Tampilkan postingan dengan label Ringan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ringan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 14 Oktober 2018

Karena Jakarta Memang Keras

Beberapa waktu silam sempat baca thread di Twitter tentang kerasnya hidup di beberapa kawasan di Jakarta. Buat anak yang hidup normal dari kecil, lalu sekolah dengan bener, lalu dapet kerjaan di perkantoran mewah, mungkin hal-hal begini gak pernah ditemui, hanya sebatas dengar cerita orang lain. Buat yang kesehariannya kerja di kantoran mewah, lalu menghabiskan weekend nongkrong di mall besar, tinggal di perumahan mewah atau apartemen yang selalu dijaga satpam, mungkin kerasnya ibukota hanya mitos.

Tapi pasti ada aja lah pengalaman-pengalaman menyebalkan sekaligus ngeri-ngeri sedap meski hanya sesekali. Misalnya ketika kebetulan harus naik kendaraan umum karena suatu keperluan mendesak, ketika tidak sengaja berjalan melewati pasar atau terminal, ketika transit di stasiun untuk menuju ke suatu tempat, atau ketika terpaksa berjalan menyusuri titik-titik yang dikenal rawan kejahatan.

Tatapan-tatapan kosong tak bersahabat, maling-maling kelas teri yang senantiasa mengincar apa yang kita kenakan bagai gerombolan hyena, hingga polah preman yang memang selalu ingin mencari masalah. Inilah yang harus siap kita hadapi sebagai pengais rejeki ibukota.

Gua sendiri punya beberapa pengalaman soal itu. Gak banyak sih, dan mungkin buat elo yang baca, mungkin gak seberapa.

Preman di Stasiun Juanda
Banyak sekali kejahatan terjadi dengan latar belakang stasiun kereta. Waktu stasiun dan kereta rel listrik Jabodetabek belum serapi sekarang, gerbong kereta dan stasiun kereta adalah rumah bagi bermacam-macam orang. Pedagang asongan, pengamen, pengemis, preman, pengangguran, tukang parkir, anak punk, alay, anak sekolah, karyawan, orang tua. Ada pula suara tangisan bayi, pekikan emak-emak bercampur jadi satu dalam etalase komunal yang membikin hati tidak nyaman. Jangan pula coba-coba masuk ke toiletnya.

Waktu masih SMA, gue dan beberapa kawan pengen nyari sepatu di daerah Pasar Baru, makanya gue naik kereta sampai stasiun Juanda supaya ngirit ongkos dan waktu tempuh. Baru aja turun, suasana di stasiun udah bikin kewaspadaan meningkat. Bau pesing bercampur bau sampah makanan-makanan busuk sudah menyambut ketika baru melangkahkan kaki ke peron. Sejauh mata memandang, banyak gelandangan tidur di bangku besi atau bersandar seadanya di pilar-pilar. Lalu di tangga, banyak pengemis duduk berbaris. Di lantai bawah, ada sekelompok bapak-bapak main catur sambil memegangi puntung rokok yang sudah mau habis, sekelompok tukang ojek main gaple sambil teriak-teriak, anak-anak kecil berlarian sambil saling berteriak dengan makian kasar, juga preman-preman lokal yang memerhatikan penumpang yang baru turun.

Gue menangkap beberapa pasang mata preman itu mengintai kami, anak-anak sekolah lugu yang seperti mangsa lemah bagi mereka. Benar saja, ketika mendekati pintu keluar, salah seorang preman yang usianya seumuran kami memanggil-manggil dari kejauhan. “Woi! Woi! Anak mana lo pada? Ayo pada ke sini!” 

Sebuah panggilan familiar buat kami, anak-anak sekolah 90an yang sering menghadapi teror pemalakan dari anak sekolah lain atau dari preman sekolah yang sedang mencari jati diri. Kami mempercepat langkah. Si preman pemula tahu gelagat kami yang berusaha kabur. Tak mau kehilangan mangsa dan gagal dalam proses inisiasi di tongkrongan, dia mulai berlari kecil. "Senior-seniornya" hanya memerhatikan dari jauh. Mendengar langkah itu, kami bergegas masuk ke komplek pertokoan Pasar Baru yang ramai. Kami berhasil lolos, sementara si preman bau kencur itu mengoceh dan mengancam. “Awas lu pada nanti ye, gue tungguin lo di pintu keluar!”

