Jumat, 20 September 2013

Galau Sehat

Di tahun 90an, bahkan 2000an, kosakata ‘galau’ jarang digunakan. Kata tersebut baru muncul dua tahun kebelakang setelah banyak anak-anak muda menggunakannya. Remaja galau adalah potret anak muda masa kini. Percepatan pendewasaan yang mereka dapati dari tayangan televisi yang menyajikan acara-acara percintaan dewasa dan lagu-lagu yang juga bertemakan cinta memang membuat adik-adik kita ini cepat terserang virus galau.

Galau itu manusiawi, karena manusia memang mudah sekali merasa tidak nyaman jika terjebak pada situasi yang tidak diinginkan. Bedanya, sekarang lagi musimnya galau itu diekspresikan dengan sebebas-bebasnya. Tapi gak ada salahnya jika kegalauan hati disalurkan untuk menciptakan hal positif. Contoh galau paling keren yang pernah saya dengar adalah kegalauan Dave Mustaine. Pentolan band metal Megadeth ini sempat menjadi anggota band metal lainnya, Metallica. Mustaine didepak karena masalah kecanduan alkohol, hal yang sangat memukulnya.

"Too bad they couldn't see this lethal energy
and now the final scene, a global darkening" 

Begitulah potongan lirik lagu Set World Afire dalam album So Far, So Good.... So What! yang ditulis Mustaine pada hari ia dipecat. "No warning, no second chance."  Demikian dia menggambarkannya.
Mustaine boleh jadi galau, tapi apa yang ia lakukan? Ia membentuk Megadeth. Sama-sama keras, metal dan brutal. Banyak pengamat bilang jika dari musikalitas, Megadeth jelas diatas Metallica meski secara penjualan album dan ketenaran, Metallica masih di atas Megadeth. Tapi tetap saja hal itu menunjukkan bahwa Mustaine telah melalui fase negatif dalam hidupnya dengan sukses. Ia membuktikan diri bahwa ia mampu melangkah maju dengan kemauan keras.


Nah, Dave Mustaine galau menghasilkan Megadeth, kalo lo menghasilkan apa? :)

Senin, 09 September 2013

The Thirteen Blues

Kecelakaan lalu lintas adalah salah satu pembunuh manusia yang paling kejam. Ia tidak pilih-pilih korban, tidak mengenal waktu. Ia bisa membunuh, membuat cacat atau sekadar melukai. Datangnya juga tidak diduga. Kapan dan dimana saja. Bisa tengah malam, bisa pula pagi-pagi buta, di jalan tol atau di gang dekat rumah. Benar-benar predator lengkap.

Dari Vivanews, Polri mengklaim jumlah korban meninggal akibat kecelakaan lalu lintas sepanjang tahun 2012 mencapai 25 ribu orang. Sementara saat mudik lebaran, jumlah korban meninggal dunia mencapai lebih dari 500 jiwa. Itupun yang tercatat.

Saya tidak pernah tertarik menyaksikan berita kecelakaan, atau mengerubungi korban kecelakaan di jalan hanya untuk memotretnya (bukannya membantu) lalu membuat macet jalan. Namun berita kecelakaan yang dialami Dul, anak bungsu Ahmad Dhani yang kini menjadi isu nasional ini beda cerita.

Sebagai pengguna jalan yang juga sering menyetir kendaraan, saya tidak mau ikut-ikutan arus pem-bully-an dan penghujatan massal. Serahkan saja pada ahlinya lah. Toh hal ini bisa terjadi pada siapapun. Tidak hanya anak berusia 13 tahun saja yang bisa mengalaminya, seorang yang telah berpuluh-puluh tahun mengemudi saja bisa celaka. Mau analoginya dibalik juga bisa, tapi tetap sama saja. Dengan kata lain, saya lebih melihatnya sebagai musibah.

