Tampilkan postingan dengan label Friendship. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Friendship. Tampilkan semua postingan

Rabu, 27 September 2017

I Hate Farewell

I have to admit, that I am very suck at saying goodbye. Farewell. I may have pissed or upset with some institutions, e.g. school, workplace, office, campus. But when it’s time to end the tenure then say goodbye to those places.. damn, it wasn't easy.

Once again, I may have pissed or being upset with them. I may have been treated unfairly, or being abused. But when I submitted the letter of resignation, or when I told the authorized person about my intention of leaving, all of the anger turned into sadness and doubts.

Suddenly, everything seems changed. Suddenly, they looked very nice, everything seems fun, and it was like I questioned my decision of leaving. I felt like my decision of leaving based on emotional rather than rational reason.

“Is this the right decision? Haven’t I put my best effort to resolve all the issues?” or something like “Will I be ok in the new place? Will I find better environment? Can I get along with new friends? What if I fail?"

And when the time had come to said goodbye to all my friends, my partner in crime.. I have to admit, that part was the toughest. Because based on my experiences, I decided to leave due to disagreement with the one who run the show: the management, the bosses, the teachers. But I barely had arguments with my peers. That’s why, for me, farewell’s sucks. 

Farewell, for me is when I took decision to follow my head. I had to go to find a better place. But deep inside, I had never wanted to leave. That’s why when my friends asked me to say few words to express my feeling, I didn’t know what to say. I lost for words. See? I am very suck at farewell.

Maybe this is the common feeling in every farewell or separation. But this is just a fact of life. There are always "goodbye" in every "hello". Only a matter of time. We are all gonna die anyway. 

Rabu, 31 Mei 2017

Makna Bukber

Saya ini, saking suka kurang kerjaannya, suka ngelamun ingetin masa yang udah lewat. Terutama momen-momen masa kecil saat masih belom mikirin hal-hal berat macam inflasi atau tagihan kartu setan kredit. Dan setelah berusaha mengingat lebih keras, ternyata masa-masa menyenangkan itu sebagian besar ada di bulan ramadhan.

Buat anak-anak, bulan ramadhan itu memang bulan liburan. Menggeser rutinitas dari yang biasanya terlalu berat ke sekolah menjadi rutinitas yang berpusat di mushola atau masjid. Atau pesantren kilat. Tapi, baik mushola, masjid atau pesantren kilat itu tidak jauh berbeda dengan liburan. Gak ada beban, gak ada ketakutan atau rasa stres seperti halnya di sekolah, pas masih ketemu sama orang-orang yang sangat peduli sama nilai raport dan menghakimi si raport jelek dengan mengatakan "Nilai lo jelek-jelek gitu, udah gede mau jadi apa?"

Waktu saya masih kecil, dan ketika memasuki bulan ramadhan, saya suka menginap beberapa hari di rumah nenek. Bukan rumah nenek di desa seperti judul pelajaran mengarang anak-anak SD yang begitu sih, karena rumah nenek saya pada waktu itu letaknya hanya kurang dari 40 km kalau dari Jakarta. Di rumah nenek, saya punya sekelompok teman bermain. Sebagian ada yang memang tinggal di sana, sebagian lagi yang seperti saya, yaitu menginap di rumah neneknya.

Bersama teman-teman itu, saya mengisi ramadhan dengan seru. Pagi-pagi buta setelah sahur dan sholat subuh, kami pergi ke tanah lapang dekat rumah. Untuk bermain sepak bola! Ya, main bola subuh-subuh kayak begitu ternyata sangat menyenangkan. Matahari masih belum terbit, sehingga cuaca sangat sejuk. Saat baru mulai bermain, langit masih gelap, lalu berangsur terang seiring terbitnya matahari. Saat matahari terbit itulah kami membubarkan diri. Walaupun tenggorokan jadi kering dan rasa haus tak terhindarkan, tapi kami gak peduli. Sesudah main bola, kami biasanya melanjutkan tidur sampai siang.

Karena bulan puasa, nggak afdhal dong kalau gak pergi ke masjid. Makanya itu, saya biasanya pergi ke masjid untuk mengikuti shalat berjamaah. Shalat dzuhur, saat lagi haus-hausnya, anak-anak kecil memang senang sekali berlama-lama ambil air wudhu, padahal biasanya sih terburu-buru. Kalau air keran itu tertelan sedikit, ya namanya rejeki.

Yang lebih asik lagi adalah saat waktu ashar, karena ba'da ashar, kami akan kembali ke lapangan untuk bermain sepak bola. Ngabuburit. Kalau anak-anak sekarang ngabuburitnya naik motor bertiga atau berempat dengan norak dan rusuh, untungnya jaman kami cukup main bola aja. Dengan sisa-sisa tenaga yang masih ada, kami mengejar bola dan bertanding melawan kampung sebelah. Kalau ada benturan-benturan khas main bola, kami sebagai anak kecil yang patuh dan takut sama ustadz, saling mengingatkan dan menahan diri untuk tidak marah. "Jangan berantem, ini lagi puasa."