Ancaman itu membuat perasaan tidak tenang. Kami lalu mencari-cari rute lain untuk jalan pulang dan memilih naik bus Patas AC buat pulang ke rumah.

Sopir Taksi Jagoan
Masih di stasiun, kali ini kejadiannya di stasiun Jatinegara. Gue bersama keluarga ketika itu baru pulang dari Surabaya. Bokap memang gak biasanya ngajak turun di stasiun ini, karena biasanya kami turun di Gambir. Alasannya lebih dekat menuju ke rumah. Kami pun mendapati suasana kumuh di stasiun itu, berbeda jauh dengan di Gambir.

Baru kami turun dan hendak mencari taksi, bapak-bapak paruh baya menawarkan ‘bantuan’. Ia lalu membawa kami ke sebuah taksi yang bukan Blue Bird. Ketika sampai, sopir taksi bermata sayu ini hanya diam saja. Ia tidak membantu membawakan barang, dan ketika kami masuk pun ia sama sekali gak tersenyum. Gue mulai merasa khawatir.

Keanehan berlanjut. Setelah menyalakan mesin, si bapak-bapak calo tadi mengetuk jendela sopir dengan kasar, yang kemudian dibuka dengan gestur malas dari si sopir sayu. Si sopir lantas mengeluarkan uang seribuan untuk si calo, yang langsung dibalas dengan gebrakan. “Kok cuman seceng? Kurang nih!” bentak si calo. “Ah bacot lo!” Si sopir taksi yang tadinya tak bersuara tiba-tiba berteriak seperti itu sembari melemparkan uang logam seratusan ke arah si calo dengan kasar. Gue yang duduk di kursi depan kaget, sementara bokap dan nyokap mencoba menyarankan si sopir untuk memenuhi permintaan si calo.

Tapi si sopir tetap bergeming. Ia malah bergegas jalan, kali ini sambil mengeluarkan makian selangkangan ke si calo, yang kemudian dibalas dengan pukulan ke body mobil. Taksi pun meninggalkan stasiun Jatinegara dengan tergesa, dan gue terdiam. Baru beberapa detik menginjakkan kaki di Jakarta udah ketemu beginian. Beginilah wajah asli kota ini.

Sepanjang jalan, si sopir taksi sama sekali gak mengajak ngobrol. Ia nampak masih kesal. Tambahan lagi, kelihatannya doi baru mengalami malam yang berat. "Mungkin baru ribut sama istrinya," batin gue. Cara menyetirnya jadi ugal-ugalan, tapi gue gak berani negor. Paling-paling hanya nyokap gue yang sesekali memekik karena ketakutan, dan bokap gue sesekali ngingetin dia untuk pelan-pelan. Tapi tetap aja si sopir jagoan ini gak menggubrisnya.

Untungnya, perjalanan ini berhasil kami lalui dengan selamat sampai di rumah. Nyokap pun langsung protes ke bokap. “Udah deh, lain kali turunnya di Gambir aja.”

DVD Binatang di Glodok
Dulu pas eranya DVD dan VCD, banyak yang berburu film porno di kawasan Glodok. Bener aja, pas gue ke sana bareng teman-teman, kepingan DVD bercover gambar porno ini sampai berkarung-karung banyaknya. Dijual murah pula di tempat emperan pinggir jalan. Kalo gak salah, harganya cuma 4 ribu rupiah per keping.

Ada satu teman gue yang tergoda untuk beli, tapi dia kemudian kecele karena begitu dipasang di pemutar film, isinya adalah video kehidupan aneka binatang, beda jauh dengan covernya. Padahal, tempat yang beneran jual film biru itu letaknya agak masuk ke dalam, dan film-film itu letaknya disamarkan dengan film-film normal lain. Harganya pun lebih mahal, di kisaran 10 ribu - 20 ribu per keping.

