Selasa, 27 September 2016

Istilah-Istilah Kantoran Yang Kedengeran Keren, Padahal...

Waktu baru pertama kali kerja, mungkin lo akan mendengar istilah-istilah bahasa Inggris yang disingkat. Awalnya bikin bingung, dan kedengerannya intelek. Padahal begitu paham maksudnya, ternyata gak jauh beda dengan apa yang dilakukan sehari-hari di luar kantor. Banyak banget istilah-istilah itu, gue pilih yang paling sering dihadapi:

Concall
Concall kependekan dari conference call. Concall ini gak lain adalah menelpon. Kegiatannya persis seperti orang yang saling bertelepon. Bedanya, concall memakai fasilitas speaker dan pembicaraan dilakukan oleh lebih dari dua orang. Pihak-pihak yang berkepentingan punya masing-masing topik yang mereka bicarakan kepada orang yang dituju. Gak semua orang mendominasi pembicaraan, karena biasanya si atasan lah yang pegang kendali. Yang masih kacung kupret sih biasanya kebagian jatah nyatet aja,

Dalam lingkup yang lebih canggih, concall bisa juga melibatkan beberapa pihak sekaligus di beberapa tempat. Misal, yang menelpon dari Jakarta, lalu pihak yang ditelpon ada yang di Amerika Serikat, Jepang dan Inggris. Selain menggunakan sarana telepon biasa, sekarang banyak kantor yang sudah menggunakan teknologi-teknologi lebih canggih misalnya dengan video call atau chat via masing-masing perangkat komputer, yang semodel webinar gitu lah.

Recon
Recon kependekan dari reconciliation, atau rekonsiliasi. Ngapain nih? Biasanya istilah ini dipakai oleh orang-orang dari divisi finance, accounting, pajak, atau mereka yang sehari-hari berhubungan dengan angka-angka. Recon perlu dilakukan apabila saat kita bekerja, terdapat selisih angka yang perlu dicari tahu sebabnya. Karena dalam dunia akuntansi, selisih sedikit rupiah aja harus ditelusuri. Bukan hanya ditelusuri, tapi juga dicari dokumen pendukungnya dan dimintai penjelasannya.

Siapa suruh jadi akuntan? :P

Meeting
Mungkin ini istilah yang gak asing. Meeting, atau rapat, atau pertemuan, memang penting dilakukan supaya kita tahu apa yang menjadi tugas kita dalam suatu pekerjaan atau proyek.

Dalam meeting ini sangat penting bagi seseorang untuk proaktif, tapi tanpa banyak mengajukan pertanyaan yang terlalu elementer. Kadang-kadang, meeting ini menjadi sarana bagi para penjual untuk 'menjual' sebaik mungkin barang atau jasa yang ditawarkan oleh perusahaannya. Kesuksesan penjualan banyak berawal dari kesuksesan meeting. 

Pembahasan yang dilakukan dalam meeting ini biasanya menyentuh hal-hal yang umum saja, kecuali kalau yang judulnya annual meeting atau cordination meeting yang memang pembahasannya amat mendetil, dan memakan waktu berhari-hari. 

Ketika meeting, kemampuan berdiplomasi memegang peranan penting, banhak tidak jarang kemampuan untuk berdebat demi mempertahankan posisi dan pendapat. Ada beberapa orang yang saya kenal amat lihai dan liat ketika meeting, tapi kurang rapi dalam bekerja. The meeting specialist.

Discuss
Discuss, ya diskusi. Intinya, jika ada suatu pekerjaan yang kita rasa mentok, harus didiskusikan dengan tim atau dengan atasan. Diskusi sifatnya lebih iinformal daripada meeting, dan yang dibahas pun hal-hal yang lebih teknikal dan kongkrit. Diskusi ini biasanya juga dilakukan oleh sedikit orang saja, dan yang perlu saja.

Review
Review artinya memeriksa. Mengecek. Sama kaya kita di sekolah dulu, PR kita akan diperiksa oleh guru atau dosen. Ketika bekerja, hasil kerja kita akan di-review oleh atasan. 