Namun yang menjadi pelajaran adalah Dul yang notabene baru berusia 13 tahun sudah dibolehkan mengemudi. Dan tragisnya lagi, kecelakaan yang menimpanya merenggut nyawa 6 orang yang kesemuanya adalah pekerja dan tulang punggung keluarga. Tapi kembali lagi, tujuan saya menuliskan ini bukan untuk menghujat. Saya juga punya anak laki yang masih kecil, yang bukan tidak mungkin 12 tahun kemudian ia punya pacar dan merengek minta dibelikan mobil.

Di era berikutnya nanti, entah di umur berapa seorang anak merasa butuh untuk punya pacar. Sebagai perbandingan, di usia 13 tahun dulu, yang saya pikirkan sehari-hari adalah sepak bola dan (sedikit) pelajaran di sekolah. Tidak ada gejolak berlebih memikirkan wanita, tidak pula berkeinginan untuk mengemudikan mobil.

Memang tidak bisa dibandingkan anak-anak era dua dekade lalu dengan anak-anak sekarang. Anak-anak sekarang sepertinya terlalu cepat dewasa. Mereka mengunyah banyak hal sebelum waktunya. Kebanyakan makan junk food? Kebanyakan nonton sinetron? Kebanyakan nongkrong di minimarket? Kebanyakan dengerin lagu mellow? You tell me.

Kasus Dul ini cocok dijadikan potret kelam generasi muda. Meski tidak semua anak memiliki fasilitas seperti Dul, namun saya sudah berkali-kali mendengar kisah pilu terjadinya kecelakaan akibat perilaku anak dibawah umur yang ugal-ugalan. Saya tidak ingat persis, tapi rasanya pernah ada kejadian serupa, yang karena kebetulan pelakunya bukan pesohor saja maka cepat dilupakan.

Jelas bukan tanpa alasan mengapa polisi baru mengeluarkan SIM untuk anak berusia diatas 17. Hal ini semestinya benar-benar dijalankan dengan penuh kesadaran, bukan sekadar slogan. Orang tua tentu harus mengawasi dengan baik perilaku anak-anaknya, jangan biarkan mereka menyetir kendaraan, entah mobil atau motor.

Thirteen blues ini memang saya gunakan untuk menggambarkan secara umum gejolak usia pra-dewasa. Usia seperti ini memang rawan dan sedang ingin-inginnya mencoba banyak hal. Dan kebanyakan teman yang saya kenal, sekali mereka mencoba (misalnya rokok) pada usia ini, maka akan berkembang menjadi kebiasaan. Yah, yang namanya udah kebiasaan, transformasi selanjutnya adalah pembenaran. Meski kita sudah tahu hal itu salah, tapi kalau dilakukan berulang-ulang toh akan menjadi kebenaran.


Semoga kita selalu bisa mendampingi anak di usia krusial mereka, sehingga mereka tidak membutuhkan so called pacar. Dan semoga anak-anak kita tumbuh sebagai anak penurut dan tidak macam-macam. Yang sudah terjadi ya sudahlah. Semoga cepat sembuh dan cepat ngeband lagi, Dul. Dan semoga keluarga korban mendapat santunan yang pantas.

Minggu, 01 September 2013

Pledoi Generasi Nunduk

Dear para Om dan para Tante yang kami hormati,

Kami tahu kalian sering mencela generasi kami. Generasi nunduk, alias generasi yang sering menundukkan kepala kearah layar sentuh ponsel sejak dini. Ya, mau bagaimana lagi? Kami memang sejak SD sudah memiliki ponsel cerdas karena benda ini tidak ubahnya gamewatch atau tamagotchi di era kalian. Semua teman kami punya benda itu.

Bukan salah kami kalau lebih senang menghabiskan waktu didepan layar ponsel ketimbang memainkan permainan tradisional seperti kelereng, congklak atau dampu. Bukannya tidak ingin, tapi memang sudah tidak ada lagi yang memainkannya. Masa iya harus bermain sendiri? Mau dibilang apa?

