Tampilkan postingan dengan label Sosok. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sosok. Tampilkan semua postingan

Senin, 07 September 2015

Tentang Butch Vig dan Kenapa Drummer Juga Musisi

Bagi sebagian orang, peran seorang drummer dalam sebuah band kerap dipandang sebelah mata. Ia tidak lebih dari 'penjaga beat' dari sebuah lagu. Seorang drummer juga disebut tidak wajib mengerti nada. Terdapat kesan bahwa tugasnya hanya memukul gumbrang-gambreng gedebak-gedebuk tek durungdung jess tanpa mengandalkan imajinasi dan kreativitas layaknya seorang musisi. 


Dan karena itulah sampai ada sinisme yang menyebut bahwa seorang drummer bukanlah musisi.



Ruang improvisasi bagi seorang drummer memang cukup terbatas. Seperti disebut di atas, ia cukup 'bermain aman' dan stabil sepanjang lagu. Jika terlalu banyak melakukan improvisasi, malah membingungkan personel lain, dan bisa jadi malah mengacaukan lagu. Maka tidak mengherankan jika dalam banyak kisah, pengakuan musikalitas yang didapat seorang drummer tidaklah sebesar yang didapat oleh vokalis atau gitaris.


Tapi sadarkah bahwa di situlah keunikan peran dari seorang drummer dalam sebuah band. Ia melakukan pekerjaan dengan metode yang berbeda, yang tentunya membutuhkan keahlian khusus. Kemampuannya berupa kordinasi yang baik antara tangan dan kaki, pengaturan tempo dan presisi pukulan belum tentu dimiliki pemegang instrumen lain.


Premis umum bahwa seorang drummer tidak perlu mengerti nada dan musik, menurut saya jelas keliru. Justru jika ingin menjadi drummer yang baik, ia harus mengerti lagu secara utuh, menyeluruh dan mendetil. Atribut ini dibutuhkan demi stabilitas permainan, demi fill yang enak didengar, tapi juga tidak 'datar'. 



Secara kebetulan, belakangan ini saya begitu terobsesi pada sebuah lagu karena permainan drumnya. Lagu yang menjadi obsesi saya kali ini berjudul Tell Me Where it Hurts, karya dari sebuah band alternative rock gaek, Garbage.

Jika tidak besar di era 90an, nama band ini memang cukup asing. Bahkan yang besar di era ini pun belum tentu tahu lagu-lagu band ini. Di Indonesia, band ini tidak mencapai kulminasi popularitasnya, padahal secara worldwide, Garbage telah menjual 17 juta kopi album. Dengan kata lain, di samping memiliki musikalitas cukup mumpuni, band ini memiliki pemerhati dan penggemar setia.

Lagu Tell Me Where it Hurts merupakan single unggulan album mereka tahun 2007 bertitel Absolute Garbage, dan saya menemukannya secara tidak sengaja ketika berselancar Youtube untuk mencari lagu dengan judul sama tetapi versi Kathy Troccoli (juga dipopulerkan oleh band akustik Filipina, MYMP).

Tadinya saya pikir, ini adalah lagu yang sama. Ternyata beda.

Buat kuping saya, ternyata lebih enak.

Kenapa bisa begitu? Salah satunya karena permainan drum yang begitu… begitu mengejutkan. Begitu bernyawa dan begitu menyatu. Bagaimana bisa sebuah aransemen drum yang biasanya hanya untuk mengawal beat sebuah lagu, menjelma sebagai nyawa dari lagu itu sendiri?

Begitu sih yang didengar oleh kuping amatir milik saya.

Lalu siapa sih drummer dari band ini? Usut punya usut, Butch Vig adalah nama drummer ini. Hehe, terdengar lucu ya ejaannya bagi kita orang Indonesia. Maafkan keterbatasan pengetahuan musik saya, tapi alangkah terkejutnya saya ketika mengetahui Vig adalah seorang musisi senior yang kini sudah menginjak usia 60 tahun!

Vig juga bukanlah seorang drummer biasa. Bukan sekadar pengawal irama dari sebuah lagu, tapi juga seorang produser dari album legendaris band Nirvana: Nevermind.

Wow, ini menjelaskan semuanya! Dengan musikalitas seperti ini, saya menjadi mahfum mengapa Vig mampu menciptakan beat dan pattern drum dari sebuah lagu dengan amat sangat menarik. Rasanya sulit membayangkan bagaimana lagu Tell Me Where it Hurts jika diisi oleh drummer biasa, bukan Butch Vig. 

