Tampilkan postingan dengan label Ekonomi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ekonomi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 26 Januari 2016

Finansial Keluarga



Saya bukanlah seorang ahli keuangan. Di samping tidak mengambil jurusan keuangan ketika kuliah, saya juga tidak bekerja sebagai pengelola keuangan perusahaan, ataupun konsultan keuangan. Kedangkalan ilmu yang saya miliki inilah yang membuat saya sering terperosok dalam ‘jebakan finansial’.

Jebakan finansial berupa apa? Ya misalnya duit sudah habis sebelum gajian, gak punya dana darurat saat kepepet, gak punya aset dan gak punya investasi. Boro-boro mikirin hari tua, buat memenuhi kebutuhan sehari-hari aja udah ngos-ngosan. Buat orang kota yang selalu berkejaran dengan inflasi, apalagi buat para kelas menengah yang sulit menurunkan gaya hidup, hal ini tentu saja bencana.

Anda tidak perlu mengkhawatirkan kondisi finansial jika: 1) Anda anak pengusaha kaya yang warisan perusahaannya gak bakal habis tujuh turunan. 2) Anda seorang aktor atau aktris terkenal, penulis laris atau musisi kenamaan yang punya banyak passive income. 3) Anda seorang atlit berprestasi yang kaya raya dan masa pensiunnya sudah dijamin pemerintah. 4) Di bawah rumah Anda terdapat harta karun yang telah terkubur 1000 tahun bernilai triliunan rupiah.

Jika Anda tidak termasuk dalam golongan-golongan di atas, maka kita senasib. Hehehe. Ya, berhubung kita senasib, saya sekadar ingin berbagi cara agar kita bisa bertahan menghadapi badai finansial.

Tambah Sumber Pendapatan

Kebanyakan dari keluarga jaman sekarang punya dua sumber penghasilan, yaitu dari si ayah dan si ibu yang bekerja sebagai karyawan. Penghasilan dari bekerja sebagai karyawan disebut employment income. Saya tidak ingin memasalahkan ibu yang boleh bekerja atau tidak, tapi di sini kita bisa lihat bahwa mereka melakukan itu demi mendapat tambahan ‘sumur’ penghasilan. Hal ini memang penting karena jaman sekarang banyak ancaman PHK, di mana kalau satu sumber ditutup, maka kita masih bisa mengandalkan sumber yang lainnya.

Tapi sebenarnya sumber penghasilan tidak hanya dari employment income. Jika mau berpikir lebih kreatif dan gak gengsian, kita bisa membuka sumber penghasilan lain, misalnya dengan berdagang. Orang Indonesia termasuk konsumtif, jadi jangan khawatir dagangan gak laku. Tinggal pilih aja yang bener dan bikin program promosi yang tepat

Selain berdagang, bisa juga kita menyediakan jasa. Jasa apa aja asalkan halal. Bisa jasa penitipan anak, membuka bimbel di rumah, menjadi penulis lepas, komentator, pesepak bola tarkaman, konsultan cabutan, atau apa saja. Orang-orang Indonesia tuh males-males. Mau beli makanan di gedung sebelah aja nyuruh orang, mau beli sayur di supermarket aja nyuruh orang. Ini peluang!

Lakukan Investasi

Jaman sekarang, banyak bener pilihan investasi yang berseliweran. Ada yang risiko tinggi, ada pula yang rendah. Pakai ilmu yang udah kita dapat untuk memilih jenis investasi yang sesuai dengan kantong kita. Kalau belum ada ilmunya, ya belajar. Hati-hati pula dengan investasi bodong, investasi penipuan atau investasi-investasi gak jelas. 

Gimana caranya supaya gak ketipu? Pilih investasi yang jelas dan resmi, yang diakui oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), juga yang sudah punya reputasi bagus dan jelas aturan mainnya, jelas sumber pendanaannya. Lagi-lagi, saya gak mau mendebatkan masalah haram dan halal di sini. Jangan percaya sama investasi-investasi yang terlihat too good to be true, yang bisa menghasilkan puluhan kali lipat dari dana awal yang kita investasikan. Jangan percaya walaupun jika yang menawarkannya adalah teman atau saudara sendiri. Jaman sekarang penipu gak mandang teman atau saudara.

Asuransi
Ini bukan iklan, dan saya juga bukan agen asuransi. Tapi yang pasti, kita gak pernah tahu umur kita, atau bagaimana kondisi kesehatan kita di masa mendatang. Saat lagi produktif, selalu sisihkan buat ikut asuransi. Yang produk apa? Terserah. Baca sendiri. Cari tau sendiri.