Ada satu anak kampung sebelah yang resek-nya bukan main. Dia sering mengolok-olok saya tanpa tujuan jelas. Di pikiran saya timbul niat jahil. Saat ia menjadi kiper, saya begitu bernafsu membawa bola ke arahnya. Anak itu masih sempat saja pongah dengan bilang "Tenang aja, dia gak bisa nendang kenceng, apalagi pakai kaki kiri." Saya terang saja terbahak-bahak dalam hati. Dia tidak tahu bahwa kaki kiri adalah kaki favorit saya untuk menendang dengan keras, sementara kaki kanan lebih saya andalkan untuk mengumpan. Ketika posisi sudah dekat dengannya, saya pun menendang bola sekuat tenaga... Dan sukses mengenai muka anak malang itu. Dia kesakitan. Mohon maaf, saya memang sengaja mengincar mukanya, bukannya gawang. Duh, jahat bener. Untung lidahnya gak tertelan.

Kegiatan pun berlanjut dengan buka puasa dan tarawih. Ketika waktunya berbuka, ya namanya anak kecil, kan pasti berebutan. Tapi ada salah satu teman yang memang anaknya agak giras kalo soal makanan. Dia mengambil terus makanan-makanan kecil yang disumbangkan warga itu untuk dirinya sendiri, bahkan dia hendak membungkusnya untuk dibawa pulang. Saat dia ditegur oleh anak yang lebih tua, baru deh dia ketakutan, lalu pulang dengan hati dongkol dan perasaan sedih. 

Lalu saat memasuki tarawih, biasalah, yang namanya anak kecil pasti ribut dan bercanda. Ada yang menendang pantat teman di depannya saat rukuk, ada yang tengok kanan kiri pasang wajah lucu, ada yang menaruh kotak amal di tangan temannya yang sedang khusyuk berdoa sampai merem-merem. Macam-macam deh. Dan setelah shalat selesai, kami serentak bubar secepat kilat sebelum ada bapak-bapak galak yang siap menjeweri kuping kami satu persatu. Besoknya, si bapak udah standby duduk di barisan anak-anak untuk memastikan keributan serupa tidak terjadi.

Okelah, keributan tidak terjadi di masjid. Sebagai gantinya, kami pindah ke luar masjid. Kain sarung kami buntal menjadi serupa godam. Kalau kena pukul, lumayan sakit. Atau kalau gak model godam, kami pakai seperti biasa untuk dijadikan selepet atau ninja-ninja-an. Tapi, perang sarung ini sangat menyenangkan. Daripada perang petasan atau tawuran di acara Sahur on The Road ala anak-anak jaman sekarang?

Main bola, perang sarung, bercanda. Ya begitulah bulan ramadhan menyenangkan itu, yang kemudian berlalu ke Idul Fitri, di mana kami menunggu angpau dari saudara-saudara yang lebih tua. Pakai baju baru, dan berkumpul kembali di rumah nenek. Saat berkumpul dengan saudara, keributan-keributan pun masih ada, hanya saja berbeda bentuknya. Keributan yang baru usai kalau ada yang nangis, atau ada barang yang pecah.

Kini setelah sudah dewasa, kami mengisi bulan ramadhan sudah lebih serius. Tidak bercanda lagi seperti jaman anak-anak. Ibadah ditingkatkan dan diseriuskan. Ajakan buka puasa bersama pun berdatangan, tetapi sebagian teman agak malas karena amat banyak kesulitannya. Jalan yang macet, ribet kalau mau shalat maghrib, ketinggalan tarawih berjamaah, dan pulang ke rumah dengan perut yang sudah terlalu kenyang dan mata yang sudah mengantuk. Bikin malas tarawih, akhirnya bablas tidur sampai sahur.

Apakah bukber selalu seperti itu? Ya, hampir selalu seperti itu. Itulah sebabnya tahun ini saya agak malas mengajak bukber, kecuali dengan teman-teman yang memang sudah jarang ketemu. Setelah tahun lalu saya berhasil berbuka puasa bersama dengan teman-teman dari seluruh jenjang sekolah, juga dengan tetangga rumah dan teman-teman kantor, saya sih sekarang ini mau pasif saja. Kalau memang ada acara itu, ya saya datangi, kalau tidak ada, ya saya tidak akan menginisiasi seperti biasa. 

Karena bagi generasi Y, atau baby boomers seperti saya yang kini sudah terlalu larut dalam pekerjaan, bertemu teman lama sangat menyenangkan. Dan makna dari bukber adalah sekalian reunian. Kalau asik, kali aja bisa berlanjut ke kegiatan-kegiatan lain. Kalau ternyata garing dan gak asik, ya setidaknya kita sudah gak lagi penasaran.

Dan untuk tahun ini, saya kepengen ketemu dengan teman-teman dari rumah nenek saya itu. Saya tahu, kita semua sudah berpencar, dan rasanya sudah lebih dari sepuluh tahun tidak bertemu. Tapi, apa salahnya berharap? Suatu saat saya akan menghubungi kalian. Satu persatu.


Selasa, 26 Januari 2016

My Circle



Beberapa waktu lalu, saya membaca postingan galau seorang teman di sebuah media sosial. Saya lupa kata-katanya, intinya sih ia merasa kesal dan sedih karena tidak dianggap sebagai inner circle oleh temannya.