Kalian mencela kami yang kecil-kecil sudah menyanyikan lagu cinta-cintaan, padahal kami tidak mengerti apa itu cinta, toh tidur sendirian saja kami masih tidak berani. Mau bagaimana lagi? Zaman om dan tante kecil, acara khusus anak-anak di televisi sangat banyak. Begitu pula lagu anak-anak dengan lirik yang juga. anak-anak seperti 'si lumba-lumba' atau 'si nyamuk nakal'. Dulu ada om Papa T. Bob, sekarang tidak ada lagi yang mau membuatkan lagu anak-anak lagi buat kami sepertinya. Sekarang, kami disuguhi acara musik pagi dengan gerakan nasional cuci jemur. Ah rasanya semua pihak inginnya kami lebih cepat dewasa, jadilah kami dijejali soal cinta-cintaan sejak kecil. Apakah itu juga salah kami?

Tidak ketinggalan, kalian juga mencela pilihan klub sepakbola favorit kami. Apakah salah jika kami begitu mengidolai Lionel Messi dan Barcelona atau Cristiano Ronaldo dan Real Madrid dan bukannya Johan Cruyff atau Zico? Iya, hanya dua klub itu yang kami tahu di liga Spanyol, sisanya kami hanya menonton liga Inggris. Apakah salah kami jika menyukai Manchester biru, bukannya yang merah? Tolong diingat, kami masih belajar membaca ketika Ole Gunnar Solksjaer yang katanya bermuka bayi itu mencetak gol kemenangan di final tak terlupakan itu. Sekarang, media banyak mengenalkan kami pada Chelsea dan Mancheser City, apakah ini juga salah kami?

Kami sadar jika kami tidak menonton Mtv dengan VJ mereka yang keren, tidak familiar dengan musik grunge dan alternative yang asik itu. Yang kami tahu hanyalah musik-musik seragam itu-itu saja. Studio band sudah sulit kami temui untuk berlatih, pada akhirnya kami berpikir buat apa capek-capek menguasai alat musik padahal dengan modal joget dan lipsync udah banyak yang suka, produser kami juga suka. Alasannya 'mengikuti pasar'. Kami heran juga sih, media kan punya pengaruh besar. Mereka seharusnya bisa membentuk pasar dong, tidak hanya mengikutinya demi rating semata.

Kami juga tidak menyukai era ini, om dan tante. Semakin konsumtif dan tidak terkendali, semakin ngawur dalam ekspresi. Kami krisis identitas, dan makin sulit mencari panutan. Tapi mau bagaimana lagi? Banyak acara yang makin tidak mendidik, akses informasi juga makin tak terbatas, malah jadinya kebablasan. Om dan tante boleh bilang kami diuntungkan dengan adanya internet dan mbah gugel, tapi ya om dan tante tau sendiri kan, membuka internet itu bisa saja membuka kotak pandora jika kami tidak mampu menyaring informasi. Dan orang tua kami tidak bisa lagi mengawasi karena akses tersebut ada di tangan kami, yaitu smartphone itu tadi.

Kami juga seperti om dan tante, bermain social media. Kami bingung. Berkespresi penuh layaknya remaja, kami dibilang alay. Tapi mau coba ngomongin hal berat, dibilang sok tua. Memang kami kadang berlebihan, segala hal kami tumpahkan di socmed. Kami suka lupa kalau kami berteman dengan om dan tante kami, yang dengan kata lain, mereka ikut mengawasi kami. EYD juga kami abaikan, huruf dan angka kami gabungkan dalam satu kalimat. Maafkan kami yang telah merusak tata bahasa. Duh. Sulit bagi kami menentukan siapa yang harus kami follow di twitter. Seperti ada dua kubu besar dan mereka saling serang. Kami harus pilih yang mana? Pengetahuan kami hanya sebatas buku pelajaran, jangan samakan dengan om dan tante yang sudah makan asam garam kehidupan. Akhirnya kami cuma bisa ngetwit "folbek dong kaka".

