Tampilkan postingan dengan label Film. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Film. Tampilkan semua postingan

Minggu, 16 September 2018

Mobius, Gagalnya Sebuah Honey Trap

Buat yang doyan dengan film-film spionase namun kental dengan drama dan percintaan, film Mobius (2013) bisa menjadi pilihan. Gue baru nonton film ini semalam ketika ditayangkan di TV kabel, dan karena serunya film ini, gue sampai rela melewatkan sebuah pertandingan Serie A Italia pada jam yang sama.

Spionase memang sebuah kegiatan rahasia pemerintah untuk tujuan tertentu. Yang terlibat dalam praktik ini bukan orang-orang sembarangan. Meski hanya tahu dari film, namun tentu saja ini menggambarkan kenyataan yang ada. Film mungkin memberi terlalu banyak bumbu untuk kepentingan penikmatnya yang memang menantikan sebuah pertunjukan, dan bahkan bumbu-bumbu ini kadang mengalahkan esensi dari filmnya. Ibarat masakan, kadang sambalnya lebih utama ketimbang daging atau ayamnya. Tapi di Mobius, unsur drama dari sebuah operasi honey trap saja sudah jelas akan mengalahkan tujuan utama dari operasinya. Di sini, justru intrik dan roman dari dua tokoh, yaitu Gregory Lioubov dan Alice Redmond menjadi inti dari film.

Dilihat dari nama, sudah jelas asal muasal dari kedua tokoh ini. Gregory adalah seorang Rusia dan Alice adalah seorang Amerika. Cerita di film ini mengisahkan romansa terlarang yang terjalin antara dua kutub yang berbeda haluan dan tujuan.

Akan tetapi karena mereka berdua berada dalam naungan dua agensi besar, FSB dan CIA, kisah cinta ini berubah dari hubungan sembunyi-sembunyi menjadi sebuah honey trap. Seperti diketahui, honey trap adalah sebuah taktik yang lumrah digunakan dalam praktik spionase, yaitu meminta agen menyamar dan bahkan mengizinkannya terlibat dalam hubungan emosional dan intim dengan salah satu orang penting dari lawan demi memperoleh informasi-informasi yang sifatnya rahasia, yang tujuan akhirnya tentu saja melucuti dan melumpuhkan lawan.

Awalnya, keterlibatan dua agen ini adalah untuk menyelidiki seorang oligarki Rusia, Ivan Rostovskiy. Berlatar Eropa (Monako, Moskwa, London), film ini juga menyajikan tiga bahasa untuk dialog, yaitu Prancis, Rusia dan Inggris. Rostovskiy dicurigai atas kegiatan-kegiatannya pencucian uang dan kejahatan transaksi finansial.

Gregory dan Alice awalnya berada di pihak yang sama. Alice, seorang ahli finansial yang mengklaim seorang diri meruntuhkan Lehman Brothers ke dalam krisis, juga pernah meramalkan krisis terhadap negara Spanyol, adalah seorang Amerika yang dilarang bekerja di negaranya karena keruntuhan Lehman Bros yang ia sebabkan. 

Ia kemudian diminta untuk menyelidiki Rostovskiy oleh FSB, yang juga bekerjasama dengan agensi Monako dan Prancis. Alice yang memang memiliki pesona, lantas membuat Rostovskiy terpikat dan malah ingin merekrutnya. Rostovskiy bahkan tertarik secara romansa juga kepada Alice. Ketika Alice dianggap tidak terkendali dan malah membahayakan misi, pimpinan FSB meminta Gregory untuk ikut menyeldiki Alice.

Ketika akhirnya Gregory menemui langsung Alice, ia langsung merasakan hal yang lain. Ternyata hal itu juga dirasakan Alice. Singkat cerita, mereka pun melakukan hubungan terlarang dan sering sekali bertemu. Dan ternyata lagi, keberadaan Alice juga dimanfaatkan oleh....CIA. 

Kisah ini kemudian berkembang lebih jauh, di mana keterlibatan CIA yang juga memiliki keinginan untuk menangkap Rostovskiy. CIA pun mengintai dari jauh misi ini bagaikan seekor singa yang sabar dalam mengincar mangsanya. Dalam misi ini, CIA juga melihat peluang lain, yaitu menyabotase FSB. Situasi inilah yang kemudian membuat Alice berdiri di dua pijakan, alias menjadi agen ganda.

