Tampilkan postingan dengan label Religius. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Religius. Tampilkan semua postingan

Selasa, 10 Oktober 2017

Untuk Kita, Makhluk Akhir Zaman

Ada dua jenis ceramah atau kajian agama Islam yang gue suka, yaitu yang membahas tentang sejarah dan yang membahas tentang akhir zaman. Dengan belajar sejarah Islam, kita bisa tahu urutan peristiwa yang terjadi pada saat lahirnya agama Islam hingga sekarang. 

Apa yang membuat Islam pernah berjaya hingga ke daratan Andalusia, lalu apa yang menyebabkan runtuhnya khalifah pada tahun 1920an. Dengan belajar sejarah, percayalah bahwa iman kita bakal bertambah. Ini penting banget supaya kita gak terkontaminasi sama fitnah-fitnah yang memang menjadi ciri khas akhir zaman.

Bagaimana dengan belajar tentang akhir zaman? Mempelajari soal ini, berarti kita mempelajari masa depan. Kita memang tidak pernah tahu betul apa yang bakal terjadi, tapi semua memang sudah dituliskan. Lagi-lagi, kita harus mengimani apa yang sudah ditulis dalam kitab suci Al Qur'an dan hadis-hadis sebagai bagian dari Rukun Iman. 

Kalo kita pelajari semua, memang terkesan seram dan penuh huru-hara serta kehancuran. Banyak hal menyeramkan yang akan terjadi. Lalu pertanyaannya, apa yang harus kita perbuat?

Tidak lain, kita diminta untuk terus menjalankan hidup. Gue sendiri pernah mendengar sebuah perkataan bijak, bahwa jika kita mengetahui besok adalah hari kiamat tetapi di tangan kita ada sebuah bibit tanaman, maka kita tetaplah menanam bibit itu. Begitulah sikap kita sebagai Muslim.  

Iman kepada hari kiamat menjadi bagian dari Rukun Iman. Kalo kita gak percaya sama hari kiamat, berarti kita gak percaya sama Rukun Iman, yang dengan kata lain, kita gak percaya sama agama kita. Sorry to say, ini adalah sebuah penghakiman yang sangat jelas terang benderang.

Percaya sama hari kiamat, kalo menurut gue, bukan sekadar percaya lalu menjalani hidup tanpa mempersiapkannya. Karena kita punya ilmu dan punya waktu, sudah seharusnya kita rajin membaca dan mencari tahu seperti apa tanda-tanda kiamat. Persiapan fisik memang perlu, tapi lebih perlu lagi adalah persiapan dalam hal keimanan dan mengumpulkan kebaikan agar kita gak bergabung dengan golongan yang salah pada saat huru-hara besar itu terjadi. Karena konon, "golongan yang salah" itu malah sudah membaca lengkap hadis-hadis yang berasal dari nabi kita, dan karena memang mereka pada dasarnya kaum yang ingkar, mereka malah sudah mempersiapkan diri dengan cara mereka sendiri berdasarkan hadis nabi kita yang sudah mereka baca!

Dengan mengetahui tanda-tanda kiamat, kita akan mampu membaca zaman. Sudah berada di fase manakah kita. Tanda-tanda yang kita alami sudah banyak sekali. Gue gak akan jelaskan panjang lebar, silakan buka Youtube dan ketik tentang akhir zaman, di sana bakal banyak banget kita temui ustadz yang membahasnya dengan selengkap-lengkapnya. Memang ada ustadz yang membahasnya dengan terlalu banyak memakai metode “cocoklogi”, yaitu metode yang mengubung-hubungkan peristiwa satu dengan yang lain, padahal belum tentu benar. 

Saran gue, ambil aja ilmu dan ingat hadits-haditsnya, tapi gak usah terlalu dipikirin “cocoklogi-nya”. Tidak perlu sampai meledek apalagi menghina ajaran yang datang dari orang-orang yang ahli agama. Karena sebaik-baik umat di akhir zaman, adalah mereka yang tetap menegakkan keimanan, terlebih mereka yang berdakwah. 

Buat apa takut belajar tentang akhir zaman, padahal kita ini ya makhluk-makhluk akhir zaman. Semua bakal terjadi, hanya masalah waktu aja, entah akan terjadi di zaman anak-anak atau cucu-cucu kita, atau malah terjadi pada kita sendiri. Gak ada cara lain selain mempertebal keimanan dan mempersiapkan generasi penerus yang juga paham dengan situasi ini, biar mereka gak salah langkah dan salah pilih.


Senin, 03 Juli 2017

Hidayah Memang Mahal

Libur panjang lebaran tidaklah membuat saya sibuk-sibuk amat. Sepadat-padat agenda jalan-jalan ke mall demi memuaskan lidah dengan makanan enak yang tidak terlalu berfaedah, saya biasanya sudah sampai di rumah sebelum magrib. Pulang malam paling hanya sesekali. Karena itulah saya jadi punya banyak waktu untuk melakukan hobi saya yang lain, yaitu berselancar di sebuah situsweb pembagi video. Dari tautan-tautan yang tersedia, siapa sangka terbuka banyak sekali kemungkinan.

Ketika mengikuti salah satu tautan, saya pun sampai di sebuah video yang menampilkan sebuah testimoni dari seseorang. Testimoni ini berupa alasan ia meninggalkan keyakinan yang selama ini ia anut untuk pindah ke keyakinan baru. Sang pemberi testimoni pun mengatakan dengan gamblang tentang alasannya berpindah keyakinan.

“Awalnya tidak sengaja. Saya adalah penganut taat dari agama lama saya. Namun tiba-tiba seorang teman tidak sengaja meninggalkan kitab sucinya di rumah saya. Saya pun membacanya, dan tiba-tiba timbul kegusaran dalam hati. Inikah yang sebetulnya saya cari? Saya lalu berdoa pada tuhan saya yang lama, tapi ternyata hati saya sudah tertambat ke tuhan yang baru. Dan saya pun meminta kepada tuhan yang baru untuk memberi saya tanda jika memang Dia adalah tuhan. Eh gak taunya tidak berapa lama kemudian, ia menampakkan wujudnya kepada saya. Mantaplah saya untuk berpindah.” Kurang lebih begitulah kata-katanya. Dan saya yakin, kita pernah mendengar cerita-cerita sejenis.

Well well well..

Saya tidak mau menghakimi sih, dan setiap orang memang memiliki cara masing-masing untuk menemukan tuhan. Tapi ingat, tuhan adalah maha pembalik hati manusia. Tuhan juga yang menentukan siapa yang ia beri petunjuk. Dan petunjuk itu sebetulnya sudah ada di mana-mana. Sudah tertulis di kitab suci dengan banyak ayat yang menjadi referensi. Coba saja cari ‘tanda-tanda kekuasaan Tuhan’, maka di kitab suci, Anda akan menemukan fenomena siang dan malam, matahari, makhluk hidup, dan lain-lain. Petunjuk-petunjuk itu adalah hal yang amat besar, dan sudah sepatutnya kita meyakini bahwa hal-hal sebesar dan serapi itu selayaknya memang diatur oleh zat yang jauuuuhhh lebih besar daripada manusia.

