Tampilkan postingan dengan label Sosial. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sosial. Tampilkan semua postingan

Jumat, 19 Januari 2018

Mulut

Manusia punya rasa dan opini terhadap orang lain, entah itu valid atau tidak, didasari objektivitas atau subjektivitas, atau dilandasi pengalaman pribadi atau hanya sekadar denger cerita orang lain. Tapi sebagai orang dewasa, tentu tidak semua rasa dan opini itu harus diketahui orang lain. Bayangkan jika seluruh dunia jujur dan membuka "topeng", mungkin dunia ini sudah rata dengan gurun pasir karena ketersinggungan dan kebaperan. Ya, sudah banyak contoh peristiwa pertikaian di dunia ini yang berasal dari mulut yang tidak bisa dijaga.

Terlebih di era keterbukaan media sosial yang terkadang keterlaluan ini, gosip bisa tersebar cepat, bahkan kepada orang yang tidak kenal sekalipun. Berkaca dari buanyaknya capture-capture-an chat dari media whatsapp, posting-an medsos, bahkan insta-story yang umurnya hanya 24 jam yang juga tidak luput dari capture, maka gosip akan cepat sekali menyebar seperti virus.

Maka dari itu, pada tahun ini, target saya sih gak muluk-muluk. Yaitu lebih berhati-hati lagi menjaga mulut, dan terutama sikap. Karena lebih baik gak update dan ketinggalan berita daripada gak enak-enakan sama orang gara-gara persoalan remeh gosip. Banyak sekali persoalan berasal dari mulut yang tidak bisa dijaga, yang merusak pertemanan yang padahal sudah dibangun bertahun-tahun lamanya.

Siapa saja bisa terkenal di era saling viral-mem-viralkan seperti ini. Orang biasa bisa saja kena bully para penggiat medsos hanya karena salah ngomong. Salahnya sekali, kepikirannya berhari-hari. Sanksi sosialnya juga parah, dari cuma kena bully, sampai dimusuhin beneran. Bahkan dalam tingkatan yang lebih parah, cela-mencela ini bisa merembet sampai serangan terhadap hal-hal personal, keluarga atau orang-orang dekat. Serangan salah sasaran yang udah gak sehat, gak nyambung, gak sesuai konteks, dan terutama gak menyelesaikan persoalan.

Sayangnya, kita gak bisa komplen akan beratnya sanksi sosial di era kekinian ini. Realitanya sudah begitu.

Padahal, balik lagi, kita cuma manusia yang gak bisa berbuat bener terus sepanjang hari. Kita juga kadang bisa melakukan kesalahan terhadap teman sendiri, sadar atau tidak. 

Tapi, sekali lagi, kita gak bisa mengontrol reaksi orang lain akan perbuatan kita. Yang bisa kita kontrol adalah perbuatan kita sendiri, atau dengan kata lain, mulut kita sendiri. Itulah musuh terbesar kita. Kalau penyakit datang dari perut, maka dosa dan masalah kita kebanyakan berasal dari mulut. 

Sejatinya, mulut diciptakan untuk berbicara yang baik-baik saja. Berbicara seperlunya, berbicara hanya yang kita paham, dan mengunyah yang halal serta gak berlebihan. Gak perlu lip service, bohong-bohongan, gosip-gosipan, jatuh-menjatuhkan, hasut-menghasut, nyinyir-menyinyir. Gak usah juga kita makan yang bukan porsi kita.

Tapi, untuk kesekian kalinya kita bilang, kita cuma manusia. Bukan malaikat. Untuk itulah ada yang namanya maaf-memaafkan, paham-memahami, lupa-lupain, cuek-cuekin, ketawa-ketawain. Karena memang begitulah manusia yang memang tempatnya dari kesalahan, kesilapan dan lupa. Padahal dia udah tau, tapi tetep aja bikin salah. Ya emang begitu. 

Mulai sekarang, marilah jaga perkataan. Lebih baik lagi, mulailah berbuat adil sejak dari pikiran, supaya yang jelek-jelek di pikiran itu gak sampai terucap dari mulut.

Kamis, 04 Januari 2018

INTP and Proud

Baru-baru ini, kantor tempat saya bekerja mengadakan semacam personality test sekaligus workshop dengan metode Myers-Briggs Type Indicator (MBTI) bagi karyawannya. Apa itu MBTI? Silakan ketik di mesin mencari, hasilnya bakal bertebaran. Test ini juga bisa dilakukan sendiri secara daring, dan gratis pula. Silakan dicoba.

Hasil test akan menempatkan kita pada satu dari 16 tipe kepribadian menurut MBTI. Kutub terbesar dan yang utama masih dibagi antara  si Introvert (I) dan Ekstrovert (E). Membedakan si I dan si E ini bukan hanya dari pembawaan sehari-hari yang banyak omong atau pendiam, tapi lebih kepada bagaimana kita mendapatkan energi, apakah dari kegiatan menyendiri atau bertemu dengan orang lain. 

Ada pula pembanding cara kita dalam menginterpretasi sebuah persoalan, apakah lebih dominan menggunakan panca indera dan data (Sensing/S) atau lebih dominan menggunakan intuisi dan teori (iNtuition/N). Lalu selanjutnya apakah pengambilan keputusan kita lebih didasari perasaan dan emosi (Feeling/F) ataukah logika rasional (Thinking/T). Terakhir, bagaimanakah kita menjalani hidup secara umum, apakah lebih suka dengan terencana, konvensional dan sistematis (Judging/J) atau lebih spontan dan fleksibel (Perceiving/P).

Yang jelas, kalo buat saya sih test MBTI ini sangat akurat dalam memperlihatkan keseharian. Catat: keseharian kita. Yang namanya keseharian, bisa jadi dipengaruhi kebiasaan. Contohnya, seorang introvert bisa saja menjadi ekstrovert karena tuntutan pekerjaan. Artinya, hasil dari MBTI ini lebih memperlihatkan apa yang memang terlihat, tetapi boleh jadi bukan kepribadiannya yang sebenarnya.

Kalau saya sih kebetulan, apa yang terlihat memang apa yang sebenarnya. Hasil test saya ternyata INTP, karena memang saya memang seorang INTP. Silakan baca sendiri seperti apa ciri-ciri seorang INTP, ya seperti itulah saya.

Kebaikan lain dari MBTI test dan workshop-nya ini adalah orang lain jadi tahu bahwa introvert adalah bentuk kepribadian, bukan kekurangan. Secara populasi, introvert memang kalah banyak daripada ekstrovert, lebih-lebih suaranya. Stigma negatif dari menjadi seorang introvert sudah saya rasain sejak di bangku sekolahan. Dulu, guru-guru saya sering menganggap saya orang yang pasif, gak percaya diri, dan pemalu. Sementara teman-teman dan keluarga juga menganggap saya terlalu pendiam, kuper dan lebih parah lagi: sombong. 

Memang sudah seharusnya edukasi tentang hal ini diperbanyak, sehingga orang tidak lagi menalar secara dangkal dan memberi label negatif hanya karena orang lain memiliki pembawaan yang berbeda. Sebetulnya ini bukan masalah kalian introvert atau ekstrovert. Percayalah, introvert dan ekstrovert saling membutuhkan. Bukankah lebih penting menilai kualitas pembicaraan? Buat apa sedikit ngomong, tapi sekalinya ngomong malah ngomongin orang. Buat apa banyak omong tapi gak ada isinya. Dan yang paling penting, bukankah kita harus mengerti kapan harus berbicara dan kapan harus diam?

