makanan. Tuhan telah menciptakannya sedari dulu, bahkan sebelum manusia diciptakan. Dengan berjalannya rantai makanan, maka berjalan pula keseimbangan alam, dan berlanjut pula kehidupan.

Namun manusia memang terkadang terlalu kreatif, rakus, egois dan tidak berhati nurani. Kehadiran manusia memang menjadi salah satu alasan terbesar mengapa alam semakin rusak. Di negara manapun juga seperti itu, meskipun sudah banyak negara-negara yang lebih beradab.

Salah satu kekayaan alam yang paling banyak dirusak manusia adalah kekayaan laut. Sudah sering dicemari dengan sampah, terumbu karang di bom, ikan-ikan juga ditangkapi seenaknya.

Eh ntar dulu, saya juga bukan aktivis pecinta lingkungan yang sedang berkampanye. Memang tidak ada yang salah dari menangkap ikan. Mungkin saja aktivitas ini telah dilakukan sejak jaman manusia purba bernama latin yang sulit diingat itu. Ikan untuk makanan manusia juga sangat berlimpah ruah, dan tidak ada yang salah dari penangkapan ikan yang memang untuk tujuan dikonsumsi oleh manusia.

Namun akan menjadi masalah jika ikan yang ditangkapi adalah ikan yang berjumlah lebih sedikit daripada jumlah ikan yang ditangkapi untuk dikonsumsi, misalnya ikan hiu dan ikan lumba-lumba. Mungkin terlalu besar penghayatan mereka pada pemeo “Masih banyak ikan di laut” hingga mereka berpikir sebanyak apapun ikan mereka tangkap, ketersediaan ikan tetap akan terjaga. Apalagi mereka yang berpikir “Ah gue hanya nangkap 10 ekor kok, sementara jumlah ikan ada jutaan bahkan ratusan juta ekor.”

Yaelah bro, jika pemikiran lo ditiru 1000 orang dan pekerjaan itu lo lakukan selama 20 tahun, coba tuh hitung berapa banyak ikan yang bakal ludes?

Sayangnya, kerusakan ini memang telah berlangsung lama. Indonesia bersama India telah ditahbiskan sebagai negara dengan jumlah penangkapan hiu terbesar di dunia. Kekayaan biota laut yang dimiliki Indonesia memang menyimpan miliaran pesona yang seakan tiada habis, sirip hiu yang berharga mahal untuk dikonsumsi sebagai obat juga sayang untuk dilewatkan para manusia yang lapar dan tamak namun tidak peduli pada lingkungan.

Hiu adalah hewan yang berada pada ujung rantai makanan, sebelum pengurai. Berkurangnya populasi hiu secara drastis akan otomatis mengurangi jumlah pemangsa ikan-ikan besar yang merupakan pemangsa ikan-ikan yang dapat dikonsumsi manusia. Pendek kata, populasi hiu yang berkurang akan merusak rantai makanan, dan akan mempengaruhi ketersediaan makanan bagi manusia juga. Sekarang sih belum seberapa terasa efeknya, tapi bagaimana 50 tahun lagi?

Namun ini baru permulaan. Cerita memilukan selanjutnya datang dari perairan Lampung, dimana banyak nelayan yang turut membunuh ikan lumba-lumba untuk dijadikannya umpan dalam menangkap ikan hiu. Satu aktivitas, dua spesies besar terancam punah.

Jadi, masih doyan sup sirip hiu?

Jumat, 20 September 2013

Galau Sehat

Di tahun 90an, bahkan 2000an, kosakata ‘galau’ jarang digunakan. Kata tersebut baru muncul dua tahun kebelakang setelah banyak anak-anak muda menggunakannya. Remaja galau adalah potret anak muda masa kini. Percepatan pendewasaan yang mereka dapati dari tayangan televisi yang menyajikan acara-acara percintaan dewasa dan lagu-lagu yang juga bertemakan cinta memang membuat adik-adik kita ini cepat terserang virus galau.