Anak Orang Kaya Manja Setan Jalanan
Pernah suatu kali gue pulang larut malam sekitar jam dua pagi karena harus menyelesaikan pekerjaan mendadak di kantor. Saat itu gue bawa mobil sendirian. Lagi enak-enak nyetir dengan kecepatan sedang di dekat Pasar Rumput, mobil di belakang gue main-mainin lampu dim. Gue waktu itu di ruas kanan. Bukannya dia lewatin gue dari kiri, dia malah terus main-mainin lampu jauh supaya gue yang minggir.

Karena lagi malas meladeni, gue pun mengalah dan minggir. Mobil geblek itu pun melewati gue sambil main-mainin pedal gas.

Tibalah gue di sebuah lampu merah, dan gak taunya mobil laknat itu sedang berhenti. Saat sejajar, gue sempat tengok ke kaca mobil itu, yang ternyata gelap. Gue gak mikir macem-macem sampai kemudian dia kembali mainin pedal gas. Norak banget, kaya anak kecil baru pertama kali nonton Fast & Furious.

Lampu berganti hijau, dia tancap gas dan ngebut. Gue cuma geleng-geleng lalu kembali ambil jalur kanan.

Eh gak lama kemudian, gue melihat lagi mobil sinting itu berjalan pelan di jalur kiri. Gue lewatin aja dong, walau pikiran mulai was-was. Bener aja, beberapa detik kemudian si jahanam kembali beraksi main-mainin lampu dim. Kali ini gue mulai kesel, dan gue bersikeras gak mau minggir. Gitu terus kejadiannya sampai lampu merah lagi. Dia kembali menyejajarkan mobilnya dengan gue, tapi tetep gak buka kaca, hanya main-mainin pedal gas.

“Dasar anak kecil cemen. Mungkin di sekolahnya dia terlalu sering kena bully kakak kelas.”

Dia pun terus melakukan itu. Mengintimidasi dengan lampu dim dan mengikuti gue sampai ke Depok! Gue pun berencana ngerjain anak ileran ini dengan membawanya ke daerah dekat rumah dan gue supaya dia kesasar biar tau rasa. Untungnya dia kayaknya udah bosen dan mungkin dia sadar karena udah main kejauhan. Mungkin juga udah ditelpon sama bokapnya yang nyariin mobilnya. Pas gue akhirnya belok ke arah jalanan dekat rumah, dia pun gak ikutan belok. Pastinya dia tersadar tiba-tiba sampai di planet Depok. Lumayan deh, gue jadi gak ngantuk, dan tanpa gue sadari, hanya setengah jam gue habiskan perjalanan dari kantor ke rumah, padahal biasanya satu jam lebih. 