Vig bukanlah sekadar pemain instrumen, tapi juga seorang musisi yang mengerti aransemen lagu, juga seorang produser dengan sentuhan emas. Seperti kita tahu, album Nevermind milik Kurt Cobain cs. menduduki posisi ke-30 sebagai album dengan penjualan terlaris dunia (catatan penjualan resmi sebesar 16,7 juta kopi), juga menjadi semacam album referensi wajib bagi pecinta genre musik Grunge.


Jadi, apakah seorang drummer bukan seorang musisi?

Selasa, 26 November 2013

Brendon Grimshaw: Petualang, Pelestari Lingkungan

Brendon Grimshaw. Photo by Theflyingtortoise.blogspot.com

Nama Brendon Grimshaw mungkin asing bagi Anda. Ia bukanlah ahli agama, bukan atlet ternama, bukan aktor terkenal, bukan ilmuan terpandang, bukan sosialita yang banyak berseliweran di pesta-pesta terkemuka, bukan selebtweet yang penuh pencitraan, bukan pula politisi yang pandai bersilat lidah. Ia hanyalah seorang pria sederhana berasal dari Yorkshire, Inggris dengan keinginan yang sederhana yaitu melestarikan alam dengan caranya.

Tahun 60an, takdir membawa Grimshaw bertugas di negara gugusan pulau kecil di timur Afrika, Seychelles. Seychelles adalah negara kecil berpenduduk hanya 85.000 orang dengan banyak pantai-pantai indah belum terjamah, yang juga dalam sejarahnya merupakan tempat persembunyian para perompak, termasuk harta karunnya. Saat bekerja sebagai editor di surat kabar negeri itulah ia mengumpulkan uang dalam jumlah sangat besar saat itu, yaitu 8.000 pound untuk membeli sebuah pulau kecil kosong seluas 0,089 km bernama Moyenne.

Moyenne hanya berjarak 1 jam dari pulau Mahe, pulau utama Seychelles tempat ibukota Victoria berada. Tahun 1973, atau satu dekade setelah membeli pulau ini, Grimshaw memutuskan untuk pindah permanen. Moyenne, yang semula tidak memiliki apapun dan hanya berupa daratan kecil di tengah samudera Hindia, diubah secara drastis oleh Grimshaw bersama dengan orang yang ia pekerjakan yaitu pria lokal bernama Rene Antoine Lafortune.

Jika miliuner-miliuner Rusia dan Arab membeli pulau tropis sekitar wilayah ini untuk dijadikannya tempat peristirahatan sunyi dan mewah, maka Grimshaw tidaklah demikian. Ia dan Lafortune menanam 16.000 pohon, termasuk 700 pohon mahoni. Mereka juga membangun penangkaran bagi burung-burung, juga memelihara 120 ekor kura-kura raksasa yang terancam punah.

Lokasi Moyenne Island. Photo by Dailymail


Kerja keras terus dilakukan Grimshaw dalam mentransformasi pulau ini. Ia tidak menikah, sesuatu yang kelak disesalinya meskipun paham sepenuhnya bahwa dalam realitanya kisah cinta tidaklah seindah ending film produksi hollywood. Tidak akan ada wanita manapun yang sudi menemaninya untuk hidup di sebuah pulau kosong terpencil tanpa adanya mal dan pusat hiburan. Grimshaw sudah hidup dengan realita tersebut, dan berdamai dengannya. Grimshaw sudah cukup puas karena ayahnya, Raymond, sempat menghabiskan waktu bersamanya di pulau itu hingga meninggal. Adiknya juga kini tinggal di pulau Mahe bersama suaminya.

Grimshaw jelas tidak melakukan semua ini untuk uang. Sudah beberapa kali miliuner menawar pulau ini berpuluh-puluh kali lipat dari harga belinya, namun ia selalu menolak. Ia tidak ingin surga yang telah ia bangun ini diubah menjadi resor-resor mewah komersial. Ia memilih menghabiskan masa tuanya sebagai petualang, sebagai sahabat para binatang dan alam di pulau kecilnya, ketimbang menghadiahi sendiri dengan mansion mewah di negerinya yang dapat diperolehnya hasil penjualan pulau Moyenne yang telah ia bangun.

Upaya Grimshaw melindungi pulau ini berhasil. Setelah dua puluh tahun lebih, pemerintah Seychelles menjadikan Moyenne sebagai taman nasional. Dengan demikian, pulau tempat pelestarian kura-kura raksasa, burung-burung dan tanaman-tanaman tropis akan terbebas dari ancaman privatisasi. “Ia adalah Robinson Crusoe modern” ujar Joel Morgan, Menteri Lingkungan Hidup Seychelles, menyamakan Grimshaw dengan seorang petualang terkenal yang mampu bertahan hidup sendiri di sebuah pulau.