Apa sih inner circle itu sehingga seseorang bisa gusar jika tidak dimasukkan ke dalamnya? Kalau menurut definisi yang saya baca lewat googling, inner circle adalah “a small, intimate, and often influential group of people.” Ada juga yang mendefinisikan sebagai “a clique or a group of people or who share a common interest, aim or purpose.”

Dari dua definisi tadi, ada beberapa unsur yang harus dipenuhi untuk menjadi sebuah inner circle. Pertama, adanya kumpulan orang. Selanjutanya, kumpulan tersebut hanya berisi kelompok kecil, berhubungan dekat, memiliki kesamaan tujuan dan ketertarikan. Berbeda dengan organisasi atau perkumpulan, inner circle jauh lebih informal dan santai. Tidak memiliki target yang ingin dicapai, tapi hanya ingin berkumpul saja. Atau jika tidak bisa berkumpul, setidaknya berbicara secara virtual pun bisa. Lebih santai tapi lebih akrab.

Saya sudah sering menuliskannya, dan tidak pernah bosan saya bilang kalau semakin kita dewasa, maka alokasi waktu untuk berkumpul bersama teman akan semakin berkurang, dan untuk itu kita akan selektif untuk mengalokasikan waktu yang sedikit itu untuk dihabiskan bersama orang-orang yang kita inginkan saja. Begitulah penerapan inner circle dalam lingkup pribadi.

Saya sendiri tidak terlalu mementingkan inner circle saya, karena saya tidak punya lagi geng pertemanan yang benar-benar dekat dan begitu sering menghabiskan waktu bersama. Yang kini saya lakukan adalah membentuk circle pertemanan saya sendiri, yang terdiri dari lingkaran terdekat yang berisi sedikit orang saja, hingga lingkaran terjauh yang berisi semakin banyak orang. Tanpa harus menyebut nama, beginilah lingkaran pertemanan saya:

Lingkaran Pertama – Best Friends

Istimewa. Berisi orang-orang yang satu pemikiran, satu visi, dan banyak kesamaan hobi dan ketertarikan, terlepas dari pencapaian dan kemampuan ekonomi kami. Ngobrol sama mereka gak ada habisnya. Orang-orang ini juga mampu mengerti becandaan saya, tahu baik-jeleknya saya, ngerti history saya dan mereka menerimanya dengan baik. Dan mereka gak judging! Setidaknya saya punya tiga orang di lingkaran ini, dan kami masih sering ketemu dan ngobrol tanpa harus merasa terganggu. Untuk lingkaran ini, sibuk hanyalah mitos. Saya akan menyediakan waktu untuk bertemu mereka.

Lingkaran Kedua – Good Friends

Dengan orang-orang ini, saya menyimpan respek, begitu pula sebaliknya, walau tanpa harus diungkapkan berlebihan. Orang-orang ini juga memiliki kesan baik secara keseluruhan, walaupun tidak selalu satu visi, kadang berbeda selera musik dan tempat berlibur favorit, juga berbeda cara hidup secara umum. Setidaknya saya punya 10an orang di sini. Saya mengingat hari-hari spesial mereka, mengucap doa tulus untuk mereka, dan tidak menolak kalo mereka ajak makan-makan.

Lingkaran Ketiga – Allies

Lingkaran ini berisi rekan-rekan seprofesi atau satu hobi yang baik. Bisa juga isinya kenalan-kenalan random yang bertahan cukup lama karena kesan yang baik. Mereka lebih dari sekadar rekan kerja, dan kadang-kadang menghabiskan waktu bersama di luar pekerjaan. Tidak jarang mengalami cekcok, tapi biasanya dapat diselesaikan dengan elegan, walaupun dengan agree to disagree. Biasanya berkumpul dalam rangka seremonial, dan setidaknya mereka ini akan saya sapa dalam hari-hari besar keagamaan.

Lingkaran Keempat – Colleagues

Agak formil, atau profesional. Masih berada dalam lingkaran selama masih saling membutuhkan. Biasanya berisi rekan kerja yang baik dan asik, atau tetangga yang ramah dan suka membantu. Saya memegang prinsip don’t shit where you eat terhadap mereka. Selama masih saling respek dan tidak ada masalah besar dalam pekerjaan, maka semua akan baik-baik saja. 

Lingkaran Kelima – Good People

Orang-orang seperti ini bukanlah teman baik saya, tapi ada hal baik yang bisa saya contoh dari mereka. Berisi orang-orang yang pernah mengerjakan proyek singkat atau kegiatan bersama. Misalnya teman satu komunitas, atau mentor dalam pekerjaan.

Lingkaran Keenam – Derailed

Orang-orang ini pernah jadi teman baik saya, tapi waktu kemudian membuat kami lupa satu sama lain. Atau misalnya karena pernah ada hal gak enak yang membuat hubungan merenggang. Dan semakin merenggang. 

Contoh:
Misalnya, dulu pernah temenan, tapi misalnya pacarnya salah paham sampai marah-marah. Jadi males dong gue. Not worth fighting for.

Misalnya lagi nih, dulu pernah temenan baik, tapi karena dia pernah gak ngebalikin barang yang dia pinjem, atau ngebalikin tapi udah jadi rusak dan dia gak tanggung jawab, nah ini yang gue males.