Bicara tentang hasil INTP, ternyata saya jadi satu-satunya INTP di divisi saya. Mungkin juga, dalam satu kantor hanya saya yang INTP. Mungkin lho ya. Gak heran juga sih, karena dari banyak penelitian, INTP memang salah satu yang paling sedikit dari populasi manusia. Hanya 3% saja. Ya wajar aja jika saya yang INTP ini sering dianggap aneh oleh mereka yang berbeda. Karena ya itu tadi, mereka cuma bisa melihat apa yang terlihat di depan, dan langsung diomongin aja tanpa mikir-mikir panjang.

Saya amat menikmati menjadi seorang INTP, walaupun kenyataannya seorang INTP seperti saya ini tidaklah cocok bekerja di divisi yang berhubungan dengan uang dan hitung-hitungan. Bukannya saya gak bisa ngitung, tapi lebih kepada aspek lainnya, yaitu seorang yang bekerja di divisi finance, accounting atau pajak jelas tidak bisa mengandalkan intuisi dalam melakukan pekerjaannya. Dia juga gak boleh berjalan di luar sistem, karena dalam kerjaan seperti ini tentu sudah dipagari aturan-aturan yang kaku. Namanya juga berurusan dengan duit. Kerjaan seperti ini juga sifatnya rutinitas, padahal saya gak suka banget yang namanya hal-hal rutin, rapi, formil, tradisional dan gak memerlukan banyak kreativitas.

Terjawab sudah kalau memang saya salah jurusan! Kalau tahu begini, dari dulu saya ambil kuliah jurusan sastra atau seni aja, bukannya pajak. Pantes aja kerjaan ini mudah membuat saya burnout dan capek. Saya juga gak heran kalau saya sering banget terpikir untuk beralih profesi saja. Untungnya, saya orangnya cukup jago dalam berpura-pura.

Gak semua orang bisa dapetin pekerjaan yang sesuai passion dia, apalagi dibayar mahal untuk itu. Rasanya, banyak orang yang bernasib seperti saya. Saya sih udah lama berdamai dengan kata-kata passion itu karena aspek logika saya yang mendorong saya untuk melakukan apa yang memang harus dilakukan, alih-alih apa yang saya sukai. Pilihan yang saya ambil ini telah membawa saya pada kehidupan yang sekarang, yang amat saya syukuri. Dan hanya karena pekerjaan saya bukanlah pekerjaan yang saya sukai banget, bukan berarti saya akan asal-asalan mengerjakannya.

Tenang aja, bakalan ada waktu untuk mengerjakan apa yang saya suka setelah semuanya cukup. Pasti bisa. Gak ada yang gak mungkin bagi seorang INTP. Hahaha.

Jumat, 20 Oktober 2017

Embrace The Slow Culture: Kerja 4 Hari Seminggu

Ada tujuh hari dalam satu minggu. Bagi pekerja kantoran, lima hari di antaranya adalah hari kerja dan dua hari sisanya menjadi hari libur. Ada juga beberapa kantor yang memberlakukan enam hari kerja dan satu hari libur. Karena itulah di kalangan pekerja sangat lazim dijumpai jargon I don't like Monday, karena hari Senin adalah yang mengawali pekan melelahkan.

Bagi kantor akuntan, konsultan atau pekerjaan profesional lainnya, jam kerja malah lebih tidak jelas. Sudah senin sampai jumat pergi pagi pulang pagi, sabtu dan minggu pun dihajar lembur. Pekerja proyek malah bisa lebih gila lagi. Bisa-bisa, dalam seminggu, para pekerja hanya bisa makan dan tidur sekadarnya. Namun dengan catatan, para pekerja profesional ini memiliki jam kerja yang lebih fleksibel dan mereka bisa mengambil jatah istirahat panjang setelah proyek selesai.

Inilah yang berlaku di dunia secara umum. Perusahaan-perusahaan itu terus bergerak mencari laba, bekerja demi kepentingan yang ujung-ujungnya mengalir ke pemilik modal yang terus berusaha meningkatkan kekayaannya. Tapi mau bagaimana lagi, pekerjanya juga butuh uang untuk membiayai kebutuhan narsis hidup yang kian hari kian mahal saja. Juga membayar utang-utang mereka yang telah terlanjur terjerat tipu daya lembaga pemberi utang.

Saya juga seorang pekerja, dan saya bekerja keras karena memang butuh. Tapi kadang saya mikir, di dunia yang semakin serius dan semakin banyak menggerogoti sumber alam, uang yang berputar kebanyakan mengalir kepada golongan tertentu saja, dan tingkat stress yang semakin tinggi, apa gak sebaiknya kita sedikit mengerem?

Mengerem maksudnya gimana? Ya kalo bagi saya sih simple. Kenapa gak mengurangi hari kerja, bukan lagi jam kerja. Kenapa seluruh dunia gak mau mencoba mengurangi hari kerja dari lima hari (standar) menjadi empat hari. Empat hari kerja, tiga hari libur. Enak, kan?

Mungkin saran ini terdengar bodoh, sebagian juga mungkin berpikir saran seperti ini hanya datang dari seorang pemalas yang gagal menaklukkan dunia. Ya suka-suka aja, tapi gue punya poin dalam usulan yang kedengarannya silly ini. Sekaligus menyanggah stereotip yang menganggap orang-orang selow adalah mereka yang pemalas.

Kita sudah terlalu banyak mengeruk kekayaan alam dan membuat polusi. Jika satu hari diliburkan dan sebagai gantinya orang-orang akan berdiam di rumah (atau piknik), tentu konsumsi energi dan pemakaian komoditas untuk produksi akan berkurang. Kenapa car free-day gak diberlakukan dua hari dalam seminggu? Berkurangnya konsumsi energi dan pemakaian komoditas ini tentu akan mengurangi polusi di bumi yang lapisan ozon-nya mulai menipis ini.

Intinya, bumi ini bergerak terlalu cepat, dikeruk terlalu banyak, dengan diisi orang-orang yang terlalu serius, tamak dan rakus. Kita kurangi saja kecepatan ini biar orang-orang makin jadi lebih tenang. Di jaman yang katanya akan menuju akhir ini, menurut gue sih baiknya kita menghabiskan lebih banyak waktu untuk tidur siang, mengantar anak ke sekolah, mendekatkan diri kepada Tuhan, atau memakan pisang goreng di teras rumah. Siapa sangka bahwa hidup lebih santai malah bakal lebih banyak mendatangkan makna dan memberikan manfaat. 

Lagipula kalau lagi di kantor, bukankah kebanyakan dari kita terlalu banyak menghabiskan waktu untuk ngobrol gak jelas, melipir ke sana-sini sebelum dan sesudah makan siang, membaca artikel politik yang dibuat pekerja hoax, ribut sama teman lama di facebook, kepo sama gosip artis di akun gosip instagram atau main game online? 

Gue sih yakin, kalo lagi di rumah, kalian jarang melakukan kegiatan-kegiatan ini. Di rumah, kalian akan lebih berdaya guna. Menemani anak bermain, membetulkan kran bocor, mencuci mobil dan motor, mengecat pagar, mengantar orang tua kondangan, mengantar istri ke pasar, dan lain-lain. Lebih berguna, bukan? Let's just embrace the slow culture!

Atau, cobalah berhenti sejenak dan lihat apa saja yang sudah kalian lewatkan. Anak yang tiba-tiba sudah besar tanpa kalian pantau perkembangannya, orang tua yang sudah kalian cuekin, teman lama yang sudah lama kalian tidak hubungi, buku-buku yang plastiknya belum dibuka, atau hobi-hobi yang sudah lama kalian tinggalkan. Pastinya dunia tidak sesempit kubikel kerja kita.

