Kamis, 11 Oktober 2012

Lelah menjadi populer

Sebagai manusia yang tinggal di kota besar, tingkat stress tentu ikut besar. Tidak hanya pekerja kantoran, kini pelajar sekolah juga mengalami tensi tinggi dalam hidupnya. Untungnya, ada blog. Blog atau diary ini diperlukan sebagian dari kita yang butuh pelampiasan atas apa yang tidak bisa kita atasi di dunia. Cukup dengan bercerita kepada komputer, emosi tersalurkan tanpa harus memperlihatkannya secara frontal kepada orang sekitar.

Well, ternyata dunia blogging berbeda kenyataannya dengan coretan di buku diary. Di dunia blogging, orang bisa melihat apa yang kita tulis, tidak seperti diary. Blog ini seperti diary berjalan, etalase kehidupan kita, yang dengan sukarela kita perlihatkan pada orang lain. Lama kelamaan orang berinteraksi melalui blog, saling berbalas komentar dan tidak jarang berakhir dengan kopi darat.

Orang yang butuh curhat itu pasti butuh perhatian, selain butuh pelarian. Blog bisa menyeimbangkan dunia, membuat orang tetap bisa menjadi dirinya sendiri meskipun di dunia maya karena memang tidak semua hal di dunia ini yang bisa kita ubah.

Tidak semua orang jago menulis dan merangkai kata, maka dibuatlah twitter. Di twitter, kita berbicara dibatasi 140 karakter saja. Tidak perlu jago menulis, tidak perlu embel-embel tanda baca, tidak perlu repot-repot untuk curhat.

Di twitter, ekspresi makin lepas karena memang mudah menggunakannya. Anda akan dicap aneh jika sering update status di facebook, namun tidak di twitter. Previledge tersebut nyatanya kebablasan. Terlalu banyak orang yang nge-twit seperti sedang meracau, seperti sedang mabuk sehingga linimasa kita dipenuhi celotehan tidak bergunanya. Ada juga kita melihat orang pamer di twitter. Sedang dimana, makan apa, bersama siapa. Sungguh informasi-informasi yang tidak semuanya kita ingin lihat.

Belum lagi kalau kita di-follow orang yang tidak kita kenal, lalu orang yang tidak kita kenal itu kerap mention hal-hal yang mengganggu dan sok akrab. Dan orang-orang itu kadang minta "folbek dong!" Kita juga tidak bisa menolak fakta bahwa orang-orang yang ada di akun twitter kita adalah orang-orang yang berbeda. Berbeda profesi, berbeda pemikiran, berbeda prinsip, berbeda tim sepak bola favorit, dan lainnya. Perbedaan-perbedaan itu memang sepantasnya rentan menimbulkan gesekan.

Kita jadi dituntut menjaga sikap di twitter, apalagi jika follower banyak atau salah satu follower kita adalah orang-orang dekat. Gak mungkin kita ngetwit “T*I KUCING!!” jika ada tante kita di daftar follower. Tidak mungkin pula kita ngetwit untuk mencela boyband tertentu karena penggemar mereka pasti akan marah. Ini menyimpulkan bahwa twitter sudah terlalu mainstream, twitter mulai sesak dan ter-facebook.

Mulailah orang berpindah ke PATH. Lagi-lagi Android dan Apple yang menginisiasi media hipster untuk kalangan yang sudah lelah dengan media mainstream ini. Dari yang saya dengar dari teman, Path lebih eksklusif karena jumlah teman dibatasi 150 orang saja.

Setelah bangga dengan banyaknya jumlah follower di twitter dan teman di facebook, lama kelamaan orang menyadari bahwa sebenarnya dia hanya butuh segelintir orang saja dalam hidupnya, bukan lagi banyak orang. Dunia yang terlalu bising bisa jadi membuat orang tidak nyaman. Setelah puas berekspresi dan hasrat pamer tersalurkan, lama kelamaan orang bisa menjadi bosan. Bosan ngetop, bosan ditanya tiap update status, bosan ditanya tiap upload foto, bosan-bosan lainnya.

Keberadaan Path, juga Instagram, media sosial berbasis gadget menunjukkan bahwa manusia ternyata bisa juga mengalami kelelahan menjadi populer. Popularitas juga bisa memiliki ekuilibrium, dimana jika sudah melewati ambang batas, popularitas itu berubah menjadi sesuatu yang memuakkan. Meski demikian, kelelahan populer ini tidak mutlak, kadang orang masih merasa perlu untuk berekspresi, tapi hanya kepada segelintir orang yang dipilihnya saja. Pengen pamer, tapi lebih malu-malu. Mungkin begitu.

