Minggu, 09 Juni 2013

Indonesia Bebas Bubble Property?

Perumahan atau tempat tinggal adalah kebutuhan pokok, yang sayangnya makin hari makin mahal. Rasanya usaha kita sudah keras, kerja lembur sudah dilakukan, penghasilan juga terus meningkat. Namun, peningkatan harga rumah seperti tidak terkendali belakangan ini, sehingga seberapapun tingginya penghasilan kita, laju kenaikan harga properti sulit dikejar.

Saya pernah membaca di sebuah artikel. Sepasang suami istri, dua-duanya bekerja, memiliki penghasilan gabungan 7 juta rupiah per bulan. Mereka sudah 10 tahun menikah, dan belum bisa memiliki rumah sendiri. Dengan asumsi pengeluaran rumah tangga 3 juta per bulan, gaya hidup tidak hedon, tidak pernah eat for fun dan lain-lain, rumah masih belum bisa terbeli.

“Harga rumah untuk kelas menengah hingga menengah kebawah berkisar 200 hingga 700 juta. Uang muka minimal 50 juta plus administrasi dan lain-lain 20 juta. Saat ini, mencapai 70 juta saja sulit.” Begitu ucap mereka, juga terkait kebijakan Bank Indonesia yang menaikkan kewajiban DP rumah menjadi minimal 30% khusus untuk rumah diatas tipe 70m persegi.

Terlalu picik dan kurang sensitif rasanya jika kita menghakimi orang itu dengan mengatakan “Salah sendiri kenapa gajinya cuma bisa segitu?” Padahal sebuah negara memang punya kewajiban untuk menyediakan perumahan yang layak bagi rakyatnya, ketimbang terus membela kepentingan pihak tertentu dalam hal ini.

Properti Untuk Investasi, atau Spekulasi
Dari dulu, investasi dalam bentuk properti selalu jadi primadona. Harga tanah dan bangunan yang selalu naik dan tidak pernah turun menjadi alasan banyak orang untuk berinvestasi disini, meski properti bukanlah liquid asset yang mudah dijual. Kisah orang tua yang membelikan rumah bagi anaknya yang masih kecil sudah banyak kita dengar, hal itu mereka lakukan untuk berjaga-jaga jika harga properti melangit dan anak mereka tidak mampu membelinya. Pendeknya, mereka melakukan hedging pada properti yang mereka beli sekarang.

Kini, investasi orang-orang makin beragam seiring banyaknya proyek pembangunan apartemen-apartemen di pusat kota. Apartemen-apartemen itu dibeli untuk kemudian dijual lagi, atau disewakan. Tidak untuk ditinggali. Para developer jelas senang dengan fenomena ini karena proyek mereka pasti untung besar, seperti diberitakan disini.

Para investor baik kelas berat maupun kelas teri ini jelas mengharapkan keuntungan, dan bukan tidak mungkin pembeli rumah mereka berikutnya akan membeli rumah itu dengan tujuan yang sama, yaitu dijual kembali. Harga yang meningkat juga tidak mereka pikirkan, akibatnya investasi berubah menjadi spekulasi. Aktivitas seperti inilah yang juga menjadi salah satu penyebab harga rumah yang kian melambung dan cenderung tidak realistis.

Dalam hal ini, developer tentu tidak ada beban karena meskipun terjadi kredit macet yang berakibat penyitaan, para developer ini telah lebih dulu mendapat dana dari bank saat membangun proyek. Akan terjadi krisis ekonomi jika bank tidak mampu menjual properti yang mereka sita karena harganya sudah terlalu tinggi dan tidak ada yang mampu membelinya karena jauh diatas harga sebenarnya.

Bubble Property di Indonesia?
Pada fenomena bubble property, terjadi kenaikan harga yang tak terkendali sehingga properti tidak mampu dibeli oleh masyarakat. Akibatnya, akan banyak kredit macet. Setelah itu, kemudian harga properti mengalami crash alias jatuh tiba-tiba yang mengakibatkan pihak-pihak seperti pengembang dan kreditor (bank) ikut terpukul. Dengan kata lain, perekonomian akan ikut hancur.

Bank dunia beberapa waktu lalu pernah mengemukakan kekhawatiran terkait ancaman bubble property di Indonesia. Mereka melihat pada dua faktor, yaitu pertama adalah kenaikan harga apartemen yang mencapai 45% per Desember 2012, yang juga diikuti oleh sektor perkantoran dan industri. Kedua, tingkat pertumbuhan kredit apartemen yang juga meningkat, sehingga mendorong kenaikan harga properti.

Saya bukanlah seorang ekonom, namun banyak pihak yang meyakini bahwa kekhawatiran Bank Dunia tidak beralasan. Mereka tidak melihat faktor solidnya ekonomi makro di Indonesia, juga rasio kredit properti dan kredit nasional yang masih dalam batas normal.

Peningkatan jumlah kelas menengah yang merupakan konsumen properti juga berpengaruh untuk mencegah terjadinya bubble property. Kelas menengah dengan kemampuan konsumsi dan investasi yang tinggi akan selalu menjamin stabilitas demand-supply sektor perumahan. Artinya selama properti masih banyak pembeli, keadaan masih aman.

Benarkah demikian?