Lagian kalo kita sudah gak ada lagi di dunia, emangnya perusahaan kita bakalan ingat? Kalau kita resign, kita akan mudah digantikan. Kita tidaklah lebih dari sebuah baut kecil dalam sebuah mesin yang besar. Yang mengenang kita adalah keluarga kita, dan jangan lupa kalo kita akan dikenang berdasarkan apa yang kita perbuat selama hidup.

Selasa, 15 Agustus 2017

Kenapa Saya Tetap Gunakan Twitter

Saya udah sering ketemu teman dari sesama Gen-Y yang udah gak main media sosial Twitter. Kebanyakan dari mereka sekarang ini lebih sering berekspresi di Path, Instagram, atau malah balik lagi ke Facebook. Saya gak nanya alasannya kenapa sih, tapi kalo yang Saya duga, kebutuhan berekspresinya aja yang udah berubah.

Di Path, walaupun sekarang udah ada iklannya, kita bisa memposting aktivitas kita bahkan ke hal-hal paling remeh seperti tidur jam berapa, juga mempercantik status dengan #pathdaily. Jumlah teman yang dibatasi membuat Path terasa lebih personal, lalu konten-konten yang ada di dalamnya lebih ringan, dan sepertinya inilah yang menjadi nilai lebih yang dicari-cari.

Instagram, yang kini hanya kalah jumlah penggunanya dari Facebook dan Youtube sebagai platform social networking, juga menawarkan hal lain kepada para Gen-Y. Berjamurnya akun-akun produk begitu memanjakan para Gen-Y yang sedang tinggi hasrat berbelanjanya.

Lalu bagaimana dengan Twitter? Siapa yang bisa tergelak dan tergerak dengan barisan kata-kata yang hanya terdiri dari 140 karakter? Hanya berbentuk tulisan pula, tidak pakai meme lucu. Mengunggah gambar dan video juga dirasa kurang asik di Twitter, karena ya Twitter itu terlalu massal. Kecuali jika kita gembok akun Twitter supaya hanya di-follow oleh orang-orang yang kita mau, follower di akun kita itu bermacam-macam orang, dan saya rasa sih follower Anda gak akan tertarik juga melihat foto selfie yang sedang makan bakso kuah saat hujan turun. Alasan kita mem-follow seseorang atau sebuah admin di Twitter, menurut saya lebih karena kebutuhan akan informasi, bukan kepengen tahu kisah personal.

Dilihat dari tampilan, Twitter juga sangat old fashioned. Fungsi Twitter yang paling hebat paling dibuatkan chirpstory, tentu membatasi tendensi para netizen budiman yang senang berkomentar atas segala sesuatu, walaupun yang bukan pada bidang keahliannya.

Tentang banyaknya yang kembali ke Facebook, Saya sih melihat alasannya karena di platform ini, para netizen Gen-Y bisa dengan leluasa membagikan apa saja di wall teman-temannya, terutama pandangan politiknya. Dengan mantra “Feel free to unfriend/unfollow kalo gak nyaman”, dan dengan motto “pilihan saya paling benar dan yang lain salah”, para netizen garis keras yang juga membela suatu golongan dengan militan ini merasa enak-enak saja untuk mem-posting konten yang mengamini pemikiran mereka.

Tapi buat saya sih, Twitter tetap paling nyaman. Selain karena kesederhanaan dan kemudahan menggunakannya tadi, tetap saja berita-berita yang berseliweran ini lebih cepat saya dapatkan dari Twitter. Selain itu, karena memang sudah lama menggunakannya, saya juga sudah follow akun-akun yang memang asik, juga beberapa “teman Twitter” yang asik diajak ngobrol. Well, di Twitter juga banyak yang snob dan sok tau sih, tapi untungnya ada fitur “Mute”, dan untuk beberapa orang yang emang bener-bener bikin males, saya bakal unfollow. Dan alasan terakhir, di Twitter ini saya gak di-follow sama saudara atau teman kantor! Itu penting banget demi kebebasan nge-twit. Hahaha.

Rabu, 02 Agustus 2017

Di Indonesia, Kita Tidak Boleh Kehilangan

Andibachtiar Yusuf, atau dikenal dengan nama panggilan Ucup, seorang sutradara film dan penggemar fanatik sepak bola, baru saja merampungkan bukunya yang berjudul Menjadi Indonesia. Tanpa bermaksud jadi spoiler, salah satu dari kumpulan esai pendek itu berisi tentang pengalamannya membandingkan penanganan kehilangan barang antara di Indonesia dengan negara-negara yang lebih maju dan teratur seperti Jepang.

Ucup menceritakan bahwa jika kita kehilangan barang saat berada di negara Jepang, maka kita tidak perlu khawatir karena kemungkinan besar bahwa barang kita itu akan kembali secara utuh. Saya juga pernah mendengar cerita dari teman yang lain yang juga pernah mengunjungi negeri Matahari Terbit itu. Ia pernah melihat sebuah ponsel yang tergeletak begitu saja di pinggir jalan tanpa ada seorangpun yang berani menyentuhnya. Jangankan ngambil, megang aja enggak! Lalu menurut informasi yang dia dapat dari orang-orang, ponsel berjenis iphone itu nantinya akan diambil kembali oleh pemiliknya, karena ia akan mudah saja melacak melalui aplikasi pelacak ponsel hilang. Selain itu, CCTV juga ada di mana-mana, dan jika Anda nekat mengambil iphone itu, maka siap-siap saja diciduk polisi. 

Meski demikian, orang-orang Jepang ini tentu saja sudah tahu bahwa mengambil yang bukan haknya adalah kejahatan. Dan tanpa adanya ancaman penangkapan, mereka sudah tahu kalau iphone itu bukanlah miliknya, jadi mereka tidak akan mengambil. Itulah keteraturan, dan begitulah ciri sebuah negara yang beradab.

Tentu sulit membandingkan negara-negara maju itu dengan Indonesia. Malah bisa jadi sepuluh jilid buku sendiri untuk itu. Tapi ya memang benar, di sini tuh memang harus ekstra waspada. Semenit saya barang kita tinggal tanpa pengawasan, maka sudah berpindah tangan secepat kilat. Saya sendiri sering mendengar cerita tentang hilangnya ponsel teman saya akibat dia kelupaan meninggalkannya di toilet kantor. Padahal, toiletnya ada di kantor, bukan di tempat umum.

Sementara saya juga pernah mendapatkan pengalaman yang tidak kalah ngenes. Ketika sedang terburu-buru, saya melupakan ponsel yang saya tinggal di atas mesin ATM di sebuah minimarket modern di Depok, dekat dengan rumah saya. Sepuluh menit setelah saya menyadari, ponsel itu sudah raib, dan ketika saya lacak melalui aplikasi, ponsel telah berpindah 10 km ke arah Ragunan! Hebatnya lagi, mas-mas petugas minimarket yang saya minta tolong untuk mengakses CCTV, kerjanya sungguh lambat luar biasa. Dia meminta izin kepada saya untuk mengecek komputer CCTV dari dalam kantor, lalu kembali ke saya 30 menit kemudian hanya untuk mengabarkan bahwa ia tidak bisa memutar balik (rewind) CCTV karena ia lupa password! Kompetensi dan komitmen mas-mas ini betul-betul tiada banding! Benar-benar layak dihadiahi penghargaan sebagai karyawan teladan seumur hidup, dan benar-benar layak tampil di TV nasional untuk menerima hadiah sepeda dari bapak presiden!

