Senin, 25 Maret 2013

Kesombongan


Salah satu hal yang saya benci dalam hidup ini adalah kesombongan.

Entah menyombongkan harta, kepintaran, kekayaan, kekuatan, kehebatan. Apapun itu. Eit tunggu, saya tidak akan mengecap orang yang suka posting foto makanan atau tempat liburan di Path sebagai orang sombong. Mereka hanya.. Ah sudahlah.

Baru-baru ini, saya melihat dengan mata kepala sendiri sebuah pertunjukan kesombongan. Tidak, bukan seseorang, tapi sebuah akun twitter. Tapi tetap saja akun twitter itu dikendalikan oleh orang, bukan?

Pada awalnya, saya bisa memahami bahwa mereka melakukan itu atas dasar bisnis. Ya, memang di jaman sekarang, tidak ada yang haram dalam bisnis. Bisnis itu seperti cinta dan perang dimana perbuatan apapun dengan bungkusan bisnis selalu membentur pada relativisme. Jika semuanya serba relatif, lalu bagaimana kita bisa membedakan hal yang benar atau salah?

Kita sudah terlalu dewasa untuk ini. Hal negatif dari merasa dewasa adalah membatunya kita. Dengan merasa sudah dewasa berarti menolak segala masukan dan saran karena kita sudah mapan dan mantap. “Siapa elu nasehatin gue? Gue udah gede! Gue udah tau apa yang musti gue perbuat!” Begitulah pledoi dari orang-orang yang mengaku sudah dewasa ketika dinasehati orang lain. Ah betapa rindunya saya akan kepolosan dan hal sederhana.

Dan lagi-lagi saya hanya bisa menyarankan sebuah jawaban klise atas hal itu.

Sudahkah anda menilai perbuatan anda itu dari hati yang paling dalam? 

Hati adalah satu-satunya hal di dunia ini yang belum terkontaminasi oleh tetek bengek bisnis, politik atau apapun yang merusak.

Melihat pada hati seringkali berseberangan dengan orang lain, bertentangan dengan orang banyak. Namun apakah yang diyakini orang banyak sudah berarti benar? Apakah yang diyakini oleh hati sudah pasti salah? Pikirkan lagi.

Memang benar kata Hayley Williams "It has to be so lonely to be the only one whose holy."

Bolehlah kita hebat, bolehlah kita menggenggam dunia, bolehlah karya kita disukai orang banyak. Tapi apalah artinya semua itu nanti? Apalah arti jika kita hanya bisa menyikapi segala anugerah Tuhan dengan kesombongan, merasa hebat, lalu merasa lebih tinggi daripada orang lain. Dan tahukah anda bahwa kesombongan adalah awal dari kehancuran?

Lihat saja sebuah bangsa yang kini berlaku sangat sombong. Mereka menganggap ras lain yang meninggali wilayah mereka sebagai warga kelas tiga. Mereka menganggap kaum lain selain mereka adalah kaum lemah yang halal untuk ditipu dan ditindas. Seberapapun saya mengagumi kepintaran, kecakapan, etos kerja dan kemajuan yang telah mereka ukir sejauh ini, saya melihat bahaya dalam tindak tanduk mereka. Ya, mereka hidup dengan kesombongan. 

Mereka menginjak-injak, mereka menyerobot lahan, membentuk tirani, menertawai pengeboman dan genosida. Selama bergenerasi-generasi, Tuhan telah memberi banyak contoh kepada kita akan kehancuran sebuah kaum karena kesombongannya.

Tunggu saja, mereka akan hancur oleh tangan-tangan mereka sendiri. Mereka yang nantinya bosan karena sudah merasa menang dan menguasai dunia, tentu secara alamiah akan menciptakan konflik sendiri. Ya, secara alamiah manusia memang tidak bisa hidup tanpa konflik. Mereka akan terus mencari perbedaan diantara kesamaan, lalu membesar-besarkannya hingga tercipta peperangan. Begitulah sejarah selalu berulang.

Mereka akan seperti produser Hollywood yang membuat film tentang musuh dalam selimut, seakan pamer kekuatan pada dunia bahwa yang bisa menghancurkan Amerika adalah Amerika itu sendiri, bangsa lain bahkan alien sudah mereka kalahkan semua.

Eh tunggu dulu, saya tidak hendak memberi ceramah atau dakwah. Tidak juga bermaksud mengungkapkan kebencian pada kaum manapun, tidak pula membenarkan teori konspirasi. Saya hanya mencoba menjelaskan ketidaksukaan saya pada kesombongan. Itu saja. Dan saya sama sekali tidak cocok bekerjasama dengan orang yang sombong.

