Minggu, 19 November 2017

Radio Retro Pendobrak

"Di sini kita gak muter lagu Ed Sheeran, tapi di sini adanya Eddie Van Halen..."

Begitulah suara sang penyiar radio menyapa pendengarnya, termasuk saya yang secara kebetulan mampir di frekuensi siarannya. Saya langsung tahu, kata-kata itu menandakan bahwa kita berada di "frekuensi" yang sama. Benar saja, sejurus kemudian, lagu Jump milik Van Halen dan kemudian Lithium milik Nirvana meraung dan sesegera mungkin menyemarakkan audio standar mobil saya.

Saya termasuk jarang mendengarkan radio. Karena memang biasanya, radio didominasi musik-musik yang memang sedang terkenal pada jamannya. Kebetulan, zaman ini memang zaman now, zaman di mana musik Linkin Park dianggap lagu jadul.

Tetapi semakin lama saya mendengarkan radio ini, lagu-lagu yang diputar justru berkisar di tahun 80an hingga 90an. Barulah ketika sang penyiar menyempatkan waktu untuk cuap-cuap, dia bilang kalau radio yang bernama MOST RADIO di frekuensi 105.8 FM ini memang hanya memutar lagu-lagu pada era itu. Tidak ada lagu zaman now!

Radio memang memegang peran penting dalam menandai zaman. Program-program yang ditampilkan radio menggamparkan seperti apa keadaan saat itu. Berita-berita, diskusi-diskusi, celoteh dari para penyiar, jokes yang khas, termasuk lagu yang diputar menjadi penanda yang jelas akan sebuah zaman. 

Keberadaan Most Radio ini menandai meningkatnya semangat 80s-90s. Saat ini sudah begitu banyak acara-acara yang mengangkat tema dari dua dekade yang memang selalu dirindukan itu, dan dengan beradanya radio sebagai media yang amat penting dalam menandai sebuah kultur, maka semangat lawas (agar waras) dapat terpelihara.

Dilihat dari sisi lain, maraknya trend generasi zaman 80an dan 90an ini sebetulnya tidak terlalu mengherankan. Yang kini memberi sponsor dan menanamkan modalnya pada acara-acara dan media tentulah mereka yang besar pada era itu, yang kini sudah mulai "jadi orang" dan mapan secara finansial. Karena itu, bukan hal yang aneh jika mereka yang sudah mampu lepas dari kejaran inflasi dan tidak lagi menunggu-nunggu tanggal gajian itu sudah bisa memikirkan hal lain. Mereka ingin memberi ruang kemunculan kembali artis-artis favorit pada saat mereka tumbuh dewasa.

Keberadaan radio yang khusus memutar lagu-lagu era lawas harusnya sih memberi efek yang lebih masif. Jika acara-acara konser lawas hanya bersifat insidentil dengan mengedepankan nostalgia, kemunculan radio yang bisa didengar setiap saat menandakan keinginan besar untuk membawa era keemasan itu kembali ke era sekarang. Semangat untuk mendobrak dan terus eksis di tengah kejenuhan (dan mungkin sedikit rasa prihatin) kepada generasi kekinian.

Selamat datang, Most Radio!

Kamis, 16 November 2017

Padi Reborn dan Musik Zaman Now

Apa saja yang memiliki embel-embel "zaman now", sebuah frasa yang begitu sering digunakan tahun 2017 ini, memang seperti disikapi dengan sinis. Tidak terkecuali musik zaman now. Musik kekinian disebut banyak orang tidak dibalut dengan kualitas tinggi sebagaimana musik-musik zaman sebelum ini. 

Bahkan jika dibandingkan musik-musik yang muncul tahun 2000an awal, musik zaman now terdengar begitu jauh kualitasnya. Sang pembawa acara konser Padi Reborn, konser yang menampilkan band yang begitu besar namanya tahun 90an akhir dan 2000an awal yang tayang di salah satu stasiun televisi swasta, mengucapkan kalimat penutup acara yang begitu lugas. "Terima kasih, Padi. Dengan begini, kids zaman now jadi tahu seperti apa musik yang berkualitas." Well..