Dana Darurat

Gaji kita biasanya hanya cukup untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran rutin. Buat makan, transport, cicilan, sekolah anak, peralatan rumah tangga, perlengkapan anak, dan biaya sosial. 

Tapi jangan lupa kalo kita juga punya mobil atau motor. Yang namanya mobil atau motor bukan cuma butuh diservis berkala, tapi juga bisa aja rusak parah. Ban perlu diganti, spare part perlu diganti. Hal yang sama juga berlaku buat barang-barang elektronik yang kita punya. AC, TV, komputer, mesin cuci, gadget juga ada umurnya. Gimana kalo tiba-tiba ngadat? Masih mending kalo cuma ngadat.. Gimana kalo rusak?

Pertanyaan berikutnya, berapa jumlah dana darurat yang dibutuhkan? Wah kalo soal ini banyak versi yang pernah saya baca. Ada yang bilang setidaknya enam kali pengeluaran bulanan, dengan asumsi kalau sewaktu-waktu kita jadi korban PHK (amit-amit), maka kita dapat bertahan tidak hanya dari uang pesangon, tapi dana ini akan berfungsi sebagai penyambung hidup sembari mencari pekerjaan baru. 

Ada pula yang bilang setidaknya sepuluh kali atau dua belas kali pengeluaran bulanan. Dengan asumsi, sumber employment income hanya satu. Mau berapa pun jumlahnya, tergantung dari kenyamanan masing-masing orang.

Hidup Sederhana

Terkait hal ini, ada kata-kata bijak yang RT-able: Rejeki dari Allah pasti cukup untuk hidup, tapi tidak akan cukup untuk gaya hidup.

Ngomong sih gampang, tapi praktiknya?

Pertama kita bikin rekapitulasi berapa biaya bulanan yang kita keluarkan, lalu kita breakdown berdasarkan kelompok: cicilan, sekolah anak, makanan buat di rumah, makan buat di kantor, transport ke kantor, perlengkapan rumah tangga, perlengkapan anak, dan juga biaya sosial.

Kalo cicilan kan gak bisa diganggu gugat, gak ada cara lain selain cepet dilunasin. Begitu pula sekolah anak. Di luar itu, rasanya bisa disiasati, apalagi biaya sosial. Kalau memang kita pengen ngirit sebulan, ya mau gak mau kita harus tegas menolak ajakan nongkrong dari teman selama sebulan itu. Atau biaya makan di kantor misalnya, bisa disiasati dengan membawa makanan dari rumah. Selain lebih hemat, juga lebih sehat.

Kurangi juga ngemil, karena selain gak sehat buat jantung, juga gak sehat buat kantong. Gak berasa kan kita beli minuman botolan sehari dua botol, belum lagi ngerokok dan ngopi. Berapa yang bisa dihemat jika kita bisa ngerem pengeluaran-pengeluaran ini?

Jangan Pelit

Saya pernah dengar ungkapan dari seorang teman: “Jangan mau hidup bersama orang pelit. Berapapun yang elo punya, gak bakal bisa menikmati.” 

Atau ada pula ekspresi seperti “Orang pelit, kuburan sempit.”

Ya, begitulah pandangan umum tentang orang-orang pelit.

Tadi disuruh hidup sederhana, tapi abis itu bilang jangan pelit. 

Sederhana itu beda tipis dengan pelit, man. Sederhana itu bisa membedakan mana keinginan mana kebutuhan, tapi kalo pelit cenderung destruktif atau malah bisa menghambat rejeki orang lain. Yang wajib dikeluarkan, seperti pajak, memang gak bisa dihindari. Apalagi zakat, jangan coba-coba gak bayar deh.

Jangan juga salah fokus; kita gak sayang beli smartphone seharga 7 juta, tapi berat banget ngeluarin uang sejumlah sama untuk ganti kulkas dan mesin cuci yang rusak. Kita juga pelit beliin mainan buat anak, padahal kita sendiri buat nongkrong di café mahal gak sayang :)

Kita juga wajib ngasih ke orang tua, selama mereka masih ada. Lalu kepada tetangga dekat yang membutuhkan, lalu kepada saudara dan kerabat. Jika ingin kredibel, bisa juga kita salurkan melalui yayasan resmi yang sudah jelas amanah.

Jangan pelit juga untuk ngeluarin duit pergaulan. Memang perlu dibatasi jangan sampai kebobolan, tapi kalo sampai bikin kita jadi gak mau ketemu teman sama sekali pun tidak baik. Gimanapun, teman akan banyak menolong. 