Juli 2012 lalu, Grimshaw telah wafat pada usia 87 tahun. Ia dimakamkan di liang lahat yang telah ia persiapkan semasa hidupnya, bersebelahan dengan makam ayahnya di pulau Moyenne. Ia menyusul Lafortune, koleganya yang telah pergi lima tahun sebelumnya.

Kisah inspiratif Grimshaw adalah kisah penuh pengorbanan, kesederhanaan, pengabdian dan kebesaran hati seorang yang begitu besar perhatiannya pada kelestarian lingkungan. Ia tidak banyak bicara, hanya berbuat. Boleh jadi, ia sempat berharap untuk menemukan harta karun bajak laut terkenal Oliver Levasseur. Namun seperti yang dikemukakan oleh Simon Reeve dalam artikelnya, Grimshaw sudah dari dulu menerima tawaran para miliuner yang tertarik pada pulaunya, jika memang uang menjadi tujuan.



Senin, 03 Juni 2013

John D. Rockefeller

Lain halnya dengan Andrew Carnegie, John D. Rockefeller adalah seorang American Builder yang seperti tidak memiliki batasan. Orang jaman sekarang menyebutnya kelompok orang dengan ambisi ‘sky-limit income’.

Rockefeller, seperti Carnegie, juga seorang American Builder yang membangun negeri ini melalui industri besar yang ia rintis.  Rockefeller juga bukanlah seseorang yang sudah kaya sejak lahir. Ayahnya hanya pedagang kecil. Seperti memang sudah hukum alam, kerja keras dan ambisi adalah sahabat dari kesuksesan. Dan kesuksesan adalah sahabat dari kekayaan. Dan, bagi banyak orang di dunia ini, kekayaan adalah sahabat kebahagiaan.

Rockefeller yang lahir tahun 1839 dikenal namanya sebagai juragan minyak terkaya sepanjang sejarah, bahkan jika dilihat lebih luas lagi, dialah manusia terkaya di dunia. Jika Bill Gates memiliki kekayaan sebanyak 60 miliar US Dollar, maka Rockefeller hanya memiliki 1,4 miliar US Dollar. Tapi, 1,4 miliar US Dollar pada era Rockefeller adalah setara dengan 300 miliar US Dollar, atau kurang lebih 5 kali lipat dari kekayaan Bill Gates sekarang.

Rockefeller sejak usia 16 tahun sudah bekerja sebagai tenaga administrasi di sebuah kantor di Cleveland. Kerja keras dan tidak memboroskan uang adalah karakter khas Rockefeller sejak kecil. Berkat hal tersebut, karirnya terus meningkat dan tentunya gajinya juga meningkat. Jiwa enterpreneur membuatnya tidak puas hanya sebagai pekerja. Ia ingin menjadi pemilik. Dari keinginan itulah segala pencariannya dimulai.

Minyak adalah komoditas yang paling banyak dicari dan diperebutkan orang. Banyak negara berperang karenanya, banyak orang mati karena menjadi korbannya. Dan Rockefeller adalah salah satu yang menjadi kaya raya karenanya. Memulai penambangan kecil-kecilannya di Cleveland yang ia namai dengan Excelsior Work, Rockefeller kemudian menemukan bahwa usahanya terhambat oleh biaya transportasi dan penyimpanan yang mahal. Saat itu, kereta api masih menjadi satu-satunya alat transportasi yang efisien untuk mendistribusi minyak. Untuk penyimpanannya, dibutuhkan banyak tong-tong besar yang juga berharga mahal.

Rockefeller dengan cepat menyadari masalah itu. Seperti para pengusaha sukses lainnya, ia berpikir untuk menguasai lini bisnisnya dari hulu ke hilir. Dari produksi hingga distribusi, termasuk melibas perusahaan kompetitor yang akan menyulitkannya. Ia kemudian merekrut Henry Flager, seseorang dengan kedekatan orang-orang di perusahaan kereta api untuk memperoleh diskon. Usahanya berhasil, bahkan lalu ia membeli gerbong-gerbong kereta api sendiri. Tidak hanya itu, ia juga membuat tong penyimpanan minyak sendiri. Dengan demikian, ia sukses menekan biaya usahanya.

Dengan kegigihan, kekerasan hati dan juga kekejaman dan kelicikan, Rockefeller terus mengembangkan bisnis minyaknya. Pada tahun 1870, ia membuat perusahaan kilang minyak pertamanya, Standard Works. Setelah menggabungkan Standard Works dan Excelsior Works, lahirlah perusahaan yang kelak menjadikannya kaya, Standard Oil.