Proses review ini tidak jarang menentukan kapabilitas si atasan, apakah ia menguasai bidangnya secara menyeluruh atau tidak. Jika si atasan tidak menguasai teknis secara mendalam, dia bisa saja dikadalin sama anak buahnya, dan hasil kerjanya tentu tidak maksimal.

Ada pula tipe atasan yang malas me-review. Jurus andalannya adalah dengan bilang ke bawahan "Gue percaya sama lo ya. Ini lo udah yakin kan gak ada yang salah?"

Follow up
Follow up ini maksudnya adalah memantau tahapan pekerjaan agar sesuai dengan target dan tenggat waktu yang ditentukan. Dalam melakukan follow up, kita memang harus rajin dan aktif, karena bisa jadi orang yang kita follow up itu memang lupa atau sengaja tidak mengerjakan yang kita minta. Boleh jadi, mereka merasa hal ini bukanlah tanggung jawabnya.

Follow up boleh jadi merupakan pekerjaan yang paling tidak menyenangkan. Kita harus memantau, mendengarkan keluhan orang lain, sampai dibohongi orang lain. Mereka akan bilang entar besok entar besok, dengan alasan sedang banyak pekerjaan. Biasanya, kalau kita mentok dengan keadaan seperti ini, menghubungi atasannya adalah cara terakhir yang bisa kita lakukan.

Appraisal
Inilah yang ditunggu-tunggu karyawan. Saat nasib si karyawan ditentukan oleh atasan, nasib atasan ditentukan oleh atasannya atasan, dan seterusnya hingga ke pemilik atau pemegang saham. Sistem kapitalisme ya memang begitu, menggunakan performance appraisal untuk mengukur kinerja karyawan, dan menjadi dasar untuk menentukan kenaikan gaji atau jumlah bonus yang diberikan.

Karena urusannya berkaitan dengan duit, biasanya hal-hal seperti ini menjadi topik sensitif. Namanya juga perusahaan, sudah pasti lebih mementingkan profit, dan karena itulah mereka amat selektif menilai kinerja karyawannya. Menentukan siapa yang berhak mendapat 'potongan kue' paling banyak di antara sedikit kue yang dibagikan.

Memang, tidak semua perusahaan mementingkan profit semata. Ada pula yang begitu mementingkan kesejahteraan karyawannya, sehingga si karyawan betah. Tapi itu sih biasanya berlaku bagi perusahaan yang memang kuat secara modal, atau yang pemiliknya gak pelit. Hehehe.

Drama
Siapa bilang esmud-esmud keren berdasi, berjas dan ber-blazer itu orang-orang yang lempeng dan hanya fokus melakukan pekerjaannya masing-masing? Mereka juga manusia, dan yang namanya manusia pasti ada saja sifat iri hati, egois, ingin menjatuhkan, dengki dan tidak senang dengan keberhasilan orang lain. Atau, tidak jarang pula terdapat hubungan khusus atau affair yang bisa menjadikan masalah semakin melebar dan tidak terkendali.

Sifat-sifat inilah yang bisa menjadikan suasana kerja naik-turun. Drama dalam pekerjaan dan kantor memang kadang-kadang seru untuk diikuti, bahkan dijalani. Drama itu bisa membentuk suasana di kantor, sepanjang terkendali. Tapi jika drama-drama itu terlalu berlebihan sehingga menghilangkan objektivitas kita dalam menilai, berarti suasana pekerjaan sudah tidak sehat.

***
Sebetulnya masih ada beberapa istilah lain yang lumayan sering kita dengar, misalnya promotion, assignment, probation, resign dan lain-lain. Lain kali lah kita bahas. 

Kamis, 28 Juli 2016

Satu Dekade Bersama Pajak

Sepuluh tahun bukanlah waktu yang singkat untuk menjalani profesi yang sama. Menurut saya, ada dua alasan mendasar mengapa seseorang rela menjalani periode satu dekade untuk melakoni perjalanan di bidang keahlian yang sama itu. Alasan pertama, tentu saja karena orang ini memang mencintai pekerjaannya sehingga pekerjaan itu terasa seperti hobi. Namun tidak semua orang memiliki keberuntungan semacam ini.