Akan tetapi, ternyata tidak selalu Path atau Instagram menjadi sarana orang untuk mengurangi eksistensi. Ada beberapa yang mengkoneksi seluruh media sosialnya. Facebook, twitter, foursquare, path, line, instagramnya semua tersambung. Update satu, update semua.

Wah, kalo yang seperti ini saya juga bingung menjelaskannya.. :)


Rabu, 10 Oktober 2012

Cerita Pria Ngganteng

"Ehm, let me introduce myself. My name is ... Hmm who I am is not important. Waduh kok kedengeran kayak penculik ya... Ya mungkin aja sih, karena gue siap menculik hati wanita-wanita cantik..."

"... Gue kepedean? Coba pikir deh. Gue bekerja di sebuah perusahaan besar ternama di ibukota. Karir gue bagus, bos-bos suka sama gue. Gue juga aktif di kantor karena kebisaan gue di segala bidang. You can say I am multi-talented. Hidup gue menyenangkan, teman gue banyak.. Hmm, ya gak banyak-banyak amat sih tapi setidaknya mereka ngerti apa yang gue cari, dan gue belajar banyak dari mereka. Pertemanan sih harus bermanfaat, buat apa temenan sama orang yang gak bisa kita manfaatkan? Iya gak, Gan? ..."

"... Wajah gue jelas ngganteng, gaya gue asik. Gue juga jago ngomong, dari ngomong bener sampe ngomong bohong. Eits, jangan salah sangka, gue ngebohong juga bohong cerdas dong. Gue berbohong demi kebaikan! Boleh dong..."

"... Concern gue terhadap pendidikan diri sangat tinggi. Prinsip gue adalah gue harus punya gelar S2 sebelum gue nikah. Ya lumayan kan buat dipajang di undangan, biar semua orang tau, biar orang tua gue bangga, biar sodara-sodara gue tau kalo gue pinter. Semua tugas, dari jaman S1 dulu dan juga skripsinya gue kerjakan sungguh-sungguh dengan pemikiran gue. Karena buat gue, karya harus keren dong. Soal manfaat? Ntar dulu deh, gak usah sok idealis deh, yang penting lulus dengan IPK tinggi..."

"... Gue dulu punya cewek. Pacaran dari 3 tahun lalu. Kita sekantor kok. Nah masalahnya, kantor mana sih yang ngebolehin nikah dengan temen sekantor? Gue harus ngalah? No way! Perusahaan ini akan sangat kehilangan gue. Kalo mau ya dia aja yang resign. Btw, bisa dibilang gue emang setia sih, pasti dong gue setia. Ini pacaran gue yang paling lama, biasanya paling cuma setahun aja udah bagus, kadang malah hitungan bulan, bahkan ada yang hitungan hari doang. Maklumlah, gue kan orangnya perfeksionis. Gue cari yang pantes dong buat gue yang ngganteng ini. Ha ha ha...."

"... Selama berpacaran, gue tetap bergaul sama cewek lain. Cuma nonton bareng dan nganter pulang teman cewek dan berteman baik dengan mereka ya gak masalah kan? Pacaran lagi juga gak masalah selama gak ketauan kok. Nah pacar gue yang dulu ini ngajak nikah melulu. Keluarganya juga begitu, mereka selalu nanya gue 'kapan' setiap gue ngapelin. Lama-lama gue jadi males. Kaya gak ngerti aja deh kalo gue masih muda dan penuh ambisi. Nikah sih gampang!..."

"... Pada akhirnya, gue putus sama dia. Ya emang udah gak ada kecocokan juga sih dari dulu. Gue suka begini, dia suka begitu. Ya gak pa-pa lah, gue kan ngganteng, cewek mana yang mau nolak?"

"... Nah bener kan, gue sekarang punya cewek baru, dan gue langsung sreg! Gue ajak nikah aja buru-buru sebelom disamber orang. S2 atau S3 bisa nunggu kok. Yang penting nikah dulu!..."