Lingkaran Ketujuh – Cuma Kenal Aja

Pernah satu sekolah, pernah satu kantor, pernah satu kuliah, jadi teman di media sosial tapi dari dulu tidak pernah bener-bener dekat. Jika melihat profil mereka, hanya untuk kepo. Jika bertemu di jalan, mungkin akan mengobrol basa-basi saja. Atau mereka yang hanya menghubungi kalau ada perlunya doang.

Contoh pembicaraan: Cuaca cerah ya? Jalanan macet ya? Kereta penuh ya? BBM mahal ya? Pemerintah kok begini ya? Barcelona menang terus ya? Pertanyaan yang gak perlu dipikirin serius jawabannya.

Lingkaran Selanjutnya – Gak Usah Kenal

Yang pernah ngutang tapi gak bayar, yang pernah nipu mentah-mentah, yang pernah nyolong, yang pernah menghina, yang pernah nyakitin dengan omongan dan perbuatan, yang seringnya manfaatin doang, yang bener-bener beda visi.

Senin, 04 Januari 2016

Tentang Kenangan dan Cewek Tercantik Se-Almamater

Malam itu, aktivitas saya dengan ponsel tidak seperti biasa. Jika biasanya ponsel relatif lebih sepi di malam hari, saat itu ponsel saya dibanjiri pesan yang saling berbalas di sebuah grup teman sekolah yang anggotanya memang sengaja diperuntukkan bagi cowok. Biasanya saya pasif di grup percakapan, tapi karena pada saat itu topik yang dibahas sungguh menarik, maka saya turut nimbrung.

Apa yang dibicarakan sampai sebegitu serunya? Peluang bisnis? Politik? Sepak bola? Otomotif? Bukan. Ternyata kami sedang membicarakan kenangan-kenangan lucu perihal percintaan di masa sekolah. Pemicunya adalah olok-olok kami kepada salah satu teman yang sampai sekarang masih menjomblo (grup kami berisi mayoritas bapak-bapak yang sudah menikah).

Entah kenapa, dunia memang kejam terhadap kaum jomblo. Ketika salah seorang teman iseng mencela si jomblo, lalu mencoba menjodohkannya dengan cewek jomblo cantik yang juga satu almamater, tiba-tiba semua ikut nimbrung. “Elo kenapa gak coba deketin si A aja sih? Kan dia belum nikah juga tuh,” ujar salah seorang teman, yang kemudian ditanggapi oleh yang lain. Si korban bully pun pasrah.

Untungnya, dia menanggapinya dengan santai. Ya namanya juga cowok, masa sih harus sensitif? Ya, walaupun pasti lah percakapan seperti ini bikin dia mikir. Hehehe. Maaf ya, kawan. Komedi memang beda tipis dengan tragedi, ya?

Tema cewek cantik dari almamater sekolah ini dengan mudah diputar-putar, dipelintir-pelintir, diselingi postingan foto-foto jaman dulu, lalu disambung-sambungkan dengan cerita lain dari masing-masing orang. Si ini dulu naksir si itu, si ini ditolak si itu, si ini pacaran jarak jauh dengan si itu.

Dari pembicaraan ini juga terungkap beberapa kisah terpendam. Si B misalnya, dibocorin rahasianya sama si C bahwa dia pernah naksir sama si R. Atau si D yang pernah nikung si G, atau si F yang pacaran sama mantan pacarnya si S. Dan sejenisnya. Dan sebagainya. Karena kisah ini sudah lama berlalu, dan masing-masing kita juga sudah melanjutkan hidup, semua celoteh ditanggapi dengan tawa lepas. Ya tidak lepas sih, namanya juga cuma chat dari ponsel, tidak bertemu langsung. Masing-masing istri pasti heran dengan tingkah kami saat itu yang cekikikan sendiri memandangi layar ponsel.

Pembahasan tentang kenangan memang selalu menggugah. Seberapa pahit dan getirnya selalu bisa ditanggapi dengan tawa. Jika mau berbesar hati, memang kenangan bukan untuk ditangisi. Yang namanya kenangan, memang tidak bisa terhapus walaupun kita sudah tidak berada di tempat yang sama, di kelas yang sama. Walaupun status kita sudah berubah dari pelajar menjadi pejabat, pengusaha, atau karyawan biasa.

Kalo buat saya sih, kenangan-kenangan saat kita masih sekolah seperti itu memang berguna untuk mewarnai hidup sehari-hari kini yang sudah disibukkan dengan berbagai persoalan besar dan pelik. Membahas kenangan masa lampau memang menyenangkan, selama memang tidak terus-terusan hingga lupa sama kenyataan hidup. Ya bagaimana bisa lupa, tiba-tiba waktu sudah menunjukkan jam 11 malam. Baru ingat kalau besoknya sudah harus bekerja kembali.

Selamat kembali kepada realita, kawan!