Galau itu manusiawi, karena manusia memang mudah sekali merasa tidak nyaman jika terjebak pada situasi yang tidak diinginkan. Bedanya, sekarang lagi musimnya galau itu diekspresikan dengan sebebas-bebasnya. Tapi gak ada salahnya jika kegalauan hati disalurkan untuk menciptakan hal positif. Contoh galau paling keren yang pernah saya dengar adalah kegalauan Dave Mustaine. Pentolan band metal Megadeth ini sempat menjadi anggota band metal lainnya, Metallica. Mustaine didepak karena masalah kecanduan alkohol, hal yang sangat memukulnya.

"Too bad they couldn't see this lethal energy
and now the final scene, a global darkening" 

Begitulah potongan lirik lagu Set World Afire dalam album So Far, So Good.... So What! yang ditulis Mustaine pada hari ia dipecat. "No warning, no second chance."  Demikian dia menggambarkannya.
Mustaine boleh jadi galau, tapi apa yang ia lakukan? Ia membentuk Megadeth. Sama-sama keras, metal dan brutal. Banyak pengamat bilang jika dari musikalitas, Megadeth jelas diatas Metallica meski secara penjualan album dan ketenaran, Metallica masih di atas Megadeth. Tapi tetap saja hal itu menunjukkan bahwa Mustaine telah melalui fase negatif dalam hidupnya dengan sukses. Ia membuktikan diri bahwa ia mampu melangkah maju dengan kemauan keras.


Nah, Dave Mustaine galau menghasilkan Megadeth, kalo lo menghasilkan apa? :)

Senin, 09 September 2013

The Thirteen Blues

Kecelakaan lalu lintas adalah salah satu pembunuh manusia yang paling kejam. Ia tidak pilih-pilih korban, tidak mengenal waktu. Ia bisa membunuh, membuat cacat atau sekadar melukai. Datangnya juga tidak diduga. Kapan dan dimana saja. Bisa tengah malam, bisa pula pagi-pagi buta, di jalan tol atau di gang dekat rumah. Benar-benar predator lengkap.

Dari Vivanews, Polri mengklaim jumlah korban meninggal akibat kecelakaan lalu lintas sepanjang tahun 2012 mencapai 25 ribu orang. Sementara saat mudik lebaran, jumlah korban meninggal dunia mencapai lebih dari 500 jiwa. Itupun yang tercatat.

Saya tidak pernah tertarik menyaksikan berita kecelakaan, atau mengerubungi korban kecelakaan di jalan hanya untuk memotretnya (bukannya membantu) lalu membuat macet jalan. Namun berita kecelakaan yang dialami Dul, anak bungsu Ahmad Dhani yang kini menjadi isu nasional ini beda cerita.

Sebagai pengguna jalan yang juga sering menyetir kendaraan, saya tidak mau ikut-ikutan arus pem-bully-an dan penghujatan massal. Serahkan saja pada ahlinya lah. Toh hal ini bisa terjadi pada siapapun. Tidak hanya anak berusia 13 tahun saja yang bisa mengalaminya, seorang yang telah berpuluh-puluh tahun mengemudi saja bisa celaka. Mau analoginya dibalik juga bisa, tapi tetap sama saja. Dengan kata lain, saya lebih melihatnya sebagai musibah.

Namun yang menjadi pelajaran adalah Dul yang notabene baru berusia 13 tahun sudah dibolehkan mengemudi. Dan tragisnya lagi, kecelakaan yang menimpanya merenggut nyawa 6 orang yang kesemuanya adalah pekerja dan tulang punggung keluarga. Tapi kembali lagi, tujuan saya menuliskan ini bukan untuk menghujat. Saya juga punya anak laki yang masih kecil, yang bukan tidak mungkin 12 tahun kemudian ia punya pacar dan merengek minta dibelikan mobil.

Di era berikutnya nanti, entah di umur berapa seorang anak merasa butuh untuk punya pacar. Sebagai perbandingan, di usia 13 tahun dulu, yang saya pikirkan sehari-hari adalah sepak bola dan (sedikit) pelajaran di sekolah. Tidak ada gejolak berlebih memikirkan wanita, tidak pula berkeinginan untuk mengemudikan mobil.

