Rasanya belum beberapa hari sebuah pengumuman dibuat oleh salah satu restoran waralaba terkenal dari sebuah negara maju. Bahwa mereka, yang mengklaim sebagai pemilik asli resep ayam goreng tepung garing ini mengeluarkan varian saus baru. Setelah varian saus keju cair mereka keluarkan sekitar tahun lalu (dan menurut saya sih fail), kini mereka--seolah tidak kapok--malah mengeluarkan saus dengan rasa coklat.
Ya, coklat. Rasa manis bercampur gurih dan sedikit pahit khas coklat cair ini akan berpadu dengan rasa gurih, asin, garing, dan tekstur basah karena rendaman minyak goreng yang menjadi khas dari ayam goreng tepung ini. Buat gue sih, membayangkannya saja sudah bikin bergidik. Walaupun kemudian setelah banyak yang mencoba, coklat itu tidak berasa manis, tetapi pedas seperti layaknya saus sambal.
Memang sudah banyak jenis kuliner yang jelas-jelas menyalahi pakem dan "kodrat". Mulai dari martabak yang diberi topping macam-macam, sate ayam yang asin, keju yang menjadi bahan dasar kue bolu (bukannya pelengkap), hingga mie instan yang dibuat dengan rasa macam-macam telah mewarnai khazanah kuliner jaman now yang unik sekaligus nyeleneh.
Sesuai dengan pola pikir out of the box ala Generasi Millenial, Generasi Z hingga kids jaman now, sekarang udah gak jamannya lagi menjadikan bahan terenak dari makanan sebagai pelengkap. Dulunya keju atau coklat menjadi pelengkap kue dengan bahan adonan yang cenderung plain. Karena itu, kita akan lebih menantikan saat-saat menyenangkan yaitu menggado keju atau coklat yang terdapat di pinggiran kue. Karena memang sensasi menyantap keju dan coklat timbul karena begitu jarang dan sedikitnya bahan itu dalam sepotong kue yang kita makan. Ada konsep menunggu dan bersabar yang dimainkan di sini.
Bahan yang sedikit dan jarang tapi nikmat inilah yang dieksploitasi oleh pembuat kue untuk memainkan perasaan si penyantap kue. "Kalau mau ngerasain nikmatnya coklat atau keju, habiskan juga bolu yang rasanya plain ini".
Sekarang kan beda. Dengan prinsip life to the fullest yang diusung manusia-manusia modern, mereka sudah tidak mau lagi merasakan makanan yang rasanya datar, lalu menyisakan bagian enak di ujung. Kalau memang keju dan coklat bisa dijadikan bahan inti, kenapa tidak? Kalo emang rasa enak bisa dimunculkan terus dari awal hingga akhir, kenapa harus dijatah?
Jadinya sekarang, seluruh proses pencernaan mekanik yang dilakukan oleh mulut dan gigi kita berisi substansi-substansi "berat" yang rasanya kuat. Sehingga bagi kita yang tidak terbiasa, akan mudah sekali menimbulkan rasa begah.
Kembali ke si ayam goreng tepung, kini mereka menambah ramai khazanah kuliner dengan prinsip rasa yang dibikin "tabrak-menabrak" dengan kehadiran saus coklat. Rasa asin, gurih, manis, pedas dan pahit akan bertemu dalam satu ruangan di lidah, ditambah aroma coklat yang bertabrakan dengan gurihnya tepung dan renyahnya rendaman minyak goreng. Lidah kita inilah yang akan memberi pesan kepada otak tentang bagaimana rasanya sajian baru ini, apakah enak atau tidak.
Tentunya, semua orang memiliki selera yang berbeda, dan satu realita yang memang mengesalkan: kita tidak bisa menghakimi hal subjektif yang sudah menyangkut selera. Seberapapun anehnya orang ini memakan ubi goreng dengan saus sambal, atau memakan tahu goreng dengan gula halus, atau mencocol pizza dengan kecap manis.
Sekarepmu lah, coy!
Tampilkan postingan dengan label Food. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Food. Tampilkan semua postingan
Rabu, 01 November 2017
Jumat, 13 Mei 2016
Bubur Ayam
“Bubur ayam!” Begitulah jawaban
saya ketika ditanyakan pilihan menu sarapan pagi, apapun tandingannya. Misalnya
ketika diminta memilih “mau sarapan telor dadar, nasi uduk, lontong sayur, nasi
goreng atau bubur ayam?”
Untuk persoalan ini, otak saya
telah meringankan pekerjaannya dengan secara otomatis memilih bubur ayam.
Buat saya, bubur ayam juga bisa
dinikmati pada malam hari saat perut masih lapar-lapar nanggung. Untuk
mengenyangkan perut, saya biasa mampir ke kios bubur ayam dekat rumah sebelum
pulang.
Bubur ayam amat jarang menjadi
teman bersantap siang, karena memang jarang yang menjual bubur ayam siang hari.
Bubur ayam juga jarang saya konsumsi ketika bepergian bersama keluarga di akhir
pekan, karena biasanya kami mencari makanan nasi atau mie. Karena itulah tempat
makan bubur ayam favorit saya tidak jauh dari sekitaran tempat tinggal, yaitu
di daerah Depok.