Kamis, 01 Oktober 2015

Kita Memang Sendirian

Kira-kira empat tahun lalu, pas mau resign dari kantor lama…
Bos: “Pasti elo sedih ya, ninggalin temen-temen lo di sini..”
Gue: “Iya, mbak..”
Bos: “Gue bisa ngeliat itu. Tapi, in the end, kita semua bakal sendirian.”
Gue: “Maksudnya, mbak?”
Bos: “Nantinya, elo bakal lebih konsen ke keluarga, begitu juga temen-temen lo.”
**
Sekarang…
Situasi 1: Janjian futsal dengan teman SMA
(Dalam percakapan di grup whatsapp)
Gue: “Yuk ah futsal. Tanggal xx jam xx di xx”
Si A: “Ayo”
Si B: “Buat futsal, gue selalu siap”
Si C: “Insya Allah”
Si D: “Gue usahain”
Si E: “Jadikan”
(Pas hari H)
Gue: “Jangan lupa ya guys, malam ini kita futsal. Lapangan udah gue book
Si A: “Siap!”
Si B: “Eh, jam 7 ya? Aduh gue lupa, hari ini mau berenang”
Si C: “Waduh, mainnya hari ini ya? Kirain besok”
Si D: (Gak jawab)
Si E: “Waduh, gue malam ini mau ke puskesmas”

Situasi 2: Mau kumpul dengan temen kuliah
Gue: “Guys, kumpul yuk hari xx jam xx di xx”
Si A: “Ayo! Gue kangen elo pada nih”
Si B: “Iya yuk kita kumpul lagi”
Si C: “Asik.. Siapa yang mau traktir nih?”
Si D: “Siap!”
Si E: “Insya Allah”
(Pas hari H)
Gue: “Guys, jangan lupa kumpul malam ini”
Si A: “Wah sorry gue mau nganterin istri belanja bulanan”
Si B: “Gue juga, mau anter anak”
Si C: “Gue lembur nih”
Si D: ”Waduh. Hari ini ya? Gue kira kemaren.. Padahal kemaren gue ke situ”
Si E: (Gak jawab, gak ngabarin)

Situasi 3: Chat dengan teman kantor lama
Gue: “Woi!”
(baru dibalas setengah jam kemudian)
Teman: “Oi”
Gue: “Ngopi yuk”
Teman: “Kapan?”
Gue: “Elo bisanya kapan?”
Teman: “Minggu ini padat merayap.”
Gue: “Minggu depan?”
Teman: “Belom ada rencana sih. Ya udah, ayo minggu depan aja”
(minggu depan)
Gue: “Jadi ngopi?”
Teman: “Oh iya gue lupa. Minggu ini ada kawinan temen”
Gue: “Oalah, minggu lalu elo bilang kalo minggu depan belom ada rencana”
Teman: “Masa sih? Waduh sorry bro!”

Situasi 4: Chat dengan teman baru
Gue: “Woi. Tahun ini kayanya tahunnya Hamilton”
Dia: “Iya”
Gue: “Menurut lo, peluang Hamilton musim depan gimana? Denger-denger dia mau ganti konstruktor ya. Soalnya dia kayanya ga cocok sama yang sekarang.”
(baru dibales besoknya)
Dia: “Iya, keliatannya sih gitu”
Gue: “…”
Dia: “Sorry, dari kemaren meeting.”
**
Dear friends, how things have changed a lot.

Dulu, yang datang futsal bisa 30 orang, minimal 20. Yang mau main sampai berebutan, kita bisa sampai bikin tiga tim. Sekarang? Ngumpulin 10 orang aja susah.

Dulu, mau ketemuan gampang. Gak pakai janjian jauh-jauh hari, gak pakai mikir panjang-panjang, gak pakai lupa, udah langsung pada kumpul. Sekarang? Udah janjian sejak jauh hari pun masih juga batal.

Dulu, mau ngopi gampang. Tinggal telpon, langsung pada dateng. Gak pakai liat jadwal, gak pakai ijin sana-sini. Sekarang? Telpon pun susah diangkat.

Dulu, obrolan kita haha hihi tanpa makna, dan kita bahagia saja dengan itu. Sekarang? Obrolan kita semakin serius, dan obrolan haha hihi semakin dihindari.

Gue seneng, kebanyakan temen gue memiliki pekerjaan yang begitu membutuhkan tenaga dan pikirannya, gak heran makanya mereka sibuk. Gue juga senang, temen-temen gue sekarang sedang berusaha menjadi kepala keluarga dan sosok ayah yang baik, jadinya mereka sering menghabiskan waktu terbatasnya bersama keluarganya.

Gue juga seneng, temen gue punya kegiatan yang keren, sampai-sampai gak punya waktu untuk membalas chat. Bahwa waktu 24 jam sehari dan tujuh hari seminggu masih dirasa kurang. Beberapa teman, bekerja lebih keras dibanding orang pada umumnya, dan itu pertanda bahwa mereka amat kompeten dan dapat diandalkan.

You know what, I’m happy for all of you. I really do.

Hanya aja, gue pernah dengar istilah “sibuk itu hanya mitos, karena jika elo merasa sesuatu itu penting, maka elo akan menyediakan waktu.”

I’m fine kalo dianggap prioritas nomor sekian, toh gue bukan orang yang mentransfer uang ke rekening elo tiap bulannya. Gue bukan orang yang beliin pampers buat anak lo, gue juga bukan orang yang mengisi bensin mobil lo dan mengisi pulsa handphone lo.

Hanya saja, kini gue merasa semua kata-kata bos gue tadi sangatlah benar. Bahwa kita memang pada akhirnya akan sendirian. Gue cuma sedang denial untuk membuktikan bahwa dia salah. Tapi, ternyata dia memang benar. Kita memang sendirian, dalam banyak hal.