Maafkan kami ya om dan tante, sepertinya kami butuh bantuan tapi terlalu gengsi ngomongnya. Di pergaulan kami, cuma ada istilah 'woles' atau 'move on' atas segala persoalan, padahal ternyata gak sesederhana itu.

Harapan kami sih semoga tontonan televisi makin berkualitas sehingga kami bisa pintar seperti om dan tante. Bisa punya cerita menarik seperti om-om dan tante-tante yang besar di era 90an. Kami juga tidak mau terlalu cepat dewasa karena masa kanak-kanak ya memang masa bermain yang tak akan terulang. Kami juga capek dengan kurikulum pendidikan yang berubah terus, dikira kami kelinci percobaan? Kami ingin jam sekolah hanya sampai siang saja supaya ada waktu buat kami bermain dan mengerjakan hobi. Ya masa sih sekolah cuma ngejar prestasi akademik aja? Ya gak om? Ya gak tante?

Yaudah deh om dan tante, henpon udah bunyi terus nih, teman-teman ngajak nongkrong di minimarket deket rumah. Kalo gak ikutan, saya bisa gak punya teman deh. Dibilang kuper deh. See you!

Rabu, 28 Agustus 2013

Cerita Konser Metallica di Jakarta

Review pertama rasanya belum cukup, sekarang pengen review untuk kedua kali. 

Siang (24/8) itu sangat terik, tapi promotor memang memaksa saya untuk mengantre. Bukan antre sembarangan, tapi antre penukaran tiket band metal legendaris, Metallica.

Total 3 jam saya habiskan untuk menunggu antrian sebelum tiket akhirnya digenggam. Menunggu bukan hanya saat itu, tapi besoknya pas hari H saya menunggu lagi. Kali ini menunggu di FX Mall Senayan sedari siang hari hingga pintu dibuka pukul 17.00. Untungnya, kali ini saya ditemani banyak teman dari berbagai lingkungan dan berbagai usia, biasanya saya menonton konser rock atau metal sendirian karena sulit mencari teman bareng yang punya selera sama. Ada dua teman kantor (salah satunya seorang ekspatriat) yang usianya 5 tahun diatas, ada teman nongkrong yang masih kuliah, bahkan ada seorang sepupu. Sebuah acara nongkrong dadakan lintas generasi dan lintas bahasa.

Kami menghitamkan sebuah kedai kopi, plus membisinginya sesekali dengan obrolan-obrolan musik metal. Sesekali penampakan licin wanita-wanita metalhead berumur 30an juga menarik perhatian kami semua yang alhamdulillah laki-laki normal. Nongkrong dadakan ini berhasil mempersatukan orang-orang yang sebelumnya tidak saling kenal. Metallica memang luar biasa.

Satu jam sebelum pintu dibuka, kami sudah beranjak. Perut sudah diisi cukup makanan dan cairan, berjaga-jaga jika konser selesai hingga larut malam (dan memang benar). Kebetulan kami semua menonton di kelas festival. Sesampainya di venue, kami langsung mencari spot favorit. Saya dan empat orang teman akhirnya memilih tempat dekat sound engineer, meski agak jauh dari panggung, namun menurut salah seorang teman disinilah spot paling pas. Tidak terlalu bising, dan masih bisa melihat panggung dengan cukup jelas.

Seringai membuka konser dengan garang. Lima lagu mereka mainkan, dimana saya tidak tahu satupun lagu mereka (maafkan saya) dan menurut saya mereka fantastis. Satu lagu Ace of Spades dari band Motorhead mereka bawakan di akhir performa. Saya sih tidak mendengar celetukan “Turun!” di sekitar saya, tapi seorang teman bercerita jika di dekat tempatnya berdiri, sekelompok orang meneriaki Seringai untuk turun. Ah, sebuah attitude bule-sentris yang menyedihkan.

