Tampilkan postingan dengan label Gagasan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gagasan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 01 September 2013

Pledoi Generasi Nunduk

Dear para Om dan para Tante yang kami hormati,

Kami tahu kalian sering mencela generasi kami. Generasi nunduk, alias generasi yang sering menundukkan kepala kearah layar sentuh ponsel sejak dini. Ya, mau bagaimana lagi? Kami memang sejak SD sudah memiliki ponsel cerdas karena benda ini tidak ubahnya gamewatch atau tamagotchi di era kalian. Semua teman kami punya benda itu.

Bukan salah kami kalau lebih senang menghabiskan waktu didepan layar ponsel ketimbang memainkan permainan tradisional seperti kelereng, congklak atau dampu. Bukannya tidak ingin, tapi memang sudah tidak ada lagi yang memainkannya. Masa iya harus bermain sendiri? Mau dibilang apa?

Kalian mencela kami yang kecil-kecil sudah menyanyikan lagu cinta-cintaan, padahal kami tidak mengerti apa itu cinta, toh tidur sendirian saja kami masih tidak berani. Mau bagaimana lagi? Zaman om dan tante kecil, acara khusus anak-anak di televisi sangat banyak. Begitu pula lagu anak-anak dengan lirik yang juga. anak-anak seperti 'si lumba-lumba' atau 'si nyamuk nakal'. Dulu ada om Papa T. Bob, sekarang tidak ada lagi yang mau membuatkan lagu anak-anak lagi buat kami sepertinya. Sekarang, kami disuguhi acara musik pagi dengan gerakan nasional cuci jemur. Ah rasanya semua pihak inginnya kami lebih cepat dewasa, jadilah kami dijejali soal cinta-cintaan sejak kecil. Apakah itu juga salah kami?

Tidak ketinggalan, kalian juga mencela pilihan klub sepakbola favorit kami. Apakah salah jika kami begitu mengidolai Lionel Messi dan Barcelona atau Cristiano Ronaldo dan Real Madrid dan bukannya Johan Cruyff atau Zico? Iya, hanya dua klub itu yang kami tahu di liga Spanyol, sisanya kami hanya menonton liga Inggris. Apakah salah kami jika menyukai Manchester biru, bukannya yang merah? Tolong diingat, kami masih belajar membaca ketika Ole Gunnar Solksjaer yang katanya bermuka bayi itu mencetak gol kemenangan di final tak terlupakan itu. Sekarang, media banyak mengenalkan kami pada Chelsea dan Mancheser City, apakah ini juga salah kami?

Kami sadar jika kami tidak menonton Mtv dengan VJ mereka yang keren, tidak familiar dengan musik grunge dan alternative yang asik itu. Yang kami tahu hanyalah musik-musik seragam itu-itu saja. Studio band sudah sulit kami temui untuk berlatih, pada akhirnya kami berpikir buat apa capek-capek menguasai alat musik padahal dengan modal joget dan lipsync udah banyak yang suka, produser kami juga suka. Alasannya 'mengikuti pasar'. Kami heran juga sih, media kan punya pengaruh besar. Mereka seharusnya bisa membentuk pasar dong, tidak hanya mengikutinya demi rating semata.

Kami juga tidak menyukai era ini, om dan tante. Semakin konsumtif dan tidak terkendali, semakin ngawur dalam ekspresi. Kami krisis identitas, dan makin sulit mencari panutan. Tapi mau bagaimana lagi? Banyak acara yang makin tidak mendidik, akses informasi juga makin tak terbatas, malah jadinya kebablasan. Om dan tante boleh bilang kami diuntungkan dengan adanya internet dan mbah gugel, tapi ya om dan tante tau sendiri kan, membuka internet itu bisa saja membuka kotak pandora jika kami tidak mampu menyaring informasi. Dan orang tua kami tidak bisa lagi mengawasi karena akses tersebut ada di tangan kami, yaitu smartphone itu tadi.

Kami juga seperti om dan tante, bermain social media. Kami bingung. Berkespresi penuh layaknya remaja, kami dibilang alay. Tapi mau coba ngomongin hal berat, dibilang sok tua. Memang kami kadang berlebihan, segala hal kami tumpahkan di socmed. Kami suka lupa kalau kami berteman dengan om dan tante kami, yang dengan kata lain, mereka ikut mengawasi kami. EYD juga kami abaikan, huruf dan angka kami gabungkan dalam satu kalimat. Maafkan kami yang telah merusak tata bahasa. Duh. Sulit bagi kami menentukan siapa yang harus kami follow di twitter. Seperti ada dua kubu besar dan mereka saling serang. Kami harus pilih yang mana? Pengetahuan kami hanya sebatas buku pelajaran, jangan samakan dengan om dan tante yang sudah makan asam garam kehidupan. Akhirnya kami cuma bisa ngetwit "folbek dong kaka".

Maafkan kami ya om dan tante, sepertinya kami butuh bantuan tapi terlalu gengsi ngomongnya. Di pergaulan kami, cuma ada istilah 'woles' atau 'move on' atas segala persoalan, padahal ternyata gak sesederhana itu.