Begitu banyaknya band-band lawas yang melakukan reuni juga diimbangi makin maraknya acara-acara yang mengusung tema flashback, secara khusus adalah tema-tema 90an. Adanya gerakan-gerakan yang cukup marak namun sebetulnya tidak terstruktur ini, menunjukkan keprihatinan para pelaku seni terhadap semakin menurunnya kualitas lagu-lagu zaman sekarang. 

Ditambah lagi dengan perkembangan teknologi yang mengubah haluan dari fisik menjadi digital, kini orang-orang cenderung tidak lagi menakar lagu atau musik dari kualitas aransemen yang ciamik dan lirik yang bermakna dalam. Digitalisasi penjualan karya dari musisi ini mengubah cara musisi berekspresi. Mereka kini hanya mengeluarkan lagu dalam bentuk single atau mini-album. Bukan lagi album secara utuh, yang mana dalam satu-dua lagu tercermin identitas dan idealisme seorang musisi (atau sebuah grup band). Contohnya, pada album Pandawa Lima milik band Dewa 19, ada lagu Sebelum Kau Terlelap yang cukup melenceng dari yang biasa mereka bawakan, atau banyak contoh lain di album-album milik Slank atau Gigi. Pendek kata, format album memberi ruang bagi para musisi untuk bernegosiasi dengan produser untuk memasukkan sekian menit idealisme mereka dalam album yang sudah penuh kompromi sana-sini. 

Gaya hidup orang zaman sekarang (khususnya orang-orang perkotaan yang menjadi penikmat karya seni musik) yang cenderung serba instan, terburu-buru, sibuk dan serba ingin cepat memang cenderung mengubah cara dalam menikmati lagu. Lagu-lagu pop ringan yang mudah dicerna, lebih bagus lagi ditambahi bumbu-bumbu kontroversi akan cepat sekali diterima. Atau melihat fenomena baper-baperan yang juga ala kids zaman now, lagu-lagu patah hati yang menunjukkan glorifikasi atas kesedihan menjadi komoditi yang begitu laris bak kacang goreng. Lagu-lagu itupun, karena memang dibuat dengan ringan dan instan, memiliki kisah edar yang mirip: diputar secara masif hingga orang muak mendengarnya, namun kemudian dengan cepat dilupakan dalam hitungan bulan saja dan tergulung lagu-lagu lain yang sejenis.

Maka ketika akhir pekan lalu saya disuguhi konser musik band Padi, yang akhirnya melakukan reuni dengan formasi lengkap, ada rasa haru yang tak terperi (tak terkatakan), juga rasa dahaga yang terpuaskan akan tontonan musik berkualitas.  

Sebelum eranya Payung Teduh, yang lewat lagu Akad-nya berhasil membuat jutaan pria terinspirasi untuk berani melamar kekasihnya, Padi lebih dulu membius anak-anak angkatan zaman saya. Lagu "Begitu Indah", "Sesuatu yang indah" atau "Ketakjuban" menceritakan betapa magisnya saat-saat kasmaran, lagu "Semua Tak Sama", "Seperti Kekasihku", "Kasih Tak Sampai" atau "Patah" mencerminkan susahnya move on, yang boleh jadi disebabkan permasalahan beda kepercayaan seperti yang terangkum dalam lagu "Sudahlah" yang kemudian membuatnya "Terbakar Cemburu" ketika ia menemukan bahwa kekasihnya direbut oleh "Sobat"-nya sendiri.

Berbicara lirik-lirik lagu Padi, mereka seperti sudah merasakan manis, pahit, getirnya dunia percintaan, yang ironisnya mereka sendiri rasakan, bayangan buruk tentang hidup yang tidak selamanya indah dan perjalanan yang tidak selamanya mudah malah menjadi kenyataan yang harus diterima band ini. Lagu "Bayangkanlah" akhirnya menjadi kenyataan hidup, dan Piyu sebagai leader dari band asal Surabaya ini pun mengakuinya, ketika ia sedikit meluangkan waktu untuk melakukan speech singkat sebelum memainkan lagu "Harmony". 