Siapalah kita yang dengan lancang meminta ‘tanda’ kepada tuhan, apalagi kemudian kita percaya pada mimpi atau penampakan-penampakan surealis yang asalnya bisa saja bukan dari tuhan langsung, tetapi dari salah satu makhlukNya yang menyamar. Sementara, sekali lagi, tanda-tanda kekuasaan tuhan sudah ditunjukkan sejak lama, kita hanya tinggal membaca. Matahari, bintang, bulan, tata surya. Yang diperlukan hanyalah kita rajin membaca. Itu saja.

Mohon maaf, tapi hati saya tidak bisa tersentuh dengan kisah perpindahan keyakinan melalui hal-hal semacam ini. Meskipun hal ini memang kembali kepada masing-masing orang.

Lalu kemudian saya melihat kisah kesaksian orang lain, dan ia menceritakan kisah yang sebaliknya. Ia menceritakan bahwa ia sebelumnya dibesarkan dengan cara atheis oleh orang tuanya. ‘Ketika kamu mati, semuanya sudah selesai. Akhirat atau apalah itu, hanya omong kosong.’ Demikian doktrin yang diinternalisasi secara masif ke kepalanya. Dan selama beberapa lama, hal itu berhasil.

Tapi sekali lagi, tuhan memang memberikan petunjuk kepada siapa yang dikehendakiNya. Lewat sebuah kegelisahan, ia mulai melakukan pencarian. Hampir semua agama dipelajarinya, hampir semua ritual didatanginya. Lalu kemudian ia mulai mantap pada salah satu agama. Tapi kemudian ia merasa membutuhkan sedikit lagi dorongan untuk makin memantapkan hati.

Lalu kemudian, ia berdoa, seperti doa dari orang dalam cerita pertama di atas. ‘tuhan, berilah tanda kepada saya. Jika memang Engkau memang benar tuhan, berilah tanda apa saja. Kau kan mampu melakukan apa saja. Maka ayolah robohkan setengah rumah saya, atau bahkan tiupkan angin. Apa saja.’ Demikian pintanya, setengah memaksa.

Adakah tuhan memberikan tanda-tanda semacam itu? Tidak. Ia mengaku, tidak ada yang terjadi sama sekali. Suasana malam tetap hening, angin bertiup malas seperti biasa, langit pun tidak menunjukkan meteor atau bintang jatuh, atau semacamnya. Kecewa, ia kembali berdoa. Tapi kemudian hasilnya sama saja. Nihil. Tidak ada tanda atau penampakan. Juga tidak ada mimpi atau bisikan atau apalah itu.

Hari-hari pun berlalu, lalu hidayah kemudian datang dalam bentuk lain di saat iblis bisa saja mempengaruhi hatinya untuk kembali ke keadaan tak bertuhan. Ia terdorong untuk membaca lagi kitab suci agama itu, lalu kemudian ia menemukan ayat yang berisi ‘tanda-tanda kekuasaan’ dimaksud. Hasilnya, ia menemukan tanda-tanda tadi, berupa siang-malam, matahari, bintang, makhluk-makhluk. Lalu ia menangis. ‘Ternyata inilah yang saya cari. Inilah tanda-tandanya. Sudah jelas ada di sini. Di kitab ini.’

Ya, siapalah kita yang berani meminta tanda kecil seperti itu kepada zat yang telah menciptakan alam semesta berisi tujuh langit, yang masing-masing langitnya terdiri dari miliaran bahkan triliunan bintang. Bukankah Nabi Musa pernah sampai pingsan ketika di gurun Sinai ia meminta tuhan menampakkan dirinya, tetapi yang ada kemudian malah gunung-gunung hancur dan terjadi gempa besar, karena tuhan memang terlalu ‘besar’ untuk ditampung oleh planet bumi yang bagiNya hanya sebesar debu atau atom.

Kembali lagi ke keyakinan masing-masing, sih. Lagi-lagi, saya cuma bisa bilang kalau tuhan memberikan hidayah kepada siapa yang Dia kehendaki. Hidayah itu mahal, man. Dan kitalah yang butuh, bukan tuhan. Kita tidak bisa memaksa tuhan untuk menunjukkan tanda-tanda kekuasaannya secara langsung, gamblang dan tegas seperti halnya kisah pasukan gajah Abrahah yang diserbu burung Ababil, atau zaman-zaman nabi dan rasul dahulu ketika mukjizat tuhan memang diturunkan secara kasat mata. Kita kini hidup di zaman yang berbeda, kawan. Dan saya rasa, tidak ada tempat mencari hidayah yang lebih baik daripada rajin 'membaca'. 

Bukankah perintah tuhan yang pertama adalah "Baca. Bacalah dengan nama TuhanMu."


Senin, 13 Juli 2015

Malam Lailatul Qadr

Jadi, suatu ketika saya bertemu seorang teman baik. Sepanjang ngobrol, dia dengan begitu yakin mengatakan hal-hal yang menjadi tujuannya. Aspirasinya. Apa yang ingin dicapainya. Dan sekarang dia mulai merancang jalannya itu.

Beberapa waktu lalu, saya bertemu teman baik lain. Dia bangkit dari sebuah luka yang besar, dan tahukah? Dia sekarang berjalan lebih kuat ketimbang dirinya sebelum terluka. Kini, dia tengah berada di seberang samudera untuk menggapai impiannya.

Sama halnya dengan teman saya yang satu lagi, teman yang begitu bergairah jika diajak berbicara pajak dan akuntansi. Silakan tertawa terbahak seolah ia adalah fanboy dari akun twitter auditor cabul, tapi kini ia tinggal beberapa langkah lagi akan menjadi partner, alias posisi tertinggi dalam karir jasa perpajakan. Dan ia amat mungkin meraihnya bahkan sebelum umurnya 40 tahun.

Lalu saya melihat pada diri sendiri. Apa tujuan saya? Mengapa saya masih berprinsip 'go with the flow' ketika teman-teman saya telah merintis jalannya sendiri, bukan sekadar mengikuti jalan yang tersedia? Mengapa saya masih saja harus pasrah, mengangguk, menurut, dan menahan diri setiap kali saya diperintahkan melakukan sesuatu? Dan mengapa saya rela saja diberitahu terus menerus tentang apa yang saya harus lakukan, dan bagaimana melakukannya.

Bukannya hendak tidak bersyukur. Sebaliknya, saya berterima kasih telah diberi kehidupan -bahkan kehidupan yang diinginkan jutaan manusia lain ini-. Meskipun saya berulang kali menyatakan penolakan, membelot dari jalan yang lurus, terlalu banyak mempertanyakan apa yang seharusnya cukup dijalankan, dan terlalu memusingkan perkara yang mungkin terlihat sepele bagi orang-orang besar itu.

Saya cuma menginginkan menjadi 'besar', tapi saya sendiri tidak yakin bagaimana cara menjembatani impian itu. Saya menginginkan banyak hal, tapi kenyataannya saya tidak visioner-visioner amat untuk bisa merancang jalan saya sendiri. Tidak seperti teman-teman baik saya.