Sepanjang yang saya pernah lihat,
kebanyakan bubur ayam di Depok berasal dari Cirebon. Bubur ayam Cirebon ini memiliki
ciri kaldu yang bersantan plus kecap asin sebagai pelengkapnya. Lalu untuk topping, dicampurlah bawang goreng, daun
seledri, kacang kedelai dan suwiran ayam yang banyak/sedikitnya tergantung
kemurahan hati si Abang. Tidak lupa kecap manis, sambal, kerupuk dan emping sesuai
selera. Secara tampilan, bubur ayam ini begitu sembrono, berantakan dan
merakyat. Apalagi dalam meracik semangkuk bubur ayam, si abang tidak
menggunakan apapun untuk menutupi tangannya, jadi yah kalo abangnya habis
ngupil ya berarti rejeki buat yang beli.
Ada tiga tempat bubur ayam khas
Cirebon di Depok yang saya suka datangi, yang pertama tentu saja yang di dekat
komplek perumahan Kavling Kujang. Di sini, si Abang bubur menjual semangkuk
bubur ayam seharga 7 ribu rupiah saja. Kalau kesiangan dikit, antriannya minta
ampun. Dia datang jam 7 di depan komplek perumahan, dan biasanya jam 10
dagangannya sudah ludes.
Yang kedua adalah bubur ayam
Cirebon yang ada di dekat kantor PLN Jl Nusantara, Depok. Namanya sesuai dengan
lokasi, yaitu bubur ayam PLN. Untuk yang ini, kebersihan cukup diperhatikan
oleh penjual. Meracik buburnya dengan penutup tangan yang terbuat dari plastik,
estetika penataan bubur pun diperhatikan karena karena kacang, daun seledri dan
suwiran ayamnya tidak ditabur jadi satu, melainkan ditata bersebelahan. Mungkin
si penjual mencoba mengikuti keinginan mereka yang biasa makan bubur ayam
dengan tidak diaduk. Yang saya suka di bubur ayam PLN ini adalah tambahan
ati-ampla yang begitu enak dan berbumbu. Harganya masih lebih mahal, yaitu 10
ribu, karena di samping tempat mangkalnya di jalan yang lebih besar, pegawainya
juga lebih banyak, walaupun kalau saya tebak sih mereka masih bersaudara.
Yang ketiga adalah bubur ayam
khas Cirebon yang berjualan di dekat perumahan Depok Indah I. Namanya bubur
ayam Aroma. Penyajiannya tidak serapi bubur ayam PLN, tapi soal rasa boleh deh
diadu. Harganya kalau tidak salah 8 ribu. Yang enak dari bubur ini adalah sate
usunya yang begitu berbumbu. Kalau di luar Depok, bubur ayam Cirebon yang enak
tuh ada di Jl. Sabang yang dekat Dunkin Donuts. Eh iya, sama satu lagi yang
biasa berjualan di depan Menara Batavia.
Selain bubur ayam ala Cirebon,
saya juga suka banget sama bubur ayam Sinar Garut yang berjualan di jalan Margonda
Raya. Dari namanya saja sudah ketahuan kan asalnya. Bubur ayam ini biasanya
bermitra dengan aneka es serut bernama sama. Sehabis makan bubur, memang enak
banget minum es serut pakai alpukat dan susu kental manis coklat. Bubur ayam
Sinar Garut ini sedikit berbeda dengan Cirebon. Selain tanpa kecap manis, bubur
ini juga disiram air kaldu sehingga sangat gurih. Topping-nya berupa cakwe, sementara ayamnya tidak disuwir,
melainkan diiris-iris hingga halus. Ayamnya juga digoreng dengan garing, sehingga
ketika dimakan, masih ada sedikit rasa kriuk. Oh iya, bubur ini juga tidak
pakai krupuk atau emping, tapi memakai cheese stick (cistik). Dibandingkan
bubur ayam Cirebon, bubur ayam Sinar Garut berharga lebih mahal.
Bubur ayam Cirebon sudah, Garut
sudah, hmm saya juga masih suka makan bubur ayam Tasik yang berjualan di Jl
Arif Rahman Hakim. Rumah makan ini sudah ada sejak saya pindah ke Depok (tahun
90an awal). Meskipun terlihat tidak terlalu ramai pengunjung, tapi penggemarnya
ada saja, dan menurut saya inilah yang membuatnya awet.
Yang istimewa dari bubur ini
adalah ia selalu dimasak pada saat kita memesan. Tidak ada tuh panci berukuran
besar yang dipakai untuk menaruh bubur nasi. Jadi ketika disajikan, bubur masih
dalam keadaan panas dan sangat nikmat untuk disantap. Kalau soal tekstur, bubur
Tasik ini sepertinya lebih berair ketimbang bubur Cirebon dan Garut. Malah
lebih mirip sama bubur ayam ala restoran China.
Di luar bubur-bubur ayam di atas,
ada lagi yang enak, yaitu bubur ayam yang ada di Cimahi, Bandung. Saya lupa
persisnya di mana, tapi seingat saya dekat dengan Rumah Sakit Dustira dan
stasiun Cimahi. Bubur ini berkuah santan, dan begitu ‘berat’ rasanya.
Porsinya juga besar, jadi dijamin bikin perut kenyang. Satu lagi kesan, yaitu si ibu penjual yang selalu mengajak berbicara bahasa Sunda, sekalipun Anda merespon dengan bahasa Indonesia.
Ya begitulah saya dan bubur ayam.
Langganan:
Postingan (Atom)