Untuk alasan kedua, lebih karena naluri dasar untuk bertahan hidup. Dengan kata lain, bagi manusia modern seperti kita adalah untuk mencari uang. Boleh jadi seseorang tidak terlalu menyukai pekerjaannya, namun karena ia membutuhkan uang, maka ia pun bekerja. Saya yakin, lebih banyak orang yang menjalani kehidupan seperti ini.

Saya termasuk yang seperti orang kebanyakan, dan bidang yang saya maksud adalah pajak. Tapi hanya karena pekerjaan ini bukanlah yang menjadi passion, menjalaninya juga tidak dengan main-main, bukan? Bersyukur aja, karena separah-parahnya tekanan pekerjaan yang dijalani, masih jauh lebih baik ketimbang tidak ada pekerjaan sama sekali.

Tentang saya dan pajak, sebenarnya sudah seperti sebuah hubungan percintaan yang dipaksakan. Dijalani karena memang logis untuk dijalani, dilakukan karena memang harus dilakukan.

Dulu, saya memang kuliah di jurusan pajak di sebuah universitas. Artinya, pekerjaan saya sudah sesuai dengan latar belakang pendidikan. Namun bersekolahnya saya di jurusan ini bukan didasari keinginan. Saat duduk di bangku SMP dan SMA, saya begitu kepingin menjadi pesepak bola profesional. Saking kepinginnya, saya sampai tidak pernah membayangkan profesi lain, boro-boro kepikiran jadi ahli pajak.

Adalah campur tangan Tuhan yang membuat saya berakhir di jurusan ini. Ketika itu tahun 2001, saya hendak membeli formulir program Diploma Tiga untuk saya jadikan cadangan andai gagal jebol UMPTN (tuh, dari nama UMPTN aja keliatan generasinya).

Dari rumah, saya belum tahu mau membeli formulir jurusan apa. Tapi pastinya, saya tidak suka pelajaran akuntansi, jadi saya tidak akan membeli formulir Program Studi Akuntansi. Pada saat itu, saya juga tidak berminat dengan program studi di fakultas MIPA, FKM, Hukum, atau Sastra. Jadinya ke mana dong?

Pada pemberhentian fakultas terakhir, saya mendatangi kampus oranye FISIP. Saya sengaja melewatkan Departemen Ilmu Komunikasi karena pada saat itu tidak tertarik, dan langsung menuju Departemen Ilmu Administrasi.

Di Departemen ini, saya harus memilih satu di antara empat jurusan. Waktu itu, satu formulir dihargai seratus ribu rupiah, dan karena saya tidak mengecek informasi, seratus ribu rupiah adalah uang yang ngepas di kantong celana. Saya pun hanya bisa membeli satu formulir saja.

Entah apa yang merasuki pikiran saya, namun logika saya pada saat itu berkata Administrasi Perpajakan lah yang terdengar paling masuk akal dibanding tiga jurusan lainnya. Setelah mengikuti ujian masuk, ternyata saya diterima. Sedangkan hasil UMPTN saya nihil, alias tidak lulus. Ya sudahlah saya jalani saja yang ini.

Selesai kah persoalan? Tidak.

Begitu mengikuti perkuliahan, saya kaget betul ternyata di jurusan ini begitu banyak mata kuliah Akuntansi. Saya merasa terjebak dan salah pilih jurusan. Tahun kedua, sebetulnya saya mencoba ikut lagi UMPTN, dan saat itu berhasil diterima di jurusan Ilmu Ekonomi di sebuah universitas di kota Bandung, tapi pada waktu itu saya memutuskan untuk tidak mengambilnya dan tetap setia di jurusan pajak (why of why??).

Saya pun melanjutkan kuliah dengan santai. Sebagaimana mahasiswa yang pasif dan cenderung cuek, saya tidak aktif di kelas, juga tidak mengikuti organisasi kemahasiswaan. Rambut juga saya gondrong dan di kampus saya sering mengenakan sendal jepit, makin mengesankan mahasiswa yang santai dan sedikit urakan. Saya menjalani prinsip seadanya ala survivor: kuliah mah yang penting lulus, dan yang penting gak dapat nilai yang jelek-jelek amat.