Sebetulnya masih ada pengalaman-pengalaman unik lain. Contohnya: Sekelompok preman menyiram kaca dengan air sabun keruh dan memaksa minta duit, tukang parkir yang seenak jidatnya minta bayaran 20 ribu, pemotor yang nabrak spion tapi ketika diklakson langsung mengacungkan jari tengah, anak-anak kecil yang menunggui gue selesai makan lalu meminta sisa tulang ayam, aktivis kampus bohongan dengan jaket seadanya yang meminta-minta uang untuk membantu korban bencana, para pengemis yang menggunakan monyet untuk meminta-minta di dekat pintu tol, abang opang di kawasan industri yang terlihat gusar ketika tahu gue menggunakan ojek online, gerombolan berpeci yang menggetok mobil taksi yang gue tumpangi karena mereka anggap menghalangi jalan, mas-mas alim yang masih keranjingan judi bola, seorang mantan teman kantor yang dipenjara gara-gara menggelapkan uang klien, expat mantan kantor yang hobi bawa mbak-mbak idabul ke dalam ruangan kerjanya, sopir taksi bapak paruh baya yang dikasih tau jalan malah ngeyel dan marah-marah gak jelas, sopir ojek yang ngajak ngobrol terus-terusan ujung-ujungnya minjem duit dan ugal-ugalan ketika gak dikasih pinjem, penjaga toko yang judes dan sering ribut soal uang kembalian, operator pom bensin yang ngakalin meteran bensin, operator pintu tol yang sengaja ngejatohin uang kembalian, mekanik bengkel yang suka nawarin suku cadang "belinya lewat saya aja, mas", sopir taksi yang marah ketika uang kita kegedean, sopir taksi yang ngoceh gak habis-habis ketika diminta mengantar ke jalan tembus yang sempit, motor yang lewatin trotoar dan lebih galak ketika ditegor, preman komplek sok galak di komplek (tapi cemen di luar komplek), pak ogah yang memaki ketika gak dikasih uang, tukang parkir minimarket yang menyumpahi tabrakan ketika gak dibayar oleh seorang ibu-ibu motor matic, peminta sumbangan bermodal map lusuh dan kertas entah asli atau bohongan, pengamen yang cerita baru keluar dari penjara, mbak-mbak penjaga toko baju metal yang minta nomor henpon, tukang tambal ban yang menolak kerjaan dengan alasan sudah malam, bapak-bapak yang pura-pura salah ambil tas di restoran, bapak-bapak yang asal ambil koper di bagasi bandara, bapak-bapak komplotan copet henpon di angkot, dan lain-lain. 

Bad souls di Jakarta inilah yang ikut membentuk Jakarta yang keras. Mereka di sekitar kita, dan karena itu kita harus 'sadar ruang'.

Minggu, 23 September 2018

Hilangnya Sebuah Kehilangan Besar

Pada suatu sore yang sejuk, gue sudah berseragam lengkap di pinggir lapangan sepak bola. Mamang manajer tim meminta gue bersiap-siap untuk masuk. 

"Dit, sana pemanasan, bentar lagi elu masuk," pintanya. 

Gue pun bersiap mengenakan sepatu berwarna putih yang sudah kesempitan, juga kaus kaki yang tidak standar karena terlalu pendek. Kardus air mineral pun gue sobek untuk gue jadikan pelindung kaki karena gue gak bawa. Gue pun bangkit melakukan pemanasan seperti layaknya atlet betulan sambil sesekali menengok ke arah penonton yang mulai membludak. Seperti ingin menyapa mereka, atau sekadar melambaikan tangan seperti seorang superstar. Tapi niat itu gue urungkan, dan itu sama sekali tidak gue sesali.

Tapi sejurus kemudian, ketika si Mamang bersiap menyerahkan secarik kertas pergantian pemain untuk diberikan kepada panitia pertandingan, gue mendadak berubah pikiran.

"Bang, gue kagak jadi main deh."
"Lah, emangnya ngapa?"
"Kagak ngapa-ngapa, ngasih kesempatan aja buat yang muda-muda"

Mamang manajer yang juga didampingi Pak RW pun hanya menggeleng-geleng melihat kelakuan gue ini. "Ah elu. Bisanya ngeles doang." Gue pun nyengir-nyengir.

Mungkin ini telat banget, tapi ketika selangkah lagi melangkah ke lapangan, tiba-tiba gue seperti kembali ke dunia nyata. 

Pikiran kembali ke kubikel kantor, laptop, dan ordner. Bayangan kehidupan monoton penuh dengan kepura-puraan itu. Tapi ya namanya juga butuh.

"Kok bisa-bisanya di umur segini gue melakukan aktivitas fisik yang terlalu berat saat berakhir pekan. Badan mulai melebar dan memasuki fase degeneratif, rapor merah di medical report...bisa-bisa gue ambrol di tengah lapangan. Hmm, tapi gue harus sok cool dan gak banyak omong soal ini." Pikir gue dalam hati.