Sebetulnya dia menawarkan bantuan lain, yaitu mengakses lewat CCTV yang ada di mesin ATM, tapi dia langsung membeberkan berbagai keruwetan khas birokrasi, yang mana saya harus mengisi Berita Acara ini-itu, melapor kepada si itu dan si anu. Apa saja ia katakan untuk membuat saya mengurungkan niat. Hebat betul, kan?

Ya, saya memang akhirnya mengurungkan niat, dan si mas-mas itu akan melanjutkan hidup dengan membawa serta keteladanannya dalam bekerja, sambil mengunyahi produk mecin, menenggak multivitamin berkarbonasi satu pak sehari, dan memberi komentar cerdas pada artikel politik di Facebook. 

Selain karena ponsel yang hilang itu bukan jenis iphone yang mahalnya naudzubillah, saya juga telah memblok data-data ponsel saya, termasuk melakukan reset password semua akun media sosial yang saya punya. Tidak lupa, saya pun mengikhlaskan kehilangan ini sembari berharap si maling mendapatkan hidayah karena bela-belain segitunya ngambil ponsel yang harganya sungguh tidak seberapa!

Tapi tetap saja, ini menunjukkan sisi bobrok kelakuan rakyat yang suka maling dan gak jujur, karyawan toko yang gak kompeten dan gak mau susah, dan segala perangkat keamanan yang hanya jadi pajangan.

Setelah membaca buku Ucup dan membandingkannya dengan situasi sehari-hari, rasanya memang benar bahwa Menjadi Indonesia bukanlah hal yang gampang. Kita harus waspada pada barang milik sendiri, karena kalau sudah ketinggalan, agak sulit rasanya berharap ada orang berhati budiman yang sukarela mengembalikannya kepada kita. Saya malah pernah dengar cerita teman saya yang kehilangan STNK motor, lalu si penemu STNK mendatangi rumahnya untuk mengembalikan, tetapi terus terang meminta imbalan dengan jumlah besar. "Yah, masih lebih murah kan mas, daripada ngurus STNK baru di Samsat?" Betul-betul potret manusia yang memiliki sifat tulus, ikhlas, ridho, berjiwa perwira yang layak dilestarikan serta namanya diabadikan sebagai nama kantor Samsat. 

Jangan pula berharap banyak pada sistem yang ada, karena biasanya cuma pajangan doang.  

Saya tidak bilang tidak ada orang seperti itu di Indonesia ya, tidak maksud melakukan generalisasi. Hanya saja sangat jarang.

Minggu, 30 Juli 2017

Memangnya Jadi Traveller Pasti Bijak?

Di era digital sekarang ini, entri berupa meme, atau gambar bertuliskan kata-kata singkat yang memiliki makna, begitu menjamur. Beberapa di antaranya cukup berguna dan inspiratif, dan sisanya menjadi sampah digital yang dilupakan.

Salah satu meme yang cukup saya ingat adalah yang bertuliskan kurang lebih begini: Kalau elo masih gampang tersinggung, mungkin pengalaman lo kurang banyak, main lo kurang jauh.

Hmm.

Pembuat meme ini seperti memberi keabsahan bahwa mereka yang pengalaman hidupnya sudah banyak--ditegaskan dengan aktivitasnya yang sering bepergian--niscaya akan menjadi orang yang sabar, dewasa, dan tentunya bijak.

Sebelum adanya meme ini pun sudah banyak sekali tulisan-tulisan yang menyeru kita untuk bepergian dan melakukan perjalanan untuk mengagumi ciptaanNya, kalau dalam Islam kegiatan ini dikenal dengan sebutan tafakur alam. Tujuannya apa lagi kalau bukan untuk membuat kita merasa kecil di hadapanNya, dengan cara melihat lebih banyak lagi keindahan alam dan keragaman budaya di seluruh penjuru dunia.

Tapi ternyata tidak selamanya kok, orang yang pengalaman hidupnya banyak dan perginya udah jauh-jauh itu lantas menjadi bijak.

Saya sendiri mengenal banyak orang yang sudah sering bepergian ke mana-mana. Lima benua, lima samudera mungkin sudah dijelajahi. Album-album fotonya penuh dengan perjalanan dari Santorini hingga San Fransisco, dari pulau di ujung barat hingga timur Indonesia.

Tapi kok ya, orangnya begitu-begitu aja. Masih suka sensi kalau dibecandain, masih suka ribut-ribut di grup whatsapp, masih suka ngaret kalau janjian, masih buang sampah sembarangan dari mobilnya, masih suka nyerobot antrean, masih gak ngerti kalau harus memprioritaskan tempat duduk kepada orang-orang tertentu di tempat umum, masih gak ngerti untuk mendahulukan yang keluar dari lift, KRL atau bis Transjakarta. Dan sebagainya. Lalu ke mana perginya hasil pembelajaran dari pergi jauh-jauh itu?

Yang ada malahan dia malah jadi snob. Merasa dirinya lebih baik daripada orang lain. Apa bedanya mereka dengan para penikmat kopi sejati yang menghakimi para peminum kopi sachet?

Saya pun bertanya-tanya, kenapa perjalanan jauh dan pengalaman banyak yang mereka dapat tidak mengubah sosok mereka menjadi lebih baik. Dengan catatan, tentunya tidak semuanya seperti itu. 

Kemungkinan besar, mereka bisa menyesuaikan kelakuan ketika menjadi turis di negara atau daerah orang, tapi ketika kembali ke tempat asal, kebiasaan buruk dan karakternya toh kembali lagi seperti sedia kala. Atau mungkin, tujuan perjalanannya hanya sebatas foto-foto narsis di tempat yang instagram-able.

Travelling memang menyenangkan dan bermanfaat, tapi apa iya menjadi traveller menjamin seseorang jadi lebih bijak? Dan apa iya harus keliling dunia dulu untuk mengerti cara berperilaku dewasa?


Selasa, 04 Juli 2017

Grup Whatsapp Yang Semestinya Bermanfaat

Apakah bunyi-bunyi dan notifikasi yang paling menyita waktu orang-orang jaman sekarang? Saya berani nebak bahwa bunyi-bunyian itu berasal dari ponsel pintar milik mereka. Dari ponsel pintar itu, notifikasi yang timbul itu kebanyakan berasal dari aplikasi percakapan yang amat umum digunakan, yaitu Whatsapp. Lalu jika dipersempit lagi, panggilan chat itu lebih sering datang dari percakapan grup.

Ya, grup Whatsapp yang begitu fenomenal.

Fasilitas percakapan grup yang dibuat oleh aplikasi Whatsapp sebetulnya bukanlah ide yang baru. Berhubung sedang malas meneliti dan tidak ada signifikansi akademis atau signifikansi praktis dari postingan ini, maka saya akan mencoba berasumsi berdasarkan ingatan saja. Sebelum grup Whatsapp, pengguna ponsel cerdas diramaikan oleh grup Blackberry Messenger. Sebelum era ponsel cerdas, percakapan grup dimulai dari era mailing list (milis) yang disediakan oleh pemilik layanan email atau dengan email berantai.

Seiring pesatnya perkembangan ponsel pintar, kebiasaan menggunakan milis praktis ditinggalkan. Kini orang beralih ke percakapan grup lewat aplikasi chat messenger. Matinya milis barangkali senasib dengan senjakala layanan wartel yang tergerus oleh keberadaan telepon seluler atau ojek pangkalan yang tersapu ojek daring.

Whatsapp nampaknya masih yang terdepan dalam penyediaan aplikasi chat ini. Lagi-lagi saya sedang malas meneliti seberapa banyak pengguna layanan ini, tapi dari orang-orang pemilik ponsel cerdas yang saya temui, rasanya amat jarang yang tidak memasang aplikasi berwarna dominan hijau ini di ponsel cerdasnya, kecuali memang ia seorang agen rahasia yang identitasnya tidak boleh diketahui, atau ia seorang anti-sosial yang tidak punya teman sama sekali. Dan mereka yang punya aplikasi Whatsapp, hampir pasti tergabung dalam grup.