Ironi dan paradoks akhirnya melanda hidup banyak orang. Banyak apartemen atau rumah kosong dimana pemiliknya berharap untuk mendapat untung dari penjualan atau persewaan, sementara di lain sisi banyak orang yang sulit memiliki rumah meski sudah bertahun-tahun mengumpulkan uang. Keadaan sekarang memang seperti mendukung yang kaya makin kaya, yang miskin makin susah.

Meski banyak pihak yang mengatakan bahwa membicarakan bubble property adalah sesuatu yang berlebihan, namun potensi kesana jelas ada. Boleh saja harga properti di Indonesia jauh lebih rendah dibanding Singapura maupun Hong Kong misalnya, namun perbandingan tadi menjadi sia-sia mengingat disparitas pendapatan perkapita Indonesia dengan kedua negara tersebut masih menganga.

Catat, pendapatan perkapita Indonesia 3 ribuan dollar AS, sementara Singapura 50 ribuan, alias nyaris 20 kali lipat dari Indonesia. Hal ini jelas berarti bahwa daya beli orang Indonesia masih jauh dibawah Singapura. Jangan sekadar melihat pada fenomena pertumbuhan kelas menengah semata, namun lihat pula banyak orang sudah termasuk dalam kategori kelas menengah yang masih kesulitan memiliki rumah, apalagi kelas bawah.

Akan makin sulit memperoleh rumah ketika para pengembang lebih memilih untuk mengerjakan proyek anjangsana alias proyek apartemen mewah berharga miliaran per unit, ketimbang menyediakan hunian murah seperti rumah susun untuk menjamin ketersediaan tempat tinggal bagi kalangan yang lebih membutuhkan.

Melihat fenomena ini, kekhawatiran Bank Dunia bukanlah omong kosong. Sesuatu harus dilakukan untuk mengendalikan harga properti dan merumuskan kebijakan disintensif pada praktek spekulasi di bidang properti.

Rabu, 05 Juni 2013

Fast & Furious 6, a movie review

Tanpa banyak bicara, Joe Taslim, aktor Indonesia yang namanya mencuat berkat peran apiknya di film The Raid akhirnya memasuki ranah Hollywood dengan turut membintangi film dengan profil tinggi, Fast & Furious. Bagi kita pemerhati dan penonton setia film, kehadiran Joe Taslim adalah motivasi ekstra untuk menonton film yang penuh dengan adegan mobil terbang ini, setidaknya agar kita terdengar update.

Joe Taslim ambil bagian dalam sebagian besar film, alias tidak muncul sebagai figuran. Ia memperlihatkan kemahiran bela diri yang tinggi, akting yang tidak kaku meski porsi dialog yang ia mainkan tidak sebanyak Vin Diesel atau Paul Walker, yang memang masih menjadi jagoan utama film ini.

F&F 6 sebenarnya tidak memberikan nuansa yang berbeda selain kehadiran seorang aktor Indonesia didalamnya. Setelah sekuel sebelumnya mereka mengacak-acak jalanan kota Rio De Janeiro, kini mereka mengambil latar kota sejuta CCTV, London. Mobil cepat, pertarungan tangan kosong dan senjata serta jagoan yang banyak tetaplah menjadi sesuatu yang dijual dari film ini.

Semakin lama, film ini seperti ingin membersihkan nama Dominic Toretto, yang semula selalu menjadi buronan polisi. Mereka menjadikan Toretto cs sebagai pemburu penjahat yang sesungguhnya bernama Owen Shaw, seorang mantan anggota tentara Amerika dengan spesialisasi kendaraan perang.

Tambahan drama, Letty, pacar dari Dom yang ‘sebelumnya’ mati, tiba-tiba muncul lagi dengan ingatan yang hilang dan berkomplot dengan Shaw. Ya, seperti yang sudah bisa ditebak, Letty kembali ke pelukan Dom. Absurd memang, karena Dom sudah memiliki pacar baru dari Brazil bernama Elena, seorang polisi dan juga seorang janda. Bagaimana sikap Elena selanjutnya hanya menambah keanehan cerita.

Family, La Famiglia, Keluarga. Itulah yang coba ditonjolkan oleh film ini, di luar adegan-adegan mobil cepat, mobil terbang, mobil meledak, mobil tergilas tank, cewek mobil dan mobil-mobil lainnya. Nilai keluarga yang diusung Dom memang unsur sentimental yang akan dengan mudah digali untuk mengaduk-aduk emosi dari penonton.

Drama kembali diletakkan dalam kematian. Ya, di tiap edisi film ini sepertinya selalu ada anggota yang mati. Seolah tercipta pola bahwa masing-masing anggota ‘keluarga’ ini akan mati satu persatu di setiap sekuelnya, dan hanya tinggal menyisakan Dom. Mungkin saja.

Melihat Jason Statham muncul di credit title, sudah jelas bahwa sekuel ketujuh film ini akan menghadirkan Statham sebagai villain. Menarik, karena selama ini kebanyakan Statham berperan sebagai jagoan. Tapi sebetulnya sekuel ketujuh ini adalah lanjutan dari sekuel ketiga. Coba aja tonton ulang sekuel ketiga yang judulnya Tokyo Drift ini.

Senin, 03 Juni 2013

John D. Rockefeller

Lain halnya dengan Andrew Carnegie, John D. Rockefeller adalah seorang American Builder yang seperti tidak memiliki batasan. Orang jaman sekarang menyebutnya kelompok orang dengan ambisi ‘sky-limit income’.