CIA pun mengorkestrasi operasi menjadi sebuah honey trap. Mereka menggunakan Alice untuk menyabotase FSB lewat Gregory, padahal Alice juga tidak tahu bahwa Gregory adalah agen FSB. Alice sendiri tidak tahu bahwa hubungan romansanya dengan Gregory dimanfaatkan oleh CIA, karena yang ia pahami adalah bantuannya kepada CIA akan membersihkan namanya di kampung halamannya, tanpa ada sangkut pautnya dengan Gregory atau FSB.

Honey trap ini memang berhasil menyabotase FSB, di mana reputasi pimpinan teras FSB tergerus akibat keterlibatannya di saga Rostovskiy ini. Tapi bagi Alice dan Gregory, honey trap ini ternyata tidak menghalangi romansa yang telah mereka jalin dengan penuh emosional. Pada akhirnya, tagar #lovewins juga berlaku di film ini, di mana hubungan keduanya berlanjut meski awalnya berbeda kubu. Api romantisme ini sukses dikipas-kipasi oleh sutradara Eric Rochant di antara konflik geopolitik tingkat tinggi dan transaksi-transaksi finansial yang bisa meruntuhkan sebuah perusahaan besar atau sebuah negara besar.

Minggu, 05 Agustus 2018

Si Doel The Movie: Galeri Realita Yang Bukan Nostalgia Belaka

Saat para lelaki jomblo akut termehek khusyuk di atas flyover atau di tangga darurat karena 'modus-modusnya' tak kunjung meluluhkan hati para gebetan, Bang Doel malah ikut termenung dan menangis di atas trem yang membawanya ke pusat kota Amsterdam. Padahal, Bang Doel berada di antara dua wanita cantik, Sarah dan Zainab, yang sama-sama mencintainya dengan tulus. Kenapa mesti kaya begitu, Bang Doel? Kok jadi ibarat tikus mati kelaparan di lumbung padi? 

Kira-kira begitulah premis ngasal yang saya pertanyakan kepada Bang Kasdullah, atau dikenal dengan Doel, anak Betawi asli, mantan penarik oplet yang akhirnya sampai juga ke ibukota Belanda, negara yang juga episentrum filosofi Total Football yang termahsyur itu.

Doel yang kembali muncul mewarnai khazanah perfilman Indonesia setelah empat belas tahun lamanya menghilang (tidak pakai istilah purnama, seperti film yang satunya lagi itu), memang pintar sekali menarik minat penonton 90an yang begitu haus dengan yang namanya nostalgia. Berangkat dari serial 'pendobrak' yang mewarnai masa kecil tontonan berkualitas anak-anak 90an, Si Doel pun menjadi idola. Bukan hanya bagi anak Betawi, tapi juga bagi sebagian anak-anak Indonesia.

Film Si Doel sedari dulu memang menawarkan bumbu utama tragedi dan kesedihan, yang tentu saja diselingi komedi dalam bentuk pemarahnya Mandra, liciknya Mas Karyo, genitnya Engkong Ali, dan slebor-nya Atun. Tragedi yang disiarkan memang tidak jauh dari kehidupan sehari-hari. Meninggalnya Babe Sabeni, berantakannya percintaan Mandra dengan Munaroh, cinta Koh Ahong kepada Zainab yang terus bertepuk sebelah tangan, hingga kabur-kaburannya Mas Karyo setiap mendengar suara kang kredit panci yang datang menagih hutang.

Kini setelah 14 tahun berlalu dan kembali dalam bentuk film layar lebar, Doel pun masih menawarkan bumbu yang sama. Sebelumnya, saya kasih spoiler alert dulu ya, tapi memang sulit menuliskan komentar film ini tanpa menyebutkan inti ceritanya. Yang jelas,  kemalangan, cinta segitiga, cinta bertepuk sebelah tangan, hingga kelucuan yang ditimbulkan Bang Mandra masih menjadi bumbu-bumbu lezat di film ini. Namun jangan khawatir, ada satu lagi tambahan konflik dan haru-biru bagi Bang Doel, yaitu tentang kegetiran hubungan ayah-anak yang terpaksa harus dipisahkan benua dan samudera.