"... Soal omongan miring temen-temen mantan gue? Ah apaan sih. Biar aja anjing menggonggong. Gue bisa bilang ke mereka kalo mantan gue itu gak mau resign... hehehe... Yah like I said before, gak pa-pa kan ngebohong asal demi kebaikan... Ini demi kebaikan .... gue kok! Nah nanti pas nikah kan temen-temen kantor gue pada dateng, dan mereka pasti nyariin mantan gue itu. Gampang, tinggal gue bilang kalo gue udah undang dia, tapi dia aja yang gak mau dateng. Gak pa-pa lah, gue ngerti perasaan dia kok. Dia pasti sangat kehilangan gue. Tapi, gue doakan dia bisa berjodoh sama yang lain. Yang lebih baik daripada gue, itu juga kalo ada sih... ha ha ha ha..."

"... Sekian cerita dari gue, pria ngganteng bermasa depan cerah idaman semua wanita dan mertua."

Senin, 01 Oktober 2012

Living in a dream or living in reality?

Berapa orang di dunia ini yang hidup mengerjakan impiannya dan berapa orang yang menyerah pada realita? Saya rasa banyakan yang menyerah pada realita. Jika perkataan saya masih di awang-awang, biar saya jelaskan sedikit.

Seorang financial advisor mengikuti sebuah reality show keterampilan yang sama sekali diluar bidang pekerjaannya. Keterampilan ini memang hobinya, karena tidak bisa dia kerjakan makanya dia mengambil kuliah jurusan ekonomi, berkarir dari bawah, kemudian mapan menjadi seorang financial advisor. Tetapi setelah mapan dan dikenal sebagai financial advisor, orang itu menemukan ketidaknyamanan dalam hatinya. Sebagai orang beriman, dia tentunya berdoa agar dilapangkan hatinya. Ternyata Tuhan memberi jawaban dari sebuah kontes reality show di televisi. Semuanya mudah, dan kini dia sudah memasuki babak-babak akhir dari reality show itu. Dia mampu menjalankannya sebaik dia menjadi financial advisor.
“Setelah sekian lama, akhirnya saya menemukan yang benar-benar ingin saya lakukan. Dan saya akan terus disini.” Demikian tuturnya.

Siapa sangka seorang wakil Gubernur yang baru terpilih memiliki sisi lain? Ketika ditanyai sebuah pertanyaan dalam sebuah wawancara eksklusif tentang “Apa profesi impian anda?” Lalu pejabat baru itu menjawab “Saya suka balapan, saya dulu bercita-cita menjadi seorang motor-crosser.”

Di kantor, saya juga melihat beberapa orang yang memiliki gairah lebih di pekerjaan lain. Ada yang suka sekali musik, ada yang suka sekali berakting, ada yang suka sekali mengorganisir sebuah acara, dan sebagainya. Mereka menjadi staf akunting karena berbagai sebab, dan yang paling umum adalah mereka disuruh orang tua agar menjadi pekerja kantoran agar tiap bulannya menerima gaji. Alasan umum lainnya adalah karena memang tidak ada pilihan lain, dengan artian, disini memang iklim usahanya tidak selalu memungkinkan kita untuk menjadi apa yang kita inginkan, tapi lebih kepada menjadi apa yang orang lain inginkan.

Memang, di negeri yang seperti terus dijadikan negara dunia ketiga ini, mental kita selalu dikondisikan seperti itu. Mental “bekerja pada orang” dan mental karyawan bukannya mental wirausaha. Mental bagaimana meniru dan melakukan apa yang ada di buku, bukannya mental inovasi. 

Memang tidak gampang.

Selasa, 25 September 2012

Negeri over-capacity




Kita sering melihat sesuatu yang melebihi kapasitas di negeri ini. Truk-truk yang berjalan membawa muatan berlebih, bis kota dan kereta api yang kelebihan penumpang, dan banyak lagi. Kalau kita ke pulau seribu dengan kapal nelayan, sering juga penumpangnya melebihi kapasitas. Akibatnya, ada yang gak kebagian pelampung. Dan semuanya dipaksakan jalan.

Gaya hidup sekarang, terutama menyangkut makanan juga seringkali kita lihat menganjurkan untuk kita makan sampai kekenyangan. Makan sepuasnya. Kita sering memaksa perut Asia kita menyimpan makanan dengan porsi Amerika. 