Rockefeller, seperti Carnegie, juga seorang American Builder yang membangun negeri ini melalui industri besar yang ia rintis.  Rockefeller juga bukanlah seseorang yang sudah kaya sejak lahir. Ayahnya hanya pedagang kecil. Seperti memang sudah hukum alam, kerja keras dan ambisi adalah sahabat dari kesuksesan. Dan kesuksesan adalah sahabat dari kekayaan. Dan, bagi banyak orang di dunia ini, kekayaan adalah sahabat kebahagiaan.

Rockefeller yang lahir tahun 1839 dikenal namanya sebagai juragan minyak terkaya sepanjang sejarah, bahkan jika dilihat lebih luas lagi, dialah manusia terkaya di dunia. Jika Bill Gates memiliki kekayaan sebanyak 60 miliar US Dollar, maka Rockefeller hanya memiliki 1,4 miliar US Dollar. Tapi, 1,4 miliar US Dollar pada era Rockefeller adalah setara dengan 300 miliar US Dollar, atau kurang lebih 5 kali lipat dari kekayaan Bill Gates sekarang.

Rockefeller sejak usia 16 tahun sudah bekerja sebagai tenaga administrasi di sebuah kantor di Cleveland. Kerja keras dan tidak memboroskan uang adalah karakter khas Rockefeller sejak kecil. Berkat hal tersebut, karirnya terus meningkat dan tentunya gajinya juga meningkat. Jiwa enterpreneur membuatnya tidak puas hanya sebagai pekerja. Ia ingin menjadi pemilik. Dari keinginan itulah segala pencariannya dimulai.

Minyak adalah komoditas yang paling banyak dicari dan diperebutkan orang. Banyak negara berperang karenanya, banyak orang mati karena menjadi korbannya. Dan Rockefeller adalah salah satu yang menjadi kaya raya karenanya. Memulai penambangan kecil-kecilannya di Cleveland yang ia namai dengan Excelsior Work, Rockefeller kemudian menemukan bahwa usahanya terhambat oleh biaya transportasi dan penyimpanan yang mahal. Saat itu, kereta api masih menjadi satu-satunya alat transportasi yang efisien untuk mendistribusi minyak. Untuk penyimpanannya, dibutuhkan banyak tong-tong besar yang juga berharga mahal.

Rockefeller dengan cepat menyadari masalah itu. Seperti para pengusaha sukses lainnya, ia berpikir untuk menguasai lini bisnisnya dari hulu ke hilir. Dari produksi hingga distribusi, termasuk melibas perusahaan kompetitor yang akan menyulitkannya. Ia kemudian merekrut Henry Flager, seseorang dengan kedekatan orang-orang di perusahaan kereta api untuk memperoleh diskon. Usahanya berhasil, bahkan lalu ia membeli gerbong-gerbong kereta api sendiri. Tidak hanya itu, ia juga membuat tong penyimpanan minyak sendiri. Dengan demikian, ia sukses menekan biaya usahanya.

Dengan kegigihan, kekerasan hati dan juga kekejaman dan kelicikan, Rockefeller terus mengembangkan bisnis minyaknya. Pada tahun 1870, ia membuat perusahaan kilang minyak pertamanya, Standard Works. Setelah menggabungkan Standard Works dan Excelsior Works, lahirlah perusahaan yang kelak menjadikannya kaya, Standard Oil.

Rockefeller juga bukan orang yang cepat puas. Ambisinya adalah menguasai seluruh negeri, dan hal itu membuatnya tertarik melirik industri baja yang dikuasai industrialis lainnya, Andrew Carnegie. Saya telah jelaskan kisah Rockefeller-Carnegie dalam tulisan sebelumnya. Intinya, dengan kenekatan dan keuletannya, Rockefeller bahkan mampu menghajar Carnegie di bidang baja, bidang yang dikuasainya. Rockefeller seolah mengajarkan bahwa ketamakan haruslah tiada batas, tidak tanggung-tanggung. Ia juga memberlakukan sistem pengelolaan usaha yang kini dikenal sebagai perwalian atau trust. Saya akan coba jelaskan mengenai trust dalam tulisan berikutnya.

Kekayaan Rockefeller yang tidak selalu ia dapati dengan cara yang lurus memang membuatnya memiliki banyak musuh. Banyak yang menganggap ketamakan membuatnya melakukan segala cara untuk menggulingkan kompetitornya, bahkan dengan cara-cara yang tidak sesuai etika. Dikatakan dalam website History Channel, Rockefeller melakukan praktek-praktek seperti menyuap karyawan kompetitor untuk menjadi mata-matanya, membuat perjanjian rahasia, membajak karyawan kompetitor untuk bergabung dengan ancaman, dan lainnya. Ia dituduh mengumpulkan kekayaan dengan cara menghancurkan orang lain.

Presiden Amerika Serikat saat itu, Theodore ‘Teddy’ Roosevelt adalah seorang nasionalis yang sangat menentang praktek trust atau monopoli. Dimata Teddy, monopoli adalah praktek bisnis yang tidak sehat yang semata-mata hanya memperkaya sedikit orang, mengganggu dunia usaha, juga mengakibatkan upah buruh menjadi sangat rendah. Agak sulit menemukan sosok berani seperti Teddy di era sekarang.

Teddy memperkarakan Rockefeller ke pengadilan. Dan benar saja, Rockefeller kemudian dipaksa untuk melepas atau menjual sebagian dari usahanya tersebut. Sherman Act disahkan tahun 1880 oleh Kongres dalam rangka pelarangan monopoli. Setelah bertahun-tahun berkutat di litigasi, tahun 1911 Standard Oil terpecah menjadi 30 perusahaan baru.