Bahwa masa-masa gampang ngumpul itu memang sudah lewat, berganti dengan masa-masa gampang lupa dan gampang batalin janji. Sekarang, gue tidak mau bersedih apalagi marah, gue hanya ingin mencerna, lalu menerima semuanya dengan lapang dada. Karena gue percaya, ini hanyalah sebuah perpindahan fase, dari anak-anak menjadi orang dewasa. Dari quarter life crisis ke midlife crisis.

Beberapa dari kita harus berjuang lebih keras dari yang lainnya, dan beberapa lainnya tidak perlu berjuang sama sekali karena semuanya sudah serba ada. Atau, beberapa dari kita hanya tinggal meminta. Rezeki memang udah ada yang ngatur.

Beberapa dari memiliki hidup yang lurus dan gak pernah belok-belok, sementara beberapa dari kita sempat tersasar sebentar lalu kembali lagi ke jalan yang benar. Dan beberapa tidak pernah kembali dan terus tersesat. Semua sudah diatur yang kuasa. 

Dan semua itu, kita raih (mostly) bersama keluarga masing-masing. Karena, kita memang akan diminta pertanggung jawaban tentang keluarga kita, bukan teman kita.

Tapi bagaimanapun, tetap saja, gue rindu saat-saat kita gampang ngumpul, gampang ngobrol dan gampang ketawa. Sesekali, mungkin? Marilah kawan, luangkan waktu walau hanya sejam-dua jam untuk tertawa sebait-dua bait.

Minggu, 30 Agustus 2015

Empat Tipe Teman Yang Sebaiknya Kita Pertahankan

Semakin dewasa (tua!), dengan kesibukan pekerjaan yang seperti tidak ada habisnya dan juga keluarga yang harus diurus, kita akan semakin sedikit menghabiskan waktu bersama teman. Dan tentu saja kita jadi lebih selektif dalam memilih teman, berbeda dengan zaman sekolah dulu saat kita bisa berteman dengan siapa saja dan bisa menghabiskan waktu tanpa khawatir berlebih tentang hari esok.

Di lingkungan kerja, kita memang berteman, tapi tidak jarang hubungan pertemanan di sana hanyalah sebatas profesional. Banyak yang hanya memakai ‘topeng’, tidak sedikit pula sosok-sosok yang siap menunggu kita melakukan kesalahan untuk mengambil alih posisi kita.

Kita tetap membutuhkan teman-teman di luar kantor. Selain untuk memperluas wawasan, juga menghindari kejenuhan karena bertemunya elo lagi elo lagi. Lalu teman di luar kantor yang seperti apa yang sebaiknya kita pertahankan?

Si Cermin
‘Derajat’, visi, kemampuan finansial, selera, gaya hidup dan hobi orang ini kurang lebih sama dengan kita. Sangat menyenangkan memiliki figur seperti ini dalam hidup. Dengannya, kita jarang debat kusir, yang ada malah bertukar ide. Jika ada permasalahan, orang seperti ini juga mampu memberi saran yang membantu kita back on track. Karena satu ‘derajat’ tadi, jika kita membicarakan prestasi maka kita tidak akan dibilang sombong, dan jika membicarakan kemunduran, kita tidak akan dianggap lebay.

Si Role Model
Si role model adalah sosok teman yang memiliki pencapaian jauh di atas kita. Entah dari sisi spiritual, finansial, pengalaman hidup atau apapun itu. Sosok yang kita look up, atau sosok yang ingin kita tiru.

Kebalikan dengan si cermin, sang role model mungkin bukanlah orang yang paling enak diajak ngobrol, tapi ketika kita bertemu dengannya, kita akan terinspirasi dan termotivasi. Ya, kita kan hanya manusia biasa yang gak selalu stays on top. Dan kadang kita terlalu angkuh untuk meminta pertolongan orang lain untuk bangkit. Jika si cermin cenderung membawa hidup kita pada status quo, si role model ini selalu menantang kita untuk mencapai sesuatu yang lebih, atau setidaknya sesuatu yang baru.

Si Loyal
Seiring berlalunya waktu, teman seperti ini tidak pernah lupa dengan apa yang pernah dilalui. Dia akan selalu menghubungi untuk sekadar menanyakan kabar atau berbicara remeh temeh tanpa adanya agenda khusus. Dia jelas bukan tipe orang yang hanya datang ketika butuh atau ada maunya doang. Dia juga akan melihat sosok kita apa adanya, bukan dari atribut apa yang kita kenakan. Dalam beberapa kesempatan, kita dan si loyal akan bertukar hadiah atau hal-hal baik lainnya.

Si Simple
Teman seperti ini selalu membawa keceriaan. Bersama dia, bahkan kita bisa berbicara satir tentang kemalangan yang menimpa. Pemikirannya lebih sederhana dan cenderung memandang hidup dari sisi positif. Orang ini juga menghargai setiap perbedaan dan tidak akan memberi judgement dangkal dari satu sisi, seperti orang pada umumnya.