Brute with heart is better than brain with arrogance.

Rabu, 20 Maret 2013

Mafia Bawang


Setelah sapi, sekarang bawang. Gimana nasib tukang sate dan iga bakar?

Tentu saja bukan hanya penjual sate dan iga bakar yang dipusingkan dengan meroketnya harga bawang menjadi sekitar Rp 36.000-40.000 per kilogram, malah ada yang mencapai 85 ribu rupiah. Kuliner Indonesia yang kaya bumbu nyaris melibatkan bawang sebagai alat tempurnya. Jelas saja kenaikan harga bawang tertinggi sepanjang sejarah ini (harga normal 10.000-15.000 rupiah per kg) akan memukul industri makanan, terutama industri kecil.

Seperti diberitakan okezone, pemerintah terpaksa mengimpor bawang guna menanggulangi kelangkaan. Impor bawang yang meningkat pesat sejak tahun 2006 ini memang mengindikasikan makin banyaknya importir bawang. Semakin banyak importir, tentu semakin besar kemungkinan terjadinya “permainan”.

Masyarakat Indonesia memang hidup dengan konsumsi tinggi dan gemar jajan, terutama jajanan kuliner. Positifnya, inilah salah satu kekuatan ekonomi Indonesia yang membuat negara ini survive dari krisis ekonomi yang melanda dunia tahun 2008 lalu. Dengan hidupnya industri kecil, rakyat mampu hidup mandiri tanpa tergantung berlebih pada pemerintah.

Namun bagaimana jika kemandirian ini kemudian dimanfaatkan oleh para oknum yang tidak bertanggung jawab? Seperti yang telah dijelaskan diatas, meningkatnya jumlah importir ini memang lama kelamaan menjadi masalah. Pihak-pihak ini kemudian membentuk sindikat yang mampu mengendalikan harga. Hilangnya kendali pemerintah akan harga komoditas pangan inilah yang memungkinkan hal ini terjadi.

Saya pernah membaca kultwit salah satu akun yang menghitung besarnya keuntungan dari para mafia ini. Dalam kultwitnya tersebut ia memperkirakan keuntungan mafia itu bisa mencapai 100 miliar rupiah, hanya dalam waktu 2 bulan saja. Mekanisme pasar yang liar semacam ini tentu saja hanya akan membuat si kaya semakin kaya dan si miskin semakin miskin.

Saat ini, 60% bahan pangan di Indonesia adalah produk impor. Kurangnya proteksi pemerintah akan produksi pangan negeri sendiri membuat petani semakin tercekik. Melimpahnya bahan pangan impor yang lebih murah otomatis menghancurkan pertanian kita. Sebenarnya tidak ada yang salah dari kegiatan mengimpor, namun proteksi pada petani lokal tetap harus diberikan.

Alasan pemerintah mengimpor adalah tidak tercukupinya kebutuhan lokal dengan hasil bumi sendiri, padahal semua orang tahu kekayaan alam Indonesia melimpah. Kurangnya kemampuan mengolah kekayaan alam inilah yang menjadi masalah sejak lama. Penanaman pangan diseragamkan dan diversivikasi kurang dilakukan. Pembangunan perkebunan kelapa sawit yang kebanyakan hasilnya adalah untuk diekspor malah digalakkan.

Padahal, mencukupi kebutuhan pangan sendiri jauh lebih mendesak ketimbang menyediakan komoditi untuk diekspor. Perdagangan dan produksi pangan harus dikombinasikan, namun semua itu harus bertujuan untuk mewujudkan ketahanan pangan, bukan sekadar keuntungan satu atau dua pihak saja.

Perdagangan perlu dilakukan lebih efektif dengan cara mengimpor bahan pangan yang tidak banyak hasil produksinya, sementara ekspor dilakukan untuk komoditi yang sudah berlebih untuk konsumsi sendiri. Selama ini yang terjadi adalah kebalikannya, beras yang seharusnya mampu diproduksi sendiri malah diimpor sementara lahan yang seharusnya bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan pangan malah ditanami komoditi ekspor.

Kondisi ini tentu berdampak buruk bagi ketahanan pangan. Diperkirakan tahun 2030 dunia akan dilanda krisis pangan. Ketidakmandirian untuk menyediakan pangan akan memaksa Indonesia untuk mengimpor dari negara lain dengan harga yang sangat mahal. Akan menjadi ironis jika Indonesia sebagai negara dengan potensi penghasil pangan melimpah dilanda bencana kelaparan atau kekurangan pangan akibat kegagalan negara dalam mengelola industri pertanian dan mengendalikan harga.