Maka untuk itu, di malam ganjil 10 hari terakhir ramadan 1436 H yang saya sendiri tidak dapat memastikan apakah malam ini termasuk malam yang lebih baik daripada 1000 bulan, ijinkan saya berdiam diri untuk merenungi pertanyaan-pertanyaan mendasar tadi. Karena sebagai manusia yang terbatas akal dan pikirannya, terdapat beberapa hal yang saya merasa begitu memerlukan bimbingan, alih-alih merasa sombong bisa menentukan takdir sendiri. Atau merasa otak terlalu pintar untuk menafsirkan apa-apa yang sebenarnya harus dilakukan. Atau bahkan, terjebak dalam permainan 'si mata satu' di mana sebetulnya ialah yang menginginkan orang lain percaya bahwa apa yang sedang dikerjakannya dengan rapi tidak lebih dari sekadar teori konspirasi murahan. Tapi ini soal lain.

Kembali ke malam 1000 bulan. Jika memang inilah yang dimaksud, berikanlah saya sedikit tanda. Atau, jika memang tidak ada tanda, ya tidak masalah. Daripada membuat saya besar kepala, apalagi menjadi riya. 

Lalu keesokan paginya, sesuatu meminta saya membaca dan memahami Surah Adh Dhuha. Saya baca berulang-ulang, berpikir dan cari tahu.


Dan akhirnya saya mengerti.

Mengerti apa? Baca dan pahami sendiri isi Surah Adh Dhuha.

Minggu, 05 Juli 2015

LGBT

LGBT. Belakangan, singkatan ini amat populer di kalangan publik terkait keputusan Mahkamah Agung Amerika Serikat untuk melegalisasi pernikahan di antara kaum tersebut. Langkah ini menyusul negara-negara lain yang lebih dulu melegalkan, seperti Belanda, Slovenia, Finlandia, Belgia, Brasil, Selandia Baru, Kanada, Denmark, Prancis, Islandia, Irlandia, Luksemburg, Meksiko, Norwegia, Afrika Selatan, Spanyol, Swedia, Inggris, Portugal dan Uruguay.

Status Amerika Serikat sebagai negara adidaya, juga membuat negara tersebut secara tidak resmi menjadi pusat budaya dunia. Bagaimana tidak, seluruh dunia begitu hapal film-film produksi Hollywood, juga begitu fasih menyenandungkan lirik-lirik lagu yang dinyanyikan artis-artis asal negeri Paman Sam. Pemilihan presiden di negara itu juga tidak lepas dari perhatian dunia, dan tidak jarang menjadi headline dari media negara-negara dunia ketiga.

Maka rasanya tidak terlalu mengherankan jika isu LGBT yang terjadi di Amerika Serikat menjadi santapan pembahasan sebagian besar kita yang berada jauh di Indonesia. Sekalipun akan banyak pihak yang mencibir kelakuan ini sebagai tindakan latah dan reaksioner khas inlander. Berpuluh-puluh tulisan cerdas, bernas dan berkualitas naik cetak. Para pemuka agama, budayawan, selebriti dunia nyata sampai selebriti dunia maya pun ikut menyuarakan pemikiran-pemikiran yang amat mengagumkan.

Bagi mereka yang kontra, tentu dasar agama yang dikedepankan. Ada pula yang mengedepankan fitrah kita sebagai manusia yang memang berkembang biak demi kelangsungan peradaban. Ada juga pelajaran sejarah kaum Nabi Luth yang kembali diangkat tinggi-tinggi ke permukaan sebagai pengingat.

Tapi bagi mereka yang pro, dasar agama dibuang ditepikan. Pledoi yang (menurut mereka) lebih canggih, bermartabat, liberal, humanis dan modern diapungkan baik ke media cetak maupun media daring dengan tidak kalah gencarnya. Juga dengan melakukan aksi memasang latar pelangi pada profile picture, mengetik tagar #LoveWins, selebrasi hingga turun ke jalan. Bahwa orientasi seksual dan pelegalan pernikahannya adalah kemenangan yang paripurna bagi tegaknya Hak Asasi Manusia (HAM), sesuatu yang ter(disepakati) oleh dunia atas prakarsa mereka yang menjadi pemenang Perang Dunia II.

Yang kontra marah dengan ketidakwajaran ini, tapi yang pro lebih galak. Bukan hanya diserang, tapi merasa haknya dilimitasi. 

Saya bukannya bermaksud latah ingin ikut-ikut berkomentar, apalagi saya bukan siapa-siapa dan juga tidak memiliki kepentingan apapun. Saya juga tidaklah sepintar mereka para pegiat budaya modern yang begitu rajin membaca jurnal, buku, riset sehingga lantas bertransformasi menjadi sosok freethinker yang begitu mengagungkan logika dan superioritas ilmu pengetahuan. Agama itu dongeng yang dibuat-buat manusia, agama itu cuma alat propaganda, agama itu cuma buat jualan, agama itu impor. Agama begitu, agama begini.

Untuk yang satu ini, sikap saya sedari dulu sudah jelas. Saya tidak ingin mengatakannya secara gamblang. Tapi yang bisa saya katakan adalah, saya tidak ingin anak-anak saya menjadi seperti itu. Saya ingin anak-anak saya bersekolah, berkarya, menikah dengan pasangan lawan jenis, memiliki keturunan lalu hidup normal dan selamat dunia akhirat.

Dalam banyak hal, saya sebenarnya fleksibel.

TAPI, hanya untuk persoalan-persoalan remeh temeh seperti: 

  • makan nasi padang pakai tangan atau sendok dan garpu, 
  • makan bubur ayam diaduk atau tidak diaduk, 
  • memilih paha (ayam) daripada dada (ayam) sebagai pasangan makan nasi uduk, 
  • makan soto dengan nasi dicampur atau dipisah, 
  • memilih selai sarikaya atau coklat keju pada roti bakar, 
  • memilih antara gado-gado atau ketoprak, 
  • saus bolognaise atau carbonara
  • mau nikah di gedung atau di rumah, 
  • bulan madu di Bali atau Singapura, 
  • liburan ke pantai atau ke gunung.

Saya amat setuju jika hal-hal semacam ini dikembalikan saja kepada masing-masing preferensi individu. Namun tidak untuk hal signifikan seperti orientasi seksual.

Hal yang memang sudah fitrah dan prinsipil, tentunya harus diikuti sebagai bentuk ketaqwaan kita kepada sosok yang telah memberikan kita hidup, nafas, makan, rezeki, jodoh dan semua kehidupan yang sesaat ini. 

Hal-hal yang memang diatur untuk tujuan yang baik, oleh Dzat yang derajatnya bermiliar-miliar kali lipat hebatnya dari kita, memang kadang tidak masuk kepada logika. Lagipula, apalah arti logika kita sebagai manusia yang terbatas jika dibandingkan dengan ketentuan-Nya. Dia yang maha besar, tiada banding dan tiada batas.