Doel memang masih menjadi potret anak Betawi membanggakan. Diceritakan sebagai satu-satunya anak Betawi yang 'mentas' di kampungnya, dalam artian mampu menyelesaikan kuliah sampai tingkat sarjana, yang oleh Babe Sabeni disebut sebagai 'Tukang Insinyur'. Doel juga mampu 'menyingkirkan' para pesaing dalam memperebutkan posisi di sebuah perusahaan yang bonafide, dan Doel mampu memperistri seorang wanita cantik keturunan Eropa yang kaya raya. Sebuah versi American Dream dari seorang anak Betawi.

Meski kehidupan telah membawanya jauh dari penarik oplet menjadi seorang insinyur lepas, Doel tetap rajin sembahyang dan megaji hingga di negeri Belanda sekalipun. Doel juga masih sering merenung, pola pikirnya makin filosofis, tindak-tanduknya selalu dipikirkan, dan ia juga makin berkharisma. Perangai dan pembawaan seperti inilah yang kemudian membawanya kepada persoalan yang bittersweet dengan dua wanita cantik sekaligus. Sarah dan Zainab sama-sama mencintainya dengan tulus, meski terlihat jelas hati Doel lebih berat ke Sarah.

Penonton pun diajak menyelami sendiri jalan cerita yang terjadi selama empat belas tahun terakhir. Dalam waktu nyaris dua windu ini, banyak sekali yang sudah berubah, yang kemudian makin menambah bumbu tragedi dan kesedihan dalam film. Bang Mandra yang masih membujang dan jadi pengangguran, Atun yang jadi single mother setelah ditinggal mati Mas Karyo, Mak Nyak yang sakit keras, Koh Ahong yang masih aja ngejomblo meski pabrik batako miliknya makin berkembang, hingga Hans dan Doel yang bernasib sama: ditinggal isteri masing-masing.

Balutan tragedi ini bercampur aduk dalam satu bingkai film, yang dengan apik dipaparkan sepanjang kurang-lebih 90 menit lamanya. Menjadikan film ini seperti layaknya galeri realita yang harus dihadapi dengan perjuangan yang tangguh, alih-alih mempertontonkan hegemoni dan hedonisme. Meski berlatar di Amsterdam, namun Hans dan Sarah diperlihatkan memiliki kehidupan pekerja atau usahawan biasa, bukannya sebagai gambaran orang kaya Eropa yang bebas plesiran dan mem-posting makanan enak, karya seni nan eklektik, bangunan kuno Eropa yang kaya akan sejarah, atau suasana pedesaan yang kental nuansa folk seperti halnya gambar dalam kemasan-kemasan produk makanan atau minuman mereka. 

Seperti yang Hans bilang kepada Doel ketika melihat Doel yang asyik menikmati kota, Hans pun mengungkapkan sebuah potret realita. Ia yang sebagai penduduk asli di Amsterdam sudah tidak bisa lagi menyelami kedamaian dan keindahan kotanya sendiri, seperti yang Doel rasakan sebagai turis. Bagi Hans dan jutaan penduduk Amsterdam lainnya, jika malas, maka ia akan tergeser dan tertendang. Amsterdam tidaklah ubahnya Jakarta, ibukota yang lebih kejam daripada ibu tiri.

Doel pun tidak digambarkan telah memiliki kehidupan yang sangat mapan. Katakanlah, ia belum mampu memanjat hingga tangga tertinggi di korporasi yang bengis, dan mungkin karena idealismenya, ia memilih bekerja sendiri sebagai tenaga ahli lepas. Doel juga mungkin menjalani hidup seperti kita-kita, yang hidup sebagai bagian dari sandwich generation yang harus menanggung beban bukan hanya untuk keluarga kecilnya, tetapi juga keluarga besar. Mungkin karena alasan inilah, plus karena Emaknya sakit keras, Doel masih tinggal di rumah orang tuanya, bukannya di rumah sendiri yang dicicil dengan program KPR berjangka panjang sekaligus berbunga mencekik seperti yang dialami kebanyakan kita-kita ini, tidak pula mengemudikan mobil Jepang mewah kreditan, malah menggunakan jasa taksi daring ketika berangkat ke bandara.