Permasalahan mafia bawang dan juga sebelumnya mafia sapi ini memang tidak lepas dari ketahanan pangan yang mengkhawatirkan. Para petani yang sudah terlindas karena ketidakmampuan mereka bersaing dengan importir kehilangan daya saing yang berakibat pada keterbatasan produksi. Keterbatasan produksi inilah yang dapat menjadikan kelangkaan persediaan. Hal ini dimanfaatkan betul oleh kartel bawang untuk menahan persediaan mereka sehingga komoditi semakin langka. Kelangkaan inilah yang menyebabkan harga melambung, sesuai dengan hukum demand-supply.

Bukan tidak mungkin kasus kelangkaan komoditi pangan ini akan berulang, atau berpindah ke komoditi pangan lain. Para mafia itu tinggal menunggu terjadinya penurunan komoditi hasil petani lokal, lalu dengan cepat mengendalikan rantai penyediaan komoditi impor hingga terjadi kelangkaan yang berakibat melambungnya harga.

Jika pemerintah tidak mampu menanggulangi masalah ini, maka negara gagal menjalankan fungsinya sebagai regulator dan akan dikendalikan oleh kartel, mafia dan sindikat.

Jumat, 08 Maret 2013

Zombieland, A movie review





Pernah gak ngebayangin saat pulang dari kantor tiba-tiba jalan yang biasa elo lewati lebih sepi dari biasanya, tidak ada mobil dan motor berlalu-lalang, lalu ketika sampai dirumah lo gak menemukan keluarga lo, karena mereka telah berubah menjadi makhluk lain seperti zombie?

Orang-orang Amerika sepertinya memang terobsesi dengan mayat hidup ini. Seolah seluruh ras manusia sudah bisa mereka taklukkan, bahkan alien juga telah mereka usir dari muka bumi. Dan setelah bosan, kini mereka menciptakan musuh sendiri dari virus yang mereka ciptakan sendiri berupa zombie.

Dalam film bertema zombie, kekagetan akan zombie yang muncul tiba-tiba adalah sesuatu yang memang dijual oleh sang pembuat film. Dalam film ini, pandemik yang  terjadi dijelaskan akibat mutasi virus mad-man, ya semacam mad-cow versi manusia. Virus yang menyebar cepat secepat gosip artis ini langsung membuat seantero negara lumpuh dan menjadi negara zombie, a zombieland.

Film zombie biasanya diceritakan secara serius dan musuhnya digambarkan tangguh. Elo bisa menebak deh bagaimana plot maupun endingnya. Tapi kalo pengen nonton film bertema zombie dikemas dalam bentuk hiburan, parodi dan terkesan semaunya, mungkin Zombieland adalah pilihan yang tepat.

Zombieland bercerita tentang survivor. Seorang pemuda geek yang sampai film ini habis tidak disebutkan namanya (Hanya menyebut Colombus, sebuah kota di Ohio) yang belum tertular virus tiba-tiba didatangi oleh seorang wanita yang juga tetangganya di sebuah komplek apartemen.

Wanita seksi itu bercerita tentang pengalamannya dikejar oleh makhluk buas yang berusaha menggigitnya. Ia kemudian lemas, lalu tertidur di pangkuan si Colombus. Namun setelah Colombus bangun, si wanita seksi itu telah berubah menjadi zombie buas yang lapar dan ingin memakannya. Colombus melawan, dan berhasil membunuh zombie wanita itu. Setelah itu, ia keluar apartemen, dan begitulah cerita dimulai.

Colombus yang seorang geek dan jomblo akut itu kemudian berceloteh “You see? You just can't trust anyone. The first girl I let into my life and she tries to eat me.” 



Cerita berkembang ketika ia bertemu seorang yang berpenampilan macho, bergaya koboy tapi sering mengeluarkan lelucon garing. Orang ini akan menuju Tallahassee, yang meski sama-sama di bagian timur Amerika dengan Colombus, namun Colombus di utara, sementara Tallahassee di selatan. 