Berdoa
Last but not least, berdoa :)

Minggu, 09 Juni 2013

Indonesia Bebas Bubble Property?

Perumahan atau tempat tinggal adalah kebutuhan pokok, yang sayangnya makin hari makin mahal. Rasanya usaha kita sudah keras, kerja lembur sudah dilakukan, penghasilan juga terus meningkat. Namun, peningkatan harga rumah seperti tidak terkendali belakangan ini, sehingga seberapapun tingginya penghasilan kita, laju kenaikan harga properti sulit dikejar.

Saya pernah membaca di sebuah artikel. Sepasang suami istri, dua-duanya bekerja, memiliki penghasilan gabungan 7 juta rupiah per bulan. Mereka sudah 10 tahun menikah, dan belum bisa memiliki rumah sendiri. Dengan asumsi pengeluaran rumah tangga 3 juta per bulan, gaya hidup tidak hedon, tidak pernah eat for fun dan lain-lain, rumah masih belum bisa terbeli.

“Harga rumah untuk kelas menengah hingga menengah kebawah berkisar 200 hingga 700 juta. Uang muka minimal 50 juta plus administrasi dan lain-lain 20 juta. Saat ini, mencapai 70 juta saja sulit.” Begitu ucap mereka, juga terkait kebijakan Bank Indonesia yang menaikkan kewajiban DP rumah menjadi minimal 30% khusus untuk rumah diatas tipe 70m persegi.

Terlalu picik dan kurang sensitif rasanya jika kita menghakimi orang itu dengan mengatakan “Salah sendiri kenapa gajinya cuma bisa segitu?” Padahal sebuah negara memang punya kewajiban untuk menyediakan perumahan yang layak bagi rakyatnya, ketimbang terus membela kepentingan pihak tertentu dalam hal ini.

Properti Untuk Investasi, atau Spekulasi
Dari dulu, investasi dalam bentuk properti selalu jadi primadona. Harga tanah dan bangunan yang selalu naik dan tidak pernah turun menjadi alasan banyak orang untuk berinvestasi disini, meski properti bukanlah liquid asset yang mudah dijual. Kisah orang tua yang membelikan rumah bagi anaknya yang masih kecil sudah banyak kita dengar, hal itu mereka lakukan untuk berjaga-jaga jika harga properti melangit dan anak mereka tidak mampu membelinya. Pendeknya, mereka melakukan hedging pada properti yang mereka beli sekarang.

Kini, investasi orang-orang makin beragam seiring banyaknya proyek pembangunan apartemen-apartemen di pusat kota. Apartemen-apartemen itu dibeli untuk kemudian dijual lagi, atau disewakan. Tidak untuk ditinggali. Para developer jelas senang dengan fenomena ini karena proyek mereka pasti untung besar, seperti diberitakan disini.

Para investor baik kelas berat maupun kelas teri ini jelas mengharapkan keuntungan, dan bukan tidak mungkin pembeli rumah mereka berikutnya akan membeli rumah itu dengan tujuan yang sama, yaitu dijual kembali. Harga yang meningkat juga tidak mereka pikirkan, akibatnya investasi berubah menjadi spekulasi. Aktivitas seperti inilah yang juga menjadi salah satu penyebab harga rumah yang kian melambung dan cenderung tidak realistis.

Dalam hal ini, developer tentu tidak ada beban karena meskipun terjadi kredit macet yang berakibat penyitaan, para developer ini telah lebih dulu mendapat dana dari bank saat membangun proyek. Akan terjadi krisis ekonomi jika bank tidak mampu menjual properti yang mereka sita karena harganya sudah terlalu tinggi dan tidak ada yang mampu membelinya karena jauh diatas harga sebenarnya.

Bubble Property di Indonesia?
Pada fenomena bubble property, terjadi kenaikan harga yang tak terkendali sehingga properti tidak mampu dibeli oleh masyarakat. Akibatnya, akan banyak kredit macet. Setelah itu, kemudian harga properti mengalami crash alias jatuh tiba-tiba yang mengakibatkan pihak-pihak seperti pengembang dan kreditor (bank) ikut terpukul. Dengan kata lain, perekonomian akan ikut hancur.

Bank dunia beberapa waktu lalu pernah mengemukakan kekhawatiran terkait ancaman bubble property di Indonesia. Mereka melihat pada dua faktor, yaitu pertama adalah kenaikan harga apartemen yang mencapai 45% per Desember 2012, yang juga diikuti oleh sektor perkantoran dan industri. Kedua, tingkat pertumbuhan kredit apartemen yang juga meningkat, sehingga mendorong kenaikan harga properti.