Harapan kami sih semoga tontonan televisi makin berkualitas sehingga kami bisa pintar seperti om dan tante. Bisa punya cerita menarik seperti om-om dan tante-tante yang besar di era 90an. Kami juga tidak mau terlalu cepat dewasa karena masa kanak-kanak ya memang masa bermain yang tak akan terulang. Kami juga capek dengan kurikulum pendidikan yang berubah terus, dikira kami kelinci percobaan? Kami ingin jam sekolah hanya sampai siang saja supaya ada waktu buat kami bermain dan mengerjakan hobi. Ya masa sih sekolah cuma ngejar prestasi akademik aja? Ya gak om? Ya gak tante?

Yaudah deh om dan tante, henpon udah bunyi terus nih, teman-teman ngajak nongkrong di minimarket deket rumah. Kalo gak ikutan, saya bisa gak punya teman deh. Dibilang kuper deh. See you!

Rabu, 17 April 2013

Bacalah Buku Sejarah Alternatif!

Pernah denger ungkapan ‘sejarah milik penguasa’? atau 'penguasa membentuk sejarah?'?

Sebagian dari anda mungkin pernah, sebagian tidak. Dalam sejarah peradaban dunia, penguasa memang seperti memiliki hak preogratif untuk mengubah sejarah, meski itu termasuk memutarbalikkan fakta.

Bangsa kita sudah terlalu lelap dan nyaman di-ninabobo-kan penguasa. Jika anda besar di era 80-90an, anda pasti tahu apa yang saya maksud. Sebagai contoh, setiap tahunnya kita selalu diputarkan film Penghianatan G30S/PKI yang memperlihatkan kekejaman anggota partai berlambang palu dan arit itu dalam menyiksa para Jenderal (dan 1 Letnan). PKI akhirnya ditumpas, dibunuh tanpa diadili, dinobatkan sebagai organisasi terlarang, bahkan keturunan mereka dijadikan warga kelas tiga karena hak-haknya dibatasi oleh negara.

Setelah keruntuhan orde baru, barulah kita dibelalakkan oleh fakta-fakta baru yang justru bertolak belakang. Tentang keterlibatan CIA, konspirasi tingkat tinggi penggulingan Bung Karno, dan lain-lain yang tinggal anda googling saja. Atau jika tidak ada akses internet, tinggal cari saja bukunya di toko buku mainstream sekalipun. Sekarang, membeli buku “kiri” akan membuat anda terlihat keren, sementara membeli buku pasar modal hanya akan ditertawai oleh penggemar Joseph Stiglitz.

Kembali lagi ke persoalan. Rupanya, cengkraman orba masih sebegitu kuatnya sehingga orang-orang sebegitunya masih percaya pada pelajaran-pelajaran sejarah yang mereka pelajari sejak duduk di bangku sekolah. Setiap penguasa pasti penuh pencitraan, dan untuk penguasa yang sudah berkuasa selama 30 tahun lebih tentu dampaknya sangat besar bagi rakyatnya. Contohnya adalah tanggapan banyak orang tentang sebuah artikel RA Kartini di sebuah media online mainstream.

Melihat pada kolom komentar, sangat menyedihkan. Betapa orang-orang yang nampak berpendidikan sekalipun masih sulit untuk menerima fakta baru, masih terbuai dengan dongeng-dongeng sejarah yang telah puluhan tahun diceritakan pada mereka. Mereka dengan dangkal malah menilai tulisan orang lain tidak bermutu, padahal mereka sendiri hanya bisa berkomentar, tidak bisa menulis sedikitpun.

Indoktrinasi ini sudah menembus relung hati terdalam sebagian dari kita, sehingga kita sulit untuk menerima fakta baru. Di negara yang memang baru lepas dari kekuasaan absolut seperti Indonesia, memang sebuah pemahaman yang dipupuk sudah lintas generasi. Bahkan generasi muda sekarang masih banyak yang menganggap ideologi selain kapitalis adalah ideologi sesat dan terlarang.

Indoktrinasi ini telah menjadi budaya.

Tidak, saya tidak hendak menghakimi benar atau salahnya sebuah ideologi. Lagipula, ideologi berasal dari pemikiran, dimana pemikiran adalah sesuatu yang tidak bisa dipersalahkan begitu saja. Kita hanya bisa melihat seperti apakah sebuah peradaban yang terbentuk dengan pemikiran tersebut untuk menilai bagaimana pengaruh sebuah pemikiran pada orang banyak.

Untuk itulah kita perlu lebih banyak mencari. Sekarang banyak bacaan sejarah alternatif yang mudah diperoleh, banyak penerbit-penerbit yang menjual buku sejarah yang memuat fakta baru, dan ternyata diakui pula oleh dunia internasional. Bahkan, buku-buku itu banyak pula ditulis oleh sejarawan asing.

Jadi memang sudah saatnya bagi kita untuk lebih pro-aktif lagi dalam mencari literatur sejarah, mengikuti diskusi-diskusi tentang sejarah, atau mencari tahu jurnal sejarah. Buku sejarah terbitan orde baru sudah tidak bisa lagi dijadikan referensi.

Di era sekarang, kita harus berpikiran terbuka untuk menerima ide-ide baru seraya tidak membiarkan pikiran kita tertutup dengan ide-ide lama yang telah ditanamkan oleh penguasa lama lewat buku-buku paket pelajarannya maupun corong-corong informasi andalan mereka.

Hal ini sangat penting agar kita bisa lepas dari pembohongan masif yang selama ini kita telan bulat-bulat tanpa disaring. Sebuah bangsa tentu harus mengetahui dengan pasti sejarah bangsanya, dan tidak boleh melupakan sejarah. Lagi-lagi slogan jas merah (jangan sesekali melupakan sejarah) dapat kita aplikasikan.