Karakter unik Tallahassee menjadi bumbu di film ini. Baginya, ekstasi membunuhi zombie bagaikan kesenangan anak kecil terhadap mainan perosotan. Namun sang jagoan itu terobsesi dengan kue twinkie, kue bolu jajanan anak-anak disana. Fakta sentimental ditambahkan mengenai anak anjingnya (kemudian belakangan diketahui itu adalah anaknya) yang menjadi korban zombie. Lihatlah percakapan mereka:

Columbus: You know there's a place untouched by all this crap?
Tallahassee: Back east, yeah?
Columbus: Yeah. Yeah. You heard the same thing?
Tallahassee: Out west, we hear it's back east. Back east, they hear it's out west. It's all just nonsense. You know, you're like a penguin on the North Pole who hears the South Pole is really nice this time of the year.
Columbus: There are no penguins on the North Pole.
Tallahassee: You wanna feel how hard I can punch? 

Film menjadi makin rasa Hollywood ketika dalam perjalanan mereka ke timur (Colombus dan Tallahassee) mereka bertemu dua cewek kakak beradik, yang ternyata adalah komplotan penipu ulung. Dua cewek ini menipu mereka dua kali, merampok mobil dan senjata juga. Si cewek yang mereka sebut Wichita (The cute Emma Stone) dan Little Rock ini kemudian membelokkan tujuan menjadi ke barat (Los Angeles) karena sang adik ingin pergi ke Pacific Playland, dimana banyak kabar beredar bahwa di area itu masih steril dari zombie.

Bisa ditebak, si Colombus dan Wichita saling tertarik. Dalam suatu momen yang “Hollywood banget”, si Wichita berniat menurunkan Colombus, agar si Colombus melanjutkan perjalanannya ke timur untuk melihat keluarganya.

“Go find what you’ve been looking for. And when you have it, don’t let it go.”

Ah there she is..
Dengan eye-contact dan body language yang typical dan terbaca, akhirnya si Colombus memilih untuk tinggal. Wichita hanya tersenyum, lalu melanjutkan perjalanan.

“I could tell she knew what I was feeling, we all are orphans in Zombieland.”

Apakah selanjutnya dari film ini? Jika anda berpikir bahwa mereka akan menghadapi zombie besar yang lebih cerdas dan lebih berbahaya sebagai “raja terakhir”, maka film ini bukanlah film semacam itu. Bukan Resident Evil.

Hal utopis adalah yang pertama kali terpikir di kepala saya. Colombus mencatat do’s and don’ts, dimana hal-hal itu adalah semacam manual book yang Colombus tulis tentang bagaimana cara bertahan di negeri yang telah dikuasai oleh zombie. Zombieland. Di antaranya yang saya ingat adalah

1. Do the cardio. Ya, karena bakal sering lari-larian dikejar zombie.
2. Do the double tap (atau apa saya lupa, pokoknya hajar dua kali sampai zombie benar-benar mati).
3. Don’t be attached (jangan terikat atau menjalin hubungan).
4. Don’t be a hero (maksudnya, lebih baik pikirkan untuk selamatkan diri sendiri sebelum selamatkan orang lain).
5. Enjoy little thing (seperti berteriak-teriak, menghancurkan barang di toko-toko yang sudah ditinggal pemiliknya, dan lain-lain).

Elo bisa membaca lengkapnya disini

Tapi bukan itu inti film ini kalo menurut gue.

Film ini menawarkan sebuah ide yang amat utopis, terlebih buat elo yang selalu membenci dan menyalahkan hidup. Elo bisa memilih untuk tidur di manapun, mengambil barang di toko ataupun mengambil uang di bank karena tidak ada lagi pemiliknya. Dan elo bisa melakukannya tanpa harus merasa berdosa, atau merasa melanggar hukum. Lha, kan semua orang udah berubah jadi zombie.

Pendek kata, dunia zombie adalah tatanan baru dunia yang bebas, tanpa aturan, tanpa batas. Menggoda sekali, bukan?

Columbus: You want to know the best thing about Z-land? No- no Facebook status updates. You know, Rob Curtis is gearing up for Friday. Who cares?
Wichita: Ooh! Free parking...
Tallahassee: The best thing is no more flushing. Epic.
 

A unique group

Senin, 25 Februari 2013

Budaya Berkomentar di Media Online



Ada hal yang sedikit berubah dari rutinitas saya mulai awal tahun ini. Saya bersama rekan-rekan perkumpulan pencinta sepak bola diminta untuk menulis secara reguler opini-opini sepak bola kami di laman sebuah media online ternama.

Ini adalah sebuah pencapaian tentunya, meski masih belum seberapa. Menulis di media online yang memiliki nama mendunia tidak sekadar mesti mempertanggungjawabkan isi dari tulisan, tapi juga harus rela menghadapi beberapa konsekuensi.

Konsekuensi pertama adalah masalah pengeditan tulisan. Kami tidak memiliki akses langsung untuk memposting tulisan kami pada laman media. Kami harus mengirimkan dulu hasil tulisan kami kepada tim editor olahraga untuk kemudian barulah mereka melakukan penyuntingan dan publikasi.