Tapi dari perspektif film, bisa saja memang kehidupan Doel sengaja dibuat masih menempel dengan masa lalunya. Rumah yang sama, oplet yang sama, warung yang sama. Hanya saja kini Mandra sudah dibikinkan kamar di belakang rumah, tidak lagi dibiarkan tidur di oplet atau bale sambil dinyamukin. Karena Mandra pula, film ini jadi seru dan lucu. Mandra yang multi-talented namun underrated ini memang berjasa besar menyemarakkan film. Bahkan, Mandra tidak hanya menunjukkan kekonyolan yang bikin malu Doel seperti halnya saat ia cuek mengenakan sarung di depan Bandara Schipol. Dalam satu bagian, Mandra juga berubah menjadi sosok paman yang mengemong Doel yang masih saja tidak bisa bersikap tegas kepada wanita-wanita di sekelilingnya meski sudah jadi bapak-bapak. Mandra seolah ingin mengembalikan jati diri Doel sebagai anak Betawi, yang harusnya tetap bersikap santai dan tidak berpikir terlalu berat ketika sedang dirundung masalah.

Tanpa Mandra dan celetukannya, film ini memang hanya nostalgia belaka. Tapi dengan Mandra, film ini membungkus nostalgia yang penuh makna sekaligus canda. 

Jumat, 29 April 2016

Menonton Sekuel AADC Setelah 14 Tahun



Ada magis dalam film Ada Apa Dengan Cinta edisi pertama tahun 2002 (menyebutnya demikian untuk membedakan dengan short movie tahun 2014 dan sekuel tahun 2016). Ketika itu, saya baru menjalani tahun pertama kuliah. Diputarnya film AADC serentak nyaris di seluruh bioskop Jakarta menyedot animo banyak penonton. Orang kantoran, mahasiswa, anak sekolah menontonnya. Bioskop pun penuh sesak walaupun pengelola sudah menyediakan empat studio untuk memutar film yang dibintangi Dian Sastrowardoyo dan Nicholas Saputra ini.

Sebagai mahasiswa yang kampusnya berada di Depok, saya dan teman-teman tidak mau tertinggal euforia. Sayangnya saat itu belum ada tuh Margo City dan Depok Town Square (Detos), yang ada bioskopnya. Di Depok, baru ada Studio 21 Plaza Depok, yang film-filmnya sangat out of date. Tapi, kami pantang menyerah. Demi melihat Dian yang gorgeous itu, kami rela bolos pada sebuah jam pelajaran kuliah untuk nonton bareng di sebuah bioskop di Jakarta Selatan. Sebegitunya!

Ketika itu, kami pergi beramai-ramai. Mungkin berenam atau bertujuh, saya lupa jumlah pastinya. Tapi yang pasti: cowok semua. Kasihan ya. Ah tidak mengapa, daripada ngajak teman cewek tapi nantinya kami cuekin karena perhatian kami terfokus pada Geng Cinta, yang punya prinsip ala pendukung parpol "Musuh salah satu di antara kita adalah musuh kita semua"

Sebenarnya, cerita di film AADC 14 tahun silam hanya seputaran drama remaja saja. Kisah percintaan antara Rangga, cowok cool dan misterius tapi puitis dan pujangga dengan Cinta, cewek yang cantik dan populer. Ada pergolakan, pertentangan, friksi yang timbul. Semua masih mudah dicerna dan biasa-biasa saja. Tapi banyak detil-detil di film yang harus diakui, begitu berkesan. Dialog, puisi, lagu-lagu, juga adegan-adegan lucunya.

“Salah gue? Salah temen-temen gue?!” Punchline!

“Basi! Madingnya udah mau terbit!” Unforgettable!

“Pergi sekolah sama-sama, nonton konser sama-sama. Kamu kaya orang gak punya pendirian aja!” Judes tapi keren!

