Senin, 13 Agustus 2012

The Smart Disease


Menjadi orang pintar, tentu menyenangkan.

Mudah menangkap pelajaran di kelas, disenangi pengajar, dikagumi teman-teman, dan tentunya nilai akademik memuaskan. Predikat juara kelas, IPK Cum laude, murid teladan, siswa berprestasi dan sejenisnya kerap akan didapatkan orang pintar ini. Mungkin juga effortlessly tanpa bersusah payah. Saya sering mendengar seorang teman yang juara kelas, ketika ditanya bagaimana cara dia belajar, sering dijawab “Aku gak pernah belajar kok.” Sungguh menggelikan. Mereka menganggap pertanyaan itu sebagai kelucuan.

Orang pintar juga kerap jadi kebanggaan orang tuanya, minimal bisa jadi bahan cerita ibunya saat arisan atau belanja sayur di perempatan, ataupun saat ngerumpi bersama rekan kerja. Ibu saya suatu hari pernah ditelpon oleh ibunya teman saya, dengan bangganya Ibunya teman saya itu bercerita “Bu, tau gak sih? Anak saya satu-satunya itu ulangan matematika dapat 100 lho, sampai saya pegal dari tadi jawab telepon dari cewek-cewek teman sekelasnya yang ngasih selamat.”

Wow, selamat bu, tapi apa anak Anda harus mendapatkan nilai 100 dahulu hanya untuk mendapat telepon dari teman-teman perempuannya?

Tidak cukup sampai disitu, jika ada kumpul-kumpul saudara saat hari raya, tidak jarang pertanyaan yang ditonjolkan adalah “ranking berapa?” lalu jika sang anak menjawab “ranking 1” sontak pujian datang bertubi-tubi dari seantero keluarga besar. Sementara si ranking 20 dianggap bodoh dan tidak punya masa depan. Pertemuan keluarga yang seharusnya menyenangkan bagi seorang anak kecil malah berubah menjadi mimpi buruk yang menghantuinya hingga dia beranjak dewasa nanti. 

Inilah fenomena yang terjadi pada sebagian besar keluarga disini. Orang dinilai karena angka-angka yang dia dapatkan, padahal prestasi bukanlah sekadar angka semata. Akibatnya, anak-anak kecil itu terjebak dalam delusi intelektual dan menjadi penghamba superioritas intelegensia yang kelak membentuknya menjadi pribadi yang sombong dan dangkal dalam menilai orang lain.

Smart disease ini makin menjadi, dan akan menjadi habit yang akan dibawa hingga anak itu dewasa. Kuliah membanggakan jaket, kerja membanggakan jabatan. Sebal pada rejeki orang, merasa dirinya lebih layak, meremehkan orang lain akan terus menjadi penyakit hati yang hanya akan membuat orang itu tidak pernah bersyukur. Kepintaran sudah teramat memenuhi kepalanya, sehingga mereka tidak menyisakannya sedikit saja untuk sikap rendah hati dan membumi.

Mungkin mereka lupa. Bill Gates itu di DO dari Harvard. Thomas Alfa Edison itu dianggap bodoh karena terlalu banyak bertanya. Mereka juga perlu membaca kisah Che Guevara, Albert Einstein, bahkan Gabriel Omar Batustuta yang di masa kecilnya lebih gemar memancing dan bermain bola daripada duduk di bangku sekolahan. Kebanyakan tokoh dunia itu dianggap bodoh oleh orang-orang sok pintar itu, tapi lihatlah kini siapa yang benar-benar pintar.

Coba baca deh kumpulan twit dari om @bobsadino. Gak perlu gue ceritain kan siapa dia?

"Orang pintar, belajar keras biar dpt ijazah dan cepat melamar kerja. Orang Bodoh berjuang agar cepat dpt uang dan bisa bayar pelamar kerja."


"Orang 'pintar' biasanya banyak ide, bahkan mungkin telalu banyak ide, sehingga tidak satupun yang menjadi kenyataan."


"Orang pintar biasanya berfikir mengikuti aturan cara berfikir yg dia pelajari, sedangkan orang bodoh berfikir bebas tanpa dibatasi aturan."