Bukannya ingin menggurui. Selain memang bentuk akan sikap saya pribadi, saya hanya ingin membekali anak-anak saya menjalani zaman yang semakin lama semakin mengherankan ini. Zaman di mana yang salah diagungkan, orang alim dileluconkan, dan yang memegang prinsip malah dianggap kaku dan gak sesuai dengan tuntutan zaman yang udah modern. Modern muke lu!

Ini adalah sikap, dan saya tidak tertarik akan segala bentuk debat. Kalau punya pendapat berbeda, silakan tetap jalani dengan penuh tanggung jawab jangan asal ikut-ikutan. Tidak perlu juga membuang-buang energi untuk memengaruhi orang lain yang berpendapat berbeda. Ini sudah masalah prinsip. Let’s just agree to disagree

Selasa, 23 Juni 2015

Antara Mushalla, Pahlawan Kesiangan dan Celana Jeans

Saya memiliki kenangan akan mushalla sederhana ini. Jaraknya hanya beberapa ratus langkah kaki dari rumah orang tua. Di mushalla itu, saya biasa mengerjakan salat tarawih saat bulan ramadan, juga sempat mengikuti taman pendidikan Al Quran semasa kecil.

Ketika itu, keadaan mushalla dapat dikatakan cukup memprihatinkan. Langit-langit yang rendah, ditambah lagi dengan ditutupnya pintu selatan untuk membatasi jamaah pria dan wanita, membuat bagian dalam mushalla tidak ubahnya ruang sauna. Mungkin terdengar berlebihan, tapi coba saja masuk ke sana saat jamaah sedang penuh-penuhnya. Oh iya, ditambah lagi, mushalla ini tidak memiliki fasilitas pendingin ruangan berupa AC. Hanya mengandalkan beberapa buah kipas angin, yang saling meniupkan hawa pengap yang tidak memiliki kesempatan untuk bersirkulasi dengan udara di luar.

Setidaknya, seperti itulah kenangan saya akan mushalla masa kecil itu.

Bertahun-tahun saya tidak lagi memiliki waktu untuk salat tarawih berjamaah di mushalla itu, terlebih setelah saya bekerja, di mana saya baru sampai di rumah pada malam hari, dan juga setelah saya menikah yang berarti pindah rumah.

Hingga beberapa hari lalu, saya kembali mengunjungi mushalla itu ketika ada kesempatan.

Betapa terkejutnya saya melihat bagian dalam mushalla. Ya, mushalla itu memang telah direnovasi total, sehingga dari luar saja sudah kelihatan berbeda. Lebih kokoh, lebih cantik. Namun bagian dalamnya lah yang benar-benar berbeda.

Bagian yang masih diperuntukkan bagi jamaah pria ini mengalami perbaikan dalam banyak hal. Penerangan, pendingin ruangan, bahkan papan elektronik berisi informasi waktu salat sudah terpampang gagah. Begitupula langit-langit yang sudah ditinggikan. Hilang sudah kesan sempit, rasa gerah dan berbagai ketidaknyamanan.

Selalu ada cerita di balik sebuah perubahan. Adalah sekelompok remaja generasi baru yang menggagas perubahan ini, di mana mereka juga mendapat dukungan dari sebagian tokoh masyarakat. Dengan telaten, mereka mencari donatur, lalu melakukan perbaikan menyeluruh atas mushalla, dengan beberapa di antara remaja ini turut langsung dalam renovasi. Yang luar biasa, mereka mengirim salah satu imam mushalla ke tanah suci dalam rangka ibadah umrah. Bahkan, sampai ada wacana untuk menjadikan mushalla ini sebagai masjid, meski untuk itu membutuhkan upaya yang lebih keras menyoal birokrasi pemerintahan, persetujuan warga dan juga pertimbangan kapasitas berbanding dengan jumlah jamaah. Namun 
soal meningkatkan status mushalla menjadi masjid, tentu saja merupakan persoalan lain.

Bagaimanapun, selalu ada pihak yang tidak suka pada 'mereka yang berada di panggung'.

Sekelompok 'anak lama' yang pada zaman saya kecil menjadi pengurus mushalla tidak terlalu senang dengan transformasi yang terjadi pada mushalla ini, sekalipun perubahan ini berjalan ke arah yang lebih baik.

Mereka, yang juga sudah meninggalkan lingkungan ini karena pekerjaan, pada suatu waktu berinisiatif mengadakan pertemuan kecil guna membahas fenomena ini. Tapi entah mengapa saya lebih melihatnya sebagai keputusasaan akan tergerusnya eksistensi. Segregasi berbasis semangat primordial coba dikumandangkan, seakan persoalan ini adalah persoalan kultur yang serius. Padahal semua orang tahu, pada intinya ini hanyalah soal melakukan perubahan ke arah yang lebih baik. Para 'anak lama' ini sebetulnya memiliki momentum mereka sendiri pada saat mereka masih menjadi pengurus mushalla, yang sayangnya tidak mereka manfaatkan pada saat itu. Terdengar seperti pahlawan kesiangan, bukan? 

Seakan tidak terlalu menghiraukan friksi antargolongan ini, saya menikmati betul salat di mushalla 'baru' ini. Begitu nyaman, jauh berbeda dengan yang saya alami sewaktu kecil.

Saya pun datang dengan membawa perbedaan sendiri. Di saat mayoritas jamaah mengenakan pakaian muslim berupa baju koko, sarung, dan peci, saya malah mengenakan 'setelan main' berupa poloshirt dan celana jeans.

Mengenakan celana jeans, apalagi untuk menghadiri salat berjamaah di rumah ibadah, menjadikan polemik bagi sebagian orang yang berpikiran sempit. Rasanya saya tidak perlu mengelaborasi polemik ini karena sudah terlalu banyak yang membahas. Pendek kata, bahan jeans, yang pada awal pembuatannya abad ke-18 diperuntukkan bagi pekerja pengeboran barang tambang, kurang sesuai dengan kepribadian (atau cara berpakaian) seorang muslim.

Saya tidak mau ikut mengkotak-kotakkan persoalan, karena mengenakan celana jeans, bagi saya adalah soal preferensi. Saya tidak bermaksud menjadikan preferensi pribadi sebagai pembenaran untuk menabrak aturan-aturan yang berlaku, namun setidaknya, preferensi mengenakan celana jeans bagi saya tidak lebih karena alasan kenyamanan. Bukan untuk menyombongkan diri atau apapun. Lagipula, apa yang mau disombongkan dari sebuah celana yang sudah bertahun-tahun dimiliki? Bahan jeans yang tebal dan awet, juga warna yang tidak monoton membuat saya lebih senang mengenakan berbahan denim ini. Terlebih, dalam keseharian di kantor, saya lebih sering mengenakan celana hitam berbahan katun. Anggap saja sekalian berganti suasana.

Terlepas dari segregasi antara 'anak baru' dan 'anak lama', juga kain sarung dan celana bahan dengan celana jeans, tidak mengubah fakta bahwa yang kita perjuangkan adalah hal yang sama: kenyamanan dan kekhusyukan beribadah. Serta tentu saja memanfaatkan bulan ramadan sebaik-baiknya.