Dari sudut pandang pekerjaan, lagi-lagi kita banyak melihat buruh yang bekerja keras melebihi kapasitas tubuhnya dengan bayaran minim pula. Pakaian-pakaian yang dipakai oreh para atlet di Olimpiade London 2012 kabarnya adalah hasil jerih payah buruh-buruh Indonesia yang harus bekerja over-time tidak manusiawi demi menekan biaya produksi. Para buruh itu di laporan keuangan hanya akan muncul dalam satu akun yaitu "direct labor" yang jumlahnya hanyalah sekian persen dari total biaya perusahaan, dan jauh sekali prosentasenya dari keuntungan perusahaan. Keuntungan itu hanya mengalir deras kepada pemilik modal, lalu buruh? Mereka bahkan harus demo menutup jalan tol hanya untuk menuntut kenaikan gaji sebesar 200 ribu rupiah. Ya, 200 ribu, yang bisa kita habiskan dalam sekejap di restoran mahal.


Whoa, saya mulai terdengar seperti mempropagandakan sosialisme. Ok, stop.

Well, bukan hanya buruh. Pekerja kantoran juga banyak yang bekerja over-capacity. Mereka bekerja dari pagi hari hingga ketemu pagi lagi hingga berhari-hari. Dulu waktu kita kecil orang tua kita sering menasihati kita untuk bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian. Tapi kenyataannya kita yang sudah bersakit-sakit sejak jaman sekolah tetap saja begitu memasuki dunia kerja kembali disuruh bersakit-sakit lagi. Sampai kapan? Entahlah. Toh sebagian kita menikmatinya. Memang tuntutan hidup di kota besar jaman sekarang ya seperti ini, jika tidak mampu mengikuti silahkan menyingkir saja.

Dan masalah over-capacity ini juga kini dialami adik-adik kita di bangku sekolah. Saya beberapa kali bertemu anak SMP atau anak SMA yang baru pulang hingga jam 8 malam. Ketika saya tanya "dari mana, dik?" Dia menjawab kalau dia habis pulang dari mengikuti bimbingan belajar. Dulu jaman saya sekolah gak begitu-begitu amat.

"Anak sekecil itu berkelahi dengan waktu."

Itu penggalan lagu Iwan Fals. Saya jadi bertanya-tanya, apakah memang harus begitu? For God's sake, anak-anak itu bukanlah calon pemain bola, yang memang harus berlatih sedari kecil agar menjadi pesepakbola hebat, dan harus mengorbankan masa kecil mereka. Inilah yang terjadi, kita takut anak-anak kita tidak mampu bersaing menghadapi tuntutan kapitalisme dan era globalisasi.


Negeri ini menjadi seperti sangat profesional jika berbicara globalisasi tapi sangat amatiran jika berbicara safety.

Lalu, apakah saya harus memberlakukan hal ini kepada anak saya? Apakah saya harus menyuruh anak saya belajar keras, ikut bimbel sampai jam 8 malam agar juara kelas dan diterima di kampus favorit, lalu kuliah harus IPK cum-laude, TOEFL harus diatas 600, lalu memaksanya kerja di perusahaan asing? Dan dia berhasil menjadi pekerja berpenghasilan tinggi karena segenap jalan yang saya dikte kepadanya seperti halnya saya merakit sebuah komputer dengan panduan buku manual? 

Atau saya harus membiarkan anak saya melakukan apa saja yang disukainya? Memfasilitasi bakat dan minatnya, tidak memaksakan kemampuannya, membiarkannya menyukai apa yang dia kerjakan lalu meraih sukses dengan kemampuannya sendiri?

Kira-kira, seorang manusia akan lebih senang memilih jalan yang mana?

Tolong, saya butuh parenting guide yang original, jangan yang KW.

Senin, 24 September 2012

The Expatriates


“Saya dibawa berputar oleh taksi selama lima jam, dari bandara kesini.” Ujar salah seorang teman saya yang seorang mahasiswa dari sebuah negara Asia dengan bahasa Indonesia yang lumayan lancar. Dia sedang melaksanakan program perkuliahan di Indonesia dalam rangka memenuhi syarat kelulusan.

Dia lalu menceritakan pengalaman lainnya saat dia bersama teman-teman satu bangsanya hendak pergi ke pulau seribu. Ongkos yang normalnya 300 ribu per orang tiba-tiba membengkak menjadi 3 juta rupiah karena orang-orang disana memanfaatkan ketidaktahuan para pelajar asing itu.

Gak usah orang asing. Coba kalau kita yang orang Jakarta pergi ke daerah pantai Anyer dan sekitarnya, lalu memarkir mobil sebentar di pinggir pantai, pasti preman disana langsung "menggetok" tarif parkir secara gila-gilaan. Teman saya pernah hampir berantem gara-gara “dipalak” dua puluh lima ribu rupiah untuk membayar parkir.