"Orang Pintar menganggap keberhasilannya adalah usahanya, sedangkan orang bodoh menganggap karunia Tuhan."


"Orang pintar susah menolong orang bodoh gampang menolong."

"Org bodoh bekerja keras dan dgn sedikit kecerdasan mencapai sukses, org pintar tdk mau kerja keras dan sok pintar."

"Org bodoh dimarahin merasa sedang diajarin, sdngkan org pintar merasa kesal."

"Orang bodoh kadang tdk tahu kualitas bila diberi tahu segera memperbaikinya, sdgkan org pintar sering mengabaikan kualitas karena sok tahu."

"Wahai para sarjana, hilangkan Arogansi Akademik, yang sering menghambatmu leluasa berusaha dan belajar dari jalanan (lingkungan)." 


"Di Indonesia terlalu banyak orang yang (sok) pintar, sehingga engga ada lagi yg betul2 mau belajar."


Anak-anak pintar itu mungkin tidak akan mengerti. Di dunia mereka, ukuran keberhasilan adalah angka-angka akademis. Mereka kerap menganggap anak-anak yang bergaya santai dan cuek sebagai anak-anak yang tidak punya masa depan. Mereka merasa bahwa nilai akademis adalah cerminan dari nilai orang itu sendiri. Padahal, semua manusia sama dimata Tuhan. Percayalah, sepintar apapun Anda, tidak akan terlihat keren kalau Anda terus menyombongkan dan membicarakannya. Anda hanya akan menjadi radio rusak kuno yang sama sekali tidak keren.

Dan lagi-lagi, itu bukanlah sepenuhnya salah anak-anak pintar itu. Lingkungan dan kebiasaan kitalah yang membentuknya.

Anak-anak itu terlalu berusaha untuk mendapatkan juara kelas, bahkan mereka mungkin tidak pernah melihat cover depan biografi pencipta gadget yang dijinjingnya sepanjang hari atau didengarkannya pada kupingnya. Mereka perlu merenungi kata-kata terkenal dalam biografi Steve Jobs, yang terpampang di cover bukunya itu sendiri: Stay Hungry, Stay Foolish.

Kamis, 09 Agustus 2012

The Bridge

Tahukah kamu mengenai komposisi lagu?
Komposisi itu seperti hidup kita


Intro, main verse, chorus, solo 

 
Setiap bagiannya saling mengisi dan menguatkan.


Intro, bagaimana kamu memulai langkah menuju kebahagiaanmu
Main verse, prinsip hidup apa yang kau pegang sehari-hari
Chorus, ciri khas dirimu yang membedakanmu dengan orang lain
Solo, itu adalah senjata andalanmu, sesuatu yang paling kamu kuasai


Tapi, apakah kamu puas dengan semua itu? Tidak, kamu melewatkan sesuatu yang nyata.  


Bridge.

Bridge, bagian pada lagu yang iramanya berbeda dari susunan bakunya
Bridge, membuat lagu tidak monoton dan membawa kita seolah berada di luar lagu itu, membawa kita ke lagu yang berbeda-beda.
Bridge, adalah jembatan antara dunia rutinmu dengan hal-hal lainnya yang jarang kau temui dalam hidupmu. Ia memberi warna dengan goresan tinta yang kadang berpendar, bercahaya, meredup, berkilau.
Bridge, adalah pasangan jiwamu. Yang melengkapimu. Membebaskanmu dari rutinitasmu yang membosankan.
Bridge, adalah sesuatu yang tidak kamu miliki bagaimanapun hebatnya dirimu.
Bridge, walaupun hanya satu bait mampu membuat perbedaan di antara jalinan nada dalam sebuah lagu yang utuh.


Hidupmu semestinya untaian lagu yang indah,
Jangan hanya mengejar solo, chorus dan menjaga main verse. Namun cobalah bangun bridge. Lagumu akan sempurna.