Piyu, seperti seorang yang baru sembuh dari sakitnya, juga seperti musisi yang kembali menemukan instrumen enam senar favoritnya, dengan lugas namun mengharukan menyampaikan tentang permasalahan pribadi yang sempat lama menghinggapinya dan kerikil-kerikil tajam lain yang sempat membuat hiatusnya band Padi, sebelum kemudian memutuskan untuk "turun gunung" dan kembali ke band yang membesarkan namanya.

Untuk Piyu, Fadly, Yoyok, Rindra dan Ari, semoga kalian tidak sekadar reuni. 

Rabu, 01 November 2017

Ayam Saus Coklat dan Makin Ngawurnya Kuliner Jaman Now

Rasanya belum beberapa hari sebuah pengumuman dibuat oleh salah satu restoran waralaba terkenal dari sebuah negara maju. Bahwa mereka, yang mengklaim sebagai pemilik asli resep ayam goreng tepung garing ini mengeluarkan varian saus baru. Setelah varian saus keju cair mereka keluarkan sekitar tahun lalu (dan menurut saya sih fail), kini mereka--seolah tidak kapok--malah mengeluarkan saus dengan rasa coklat.

Ya, coklat. Rasa manis bercampur gurih dan sedikit pahit khas coklat cair ini akan berpadu dengan rasa gurih, asin, garing, dan tekstur basah karena rendaman minyak goreng yang menjadi khas dari ayam goreng tepung ini. Buat gue sih, membayangkannya saja sudah bikin bergidik. Walaupun kemudian setelah banyak yang mencoba, coklat itu tidak berasa manis, tetapi pedas seperti layaknya saus sambal.

Memang sudah banyak jenis kuliner yang jelas-jelas menyalahi pakem dan "kodrat". Mulai dari martabak yang diberi topping macam-macam, sate ayam yang asin, keju yang menjadi bahan dasar kue bolu (bukannya pelengkap), hingga mie instan yang dibuat dengan rasa macam-macam telah mewarnai khazanah kuliner jaman now yang unik sekaligus nyeleneh.

Sesuai dengan pola pikir out of the box ala Generasi Millenial, Generasi Z hingga kids jaman now, sekarang udah gak jamannya lagi menjadikan bahan terenak dari makanan sebagai pelengkap. Dulunya keju atau coklat menjadi pelengkap kue dengan bahan adonan yang cenderung plain. Karena itu, kita akan lebih menantikan saat-saat menyenangkan yaitu menggado keju atau coklat yang terdapat di pinggiran kue. Karena memang sensasi menyantap keju dan coklat timbul karena begitu jarang dan sedikitnya bahan itu dalam sepotong kue yang kita makan. Ada konsep menunggu dan bersabar yang dimainkan di sini.

Bahan yang sedikit dan jarang tapi nikmat inilah yang dieksploitasi oleh pembuat kue untuk memainkan perasaan si penyantap kue. "Kalau mau ngerasain nikmatnya coklat atau keju, habiskan juga bolu yang rasanya plain ini".

Sekarang kan beda. Dengan prinsip life to the fullest yang diusung manusia-manusia modern, mereka sudah tidak mau lagi merasakan makanan yang rasanya datar, lalu menyisakan bagian enak di ujung. Kalau memang keju dan coklat bisa dijadikan bahan inti, kenapa tidak? Kalo emang rasa enak bisa dimunculkan terus dari awal hingga akhir, kenapa harus dijatah?

Jadinya sekarang, seluruh proses pencernaan mekanik yang dilakukan oleh mulut dan gigi kita berisi substansi-substansi "berat" yang rasanya kuat. Sehingga bagi kita yang tidak terbiasa, akan mudah sekali menimbulkan rasa begah.

Kembali ke si ayam goreng tepung, kini mereka menambah ramai khazanah kuliner dengan prinsip rasa yang dibikin "tabrak-menabrak" dengan kehadiran saus coklat. Rasa asin, gurih, manis, pedas dan pahit akan bertemu dalam satu ruangan di lidah, ditambah aroma coklat yang bertabrakan dengan gurihnya tepung dan renyahnya rendaman minyak goreng. Lidah kita inilah yang akan memberi pesan kepada otak tentang bagaimana rasanya sajian baru ini, apakah enak atau tidak. 