Gue pun kembali duduk, melepas sepatu, mengganti kaus, membeli telor gulung dan menyesap kopi sachet (gak mau main bola, tapi makan sembarangan. Sama aja dong, Maleehh), lalu menikmati jalannya pertandingan sebagai penonton. Nyaring sekali terdengar suara pemandu pertandingan berlogat Betawi-Depok yang begitu kocak terdengar. Juga terdengar sayup-sayup pekikan dan teriakan emak-emak yang khawatir anaknya kena sleding. Man, betapa indahnya sore itu. Kadang, elo hanya harus menikmati hal-hal kecil untuk mengadapi permasalahan besar seputar menjadi orang dewasa. Kejujuran, spontanitas, dan tertawa lepas memang obat mujarab setelah sehari-hari jaim dan bermain peran menghadapi orang-orang, yang sebetulnya tidak ingin kita hadapi.

Tapi hal ini juga membuat gue berpikir keras. Sepuluh-lima belas tahun lalu, gue bisa memohon-mohon untuk bisa main di lapangan ini di hadapan banyak orang, tapi ketika kini kesempatan itu datang, gue malah melewatkannya. Agaknya, impian ini sudah lama terevisi, dan kejadian ini hanya memberi afirmasi saja.

Gue tahu, saat itulah gue sudah kehilangan sebuah kehilangan besar. Ini senada dengan judul sebuah artikel bucin dari buku serial Chicken Soup yang gue baca pada tahun 90an akhir. Sebuah cerita yang intinya tentang cowok yang nyesel karena gak berani ngajak jalan gebetannya. Kala itu, gue membaca artikel itu untuk meyakinkan diri dan berani mendekati gebetan. 

Dan, gue sekilas menertawai diri kenapa dulu sempat jadi bucin. Untung aja gak sempat jadi seperti si Bujang Rimba, yang sering muncul di iklan pas lagi nonton Youtube itu.

Balik lagi ke soal hilangnya sebuah kehilangan besar tadi, gue baru sadar bahwa gue kini sudah sangat kehilangan rasa kehilangan tidak main sepak bola. 

Menjadi dewasa telah membunuh keinginan-keinginan lain yang dulunya mudah saja untuk dilakukan. Terlalu banyak pertimbangan, terlalu banyak kekhawatiran, terlalu banyak pikiran ini-itu, yang padahal belum tentu terjadi. Tidak lagi mau bermain bola semakin menegaskan hal itu. 

Pada akhirnya, gue punya versi sendiri tentang "Hilangnya Sebuah Kehilangan Besar." bedanya, ini bukan lagi soal bucin seperti dulu. Lebih gawat lagi, ini sudah seperti membuang separuh jiwa jauh-jauh demi mempertahankan eksistensi sebagai a professional pretender.


Selasa, 11 Juli 2017

Memaknai Sharpen the Saw Melalui Hiatus

Teman-teman tentu tahu tentang cerita berjudul Sharpen the Saw, salah satu dari cerita yang menjadi isi dari buku pengembangan manajerial ternama berjudul 7 Habits of Highly Effective People karya Stephen Covey yang legendaris itu.

Sharpen the Saw, atau jika diterjemahkan bebas menjadi Mengasah Gergaji, menjadi habit atau kebiasaan nomor tujuh yang direkomendasikan penulis untuk menjadi orang (pemimpin) yang efektif. Tolok ukur efektif sendiri sudah jelas, yaitu orang ini mampu mengerjakan tugas demi tugasnya dengan cerdas, dengan memanfaatkan seluruh sumber daya serta teknologi yang dimiliki, dan yang karena itulah upaya yang dilakukannya lebih minim. Seringkali kualitas pimpinan dinilai dari seberapa efektif ia menyelesaikan tugas (kualitas), dan seberapa banyak yang mampu ia selesaikan (kuantitas).

Diletakkannya Sharpen the Saw di urutan terakhir bisa berarti macam-macam. Saya sih belum pernah membaca lengkap buku itu, belum pernah juga mengikuti pelatihannya. Tapi kalo saya tebak-tebak, bisa jadi karena kegiatan ‘mengasah gerjaji’ ini adalah sesuatu yang perlu dilakukan setelah membiasakan diri pada enam habits sebelumnya, yaitu be proactive, begin with end in mind, put first thing first, think win-win, seek first to understand then to be understood, dan synergize.