Memang penampilan Metallica yang ditunggu-tunggu. Saat check sound, suara bass drum terasa hentakannya hingga ke dada, begitu pula suara gitar gahar yang terus dimainkan di nada E mayor, menambah nuansa gelap dan garang. Memang berbeda jauh dengan kualitas sound yang diperuntukkan bagi Seringai.

Konser akhirnya dimulai. Seketika, lagu orkestrasi The Ecstasy of Gold terdengar megah dan big screen memunculkan sebuah klip. Sorak-sorai menggemuruh, lagu perdana Hit The Lights yang kencang digeber Hetfield cs dengan mulus, menjadikan head-banging masal. Belum sempat cooling down, Master of Puppets yang legendaris itu langsung dimainkan. Mosh pit langsung terbentuk dengan sendirinya, bahu bertemu bahu, adrenalin mencapai puncak.

Selanjutnya, beruntun mereka memainkan lagu-lagu dari gabungan album Kill ‘Em All, Ride The Lightning , And Justice For All dan Metallica (Black Album). Suasana menjadi syahdu saat nomor legendaris One dan Nothing Else Matters dibawakan. Tapi, Metallica tidak memberi waktu terlalu lama untuk cooling down, karena kemudian berbagai hits dari album Ride The Lightning dan Kill ‘Em All dibawakan, dengan Creeping Death dan Seek And Destroy sebagai penutup. Secara keseluruhan, Metallica tampil nyaris tanpa cacat. Suara vokal tidak fals, sound gitar dan bass terdengar pas, suara drum juga mantap. Energi yang terpancar dari musisi-musisi yang sudah seusia om kita (50 tahunan) ini sangat besar, mungkin lebih besar daripada anak-anak usia 20 tahunan jaman sekarang.

Saya tidak menghitung dengan pasti berapa lagu yang mereka bawakan. Tapi durasi konser yang nyaris mencapai dua setengah jam lebih sungguh memuaskan dahaga para pecinta musik metal akan sebuah konser metal berkualitas. Hebatnya meski konser ini konser metal dan penontonnya berjumlah diatas 50 ribuan, tapi keamanan sangat terkendali. Bisa dipahami sih, yang menghadiri konser mayoritas sudah cukup berumur dan (no offense) mapan, jadi memang mereka datang dengan tujuan ingin menikmati konser, bukan untuk cari ribut dan mabuk.

Bagi sebagian orang, 20 tahun telah mereka habiskan menanti. Tepat tahun 1993, Metallica yang saat itu sedang jaya-jayanya dengan album Black memang mengguncang Jakarta dalam arti sebenarnya. Konser yang berlangsung di Stadion Lebak Bulus itu berlangsung ricuh karena banyak penonton yang tidak kebagian tiket. Kericuhan itu konon membuat Guns & Roses yang semula telah mengagendakan tur Jakarta membatalkan niat mereka.


5 dari 5 orang yang saya tanyakan pendapatnya tentang konser menjawab kurang lebih sama. Bagi mereka, konser Metallica (25/8) adalah konser terbaik, termegah dan terhebat yang pernah mereka saksikan. Catatan: 3 dari 5 orang teman saya itu bukan penggemar berat Metallica. Bagi saya sendiri, ini adalah mimpi yang menjadi kenyataan. Saya telah mendengarkan lagu-lagu mereka sejak 15 tahun lalu, dan masih memajang poster mereka di kamar sampai sekarang. Rasanya, uang sebesar 750 ribu rupiah plus pegal-pegal di kaki dan tenggorokan yang gatal sama sekali tidak sia-sia. Metallica gives you heavy!

Senin, 26 Agustus 2013

The Greatest Show by The Greatest Band in The World

Rasanya kata-kata gak cukup gambarin perasaan ini. Gimana nggak, konser Metallica semalam adalah konser terbaik yang pernah gue saksikan, ditambah fakta bahwa Metallica adalah band favorit nomor satu gue sepanjang masa.