Konsekuensinya, kebanyakan dari kita akan memiliki banyak sekali grup Whatsapp. Malah kebanyakan grup yang ada di ponsel kita adalah hasil penarikan secara paksa. Kita yang tidak tahu apa-apa, tahu-tahu sudah ada di grup itu. Ada grup yang sifatnya serius seperti grup proyek dan grup pekerjaan, ada yang penuh basa-basi seperti grup keluarga besar, ada grup informatif seperti grup tetangga rumah dan grup sekolah anak. 

Lalu dengan derajat formalitas yang menurun, ada grup alumni sekolah, grup teman kantor lama, grup hobi atau grup komunitas. Ada pula grup yang mulai tidak formal seperti grup teman nongkrong, grup teman ngerokok, grup teman main PS, atau bahkan ada pula ‘grup di dalam grup’ alias beberapa orang dari grup besar yang sengaja membuat grup yang lebih kecil agar ngobrol lebih bebas, atau dengan tujuan bisa ngegosipin orang lain yang ada di grup besar. Sampai pada tingkat tertentu, ada pula grup-grup yang dibentuk untuk tujuan sementara seperti grup kepanitiaan atau grup acara tertentu.

Tentu semua grup ini punya tujuan masing-masing. Semua tergantung kesepakatan di awal. Tapi sebetulnya, melihat siapa orang-orang yang tergabung, semestinya kita sudah paham bahwa ada banyak ‘peraturan tidak tertulis’ yang berlaku terutama di grup-grup besar. Dalam grup besar, masa iya sih elo gak paham kalau di situ ada macam-macam orang dengan macam-macam tingkat pendidikan, keadaan ekonomi yang berbeda-beda, pandangan politik yang tidak seragam, bahkan preferensi merek sepeda motor yang belum tentu sama. Kita tentu harus paham konsekuensi memposting sesuatu di grup itu. Kalau bisa sih kita gak perlu lah posting gambar atau jokes tidak pantas, atau berdebat tanpa ujung yang malah jadi tontonan orang.

Bagaimanapun, manusia adalah makhluk kompleks. Sekalipun dia adalah teman lama jaman sekolahan, tidak ada yang tahu bahwa ia sudah berubah. Jika dulu dia mau saja dicela-cela, atau dipanggil dengan nama panggilan aneh, sekarang bisa saja dia berubah. Karena sudah jadi bos dan sehari-hari biasa dihormati orang, belum tentu ia berlapang dada dipanggil lagi dengan nama aib itu ketika bertemu lagi dengan teman-teman sekolahnya. Selain itu, kita mesti paham bahwa setiap orang punya cerita hidup masing-masing, karena itu kita gak bisa menempatkan standar kita kepada orang lain. Misalnya aja, kita lempar jokes yang kemudian bikin orang tersinggung, terus kitanya malah gak terima dan bilang "Jadi orang sensi banget!", padahal yang harusnya kita kendalikan adalah omongan kita, bukannya reaksi orang lain atas omongan kita. Karena itu dalam percakapan grup, empati adalah hal yang penting. Malahan dalam grup besar, sepertinya lebih baik menjadi silent reader dan berkomentar seperlunya.

Saya sering banget nemu beberapa orang yang gontok-gontokan di grup Whatsapp, padahal ketemu aja jarang, dan kenal deket juga enggak. Mending sih gontok-gontokan karena apa, lha ini berantem gara-gara salah satu komentarin sebuah gambar yang ia rasa gak sesuai dengan pendapatnya. Masing-masing lalu memaksakan pendapatnya dengan teorinya, dan gak ada yang mau kalah. Bahkan ada grup yang saya ikuti (percaya atau enggak), ada yang meributkan tentang kualitas ponsel merek A dengan kualitas ponsel merek B! Dan sejenisnya.

Grup yang awalnya bertujuan untuk menjaga silaturahmi, mengadakan reuni, yang ada malah pada sensi, baper, dan pada leave group. Reuni pun gak jadi-jadi.

Padahal seandainya aja kita mampu menahan ego dan kecenderungan untuk mengomentari segala sesuatu biar kelihatan pintar, grup Whatsapp bisa bermanfaat banget. Selain menyambung silaturahmi, adanya grup juga memudahkan penyebaran informasi penting, bisa juga menggalang dana bantuan dengan lebih cepat kalau-kalau ada yang butuh. Grup Whatsapp juga pastinya bisa membuka peluang-peluang bisnis, peluang kerja, atau apa saja yang berguna.

Yang jelas, sulit sekali bagi kita untuk keluar dari grup Whatsapp yang sudah kadung tidak membuat nyaman itu. Seperti lirik lagu Hotel California, “You can check out anytime you like, but you can never leave.” Alhasil, entah berapa banyak grup berisi sampah-sampah digital tidak berguna yang terpaksa kita aktifkan fitur silent atau mute.


Rabu, 31 Mei 2017

Makna Bukber

Saya ini, saking suka kurang kerjaannya, suka ngelamun ingetin masa yang udah lewat. Terutama momen-momen masa kecil saat masih belom mikirin hal-hal berat macam inflasi atau tagihan kartu setan kredit. Dan setelah berusaha mengingat lebih keras, ternyata masa-masa menyenangkan itu sebagian besar ada di bulan ramadhan.

Buat anak-anak, bulan ramadhan itu memang bulan liburan. Menggeser rutinitas dari yang biasanya terlalu berat ke sekolah menjadi rutinitas yang berpusat di mushola atau masjid. Atau pesantren kilat. Tapi, baik mushola, masjid atau pesantren kilat itu tidak jauh berbeda dengan liburan. Gak ada beban, gak ada ketakutan atau rasa stres seperti halnya di sekolah, pas masih ketemu sama orang-orang yang sangat peduli sama nilai raport dan menghakimi si raport jelek dengan mengatakan "Nilai lo jelek-jelek gitu, udah gede mau jadi apa?"

Waktu saya masih kecil, dan ketika memasuki bulan ramadhan, saya suka menginap beberapa hari di rumah nenek. Bukan rumah nenek di desa seperti judul pelajaran mengarang anak-anak SD yang begitu sih, karena rumah nenek saya pada waktu itu letaknya hanya kurang dari 40 km kalau dari Jakarta. Di rumah nenek, saya punya sekelompok teman bermain. Sebagian ada yang memang tinggal di sana, sebagian lagi yang seperti saya, yaitu menginap di rumah neneknya.

Bersama teman-teman itu, saya mengisi ramadhan dengan seru. Pagi-pagi buta setelah sahur dan sholat subuh, kami pergi ke tanah lapang dekat rumah. Untuk bermain sepak bola! Ya, main bola subuh-subuh kayak begitu ternyata sangat menyenangkan. Matahari masih belum terbit, sehingga cuaca sangat sejuk. Saat baru mulai bermain, langit masih gelap, lalu berangsur terang seiring terbitnya matahari. Saat matahari terbit itulah kami membubarkan diri. Walaupun tenggorokan jadi kering dan rasa haus tak terhindarkan, tapi kami gak peduli. Sesudah main bola, kami biasanya melanjutkan tidur sampai siang.

Karena bulan puasa, nggak afdhal dong kalau gak pergi ke masjid. Makanya itu, saya biasanya pergi ke masjid untuk mengikuti shalat berjamaah. Shalat dzuhur, saat lagi haus-hausnya, anak-anak kecil memang senang sekali berlama-lama ambil air wudhu, padahal biasanya sih terburu-buru. Kalau air keran itu tertelan sedikit, ya namanya rejeki.