Keenam habits itu perlu dipertahankan, diperkuat, dipertajam. Ini memerlukan habits ketujuh, yaitu sharpen the saw tadi.

Kalau boleh saya ceritain secara singkat, ceritanya pada suatu malam, ada dua orang, satu masih muda dan yang lain sudah agak tua. Mereka sedang berlomba memotong pohon. Siapa yang lebih banyak memotong pohon ketika pagi tiba, dia yang menang.

Si muda tentu memiliki tenaga lebih besar. Tanpa banyak basa-basi, dia mulai memotong pohon dengan gergajinya. Satu demi satu pohon berjatuhan. Ia di atas angin. Sementara yang agak tua, ia juga memotong pohon dengan gergajinya. Tapi karena tenaganya kalah kuat, hasilnya tentu lebih sedikit daripada si muda.

Melihat hal itu, si anak muda makin percaya diri. Ia terus melakukan apa yang ia lakukan: memotong pohon tanpa henti, meski kecepatannya mulai menurun karena ia mulai kelelahan dan gergajinya mulai aus. 

Apa yang dilakukan oleh si agak tua? Ia berhenti sejenak. Si anak muda pun bingung dibuatnya, tapi ia malah tertawa dan terus memotong. Ia malah merasa saingannya itu sudah menyerah. Tapi ternyata, si pria agak tua itu sedang berhenti untuk beristirahat, lalu mengasah gergajinya. Setelah cukup beristirahat dan gergajinya berfungsi normal, ia kembali memotong pohon.

Beberapa jam kemudian, ternyata si pria muda tertidur saking lelahnya. Gergajinya juga sudah tumpul, akibatnya tidak bisa digunakan untuk memotong pohon. Sementara pria yang agak tua tadi masih sibuk menggergaji. Tenaganya masih ada, dan kondisi gergajinya tetap prima. Semua itu karena ia rajin mengasah, juga memberi waktu dirinya sendiri untuk beristirahat.

Kenapa sharpen the saw demikian pentingnya. Karena tidak lain, kita terkadang merasa lupa untuk mengembangkan diri. Sharpen the saw adalah manifestasi dari banyak hal rutin yang biasa kita temui sehari-hari. Hal-hal biasa yang sudah kita pahami, tapi karena rutinitas yang terlalu padat, kita kadang lupa lakukan pengembangan. Misalnya saja, kita berprofesi sebagai akuntan. Setiap hari kita akan menghadapi rutinitas akuntansi yang itu-itu saja. Jika kita tidak mengasah diri, misalnya mengikuti training, maka boleh jadi kemampuan kita tidak terasah, dan lama-lama menjadi tumpul.

Itu kalau akuntan. Lain lagi dengan profesi yang lebih mengandalkan otak kanan seperti pemain teater, musisi atau penulis. Memang pekerjaan-pekerjaan itu butuh latihan, belajar, dan berguru yang kontinyu demi meningkatkan kualitas. Tapi kalo dari pengalaman saya, ada hal yang tidak kalah penting selain terus berlatih, belajar dan berguru. Hal penting ini adalah beristirahat, seperti si penggergaji tadi. Atau istilah lainnya: hiatus.

Hiatus berarti mengerem sejenak. Bahkan untuk beberapa contoh, berhenti sempurna. Parkir. Pokoknya, ‘menghilang’ dulu. Mengistirahatkan otak kanan. Karena menggunakan otak kanan jelas berbeda dengan otak kiri. Jika otak kiri yang rasional akan senang-senang saja untuk mengerjakan yang rutin, otak kanan tentu berbeda. Untuk mendapatkan hasil yang lebih baik, otak kanan perlu diberi waktu istirahat yang cukup, dan berapa lamanya, tergantung masing-masing orang.