Jumat, 19 Juni 2015

Mengenang Ramadan Masa Kanak-kanak

Bulan Ramadan, selain merupakan bulan yang penuh berkah dan ampunan, juga dimaksudkan sebagai bulan untuk meredam. Bagi saya, bulan yang juga sering disebut bulan puasa ini memang sejatinya diperuntukkan untuk sedikit mengerem aktivitas kita setelah sebelas bulan lamanya beraktivitas. Banyak lembaga pendidikan mengurangi jam belajar, dan banyak perusahaan mengurangi jam kerja. Selain memberi kesempatan orang untuk lebih khusyuk dalam beribadah, juga memberi kesempatan untuk berkumpul lebih sering dengan keluarga. Pendeknya, banyak kegiatan duniawi yang dikurangi frekuensinya demi memanfaatkan momen penuh berkah ini.

Namun bagi anak-anak, bulan Ramadan bukanlah sebuah momen untuk meredam dan bercermin. Memangnya apa yang mau diredam dan direfleksikan dari masa kanak-kanak yang penuh sukacita? Apa pula yang perlu dipikirkan masak-masak oleh anak kecil yang belum memiliki tanggung jawab seberat orang dewasa?

Maka tidak heran jika bulan Ramadan, dengan segala nilai spiritual yang ada, akan selalu disambut dengan keriangan oleh anak-anak. Bagi anak-anak, bulan Ramadan bukanlah soal bagaimana mengkhatamkan bacaan Al Quran, shalat tarawih sebulan penuh, itikaf pada sepuluh malam terakhir, atau bagaimana cara berlomba-lomba dalam mengeluarkan amal. Bagi anak-anak, bulan Ramadan menjadi semacam kulminasi kemunculan tradisi-tradisi yang menyenangkan, yang hanya terjadi setahun sekali.

Dimulai dari malam pertama tarawih, anak-anak sudah riuh memenuhi masjid, mushalla atau surau. Bermodal kain sarung, mereka bercanda dengan teman-teman. Kain sarung digulung, lalu diayunkan dengan gerakan seperti back-hand ala petenis dunia, yang kemudian menghasilkan sensasi pedas pada kulit temannya yang terkena sabetan. Tidak mau kalah, sang korban membentuk kain sarungnya hingga menyerupai gada rantai, semacam senjata yang populer pada abad pertengahan. Ia balas memukulkan bola gulung kain sarungnya pada kaki temannya, hingga temannya itu menjerit kesakitan. Acara berantem-beranteman ini usai setelah salah seorang bapak-bapak melerai mereka, sambil menjewer atau menyentil kuping tentunya.

Sepanjang salat tarawih, anak-anak ini pun masih bercanda. Mengelitiki pinggang, menginjak kaki, hingga berebut tempat sujud membuat ibadah ini jauh dari khusyuk. Selepas salat, mereka langsung ngibrit sebelum orang-orang dewasa sempat memarahi, tapi kemudian tersadar harus kembali lagi ke mushalla karena harus meminta penceramah untuk menandatangani agenda ramadan sebagai tugas dari sekolah.

Sepulang dari masjid, anak-anak ini pulang ke rumah masing-masing untuk makan malam, lalu kembali keluar rumah untuk berkumpul di sekitaran masjid. Apa yang dilakukan? Pilihannya bermacam-macam, dari perang petasan dengan anak kampung sebelah, nimbrung permainan karambol orang dewasa, hingga bermain sepak bola jika lampu lapangan serba guna dinyalakan. 

Selepas bermain, mereka beristirahat sejenak. Minuman bersoda, es teh manis atau es temulawak menjadi pilihan. Minuman yang akan dibatasi konsumsinya jika berada di rumah. Sungguh nikmat air dingin kaya gula ini mengalir ke tubuh-tubuh yang belum saatnya memikirkan selembar kertas berisi hasil medical check up.

Tibalah pada saat yang dinantikan: membuat suara gaduh untuk membangunkan orang sahur. Kaleng, botol, galon atau apa saja digunakan untuk membuat bising. Begitu riuh, berisik dan gaduh. Namun begitu khas. Mereka lalu pulang ke rumah masing-masing untuk makan sahur, menunggu hingga adzan subuh sambil terkantuk-kantuk, lalu tertidur hingga siang hari jika sedang libur sekolah.

Sore harinya, kegiatan sudah dimulai kembali. Mengumpulkan makanan dari donatur untuk berbuka di masjid, tadarusan, lalu kembali bermain sepak bola di tanah lapang hingga adzan maghrib berkumandang. Lalu mereka berbuka puasa bersama dengan riang gembira. Makan dengan lahap hingga lupa diri, hingga perut sakit dan orang-orang dewasa mulai menceramahi “Tuh kan, udah dibilangin kalo makan buka puasa itu jangan rakus dan terburu-buru!” Minimal, kita pernah sekali mengalami kejadian semacam ini.

Setelah itu mereka kembali tarawih, lalu begitu terus sampai 30 hari. Sampai mereka bosan sendiri dan menanti-nantikan hari kemenangan, yaitu hari Idul Fitri. Saat di mana mereka tidak perlu lagi menahan lapar dan haus di siang hari, dan saat di mana mereka mendapatkan duit lebaran dari om, tante, kakek, nenek atau orang kampung terpandang yang melakukan open house. Juga menagih uang hadiah puasa kepada orang tua karena berhasil menamatkan puasa tanpa sekalipun batal. 

Siklus ini akan berlangsung bertahun-tahun sampai usainya masa kanak-kanak, sampai pada suatu masa di mana persoalan-persoalan lain mulai menghinggapi, hingga kemudian mereka menemukan makna ramadan yang lebih dalam lagi seiring dengan ilmu yang semakin bertambah.

Kini, mereka telah berada pada usia 30an. Sedikit lagi memasuki midlife crisis. Zaman juga telah berubah. Mereka kini lebih memilih dibangunkan sahur oleh alarm pada ponsel pintar daripada suara anak-anak. Mereka kini juga lebih banyak memberi, daripada menerima. Betapa zaman telah berubah. Mereka juga tidak bisa bersantai lagi selama ramadan. Pekerjaan tetaplah pekerjaan, para atasan tidak akan peduli, toh kegiatan usaha tetap berjalan bahkan hingga malam takbiran. Deadline tetap saja deadline.

Lalu suatu ketika, tibalah mereka di mushalla tempat mereka biasa melakukan ibadah salat tarawih seperti saat mereka kecil. Mereka melihat kembali sekelompok anak kecil yang berisik dan membuat gaduh. Lalu pada malam takbiran, mereka kembali melihat anak-anak kecil yang sama bergantian menabuh bedug dan meneriakkan kalimat takbir tanpa lelah, sembari membagi-bagikan zakat fitrah berupa beras dan kebutuhan pokok kepada para mustahiq, atau golongan yang berhak menerima zakat. Di lain kesempatan, mereka membaca berita tentang keributan yang ditimbulkan anak-anak muda zaman sekarang pada acara Sahur On The Road (SOTR). Betapa bodohnya anak-anak kecil itu.