Tapi sebelum itu semua, marilah kita membuka diri akan pengetahuan-pengetahuan baru, juga fakta-fakta baru yang mungkin kita akan temui. Perkaya literasi dengan banyak membaca agar kita bisa lebih cerdas dalam menangkap apa yang disampaikan, sekaligus kita bisa memilah mana yang baik dan mana yang buruk. Bukannya terus terperangkap pada penelaahan aksesoris dari sebuah tulisan yang malah hanya akan membawa kita jalan ditempat.

Apapun yang akan kita temui, boleh jadi sesuai harapan namun bisa juga jauh dari harapan, bahkan mengecewakan kita. Untuk itu dibutuhkan ketulusan dan keikhlasan dalam menerima kenyataan, ketimbang terus hidup dalam kebanggaan semu yang ternyata hanya dongeng belaka.

Selasa, 26 Maret 2013

Masa Depan Dimulai Dari Batalnya Proyek 6 Ruas Jalan Tol


Tarik ulur proyek 6 ruas jalan tol baru masih terjadi. Jokowi selaku orang nomor satu di Jakarta sampai menggelar dengar pendapat yang menghadirkan banyak pihak terkait hal ini. Entah sebenarnya bagaimana opini orang Jakarta soal ini, tapi cobalah lihat dari aspek yang lebih luas.

Auto-oriented
Hari gini, auto-oriented itu bukan sekadar kebutuhan, tapi juga menjadi gaya hidup dan lambang status sosial. Kebanyakan dari kita yang sangat peduli pada dua hal tersebut tentunya akan berupaya untuk memiliki kendaraan (mobil). Sayangnya, mindset tersebut jika dibawa kepada tatanan makro, malah menjadi kerugian bersama karena jumlah kendaraan yang meluncur di jalanan semakin banyak saja.

Para auto-oriented pasti setuju bahwa penambahan ruas tol akan mengatasi kemacetan. Semakin banyaknya kendaraan, maka semakin banyak ruas jalan yang dibutuhkan. Kota yang baik atau kota masa depan adalah kota dengan ruas jalan yang luas sehingga kemacetan terpecahkan.

Tapi apa benar demikian? Ada beberapa hal penting yang perlu direnungkan mengenai masalah ini.

Pembangunan ruas tol yang katanya akan menghabiskan dana 42 triliun itu akan dilaksanakan oleh swasta. Well, jika ngomongin perusahaan swasta, apa sih orientasi mereka selain laba? Boleh saja mereka membungkus proyek ini dengan slogan “demi kepentingan rakyat” atau “membangun dunia usaha” dan sejenisnya. Tapi bagaimanapun, perusahaan yang menjadi operator jalan tol ini jelas senang jika semakin banyak mobil yang melewati jalan mereka.

Artinya, mereka akan turut mendukung lebih banyak lagi mobil yang diproduksi. Perusahaan otomotif juga seperti mendapat pembenaran untuk terus memproduksi mobil-mobil mereka. Pada akhirnya, pertemuan antara peningkatan produksi kendaraan dengan perluasan jalan raya akan bertitik pada kemacetan total.

Berapa sih perbandingan produksi mobil dengan perluasan jalan? Jelas dengan logika sederhana saja kita bisa menilai. Perusahaan otomotif tidak akan peduli soal kemacetan, karena merekapun perusahaan swasta yang bertujuan mencetak laba sebesar-besarnya. Dan sumber laba dari perusahaan otomotif tiada lain adalah penjualan mobil mereka.

Mass Transportation Development: Harga Mati!
Hal ini sebenarnya bukan hanya soal pembangunan jalan tol enam ruas ini akan dibangun oleh siapa, tapi juga lihatlah nanti bagaimana jika pembangunan ini akan mengganggu program yang jauh lebih penting dan solutif yaitu pembangunan transportasi massal yang canggih. MRT dan juga monorail dilihat dari sisi manapun jelas lebih membawa faedah ketimbang mobil pribadi. MRT selain lebih cepat, juga bisa mengangkut lebih banyak penumpang.

Sisi dilematis memang pasti ada dalam setiap kebijakan yang akan diambil. Ini adalah sebuah keputusan besar yang memang harus ditimbang masak-masak. Perusahaan otomotif juga punya ribuan karyawan pribumi yang menggantungkan hidupnya pada mereka. Penurunan produksi pasti tidak hanya berpengaruh pada laba, tapi juga pada buruh-buruh mereka.

Namun Indonesia memang harus bergerak. Sekarang era produksi massal kendaraan rasanya sudah saatnya berhenti. Kendaraan sudah terlalu banyak. Para pelaku industri toh pada akhirnya tidak akan berkutik pada regulasi, dan seorang pemimpin sepatutnya memihak pada kepentingan yang lebih besar, yaitu kepentingan rakyat, bukannya kepentingan investor.

Kota Masa Depan
Sesuai dengan perkembangan zaman, sekarang sudah bukan lagi eranya indistri, tapi lebih ke era informasi dan edukasi.

Seperti apa sih kota masa depan menurut anda? Apakah kota penuh sesak dengan kendaraan yang udaranya penuh polusi, airnya tercemar, beton dan aspal dimana-mana, jalan layang menjadi pemandangan atap rumah, fasilitas umum yang berkurang, dan ketimpangan si kaya dan miskin kian nyata?