Kamis, 06 Desember 2012

Memanfaatkan waktu

Saya turut berbahagia ketika salah satu teman baik saya Nina Ardianti memberi link website pribadinya www.ninaardianti.com. Bagi saya, Nina ini salah satu dari sedikit orang yang memberi dukungan ketika saya mulai menekuni hobi baru saya, yaitu menulis. Di website bikinannya itu (saya percaya itu bikinannya karena she’s a good learner), anda bisa melihat segala pencapaian yang diraihnya dengan usaha yang tentu saja tanpa kenal lelah. Saya lupa sudah berapa karya berupa buku-buku publikasi yang berhasil dihasilkannya. Banyak. Kalo mau berbicara soal produktivitas dalam berkarya sekaligus bekerja, dialah orangnya. Saya tanpa ragu bisa bilang kalo dia salah satu role model saya kok.


Anyway, ada salah satu posting di websitenya yang juga saya sangat setujui yaitu mengenai pengelolaan waktu untuk mengerjakan hal yang disuka. Itupun juga menjadi bahan pertanyaan orang-orang kepada saya. Pertanyaan "Kok sempet sih bikin beginian?" ketika saya ceritakan bahwa saya kini menulis sepak bola di beberapa website dan juga masih sempat rutin mengisi blog pribadi, bekerja, juga bertindak sebagai kepala keluarga. Dan ketika menuliskan posting ini, saya baru sadar bahwa ini adalah postingan ketiga saya dalam sehari, plus saya juga mampu menyelesaikan hitung-hitungan rumit pajak akhir tahun di hari yang sama.

"innamal a'malu binniyat" Begitu kira-kira bahasa hadistnya. Segala sesuatu itu bisa terealisasi karena kekuatan niat kita. Adanya niat juga akan membentuk sikap mental kita ketika ada saja hambatan yang datang.

Bahkan ada saja pertanyaan sinis seperti "Apa untungnya sih bikin beginian?" "Apa pentingnya sih bikin tulisan-tulisan beginian?" juga sering saya dengar. Dan respon saya selalu sama. Diam, dan terus mengerjakan apa yang saya kerjakan. Saya tidak peduli apakah tulisan saya akan diapresiasi atau tidak, dibaca orang atau tidak. Saya tetap akan menulis.

Well, saya belum pantas sama sekali untuk berbangga hati. Nyatanya, saya masih belum menelurkan satupun karya, pekerjaan saya juga kadang terganggu dengan kegiatan saya, istri saya juga masih suka komplain karena menganggap saya kurang bisa membagi waktu.

Memang ini proses, tapi saya yakin bahwa saya kini bergerak kearah yang benar. Saya merasa lebih bahagia dan lebih nyaman seperti ini, tidak seperti sebelumnya ketika saya masih bekerja super sibuk di tempat bekerja terdahulu dan hanya punya sedikit waktu untuk mengejar ketertarikan di bidang lain. 

Bicara waktu, di tempat kerja yang lama memang sedikit sekali waktu terbuang karena sebagian besar dipakai untuk bekerja. Mungkin ekstrimnya hanya seperenam dari 24 jam dalam sehari sajalah waktu tersisa diluar kantor, itupun hanya untuk beristirahat. Berada disitu terus menerus bisa mengubah saya menjadi robot. Hahaha.

Ya bukan berarti teman-teman saya yang masih bekerja disana itu adalah kumpulan robot ya. Toh selama mereka menikmati, akan selalu terpancar nilai-nilai manusia dalam diri mereka. Itu sih saya-nya aja yang emang gak kuat lagi bekerja disana.

Anyway, mengapa saya bisa seyakin ini? Karena setidaknya saya mengerjakan sesuatu yang saya sukai, dan itu sudah menjadi semacam tambahan nilai seru buat hidup saya yang sederhana ini.

Seperti kata Alvin Toffler, “Society needs people who take care of the elderly and who know how to be compassionate and honest. Society needs people who work in hospitals. Society needs all kinds of skills that are not just cognitive; they’re emotional, they’re affectional. You can’t run the society on data and computers alone.”

Dengan menulis dan mencoba berkarya kini, saya berharap akan menjadi bagian yang dibutuhkan oleh society sesuai teori Toffler itu.

Kisah teman baik saya itu memberi saya inspirasi, bahwa memanfaatkan waktu dan melangkah tanpa keraguan adalah keharusan. Karena waktu tidak akan pernah kembali dan jika kita hanya diam saja, waktu akan tersia-sia. Mari lanjutkan saja langkah kecil ini dan jangan pikirkan bagaimana akhirnya, karena hidup adalah soal proses.

Rabu, 31 Oktober 2012

Teman paling lucu


Elo mungkin punya temen dari masa lalu yang lo pengen tau kabarnya karena sudah jarang bertemu. Kali ini gue mau cerita tentang seorang teman paling lucu yang pernah gue punya. Sebut saja namanya Bambang Kusnadi.

Si Bambang ini gue kenal dari jaman masih bocah berseragam merah putih. Bambang ini berbadan lebih bongsor daripada anak seusianya. Di upacara bendera, dia berbaris paling belakang. Gak heran dia dipanggil dengan nama si Bongsor. Tapi, badan besar memang tidak berarti otaknya besar.

It’s not that I am being sarcastic, but that’s so true. Si Bongsor ini dua tahun gak naik kelas. Suatu hari, gue pernah memergoki dia sedang membanting dan menginjak-injak raport-nya di teras rumah setelah mengetahui bahwa dia harus tinggal kelas.