Atau puisi-puisi seperti “Ku lari ke hutan, lalu piknik ke pantai sambil foto kaki di pasir.. Eh maksudnya belok ke pantai. Bosan aku dengan penat, dan enyah saja kau pekat. Seperti berjelaga jika ku sendiri..” karya Rangga yang memenangkan lomba puisi di sekolah. Atau puisi di bagian akhir film “…. Lalu sekali ini aku melihat karya surga dari mata seorang Hawa. Ada apa dengannya? Meninggalkan hati untuk dicaci. Tapi aku akan kembali ketika bulan purnama muncul di New York, untuk mempertanyakan kembali cintanya…”

Lalu soundtrack yang dibawakan dengan apik oleh Melly Goeslaw, hingga kelucuan Mamet, penggemar berat Cinta yang jago bikin lagu, tapi grogi berat ketika mobilnya akan dipinjam sampai kunci mobilnya ketuker dengan kunci rumah, lalu dia ketinggalan di bandara. Juga berantemnya Rangga melawan geng boyband Borne, walaupun buntutnya Borne disiram ice lemon tea di food court Plaza Senayan. Itu semua masih melekat dalam ingatan. Sesuatu yang begitu menggebrak perfilman Indonesia saat itu, dalam pengamatan amatir saya.

14 tahun berlalu, dan kini muncul sekuel AADC 2 yang serentak dimainkan tidak hanya di Jakarta dan seluruh Indonesia, tetapi juga di Malaysia dan Brunei Darussalam! Popularitas yang nyata adanya karena hasil kerja 14 tahun silam. Ya, begitu banyak tokoh di film AADC seri pertama yang kemudian angkat nama lantaran meledaknya film itu. Sekuel yang tidak pernah diniatkan untuk dibuat, dan mungkin sedikit membuat kita semua mengrenyitkan alis sambil berkomentar "Kok hari gini baru dibuat sekuel. Ceritanya mau kaya gimana lagi? Tokoh-tokohnya udah ketuaan, udah lebih pantes gendong anak."

Saya belum menonton AADC 2 hingga hari ini, dan baru berencana akan menontonnya akhir pekan. Itu pun kalau antriannya tidak gila-gilaan, tapi untungnya alay tidak akan ikut-ikutan karena mereka masih gigit empeng saat Rangga sudah main puisi-puisian dengan Cinta. Mereka gak akan tertarik untuk mengikuti euforia anak-anak 90an ini. Saya sudah mengantisipasi rombongan mamah-mamah muda dan papa-papa buncit seumuran saya yang akan mengantre untuk menonton Dian Sastro dan Geng Cinta -meski tanpa Alya- yang pantas menobatkan diri sebagai geng mamah muda 30an yang paling memukau seantero Indonesia. 

Saya, dan juga mungkin saja rombongan mamah-mamah muda dan papa-papa buncit penggemar junk food, berita politik dan barang diskonan ini, sepertinya tidak terlalu berharap bahwa jalan cerita AADC 2 akan sebegitu bagusnya. Hanya saja kami merasa wajib mengulangi euforia AADC 2002 yang teramat berkesan, walaupun harus menitipkan anak-anak yang fotonya sering kami upload di media sosial kepada orang tua atau mertua. Seperti memecahkan gelas biar ramai dan mengaduh sampai gaduh, seakan berkata bahwa film ini adalah representasi generation Y kelahiran 80-90. Lalu beberapa hari ke depan, kami akan menertawakan meme-meme yang akan menjamur di grup whatsapp kami, yang beranggotakan teman-teman lama yang sudah susah diajak kumpul karena berbagai alasan yang kurang prinsipil.

Senin, 14 Maret 2016

Menonton London Has Fallen



Film London Has Fallen telah dirilis sejak awal Maret 2016. Film yang dibintangi Gerard Butler dan Aaron Eckhart ini adalah sekuel dari Olympus Has Fallen yang tayang tahun 2013. Mengusung genre action, film ini jelas yang paling saya tunggu sepanjang tahun ini. Saya pun menyempatkan diri menontonnya di bioskop, setelah kali terakhir menonton di teater besar ini tahun lalu saat diputarnya franchise Mission Impossible berjudul Rogue Nations.