Tentunya, semua orang memiliki selera yang berbeda, dan satu realita yang memang mengesalkan: kita tidak bisa menghakimi hal subjektif yang sudah menyangkut selera. Seberapapun anehnya orang ini memakan ubi goreng dengan saus sambal, atau memakan tahu goreng dengan gula halus, atau mencocol pizza dengan kecap manis.

Sekarepmu lah, coy!

Jumat, 20 Oktober 2017

Embrace The Slow Culture: Kerja 4 Hari Seminggu

Ada tujuh hari dalam satu minggu. Bagi pekerja kantoran, lima hari di antaranya adalah hari kerja dan dua hari sisanya menjadi hari libur. Ada juga beberapa kantor yang memberlakukan enam hari kerja dan satu hari libur. Karena itulah di kalangan pekerja sangat lazim dijumpai jargon I don't like Monday, karena hari Senin adalah yang mengawali pekan melelahkan.

Bagi kantor akuntan, konsultan atau pekerjaan profesional lainnya, jam kerja malah lebih tidak jelas. Sudah senin sampai jumat pergi pagi pulang pagi, sabtu dan minggu pun dihajar lembur. Pekerja proyek malah bisa lebih gila lagi. Bisa-bisa, dalam seminggu, para pekerja hanya bisa makan dan tidur sekadarnya. Namun dengan catatan, para pekerja profesional ini memiliki jam kerja yang lebih fleksibel dan mereka bisa mengambil jatah istirahat panjang setelah proyek selesai.

Inilah yang berlaku di dunia secara umum. Perusahaan-perusahaan itu terus bergerak mencari laba, bekerja demi kepentingan yang ujung-ujungnya mengalir ke pemilik modal yang terus berusaha meningkatkan kekayaannya. Tapi mau bagaimana lagi, pekerjanya juga butuh uang untuk membiayai kebutuhan narsis hidup yang kian hari kian mahal saja. Juga membayar utang-utang mereka yang telah terlanjur terjerat tipu daya lembaga pemberi utang.

Saya juga seorang pekerja, dan saya bekerja keras karena memang butuh. Tapi kadang saya mikir, di dunia yang semakin serius dan semakin banyak menggerogoti sumber alam, uang yang berputar kebanyakan mengalir kepada golongan tertentu saja, dan tingkat stress yang semakin tinggi, apa gak sebaiknya kita sedikit mengerem?

Mengerem maksudnya gimana? Ya kalo bagi saya sih simple. Kenapa gak mengurangi hari kerja, bukan lagi jam kerja. Kenapa seluruh dunia gak mau mencoba mengurangi hari kerja dari lima hari (standar) menjadi empat hari. Empat hari kerja, tiga hari libur. Enak, kan?

Mungkin saran ini terdengar bodoh, sebagian juga mungkin berpikir saran seperti ini hanya datang dari seorang pemalas yang gagal menaklukkan dunia. Ya suka-suka aja, tapi gue punya poin dalam usulan yang kedengarannya silly ini. Sekaligus menyanggah stereotip yang menganggap orang-orang selow adalah mereka yang pemalas.

Kita sudah terlalu banyak mengeruk kekayaan alam dan membuat polusi. Jika satu hari diliburkan dan sebagai gantinya orang-orang akan berdiam di rumah (atau piknik), tentu konsumsi energi dan pemakaian komoditas untuk produksi akan berkurang. Kenapa car free-day gak diberlakukan dua hari dalam seminggu? Berkurangnya konsumsi energi dan pemakaian komoditas ini tentu akan mengurangi polusi di bumi yang lapisan ozon-nya mulai menipis ini.

Intinya, bumi ini bergerak terlalu cepat, dikeruk terlalu banyak, dengan diisi orang-orang yang terlalu serius, tamak dan rakus. Kita kurangi saja kecepatan ini biar orang-orang makin jadi lebih tenang. Di jaman yang katanya akan menuju akhir ini, menurut gue sih baiknya kita menghabiskan lebih banyak waktu untuk tidur siang, mengantar anak ke sekolah, mendekatkan diri kepada Tuhan, atau memakan pisang goreng di teras rumah. Siapa sangka bahwa hidup lebih santai malah bakal lebih banyak mendatangkan makna dan memberikan manfaat. 