Bagaimanapun, hal itu tidak menghalangi sepak terjang Rockefeller. Ia bahkan mencapai suatu hal yang melebihi banyak orang dalam hal menyumbang kekayaan. Kontribusi filantropi Rockefeller bahkan melebihi yang disumbangkan Carnegie. Jika industrialis baja itu total menyumbangkan 350 juta US Dollar, maka Rockefeller menyumbang 500 juta. Terlepas dari caranya membangun kerajaan korporasi, kekayaan yang ia sumbangkan sangat berharga bagi dunia medis dan pendidikan.

Bagaimana kita menilai sosok ini adalah tergantung dari perspektif mana kita memandang.

Kamis, 30 Mei 2013

Andrew Carnegie

Dalam sejarah negara Amerika Serikat, ada istilah “The Man Who Built America” merujuk pada industrialis yang kemudian memimpin negeri ini menjadi negeri superpower. Para industrialis ini dinilai mewariskan etos kerja, keterampilan dan tentunya pembangunan infrastruktur yang kelak menjadikan negeri ini makmur.

Terlebih, kisah hidup para industrialis ini juga menjadi inspirasi bagi generasi muda setelahnya, bahwa negeri ini mengijinkan orang untuk bermimpi. Siapapun bisa mencapai tujuannya tergantung seberapa besar impiannya dan seberapa keras ia mau bekerja untuk mewujudkannya.

Dianggap sebagai “The American Builder”, Andrew Carnegie bukanlah berasal dari keluarga kaya. Ia juga memulai bisnisnya dari bawah. Carnegie adalah seorang imigran asal Skotlandia kelahiran Dunfermline tahun 1835. Ia pindah ke Amerika Serikat di usianya yang ke-13 bersama kedua orang tuanya, William dan Margaret Carnegie ke negara bagian Pensylvania, tepatnya kota Allegheny.

Sepindahnya ke Pennsylvania, Carnegie bekerja di pabrik tenun untuk mendukung kehidupan keluarganya. Tidak hanya bekerja, Carnegie adalah seorang … kutu buku. Kegemarannya dalam membaca difasilitasi oleh Colonel James Anderson, perwira tinggi tentara yang tinggal kota Allegheny. Sang kolonel membuka perpustakaan umum untuk pekerja lokal setiap hari sabtu dimana Carnegie menghabiskan banyak waktu disana, bahkan meminjam banyak buku untuk dibacanya dirumah.

Buku-buku inilah yang membedakan Carnegie dengan pekerja-pekerja lainnya. Bukan hanya rajin, ia juga cerdas dan berwawasan luas berkat kegemarannya akan bacaan. Kelak, kegemarannya dalam membaca membentuknya menjadi penulis handal. Ia kemudian berpindah-pindah pekerjaan, dari menjadi kurir hingga operator telegraf. Karirnya kemudian melesat hingga ia meraih posisi superintendent di Western Division dari Pennsylvania Railroad, perusahaan jalur kereta api.

Carnegie memiliki cita-cita sebagai seorang pengusaha, sesuatu yang terdengar terlalu muluk-muluk pada era itu di kalangan pekerja seperti dirinya. Saat masih bekerja di perusahaan kereta api, Carnegie merintis usahanya sendiri juga di bidang perkeretaapian. Ia membuat jalan kereta api baru, kereta api dengan tempat tidur, hingga membuat jembatan dan lokomotif sendiri. Setelah usahanya mulai stabil dan menuntut waktunya lebih banyak, ia mengundurkan diri dari pekerjaannya.

Usaha baja Carnegie berkembang pesat. Perusahaan Carnegie Steel menjadi perusahaan baja terbesar di seluruh Amerika Serikat. Produksi baja yang Carnegie lakukan sejalan dengan pembangunan besar-besaran yang sedang gencar dilakukan oleh Amerika Serikat sehingga permintaan pada baja sangat tinggi.

Carnegie terus melakukan ekspansi usahanya dengan membeli perusahaan-perusahaan sejenis yang menjadi kompetitornya. Ia ingin menjadi pengusaha tunggal dari baja, melakukan monopoli atas komoditas ini. Cara-caranya dalam menggapai kesuksesan juga tidak melulu ia lalui dengan kerja keras semata, tapi juga kekejaman. Misalnya, ia memotong upah buruh, sesuatu yang kelak disesalinya di masa tua.

Carnegie Steel mendapat ujian terbesar dari seorang pebisnis minyak bernama John D. Rockefeller. Rockefeller adalah seorang industrialis ambisius seperti halnya Carnegie. Dengan penguasaannya pada minyak, Rockefeller merasa belum cukup. Ia kemudian mencoba memasuki dunia Carnegie, yaitu baja. Carnegie semula mengacuhkan keberadaan Rockefeller pada industri yang ia kuasai, karena menganggap Rockefeller tidak tahu menahu soal baja, seperti dirinya.

Carnegie salah. Rockefeller telah menemukan tambang baja baru di wilayah Minessota, tambang yang sebenarnya sudah diketahui oleh Carnegie, namun Carnegie menganggap tambang tersebut tidak potensial karena sulit diolah. Rockefeller tetap melanjutkan penambangan di Minessota, seraya terus mencari cara untuk mengolah sumber tersebut. Dan bisa ditebak, Rockefeller sukses.