London Has Fallen memang tidak menawarkan hal baru. Masih seputar film action ala Hollywood bertema lone survival, penyelamatan presiden, penjahat yang banyak tapi tetap saja kalah, dan menyoroti terorisme. Lalu jagoan (Amerika) lah yang tetap menjadi pemenangnya. Tidak ada yang baru, bukan?

Maka dari itu, saya memang tidak berharap banyak dari sisi plot. Saya juga bukan kritikus film yang bersedia mendedah setiap jengkal efek dan aspek teknis dari film. Bukan begitu cara menikmati film action, kalo menurut saya. Saya memang hanya kangen dengan adegan berantem, tembak-tembakan, kejar-kejaran tanpa ada unsur drama berlebih. Dan buat saya, film semacam ini akan saya nilai baik andai saja tidak ada kekeliruan yang terlampau mendasar.

Pembuat sekuel London Has Fallen ini mencoba menawarkan segmen yang lebih luas. Petualangan Mike Banning (Butler) sebagai pengawal presiden Amerika Serikat, Benjamin Asher (Eckhart) merambah ke luar negeri, yaitu kota London di Inggris. Diceritakan bahwa presiden Asher bersama pemimpin-pemimpin dunia barat lain menghadiri upacara pemakaman perdana menteri Inggris yang tewas secara mendadak dan misterius. Namun pengamanan dalam upacara berskala besar ini telah disabotase dan disusupi oleh kelompok teroris yang memang bermaksud membunuh para pemimpin dunia barat sekaligus menabuh genderang perang.

Jadilah para pemimpin ini seperti tikus yang masuk perangkap. Satu persatu pemimpin ini tewas dibunuh para teroris, dan akhirnya menyisakan perdana menteri Inggris yang baru dan presiden Asher. Saat perdana menteri Inggris berhasil diamankan (proses pengamanannya pun tidak diceritakan detil, hanya dibawa masuk ke dalam katedral St. Paul saja), tinggallah Asher menjadi sasaran tunggal para teroris. Seperti sudah bisa ditebak, Asher kemudian bergantung pada kepiawaian bertarung dan bertahan hidup dari Banning.

Memang tidak ada yang istimewa dari rangkaian cerita, namun penonton pasti akan mengernyit bingung pada serangan teroris yang terjadi begitu saja tanpa penggambaran yang jelas. Mungkin ini ditujukan untuk membuat penonton menerka-nerka sendiri. Boleh lah kalau memang penjahat di sekuel ini ada keterkaitannya dengan sekuel pertama, lha ini enggak sama sekali karena di sekuel pertama (Olympus Has Fallen), penjahatnya berasal dari Korea Utara. Semua seperti terjadi begitu saja.

London Has Fallen banyak mengambil setting kota London, dan peperangan yang terjadi di sini adalah perang kota, berbeda dengan Olympus Has Fallen yang mengambil setting di Gedung Putih. Diceritakan pula bahwa kepolisian sudah disusupi, sehingga muncul perintah dari Scotland Yard untuk melakukan sortir kepada setiap anggota polisi, manakah yang telah berkhianat, mana yang tidak. Sayangnya, eksekusi instruksi ini juga tidak diperlihatkan dengan detil. 

Tidak pula digambarkan keadaan darurat militer, yang ada malah situasi kota yang dibuat sepi dan gelap (listrik telah dilumpuhkan kelompok teroris) dan seluruh warga diminta untuk tinggal di rumah tanpa terlihat personel militer yang berjaga. Suatu keadaan yang menurut saya lebih cocok untuk situasi darurat bencana virus dan sejenisnya. Padahal untuk menghadapi teror militer semacam ini, bukankah seharusnya menggunakan kekuatan militer juga?

Anyway, saya bukan pula pengamat sipil dan militer, jadi bisa saja unek-unek saya itu tak beralasan dan asumsi-asumsi saya ini keliru.

Secara keseluruhan, London Has Fallen memang tidak memberi kepuasan dari segi plot, percakapan-percakapan, dan juga hal-hal teknis yang memberikan pengalaman tersendiri saat menonton. Tapi ya itu tadi, hal-hal semacam ini memang bukanlah yang paling utama saya cari ketika menonton film action, melainkan unsur hiburannya saja.