Saya bukanlah seorang ekonom, namun banyak pihak yang meyakini bahwa kekhawatiran Bank Dunia tidak beralasan. Mereka tidak melihat faktor solidnya ekonomi makro di Indonesia, juga rasio kredit properti dan kredit nasional yang masih dalam batas normal.

Peningkatan jumlah kelas menengah yang merupakan konsumen properti juga berpengaruh untuk mencegah terjadinya bubble property. Kelas menengah dengan kemampuan konsumsi dan investasi yang tinggi akan selalu menjamin stabilitas demand-supply sektor perumahan. Artinya selama properti masih banyak pembeli, keadaan masih aman.

Benarkah demikian?

Ironi dan paradoks akhirnya melanda hidup banyak orang. Banyak apartemen atau rumah kosong dimana pemiliknya berharap untuk mendapat untung dari penjualan atau persewaan, sementara di lain sisi banyak orang yang sulit memiliki rumah meski sudah bertahun-tahun mengumpulkan uang. Keadaan sekarang memang seperti mendukung yang kaya makin kaya, yang miskin makin susah.

Meski banyak pihak yang mengatakan bahwa membicarakan bubble property adalah sesuatu yang berlebihan, namun potensi kesana jelas ada. Boleh saja harga properti di Indonesia jauh lebih rendah dibanding Singapura maupun Hong Kong misalnya, namun perbandingan tadi menjadi sia-sia mengingat disparitas pendapatan perkapita Indonesia dengan kedua negara tersebut masih menganga.

Catat, pendapatan perkapita Indonesia 3 ribuan dollar AS, sementara Singapura 50 ribuan, alias nyaris 20 kali lipat dari Indonesia. Hal ini jelas berarti bahwa daya beli orang Indonesia masih jauh dibawah Singapura. Jangan sekadar melihat pada fenomena pertumbuhan kelas menengah semata, namun lihat pula banyak orang sudah termasuk dalam kategori kelas menengah yang masih kesulitan memiliki rumah, apalagi kelas bawah.

Akan makin sulit memperoleh rumah ketika para pengembang lebih memilih untuk mengerjakan proyek anjangsana alias proyek apartemen mewah berharga miliaran per unit, ketimbang menyediakan hunian murah seperti rumah susun untuk menjamin ketersediaan tempat tinggal bagi kalangan yang lebih membutuhkan.

Melihat fenomena ini, kekhawatiran Bank Dunia bukanlah omong kosong. Sesuatu harus dilakukan untuk mengendalikan harga properti dan merumuskan kebijakan disintensif pada praktek spekulasi di bidang properti.

Rabu, 20 Maret 2013

Mafia Bawang


Setelah sapi, sekarang bawang. Gimana nasib tukang sate dan iga bakar?

Tentu saja bukan hanya penjual sate dan iga bakar yang dipusingkan dengan meroketnya harga bawang menjadi sekitar Rp 36.000-40.000 per kilogram, malah ada yang mencapai 85 ribu rupiah. Kuliner Indonesia yang kaya bumbu nyaris melibatkan bawang sebagai alat tempurnya. Jelas saja kenaikan harga bawang tertinggi sepanjang sejarah ini (harga normal 10.000-15.000 rupiah per kg) akan memukul industri makanan, terutama industri kecil.

Seperti diberitakan okezone, pemerintah terpaksa mengimpor bawang guna menanggulangi kelangkaan. Impor bawang yang meningkat pesat sejak tahun 2006 ini memang mengindikasikan makin banyaknya importir bawang. Semakin banyak importir, tentu semakin besar kemungkinan terjadinya “permainan”.

Masyarakat Indonesia memang hidup dengan konsumsi tinggi dan gemar jajan, terutama jajanan kuliner. Positifnya, inilah salah satu kekuatan ekonomi Indonesia yang membuat negara ini survive dari krisis ekonomi yang melanda dunia tahun 2008 lalu. Dengan hidupnya industri kecil, rakyat mampu hidup mandiri tanpa tergantung berlebih pada pemerintah.

Namun bagaimana jika kemandirian ini kemudian dimanfaatkan oleh para oknum yang tidak bertanggung jawab? Seperti yang telah dijelaskan diatas, meningkatnya jumlah importir ini memang lama kelamaan menjadi masalah. Pihak-pihak ini kemudian membentuk sindikat yang mampu mengendalikan harga. Hilangnya kendali pemerintah akan harga komoditas pangan inilah yang memungkinkan hal ini terjadi.