Kali ini, mereka hanya tersenyum, sembari mengingat bahwa hal-hal inilah yang dilakukan sewaktu kanak-kanak dulu. Berbeda dengan anak sekarang yang sudah serampangan mengendarai sepeda motor walau masih di bawah umur. Generasi 90an seperti mereka baru mengendarai motor saat mereka sudah mampu membelinya dengan gaji sendiri. Kembali ke tema sentral tulisan, bahwa bagaimanapun, dalam episode Ramadan yang datang setiap tahunnya, masa ramadan kanak-kanak tetaplah yang teramat berkesan untuk dilupakan. 

Kamis, 22 Agustus 2013

Siraman Rohani

Apa yang kita pikirkan ketika baru bangun tidur? Paling-paling soal kerjaan kantor, soal meeting pagi-pagi, soal makan siang sama klien, lalu malamnya ada reuni kecil dengan teman-teman sekolah. Bagi pelajar atau mahasiswa juga sama. Paling yang kita ingat lebih dahulu adalah Ujian Semesteran atau pilihan gaya rambut macam bagaimana untuk memikat gebetan.

Jarang sekali kita berterimakasih karena sudah 'dibangunkan' dari tidur, diberi nafas dan umur untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan kita atau diberi kesempatan untuk menjadi manusia yang bermanfaat. Pendeknya, diberi kesempatan melanjutkan hidup.

Memang gemerlapnya dunia sering bikin kita lupa. Gue juga bukan orang yang alim, tapi setidaknya gue paham bahwa kita-kita ini udah sering berprilaku diluar batas, sombong dan merasa tidak butuh siapa-siapa. Harta dan tahta yang kita punyai seolah cukup, dan yang ada malah kita selalu bersemangat mengembamgkan diri untuk terus menambah harta dan tahta itu.

Padahal, harta dan tahta itu punya siapa sih? Jiwa dan raga punya siapa sih? Tuh kan, kita pasti tau semua jawabannya. Kita sadar kalo semua ini punya Allah, hanya saja kita sering terlena.


Disitulah kita butuh siraman rohani. Dalam siraman rohani itu, apa yang diajarkan oleh para ahli agama bukanlah hal baru. Mereka bersumber pada kitab suci yang usianya udah ratusan tahun. Ajarannya sudah ada sebelum kita lahir, sudah lama dan selalu diulang-ulang. Kita juga udah sering mendengar, udah tau, udah ngerti. Kita hanya butuh untuk DIINGATKAN.

As simple as that.

Rabu, 24 Oktober 2012

Hati-hati berkurban

Hari raya kurban atau Idul Adha tidak terasa sebentar lagi akan kita peringati. Hari yang diperingati berdasarkan sejarah pengorbanan Nabi Ibrahim As, yang rela mengorbankan Ismail, anaknya sendiri yang telah dinanti-nanti selama berpuluh-puluh tahun atas perintah Allah Swt ini diwujudkan dalam pemotongan hewan kambing, domba, atau sapi secara massal dan ditengah-tengah masyarakat.

Banyak yang menyambut baik hari raya ini, karena di hari peringatan ini, orang-orang yang selama ini berada dalam kondisi kekurangan rezeki berkesempatan menikmati santapan lezat berupa sebongkah daging. Makanan ini tentu sangat mewah bagi mereka yang pada sehari-harinya makan tidak teratur, bahkan terkadang mengais-ngais dari tong sampah kita.

Islam memang mengajarkan keindahan dalam bentuk semangat berbagi dalam hal ini. Namun sayangnya beberapa diantara kita menyalahgunakannya. Seringkali kita lihat di kota Jakarta, banyak kaum dhuafa yang malah menjual kembali daging yang mereka dapat. Mungkin mereka lebih butuh uang, yang kelak mereka bisa belanjakan untuk makanan lain dalam jumlah yang lebih banyak. Ya, kalau seperti itu sih logis saja.

Yang tidak logis adalah banyak sekali yang tidak jujur. Mengambil jatah lebih dari apa yang menjadi haknya, padahal jatah itu milik orang lain. Bahkan saya pernah mendengar cerita memalukan di daerah tempat tinggal saya.

Setiap kegiatan kurban, tentu ada panitia. Panitia bertugas menyembelih hewan kurban, membersihkannya, memotong-motongnya lalu membagi-bagikannya kepada yang berhak. Pada saat pembagian inilah terdapat kontroversi.

Panitia nakal tersebut memilih-milih daging kurban untuk dibagi. Dia membagi-bagikannya kepada sanak saudaranya, entah yang keadaannya sulit atau lapang. Beredar kabar bahwa satu keluarga besar si panitia tersebut total mendapatkan bagian dari 1 ekor sapi!

Saya sendiri belum bisa memastikan rumor tersebut, tapi banyak orang yang mengonfirmasi kebenarannya. Tidak heran, tahun ini banyak orang enggan menyerahkan pengurusan hewan kurban kepada panitia nakal ini.

Sangat memalukan bahwa momen besar keagamaan seperti ini dijadikan ajang aji mumpung. Mereka pikir, tidak ada yang mengawasi. Mereka hanya memikirkan perut mereka sendiri dan berbuat tidak amanah.

Ajaran yang baik ini dirusak oleh umatnya sendiri!

Senin, 23 Juli 2012

Kita bahkan menyampingkan bulan suci ini

Setelah berbulan-bulan dan membiarkan ruang kebebasan ini berdebu, akhirnya saya kembali untuk mengisinya, dan menumpahkan sedikit pikiran saya kesini.