Lagipula kalau lagi di kantor, bukankah kebanyakan dari kita terlalu banyak menghabiskan waktu untuk ngobrol gak jelas, melipir ke sana-sini sebelum dan sesudah makan siang, membaca artikel politik yang dibuat pekerja hoax, ribut sama teman lama di facebook, kepo sama gosip artis di akun gosip instagram atau main game online? 

Gue sih yakin, kalo lagi di rumah, kalian jarang melakukan kegiatan-kegiatan ini. Di rumah, kalian akan lebih berdaya guna. Menemani anak bermain, membetulkan kran bocor, mencuci mobil dan motor, mengecat pagar, mengantar orang tua kondangan, mengantar istri ke pasar, dan lain-lain. Lebih berguna, bukan? Let's just embrace the slow culture!

Atau, cobalah berhenti sejenak dan lihat apa saja yang sudah kalian lewatkan. Anak yang tiba-tiba sudah besar tanpa kalian pantau perkembangannya, orang tua yang sudah kalian cuekin, teman lama yang sudah lama kalian tidak hubungi, buku-buku yang plastiknya belum dibuka, atau hobi-hobi yang sudah lama kalian tinggalkan. Pastinya dunia tidak sesempit kubikel kerja kita.

Lagian kalo kita sudah gak ada lagi di dunia, emangnya perusahaan kita bakalan ingat? Kalau kita resign, kita akan mudah digantikan. Kita tidaklah lebih dari sebuah baut kecil dalam sebuah mesin yang besar. Yang mengenang kita adalah keluarga kita, dan jangan lupa kalo kita akan dikenang berdasarkan apa yang kita perbuat selama hidup.

Selasa, 10 Oktober 2017

Untuk Kita, Makhluk Akhir Zaman

Ada dua jenis ceramah atau kajian agama Islam yang gue suka, yaitu yang membahas tentang sejarah dan yang membahas tentang akhir zaman. Dengan belajar sejarah Islam, kita bisa tahu urutan peristiwa yang terjadi pada saat lahirnya agama Islam hingga sekarang. 

Apa yang membuat Islam pernah berjaya hingga ke daratan Andalusia, lalu apa yang menyebabkan runtuhnya khalifah pada tahun 1920an. Dengan belajar sejarah, percayalah bahwa iman kita bakal bertambah. Ini penting banget supaya kita gak terkontaminasi sama fitnah-fitnah yang memang menjadi ciri khas akhir zaman.

Bagaimana dengan belajar tentang akhir zaman? Mempelajari soal ini, berarti kita mempelajari masa depan. Kita memang tidak pernah tahu betul apa yang bakal terjadi, tapi semua memang sudah dituliskan. Lagi-lagi, kita harus mengimani apa yang sudah ditulis dalam kitab suci Al Qur'an dan hadis-hadis sebagai bagian dari Rukun Iman. 

Kalo kita pelajari semua, memang terkesan seram dan penuh huru-hara serta kehancuran. Banyak hal menyeramkan yang akan terjadi. Lalu pertanyaannya, apa yang harus kita perbuat?

Tidak lain, kita diminta untuk terus menjalankan hidup. Gue sendiri pernah mendengar sebuah perkataan bijak, bahwa jika kita mengetahui besok adalah hari kiamat tetapi di tangan kita ada sebuah bibit tanaman, maka kita tetaplah menanam bibit itu. Begitulah sikap kita sebagai Muslim.  

Iman kepada hari kiamat menjadi bagian dari Rukun Iman. Kalo kita gak percaya sama hari kiamat, berarti kita gak percaya sama Rukun Iman, yang dengan kata lain, kita gak percaya sama agama kita. Sorry to say, ini adalah sebuah penghakiman yang sangat jelas terang benderang.