Memang tidak bisa dibandingkan anak-anak era dua dekade lalu dengan anak-anak sekarang. Anak-anak sekarang sepertinya terlalu cepat dewasa. Mereka mengunyah banyak hal sebelum waktunya. Kebanyakan makan junk food? Kebanyakan nonton sinetron? Kebanyakan nongkrong di minimarket? Kebanyakan dengerin lagu mellow? You tell me.

Kasus Dul ini cocok dijadikan potret kelam generasi muda. Meski tidak semua anak memiliki fasilitas seperti Dul, namun saya sudah berkali-kali mendengar kisah pilu terjadinya kecelakaan akibat perilaku anak dibawah umur yang ugal-ugalan. Saya tidak ingat persis, tapi rasanya pernah ada kejadian serupa, yang karena kebetulan pelakunya bukan pesohor saja maka cepat dilupakan.

Jelas bukan tanpa alasan mengapa polisi baru mengeluarkan SIM untuk anak berusia diatas 17. Hal ini semestinya benar-benar dijalankan dengan penuh kesadaran, bukan sekadar slogan. Orang tua tentu harus mengawasi dengan baik perilaku anak-anaknya, jangan biarkan mereka menyetir kendaraan, entah mobil atau motor.

Thirteen blues ini memang saya gunakan untuk menggambarkan secara umum gejolak usia pra-dewasa. Usia seperti ini memang rawan dan sedang ingin-inginnya mencoba banyak hal. Dan kebanyakan teman yang saya kenal, sekali mereka mencoba (misalnya rokok) pada usia ini, maka akan berkembang menjadi kebiasaan. Yah, yang namanya udah kebiasaan, transformasi selanjutnya adalah pembenaran. Meski kita sudah tahu hal itu salah, tapi kalau dilakukan berulang-ulang toh akan menjadi kebenaran.


Semoga kita selalu bisa mendampingi anak di usia krusial mereka, sehingga mereka tidak membutuhkan so called pacar. Dan semoga anak-anak kita tumbuh sebagai anak penurut dan tidak macam-macam. Yang sudah terjadi ya sudahlah. Semoga cepat sembuh dan cepat ngeband lagi, Dul. Dan semoga keluarga korban mendapat santunan yang pantas.

Minggu, 01 September 2013

Pledoi Generasi Nunduk

Dear para Om dan para Tante yang kami hormati,

Kami tahu kalian sering mencela generasi kami. Generasi nunduk, alias generasi yang sering menundukkan kepala kearah layar sentuh ponsel sejak dini. Ya, mau bagaimana lagi? Kami memang sejak SD sudah memiliki ponsel cerdas karena benda ini tidak ubahnya gamewatch atau tamagotchi di era kalian. Semua teman kami punya benda itu.

Bukan salah kami kalau lebih senang menghabiskan waktu didepan layar ponsel ketimbang memainkan permainan tradisional seperti kelereng, congklak atau dampu. Bukannya tidak ingin, tapi memang sudah tidak ada lagi yang memainkannya. Masa iya harus bermain sendiri? Mau dibilang apa?

Kalian mencela kami yang kecil-kecil sudah menyanyikan lagu cinta-cintaan, padahal kami tidak mengerti apa itu cinta, toh tidur sendirian saja kami masih tidak berani. Mau bagaimana lagi? Zaman om dan tante kecil, acara khusus anak-anak di televisi sangat banyak. Begitu pula lagu anak-anak dengan lirik yang juga. anak-anak seperti 'si lumba-lumba' atau 'si nyamuk nakal'. Dulu ada om Papa T. Bob, sekarang tidak ada lagi yang mau membuatkan lagu anak-anak lagi buat kami sepertinya. Sekarang, kami disuguhi acara musik pagi dengan gerakan nasional cuci jemur. Ah rasanya semua pihak inginnya kami lebih cepat dewasa, jadilah kami dijejali soal cinta-cintaan sejak kecil. Apakah itu juga salah kami?