Yang lebih asik lagi adalah saat waktu ashar, karena ba'da ashar, kami akan kembali ke lapangan untuk bermain sepak bola. Ngabuburit. Kalau anak-anak sekarang ngabuburitnya naik motor bertiga atau berempat dengan norak dan rusuh, untungnya jaman kami cukup main bola aja. Dengan sisa-sisa tenaga yang masih ada, kami mengejar bola dan bertanding melawan kampung sebelah. Kalau ada benturan-benturan khas main bola, kami sebagai anak kecil yang patuh dan takut sama ustadz, saling mengingatkan dan menahan diri untuk tidak marah. "Jangan berantem, ini lagi puasa."

Ada satu anak kampung sebelah yang resek-nya bukan main. Dia sering mengolok-olok saya tanpa tujuan jelas. Di pikiran saya timbul niat jahil. Saat ia menjadi kiper, saya begitu bernafsu membawa bola ke arahnya. Anak itu masih sempat saja pongah dengan bilang "Tenang aja, dia gak bisa nendang kenceng, apalagi pakai kaki kiri." Saya terang saja terbahak-bahak dalam hati. Dia tidak tahu bahwa kaki kiri adalah kaki favorit saya untuk menendang dengan keras, sementara kaki kanan lebih saya andalkan untuk mengumpan. Ketika posisi sudah dekat dengannya, saya pun menendang bola sekuat tenaga... Dan sukses mengenai muka anak malang itu. Dia kesakitan. Mohon maaf, saya memang sengaja mengincar mukanya, bukannya gawang. Duh, jahat bener. Untung lidahnya gak tertelan.

Kegiatan pun berlanjut dengan buka puasa dan tarawih. Ketika waktunya berbuka, ya namanya anak kecil, kan pasti berebutan. Tapi ada salah satu teman yang memang anaknya agak giras kalo soal makanan. Dia mengambil terus makanan-makanan kecil yang disumbangkan warga itu untuk dirinya sendiri, bahkan dia hendak membungkusnya untuk dibawa pulang. Saat dia ditegur oleh anak yang lebih tua, baru deh dia ketakutan, lalu pulang dengan hati dongkol dan perasaan sedih. 

Lalu saat memasuki tarawih, biasalah, yang namanya anak kecil pasti ribut dan bercanda. Ada yang menendang pantat teman di depannya saat rukuk, ada yang tengok kanan kiri pasang wajah lucu, ada yang menaruh kotak amal di tangan temannya yang sedang khusyuk berdoa sampai merem-merem. Macam-macam deh. Dan setelah shalat selesai, kami serentak bubar secepat kilat sebelum ada bapak-bapak galak yang siap menjeweri kuping kami satu persatu. Besoknya, si bapak udah standby duduk di barisan anak-anak untuk memastikan keributan serupa tidak terjadi.

Okelah, keributan tidak terjadi di masjid. Sebagai gantinya, kami pindah ke luar masjid. Kain sarung kami buntal menjadi serupa godam. Kalau kena pukul, lumayan sakit. Atau kalau gak model godam, kami pakai seperti biasa untuk dijadikan selepet atau ninja-ninja-an. Tapi, perang sarung ini sangat menyenangkan. Daripada perang petasan atau tawuran di acara Sahur on The Road ala anak-anak jaman sekarang?

Main bola, perang sarung, bercanda. Ya begitulah bulan ramadhan menyenangkan itu, yang kemudian berlalu ke Idul Fitri, di mana kami menunggu angpau dari saudara-saudara yang lebih tua. Pakai baju baru, dan berkumpul kembali di rumah nenek. Saat berkumpul dengan saudara, keributan-keributan pun masih ada, hanya saja berbeda bentuknya. Keributan yang baru usai kalau ada yang nangis, atau ada barang yang pecah.

Kini setelah sudah dewasa, kami mengisi bulan ramadhan sudah lebih serius. Tidak bercanda lagi seperti jaman anak-anak. Ibadah ditingkatkan dan diseriuskan. Ajakan buka puasa bersama pun berdatangan, tetapi sebagian teman agak malas karena amat banyak kesulitannya. Jalan yang macet, ribet kalau mau shalat maghrib, ketinggalan tarawih berjamaah, dan pulang ke rumah dengan perut yang sudah terlalu kenyang dan mata yang sudah mengantuk. Bikin malas tarawih, akhirnya bablas tidur sampai sahur.

Apakah bukber selalu seperti itu? Ya, hampir selalu seperti itu. Itulah sebabnya tahun ini saya agak malas mengajak bukber, kecuali dengan teman-teman yang memang sudah jarang ketemu. Setelah tahun lalu saya berhasil berbuka puasa bersama dengan teman-teman dari seluruh jenjang sekolah, juga dengan tetangga rumah dan teman-teman kantor, saya sih sekarang ini mau pasif saja. Kalau memang ada acara itu, ya saya datangi, kalau tidak ada, ya saya tidak akan menginisiasi seperti biasa. 

Karena bagi generasi Y, atau baby boomers seperti saya yang kini sudah terlalu larut dalam pekerjaan, bertemu teman lama sangat menyenangkan. Dan makna dari bukber adalah sekalian reunian. Kalau asik, kali aja bisa berlanjut ke kegiatan-kegiatan lain. Kalau ternyata garing dan gak asik, ya setidaknya kita sudah gak lagi penasaran.

Dan untuk tahun ini, saya kepengen ketemu dengan teman-teman dari rumah nenek saya itu. Saya tahu, kita semua sudah berpencar, dan rasanya sudah lebih dari sepuluh tahun tidak bertemu. Tapi, apa salahnya berharap? Suatu saat saya akan menghubungi kalian. Satu persatu.


Senin, 09 Januari 2017

Tidak Semua Public Enemy Patut Dibenci

Di mana saja kita berkecimpung dengan sesama makhluk hidup bernama manusia, hampir pasti kita akan menemukan sosok yang tidak disukai orang-orang, atau biasa kita sebut dengan istilah si public enemy. Sebabnya pun macam-macam, dari yang objektif dan prinsipil hingga ke hal-hal kecil yang biasanya sangat subjektif. 

Lalu, apakah kita lantas harus ikut-ikutan membenci dia?

Biasanya, si public enemy ini memiliki kelakuan yang berbeda dari yang lain, dan cenderung negatif. Bisa jadi, ia suka berbohong, suka mencuri, suka menghina orang lain, suka minjem duit (tapi gak suka bayar), suka marah-marahin orang di tempat umum, suka pamer, narsis akut, kasar, cabul, pelit, rakus dan berbagai perilaku sejenis yang bersinggungan dengan perilaku seorang kriminal atau pengidap gangguan kejiwaan berskala rendah hingga menengah. Kalau memang seseorang dibenci karena hal-hal seperti itu, ya wajar saja jika kita ikut berhati-hati. 

Tapi di lingkungan sekitar yang kerap saya temukan, tidak jarang sosok public enemy ini hadir hanya karena opini subjektif dari beberapa orang yang kemudian diikuti secara berjamaah. Hanya karena dia beda, maka dia tidak disukai. Opini ini kemudian mengalami eskalasi ke tahap bully hingga kemudian terdoktrinlah hal-hal jelek tentang si public enemy ini di kepala orang-orang lalu kemudian kita akan berperilaku tidak adil kepadanya. Imbasnya, makhluk malang ini akan dikucilkan. Tidak ada yang mau mengajaknya makan siang, minum kopi bersama atau pergi ke acara-acara sosial lain.