Salah seorang teman saya yang hobi menulis pernah mengalami hiatus ini selama beberapa bulan. Namun kemudian setelah ia ‘kembali’, langsung menghasilkan karya berupa buku. Begitu juga teman saya yang lain. Ketika aktivitas menulis membuatnya lelah, ia lantas berhenti. Tidak tanggung-tanggung, ia baru mulai menulis lagi setelah dua tahun! Ada lagi teman saya berikutnya. Dulunya ia cukup rutin menulis, tetapi kemudian ia mengalami kejenuhan luar biasa yang membuatnya ‘menepi’. Tapi setelah sekian lama, lebih dari dua tahun, ia tidak lagi menulis. Belakangan, saya baru tahu kalau ia berganti hobi, yaitu memotret. Kalau yang ini sih namanya bukan ‘mengasah gergaji’, tapi memang sudah bosan.

Saya toh merasakan juga pentingnya hiatus ini dalam beberapa hal. Bahkan untuk hal-hal yang di luar dari pekerjaan seniman. Ketika bekerja di kantor misalnya, diberikan jatah cuti. Gunanya jelas untuk menyegarkan pikiran dan menghilangkan penat. Tapi kok penat saya gak hilang-hilang walaupun sudah cuti?


Hmm… Oke itu adalah masalah saya yang tak kunjung terpecahkan, tapi untuk saat ini saya tidak ingin bicarakan.

Senin, 30 Januari 2017

Dilarang Gondrong

Aku melangkah dengan malas sehabis bercermin. Tidak ada yang salah, hanya saja rambutku sudah terlalu panjang untuk ukuran seorang pekerja kantoran yang sehari-hari bekerja di gedung pencakar langit yang diisi orang-orang rapi.

Ini berarti, aku harus pergi ke tukang cukur rambut. Oh iya, rasanya sudah tiga bulan aku tidak mencukur rambutku. Bagi pria, terang saja menimbulkan efek semigondrong dan kesan urakan. Jenis yang tidak diinginkan di kebanyakan dunia korporasi. Tidak mengapa kamu bekerja dengan performa buruk asalkan rambutmu tertata rapi dan pendek. Jika rambutmu panjang, maka menyalahkanmu akan semakin gampang. 'Kamu terlalu banyak bersolek, jadinya lupa dengan tenggat waktu.' Atau kalimat seperti 'Poni rambutmu menghalangi pandangan ke kertas kerja.'

Aku memang lebih suka memanjangkan rambut. Itu sudah sejak lama. Aku tidak tahu persis alasannya. Jika dibilang banyak musisi rock--yang notabene genre favoritku-- berambut gondrong, ternyata tidak juga. Contohnya James Hetfield, si vokalis band Metallica, sekarang lebih sering tampil dengan rambut pendek. Jadi, perkara memanjangkan rambut betul-betul preferensi pribadi bagiku, dan itu sifatnya sangat subjektif.

Aku melangkah dengan malas menuju tempat pangkas rambut. Di sana, si Mamang yang asli dari Garut bertanya padaku soal rambutku mau dipotong model apa. Aku jelas tidak menyukai model kekinian--yang tipis di pinggir tapi dibelah pinggir di tengah, plus diberi pomade atau gel--makanya aku bilang padanya untuk merapikan saja rambutku.

Sampai tiga kali kuingat ia bertanya "Mau ditipisin lagi apa nggak, Mas?" dan tiga kali pula aku menjawab tegas dengan kata "Tidak!" Mungkin ia sengaja bertanya berulang kali untuk menggoyahkan pendirianku yang menolak potongan rambut model kekinian. Si Mamang mungkin sebal dengan orang seperti diriku. Jika saja semua orang berpikiran sepertiku, rasanya permintaan akan tenaga tukang cukur rambut akan sedikit. Dan karena faktor ini pula lah, aku tidak memiliki tukang cukur favorit. Bagiku, tempat pangkas rambut mungkin sama saja ngerinya dengan tempat praktik dokter gigi bagi anak kecil.