Percaya sama hari kiamat, kalo menurut gue, bukan sekadar percaya lalu menjalani hidup tanpa mempersiapkannya. Karena kita punya ilmu dan punya waktu, sudah seharusnya kita rajin membaca dan mencari tahu seperti apa tanda-tanda kiamat. Persiapan fisik memang perlu, tapi lebih perlu lagi adalah persiapan dalam hal keimanan dan mengumpulkan kebaikan agar kita gak bergabung dengan golongan yang salah pada saat huru-hara besar itu terjadi. Karena konon, "golongan yang salah" itu malah sudah membaca lengkap hadis-hadis yang berasal dari nabi kita, dan karena memang mereka pada dasarnya kaum yang ingkar, mereka malah sudah mempersiapkan diri dengan cara mereka sendiri berdasarkan hadis nabi kita yang sudah mereka baca!

Dengan mengetahui tanda-tanda kiamat, kita akan mampu membaca zaman. Sudah berada di fase manakah kita. Tanda-tanda yang kita alami sudah banyak sekali. Gue gak akan jelaskan panjang lebar, silakan buka Youtube dan ketik tentang akhir zaman, di sana bakal banyak banget kita temui ustadz yang membahasnya dengan selengkap-lengkapnya. Memang ada ustadz yang membahasnya dengan terlalu banyak memakai metode “cocoklogi”, yaitu metode yang mengubung-hubungkan peristiwa satu dengan yang lain, padahal belum tentu benar. 

Saran gue, ambil aja ilmu dan ingat hadits-haditsnya, tapi gak usah terlalu dipikirin “cocoklogi-nya”. Tidak perlu sampai meledek apalagi menghina ajaran yang datang dari orang-orang yang ahli agama. Karena sebaik-baik umat di akhir zaman, adalah mereka yang tetap menegakkan keimanan, terlebih mereka yang berdakwah. 

Buat apa takut belajar tentang akhir zaman, padahal kita ini ya makhluk-makhluk akhir zaman. Semua bakal terjadi, hanya masalah waktu aja, entah akan terjadi di zaman anak-anak atau cucu-cucu kita, atau malah terjadi pada kita sendiri. Gak ada cara lain selain mempertebal keimanan dan mempersiapkan generasi penerus yang juga paham dengan situasi ini, biar mereka gak salah langkah dan salah pilih.


Kamis, 05 Oktober 2017

Where Have You Been All My Life, Rosanna?

Rosanna. Sudah pasti Rosanna adalah nama seorang wanita, bukan nama mas-mas. Tipikal cewek populer jaman SMA dan jadi rebutan pas jaman kuliah. Cewek idaman yang diperebutkan cowok-cowok, tapi mereka tetap berlaku sopan kepadanya karena memang kualitasnya bukan bohongan dan perilakunya tidak murahan.

Cewek bernama Rosanna ini telat gue kenal. Ehem, maksudnya dalam hal ini, lagu berjudul Rosanna milik band Toto ini benar-benar terlambat gue denger. Semuanya gak sengaja. Gue yang kesal karena music player di mobil tiba-tiba rusak, terpaksa menyetel radio. Padahal gue termasuk jarang dengerin radio karena ya namanya radio kan umumnya pasang songs jaman now, yang gue gak terlalu cocok.

Untungnya ada beberapa radio memang yang memiliki program semacam flashback, atau sengaja memainkan lagu-lagu dari era lawas, di mana saat itu musik benar-benar digarap seperti layaknya musik beneran. Songs jaman past emang beneran berkualitas. 

Di sinilah kuping gue bertemu Rosanna. Samar-samar, lagu ini seperti gak asing. Potongan-potongan lagu ini seperti pada part: 

"Meet you all the way...
Meet you all the way... Rosanna, yeah!" 

Part ini sepertinya sering gue denger pada masa yang gue juga lupa kapan. 

Karena jatuh cinta pada pendengaran pertama, gue mencoba melakukan riset sederhana tentang lagu ini. Lagu Rosanna menjadi andalan dalam album Toto berjudul IV. Rilis tahun 1982 dan meledak pada tahun 1983, tepat saat gue lahir. Terdengar masuk akal jadinya, mungkin emak gue pernah dengerin lagu ini pas gue masih bayi. 