Seharusnya hal ini bisa membuat kami lebih “aman”. Dengan adanya editor yang menyunting isi tulisan kami, tentu keabsahan tulisan menjadi tidak diragukan, terlebih mereka adalah editor-editor yang saya percaya sudah berpengalaman di bidangnya.

Namun kadangkala editor mengubah judul atau kalimat dalam tulisan sehingga membuat makna dari tulisan yang hendak disampaikan menjadi bias. Ada kalanya judul dengan isi menjadi tidak nyambung. Saya melihatnya sih tidak masalah, toh mereka tentu saja memiliki patron dan standar baku akan sebuah publikasi tulisan. Mereka tentu saja berhak mengganti-ganti tata bahasa, penggunaan kata-kata ataupun kalimat agar lebih efektif dan lebih “menjual” melihat reputasi mereka sebagai media online komersil jelas menyasar banyak pembaca.

Oke, cukuplah masalah pengeditan. Saya lebih menyoroti masalah komentar-komentar dari pembaca tulisan kami. Seperti diketahui, bangsa kita ini memang masih sangat kurang “berbudaya” dalam menyikapi suatu tulisan. Kadang-kadang mereka sudah berkomentar macam-macam hanya dengan melihat headline atau judul tulisan, padahal dari komentar yang mereka berikan, belum tentu mereka sudah membaca isi tulisannya secara keseluruhan.

Belum lagi masalah logic failure. Tidak jarang tulisan-tulisan kami mendapat komentar yang sama sekali out of context alias sangat jauh ngelantur dari tulisan. Entah apa tujuan mereka, yang jelas budaya berkomentar yang baik di media online sama sekali masih belum ada di kalangan pembaca kita.

Ada pula komentar-komentar yang malah menyulut pertengkaran karena tujuan mereka sepertinya bukannya hendak memberi masukan atau kritik membangun pada penulis, namun untuk meladeni para komentator-komentator lain dengan bahasa yang tidak pantas. Tidak jarang para komentator ini memakai akun anonim sehingga jati diri mereka tersamarkan, dan mereka bisa seenaknya melempar komentar tanpa resiko sama sekali.

Hal semacam ini jelas sebuah tindakan yang tidak keren, sekaligus menunjukkan seperti apa kualitas diri kepada khalayak ramai. Bagaimana mau menciptakan budaya berkomentar yang baik jika mengomentari tulisan di media online saja masih subyektif, tanpa dasar, ngawur dan menyerang pihak lain apalagi membawa-bawa masalah SARA?

Jika anda membandingkan para komentator disini dengan media-media luar negeri, anda lihat sendiri terdapat perbedaan yang cukup jauh. Para komentator berita luar negeri setidaknya memiliki dasar atas komentar mereka, dan mereka umumnya mengkritisi tulisan atau komentar dari isinya, bukan dari siapa penulisnya. Hal ini memang tidak selalu demikian karena masih ada pula yang berkomentar ofensif, namun tentu saja tidak sebanyak disini.

Bagaimanapun, tulisan adalah karya. Mengomentari negatif tanpa dasar dan hanya mengedepankan subjektivitas tidak akan membawa kita kemana-mana. Alangkah lebih elegan jika anda membuat sebuah tulisan juga untuk menyikapi tulisan yang anda ingin kritisi, daripada berkomentar tanpa etika yang malah hanya membuat anda terlihat konyol.

Dengan membuat tulisan untuk mengomentari tulisan, anda juga turut membangun budaya yang baik dalam mengeluarkan pendapat dan berdiskusi. Menulis itu tidak mudah, jauh lebih sulit daripada berkomentar. Untuk menulis, anda butuh bahan, butuh data, butuh research dan segala macam. Bahkan tidak jarang anda mengeluarkan uang pribadi untuk menulis sebuah artikel gratisan, meski hanya untuk membeli secangkir kopi.

Menulis akan membuat anda sadar betapa pentingnya membaca, betapa pentingnya memperoleh dasar atas apa yang hendak anda katakan. Tidak ada yang salah dari berkomentar, toh ini negara demokratis. Lagipula, untuk mengomentari suatu hal, anda tidak perlu menguasai hal tersebut. Contohnya, apakah semua komentator sepak bola sudah pasti jago bermain sepak bola? Apakah mereka harus jago bermain sepak bola baru boleh berkomentar? Jawaban dari pertanyaan seperti ini akan sama hal dengan jawaban apakah rakyat harus menjadi presiden untuk mengkritik presiden.