Selepas lulus Diploma Tiga dengan IPK standar, saya mendaftar ke program Ekstensi agar bisa memperoleh gelar sarjana. Lagi-lagi saya memilih pajak karena masih gak suka dengan akuntansi. Kuliah ekstensi berlangsung pada malam hari. Siang hari semestinya bisa dimanfaatkan sambil bekerja, seperti yang dilakukan teman-teman saya pada umumnya. Tapi waktu itu saya begitu malas melakukannya.

Dalam waktu dua setengah tahun, saya menyelesaikan program ini hingga menjadi sarjana, dengan IPK yang sedikit lebih baik ketimbang waktu masih di D3. Total, lima setengah tahun saya habiskan di bangku kuliah, tanpa sedikit pun pengalaman kerja. Usia pun sudah 23 tahun, sudah terlalu tua untuk tidak melakukan apa-apa. Saya pun akhirnya menyerah untuk mengejar impian-impian kosong idealis, lalu mulai menerima realita dengan mencari pekerjaan kantoran. Kesadaran yang tentu saja telat banget.

Dalam pencarian itu, sepupu saya kemudian mengenalkan saya dengan temannya yang bekerja sebagai manager di sebuah kantor konsultan pajak 2nd tier berinisial MRI. Saya pun menjalani serangkaian tes, lalu diterima bekerja di sana.

Dulu saya punya bayangan mengerikan akan dunia kerja kantoran. Atasan yang galak, senior yang judes, lingkungan kerja yang saling sikut, kemacetan di jalan, juga jam kerja yang tidak kenal waktu hanya untuk mendapatkan bayaran yang tidak seberapa adalah bayangan saya akan dunia kerja.

Di MRI lah, nyatanya saya menemui semua ketakutan. Bahkan lebih dari yang saya takutkan.

Saya punya pengalaman unik yang masih saya ingat betul. Suatu ketika, saya menghadapi deadline pembayaran pajak bulanan. Klien baru mengonfirmasi kalkulasi pajak yang dikirim sehari sebelumnya, sehingga pembayaran pajak harus dilakukan dengan cara menyetor tunai secara manual (langsung) ke loket teller bank paling lambat jam 9 pagi.

Parahnya, bank milik klien adalah bank BNI di Jl. Blora, sementara tempat setor pajak di HSBC Menara World Trade Center, Sudirman. Klien kemudian mengirimkan stafnya untuk menarik dana dari BNI Blora, lalu menyerahkan ke teman saya yang sudah menunggu di sana dengan mengendarai sepeda motor. Uang ratusan juta rupiah itu ditarik pada pukul 8 pagi, lalu diserahkan ke teman saya menggunakan plastik kresek agar tidak terlalu mencolok.

Setelahnya, saya menunggu teman saya itu di trotoar depan HSBC dalam proses handover plastik kresek berisi uang yang begitu mendebarkan, lalu menyerahkannya kepada petugas bank sebelum jam 9. Seingat saya, momen itu adalah salah satu morning rush paling parah yang pernah saya jalani selama 10 tahun bekerja. Bikin lemas!

Namun tidak dapat dipungkiri, di kantor MRI itulah saya banyak belajar beneran. Dibentak-bentak klien, diomelin atasan, hingga dikejar-kejar petugas pajak sudah menjadi makanan sehari-hari. Saya jadi tahu betul rasanya menduduki posisi paling bawah dalam mata rantai ala sistem korporasi kapitalis. Jakarta itu keras, man! Nyari duit itu susahnya bukan main!

Selang beberapa bulan, saya mendapat peluang kerja yang baru. Sebuah kantor konsultan pajak big 4 yang namanya mirip band lawas itu membuka lowongan besar-besaran. Saya yang sudah merasa tercebur di dunia konsultan akhirnya berpikir untuk sekalian aja masuk ke “kolam” yang lebih besar. Tanpa ekspektasi berlebih, saya pun menjalani proses rekrutmen, dan akhirnya.. diterima.

Tahun-tahun pertama menjadi “ikan kecil di kolam besar” saya jalani dengan sukacita. Namanya kantor besar, prosedur kerjanya tentu lebih rapi. Seluruh “ikan” mendapatkan porsi makannya masing-masing, bagaikan ikan cupang yang sudah sengaja dipisah-pisahkan di botol air mineral bekas oleh pemiliknya.