Sayangnya, tidak semua opini subjektif tentang si public enemy ini benar adanya. Terjadilah fenomena knee-jerk  reaction. Orang-orang kemudian latah ikut-ikutan membenci padahal ia kenal baik dengan orang ini, atau tidak melihatnya dari sisi yang berbeda.

Mungkin memang sudah sifat dasar manusia untuk melepas kacamata objektifnya ketika sudah terlanjur dipengaruhi opini orang lain. Katakanlah seseorang menjadi public enemy gara-gara ia terkenal pelit, maka kemungkinan besar, si pemberi opini itu akan mulai mengamati kebiasaan-kebiasaan lain dari si public enemy untuk memberi bahan bakar bully. Contoh lain, misalnya ada seseorang yang tidak disukai di dunia kerja karena hasil kerjanya memang kurang bagus. Yang biasanya terjadi, si korban bakal dikomentari hal-hal tidak ada hubungannya dengan kinerja profesionalnya sebagai pekerja. Seolah-olah, sosok yang dibenci ini harus memiliki atribut lengkap untuk semakin dibenci dan dikucilkan, dan seolah-olah si pemberi opini ini adalah sosok panutan nan sempurna tiada banding.

Dari pengalaman saya sih, kenyataannya tidak semua public enemy itu betul-betul patut dibenci dan dijauhi. Mengapa kita tidak mencoba menilai orang secara menyeluruh, bukan hanya dari satu-dua tindak-tanduk yang diperlihatkannya. Apa yang ditunjukkan orang dalam keseharian di tempatnya bekerja atau bersekolah, biasanya tidaklah mencerminkan kehidupan seseorang yang sebetulnya. Setiap orang punya rahasia dan cerita hidup masing-masing yang tidak semua orang tahu, dan siapa tahu cerita itulah yang kemudian membentuk perilakunya sekarang. 

Manusia memang sosok yang kompleks, dan sayangnya tidak semua orang mau menyelami kompleksitas itu. Kebanyakan dari kita memilih menjadi pribadi yang malas melakukan verifikasi dan malas meneliti. Kita memilih cari aman dan mengikuti suara mayoritas, mengikuti kata si anu atau si itu, yang belum tentu kredibel. 

Siapalah kita ini yang merasa berhak membenci orang lain, padahal kita tidak terlalu kenal dengannya dan tidak tahu cerita hidupnya. Siapalah kita yang penuh dosa ini untuk menghakimi orang lain tanpa dasar, padahal siapa tahu di kemudian hari orang yang kita benci itu tahu-tahu menjadi penolong kita di saat kita butuh pertolongan. 

Jumat, 13 Mei 2016

Penakluk Panggung

Jika sedang menjelang hari besar, misalnya ujian, rapat penting atau bertemu orang penting, biasanya saya merasa gugup. Yaa saya rasa orang lain pun demikian, namun memang cara menunjukkannya yang berbeda-beda. Kalau saya, biasanya jadi kurang enak makan dan tidur. Makanan enak pun rasanya jadi biasa saja, dan durasi tidur jadi berkurang.

Kemarin, semestinya saya gugup. Kenapa? Karena saya harus manggung untuk mengisi acara kantor. Bukan sembarang acara kantor, karena kalau dalam ukuran saya sih, acaranya cukup megah. Seluruh duta dari produk, yang tentu saja para artis, diundang untuk menghadiri acara. Lalu apa hubungannya dengan acara manggung saya? Ternyata, mereka menjadi juri yang akan menilai penampilan kami di panggung.

Beberapa jam sebelum tampil, ternyata saya tidak merasakan kegugupan yang keterlaluan. Saya seperti sudah biasa saja, mungkin pengaruh umur. Masak sih sudah di usia ini masih demam panggung seperti anak SMA yang baru kali pertama manggung di pentas seni? 

Tapi, ternyata rasa gugup itu muncul ketika nama grup kami dipanggil ke atas panggung. Ketika kaki melangkah ke bibir panggung dan melihat ke arah penonton, tiba-tiba panggung besar ini seperti berubah menjadi atap gedung yang tinggi. Penonton yang mungkin jumlahnya hanya ratusan, tapi kelihatannya ribuan. Apalagi, tiga orang aktris ibukota kemudian memandangi kami satu persatu seperti juri di acara kontes bakat televisi nasional.

Saya juga tidak memegang instrumen yang menjadi kebisaan saya yaitu drum. Lagi-lagi dalam grup, saya mengalah dan memegang gitar. Padahal, jari-jari tangan sudah kaku, selain itu, saya juga tidak pernah jago bermain gitar.

The show must go on. Saya pun memasang perangkat gitar dan efeknya, lalu menghubungkannya ke peralatan amplifier besar. Terdengar suara nyaring perangkat enam senar yang saya genjreng halus, dan spontan membuat penonton menengok ke arah saya. 

Ternyata pertunjukan berjalan lancar, kecuali suara senar satu saya yang ternyata fals. Saya kepedean sampai lupa menyetemnya. Ah untung saja suaranya tertutup kerasnya gebukan drum. Tanpa terasa, kami pun selesai, lalu turun menuju backstage. Kami pun saling bersalaman, lalu kemudian para bos datang ke backstage, juga untuk memberi selamat.

Tanpa saya sadar, keringat bercucuran. Kaos saya basah keringat, dan mulut saya luar biasa keringnya. Air mineral pun langsung saya tenggak sebotol penuh untuk mengganti cairan yang terus terbuang. Tidak lama, para duta produk inipun masuk ke backstage. Mereka kegerahan di luar, dan mencari pendingin ruangan yang dipasang di backstage. Kami pun berfoto bersama, dan mereka tidak keberatan menanggapi banyak pertanyaan dari teman-teman saya. 

Tidak lama, salah satu duta produk pun melangkah santai ke panggung, berbicara dengan lantang dan lancar tanpa sedikitpun ada nada kegugupan. Mereka tersenyum dan tertawa tanpa terlihat terpaksa. Memang sudah pekerjaan mereka untuk menaklukkan panggung demi panggung, seperti halnya saya yang sehari-hari berkutat dengan kertas kerja berisi angka-angka njlimet.

Diam-diam, saya kagum dengan mereka yang begitu mudahnya menaklukkan panggung. Terlepas dari fakta bahwa itulah pekerjaan mereka sehari-hari. Tapi bagi saya, para penakluk panggung ini tidak hanya mengandalkan tampang yang memang sudah rupawan sejak lahir, tapi juga mampu menyampaikan pesan dan mengarahkan massa seberapapun sulitnya situasi. Di belakang panggung mereka memang seperti orang biasa. Mereka bercanda, merokok, tidak lepas dari gadget. Wajah mereka pun lelah dan terlihat bosan seperti menunggu kapan hari ini akan berakhir. Tapi pada saat mereka berada di panggung, seluruh kelelahan dan kebosanan itu sirna, berganti dengan antusiasme dan senyum yang terlihat tulus.

Memang dunia ini adalah panggung, bukan? Walaupun jaman sekarang kita bisa mencari panggung di dunia maya. Di twitter, begitu banyak orang yang sebegitunya cari panggung. Ada yang marah-marah, goblok-goblokin orang, ngeyel, sampai ngehina-hina karya orang. Ah, coba aja lakukan itu semua di atas panggung nyata yang ditonton oleh follower-followernya. Ada pula mereka yang cuma berani ngomong di belakang, tapi ketika disuruh tampil di panggung? Alasannya sebanyak spesies nyamuk di dunia ini.

Saya iri pada kalian, para penakluk panggung.