Kesuksesan pengolahan itu membuat perusahaan baja tandingan Rockefeller berkibar. Dengan mematok harga yang lebih murah, Rockefeller membuat pelanggan Carnegie beralih padanya. Akibatnya, kinerja perusahaan Carnegie mengalami kemunduran signifikan. Carnegie merasa cukup dengan semua ini, ia lalu menemui Rockefeller. Tujuannya, jelas ingin mempertahankan kekayaannya dengan cara membeli perusahaan Rockefeller.

Setelah bernegosiasi dengan alot, Rockefeller akhirnya menerima tawaran Carnegie. Carnegie sadar bahwa hal ini memang harus dilakukan demi menjaga kelangsungan usahanya dan monopoli bajanya, meski konsekuensinya ia harus menyetor uang banyak pada seterunya.

Carnegie steel kemudian terus berkembang, sebelum datang lagi pengusaha kaya lainnya bernama J.P. Morgan. Morgan adalah seorang pengusaha listrik dan jaringan kerata api yang mencakup seluruh negeri. Dengan ambisinya yang besar, ia tidak ingin membuat perusahaan untuk menjadi kompetitor Carnegie, melainkan ia akan membeli Carnegie Steel.

Morgan melakukan pendekatan intens kepada tangan kanan Carnegie, Charles Schwab. Ia menjanjikan Schwab sebuah posisi yang tidak dapat ditolaknya, yaitu pimpinan perusahaan. Syaratnya, ia harus membantu Morgan dalam menggolkan pembelian Carnegie Steel. Morgan meminta Schwaab menanyakan pada Carnegie, berapa harga Carnegie Steel jika Morgan ingin membelinya.

Carnegie awalnya berat untuk melepas Carnegie Steel pada Morgan, meski pada akhirnya ia memang merasa inilah saatnya untuk berhenti. Inilah saat Carnegie untuk menikmati masa-masa kejayaannya dengan uang hasil penjualan perusahaannya. Akhirnya, pada tahun 1901 Carnegie memberikan angka pada Morgan sebesar 480 juta US$ (sekarang sekitar 13 miliar juta US$) yang kemudian disetujui oleh Morgan. Dengan deal ini, Carnegie praktis menjadi orang terkaya di dunia. Setelah dibeli Morgan, Carnegie Steel kemudian berganti nama menjadi US Steel.

Sejak Carnegie Steel menduduki puncak, Carnegie menyadari bahwa ia telah terlalu banyak mengambil dan terlalu sedikit memberi. Ia juga menyesali keputusannya dalam menekan upah buruh hanya demi kemajuan perusahaan bajanya. Penyesalan ini tidak terlambat, karena setelah penjualan Carnegie Steel, Carnegie berkonsentrasi penuh pada kegiatan filantropi, atau kegiatan menyumbangkan kekayaan pribadi demi kepentingan banyak.

Sebagai salah seorang pelopor filantropi era modern, Carnegie menyumbangkan hampir separuh kekayaannya senilai 350 juta US$ (sekarang sekitar 4.8 miliar US$) dalam bentuk perpustakaan, tempat yang disukai Carnegie sejak kecil. Carnegie juga membangun sekolah, balai pertemuan, dan bangunan-bangunan bermanfaat lainnya. Tidak hanya kepada Amerika Serikat, Carnegie juga membangun perpustakaan di berbagai negara berbahasa Inggris di dunia, termasuk tanah kelahirannya, Skotlandia.  

Warisan Carnegie memang besar dalam mencerdaskan bangsa lewat sumbangan perpustakaan, sekolah, maupun bangunan-bangunan lain yang penting bagi komunitas. Namun lebih dari itu, bangsa Amerika Serikat menganggap Carnegie berjasa dalam membangun Amerika Serikat hingga menjadi negara superpower dengan kemajuan industri yang pesat. Sebagai salah satu industrialis  dengan komoditi baja, ia telah membangun sebuah perusahaan raksasa yang menyambung hidup orang banyak dan memajukan bangsanya.

Ia telah mewakili spirit American Dream bagi generasi-generasi muda setelahnya bahwa semua berawal dari mimpi. Carnegie yang bukan dari keluarga kaya terbukti dapat menjadi miliuner dengan menggabungkan mimpi dan kerja kerasnya.

Setidaknya, begitulah kata orang-orang Amerika. 

Selasa, 28 Mei 2013

10 Lagu Paling Asik Saat Ini

Dinamis. Ya begitulah gue memandang hidup ini. Biarpun kata dinamis beda tipis dengan labil, tapi gue memandang hidup lebih baik dinamis ketimbang statis. Dinamis tapi tetep punya prinsip dasar, yang gue yakin pasti masing-masing orang punya. Tinggal bagaimana dia mau pegang erat itu prinsip dasar atau dia gadaikan demi harta, tahta atau wanita. *sedap* *ngelantur*

Begitupula di musik. Gue punya prinsip dasar dan persepsi bahwa musik terenak adalah rock. Ya, namanya juga persepsi dan sudut pandang. Musik rock sama-sama enak dimainin dan didengerin. Dan lagu-lagu favorit gue emang senantiasa berubah seiring banyaknya banyaknya lagu-lagu enak yang baru gue denger. Dan nampaknya, lagu-lagu baru itu sebagian besar adalah lagu-lagu lawas yang baru gue denger.