Tiga puluh tahun lebih gue terpisah dengan lagu ini, lalu akhirnya ketemu pada saat yang gak diduga-duga. Udah kayak ketemu temen lama atau harta karun aja.. Dan sekarang, gue langsung menempatkan Rosanna di jajaran lagu paling enak yang pernah gue denger. Lagu-lagu lainnya menurut gue adalah Can't Stop Loving You dari Van Halen, Five Magics dari Megadeth, Dancing in the Moonlight dari Thin Lizzy dan You Could Be Mine dari Guns 'n Roses. 

Berusaha terdengar logis, apa yang membuat Rosanna sebegitunya? Gue gak pernah mentingin lirik dalam menilai lagu, tapi kalau membaca cerita di balik judulnya, nama Rosanna "dipinjam" oleh David Paich, si penulis lagu dari Rosanna Arquette, perempuan yang jadi pacar Steve Porcaro, rekan satu band dia saat itu. Lagu ini bukan menceritakan tentang si Rosanna Arquette, karena menurut Paich, lagu ini menceritakan soal high school romance. Nama Rosanna dipilih murni karena enak didengar dan mudah diingat sebagai imaji dari wanita yang disebutkan tadi di awal paragraf.

Lalu dari segi musikal, lagu ini jelas punya segalanya buat jadi superstar. Gampang dicerna, padahal "berat". Ketukan drum Jeff Porcaro yang gak lazim, biasa ia sebut half time shuffle adalah ketukan yang sampai sekarang belum bisa gue tiru. Biasanya, gue gak bisa meniru komposisi drum untuk lagu yang mengandalkan kecepatan atau teknik yang terlalu ruwet. Nah, si Jeff ini, yang udah almarhum, menggunakan pola yang betul-betul jarang digunakan di lagu populer. Terdengar gampang, padahal pas dimainin susah banget. 

Dalam genre jazz, mungkin pola seperti ini sering didengar. Tapi Porcaro memasukkannya di lagu populer yang kemudian bisa diterima oleh khalayak ramai. Tidak salah lagi, Jeff Porcaro adalah seorang drummer sekaligus musisi yang underrated. Dan lagu ini adalah superstar. 

Belum lagi keyboard solo yang saling bersahutan dengan nada yang ikonik, vokal Bobby Kimball yang sama merdunya ketika menyanyi dengan suara rendah dan tinggi, juga solo gitar dari Steve Lukhater yang gak kalah gahar. Pokoknya gak ada yang ngalahin lagu ini. Jadinya sangat wajar ketika gue bertanya-tanya, ke mana aja sih Rosanna selama ini?

Rabu, 27 September 2017

I Hate Farewell

I have to admit, that I am very suck at saying goodbye. Farewell. I may have pissed or upset with some institutions, e.g. school, workplace, office, campus. But when it’s time to end the tenure then say goodbye to those places.. damn, it wasn't easy.

Once again, I may have pissed or being upset with them. I may have been treated unfairly, or being abused. But when I submitted the letter of resignation, or when I told the authorized person about my intention of leaving, all of the anger turned into sadness and doubts.

Suddenly, everything seems changed. Suddenly, they looked very nice, everything seems fun, and it was like I questioned my decision of leaving. I felt like my decision of leaving based on emotional rather than rational reason.

“Is this the right decision? Haven’t I put my best effort to resolve all the issues?” or something like “Will I be ok in the new place? Will I find better environment? Can I get along with new friends? What if I fail?"

And when the time had come to said goodbye to all my friends, my partner in crime.. I have to admit, that part was the toughest. Because based on my experiences, I decided to leave due to disagreement with the one who run the show: the management, the bosses, the teachers. But I barely had arguments with my peers. That’s why, for me, farewell’s sucks. 

Farewell, for me is when I took decision to follow my head. I had to go to find a better place. But deep inside, I had never wanted to leave. That’s why when my friends asked me to say few words to express my feeling, I didn’t know what to say. I lost for words. See? I am very suck at farewell.

Maybe this is the common feeling in every farewell or separation. But this is just a fact of life. There are always "goodbye" in every "hello". Only a matter of time. We are all gonna die anyway.