Saya pernah membaca kultwit salah satu akun yang menghitung besarnya keuntungan dari para mafia ini. Dalam kultwitnya tersebut ia memperkirakan keuntungan mafia itu bisa mencapai 100 miliar rupiah, hanya dalam waktu 2 bulan saja. Mekanisme pasar yang liar semacam ini tentu saja hanya akan membuat si kaya semakin kaya dan si miskin semakin miskin.

Saat ini, 60% bahan pangan di Indonesia adalah produk impor. Kurangnya proteksi pemerintah akan produksi pangan negeri sendiri membuat petani semakin tercekik. Melimpahnya bahan pangan impor yang lebih murah otomatis menghancurkan pertanian kita. Sebenarnya tidak ada yang salah dari kegiatan mengimpor, namun proteksi pada petani lokal tetap harus diberikan.

Alasan pemerintah mengimpor adalah tidak tercukupinya kebutuhan lokal dengan hasil bumi sendiri, padahal semua orang tahu kekayaan alam Indonesia melimpah. Kurangnya kemampuan mengolah kekayaan alam inilah yang menjadi masalah sejak lama. Penanaman pangan diseragamkan dan diversivikasi kurang dilakukan. Pembangunan perkebunan kelapa sawit yang kebanyakan hasilnya adalah untuk diekspor malah digalakkan.

Padahal, mencukupi kebutuhan pangan sendiri jauh lebih mendesak ketimbang menyediakan komoditi untuk diekspor. Perdagangan dan produksi pangan harus dikombinasikan, namun semua itu harus bertujuan untuk mewujudkan ketahanan pangan, bukan sekadar keuntungan satu atau dua pihak saja.

Perdagangan perlu dilakukan lebih efektif dengan cara mengimpor bahan pangan yang tidak banyak hasil produksinya, sementara ekspor dilakukan untuk komoditi yang sudah berlebih untuk konsumsi sendiri. Selama ini yang terjadi adalah kebalikannya, beras yang seharusnya mampu diproduksi sendiri malah diimpor sementara lahan yang seharusnya bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan pangan malah ditanami komoditi ekspor.

Kondisi ini tentu berdampak buruk bagi ketahanan pangan. Diperkirakan tahun 2030 dunia akan dilanda krisis pangan. Ketidakmandirian untuk menyediakan pangan akan memaksa Indonesia untuk mengimpor dari negara lain dengan harga yang sangat mahal. Akan menjadi ironis jika Indonesia sebagai negara dengan potensi penghasil pangan melimpah dilanda bencana kelaparan atau kekurangan pangan akibat kegagalan negara dalam mengelola industri pertanian dan mengendalikan harga.

Permasalahan mafia bawang dan juga sebelumnya mafia sapi ini memang tidak lepas dari ketahanan pangan yang mengkhawatirkan. Para petani yang sudah terlindas karena ketidakmampuan mereka bersaing dengan importir kehilangan daya saing yang berakibat pada keterbatasan produksi. Keterbatasan produksi inilah yang dapat menjadikan kelangkaan persediaan. Hal ini dimanfaatkan betul oleh kartel bawang untuk menahan persediaan mereka sehingga komoditi semakin langka. Kelangkaan inilah yang menyebabkan harga melambung, sesuai dengan hukum demand-supply.

Bukan tidak mungkin kasus kelangkaan komoditi pangan ini akan berulang, atau berpindah ke komoditi pangan lain. Para mafia itu tinggal menunggu terjadinya penurunan komoditi hasil petani lokal, lalu dengan cepat mengendalikan rantai penyediaan komoditi impor hingga terjadi kelangkaan yang berakibat melambungnya harga.

Jika pemerintah tidak mampu menanggulangi masalah ini, maka negara gagal menjalankan fungsinya sebagai regulator dan akan dikendalikan oleh kartel, mafia dan sindikat.

Kamis, 22 November 2012

Money!


Kapan terakhir anda membaca atau mendengar petuah “Biar lambat asal selamat” atau bahasa Jawanya “Alon-alon asal kelakon”? Ah mungkin dua puluh tahun lalu, atau tiga puluh tahun lalu mungkin.