Gue jadi inget beberapa hari lalu temen gue minta share playlist baru gue, karena dia bosan sama playlist miliknya. Gue cuma bilang ke dia kalo playlist gue ya gini-gini aja gak berubah. Gak bakal ada lagu-lagu jaman sekarang. Oke, ini dia lagu-lagu yang lagi sering gue denger sekarang:

Hungry Heart – Bruce Springsteen
Lagu ini udah lama, rilis tahun 1980. Gue bahkan belum lahir. Ini salah satu lagu lawas yang baru gue denger. Ya, selama ini gue gak pernah tergabung dalam komunitas penggemar musik rock lawas, jadinya gue tau lagu-lagu enak jaman dulu hasil penelusuran sendiri. Kadang-kadang gue denger di KIS FM Rock Weekend, kadang-kadang gue denger di toko musik, kadang-kadang gue denger di film.

Nah, lagu catchy dan riang gabungan antara blues dan soft rock ini gue denger di sebuah film bertema zombie. Mungkin hubungannya dengan hungry, karena zombie memang selalu lapar ya. Lagu ini cukup tinggi kadar racunnya, paling banyak gue denger belakangan ini. Enak banget didenger dengan volume yang soft mengiringi aktivitas.

What Could’ve Been Love – Aerosmith
Lagu ini masuk kategori penghilang dahaga. Ya, ditengah-tengah lagu jaman sekarang yang ‘begitulah’ itu, ngedenger suara Steven Tyler yang begitu merdu mengalun bener-bener bikin semangat. Lagu ini sebenernya mirip sama lagu-lagu power ballad milik Aerosmith yang lain, tapi karena rilis tahun 2012, kedengeran lebih segar aja. Bener-bener kaya basahin tenggorokan dengan minuman dingin saat lagi haus-hausnya.

Just Like Tiger Woods – Steel Panther
Mungkin Steel Panther ini adalah satu dari sedikit band jaman sekarang yang masih mengusung genre Hair Metal yang tersohor itu. Entah kemana The Darkness sekarang, nampaknya mereka menghilang. Lagu Just Like Tiger Woods ini mengingatkan gue pada era keemasan genre ini. Segar, bertempo sedang tapi skillful.

Doom & Gloom – The Rolling Stones
Sebuah single crunchy dengan nuansa rock’n roll yang kental. Sebuah cerita mimpi aneh yang dirangkum menjadi sebuah lagu, dinyanyikan seperti meracau oleh Mick Jagger. Membawa kita pada kejayaan musik ini tahun 70an.

Hate Train – Metallica
Lagu Metallica yang Metallica banget. Mereka kembali membawakan nuansa album-album awal macam Kill ‘em All, Ride The Lightning dan Master of Puppets. Robert Trujillo yang enerjik memang membawa kesangaran segar pada musik-musik Metallica sekarang. Dengan chord E yang selalu menjadi ciri khas awalan lagu, juga permainan drum full speed dan full power dari Lars Ulrich, Metallica seakan masih ingin membungkam penggemar mereka yang menghujat album St. Anger.

Closer To The Heart – Rush
Sebuah lagu terpelajar dari Rush, band progressive-art rock yang hanya beranggotakan 3 orang. 3 orang legenda hidup tepatnya. Lagu Closer to the heart menampilkan kesempurnaan harmoni yang dihasilkan hanya dari 3 instrumen yaitu gitar, drum dan bass.

You’re Gonna Go Far, Kid – The Offspring
Seperti biasa, teriakan-teriakan dari sang vokalis bergelar PhD, Dexter Holland membahana dalam lagu-lagu mereka. Dengan ketukan drum konstan-cepat yang punk sekali dan permainan gitar khas Noodle, lagu ini sangat cocok didengar kala ingin mendapatkan mood booster.

Everything – Eric Martin
Gue telat mengetahui lagu ini, karena menurut gue lagu ini sangat cocok sebagai wedding song. Barisan kata-kata lebay, iringan string orchestra dan dominasi grand piano memang seperti sengaja dijadikan senjata utama lagu. Lagu ballad percintaan menye-menye tapi kece berdurasi 6 menit lebih ini memang kurang terkenal. Pernikahan lo akan hipster jika memasang lagu ini.

Turn it on again – Genesis
Mana yang lebih familiar buat anda? Phill Collins sebagai penyanyi solo atau sebagai vokalis sekaligus drummer Genesis? Coba deh sesekali tengok saat-saat Collins masih tenggelam dalam idealisme dan terbiasa menciptakan musik art-rock yang brilian dan tak terpikirkan, seperti di lagu ini.

Terbakar Cemburu – Padi
Bisa dibilang, ini adalah lagu Indonesia kekinian paling mengena buat saya. Sekaligus menandai vakumnya band Padi yang fenomenal ini, lagu ini adalah lagu yang sangat Padi karena melodi-melodi gitar dan lengkingan vokal seperti inilah yang membuat saya mengenal dan menggemari band ini. Belum lagi permainan syncope yang tidak dimaksudkan untuk sok jago, tapi memang keren dari Yoyok, salah satu drummer Indonesia favorit saya. Ayolah Padi, balik lagi dan bikin album fenomenal! Gilas habis mereka semua!