Rockefeller juga bukan orang yang cepat puas. Ambisinya adalah menguasai seluruh negeri, dan hal itu membuatnya tertarik melirik industri baja yang dikuasai industrialis lainnya, Andrew Carnegie. Saya telah jelaskan kisah Rockefeller-Carnegie dalam tulisan sebelumnya. Intinya, dengan kenekatan dan keuletannya, Rockefeller bahkan mampu menghajar Carnegie di bidang baja, bidang yang dikuasainya. Rockefeller seolah mengajarkan bahwa ketamakan haruslah tiada batas, tidak tanggung-tanggung. Ia juga memberlakukan sistem pengelolaan usaha yang kini dikenal sebagai perwalian atau trust. Saya akan coba jelaskan mengenai trust dalam tulisan berikutnya.

Kekayaan Rockefeller yang tidak selalu ia dapati dengan cara yang lurus memang membuatnya memiliki banyak musuh. Banyak yang menganggap ketamakan membuatnya melakukan segala cara untuk menggulingkan kompetitornya, bahkan dengan cara-cara yang tidak sesuai etika. Dikatakan dalam website History Channel, Rockefeller melakukan praktek-praktek seperti menyuap karyawan kompetitor untuk menjadi mata-matanya, membuat perjanjian rahasia, membajak karyawan kompetitor untuk bergabung dengan ancaman, dan lainnya. Ia dituduh mengumpulkan kekayaan dengan cara menghancurkan orang lain.

Presiden Amerika Serikat saat itu, Theodore ‘Teddy’ Roosevelt adalah seorang nasionalis yang sangat menentang praktek trust atau monopoli. Dimata Teddy, monopoli adalah praktek bisnis yang tidak sehat yang semata-mata hanya memperkaya sedikit orang, mengganggu dunia usaha, juga mengakibatkan upah buruh menjadi sangat rendah. Agak sulit menemukan sosok berani seperti Teddy di era sekarang.

Teddy memperkarakan Rockefeller ke pengadilan. Dan benar saja, Rockefeller kemudian dipaksa untuk melepas atau menjual sebagian dari usahanya tersebut. Sherman Act disahkan tahun 1880 oleh Kongres dalam rangka pelarangan monopoli. Setelah bertahun-tahun berkutat di litigasi, tahun 1911 Standard Oil terpecah menjadi 30 perusahaan baru.

Bagaimanapun, hal itu tidak menghalangi sepak terjang Rockefeller. Ia bahkan mencapai suatu hal yang melebihi banyak orang dalam hal menyumbang kekayaan. Kontribusi filantropi Rockefeller bahkan melebihi yang disumbangkan Carnegie. Jika industrialis baja itu total menyumbangkan 350 juta US Dollar, maka Rockefeller menyumbang 500 juta. Terlepas dari caranya membangun kerajaan korporasi, kekayaan yang ia sumbangkan sangat berharga bagi dunia medis dan pendidikan.

Bagaimana kita menilai sosok ini adalah tergantung dari perspektif mana kita memandang.

Kamis, 30 Mei 2013

Andrew Carnegie

Dalam sejarah negara Amerika Serikat, ada istilah “The Man Who Built America” merujuk pada industrialis yang kemudian memimpin negeri ini menjadi negeri superpower. Para industrialis ini dinilai mewariskan etos kerja, keterampilan dan tentunya pembangunan infrastruktur yang kelak menjadikan negeri ini makmur.

Terlebih, kisah hidup para industrialis ini juga menjadi inspirasi bagi generasi muda setelahnya, bahwa negeri ini mengijinkan orang untuk bermimpi. Siapapun bisa mencapai tujuannya tergantung seberapa besar impiannya dan seberapa keras ia mau bekerja untuk mewujudkannya.

Dianggap sebagai “The American Builder”, Andrew Carnegie bukanlah berasal dari keluarga kaya. Ia juga memulai bisnisnya dari bawah. Carnegie adalah seorang imigran asal Skotlandia kelahiran Dunfermline tahun 1835. Ia pindah ke Amerika Serikat di usianya yang ke-13 bersama kedua orang tuanya, William dan Margaret Carnegie ke negara bagian Pensylvania, tepatnya kota Allegheny.

Sepindahnya ke Pennsylvania, Carnegie bekerja di pabrik tenun untuk mendukung kehidupan keluarganya. Tidak hanya bekerja, Carnegie adalah seorang … kutu buku. Kegemarannya dalam membaca difasilitasi oleh Colonel James Anderson, perwira tinggi tentara yang tinggal kota Allegheny. Sang kolonel membuka perpustakaan umum untuk pekerja lokal setiap hari sabtu dimana Carnegie menghabiskan banyak waktu disana, bahkan meminjam banyak buku untuk dibacanya dirumah.