Nasibmu, studio musik

Ilustrasi studio musik

"Wah, ternyata enakan ngeband ya daripada karaokean!" Seru salah seorang teman kantor saya di sela-sela latihan band kantor dadakan, yang mengaku sudah bertahun-tahun tidak memegang gitar, namun skill gitarnya masih ada.

Bagi para peminat musik, antusiasme mengulik lagu dan melatihnya di sebuah studio musik sewaan memang tidak pernah padam. Namun ada satu hal yang cukup mengganggu belakangan ini bagi saya, mungkin juga Anda yang menggemari musik dan suka bermain musik, yaitu berkurangnya studio musik.

Jelas hal itu sangat mengganggu dan akan membatasi kita para penggemar musik jika kita ingin berlatih bersama band kita. Yah walaupun saya bahkan bukan musisi, hanya suka gombrang-gambreng cuwawaan aja di studio musik, tapi buat saya itu adalah obat mujarab penghilang stres dan penat pekerjaan.

Belakangan ini, saya mendapati beberapa studio di ibukota yang beberapa kali pernah saya sambangi kini sudah gulung tikar alias tutup. Dari obrolan dengan mas operator yang masih tersisa ataupun penyewa baru bangunan tersebut, saya dapat informasi bahwa bisnis studio musik mereka kurang ramai. Saya berkesimpulan, bisnis studio musik sedang lesu.

Hal itu sangat aneh untuk saya, yang bertahun-tahun sudah menyambangi berbagai studio musik di Jakarta maupun Depok. Kira-kira 5 tahun lalu, studio musik sangat mudah dicari keberadaannya. Mungkin di setiap kompleks perumahan ataupun ruko, minimal ada satu studio musik. Tapi kini, beberapa studio yang saya hubungi itu sudah tutup, berganti menjadi rumah makan bebek goreng atau minimarket tempat nongkrong para ABG. Lalu studio yang masih ada dan tersisa, kini sudah terkesan tidak terawat lagi. Ya, mungkin karena kelesuan bisnis itu sendiri.

Bisnis studio musik itu sendiri memiliki karakteristik yang unik. Banyak faktor yang menentukan sustainable bisnis ini. Lokasi memang penting, namun bukan utama. Selanjutnya kualitas peralatan, kenyamanan ruangan studio, keramahan operator, ketersediaan alat cadangan (misalnya senar gitar, snare drum, dll) dan tentu saja harga menjadi faktor yang membuat sekelompok orang memilih tempat latihan band favoritnya.

Tidak sekadar sehubungan dengan musik, ada lagi faktor-faktor sosial. Persoalan kebisingan studio dan citra negatif yang beredar di masyarakat tentang sekumpulan anak yang hobi ngeband. Para pengelola memang harus lebih kreatif lagi jika ingin bisnisnya berkembang, mengalahkan kemunculan karaoke ataupun keberadaan game simulator.

Tidak cukup hanya mengandalkan pendapatan hasil sewa studio. Para pemilik bisa mempertimbangkan untuk menyewakan alat-alatnya untuk dipakai pada suatu event. Atau mereka bisa juga mempromosikan studio mereka sebagai tempat audisi pergelaran musik. Dengan kata lain mereka tidak sekadar dituntut untuk mengerti musik, namun juga mengerti bisnis.

Kelesuan bisnis ini juga ada hubungannya dengan hal lain diluar bisnis itu sendiri, mungkin erat kaitannya dengan gaya hidup generasi muda kita. Bagaimanapun, pasar dari studio musik adalah kebanyakan anak-anak muda usia sekolah hingga kuliah. Kami yang sudah bekerja mungkin hanya sesekali menyewa studio band untuk latihan. Ini bisa berarti bahwa anak-anak sekolah maupun anak-anak kuliah jaman sekarang kurang meminati kegiatan ngeband.

Entah apa yang menjadi trend di kalangan anak muda sekarang. Mungkin mereka lebih senang bermain game online, atau mereka lebih senang nongkrong di minimarket dan ngobrol ngalor ngidul, atau mungkin mereka merasa percuma untuk mengejar cita-cita menjadi musisi.