Senin, 27 Mei 2013

Narsistis Yang Menggelikan dan Hakekat Sebuah Perjalanan

Sifat narsis memang sudah sifat alami manusia. Hasrat ingin “berbagi” memang menjadi beda tipis dengan hasrat pamer. “Berbagi” bahwa kita sudah pernah memakan makanan enak tertentu, atau pergi ke tempat tertentu. Hasrat-hasrat tersebut menemukan tempatnya pada social media, tempat kita bisa dengan mudahnya memajang etalase kehidupan. Kebanggaan akan hasil foto perjalanan tentu akan afdol jika kita berhasil memajangnya di akun social media.

Hal itu tentu tidak salah. Toh gambar-gambar yang kita bagi tadi adalah hasil keringat sendiri, penuh perjuangan untuk mendapatkannya. Angle yang pas, kamera yang canggih, kemampuan memperhatikan detail kecil. Hasil kerja keras pula yang membuat kita mampu membeli makanan atau pergi ke suatu tempat. Halal. Sama sekali tidak ada yang salah dengan hal itu.

Terlebih, di social media, orang pada umumnya berhubungan dengan teman-teman yang berada dalam lingkaran kecil pergaulan mereka. Hal ini bisa diartikan bahwa lingkaran pergaulan tersebut memiliki kesetaraan dalam hal kemampuan ekonomi, tingkat pendidikan, juga intelektualitas. Sangat minim terjadi konflik. Lagipula jika sudah merasa tidak nyaman dengan posting seseorang, ada fitur ‘unfollow’, ‘unshare’, atau ‘unfriend’. Beres deh urusan.

Tapi untuk beberapa hal, tidak sesederhana itu. Yang paling aktual tentunya kejadian ricuh perayaan hari raya suci umat Buddha, Waisak yang jatuh pada akhir pekan lalu. Situs berita okezone telah menayangkan berita kericuhan yang terjadi seputar perayaan ini. Oke, mungkin saja ada andil kurangnya kordinasi panitia dengan penduduk setempat dan para turis. Mungkin juga ada unsur keterlambatan Bapak Menteri Agama yang mengganggu prosesi acara, mungkin juga hal-hal lain seputar prosedural dan perizinan yang memang kurang diperhatikan.

Tapi kita tidak bisa pungkiri bahwa ada andil yang tak kalah besar dalam kericuhan tadi. Sangat disayangkan bahwa yang saya maksud adalah tingkah no respect dari para turis. Bayangkanlah jika anda sedang berdoa khusyuk dengan cara anda, lalu suara celotehan gaduh membahana, belum lagi kilatan lampu blitz kamera-kamera mainstream DSLR akhirnya mengganggu ibadah anda. Belum lagi mereka yang memaki-maki batalnya pelepasan lampion akibat hujan deras turun.

Mereka memaki-maki batalnya pelampiasan lampion yang berakibat mereka gagal mendapatkan sebuah objek, tapi tidak memikirkan betapa terganggunya proses peribadatan orang lain.

Egoisme dan sifat yang tidak ada respect semacam ini  memang buah dari sifat narsis berlebihan. Namanya juga etalase kehidupan, orang tentu cenderung memajang hal-hal terbaik yang bisa dilihat orang. Pengalaman langka seperti prosesi waisak di Candi Borobudur memang masuk kriteria sebagai event yang keren dan kece untuk didatangi, malah bisa juga kita sebut hipster, tanpa kita berpikir bahwa prosesi itu adalah semata ritual keagamaan yang membutuhkan suasana tenang ketimbang ekspos berlebihan.

Saya pernah membaca, bahwa di Amerika Serikat dokter spesialis bedah plastik bisa mendapat penghasilan hingga 6 juta dollar setahun untuk mengoprasi wajah, hidung, hingga payudara (saya percaya di Indonesia sih tidak se-ekstrim ini). Setelah ditelisik, mereka memang melakukan hal itu salah satunya agar bisa dengan percaya diri memajang foto di akun social media mereka. Di era sekarang, first impression dari sisi penampilan memang dianggap lebih krusial ketimbang pengamatan mendalam terhadap karakter seseorang. Jika ingin berkenalan dengan seseorang, kita terbiasa mengintip akun social media orang tersebut sebelum bertemu langsung. We let the social media define us.

Kembali ke persoalan para traveller ini, saya jadi teringat sebuah posting sarkastis tentang perangai para traveller ini disini. Meski tidak sepenuhnya sependapat dengan tulisan tersebut, namun ada beberapa poin penting yang penulis tegaskan mengenai kurangnya kesadaran dari para traveller untuk setidaknya menjaga kemurnian destinasi wisata yang mereka datangi.

Saya pribadi not quite a traveller, karena terbilang jarang bepergian. Meski demikian, saya memang menyimpan keinginan untuk suatu saat dapat mengunjungi beberapa tempat di suatu belahan dunia. Semula, memang tujuan saya cukup cheesy untuk itu, dan tidak bisa dipungkiri memang keinginan untuk pamer tetap ada, meski hanya ke beberapa orang dekat.

Buku-buku bermutu tentang cerita perjalanan (misalnya 99 Cahaya di Langit Eropa oleh Hanum Rais) dan juga tulisan-tulisan seperti diatas lumayan membuka pikiran tentang bagaimana menyikapi sebuah perjalanan. Bahwa memperlakukan travelling sebagai eskapisme dan untuk kegiatan foto-foto narsis belaka hanya akan menghilangkan esensi dan makna dari sebuah perjalanan.

Perjalanan harus memberikan suatu pelajaran, perenungan, pengetahuan bahkan aksi nyata ketimbang sekadar menjadi bahan cerita “Saya sudah pernah kesini, kesitu, kesana…” ataupun penghias status social media macam. “3 hari 4 malam ke 3 negara, capek banget tapi senang.”