Kota masa depan dalam imaji saya adalah kota yang minim polusi, cukup ruang publik dan juga banyak menyediakan lahan untuk pejalan kaki. Kota yang sehat dengan masyarakat gemar berolahraga, juga membaca. Penyediaan sarana transportasi masal yang baik dan memadai akan menjadi awal bagi bergesernya paradigma masyarakat dari auto-oriented ke mass-transport oriented.

Dibangunnya apartemen dengan fasilitas lengkap sebenarnya sudah tepat. Sebuah konsep one-stop dan compact environment. Dengan fasilitas lengkap yang menunjang kebutuhan sekaligus gaya hidup, penghuni apartemen jadi tidak perlu lagi merasa perlu untuk pergi keluar. Sudah saatnya tata kota dibuat secara mikro agar kegiatan tidak terkonsentrasi di pusat-pusat perbelanjaan besar maupun jalan raya yang sudah over-crowded.

Senin, 31 Desember 2012

Secuplik rasa syukur di 2012


Posting akhir tahun ini saya buka dengan salah satu scene dalam film dokumenter Being Liverpool. Iya, Liverpool yang itu. Disana ada perkataan singkat dari Brendan Rodgers, bos baru mereka.

“If you wanna be success, you have to be confident. And if you wanna be confident, you have to be happy.”

Sebaris kalimat Rodgers tadi, sayangnya banyak yang diputar-putar oleh banyak orang, sehingga artinya berbeda jauh. Lihatlah contoh ini:

“If you wanna be happy, you have to be confident. And if you wanna be confident, you have to be success.”

Pola sama, kata-kata sama, namun peletakannya dibalik-balik. Artinya sangat berbeda.

Saya mungkin bisa murtad menjadi fans Liverpool jika saat melihat tayangan dan perkataan-perkataan inspiratif itu dari sang bos yang musim lalu melatih Swansea City itu. Buat saya, itu adalah kalimat tahun ini. Kalimat paling inspiratif yang pernah saya dengar.

Saya mungkin sudah sering membaca buku-buku mengenai passion, juga acara-acara talkshow yang menghadirkan Mario Teguh, namun tidak ada satupun kata-kata yang seampuh ucapan Rodgers tadi. Ucapan itu benar-benar bermakna dalam, merangkum dan mencakup segala hal, dan tentunya memiliki punchline yang sangat ampuh.

Apa yang dikatakan Rodgers tadi adalah salah satu kunci dari hidup ini, yaitu kebahagiaan yang akan mendorong kita kepada kesuksesan, bukan sebaliknya. Jika kita berbahagia dalam mengerjakan sesuatu, sukses yang erat kaitannya dengan materi adalah bonus. Namun kepuasan batin sudah pasti didapat.

Orang yang gak suka pada pekerjaannya sih bisa saja dia sukses, dan meraih materi. Tapi apakah hatinya bahagia? Belum tentu. Lagipula, apakah orang itu sudah pasti sukses? Belum tentu juga kan. Udah sukses materi gak didapat, sukses batin juga gak dapat. What a waste!

Kalo kata Frank Sinatra:

“For what is a man, what has he got? If not himself then he has naught.”

Seorang laki-laki adalah yang hidup dengan prinsipnya. Jika tidak, maka ia tersia-sia.

***

Dan di tahun 2012, saya bisa dengan tegas katakan bahwa saya bahagia. Saya bisa mencapai banyak hal, baik hal-hal yang orang yakin saya mampu mencapainya maupun hal-hal yang orang tidak yakin saya mampu mencapainya. Banyak sekali milestone dan pencapaian tahun ini.

Jika melihat pada definisi, milestone memiliki makna yang baik, yaitu terkait dengan pencapaian. Seorang bayi tidak akan bisa langsung berjalan, melainkan harus belajar duduk, berdiri dan merangkak terlebih dahulu. Duduk, berdiri dan merangkaknya si bayi itulah milestone dalam hidupnya, dan berjalan adalah puncak pencapaiannya sebelum diperkenalkan lagi kepada hal-hal lain.

Milestone kecil saya ada beberapa tahun ini.

Nonton konser GNR, tur sepak bola, punya website sepak bola, jadi penulis tetap sebuah media sepak bola, ikut proyek pembuatan buku sepak bola, bertemu orang-orang yang memiliki passion sama, mengisi podcast sepak bola, manggung di acara akhir tahun yang penuh kenangan, juga memainkan lagu enter sandman setelah sekian tahun hanya memainkan lagu-lagu pop cheesy.

Buat orang lain, itu mungkin gak ada apa-apanya, tapi buat saya itu sangat luar biasa. Hadiah dari Tuhan. Tuhan yang terlalu baik kepada saya.

Selain penuh milestone, tahun 2012 ini menjadi tahun penuh sejarah yang tidak terlupakan. Jika kelak saya bercerita kepada turunan-turunan saya, mungkin tahun 2012 ini adalah salah satu fase terpanjang yang banyak sekali akan saya ceritakan.

Di tahun ini, saya diberikan kepercayaan oleh Tuhan untuk merawat seorang manusia. Itu sudah menjadi milestone dan achievement tersendiri.

Dan entah bagaimana, di tahun 2012 ini kaki saya serasa lebih ringan dalam melangkah, tangan lebih ringan dalam mengetik kata demi kata, mulut lebih lancar dalam berbicara, mata lebih terlatih untuk membaca dan telinga lebih terlatih untuk mendengar.