Buku-buku inilah yang membedakan Carnegie dengan pekerja-pekerja lainnya. Bukan hanya rajin, ia juga cerdas dan berwawasan luas berkat kegemarannya akan bacaan. Kelak, kegemarannya dalam membaca membentuknya menjadi penulis handal. Ia kemudian berpindah-pindah pekerjaan, dari menjadi kurir hingga operator telegraf. Karirnya kemudian melesat hingga ia meraih posisi superintendent di Western Division dari Pennsylvania Railroad, perusahaan jalur kereta api.

Carnegie memiliki cita-cita sebagai seorang pengusaha, sesuatu yang terdengar terlalu muluk-muluk pada era itu di kalangan pekerja seperti dirinya. Saat masih bekerja di perusahaan kereta api, Carnegie merintis usahanya sendiri juga di bidang perkeretaapian. Ia membuat jalan kereta api baru, kereta api dengan tempat tidur, hingga membuat jembatan dan lokomotif sendiri. Setelah usahanya mulai stabil dan menuntut waktunya lebih banyak, ia mengundurkan diri dari pekerjaannya.

Usaha baja Carnegie berkembang pesat. Perusahaan Carnegie Steel menjadi perusahaan baja terbesar di seluruh Amerika Serikat. Produksi baja yang Carnegie lakukan sejalan dengan pembangunan besar-besaran yang sedang gencar dilakukan oleh Amerika Serikat sehingga permintaan pada baja sangat tinggi.

Carnegie terus melakukan ekspansi usahanya dengan membeli perusahaan-perusahaan sejenis yang menjadi kompetitornya. Ia ingin menjadi pengusaha tunggal dari baja, melakukan monopoli atas komoditas ini. Cara-caranya dalam menggapai kesuksesan juga tidak melulu ia lalui dengan kerja keras semata, tapi juga kekejaman. Misalnya, ia memotong upah buruh, sesuatu yang kelak disesalinya di masa tua.

Carnegie Steel mendapat ujian terbesar dari seorang pebisnis minyak bernama John D. Rockefeller. Rockefeller adalah seorang industrialis ambisius seperti halnya Carnegie. Dengan penguasaannya pada minyak, Rockefeller merasa belum cukup. Ia kemudian mencoba memasuki dunia Carnegie, yaitu baja. Carnegie semula mengacuhkan keberadaan Rockefeller pada industri yang ia kuasai, karena menganggap Rockefeller tidak tahu menahu soal baja, seperti dirinya.

Carnegie salah. Rockefeller telah menemukan tambang baja baru di wilayah Minessota, tambang yang sebenarnya sudah diketahui oleh Carnegie, namun Carnegie menganggap tambang tersebut tidak potensial karena sulit diolah. Rockefeller tetap melanjutkan penambangan di Minessota, seraya terus mencari cara untuk mengolah sumber tersebut. Dan bisa ditebak, Rockefeller sukses.

Kesuksesan pengolahan itu membuat perusahaan baja tandingan Rockefeller berkibar. Dengan mematok harga yang lebih murah, Rockefeller membuat pelanggan Carnegie beralih padanya. Akibatnya, kinerja perusahaan Carnegie mengalami kemunduran signifikan. Carnegie merasa cukup dengan semua ini, ia lalu menemui Rockefeller. Tujuannya, jelas ingin mempertahankan kekayaannya dengan cara membeli perusahaan Rockefeller.

Setelah bernegosiasi dengan alot, Rockefeller akhirnya menerima tawaran Carnegie. Carnegie sadar bahwa hal ini memang harus dilakukan demi menjaga kelangsungan usahanya dan monopoli bajanya, meski konsekuensinya ia harus menyetor uang banyak pada seterunya.

Carnegie steel kemudian terus berkembang, sebelum datang lagi pengusaha kaya lainnya bernama J.P. Morgan. Morgan adalah seorang pengusaha listrik dan jaringan kerata api yang mencakup seluruh negeri. Dengan ambisinya yang besar, ia tidak ingin membuat perusahaan untuk menjadi kompetitor Carnegie, melainkan ia akan membeli Carnegie Steel.

Morgan melakukan pendekatan intens kepada tangan kanan Carnegie, Charles Schwab. Ia menjanjikan Schwab sebuah posisi yang tidak dapat ditolaknya, yaitu pimpinan perusahaan. Syaratnya, ia harus membantu Morgan dalam menggolkan pembelian Carnegie Steel. Morgan meminta Schwaab menanyakan pada Carnegie, berapa harga Carnegie Steel jika Morgan ingin membelinya.