Ada juga yang berpendapat bahwa kelesuan ini hanya terjadi di ibukota, tempat dimana pilihan hiburan lebih banyak. Tempat dimana anak-anak sekolahnya lebih senang menghabiskan uang jajannya untuk membeli pulsa ketimbang patungan bersama teman untuk menyewa studio.

Lagipula, buat apa menjadi musisi dengan kemampuan dan jam terbang tinggi, jika yang ditampilkan di televisi maupun radio hanyalah sekelompok anak-anak yang hanya bernyanyi lipsync dengan modal bisa joget dan rajin pergi ke salon. Mudah-mudahan saya salah.

Atau mungkin erat kaitannya dengan trend musik masa kini yang kebanyakan mengusung tema akustik minimalis atau tema party dengan arahan DJ. Di acara-acara semacam itu, kita memang tidak mungkin melihat para gitaris jagoan atau drummer handal. Acara-acara semacam itu akan membuat seorang Slash, Tommy Lee, Joe Satriani, Jon Bon Jovi ataupun James Hetfield jadi seperti artefak patung yang sama sekali tidak diminati.

Yang jelas, dengan berkurangnya ketersediaan studio band, apalagi yang dengan harga terjangkau, tentu akan menghambat kemunculan musisi-musisi potensial. Lalu jika semakin sedikit musisi yang muncul dan semakin sedikit musisi yang berkualitas, lagu macam apa yang akan anak kita dengar 20 hingga 30 tahun lagi?

Saya punya kenalan seorang drummer. Dia juga mengeluh bahwa acara musik sekarang tidak terlalu sering menggunakan drum, alhasil dia terpaksa memainkan cajon. "Gue kangen mukul drum!" tegasnya, seolah juga mewakili kegelisahan saya. Apakah perangkat drum akan menjadi tontonan di museum dan gitar akan menjadi barang vintage layaknya piringan hitam di jaman sekarang? Semoga tidak!

Lagu Kenangan

Suatu saat, seseorang bertanya.
"Bisakah kita memiliki alat untuk lupa akan suatu lagu, jadi saat kita mendengar lagu itu, akan terasa seperti pertama kali kita mendengarnya. Aku ingin kenagan baru dari lagu ini."


"Tidak bisa. Dalam setiap lagu, ada kenangan tersendiri, yang bisa bangkit setiap saat kau mendengar lagu itu kembali, meski sudah bertahun-tahun lamanya."

"Kau tidak mengerti. Lagu ini membunuhku. Ini lagu yang indah, namun karena kenanganku dengan lagu ini begitu buruk, aku ingin sekali melupakannya. Aku ingin mengganti mimpi buruk itu dengan kenangan baru yang lebih baik."

"Tidak, kau harus menerima kenangan itu baik dan buruknya. Itu adalah pemberian Tuhan pada hidupmu. PemberianNya melalui lagu itu untuk mendewasakanmu."

"Tapi yang kudapatkan hanyalah rasa sakit terus menerus. Aku ingin melupakannya."

"Kau diperangkap oleh bayangan masa lalu. Percayalah, itu tidak nyata. Dan kau tidak bisa mengganti seseorang dengan yang lain. Apa yang pernah singgah, tidak akan terganti. Kau hanya perlu berpindah tempat untuk memberi jiwa yang lain untuk singgah dan menata hidupmu kembali. Biarlah lagu-lagu itu tetap ada, kelak suatu saat kau akan bisa tersenyum saat mendengarnya. Biarkan waktu mengikis pelan-pelan rasa sakitmu."

Kamis, 02 Agustus 2012

For my son...


For my son,


Welcome to this big bad crazy beautiful awesome world. I just want you to know that I, and I can be sure that everybody’s happy for you, everybody has been expecting you because your presence is a gift for us.



So I hope -and I know I must- be a good father for you. Not only giving you shelter, food and other facility, but also I will give you educations. What kind of education? Not the formal one, you can have it in your school later, but I will give you education of life.



I want you to be a man with passion, values and integrity.