Anda hanya akan menjadi orang yang tertinggal tiga dekade jika masih menggunakan prinsip demikian. Anda akan ketinggalan dan terlindas dalam kerasnya kehidupan.
Sekarang, anda harus cepat dan benar. Tidak ada itu lambat asal selamat. Anda manusia atau keong? Kok lambat? Anda harus cepat, tuntutan semakin menggila. Tidak hanya cepat, anda harus benar dalam mengerjakan sesuatu. Walaupun anda bukan mesin, tapi anda tidak boleh salah. Kesalahan adalah aib yang tidak termaafkan, dan akan menjadi bahan pembicaraan para petinggi di ruang rapat nanti.

Petinggi? Jika anda membicarakan petinggi terus, lalu kapan anda menjadi petinggi itu sendiri? Kapan giliran anda yang dibicarakan bawahan anda? Kapan anda menentukan nasib orang? Jaman sekarang anda harus memiliki ambisi setinggi langit, agar penghasilan anda juga setinggi langit. Ingat, orang besar membicarakan ide-ide, orang menengah membicarakan hal-hal umum, dan orang kecil membicarakan orang lain. Anda mau jadi orang kecil terus?

Sekarang biaya mahal. Secangkir kopi saja mahal jika anda tidak memakai program promo. Ngomong-ngomong soal biaya, ya memang makin hari makin mahal saja. Tapi sebenarnya bukan biaya yang mahal, tapi penghasilan andalah yang kecil. Ayo, rajinlah bekerja! Tingkatkan performa! Jangan cepat puas!

Bekerja lembur itu sudah keharusan, dan kebutuhan. Eight to five itu hanya untuk pegawai biasa-biasa saja yang akan sulit naik pangkat. Ayolah, anda lebih baik dari itu. Kerja lembur itu keren, itu pertanda anda memang dibutuhkan perusahaan. Jika anda kurang kerjaan, anda harus bertanya kepada diri sendiri apakah anda patut bekerja di perusahaan anda?

Anda masih berharap kenaikan gaji? Lupakan itu. Targetkan lebih tinggi lagi. Setiap tahun anda harus naik jabatan. Dengan naik jabatan, gaji anda naiknya selangit. Anda mau hanya dapat kenaikan gaji sesuai laju inflasi? Itu sih namanya hidup anda stagnan. Lagipula, apa yang bisa anda banggakan jika uang anda tidak banyak? Jaman sekarang, uang adalah ukuran segala-galanya! Uang adalah sumber kebahagiaan, bisa membeli apapun yang anda mau! Jika uang anda banyak, anda akan dihargai! Tidak ada yang berani pada anda!

Ayo bekerja lebih giat lagi! Jangan tanyakan apa yang perusahaan berikan kepada anda, namun pertanyakanlah apa yang sudah anda berikan pada perusahaan! Jangan malas, jangan mengeluh, jangan membolos! Ayo perkaya pemilik modal kita agar mereka mau memberi kita bonus lebih, ayo perkaya negeri kita agar mereka terus membangun negeri ini! Babat saja hutan, jadikan perkebunan kelapa sawit yang menguntungkan. Orang utan? Buat saja modern zoo, pajang mereka dan buatlah seolah kita peduli dengan mereka. Modern zoo ini terobosan baru lho, akan menambah pemasukan pula buat kita.

Lestarikan alam? Ah buat apa. Memang sampai berapa lama sih kita hidup di dunia ini? Masa depan anak cucu, biar mereka sendiri saja yang pikirkan. Toh, kita juga hidup sudah susah, sudah berjuang mati-matian hingga bisa mencapai kejayaan. Nilai-nilai itu perlu diwariskan kepada mereka, jangan maunya enaknya saja!

Kepedulian sosial? Buruh? Konflik di negara lain? Ah biar saja. Tuhan sudah memberi apa yang pantas bagi makhluknya. Salah sendiri kenapa waktu sekolah malah malas-malasan! Daripada pusing mikirin demo buruh, mendingan kita bego-begoin pemerintah aja tuh yang naikin harga BBM, yang bikin mobil mewah kita gak bisa diisi premium lagi deh! 

Sudahlah jangan banyak membaca! Rajin-rajin saja bekerja! High earn, low cost!
***

Apakah saya sudah terdengar seperti agen ekstrimis kapitalis?

Rabu, 11 April 2012

#kelasmenengahngehe

Di twitter, hastag ini sering banget muncul nih, biasanya merefer pada golongan yang dikenal sebagai the middle class. Di Indonesia, jumlahnya 130 jutaan orang, means setengah dari penduduk Indonesia adalah para middle class. Lucunya, mereka yang menyebut orang lain adalah si #kelasmenengahngehe, sering gak sadar bahwa mereka adalah bagian dari kelas itu.