Kamis, 04 Februari 2016

Tak Semudah Balik Telapak Tangan

Tak Semudah Balik Telapak Tangan
Pikir sebelum bicara
Bicara hanya yang kita tahu
Kerjakan hanya yang mampu
Kerja keras untuk mendapat sesuatu

Kurang lebih begitulah lirik lagu sederhana dari Slank, yang cukup sering saya dengarkan belakangan ini. Lagu, atau musik, yang katanya bukan hal bermanfaat dan hanya membuang-buang waktu ini nyatanya mampu menempel di kepala tanpa saya harus bersusah payah memahami. Meresapi makna lagu ini buat saya jauh lebih murah ketimbang menghadiri seminar yang diadakan motivator terkenal atau membeli buku motivasinya.

Lagu ini sejalan dengan niat awal yang saya canangkan pada awal tahun, yaitu meredam. Meredam segala keinginan untuk berbicara dan berekspresi berlebih seperti tahun sebelumnya. Apalagi berkomentar ini-itu padahal ilmu masih nanggung.

Hal seperti ini jelas sulit dilakukan. Keberadaan media sosial memudahkan kita untuk berbicara apa saja --dari yang berbobot, sok berbobot, sok asik, sok tahu, sampai hanya sekadar posting mood lapar atau ngantuk.

Lagu ini mengingatkan kita untuk hidup sederhana dan apa adanya. Terdengar sangat cliché, tapi sederhana di sini adalah sikap menahan diri, mengukur kemampuan diri, juga mengajak untuk bekerja keras ketimbang banyak bicara. Sederhana yang juga berarti tahu mana kebutuhan dan keinginan. Beda jauh sama postingan tema ‘bahagia itu sederhana’ padahal emang lagi gak punya duit. Hehehe.

Jumat, 15 Januari 2016

Dari Tragedi Ke Komedi



Kemarin, 14 Januari 2016, patut dicatat dalam sejarah bangsa ini. Serangan teroris yang menyasar daerah pertokoan Sarinah Thamrin, yang bisa dibilang jantungnya kota Jakarta menelan dua korban jiwa tak berdosa, dan Jakarta kemudian digelayut rasa takut. Teror dilanjutkan dengan tebaran pesan singkat berisi ancaman peledakan bom dan serangan lanjutan di beberapa titik keramaian, ditambah kabar akan sosok teroris berjubah putih bermotor trail yang siap memberedel senjata AK-47 kepada siapa saja yang dilihat.

Kepanikan sempat tersebar selama beberapa jam pertama. Informasi 'katanya si ini' dan 'katanya si anu' beredar viral tanpa filter, entah benar atau bohong. Pesan-pesan tadi membuat banyak orang takut, tempat berjualan pun ditutup, karyawan dipulangkan, dan sebagian pengelola gedung menyuruh penghuni tetap di dalam karena menanggap di luar tidak aman.

Tapi hanya beberapa jam saja, bangsa ini mampu mengubah tragedi menjadi komedi, tanpa mengurangi rasa hormat pada korban jiwa. Pesan-pesan menakutkan tadi ternyata hanyalah hoax belaka. Padahal di tempat kejadian, para casual crowd yang menyikapi hal ini dengan bergairah. Maklum saja, sehari-harinya mereka lebih sering mengrubungi dan memfoto korban kecelakaan atau shooting sinetron. Sekarang mereka bisa dapat foto atau video eksklusif berisi baku tembak polisi dengan teroris!

Abang-abang pengais rezeki di sekitaran Thamrin pun tetap berjualan seperti tidak terjadi apa-apa, bahkan mengaku dagangannya lebih cepat habis. Mereka bertemu dengan para pembeli yang kebanyakan kelas menengah yang punya ponsel pintar dengan kamera canggih dan sering main Path untuk berbagi momen dan mendapat 'love'.

Para desainer grafis beradu kreativitas mengedit foto dengan berbagai teknik memukau, para motivator online dan keyboard warrior yang menjalankan perannya untuk membalikkan teror pesan hoax menjadi pembangkit semangat, tidak ketinggalan random person yang punya kecenderungan untuk mengomentari segala hal, walau terbatas kepada grup whatsapp teman sekolah yang udah susah diajak kumpul ketemuan karena udah sibuk masing-masing dan terbiasa php-in janjian. 

Posting dengan tema parenting modern, tausyiah inspiratif, pandangan politik yang bernas, resep makanan enak yang kebarat-baratan dan desain rumah minimalis di Facebook pun sekilas berganti dengan meme-meme kreatif teror Sarinah (dan tentu saja akan segera balik lagi seperti semula). Belum lagi para stalker medsos yang sempat-sempatnya mencari tahu identitas sang polisi ganteng bersepatu Guc*i dan memakai tas Co*ch, juga polwan-polwan cantik yang tiba-tiba menenteng senapan mesin. Ada yang pakai analisa mata uang rupiah yang bisa tergelincir ke 17 ribu, ada ekonom-ekonom dadakan, ada pula pengamat intelejen beneran, dan ada juga orang biasa yang tiba-tiba bisa jadi pengamat. 

Untungnya awan hitam pun sirna. Semua mengambil peran masing-masing untuk memperbaiki keadaan, dan ternyata dalam hitungan jam saja, tragedi ini berangsur menjadi komedi. Sekali lagi, tanpa bermaksud menghilangkan rasa hormat kepada korban.

Di antara hal-hal tidak jelas dan tidak masuk di akal yang terjadi di negara ini, di antara banyaknya para alay yang naik motor ugal-ugalan bertiga di jalanan komplek, di antara ribut-ribut gak jelas (di Facebook doang sih) antara pemerintah haterz dan pemerintah loverz yang saling gemez, kita memiliki polisi-polisi tangguh, tidak hanya yang tambun saja. Publik kita juga punya karakter cuek, bocor dan bodor –entah karena hidupnya yang terbiasa tertekan, kurang diperhatikan atau memang kurang piknik- yang mampu membalikkan sebuah krisis menjadi euforia hanya dalam hitungan jam. Tagar #JakartaMencekam atau #PrayForJakarta sontak berubah menjadi #KamiTidakTakut, #KamiNaksir dan #KamiJugaNaksir bagaikan pesan kemenangan sekaligus tamparan telak bagi lawan. Untung saja tidak ada yang sampai menceburkan diri di air mancur Bunderan HI saking norakgirangnya.

Tapi apakah peristiwa ini perlu dirayakan seperti kemenangan? Tidakkah kita berpikir bahwa serangan ini bisa diikuti serangan-serangan lain yang lebih rapi dan terencana di waktu dan tempat yang sulit diduga? Jangan lupa, kita berhadapan dengan para ekstrimis yang tidak takut mati, yang sudah menyebabkan begitu banyak korban di belahan dunia lain. Sudah tepatkah reaksi kita untuk mengolok-olok balik mereka? Jika tujuan dari teror ini adalah untuk membuat takut, maka ini adalah kekalahan telak. Pembalasan mungkin datang, tapi biarlah masalah keamanan nasional ini dipikirkan oleh pihak berwenang.

Sementara bagi kita yang awam ini, hidup tidak akan banyak berubah. Tetap saja kita akan menghadapi teror sehari-hari dari kemacetan, pengendara mobil yang sotoy dan suka bawa air soft gun, pengendara motor yang kalo salah malah lebih galakan dia, gaji di kantor yang naiknya sedikit-sedikit, ancaman PHK demi efisiensi (atau demi tidak berkurangnya dividen shareholder), cicilan motor PC* dan N*AX yang kita beli sekaligus saking bingung pilih yang mana, juga tagihan kartu kredit hasil belanja kalap di IK*A, Met*o atau M*ther*are.