Yeah I know it takes times and experiences for every man to achieve all of them. Even some people I know had never achieved that in his or her life. But for you, I will ensure you can find it sooner than me. Of course I want you to be happy, but I can't provide you happiness. I, and also your mom, can only give you all you need and ensure that your needs are fulfilled. But for happiness, you have to find it yourself with your own way.



So, my expectations for you are:

Be a rockstar

Rockstar doesn’t refer to be someone who sells a rock music album, or be a guitar hero, but rockstar means you are an achiever. I want you to be someone with great achievement, I want you to be a star in your area of expertise. I want to you achieve something from your own ability. You are what you’ve achieved. You master your work and get recognized by others. Doesn’t mean that I want you to show off, but just be the best. Try the best and give all you’ve got. Find your passion and live with it! Life to the fullest and be happy! Just believe that success will come if you do something passionately!



Be the playmaker

Is it playmaker in term of football? Yeah, maybe I take the term from that sport. But be the playmaker here means you have to control your own life. You must be calm but straight to the point. You must have an excellent control of your emotion. You have a clear vision and direction for your life. You have to be open minded, determined, driven, skillful, competent, reliable, capable, knowledgeable, and trusted by others. You have to be strong, both physical and mental. You have to give a maximum contribution for everything you do, wherever you are.



Be the person with integrity

Integrity means you stand on your principle, of course the right principle. You have to stand on truth and honesty, be confident of what you say or do no matter what. You have to be brave to say no for bad things and things that bring bad influence for you.



Be smart

You have to be a man with high intelligence. High intelligence doesn't mean good in academic, but much more than that. Academic record is not everything, as well as academic title. Academic makes you a robot, and you will only good at doing robotic things. Smart means you have a broad knowledge, excellent with music instruments, cultured, have a good writing skill and be a good communicator, have a great sense of art and good sense of humours. You have to speak clearly and elegantly so everyone respect you. You also need to be adaptable and be ready for changes. You need to act based on the needs, and don’t get easily overreacted. Don’t let your emotion beat you. Be well controlled and organized. Never stop learning, never stop changing to be a better person.



Be Strong and be a man

Life is hard, and it's never meant to be easy. You have to face it all and standing strong. Life is not like walking in the park or sitting by the beach. Sometimes you will be pushed to run, crawl, stretch, jump, or even hide. Don't ever let yourself down. When life tries to bring you down, don't be afraid, don't give up, don't show your weakness, and don't cry. Because BOYS DON'T CRY. You must me a man. Yes, a man. A man who love your woman, treat her right and try not to get fooled by them.



Be wise, caring and humble

The above Points will bring you fortunes and success, trust me. But this point 6 will bring you wisdoms, which is above all of them. You can be a superstar, but your life is a vain without wisdom. To be a wise man, you have to be someone with good values. Good values mean you have to act based on a common senses, you have to be sincere and honest. Mistakes will come, and you have to take those consequences and try not to repeat them. You also have to be nice to others, attach with community, you have to be a man with empathy. You have to be trusted by people you are dealing. You have to treat everyone equally with fairness. You have to put others ahead of you, you have to respect everyone and be a good friend. Don't you ever feel that you are mature enough because it will stop you from learning. You have to be down to earth and well accepted. And above all, you have to love your family and treat them well.



Bee a true muslim

Last but not least, you MUST be a good muslim. You have to obey the rules and get away from everything prohibited by Allah. The most important, you have to be generous and help others, respect others, embrace the differences and not to judge others wrongly. To be a good muslim, you are not solely do the ritual things, but also you need to catch up the core knowledge: rahmatan lil alamin. Your life should bring benefit to others. You should read more and learn more about this religion. Learn it completely not partialy. Don't get yourself misunderstood, don't get tricked by fanatic or liberal group. Your guidance is Al Qur'an and Al Hadist. Your inspiration is Prophet Muhammad SAW, not someone else. That's all. If there's someone who act like a prophet, or claimed that he/she is a prophet, just leave them alone. They are crazy, end of story.

Senin, 23 Juli 2012

Kita bahkan menyampingkan bulan suci ini

Setelah berbulan-bulan dan membiarkan ruang kebebasan ini berdebu, akhirnya saya kembali untuk mengisinya, dan menumpahkan sedikit pikiran saya kesini.