Diatas itu semua, otak lebih terlatih untuk mendengarkan hati. Berjalan menemukan passion, menemukan apa yang diinginkan.

***

Mungkin kunci itu adalah keikhlasan. Itulah kunci kedua dalam hidup, yang saya percayai.
2012 adalah contoh sempurna betapa hal-hal yang dilakukan dengan kesenangan dan keikhlasan akan lebih indah. Bentuk keikhlasan juga bermacam-macam, dan saya yakin anda pasti sudah berikhlas dalam banyak hal, dari ikhlas mengantre launching gadget terbaru hingga mengantre bayar belanjaan anda di sebuah midnight sale. Apapun bentuk keikhlasan itu, anda bahagia bukan?

Setiap pintu rumah punya kunci masing-masing, begitu pula mobil dan sepeda motor, mereka juga punya sebuah kunci yang dibuat khusus untuk mereka. Seperti halnya kunci kebahagiaan dalam hidup, menurut saya adalah melakukan sesuatu yang disukai dan juga ikhlas menerima apapun yang ada.

“Kalo cuma bisa punya Lotto ya gak usah terganggu liat orang pakai Nike atau Adidas.”

“Kalo cuma punya gaji sekian dan temen lo dua kali dari yang lo dapet, ya apa terus lo bakal mati?”

“Kalo lo ngerasa udah kerja mati-matian tapi temen lo yang kerjanya lebih ringan daripada elo tapi dia ikut dapet pujian dari bos, ya terus ini bakal bikin lo ngedown?”

Mungkin orang-orang itu bekerja dengan terpaksa, sehingga yang menjadi ukuran kebahagiaan buat dia adalah materi semata.

“Gue udah gak happy, masa materi juga gue gak dapet?” Apakah begitu?

Alhamdulillah saya udah dikasih petunjuk bahwa hidup tidak harus begitu. Gak perlu memperhatikan pencapaian orang lain, gak perlu ngeliatin merk sepatu orang lain. Yang penting adalah bagaimana lo hidup dengan melakukan hal-hal yang menyenangkan, sehingga ukuran kebahagiaan bukan lagi materi.

***

Ya begitulah 2012. Sekarang bagaimana dengan 2013?

Well, apapun yang terjadi di 2013 nanti saya ikhlas. Yang jelas di 2012 ini saya udah dikasih kunci untuk menghadapi apapun. Saya tinggal melanjutkan apa yang sudah saya perjuangkan di 2012. 

2012 ini ibarat ketemunya passion, 2013 dan seterusnya tinggal lanjutin terus.

2013 saya bakal tetep nulis artikel sepak bola, tetep jadi orang kantoran yang baik-baik aja, tetep belajar sejarah dan lebih banyak baca, tetep nonton film-film action, tetep nonton konser-konser rock, tetep nonton bola, dan gak lupa jalanin semuanya dengan senang dan ikhlas.

Udahlah, gak perlu nyinyirin tahun baru. Gak perlu nyinyir karena ini budaya barat, budaya paganism atau apapun. Nyatanya, seluruh dunia memang menutup kegiatannya dan membuka lembaran baru di pergantian tahun masehi ini. Kalau anda memang berharap tahun baru versi anda sendiri, silahkan menangkan dulu pertempuran, sehingga anda bahkan bisa mengubah kalender dunia.

Alhamdulillah!

Senin, 26 Maret 2012

Jas Merah, Jangan sesekali melupakan sejarah

Oke, saya akan mulai tulisan ini dengan berkata jujur bahwa saya tidak membuka wikipedia, google ataupun buku pintar. Ini semua adalah ingatan dan hasil membaca dari dulu. Gaborone adalah ibukota Bostwana, Bujumbura adalah ibukota Burundi, Baku adalah ibukota Azerbaijan, Nassau adalah ibukota Bahamas. Bandara Douala adalah yang terjelek di Afrika, seperti halnya Charles de Gaulle di Eropa.


Semua itu bukan apa-apa, bukan sok pintar, bukan mau show-off. Itu hanyalah ketertarikan saya kepada places, atau nama tempat-tempat di dunia. Dunia yang bahkan saya belum pernah jelajahi. Banyak yang bilang bahwa ingatan-ingatan ini hanyalah tumpukan informasi yang tidak berguna dan layak dibuang, waste of brain capacity.


Mungkin mereka pikir harusnya saya membuang itu semua, sebagai karyawan yang berkarir di bidang pajak, saya seharusnya hapal Undang-Undang Pajak, PSAK, OECD model atau sejenisnya supaya bisa menunjang karir. Atau mereka pikir mungkin lebih baik saya menghapal judul-judul lagu yang sedang trend, nama band baru beraliran emo, nama restoran bagus, nama makanan enak, nama minuman enak, judul film drama cinta picisan, atau jadwal sale produk lifestyle supaya saya jadi orang yang mencerminkan gaya kekotaan. Pekerja ibukota. Metropolis. Meteroseksual. Metromini. You named it.


Menguasai bidang pekerjaan sepenuhnya dan mengenal lifestyle modern. Sepertinya itu ada di "manual book" para middle class worker, yang berupaya untuk meraih posisi top management secepatnya, lalu meraih yang dinamakan "sky limit income". Pengetahuan lainnya? Kebudayaan? Sejarah? Politik? Tidak penting. Okelah mungkin penting sih, buat ngobrol sama relasi. Supaya terkesan peduli.