Media online tentu memiliki alasan untuk mengaktifkan kolom komentar di setiap tulisan yang mereka publikasikan. Komentar tentu tidak dilarang selama memiliki dasar, beretika dan berbudaya. Tujuan mereka tentu baik, mereka ingin mendengar opini dari para pembacanya. Namun jika opini-opini itu hanya seperti ocehan tidak berdasar dan memecah belah, sampai kapanpun budaya berkomentar yang baik itu tidak akan tercipta.

Selasa, 19 Februari 2013

We called it: Eat For Fun

Spaghetti Aglio e Olio. Pic from Cucina San Savero


Indonesian dream saya sebut sebagai imitasi dari American dream yang tersohor itu. Glorifikasi hidup hasil dari perjuangan tanpa kenal lelah yang telah dimulai dari bangku sekolah hingga perguruan tinggi dilanjutkan kembali dengan bekerja keras dan berkarir dari bawah di dunia korporasi.

Tidak ada istilah “bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian” karena pada kenyataannya yang membedakan cara hidup orang sukses dan orang biasa-biasa saja ada pada kerja kerasnya. Hidup adalah kerja keras, kerja cerdas. Mau kerja keras atau kerja cerdas sama saja, judulnya kerja. Tidak ada kehidupan penuh kesuksesan tanpa kerja. Dari kecil sampai tua, tidak ada istilah bersenang-senang. Karena bersenang-senang yang dimaksud disini adalah bersenang-senang sesaat setelah lelah dipaksa bertarung dan membanting tulang. Bersenang-senang untuk menyegarkan kembali pikiran, agar siap kembali bertarung.

Orang yang hidup di ibukota memilih hidup yang keras ini. Bangun subuh, berangkat satu jam kemudian, menghadapi kemacetan atau kepadatan penumpang, bekerja lembur hingga larut malam atau sampai pagi seolah menjadi makanan sehari-hari. Apa yang didapat? Tentu saja karir gemilang di usia muda, penghasilan besar yang berujung pada meningkatnya kemampuan konsumsi.

Sebagai bangsa yang memang suka dengan hal-hal kebarat-baratan, kebanyakan dari kita juga mengikuti cara barat dalam bersenang-senang, tidak hanya cara pandang mereka terhadap suatu masalah atau cara mereka bekerja. Berpesta, minum-minum, makan enak, mengambil cuti beramai-ramai untuk short trip lalu memampang foto-foto setiap kegiatan di akun instagram dan seluruh social media dengan maksud “berbagi” memang sudah menjadi budaya kita saat ini. Work hard, play hard. Sebuah pembenaran bahwa kita berhak melakukan apapun karena kita sudah bekerja (terlalu) keras untuk itu.

Saya coba soroti salah satu hal yang umum menjadi bentuk dari slogan “play hard” ini, yaitu makan. Makan dalam hal ini bukanlah makan yang biasa asal perut kenyang, tapi esensinya lebih dari itu.

Beef Ribs. Pic from Ligagame

Saya pertama kali mempopulerkan fenomena ini dengan istilah “eat for fun”. Secara harafiah berarti makan untuk bersenang-senang, bukan sekadar untuk kenyang. Rekreasi sesaat. Makanan yang dimakan tidak hanya mengenyangkan, tapi harus memanjakan lidah. Tidak hanya itu, secara kuantitas harus banyak. Terakhir, tempat makannya juga harus senyaman mungkin sehingga bisa sambil mengobrol atau bergosip dengan bebas.

Aglio-olio, ribs, aneka pasta, udon, ramen atau apapun yang asing di telinga dan tidak tercantum dalam kamus bahasa Indonesia dan bukan makanan orang tua kita saat mereka berpacaran jaman dulu adalah makanan kita sekarang. Tidak lupa setelah perut dihajar aneka makanan lezat berkolesterol tinggi itu, kita “cuci” mulut kita dengan satu atau dua scoop ice cream dengan kadar susu tinggi, dengan topping cokelat yang manis. Anda hitung sendiri berapa kadar kalori, lemak dan gula yang ada dalam sebuah acara eat for fun itu.

Eat for fun seolah membawa kita ke dunia lain. Kita lupa bahwa pekerjaan masih menumpuk atau malam sudah semakin larut. Seringkali kita juga lupa bahwa perut sudah semakin buncit dan celana semakin sempit. Eat for fun seperti candu yang membuat kita terlena layaknya orang mabuk.