Sebagaimana ruang ini adalah ruang berekspresi, inilah tempat paling nyaman buat saya untuk mengemukakan segala hal yang tidak saya sukai dalam dunia ini. Hal-hal yang saya gak suka tapi sepertinya tidak ada yang bisa saya lakukan untuk mengubahnya.
Kali ini saya ingin menyorot soal bulan puasa. Bukan, bukan dari perspektif agama, banyak orang lain yang lebih paham mengenai itu.
Tapi benarkah di bulan ramadhan ini kita harus tetap berjibaku dalam kerasnya hidup sekeras 11 bulan lainnya? Saya pernah membaca bahwa di bulan suci ini kita sebaiknya melonggarkan pikiran duniawi, berhenti sejenak berjibaku mengejar dunia dan berkonsentrasi pada ibadah dan ibadah. Memohon ampunan dan berkah.
Sayangnya di dunia yang matrealistis ini hal itu sama sekali tidak dimungkinkan. Para perusahaan tempat kita bekerja paling-paling hanya memberi sedikit kelonggaran jam kerja setengah jam atau satu jam lebih awal. Beberapa perusahaan malah sama sekali gak ada spirit ramadhan karena mereka akan tetap bekerja lembur seperti biasanya. Dan beberapa orang malah menjadikan ramadhan sebagai ajang mengais rezeki, bukan meningkatkan ibadah. Fenomena-fenomena absurd juga terus terulang berupa banyaknya acara lawak siaran langsung pada saat sahur. Benarkah mereka sebenarnya memiliki selera untuk melucu dan berteriak-teriak di tengah malam saat orang dianjurkan untuk lebih mengencangkan ibadah? Oh tidak, uang telah membeli semuanya. Membayar semuanya.  Kapitalisme ini telah menggurita sedemikian superlatif. Dunia dipaksa berputar terus dengan kecepatan maksimum, membuat pelaku-pelakunya menjalani hari-hari penuh teror dan tekanan.
Kelezatan dari keuntungan dan segarnya guyuran uang memang telah lama membelenggu hati nurani kita dan mengaburkan makna dari bulan suci ini. Kebanyakan orang berpikir, bulan ini hanyalah bulan dimana kita tidak boleh makan dan minum di siang hari. Itu saja.
Mengapa kita tidak bisa melihat dunia pendidikan dan dunia olahraga? Mereka memiliki waktu liburan yang panjang setelah sepanjang tahun bekerja keras. Kompetisi Eropa memiliki hari libur selama 3 bulan di musim panas, dan sebulan di musim dingain. Dunia pendidikan juga seperti itu, mereka memberi libur panjang bagi siswa-siswa dan guru-guru mereka setelah sepanjang tahun berjibaku memajukan pendidikan. Mengapa industri-industri ini tidak mau mengikuti mereka?
Para pekerja hanya diberi jatah 12 hari cuti dalam setahun, itupun dengan berbagai syarat dan potongan-potongan. Mereka harus mengambil jatah cuti hanya untuk bisa pergi berlibur bersama keluarganya. Para pelaku industri ini tak ubahnya seperti mesin yang tidak boleh berhenti bekerja. Saya bukannya ingin melegitimasi bulan ini sebagai bulan untuk bermalas-malasan dan tidak bekerja. Namun tidak bisakah setidaknya kita mengerem diri dan tidak memaksakan diri bekerja hingga larut malam bahkan hingga keesokan harinya? Bukan maksud saya ingin menganjurkan untuk memasang jangkar supaya kita berhenti total, tapi setidaknya bisakah kita mengurangi kecepatan?
Anda mungkin menilai saya orang yang malas dan banyak protes karena menuliskan hal ini. Terserah, ini dunia yang bebas, termasuk bebas berpendapat. Anda juga boleh menilai saya orang yang tidak ikhlas, tapi coba bayangkan betapa lebih bermaknanya hidup ini jika semuanya tidak sekedar dinilai dari materi. Islam sebenarnya telah memberikan bulan ramadhan untuk kita berhenti sejenak dari rutinitas. Berhenti sejenak untuk beribadah kepadaNya setelah nyaris sepanjang tahun kita sering menepikanNya disamping urusan-urusan duniawi kita. Haruskan bulan suci ini kembali kita perlakukan sama seperti bulan lainnya? Sebagai penutup, saya ingin mengutip satu bait lirik dari lagu band favorit saya, Padi. "Bukankah hidup ada perhentian, tak harus kencang terus berlari."

Minggu, 14 Februari 2010

Gw Sholat kalo lagi butuh aja!!

BOLEH COPY PASTE DARI NOTES FB SEORANG TEMAN

Mohon maaf bila judulnya bikin emosi. insyaAllah isinya gak separah judulnya, itu cuman bikin penasaran aja. Saya cuman pengen berbagi, saya dapet email dari temen di sebuah milis. email itu isinya cerita begini:

Anak : Pa, solat itu buat apa sih?

Ortu : (menghardik) Udah, lu jangan tanya-tanya macem-macem.. kapir lu nanti!

Anak : (terdiam)

Belasan tahun kemudian, si anak bertemu lagi dengan saya. Mana saya tahu kalau dia dulu tunya-tanya kayak gitu kan ? Biar gampang, kita sebut aja dia Boni.

Saya : Woy, jumatan atuh.. orang-orang udah pada ngabur!

Boni : Hoream ah…. keur naon solat? (males ah, buat apa sholat?)

Saya : (untung ajah, dulu kenyang di plonco adik PAS) Dasar.. Ari kamu sholat buat apa?

Boni : Saya mah, sholat kalo butuh dong. Nggak solat kalo aku nggak merasa butuh. Solat itu harus merupakan kebutuhan, bukan kewajiban dong. Tuhan nggak butuh solat kita, yang butuh itu kita! Sekarang gua lagi nggak butuh solat, jadi buat apa gua solat. PEUN.

Saya : Itu betul, memang kita harus punya sense ‘butuh’ terhadap sholat. Tapi, menurut gua, kita tetep ‘wajib’ sholat, meskipun kita sedang tidak ‘butuh’.

Boni : Buat apa? Menurut gua, disitulah letak nggak gunanya solat.
Lebih cuih lagi, kalo orang solat buat ngejar ‘gelar’, gua paling nggak suka!

Saya : Maksud loe?

Boni : Ya itu, jenis-jenis manusia yang solatnya buat pamer, kalo dia itu paling soleh!! Menurut gua sih, kalo die solat seribu rokaat juge, kalo abis solat die korup, die membunuh, die menjelekkan orang, menggunjing, tetep aje die tu, lebih buruk, dibanding orang nyang gak solat tapi berbuat baik sama orang lain!

Saya : Lu bener di satu sisi..Orang yang menzalimi orang lain, meski solat, tetep lebih buruk dibanding yang gak solat tapi berbuat baik

Boni : Tuu, bener kan gue!

Saya : Tapi di sisi lain, lu juga salah Bon! Menurut saya nih, solat tetep wajib!

Boni : Salah gimane? Ah paling lu mau ngeluarin ayat.

Saya : Ok, kita pake akal aja. Nah, sekarang saya mau nanya neh. Gaji lu berapa Bon?

Boni : Rahasia dong.. yah oke deh, sekitar 3-an lah

Saya : Lu kerja berapa jam sehari tuh, buat 3-an itu? 8 jam sehari ada nggak?

Boni : Ya iya lah.. lebih kali

Saya : Selain itu, saya yakin kalo lu dapet segitu, karena skill dan gelar lu kan ? Gak cuma karena kerjaan lu. Yang jelas, pengorbanan lu untuk dapet gaji segitu, lebih banyak dari sekedar kerja 8 jam sehari. Bener gak?

Boni : Bener banget! Tapi segitu juga udah untung. Gua suka dapet bonus, jadi gua yah, berterimakasih banget dah, sama Boss gua. Dia care banget sih sama kita.

Saya : Nah, Bon, ngomong-ngomong lu pernah denger ada jual beli ginjal gak buat transplantasi?

Boni : Oh iya dong, gile, satu ginjal ada satu milyar kali! Gua sih nggak bakal jual. Gila aja kali! Ntar gua pake apa dong?

Saya : Nah lu dikasih semilyar, kok gak mau berterimakasih sama sekali?

Boni : Bentar-bentar gua nggak ngerti neh.. dikasih semilyar gimana?

Saya : Tuh, mata loe… harganya berapa? Ok, ginjal satu milyar kan ? Oh ya, belon ntu tuh, kuping, mulut, muka… hm, loba euy (banyak euy), semua jatuhnya berapa ya? Trilyunan tuh.
Tapi semuanya dikasih gratis…

Boni : ……..