Begitulah sikap asli bangsa kita, gak usah malu-malu lagi. Kata siapa bangsa kita itu bangsa yang ramah dan sopan? Semua itu hanya ada di buku pelajaran, bukan di kenyataan.
Kembali kepada orang asing tadi, saya merasa simpati kepada mereka. Mereka berjuang melintasi batas negara, meninggalkan kamar nyaman penuh fasilitas mereka, meninggalkan orang tua mereka untuk pergi ke negeri orang. Mereka menghadapi hambatan bahasa, makanan, cuaca, dan budaya disini. Alangkah kasihan jika mereka ditambah penderitaannya dengan sikap-sikap banci jago kandang seperti diatas.

Kita yang bekerja di bagian payroll yang menghitung gaji karyawan pasti iri saat menengok berapa gaji para ekspatriat yang bekerja di negeri kita. Namun itulah yang mereka dapat atas segala perjuangan yang mereka tempuh. Jika kita melihat lebih luas, sikap-sikap seperti inilah yang membuat bangsa itu maju, saat orang-orangnya berani menjelajah dunia demi mencari ilmu dan rezeki. Mental seperti itulah yang membuat bangsa lain menguasai perekonomian dan perdagangan dunia.

Lalu, bagaimana dengan bangsa kita? Yah lihat saja sendiri.

Rabu, 12 September 2012

Andai saja mereka di sini



“Track them, then kill them all!”
Begitu kata Barney Ross kepada timnya sesaat setelah dia menguburkan Billy The Kid, anggota termuda dalam tim yang terbunuh dalam sebuah misi pengamanan kotak berisi peta penyimpanan plutonium yang hilang sejak era perang dingin.


Sederhana, namun menyelesaikan semua masalah yang ada. Itulah sepenggal adegan dari sekuel film kumpulan para jagoan tua yang sudah layak masuk museum, The Expendables 2. Film dengan alur cerita dan tema sederhana. Hanya serbu dan serang ditambah balas dendam. Itu saja.

Film ini seperti yang gue duga, kurang banyak menarik perhatian banyak orang, setidaknya orang-orang di sekeliling. Mereka umumnya berujar bahwa film garapan Sylvester Stallone (Penulis skenario sekaligus tokoh utama) itu tidak lebih dari film yang gak jelas, brainless, pointless dan meaningless. Penuh dengan kekerasan, kata-kata kotor dan orang-orang slengean.

Apakah semua hal di dunia ini harus punya makna dan tingkat intelegensia yang tinggi? Well, ada saatnya kita hanya butuh hal sederhana dan jauh dari drama dalam menyelesaikan suatu masalah. Di film berdurasi lebih dari dua jam ini, kumpulan tentara bayaran ini menegaskan bahwa kekerasan kadang diperlukan untuk menghilangkan kejahatan di muka bumi.

Gak usahlah menilai terlalu kritis soal efek di film yang lebih mirip game di Playstation 3. Jangan bosan pula lihat jagoan-jagoan yang kalau nembak selalu kena, sementara mereka gak pernah kena tembak, jangan bosan juga lihat dialog-dialog yang kadang rada garing dan gak bermakna, dan sangat gak elok melihat Chuck Norris, Stallone, Arnold Schwarzenegger dan Bruce Willis beraksi bersama menghadapi musuh-musuh yang biasanya mampu mereka habisi sendiri dalam film-film mereka. Daripada sibuk mencela kekurangan dari segi plot maupun teknis film, lebih baik cermati dan kagumi saja ilmu beladiri Jason Statham dan tendangan-tendangan tae-kwondo khas Jean-Claude Van Damme, karena inilah yang memang layak ‘dijual’ dari film ini.

Di sini, semua persoalan diselesaikan bukan dengan dialog ataupun diskusi yang menguras emosi dan air mata. Disini, semua diselesaikan dengan peluru, pisau, kepalan tangan, tendangan, bantingan dan segala yang membuat badan manusia remuk. Inilah film action. Ini hanya untuk hiburan semata. 