Rabu, 22 Mei 2013

My 20 silly things


“A simple things, where have you gone.” Begitulah potongan lirik lagu band Keane yang sangat banyak di-quote oleh orang-orang yang hidupnya mendadak sangat tertekan, entah karena fenomena puber atau karena sudah mulai mengalami mildlife crisis.

Hidup makin susah, ngapain juga serius-serius amat. Enjoy little things dan berbuat badung kadan-kadang boleh lah. Dengan demikian, saya coba mengingat-ingat hal-hal konyol yang pernah saya alami atau lakukan bersama teman-teman. Hal yang hanya bisa terjadi di masa lalu, hanya bisa ditertawakan di masa kini dan kemungkinan besar tidak bisa diulangi di masa depan.

1. Saya pernah mencuri singkong bersama teman-teman, dan lari terbirit-birit ketika kepergok.
2. Saya pernah mem-bully lawan tanding sepak bola yang songong dengan mengincar kepala si penjaga gawang. Berhasil karena wajahnya memerah akibat tendangan-tendangan saya. Setelah pertandingan selesai, kami nyaris berkelahi.
3. Saya pernah memecahkan lampu lapangan bola karena menabrak tiangnya, lalu karena teman-teman saya kabur, saya ikut kabur.
4. Saya pernah menjahili orang yang lewat depan rumah dengan memasang jebakan benang, jebakan lubang atau menyemprot wajah orang itu dengan semprotan air berbentuk suntikan.
5. Ketika manggung di sebuah acara, teman saya dengan telak salah memencet kunci gitar. Harusnya kunci A, dia memencet A minor. Dan itu bunyinya sangat santer terdengar. Sebagian penonton yang sepertinya mengerti lagu yang kami mainkan, wajahnya berubah bingung.
6. Ketika sedang berlatih di studio musik, saya pernah menyuruh teman saya untuk mencoba menggunakan Bass dengan 5 senar, karena 4 senar sudah biasa. Ketika mengetesnya, ia dengan percaya diri berbicara memakai mikrofon. “Oi, ini kok gak nyetem ya senarnya yang paling atas.” Lalu dijawab oleh teman saya yang lain (juga dengan mikrofon) “Kalo senar bass, senar 5 itu kunci dasarnya B, bukan E.” Seketika wajah teman saya merah padam sementara operator studio tertawa cekikikan.
7. Saya pernah menyuruh teman saya menyembunyikan sepeda teman saya yang lain, yang sedang berulang tahun. Ketika hendak pulang, ia mencari-cari sepedanya hingga matanya berkaca-kaca. Saya dan teman-teman menyembunyikan sepedanya dibalik sebuah pohon besar.
8. Saya pernah membentak teman saya yang malas berlatih sepak bola. Ketika itu, saya menghukumnya dengan menyuruhnya berlari dua putaran keliling komplek. Sementara teman saya yang lain mengawasi dengan sepeda.
9. Ketika sedang balap lari (balap lari biasa, bukan lomba), teman saya mendahului saya. Tidak terima, saya menjatuhkan badan ke punggungnya, lalu mendorongnya. Ia terjatuh dan saya menang. Tapi sesudah itu kakaknya yang perempuan mendatangi saya lalu mengomel tanpa henti.
10. Ketika bermain dirumah teman saya yang ibunya galak, saya sengaja menyembunyikan telur-telur ayam negeri miliknya. Saya pindahkan dari kulkas ke mesin cosmos penyimpan beras karena kesal. Lalu saya pulang.
11. Saya pernah naik angkot, lalu turun tanpa membayar. Masih belum mengerti kalo naik angkot itu bayar.
12. Saya pernah menonton 6 pertandingan sepak bola secara marathon. Dari jam 7 malam hingga 5 pagi.
13. Saya pernah mendengarkan 1 lagu berulang-ulang selama 6 jam, seperjalanan kereta api Jakarta-Semarang.
14. Saya pernah dihukum gara-gara tidak pernah mengerjakan latihan soal. Guru saya membentak. “Keluar! Kamu renungkan kesalahan kamu!” Bukannya merenung, saya malah main bola di lapangan.
15. Saya pernah menembaki ayam tetangga dengan pistol mainan yang pelurunya terbuat dari plastik.
16. Saya pernah bolos les pelajaran hanya untuk bermain sepak bola, saya selundupkan perlengkapan di tas sehingga tas saya sangat berat.
17. Saya pernah komporin teman agar putusin pacarnya. “lo mau pilih cewek atau sepak bola?” Tegas saya waktu itu karena kesal dengan kelakuan teman saya yang sering bolos latihan.
18. Saya pernah tidak mencukur rambut selama 4 tahun. Rambut saya yang keriting itu kemudian menghalangi pandangan teman-teman saya kepada papan tulis di kelas. Akibatnya, saya selalu duduk di bangku paling belakang bersama anak-anak bandel.
19. Saya sering meledek pengirim SMS mama minta pulsa atau penelpon yang menyebutkan kerabat dekat sedang sakit keras. Ledekan yang benar-benar membuat mereka marah.
20.  “Labil” adalah nama tengah saya jika menyangkut urusan percintaan. Saya bisa berubah sikap dan pendirian lebih cepat daripada Kotaro Minami berubah menjadi Satria Baja Hitam.