Saya : Bon, Sekali lagi neh, menurut aku, sholat tetep wajib, karna, itu salah satu cara kita untuk berterimakasih sama Yang ngasih badan kita, rejeki kita, keberuntungan kita, yah, segalanya yang udah Dia kasih dah.

Kita rela bekerja 8 jam sehari untuk mendapatkan 3 juta rupiah. Kita sangat berterimakasih sama orang yang ngasih kita tambahan bonus sekedar seratus-duaratus ribu, tapi kita kadang lupa berterimakasih sama ’seseorang’ yang ngasih kita mata, mulut, tangan, kaki, ginjal, yang harganya jauh lebih mahal kalo kita jual. Well, bahkan bisa dibilang tak ternilai harganya. CUma orang kepepet berat atau orang bodoh yang mau jual badan dia sendiri.

Memang idealnya, orang solat tuh terhindar dari perbuatan buruk. Toh solat kan aslinya mencegah perbuatan buruk, dan membuat kita terbiasa melakukan perbuatan baik. Tapi itu kalau dia menghayati makna sholat sebagai sarana mengingat Tuhan, bukan sekedar menggugurkan kewajiban (seperti saya hehehe).

Di situasi ideal ini, selepas sholat, orang jadi mengingat kembali, betapa banyak yang Tuhan berikan dan lakukan demi kebaikan kita. Coba aja telaah arti bacaan shalat dan arti gerakan solat. So pasti lu temukan deh, banyak bacaan solat maknanya kearah ini.

Karena dia ngeh bahwa Tuhan selalu melihat, dan telah banyak berbuat buat dia, dia bakal berfikir 1000 kali buat berbuat hal yang nggak Tuhan sukai.

yah kalo solatnya sekedar nyari gelar seperti yg lu bilang sih, memang gak bakal ada manfaatnya.

Tapi lu cerdas Bon, lu juga SQ-nya tinggi, makanya lu nggak mau solat sekedar menggugurkan kewajiban. Karena itu, lu pasti ngerti bahwa solat tetep wajib, meski kita lagi nggak butuh solat. Kita wajib solat, untuk berterimakasih sama yang telah ngasih kita segalanya.

Boni : Seandainya dulu bapa gua ngejawab kayak gitu, gua mungkin gak bakal terlalu anti solat ya…

Saya :? ???

Boni : Sudahlah, gak usah dibahas… Tapi thanks ya.. gua jadi ngerti neh.

================================================== =======

yah, alhamdulilah, berkat dialog yang kacrut ini (aslinya jauh lebih ngalor ngidul dan panjang), Boni sekarang rajin shalat, dan berusaha menghayati solatnya. Semoga aku jg ketularan Boni ya

teman-teman… jangan pernah berhenti mencari jawaban tentang sesuatu yang kita nggak ngerti tentang Tuhan atau agama. Banyak orang kecewa terhadap agama (apapun), kemudian jadi atheis, atau punya sekte sendiri, cuma karena pertanyaan dia tidak terjawab.

Bertanyalah pada ulama, bila belum puas, cari ulama lain, bila nggak puas juga, layangkan email ke ulama di luar negeri. Atau berdiskusilah dengan banyak teman-teman. Jangan puas dengan hanya satu jawaban. Jadilah pencari Tuhan yang sebenar-benarnya.

Bukan pencari Kebenaran Hakiki namanya, kalo cuma ngaku-ngaku aja. jangan ngaku pencari kebenaran, kalo tak pernah mencari.

buat para ortu, jangan sampai menghardik anak bila nggak ngerti ngejawab pertanyaan. Mendingan bilang terus terang aja, kalo bapa nggak bisa, ntar kita cari sama-sama. thats it

YOURE a father NOT a superhero.

yah, semoga bermanfaat dan bisa kita ambil hikmah dari cerita ini

my opinion:
yah kita seringkali sebagai ngaku sebagai muslim tp susah bgt ngejalanin sholat 5 waktu. padahal sholat adalah tiang agama, pembeda mana muslim mana bukan muslim (gw gak akan nyebut kata2 seperti kafir). sholat adalah hal pertama yg akan dimintai pertanggung jawabannya setelah kiamat lagi. tapi ternyata bener jg klo akhlak orang sholat belom tentu bener. buktinya yah orang2 di negeri tercinta ini. mayoritas islam dan gw yakin at least setengah dari populasi negara ini rajin sholatnya, rajin ngajinya, bahkan gak sedikit yg udah hapal Al Qur'an. Tapi entah mengapa fakta2 tersebut gak juga menjadikan negeri ini makmur, malah tau sendiri klo attitude masyarakat yg notabene muslim ini malah ancur2an. tanya kenapa? mungkin mereka gak tau makna sholat sebenernya. mungkin orang tua mereka gak ngajarin apa itu arti sholat, buat apa sholat, kenapa harus sholat... dan kalo gak tau, mereka berhenti bertanya dan puas dengan apa yg udah "given". banyak yg ngerasa dengan menunaikan rukun islam saja udah bisa masuk surga dengan ditemani bidadari2. masa sih? apa iya lo bisa tau lo akan masuk surga atau neraka nantinya? surga itu milik Allah, Dialah yg berhak menentukan siapa yg masuk kedalamnya. pengkafir2an orang lain tanpa alasan itu sama sekali gak masuk akal. cobalah jangan merasa udah alim dan merasa udah baik hanya karena lo udah rajin sholat, sementara perilaku sehari2 gak mencerminkan sholaynya. elo sholat, tapi sesudah itu berzina... buat apa? atau elo sholat, tapi abis itu membunuh, abis itu korupsi... buat apa? gw rasa islam gak butuh yg begitu2an lagi. ajaran islam sangatlah simple, walaupun gak gampang juga untuk dimengerti. mungkin inilah kesalahan dari pengajaran agama islam disini, maaf bukan sok tau tapi kebanyakan muslim disini adalah karena orang tuanya juga muslim, bukan karena melakukan pencarian Tuhan yg sebenarnya lalu berkonklusi bahwa islam adalah agama yg dia pilih. maaf2 aja pula kalo mungkin kita sebagai generasi muda islam juga perlu membersihkan nama kita dari tudingan2 miring soal islam dewasa ini terhadap anak cucu kita kelak. kenapa kita dicap agama teroris, kenpa sekarang dimana2 gak aman, dsb. Waktu kita adalah sekarang untuk mengubah semua pandangan negatif itu, kawan. marilah jadi muslim yg sejati, yg memberi manfaat bagi orang lain, yg memberi sumbangsih positif bagi dunia ini, bukannya membuat agama kita jadi dibenci... mungkin bisa dimulai dengan lebih menghayati sholat kita, marilah kita hayati segenap bacaannya, gerakan2nya, renungkan artinya...

udahlah, sekarang kita gak usah urus urusan agama lain. mulailah pada diri kita masing2, mulailah pada sholat kita.

Keep searching, kawan... demi kebenaran yg sejati.