Masih terpajang jelas poster Metallica di kamar lama gue di rumah orang tua, saat itu Jason Newstead masih jadi bassist, juga koleksi kaset lama sejak album Kill ‘em all saat almarhum Clifford Lee Burton masih mencabik bass. Ah, band ini terlalu besar artinya buat gue, terlalu subyektif dan bias mungkin tulisan gue ini.

Jika gue melihatnya dari sudut pandang penonton netral, konser semalam tetaplah luar biasa. Meski tata panggung tidak dibikin seperti Cunning Stunts yang spektakuler dimana panggung berada dibawah posisi penonton, dan band dibuat berada di tengah-tengah, tapi tetaplah tidak mengurangi kerennya konser. Sound yang super mantap, suara bass drum terdengar menggema sampai ke dada (literally), juga suara sound gitar dan bass yang terbagi dengan sempurna menjadikan tontonan konser semalam adalah tontonan musik terbaik yang pernah gue saksikan.

Lagi-lagi gue subjektif. Bagaimana enggak, lagu-lagu yang mereka bawakan adalah lagu-lagu yang sudah 15 tahun lebih gue selalu dengarkan. Di kamar sebelum berangkat sekolah dulu, di walkman pas jeda kuliah, di laptop sambil kerja di kantor. Gak cuma menemani aktivitas, tapi juga menemani sebagian besar perjalanan gue dari satu tempat ke tempat lain. Selalu ada kompilasi lagu Metallica yang gue dengar dari audio sederhana mobil. Pendek kata, Metallica adalah teman hidup gue (selain istri tentunya). Menyaksikan mereka secara langsung adalah impian yang jadi kenyataan. Gue udah nonton Megadeth, Mr. Big, Gun’s & Roses dan Metallica. My life is cool!

One, Creeping Death, Sanitarium, Master of Puppets, Fade to Black, Enter Sandman, Seek and Destroy, Blackened, dan lain-lain adalah kumpulan lagu sangar yang mencerminkan semangat dan energi tiada batas. Saat lagu One dibawakan, gue literally merinding. Dan saat Sanitarium dan Fade To Black dibawakan, gue secara instingtif terus melakukan air drumming.

Ah sudah gue bilang, pasti gue bias. Tapi meski begitu, gue yakin konser kemarin adalah sebuah konser untuk dikenang, yang pantas diceritakan sebagai pengalaman gak terlupakan. Gue juga yakin gak semuanya yang nonton kemarin bener-bener penggemar band ini, tapi mereka toh menikmati atmosfer konsernya.

Memang saat ini sudah bukan era mereka, tapi mereka seperti mencontohkan bagaimana musik harus dimainkan. Keras, lugas, brutal dan semangat. Tidak peduli seperti apa keadaan industri musik belakangan ini, dan juga bagaimana trend musik sekarang, Metallica tetaplah tak tergoyahkan. Mereka tetaplah band metal terhormat yang konsisten dan gak lekang dimakan zaman.

Konser Metallica semalam juga memberi banyak makna. Bagaimana attitude sebuah band besar kelas dunia, yang meski sudah berusia diatas 50an tapi tetap menyuguhkan performa layaknya anak-anak usia 20 tahunan. Energi mereka luar biasa, profesionalitas benar-benar mereka jaga dalam arti sebenarnya. Profesionalitas bukan berarti mereka adalah ‘musisi bayaran’ tapi juga mereka berperilaku menunjang hal itu. Performa total semalam adalah buktinya.

Mungkin banyak band metal berskill lebih tinggi dari mereka, juga lebih gahar dan sangar, tapi Metallica tetaplah punya ciri dan bunyian yang membedakan mereka dengan band lainnya. Karakter yang mereka punyai terlalu kuat, dan lagu-lagu yang mereka buat tidak pernah asal-asalan. Tidak hanya keras, tapi juga penuh harmonisasi.