Entah kapan aku bisa berada di lingkungan kerja yang tidak mempermasalahkan potongan rambut. Kali terakhir aku membiarkan rambutku gondrong adalah saat di bangku kuliah, dan hingga saat ini momen itu belum lagi terulang. Yeah, memang agak aneh bagi orang-orang yang bekerja di bidang keuangan sepertiku untuk memanjangkan rambut, seolah di kantor selalu ada papan tak terlihat bertuliskan "Dilarang Gondrong!"

Kamis, 28 April 2016

Kuadran Kehidupan



Kuadran 1: Hanya dalam mimpi saja
Jadi filantropis

Kuadran 2: Sedikit ngayal
Jadi pengusaha sukses yang bisa bantu banyak orang

Kuadran 3: Nekat
Balik lagi ke dunia konsultan pajak yang kerjanya capek tapi karirnya lancar dan duitnya banyak..

Atau, tambah pengalaman kerja sebagai accounting/finance supaya bisa jadi finance controller atau CFO.

Kuadran 4: Realistis
Jadi tax manager di perusahaan sampai pensiun. Kadang sibuk banget kadang enggak. Entah bertahan di perusahaan sekarang, atau pindah ke perusahaan lain.

 ***

Beginikah kuadran hidup saya? Duh, sampai sekarang masih aja galau-galau gak jelas di kuadran 4.

Senin, 04 April 2016

Truk Gandeng



Mengapa ajang-ajang besar olahraga diadakan secara empat tahunan? Bukan tiga, dua atau malah setiap tahun? Kalau membaca sejarahnya, mungkin akan terasa membosankan, tapi kurang lebih alasannya adalah karena sudah tradisi. Olimpiade sebagai kejuaraan olahraga antarnegara tertua di dunia sudah menggunakan format empat tahunan ini, yang kemudian turut diadopsi oleh kejuaraan-kejuaraan sepak bola dunia seperti Piala Dunia, dan kejuaraan antarbenua lainnya.

Empat tahun dirasa cukup ideal untuk mempertemukan lagi atlet-atlet yang bertanding. Dalam waktu empat tahun, rasa penasaran yang timbul sudah mencapai puncak, keinginan untuk menjadi juara sudah menggebu-gebu, dan persiapan sudah sangat matang. Kejuaraan yang seru dan kompetitif adalah hal yang dicari, yah meskipun dalam rentang empat tahun sudah pasti akan banyak yang berubah. Pelatih berubah, anggota tim berganti.

Kebetulan, empat tahun juga menjadi rentang waktu yang paling lama bagi saya untuk bekerja di sebuah perusahaan. Di tempat kerja saya yang sebelumnya, saya bertahan selama empat tahun tiga bulan. Pada hari-hari terakhir di sana, saya sudah merasakan kejenuhan luar biasa dan kehilangan motivasi bekerja. Saya merasa mentok, tidak dapat berkembang dan ujung-ujungnya sudah tidak betah.

Saya kemudian pindah ke tempat kerja sekarang, dan tanpa terasa kini sudah empat tahun saya bekerja di sini. Cukup lama, dan ternyata sekarang saya mulai dihantui perasaan yang sama seperti saat tahun terakhir di kantor lama.

Bosan. Mentok.

"Ku jemu dengan hidupku
Yang penuh liku-liku.."

"Kerja keras bagai kuda
Dicambuk dan didera
Semua tak kurasakan
Untuk mencari uang"

"Kurasa berat... kurasa berat
Beban hidupku..."

"Ku tak tahu... ku tak tahu
Ku jemu!"

Kali ini tentu saja situasinya berbeda. Banyak kesempatan memang, tapi pertimbangannya juga banyak. Sudah terlalu banyak perubahan dalam empat tahun ini, dan perubahan-perubahan ini ternyata membuat saya semakin sulit bergerak. Ibarat mobil, saya sudah bukan lagi mobil sedan yang bisa seenaknya melaju, mengerem, berbalik arah atau mencoba-coba jalan yang baru. Saya kini sudah seperti truk gandeng yang lamban, yang muatannya banyak dan berat, yang hanya bisa melewati jalan tertentu, yang tujuannya sudah ditetapkan oleh majikan...

Oke, itu pembahasan yang berbeda..