Sebagaimana ruang ini adalah ruang berekspresi, inilah tempat paling nyaman buat saya untuk mengemukakan segala hal yang tidak saya sukai dalam dunia ini. Hal-hal yang saya gak suka tapi sepertinya tidak ada yang bisa saya lakukan untuk mengubahnya.
Kali ini saya ingin menyorot soal bulan puasa. Bukan, bukan dari perspektif agama, banyak orang lain yang lebih paham mengenai itu.
Tapi benarkah di bulan ramadhan ini kita harus tetap berjibaku dalam kerasnya hidup sekeras 11 bulan lainnya? Saya pernah membaca bahwa di bulan suci ini kita sebaiknya melonggarkan pikiran duniawi, berhenti sejenak berjibaku mengejar dunia dan berkonsentrasi pada ibadah dan ibadah. Memohon ampunan dan berkah.
Sayangnya di dunia yang matrealistis ini hal itu sama sekali tidak dimungkinkan. Para perusahaan tempat kita bekerja paling-paling hanya memberi sedikit kelonggaran jam kerja setengah jam atau satu jam lebih awal. Beberapa perusahaan malah sama sekali gak ada spirit ramadhan karena mereka akan tetap bekerja lembur seperti biasanya. Dan beberapa orang malah menjadikan ramadhan sebagai ajang mengais rezeki, bukan meningkatkan ibadah. Fenomena-fenomena absurd juga terus terulang berupa banyaknya acara lawak siaran langsung pada saat sahur. Benarkah mereka sebenarnya memiliki selera untuk melucu dan berteriak-teriak di tengah malam saat orang dianjurkan untuk lebih mengencangkan ibadah? Oh tidak, uang telah membeli semuanya. Membayar semuanya.  Kapitalisme ini telah menggurita sedemikian superlatif. Dunia dipaksa berputar terus dengan kecepatan maksimum, membuat pelaku-pelakunya menjalani hari-hari penuh teror dan tekanan.
Kelezatan dari keuntungan dan segarnya guyuran uang memang telah lama membelenggu hati nurani kita dan mengaburkan makna dari bulan suci ini. Kebanyakan orang berpikir, bulan ini hanyalah bulan dimana kita tidak boleh makan dan minum di siang hari. Itu saja.
Mengapa kita tidak bisa melihat dunia pendidikan dan dunia olahraga? Mereka memiliki waktu liburan yang panjang setelah sepanjang tahun bekerja keras. Kompetisi Eropa memiliki hari libur selama 3 bulan di musim panas, dan sebulan di musim dingain. Dunia pendidikan juga seperti itu, mereka memberi libur panjang bagi siswa-siswa dan guru-guru mereka setelah sepanjang tahun berjibaku memajukan pendidikan. Mengapa industri-industri ini tidak mau mengikuti mereka?
Para pekerja hanya diberi jatah 12 hari cuti dalam setahun, itupun dengan berbagai syarat dan potongan-potongan. Mereka harus mengambil jatah cuti hanya untuk bisa pergi berlibur bersama keluarganya. Para pelaku industri ini tak ubahnya seperti mesin yang tidak boleh berhenti bekerja. Saya bukannya ingin melegitimasi bulan ini sebagai bulan untuk bermalas-malasan dan tidak bekerja. Namun tidak bisakah setidaknya kita mengerem diri dan tidak memaksakan diri bekerja hingga larut malam bahkan hingga keesokan harinya? Bukan maksud saya ingin menganjurkan untuk memasang jangkar supaya kita berhenti total, tapi setidaknya bisakah kita mengurangi kecepatan?
Anda mungkin menilai saya orang yang malas dan banyak protes karena menuliskan hal ini. Terserah, ini dunia yang bebas, termasuk bebas berpendapat. Anda juga boleh menilai saya orang yang tidak ikhlas, tapi coba bayangkan betapa lebih bermaknanya hidup ini jika semuanya tidak sekedar dinilai dari materi. Islam sebenarnya telah memberikan bulan ramadhan untuk kita berhenti sejenak dari rutinitas. Berhenti sejenak untuk beribadah kepadaNya setelah nyaris sepanjang tahun kita sering menepikanNya disamping urusan-urusan duniawi kita. Haruskan bulan suci ini kembali kita perlakukan sama seperti bulan lainnya? Sebagai penutup, saya ingin mengutip satu bait lirik dari lagu band favorit saya, Padi. "Bukankah hidup ada perhentian, tak harus kencang terus berlari."