I don't think so. Jika memang ini adalah mainstream, saya pilih melawan arus itu. Ketertarikan pada tempat-tempat dan ibukota di dunia itu membawa ketertarikan saya pada sesuatu yang menempel pada tempat-tempat itu. Sesuatu yang membentuk tempat itu menjadi seperti sekarang yaitu: SEJARAH.


Mungkin waktu sekolah kita udah cukup muak sama pelajaran ini. Menghapal nama, tahun, nama tempat sepertinya bukan sesuatu yang menarik buat anak-anak tanggung yang lebih suka pergi ke mall (suka ke mall sih sampai sekarang ya). Karena ya kita hanya menghapal tanpa tahu maksudnya. Pertanyaannya adalah "bagaimana" atau "apa" bukanlah "kenapa".


Atau kita menganggap sejarah hanyalah dongeng masa lampau yang tidak ada gunanya lagi untuk dibicarakan sekarang, toh semua sudah lewat. Kita mengalir saja seperti air, melangkah kedepan and don't look back in anger. Apakah begitu?


Padahal, lebih menarik kalau kita bertanya kenapa Eropa sempat mengalami Dark Ages dimana Paris dan London hanyalah kampung yang dihuni sekitar 30.000 orang yang di malam harinya menyeramkan. Kenapa di malam hari orang tua mereka melarang untuk pergi keluar rumah dengan alasan ada hantu tanpa kepala bergentayangan, lalu ada makhluk buas bernama naga penyembur api yang suka memangsa siapapun yang lewat.


Tahukah Anda bahwa di Eropa saat itu tidak ada lampu dijalan, pengobatan mengandalkan dukun dan semua penyakit dikaitkan dengan hal mistis. Eropa pernah mengalami hal itu sebelum seperti sekarang, sebelum mengalami masa renaisans.


Mereka lebih suka menyebut era itu sebagai "Middle Ages" ketimbang dark ages yang seperti aib. Di era itu, mereka tidak bisa baca tulis karena buku sangatlah mahal dan jarang. Mahal karena kertas mereka terbuat dari bulu domba yang mereka namakan perkamen. Buku hanya tersedia di biara, itupun tidak dibaca dan dijaga ketat karena takut dicuri. Sebuah peradaban yang terbelakang.


Mereka begitu karena kehancuran Romawi. Kemahsyuran era romawi yang kaya pengetahuan dan kebijakan sirna oleh suku barbar keji yang membakar buku-buku mereka, menghabisi warisan ilmu pengetahuan yang telah dipelajari berabad-abad, berbagai buah pikiran yang tertuang di buku, lukisan maupun karya seni dihancurkan dengan keji. Bangsa Eropa kemudian gelap, tanpa ilmu. Kenapa mereka yang tangguh dan hebat itu bisa luluh lantak ditangan suku tak berotak? Itu karena mabuk kekuasaan. Situasi aman dan seolah tanpa musuh membuat mereka terlena.


Para penghuni istana megah itu hanya bersenang-senang, mabuk, makan hingga kekenyangan dan perut mereka buncit, bersenang-senang dengan wanita-wanita. Begitu setiap hari hingga tidak sadar akan bahaya yang mengintai dari luar dan kealpaan mereka akan pertahanan negara.


Dan ingatkah disaat jaman kegelapan bangsa Eropa itu terdapat sebuah peradaban yang jauh lebih modern. Buku mereka banyak, filsuf dan orang alim dimana-mana, kehidupan istana yang mewah dan kota-kota mereka seperti dongeng?


Itulah Baghdad. Kota 1001 malam. Dan Baghdad kala itu memiliki kekuasaan yang melebihi luasnya imperium romanum. Kekhalifahan yang super-besar pengaruhnya hingga ke Eropa selatan, Afrika utara, India hingga kepulauan Nusantara. Kekhalifahan yang berperan menjadikan Indonesia sebagai negara paling banyak penganut agama Islam di dunia. Kekhalifahan itu pula menelurkan nama-nama mahsyur di bidang ilmu pengetahuan. Salah satu tokoh mereka yaitu Ibnu Sina di bidang kedokteran, yang kemudian oleh bangsa Eropa dikenal sebagai Avicenna, akan melatarbelangi berdirinya Universitas Salerno sebagai pusat pengetahuan kedokteran Eropa.


Dan mengapa kekhalifahan besar itu runtuh? Sama seperti Romawi, kesenangan yang tiada bataslah yang membuat mereka hancur. Dan sungguh familiar di saat ini, bahwa faktor terbesar penghancur suatu bangsa adalah KORUPSI. Itulah yang terjadi menjelang akhir khalifah Abbasyiah di Baghdad ditangan bangsa tangguh dan kejam bernama Mongolia. Kekuasaan yang tidak terbatas membuat semua orang ingin menjadi Sultan, ingin sekaya Sultan.


Akibatnya, terjadilah korupsi di pemerintahan daerah, dan berakibat pula disintegrasi diantara mereka. Kekuatan yang terpecah belah terendus oleh bangsa lain, dan hanya menunggu waktu yang tepat saja bagi mereka untuk melakukan serangan. Kekhalifahan yang besar itu hancur oleh tangan-tangan mereka sendiri.


Lalu bagaimana kisah Perang Salib yang merupakan perang paling banyak memakan korban jiwa sepanjanh sejarah umat manusia? Seperti apa Yerusalem? Mengapa terjadi konflik yang tidak pernah selesai di tanah yang dianggap suci oleh tiga agama itu? Jika kita paham sejarah, tentu kita tahu semua jawabannya. Dan dengan pemahaman serta kecanggihan teknologi sekarang, seharusnya kita bisa saling membantu dan membuat hidup lebih baik.