Carnegie awalnya berat untuk melepas Carnegie Steel pada Morgan, meski pada akhirnya ia memang merasa inilah saatnya untuk berhenti. Inilah saat Carnegie untuk menikmati masa-masa kejayaannya dengan uang hasil penjualan perusahaannya. Akhirnya, pada tahun 1901 Carnegie memberikan angka pada Morgan sebesar 480 juta US$ (sekarang sekitar 13 miliar juta US$) yang kemudian disetujui oleh Morgan. Dengan deal ini, Carnegie praktis menjadi orang terkaya di dunia. Setelah dibeli Morgan, Carnegie Steel kemudian berganti nama menjadi US Steel.

Sejak Carnegie Steel menduduki puncak, Carnegie menyadari bahwa ia telah terlalu banyak mengambil dan terlalu sedikit memberi. Ia juga menyesali keputusannya dalam menekan upah buruh hanya demi kemajuan perusahaan bajanya. Penyesalan ini tidak terlambat, karena setelah penjualan Carnegie Steel, Carnegie berkonsentrasi penuh pada kegiatan filantropi, atau kegiatan menyumbangkan kekayaan pribadi demi kepentingan banyak.

Sebagai salah seorang pelopor filantropi era modern, Carnegie menyumbangkan hampir separuh kekayaannya senilai 350 juta US$ (sekarang sekitar 4.8 miliar US$) dalam bentuk perpustakaan, tempat yang disukai Carnegie sejak kecil. Carnegie juga membangun sekolah, balai pertemuan, dan bangunan-bangunan bermanfaat lainnya. Tidak hanya kepada Amerika Serikat, Carnegie juga membangun perpustakaan di berbagai negara berbahasa Inggris di dunia, termasuk tanah kelahirannya, Skotlandia.  

Warisan Carnegie memang besar dalam mencerdaskan bangsa lewat sumbangan perpustakaan, sekolah, maupun bangunan-bangunan lain yang penting bagi komunitas. Namun lebih dari itu, bangsa Amerika Serikat menganggap Carnegie berjasa dalam membangun Amerika Serikat hingga menjadi negara superpower dengan kemajuan industri yang pesat. Sebagai salah satu industrialis  dengan komoditi baja, ia telah membangun sebuah perusahaan raksasa yang menyambung hidup orang banyak dan memajukan bangsanya.

Ia telah mewakili spirit American Dream bagi generasi-generasi muda setelahnya bahwa semua berawal dari mimpi. Carnegie yang bukan dari keluarga kaya terbukti dapat menjadi miliuner dengan menggabungkan mimpi dan kerja kerasnya.

Setidaknya, begitulah kata orang-orang Amerika. 

Jumat, 05 April 2013

Remembering Kurt Cobain


Saya masih kecil disaat musik hair metal sudah memasuki akhir dari era kejayaan. Musik hair metal memiliki ciri khas lengkingan suara vokalis yang mampu mencapai nada tinggi dan gitaris-gitaris dengan kemampuan shredding yang eksepsional. Itu adalah genre musik yang mendekati utopis dimana kehandalan skill berpadu dengan harmoni dan penampilan total dari seorang rocker.
Genre ini mengakhiri era seiring kemunculan sekelompok anak muda dari Seattle pimpinan Kurt Cobain. bersama Nirvana, ia mengusung musik cepat dan brutal. Ia memiliki tujuan untuk memainkan genre punk, namun oleh publik malah ditahbiskan menjadi sebuah trend baru yang mengawali kejayaan alternative rock.

"Selama masih ada ketidakadilan terjadi di dunia, selama itu musik rock akan terdengar." Begitulah kurang lebih ungkapan gagah sekaligus masokis tentang genre musik rock ini. Sebuah genre yang memang timbul karena bentuk protes sosial maupun kemarahan tak tersalurkan. 

Well, baik grunge maupun punk adalah genre turunan dari rock. Grunge atau punk sama-sama memiliki aura pemberontakan dalam penyampaian maksud mereka, lewat hentakan, teriakan dan juga ketukan cepat. Tidak semua vokalis bisa berteriak melengking semerdu Sebastian Bach, tidak semua gitaris bisa menciptakan melodi gitar serumit Marty Friedman dan sesyahdu Slash. 


Tidak semua orang juga memiliki ketahanan telinga untuk terus mendengarkan musik bising dan ribet sepert itu. Tapi bukan berarti mereka tidak bisa mengekspresikan diri dengan genre rock. Musik alternatif hadir untuk menampung lebih banyak lagi aspirasi.