Saat berada di restoran, kita terbius oleh pelayanan ramah para waiter dan waitress, ambience yang super-cozy, musik-musik pengiring yang romantis dan membuat betah, juga pengunjung-pengunjung lain yang tidak kalah necis dandanannya dengan kita. Sebuah bentuk eskapisme yang mungkin saja tidak berlebihan.

Ramen. Pic from Wikipedia
Lalu, apakah eat for fun itu baik?

Sadar atau tidak, eat for fun sangatlah menguras kantong. Dalam sekali makan, sebuah menu main course bisa dihargai diatas lima puluh ribu rupiah. Minum? Minimal 20 ribu untuk free flow lemon tea. Desert? Bisa lebih mahal dari minuman untuk sebuah eskrim atau cake. Jadi, siapkan saja kocek tebal senilai diatas 100 ribu rupiah untuk sekali makan. Ya, anda hitung saja sendiri rasionya jika anda makan di warung nasi atau jajanan pinggir jalan.

Tidak ada yang salah dari eat for fun, selama kita bisa menjaga hobi itu tidak merusak badan dan tidak mengganggu stabilitas keuangan. Lagipula, dari pembicaraan-pembicaraan remeh di acara makan-makan itu boleh jadi timbul ide-ide segar yang tak terpikirkan sebelumnya.

Jadi, sudah eat for fun yang keberapa kali bulan ini? J

Rabu, 13 Februari 2013

A good way to die hard, a movie review




Warning: Ekspektasi tinggi adalah penyakit. Ekspektasi tinggi bisa menyebabkan sakit hati, tidak bersyukur, sulit menerima keadaan, sulit move on.

Sayangnya, gue gak bisa untuk gak berekspektasi tinggi menyangkut film favorit. Dan karena sekuel Die Hard adalah film favorit all time, maka tidak heran kalo gue berharap tontonan yang tidak sekadar menghibur, tapi juga mengesankan dan mengejutkan.

Gue hapal adegan per adegan Die Hard 1 hingga 4, dan kesemuanya itu sangat mengesankan. Bruce Willis selalu sempurna memerankan John McClane, seorang detektif biasa namun memiliki seperangkat kemampuan untuk mengungguli penjahat-penjahat kelas kakap. Gaya slengean dan tindakan-tindakan out of the box yang kerap ia lakukan menjadikannya sebagai tokoh jagoan favorit.

Apakah inti dari seluruh film Die Hard? Kekacauan besar. Dan kekacauan besar itu selalu berhasil diperbaiki oleh McClane.

Simak kekacauan-kekacauan ini: Penyanderaan di Nakatomi Plaza, kekacauan hebat di Bandara Dulles Washington pencurian emas di Fort Knox, dan terakhir: kejahatan cyber yang menyebabkan kekacauan di seluruh negeri. 

Dari semua cerita, John McClane digambarkan mampu mengatasi penjahat-penjahat itu sendirian, meski di sekuel 3 dan 4 ia dibantu oleh “partner” dadakan yang sebenarnya bukan polisi, tapi warga biasa (Samuel L. Jackson dan Justin Long memainkan peran itu di sekuel ketiga dan keempat) karena kekacauan yang timbul semakin besar. A big mess pada kejahatan yang mereka lakukan, namun sebenarnya semua tentang uang.

Di sekuel kelima ini, gue tentu berharap lebih banyak lagi, terlebih film ini mengambil Moskow sebagai latar tempat. Yang terbayang di otak gue adalah kemungkinan-kemungkinan konflik besar yang terjadi seperti memanasnya hubungan Rusia-AS. Tapi ternyata gak begitu.

Film sekuel ke-5 ini tidak lebih dari pertunjukan penghancuran mobil-mobil mewah, romansa hubungan ayah-anak, juga bagian-bagian tidak masuk akal seperti perjalanan sehari semalam ke Chernobyl melalui mobil (Moskow-Chernobyl berjarak 700 km). Geographic and logic failure yang terlalu banyak ini membuat film menjadi aneh alih-alih seru.

Tidak lupa, Bruce Willis juga terlihat sudah jenuh memerankan McClane, terlihat dari pembawaannya yang sudah terlalu santai dan seperti sudah menguasai keadaan sepenuhnya. Ini beda dengan di sekuel sebelumnya di mana musuh-musuhnya mampu menguras segala kemampuannya sebelum akhirnya dia kalahkan. Musuh-musuh di sekuel lima ini terlalu mudah ditaklukkan. McClane (kini dibantu anaknya, Jack) effortlessly beat all the scumbag.