Tapi apa yang terjadi? Bagai jauh panggang dari api, pertarungan menyangkut siapa yang lebih unggul masih saja terjadi. Memang sudah sifat manusia bahwa mereka hanya ingin tinggal dengan sesamanya. Sejarah juga mencatat bagaimana paham Nazisme, Fasisme, Komunisme, hingga gerakan macam xenophobia muncul. Inilah salah satu masalah mendasar dunia.


Seandainya para pemimpin kita belajar sejarah dengan benar, mereka seharusnya tidak mengulangi kesalahan para pendahulu. Mereka tidak akan korup, tidak akan bermewah-mewahan secara berlebihan. Seandainya rakyat juga belajar mengenai betapa buruknya akibat dari perilaku paham sempit, mungkin kekerasan tidak perlu terjadi. Semua itu bisa dipelajari dari sejarah.


Seandainya kita semua memaknai slogan Jas Merah seutuhnya. Jas Merah, jangan sesekali melupakan sejarah. Dengan mengetahui yang terjadi di masa lalu, kita bisa melangkah lebih baik. Memiliki gagasan lebih produktif untuk menjadikan dunia tempat yang lebih baik, dan tidak mengulangi kesalahan di masa lampau.


Seandainya..

Selasa, 06 Maret 2012

Dunia menurut saya

Semua orang punya aspirasi, punya impian dan imajinasi. Atau jikapun tidak, semua orang pasti punya ketidakpuasan atas apa yang terjadi, dan berharap suatu keadaan yang lebih baik.
Bagaimana jika lo suatu saat bangun dari tidur lo bukan sebagai elo. Bagaimana jika suatu pagi lo bangun menjadi orang lain, menjadi seseorang yang sangat berkuasa. Elo adalah seseorang yang bisa melakukan apa yang elo mau, bisa mendapatkan apa yang elo inginkan. Elo bisa nyebut diri sebagai raja, kepala suku, panglima tertinggi, sultan, khalifah, paus, kaisar, atau apapun itu. Lalu, seperti apakah elo membentuk "dunia" versi elo? Berikut adalah versi gue.

1. Sepakbola adalah prioritas. Ideologi adalah sepakbolaisme, dengan agama sebagai pedoman hidup, dimana pencapaian tertinggi seseorang bukanlah diukur dari berapa banyak kekayaannya, tapi seberapa besar kontribusinya terhadap sepakbola. Dalam 1 kelurahan, gue akan perintahkan untuk membangun 5 sekolah sepakbola dengan standar tertinggi, dimana setiap sekolah tersebut memiliki sebuah lapangan sepakbola. Sepakbola jadi mata pelajaran wajib yang setara sama ilmu sains, bahasa dan sosial. Pendeknya bisa dibilang sebagai negara islam sepakbola.

2. Musik adalah rock. Gue akan mengharamkan lagu mellow dan menye-menye dan lagu-lagu berlirik pesimistis dan penghancuran diri. Musik harus cepat, keras dan bersemangat dengan lirik yang optimis. Lagu kebangsaan harus berirama rock.

3. Akal sehat adalah keharusan dalam bermasyarakat. Gue akan bikin mahal harga rokok dan harga minuman keras dan memerangi hal-hal ngaco lainnya seperti judi dan penyakit masyarakat lainnya (you know what). Makanan juga diperhatiin. Harga msg, bahan pengawet dan harga-harga makanan berlemak harus mahal.

4. Ekonomi bukanlah kapitalisme. Tidak ada konglomerasi, karena para konglomerat itu akan gue paksa menyumbang dalam jumlah besar kepada negara. Mereka akan gue suruh bantu para pengusaha kecil lokal, kurangi impor dan perkuat sektor UKM. Gak ada tuh cerita eksploitasi kekayaan alam oleh bangsa(t) asing. Perbaiki kompensasi guru, tentara, polisi dan pegawai negeri.

5. Batasi motor dan naikkan harga, pajak dan parkir mobil. Maksimalkan mass transportation. Perketat ujian SIM, gak ada tuh SIM nembak.

6. Hukum berat koruptor, kalau perlu mati. Hukum berat pula pengedar dan pemakai narkoba, pembunuh, pemerkosa dan perusak alam. Jadikan mereka orang-orang laknat. Tempatkan mereka di penjara seumur hidupnya.

7. Hapuskan sinetron, infotainment dan reality show sampah dari tv. Larang acara musik pagi yang bikin anak sekolah bolos. Perbanyak acara pengetahuan, sejarah, film action, dan tentunya film tentang sepakbola.

8. Atur ormas-ormas. Gak boleh ada ormas kalau visi & misinya gak jelas, gak boleh ada ormas yang anggotanya pengangguran.

9. Agama adalah nilai-nilai yang wajib dipegang seluruh masyarakat. Semua orang harus taat beragama tanpa kecuali. Paham-paham atheisme dan sekularisme dibuang jauh-jauh. Hari jumat, sabtu, minggu adalah hari libur untuk beribadah dan jalan-jalan.

10. Wajib militer diberlakukan tanpa kecuali buat warga yang sehat. Penelitian di bidang militer diperbanyak, alat tempur diperkuat, bentuk badan agensi dan mata-mata.