Banyaknya angka yang muncul sebagai kelas menengah itu sendiri karena pengklasifikasian kelas menengah yang cukup luas. Ada low-middle class, mid-middle class dan up-middle class. Coba deh apakah Anda termasuk:

Kepemilikan benda:

1.     Punya mobil, walaupun cicilan. Entah itu mobil sepuluh juta umat atau mobil yang hanya bisa bikin orang ngayal.
2.     Punya motor, lunas atau kreditan. Kebanyakan motor bebek soalnya enteng dipake di jalanan macet Jakarta. Lupakan motor gaya dan boros bensin.
3.     Punya rumah, juga cicilan. Atau lagi nabung buat beli rumah.
4.     Punya apartemen, cicilan dan kadang bersubsidi. Sebisa mungkin strategis dan dekat sama tempat kerja.
5.     Koleksi macam-macam. DVD original dan bajakan, punya komputer rakitan, punya laptop pribadi.
6.     Tidak lupa koleksi barang-barang hasil kreasi almarhum Steve Jobs.
7.     Blackberry itu wajib kayaknya, bbm itu gak tergantikan.
8.     HP CDMA juga perlu kadang-kadang.
9.     TV LCD, dan sekarang LED.
10.  Macam-macam barang rumah tangga dengan merk sama: Krisbow.
11.  Kartu kredit, kartu debet, kartu diskon, kartu anggota yang bikin dompet tebel.
12.  Tenda, pelampung, perahu karet, tabung oksigen dan safety equipment lainnya. Buat jaga-jaga kalo ada bencana alam, mengingat Jakarta cukup rentan.


Aktivitas:

1.     Dalam setahun minimal liburan ke Bali, Lombok, region Asia Tenggara, Australia atau Hong Kong. Dan kalau masih bujangan bisa nabung untuk ke Eropa atau Amerika. Terbersit pula keinginan Umroh.
2.     Minimal sekali sebulan makan steak, pasta, ramen atau makanan impor mahal lainnya yang seporsi diatas 50 ribu, bahkan diatas 100 ribu. Tidak kagok saat makan di fine-dining restaurant dan tidak asing dengan istilah aglio-olio.
3.     Dalam setahun minimal sekali nonton konser artis luar negeri. Diutamakan beli presale. Tetap gaul tanpa membobol kantong.
4.     Aktif belanja di midnite sale, garage sale, atau clearance sale supaya bisa mendapat barang bagus dengan harga miring. Gengsi sekaligus stabilitas kantong terjaga.
5.     Ke Ambas, Tanah Abang, Mangga Dua atau Cempaka Mas juga ok lah.
6.     Sesekali nonton timnas bola di GBK, lalu mencak-mencak di twitter dan mendadak ngerti bola saat timnas kalah.
7.     Bensin tetap pake premium, dan marah-marah begitu tau ada rencana kenaikan BBM. Yang pake shell atau pertamax cuma ketawa-ketawa aja.
8.     Menyumbang bencana alam lewat stasiun tv.
9.     Menyekolahkan anak di pre-school.
10.  Sekolah lagi. Ambil S2, program profesi atau sertifikasi.
11.  Belajar bahasa asing selain Inggris, atau tingkatkan bahasa Inggris.


Investasi:
1.     Minimal punya asuransi jiwa
2.     Banyak juga yang punya asuransi unit-link
3.     Punya reksadana atau saham blue chip
4.     Properti (kontrakan, ruko, apartemen) tapi tinggal tetap di sub-urban
5.     Emas


Punya second job:
1.     Menulis di kolom surat kabar atau media online
2.     Membuat buku
3.     Menjadi pembicara
4.     Jualan online
5.     Calo tanah


Keanggotaan/langganan:
1.     TV kabel
2.     Pusat kebugaran
3.     Internet standar
4.     Salon
5.     Klub-klub kendaraan atau klub profesi dan ikatan alumni
6.     Dokter gigi, sekalian nanya-nanya pasang behel abis berapa
7.     Dokter muka, eh maksudnya perawatan kulit muka
8.     Bengkel
9.     Toko buku
10.  Tempat nongkrong favorit


Bacaan:
1.     Buku-buku pengelolaan keuangan. Gimana mempertahankan dan meningkatkan kekayaan.
2.     Majalah kesehatan dan gaya hidup. Biar tetep gaya.
3.     Artikel parenting.
4.     Berita bola, pengen tau kenapa PSSI kacau.
5.     Berita politik, biar gak dibohongi lagi sama politisi, apalagi menjelang pemilu dan pilkada.
6.     Buku-buku agama, biar tetep mawas diri.
7.     Buku-buku pengetahuan umum dan sejarah, supaya nambah pengetahuan.
8.     Berita teknologi dan gadget, biar update dan tau kalo bakal ada iPad 3, 4 dan seterusnya.