Tidak heran jika bagi dunia musik metal, mereka adalah ikon. Tapi bagi gue pribadi, mereka adalah ikon dari musik. Selesai.

Kamis, 22 Agustus 2013

Siraman Rohani

Apa yang kita pikirkan ketika baru bangun tidur? Paling-paling soal kerjaan kantor, soal meeting pagi-pagi, soal makan siang sama klien, lalu malamnya ada reuni kecil dengan teman-teman sekolah. Bagi pelajar atau mahasiswa juga sama. Paling yang kita ingat lebih dahulu adalah Ujian Semesteran atau pilihan gaya rambut macam bagaimana untuk memikat gebetan.

Jarang sekali kita berterimakasih karena sudah 'dibangunkan' dari tidur, diberi nafas dan umur untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan kita atau diberi kesempatan untuk menjadi manusia yang bermanfaat. Pendeknya, diberi kesempatan melanjutkan hidup.

Memang gemerlapnya dunia sering bikin kita lupa. Gue juga bukan orang yang alim, tapi setidaknya gue paham bahwa kita-kita ini udah sering berprilaku diluar batas, sombong dan merasa tidak butuh siapa-siapa. Harta dan tahta yang kita punyai seolah cukup, dan yang ada malah kita selalu bersemangat mengembamgkan diri untuk terus menambah harta dan tahta itu.

Padahal, harta dan tahta itu punya siapa sih? Jiwa dan raga punya siapa sih? Tuh kan, kita pasti tau semua jawabannya. Kita sadar kalo semua ini punya Allah, hanya saja kita sering terlena.


Disitulah kita butuh siraman rohani. Dalam siraman rohani itu, apa yang diajarkan oleh para ahli agama bukanlah hal baru. Mereka bersumber pada kitab suci yang usianya udah ratusan tahun. Ajarannya sudah ada sebelum kita lahir, sudah lama dan selalu diulang-ulang. Kita juga udah sering mendengar, udah tau, udah ngerti. Kita hanya butuh untuk DIINGATKAN.

As simple as that.

Minggu, 18 Agustus 2013

Tujuan Travelling

Tiket murah dan kemunculan berbagai maskapai penerbangan membawa banyak perubahan. Perubahan yang terjadi bukan hanya pada destinasi liburan saja, tapi juga pada perilaku si turis itu sendiri. Saya tidak berniat nyinyirin turis-turis itu. Kasihan, sudah terlalu banyak yang nyinyirin mereka. Padahal pledoi yang mereka bikin adalah pledoi tak terbantahkan. “Nyinyir aja sih lo! Duit-duit gue!”

Entah kenapa saya sih tidak mau ikut-ikutan dalam arus turisme itu. Saya juga tidak khawatir kurang piknik, karena buat saya segala medium relaksasi itu sudah ada di hobi yang saya kerjakan. Dan buat saya, travelling itu bukan hobi, bukan pula medium “escape from routine” dan sejenisnya.

Liburan buat saya adalah mengenal kota tujuan. Bagaimana sejarahnya, bagaimana kehidupan masyarakatnya. Dan karena saya penggemar sepak bola, saya juga selalu ingin merasakan denyut sepak bola di kota tujuan itu. Saat saya memutuskan untuk mendatangi kota lain, berarti saya memang ingin mencari tahu kota tersebut, bukannya ingin lari dari rutinitas atau ingin haha hihi semata, beli oleh-oleh, lalu pulang tanpa sebuah gagasan baru. Apalagi, mengganggu ibadah biksu dengan foto dari dekat dan mencak-mencak ketika pesta lampion batal. (Tuh kan nyinyir. Duh.)

Ya, pokoknya liburan itu lebih dari sekadar ngepath, posting foto dan ajang narsis. Harus ada makna yang kuat dari sebuah perjalanan. Harus ada perubahan dan wawasan baru dari perjalanan.


Itu sih saya ya, kalo emang punya pendapat lain ya bebas-bebas aja. Hihihi. Selamat piknik!