Tidak ketinggalan, kalian juga mencela pilihan klub sepakbola favorit kami. Apakah salah jika kami begitu mengidolai Lionel Messi dan Barcelona atau Cristiano Ronaldo dan Real Madrid dan bukannya Johan Cruyff atau Zico? Iya, hanya dua klub itu yang kami tahu di liga Spanyol, sisanya kami hanya menonton liga Inggris. Apakah salah kami jika menyukai Manchester biru, bukannya yang merah? Tolong diingat, kami masih belajar membaca ketika Ole Gunnar Solksjaer yang katanya bermuka bayi itu mencetak gol kemenangan di final tak terlupakan itu. Sekarang, media banyak mengenalkan kami pada Chelsea dan Mancheser City, apakah ini juga salah kami?

Kami sadar jika kami tidak menonton Mtv dengan VJ mereka yang keren, tidak familiar dengan musik grunge dan alternative yang asik itu. Yang kami tahu hanyalah musik-musik seragam itu-itu saja. Studio band sudah sulit kami temui untuk berlatih, pada akhirnya kami berpikir buat apa capek-capek menguasai alat musik padahal dengan modal joget dan lipsync udah banyak yang suka, produser kami juga suka. Alasannya 'mengikuti pasar'. Kami heran juga sih, media kan punya pengaruh besar. Mereka seharusnya bisa membentuk pasar dong, tidak hanya mengikutinya demi rating semata.

Kami juga tidak menyukai era ini, om dan tante. Semakin konsumtif dan tidak terkendali, semakin ngawur dalam ekspresi. Kami krisis identitas, dan makin sulit mencari panutan. Tapi mau bagaimana lagi? Banyak acara yang makin tidak mendidik, akses informasi juga makin tak terbatas, malah jadinya kebablasan. Om dan tante boleh bilang kami diuntungkan dengan adanya internet dan mbah gugel, tapi ya om dan tante tau sendiri kan, membuka internet itu bisa saja membuka kotak pandora jika kami tidak mampu menyaring informasi. Dan orang tua kami tidak bisa lagi mengawasi karena akses tersebut ada di tangan kami, yaitu smartphone itu tadi.

Kami juga seperti om dan tante, bermain social media. Kami bingung. Berkespresi penuh layaknya remaja, kami dibilang alay. Tapi mau coba ngomongin hal berat, dibilang sok tua. Memang kami kadang berlebihan, segala hal kami tumpahkan di socmed. Kami suka lupa kalau kami berteman dengan om dan tante kami, yang dengan kata lain, mereka ikut mengawasi kami. EYD juga kami abaikan, huruf dan angka kami gabungkan dalam satu kalimat. Maafkan kami yang telah merusak tata bahasa. Duh. Sulit bagi kami menentukan siapa yang harus kami follow di twitter. Seperti ada dua kubu besar dan mereka saling serang. Kami harus pilih yang mana? Pengetahuan kami hanya sebatas buku pelajaran, jangan samakan dengan om dan tante yang sudah makan asam garam kehidupan. Akhirnya kami cuma bisa ngetwit "folbek dong kaka".

Maafkan kami ya om dan tante, sepertinya kami butuh bantuan tapi terlalu gengsi ngomongnya. Di pergaulan kami, cuma ada istilah 'woles' atau 'move on' atas segala persoalan, padahal ternyata gak sesederhana itu.

Harapan kami sih semoga tontonan televisi makin berkualitas sehingga kami bisa pintar seperti om dan tante. Bisa punya cerita menarik seperti om-om dan tante-tante yang besar di era 90an. Kami juga tidak mau terlalu cepat dewasa karena masa kanak-kanak ya memang masa bermain yang tak akan terulang. Kami juga capek dengan kurikulum pendidikan yang berubah terus, dikira kami kelinci percobaan? Kami ingin jam sekolah hanya sampai siang saja supaya ada waktu buat kami bermain dan mengerjakan hobi. Ya masa sih sekolah cuma ngejar prestasi akademik aja? Ya gak om? Ya gak tante?

Yaudah deh om dan tante, henpon udah bunyi terus nih, teman-teman ngajak nongkrong di minimarket deket rumah. Kalo gak ikutan, saya bisa gak punya teman deh. Dibilang kuper deh. See you!