Si Bongsor juga terkenal sangat emosian. Suatu ketika adiknya ingin belajar mengemudikan sepeda motor, lalu dipakailah motor bekas milik si Bongsor. Adiknya itu perempuan, kagok dan latah. Dalam suatu momen, adiknya terlalu kencang menekan gas, sehingga dia dan motornya tercebur kedalam sebuah got. Bukannya menolong adiknya, dia malah ngomel dan menggobloki adiknya yang malang itu.

Dia juga pelit. Pelitnya bukan main. Pernah suatu ketika kami sedang konvoi dengan sepeda motor ke suatu tempat di malam hari. Apa yang dia lakukan? Dia menolak menyalakan lampu motornya. “Ah kan udah ada elu pada, lumayan gue jadi irit lampu.” Astaghfirullah.

Bukan hanya pelit, dia juga matre. Suatu ketika ada kampanye sebuah Parpol. Dengan imbalan uang 50 ribu rupiah, dia mengikuti kampanye itu, lalu berteriak-teriak layaknya simpatisan yang telah dicuci otaknya. Tapi beberapa hari kemudian dia terlihat lagi mengikuti kegiatan kampanye Parpol lainnya. Kualat, jidatnya terluka terkena ranting pohon akibat dia tidak melihat kedepan saat berdiri di truk.

Tidak hanya itu, dia adalah orang yang sangat tidak bisa dipegang janjinya. Ketika gue janjian sama dia untuk pergi ke suatu tempat di suatu waktu yang disepakati, dia awalnya bilang “Iya, gue bisa.” Tapi kenyataannya, dia tidak pernah muncul tepat waktu. Jam tangannya terbuat dari karet.

Ada keahliannya yang biasa dia banggakan, yaitu bermain sepak bola. Dia memang kuat, cepat dan agresif. Tapi, dia pemain yang kasar yang tidak segan menghajar lawan. Wajahnya sangat serius ketika bermain sepak bola dan terlihat kaku seperti celana jeans yang sedang dijemur. Namun, dia juga kerap menyebalkan dan bermain sendirian, tidak pernah membagi bola kepada teman-temannya.

Namun diluar itu semua, Bongsor ini juga sangat lucu orangnya. Paling lucu yang pernah gue kenal, dan kelucuannya itu memang tidak dibuat-buat seperti host acara musik pagi.

Suatu hari setelah bermain video game, dia dikata-katai oleh seorang teman karena dia serakah dan tidak mau bergantian. Teman gue itu mencelanya dengan bilang “Ah dasar lo muka tembok!” Tanpa diduga, si Bongsor menjawab dengan lantang. “Bodo amat! Daripada muka lo tuh kaya pu-yung hai!” Semuanya tertawa. Dialah ahli lelucon slapstick tanpa makna.

Omong-omong soal muka tembok, dia memang tembok. Saat makan bersama, dia selalu berada pada antrian terdepan. Saat buka puasa bersama, dia selalu mengambil makanan dalam jumlah banyak tanpa mempedulikan orang lain. Saat bertanding voli antar RT, dia tidak segan menyambangi tim RT sebelah yang menyediakan konsumsi untuk tim. "Pak RT sebelah orangnya baik, sering membelikan makanan." Begitulah potret kesederhanaan sekaligus kenaifan dirinya itu.

Kelucuan lainnya Bongsor adalah saat dia bernyanyi. Dengan pede dia menenteng gitar, sambil membaca teks dari buku lirik dan chord lagu, lalu mulai bernyanyi. Ajaibnya, meski sambil membaca, apa yang keluar dari mulutnya sama sekali tidak sesuai dengan yang dia baca. 

Suaranya juga sumbang dan fals, tapi tetap lantang. Apalagi kalo dia bernyanyi lagu berbahasa Inggris, yang terdengar malah lagu dengan lirik “enjebre injebre, mig nais, demej”

Lucunya lagi, si Bongsor juga adalah orang yang penyakitan walaupun fisiknya meyakinkan. Penyakit-penyakit ringan seperti meriang, flu atau masuk angin udah rutin dia derita, bahkan penyakit lumayan berat seperti tifus dan sembelit pernah dia derita. Suatu ketika, dia menderita tifus karena memakan tiga bungkus mie instan mentah saat berkemah bersama teman-teman sekolahnya. Dia mengaku melakukan itu karena tidak tahan lapar dan tidak bisa tidur.

Terakhir, si Bongsor yang berbadan besar itu ternyata cukup sensitif. Dia terang-terangan menangis saat menonton A walk to remember.

Ah Bongsor. Betapa teman seperti elo ini sungguh langka. Tiba-tiba gue inget elo dan yang lainnya disaat gue udah terbiasa bertemu orang-orang pintar dan rapi, disaat gue lebih sering berkumpul dengan teman-teman gue yang ambisius. Gak sloppy dan gak silly seperti elo. Gak ada yang bisa bikin gue tertawa lepas selepas saat kita biasa kumpul bareng teman-teman lainnya di pos ronda.

Udah ah, gue jadi gak berhenti ketawa nulis ini. Sekaligus gak bisa berhenti menerawang. I miss that old days.