Film ini menurut gue hanya bagus dari sisi hiburan. Tapi walau begitu, tetap saja gue sebagai penonton setia boleh dong berharap cerita-cerita yang lebih berbobot. John Moore sebagai sutradara film ini mungkin seharusnya bisa menggali lebih banyak, namun durasi film yang kurang dari 2 jam sepertinya memang menyulitkannya. Sulit membuat rangkaian cerita mengesankan jika durasi kurang dari 120 menit.

Kemunculan Jai Courtney di Die Hard boleh jadi mengawali karirnya di sini, dan sekuel selanjutnya (jika ada) ada kemungkinan Courtney bersama Marie Elizabeth Winstead yang berperan sebagai Lucy McClane lebih tampil dan ambil bagian dalam film. 

Senin, 11 Februari 2013

Air Radiator dan Sop Buntut

Ini bukanlah kisah nyata.

Bang Rojali sudah bertahun-tahun berprofesi sebagai sopir pribadi. Ia bekerja di sebuah keluarga kelas menengah. Layaknya sopir pribadi, tentu saja ia dikenai tanggung jawab tidak hanya mengantar tuannya, tapi juga rajin memeriksa tunggangannya, alias kondisi mobil majikannya.

Bang Rojali ini bukan tipe karyawan yang anda cari. Meski rajin masuk dan jarang sakit, ia bukanlah sosok yang penuh tanggung jawab pada pekerjaannya. Selain malas mengecek kondisi mobil, ia juga tidak bisa mengganti ban sendiri. Saat mengisi bensin, ia bahkan tidak mau turun sambil mengawasi, tapi memilih tetap duduk dibalik kemudi. 

Ia menyetir seperti majikan. Sosok tidak beruntung karena dengan jiwanya tidak menempati badan yang ia inginkan.

Suatu ketika, ia kena batunya. Lantaran kealpaan mengecek air radiator, suhu mobil yang dikendarainya tiba-tiba naik secara drastis, layaknya suhu kota Buenos Aires menjelang derby Superclassico. Memang dasar tidak mengerti atau memang tidak mau tahu, Bang Rojali tetap saja memacu mobil meski suhu meningkat tajam. Setelah asap mulai mengepul keluar dari sela-sela kap depan mobil, barulah ia panik. Air radiator yang jarang ia periksa itu ternyata sudah kosong dan akibatnya suhu mesin mobil meninggi. Sang mobil akhirnya ngambek dan tidak mau jalan.

***
Pak Slamet adalah sopir berpengalaman dan sudah lama bekerja di sebuah perusahaan. Setiap hari ia mengantar pak direktur, setelah sebelumnya menjadi sopir operasional.

Pak Slamet ini memiliki dua hobi: makan dan membaca.

Pak Slamet senang bukan main ketika suatu ketika pak direktur mengajaknya makan di sebuah restoran yang menyediakan makanan khas Indonesia. Pak direktur memang ingin memakan makanan sehat dan bergizi lantaran kolesterol dan tekanan darahnya sudah berada pada tahap mengkhawatirkan. Pengaruh stress mungkin.

Pak direktur memesan menu sayur-sayuran.

Namun apa yang dipesan Pak Slamet, yang kesehariannya sudah begah memakan makanan yang itu-itu saja? 

Sop buntut.

Ia memang suka sekali sop buntut, namun sayang karena penghasilan yang seadanya, ia hanya mampu membeli sop buntut kesukaannya tiga bulan sekali. Sisanya ia hanya memakan lauk seadanya dengan nasi porsi besar.

Pak Slamet kadang kesal karena tidak bisa memakan sop buntut. Kekesalannya ia lampiaskan pada hobi lainnya, yaitu membaca.

Apakah bacaan favorit Pak Slamet? Tentu saja koran murahan yang biasa dijajakan penjual koran berusia tanggung di lampu merah. Ia membaca koran yang kertasnya kaku dan tintanya mudah luntur itu sambil menunggu sang majikan berbelanja atau rapat. Ia tidak hanya membaca, tapi juga berkomentar. Layaknya komentator norak pembaca media online, pak Slamet juga tidak kalah noraknya. Karena tidak bisa mengetik seperti si komentator media online, ia akhirnya memakai pulpennya untuk berkomentar.

“Pendemo wedus,” begitulah tulisannya ketika melihat foto para pendemo yang membikin macet jalanan.

“Janda kembang,” begitulah komentar singkatnya setelah membaca berita tentang artis cantik muda yang baru saja bercerai dengan suaminya.

Komentar-komentar sederhana yang kemudian menjadi rangkaian lucu jika dibuat kliping.