Selasa, 01 Mei 2012

Rockstar (Wannabe)

Almost Famous
Izinkan saya untuk mellow dan galau, sekadar menunjukkan bahwa saya hanyalah manusia biasa. Tiba-tiba saat ini saya terserang rasa ini. Kalo anak-anak sekarang sering dan mudah mengucapkan kata “galau” dan dengan mudahnya update status semacam ini atau ngetweet semacam ini, maka saya bukanlah mereka.  
Tapi kali ini, saya benar-benar tidak tahan. Bukan, bukan perempuan yang bikin saya galau. Bukan pula kisah cinta picisan yang membuat saya kepikiran. Kegalauan saya dimulai saat playlist lagu di handphone memutar lagu “Patah” karya band fenomenal Indonesia, Padi. Selanjutnya saya refleks memainkan semua album band yang dipimpin oleh seorang gitaris gondrong bernama Piyu itu.
Lagu-lagu itu sangat membawa memori ini ke masa lalu. Masa dimana semuanya menyenangkan dan tanpa beban. Lagu-lagu itu sering saya kulik bareng teman-teman satu band, lalu membawakannya di panggung-panggung kecil. Kami mengombinasikan lagu-lagu itu dengan tembang garang Metallica, Mr. Big maupun Megadeth. Sebuah kebahagiaan yang sederhana. Sekumpulan anak muda yang memberontak.
Lalu saya chat dengan teman-teman saya seperjuangan dulu. Kami mengingat-ingat masa itu. Bersama-sama kami menjelajahi panggung demi panggung indie musik Indonesia. Disukai, dibenci, dipuji, ditatap sinis sudah biasa. Tapi kebersamaan kami selalu terjaga. Ditengah mulai basinya musik rock dimata anak-anak muda, kami tetap setia di jalur itu. Jalur classic rock dan metal.
Pada akhirnya kami meninggalkan peralatan musik karena realita. Kami tidak cukup berkemauan keras untuk mengejar mimpi itu, mimpi menjadi rockstar. Waktu mengalahkan kami, kami dihadapkan pada pilihan mengejar pendidikan formal dan pekerjaan kantoran dibanding menjadi musisi. Pada akhirnya, kami semua memilih yang pertama.
Saya tidak pernah akan lupa. Bersama merekalah idealisme bermusik saya terpenuhi, tidak seperti yang terjadi belakangan ini dimana saya dipaksa “mengelus” drum, bukan memukulnya. Bersama merekalah energi dan pengaruh musik rock terus bersemayam didalam diri. Bersama merekalah saya mengaktualisasikan diri. Tidak peduli apa kata orang.
Tapi itu dulu. Kini kami makin disibukkan dengan realita dan baru, yaitu hidup berkeluarga. Waktu semakin berkurang, semakin langka untuk berkumpul bersama memainkan harmoni dan lantunan nada rock dan metal. Kini kami lebih terpanggil oleh tangisan bayi dan perkataan lembut sang istri.
Kami hanya bisa mengangguk-angguk dalam earphone kami di kubikel kerja kami. Kami hanya mendengarkan lagu rock kesukaan kami keras-keras disaat semua orang sudah pergi, disaat mereka yang telinganya tipis itu menghilang. Lagu-lagu yang menemani saat kami berkarya, saat kami menunggu, saat kami di perjalanan. Lagu dengan tema yang sama seperti yang dulu. Lagu rock!
Kami mengaum dalam kesunyian, tapi percayalah semangat Rockstar kami tidak pernah padam!
Saya pernah gondrong!!