Saat saya beranjak puber, Kurt Cobain telah tiada. Namun gaung dari musik yang ia mainkan bersama Nirvana tidak pudar. Lagu seperti Smells Like Teen Spirit, About a Girl, Lithium, ataupun Polly adalah lagu-lagu yang menemani saya belajar mengenal musik, lagu-lagu yang sering menjadi lagu gitaran teman-teman di sekolah maupun di tempat tongkrongan.

Banyak pula yang memanfaatkan gelombang fanatisme ini dengan membuat studio musik rumahan, dimana banyak anak-anak seusia SMP rajin datang sepulang sekolah, berteriak-teriak ala Cobain. Sungguh indah saat itu. Membayangkan apa yang dilakukan anak-anak sekarang sepulang sekolahnya, atau musik-musik apa yang mereka dengarkan, saya mendadak bergidik ngeri.
Permainan gitar yang garang dan kasar dari Cobain, juga rhythm section yang apik hasil kolaborasi Krist Novoselic dan Dave Grohl menghasilkan musik unik yang segar, berbeda dengan musik njelimet dari band-band hair metal. Lebih sederhana dan manusiawi, untuk itulah banyak penggemar hair metal yang memalingkan muka pada mereka. Memang sudah seperti hukum alam bahwa segala sesuatu memang ibarat roda berputar.

Bagaimanapun, Cobain tidak terlalu menikmati ketenarannya. Sifatnya yang penyendiri akibat kondisi broken home yang ia alami tidak cocok dengan derasnya pemberitaan media dan perhatian orang-orang kepadanya. Seorang Kurt Cobain yang cuek dan tidak memerlukan make up dan tatanan rambut saat manggung di acara televisi memang tidak akan sejalan dengan dunia entertainment yang secara tidak masuk akal menuntut seorang pria untuk dibedaki.
Cobain mendapat inspirasi membuat lagu secara sederhana, dari apa yang ia alami sehari-hari. Jika orang biasa tidak memiliki kemampuan untuk menangkap sebuah momen sederhana menjadi suatu yang bermakna, maka tidak Cobain.

Lagu legendaris Smells Like Teen Spirit terinspirasi dari ledekan teman dari mantan pacarnya yang memang pemakai parfum bermerek Teen Spirit. Karena sering bersamanya, aroma tubuh sang wanita yang bernama Tobi Vail itu menempel ke tubuh Cobain. “You are smells like teen spirit!” begitulah ledekan dari teman sang pacar.
Kematiannya yang terasa terlalu cepat menggemparkan dunia, tepat 19 tahun lalu. Kematiannya hanya berjarak 3 tahun sejak album fenomenal “Nevermind” rilis. Banyak spekulasi beredar. Orang biasa menganggap kematian sang vokalis adalah efek dari popularitas, para sinis menganggap kematiannya sebagai bentuk desperasi dan ketidakmampuan menghadapi fenomena “orang kaya baru”. Sementara para pecandu teori konspirasi menghubung-hubungkan kematiannya dengan sang istri, Courtney Love.

Apapun itu, Cobain telah tiada. Ia memang membuat musik sederhana. Teriakannya tidak semerdu Fredy Mercury, permainan gitarnya tidak sebersih Izzy Stradlin, dan lirik-liriknya tidak sepuitis Bon Jovi. Namun tidak pelak Cobain adalah sosok influental yang mempengaruhi banyak musisi lain setelahnya, banyak band lain yang mengikuti gayanya dan caranya yang cuek dalam bersikap. Gaya kidalnya, rambutnya yang acak-acakan menutupi wajah, dan suara serak plus sengau seperti meracau adalah ciri khasnya yang tidak akan pernah bisa ditiru orang lain.
Rest in peace, Kurt!

Minggu, 31 Maret 2013

Sebuah Pengecualian Bernama Christina Aguilera



Bagi seorang laki-laki, nge-fans terhadap penyanyi wanita mungkin hal tabu dan sedikit melunturkan maskulinitas. Kaum pria hanya akan mendengarkan lagu-lagu wanita secara diam-diam melalui headset mereka. Pura-pura headbang padahal sedang mendayu-dayu di balik alunan vokal penyanyi perempuan yang kemayu. Namun melihat fakta bahwa banyak pria yang menggemari girl band (karena penampakan mereka), sepertinya  hal ini tidak lagi menjadi hal tabu.

Saya tidak ikut-ikutan menjadi rombongan fans girl band jaman sekarang, dari manapun mereka berasal. Tidak favoritnya saya pada genre musik lain selain rock juga bukan maksud gagah-gagahan atau pengen dibilang ini-itu, karena sebenarnya, meski tidak banyak yang tahu, ada salah seorang penyanyi wanita yang sejak lama saya gemari: Chirstina Aguilera.