Gue lantas berpikir jika tim pimpinan Barney Ross benar-benar ada, lalu mereka disewa oleh orang baik dan tajir Indonesia untuk memberi pelajaran bagi para koruptor disini. Mereka cocok sekali disewa untuk membantai para koruptor itu hingga ke akar-akarnya. Permasalahan di Indonesia rasanya sudah tidak bisa lagi diselesaikan dengan hukum yang berlaku, dengan para penegak hukum dan penuntut yang sudah terbawa korup. Para penjahat di sini memang harus dilenyapkan dari muka bumi.

Di sekuel selanjutnya, Stallone perlu mempertimbangkan untuk ambil lokasi di Indonesia.

Senin, 10 September 2012

Another Historical Day

Website Football Fandom
Hari yang sangat melelahkan. Emosi saya benar-benar diuji sejak perjalanan berangkat ke kantor di pagi hari. Jalan tembus yang biasanya seperti jalan melewati taman bunga, tiba-tiba berubah menjadi seperti jalanan penuh rintangan ke benteng Takeshi. Total dua jam perjalanan saya habiskan dari rumah ke kantor, yang biasanya kurang dari satu jam.

Sesampainya di kantor, sudah pasti langsung menggila. Menggila kerja. Ya, bertepatan hari ini, perusahaan tempat saya bekerja harus memenuhi panggilan sidang dari Pengadilan Pajak. Berhubung saya mengurusi pajak di kantor, jadilah saya kerepotan. Sebenarnya semuanya sudah siap sejak akhir minggu lalu, tapi tetap saja yang namanya suasana tegang dan takut ada dokumen yang terlupa membuat tingkat kesibukan pagi ini seperti bandara Heathrow saja.

Kembali mengendarai mobil, menemui macetnya Jakarta, lalu sidang, lalu kembali lagi ke kantor, baru sekarang ini saya bisa melemaskan otot dan otak. Hari yang melelahkan.

Tapi, hari yang melelahkan ini terbayar dengan tercapainya sebuah impian yang telah saya pendam sejak lama. Impian mempunyai website sepak bola sendiri. Akhirnya, saya bersama rekan-rekan dari Football Fandom, yang bahkan sebagian orangnya belum pernah saya temui di dunia nyata, meluncurkan www.footballfandom.net sebuah blog sepak bola yang juga menampung tulisan-tulisan sepak bola bagi siapa saja yang berminat. Tentu saja dimuat setelah melalui proses edit.

Setelah resmi menjalani trial bersama @bolatotal, saya resmi menjadi penulis Football Fandom (@FootballFandom1). Saya bergabung karena diajak oleh dua orang teman saya yang masih mahasiswa di kota Jogjakarta. Mereka adalah mahasiswa pandai, kritis, berpengetahuan luas dan tahu apa yang mereka lakukan. Mereka adalah prodigy. Seandainya saja saya memiliki kesadaran seperti mereka saat saya duduk di bangku kuliah dulu, mungkin ceritanya akan berbeda. Tapi ya, tidak ada istilah terlambat untuk passion, bukan?

Selanjutnya, Football Fandom berkolaborasi dengan sekelompok web designer yang tergabung dalam @Footballego. Bersama dua orang designer handal, blog kami menjadi sangat cantik dan variatif, dengan sentuhan infografik dan gambar-gambar digital yang informatif dan canggih. Tidak lupa, bergabung pula seorang penulis lagi yang merupakan seorang mania sepak bola Jerman. Lengkaplah tim kami.

Bersama merekalah obrolan-obrolan menjadi menarik. Ya, obrolan yang sanggup membuat saya terjaga semalaman hanyalah obrolan soal sepak bola. Semula, saya dianggap aneh oleh orang-orang sekeliling karena terlalu menggilai sepak bola, tapi ternyata setelah bertemu orang-orang ini, saya sadar bahwa banyak yang lebih gila daripada saya.

Sekarang saya senang karena hidup saya tidak lagi melulu kerja. Tidak lagi membosankan. Tidak lagi menjadi pekerja biasa yang hanya menunggu datangnya hari jumat dan manyun ketika senin tiba. Sekarang, semuanya menyenangkan. Entah bagaimana hasilnya, saya tidak peduli. Jika Anda sering mendengar istilah passion dan kebahagiaan, inilah arti dari kebahagiaan sederhana buat saya, disamping keluarga saya.  Merekalah keluarga lain saya. Mereka tidak pernah bilang saya aneh begitu saya mulai berbicara mengenai Mauritius, Yerevan, Guangzhou Evergrande, Anton Zingarevich, atau  The Beckham Law.

This is something that money can’t buy.