11. Mata pelajaran wajib buat anak-anak sekolah adalah matematika dan ilmu sains, ilmu ekonomi, hukum, seni, politik, sastra, sejarah, sosial, agama dan olahraga. Ujian kelulusan adalah membuat project dari masing-masing konsentrasi.

12. Kurangi mal, perbanyak sarana olahraga, seni, perpustakaan dan agama. Bentuk masyarakat yang suka dan fanatik sama olahraga, membaca, seni dan taat beragama. Kegiatan orang-orang ya gak jauh dari 4 hal itu.

13. Berlakukan jam malam buat para perusahaan. Gak ada tuh slavery, gak ada tuh nyuruh orang kerja sampe pagi. Gak boleh juga tempat hiburan buka sampe tengah malam. Batas masuk tempat hiburan adalah umur 22 keatas. Gak boleh juga anak muda keluar malam keliaran atau nongkrong gak jelas.

14. Gue gak akan mengharamkan poligami, cuma bakal mempersulitnya. Semua harus mahal buat urusan itu, dan harus dipersulit semaksimal mungkin.

15. Hubungan beragama gak boleh merugikan. Gak boleh ada pengajian yang nutup jalan, gak boleh ada penyebaran agama secara paksa.

16. Di tiap kelurahan ada 1 sekolah gratis hasil pembiayaan pemerintah yang menampung sebagian besar anak-anak. Lalu ada program sekolah unggulan yang dibiayai oleh pengusaha-pengusaha di setiap kota. Hal sama berlaku buat pelayanan kesehatan.

Yah mungkin masih banyak ya hal-hal lainnya yang belom kepikiran, tapi pastinya itu adalah garis besarnya. Ini versi gue lho, elo juga boleh bikin versi lo. Who cares if you disagree. Inilah dunia saya yang idealis dan utopis. Ini juga bukan propaganda atau apapun, dan gue bikin ini karena ini adalah pemikiran pribadi aja, tanpa berharap siapapun ngikutin, atau bahkan membaca ini. :)

Jumat, 10 Februari 2012

Never grow up, my friend!

"Main mulu sih kaya anak kecil!" Seru istri saya saat saya lagi asik-asiknya main game di konsol Playstation. Begitu pula saat saya sedang main game Football Manager atau melototin konser metallica di youtube sampai berjam-jam, itu juga bikin istri saya super heran dan geleng-geleng kepala. Saya yakin banyak istri-istri atau pacar-pacar yang komplain hal yang sama soal kebiasaan kami para pria ini.

Saya emang bukan orang yang kebapakan, yang doyan ngopi sambil baca koran, atau pakai baju berkerah dan sandal yongki komaladi layaknya seorang bapak-bapak. Saya lebih suka menyebut diri saya anak kecil udah yang punya istri, uang dan pekerjaan. Apa yang salah dengan menjadi anak kecil? Memiliki jiwa anak kecil menurut saya jauh lebih menyenangkan. Seorang anak kecil adalah sosok polos, jujur, blak-blakan dan punya rasa ingin tahu yang tinggi. Seorang anak kecil juga memiliki impian yang gak muluk-muluk tapi hasrat belajarnya tinggi.

Ada jeleknya juga kalo orang berpikir dirinya udah dewasa, udah bapak-bapak. Karena dengan demikian, orang itu akan memiliki sifat tertutup, tidak mau belajar dan merasa udah puas dengan apa yang dimilikinya. Selama dipandang dan dijalankan secara berimbang, saya yakin jiwa kekanakan akan banyak banget manfaatnya.

Saya adalah orang yang lebih suka didoakan untuk "stay young" atau "stay twenties" daripada "semoga tambah dewasa" saat ulang tahun, tapi sayangnya dari 28 tahun saya ngerasain ultah, gak pernah ada ucapan dan doa semacam itu. Umur itu cuma angka, dan jika kita memiliki cara pandang demikian, saya yakin kita akan terus menjadi pribadi yang lebih produktif dan tentunya lebih bahagia, karena rasa penasaran, jiwa yang bebas dan rasa tidak cepat puas itu.

Eric Cantona pernah bilang "Never grow up, my friend!" dalam iklan komersialnya. Dia mengucapkan kata-kata itu bukan tanpa arti. Dengan memiliki jiwa anak-anak, kita akan bebas berekspresi dan berkreasi tanpa rasa takut atau malu. Tapi bagaimanapun, semua itu memang pilihan.

Memang umur cuma angka, tapi kita gak bisa menghindari yang namanya penuaan. Sayapun merasakan betul faktor "u" ini di lapangan futsal saat apa yang ada di pikiran sudah tidak sinkron dengan gerakan kaki dan badan. Saya juga merasakannya saat duduk bersila di khotbah jumat, kaki rasanya banyak semutnya. Dan baru-baru ini, seorang teman yang membawa alat timbangan kesehatan mampu membuat galau orang sekantor. Kadar lemak tinggi, kadar air rendah, dan usia sel yang lebih tua daripada usia biologis adalah hasil yang umumnya didapat oleh teman-teman seprofesi pekerja kantoran setelah mencoba alat ini. Tua sebelum waktunya. Yah gimana gak cepet tua kalo sering pulang pagi selama bertahun-tahun.

Lalu jika sel-sel kita sudah tua sebelum waktunya, apakah kita juga tega membiarkan jiwa kita juga tua sebelum waktunya? Sekali lagi, itu pilihan.