Genre musik Christina sama sekali bukan yang saya gemari. Album selftitled tahun 1999 yang bermaterikan Genie in a bottle maupun What a girl wants sangat girlie dan lebih menonjolkan paras cute-nya sang blasteran latin, sementara di album keempatnya ia buka-bukaan dan ‘get dirty’ seolah muak dengan segala macam pemberitaan media soal kehidupan pribadinya.

Sungguh, saya tidak pernah mengidolakan seseorang diluar dari apa yang menjadi kebisaannya, termasuk Christina. Saya hanya suka pada suaranya, suara sopran kelas diva yang terpancar dan tidak dibuat-buat, tidak pula ingin show-off. Diluar itu, sungguh saya tidak peduli. Seperti itu pula saya mengidolakan Andriy Shevchenko, dimana saya hanya antusias dengan kemampuannya bersepakbola, bukan melihatnya dipaksa joget di acara musik pagi. Sungguh saya tidak peduli.

Christina, bagaimanapun menarik perhatian saya dengan attitude yang ia miliki. Saya bisa bayangkan bahwa jika ia hanya orang biasa, ia adalah seorang cewek cuek dan tidak sensi seperti cewek pada umumnya, meskipun tetap suka ber-drama.

Keunikan Christina terlihat pada kecuekannya pada badannya sendiri. Seorang selebritis pada umumnya rela melakukan apapun demi menjaga kelangsingan tubuhnya, namun tidak dengan Christina. Ia tidak peduli pada penilaian orang melainkan tetap nyaman saja dengan badannya yang melar. Manusiawi dan tidak dibuat-buat, seperti orang biasa.

Christina tahu betul bahwa penggemarnya boleh jadi akan menjauhinya, produsernya akan memarahinya, advisor dan personal assisstant serta beauty consultant-nya akan menguliahinya tentang pentingnya menjaga penampilan. Tapi sepertinya hal itu tidak dipusingkannya. Ia hanya mengikuti kata hati, menikmati detik demi detik, dan tidak memikirkan penilaian orang.

Seiring waktu berlalu, seorang Christina juga perempuan. Ia lama kelamaan tidak tahan cibiran terhadap badannya, lalu berinisiatif untuk mengikuti program pelangsingan. Ia lagi-lagi menunjukkan diri sebagai manusia biasa yang memiliki batas dinding keangkuhan. A big girl with a big voice, begitulah ia dicela.

Tapi Christina tetaplah Christina. Ia tidak overrated, tidak pula underrated. Ia beruntung karena kemampuan vokalnya dinilai sesuai porsinya, tidak seperti penyanyi karbitan yang awalnya menjanjikan tapi kemudian tenggelam. Christina yang pernah tampil girly, pernah tampil nakal, pernah berbadan gendut, dan kemudian kurus lagi. Ketika ia membuktikan kemampuan bernyanyi jazz dan soul, ia dijuluki a soul singer with blue eyes. Mungkin ada kaitan dengan darah latin yang ia miliki, Christina menikmati hidup, ceria, sedih, kesal, lalu ia menulis lagu. Ia menyanyi, membintangi film dan menikmati hidupnya. Tidak kurang berbagai penghargaan telah ia raih, berbagai pengakuan akan suara emasnya telah ia dapatkan. Ia dianggap sebagai penyanyi terbaik di generasinya. A little girl with big voice, begitu dulunya ia dijuluki. 

Lagu-lagu Christina (atau Xtina, biasa ia mempopulerkan diri) bukanlah lagu-lagu yang biasa menemani hari-hari saya yang membosankan di kantor, juga bukan teman macet di mobil. Saya juga tidak mengoleksi album-albumnya dan tidak menyamakan levelnya dengan Metallica atau Megadeth. Namun ia tetaplah sosok yang saya kagumi, lewat suara dan sikap-sikap manusiawinya.  Dan ada kalanya saya memutar lagunya dalam mood tertentu.

Dalam dunia sepak bola, talenta Christina mungkin seperti Garrincha, pesepakbola Brazil yang oleh banyak orang dianggap lebih baik daripada Pele. Garrincha dengan gaya hidup yang semaunya, bangkrut dan akhirnya wafat akibat overdosis alkohol. Garrincha lebih menunjukkan sisi manusiawi ketimbang Pele.

Christina, semoga tidak berakhir seperti Garrincha, tidak juga bergaya necis seperti Pele.
Sang diva dengan vokal sopran yang mendekati taraf whistle register ini tanpa ragu saya katakan bahwa ia adalah penyanyi perempuan favorit saya.