Dan seterusnya. Dan sejenisnya.


Silahkan definisikan sendiri, yang mana yang low, mid, atau upper middle class. Anda berada dimana. Dan sebagai manusia yang memiliki ambisi dan semangat, Anda tentu ingin naik kelas. Tapi, apakah kenaikan "kelas" ekonomi Anda akan membuat Anda juga naik "kelas" sebagai pribadi dan manusia?


Coba evaluasi, mana yang sudah Anda punya, mana yang belum. Saya yakin lebih banyak yang sudah punya daripada yang belum punya. Jika belum punya, pasti Anda akan bisa memilikinya cepat atau lambat.


Mana yang Anda butuhkan, mana yang sekedar ikut-ikutan. Saya percaya, Anda membeli yang Anda butuhkan karena Anda adalah konsumen cerdas. Anda tidak mungkin membeli iPad warna putih, hanya karena Anda punyanya yang hitam. Anda tau harga, tau manfaat, tau dimana dan kapan membelinya.


Dan yang paling penting: mana yang bermanfaat hanya bagi diri dan keluarga sendiri, mana yang bermanfaat buat orang lain dan lingkungan sekitar. Saya yakin Anda juga gak pernah lupa beramal dan berzakat. Tapi, apakah kita beramal dan berzakat sudah sesuai kewajiban? Atau hanya beramal dan berzakat sesuai uang sisa yang ada di kantong celana atau di sela-sela dashboard pintu mobil? Saya percaya Anda paham ilmu agama masing-masing dan juga mengamalkannya.


Ini bakal mendefinisikan hidup Anda. Untuk siapa, untuk apa Anda berjuang. Apa yang Anda inginkan, bagaimana cara meraihnya, bagaimana mempertahankannya. Saya yakin Anda lebih baik daripada semua ini. Saya yakin Anda semua bisa berkontribusi.


Jika para middle class bisa lebih berbagi dan berkontribusi, tentu negara ini akan semakin kuat. Middle class dengan daya beli tinggi, visi kedepan dan kemampuan ekonomi yang kuat akan makin kuat lagi jika bersatu dan tidak individualis. Jangan mau jadi si #kelasmenengahngehe yang maunya cuma senang-senang dan enak sendiri tanpa peduli nasib orang lain. Anda bisa jadi kelas menengah yang bermanfaat.


Saya tadi mendapat sebuah Broadcast Message yang bagus dari seorang teman. Ini beneran bagus, padahal biasanya pesan warna ungu semacam ini langsung saya hapus.

Isinya adalah: "Anda keluar rumah pagi hari menuju tempat kerja, menyetop taksi dan menyapa hangat si supir taksi. Supir taksi juga balik menyapa hangat, lalu mengemudi dengan tenang dan nyaman. Karena Anda merasa nyaman, Anda memberi tip kepada supir taksi. Argo menunjukkan dibawah 15 ribu, Anda memberi 20 ribu dan meminta supir taksi menyimpan kembaliannya.

Sang supir jadi punya uang lebih untuk sarapan, dia menambah satu lauk berupa ayam goreng karena tip Anda. Supir taksi juga memberi tip dua ribu rupiah kepada Ibu penjual sarapan. Ibu penjual sarapan memberi uang saku tambahan seribu rupiah kepada anaknya karena pemberian supir taksi tadi.

Si anak jadi bisa membeli bekal lebih berupa dua buah roti karena uang saku tambahan, dan bisa memberi sebuah roti diantaranya itu kepada temannya yang tidak membawa bekal."

Itu hanyalah contoh sederhana sebuah siklus kebaikan yang berawal dari selembar uang dua puluh ribu rupiah. Bayangkan apa yang bisa dimanfaatkan jika jumlahnya anda lipatkan 1000 kalinya. Satu kebaikan bisa terus bergulir dan terus memberikan manfaat. Satu tindakan kebaikan yang Anda lakukan akan membawa dampak kepada orang lain. Sebaliknya, satu keburukan yang Anda lakukan, bisa berakibat buruk juga bagi orang lain. Anda tentu sudah terlalu familiar dengan korupsi dan bagaimana dampaknya bagi bangsa ini.


Semangat!