Saya juga menemukan kumpulan teman sepantar yang cocok, jadi walaupun beban pekerjaan lebih berat, namun saya merasa betah dengan lingkungan kerjanya. Bersama teman-teman ini, saya tetap bisa bermain sepak bola, bermain musik dan jalan-jalan. Bekerja di lingkungan seperti ini membuat waktu berjalan terasa cepat. Tanpa terasa, lima tahun sudah saya berada di dunia konsultan pajak.

Tapi ternyata, saya kemudiian merasa ‘mentok’. Setelah menjalani tahun-tahun yang lumayan menyenangkan, saya kemudian mempertanyakan banyak hal, sehingga merasa bahwa menjadi konsultan pajak bukan lagi menjadi jalan hidup.

Bekerja di kantor konsultan sebesar ini ternyata membentuk work ethic sekaligus gaya bekerja. Saya bukanlah tipe karyawan teladan yang akan datang tepat waktu ke kantor, lalu pulang pada jam yang ditetapkan. Sebagai profesional, kita dibayar bukan dari kuantitas jam kerja, tetapi bagaimana kualitasnya (aseek). Jam kerja semestinya memang fleksibel. Buat saya, yang penting adalah bagaimana bertanggung jawab pada pekerjaan, menghargai tenggat waktu, terus memacu diri untuk berkembang dan mampu bekerjasama sebagai bagian tim yang solid (udah mirip slogan program indoktrinasi, belum?).

Pada Tahun 2012, saya memutuskan pindah ke sebuah perusahaan manufaktur lokal yang sahamnya dimiliki pihak asing. Di perusahaan ini, sebetulnya saya mengerjakan hal yang tidak berbeda ketimbang di konsultan dulu, hanya saja ruang lingkupnya yang lebih terfokus. Tapi kalau berbicara lingkungan pekerjaan, setelah menjalani empat tahun, saya masih merasa lebih cocok dengan lingkungan kerja di konsultan yang memiliki fleksibilitas tinggi itu.

Tahun 2017 mendatang menandai tepat sepuluh tahun saya bekerja di bidang perpajakan. Bidang yang sudah saya jalani dengan berbagai suka dan duka, kegagalan dan keberhasilan. Untuk ukuran anak yang dulunya malas, santai, dan gak jelas, saya sendiri kaget masih bisa berjalan dan bertahan sejauh dan selama ini. Anggap aja rejeki anak soleh.

Apakah sepuluh tahun berikutnya masih akan saya habiskan sebagai pegawai pajak di perusahaan swasta, atau kembali ke dunia konsultan? Atau bahkan beralih profesi menjadi pengembang start-up, atau menjadi penulis sepak bola, atau menjadi guru, atau jualan makanan? Saya juga belum tahu. Tapi yang jelas, saya berterimakasih untuk semua teman, atasan, klien, dan semua pihak yang sengaja saya tidak sebutkan namanya, tapi pernah berkoneksi dan berkolaborasi secara profesional.

Senin, 11 Juli 2016

Menjauhi Gemerlap Kota

Di belahan dunia mana pun, orang-orang pergi merantau. Ada berbagai harapan, impian dan cita-cita yang terucap meski hanya dalam kalbu. Jika bukan ingin merasakan hujan emas di negeri/kota orang, setidaknya agar bisa hidup mandiri dan tidak menyusahkan orang tua di daerah asal. Atau yang paling idealis dan kekinian, mengikuti kata hati dan jiwa yang tak pernah kenyang akan petualangan.

Kebanyakan orang merantau dari pelosok desa ke kota besar. Inilah yang membuat kota seperti Jakarta penuh sesak oleh para pendatang dan perantau yang mengadu nasib, sekaligus menjadikan pulau Jawa sebagai yang terpadat di dunia. Desa yang sepi dan terisolasi akan membuat hidup monoton cenderung tak ada kemajuan. 'Pergilah merantau ke kota besar, di mana kesempatan melimpah, dan jangan kembali jika belum menjadi orang sukses.' Sepertinya begitulah petuah dari jutaan orang tua kepada anak-anaknya yang akan pergi merantau.

Sebaliknya, cukup jarang yang memilih untuk merantau dari kota besar ke desa terpencil, kecuali mereka yang ikut program transmigrasi dari pemerintah. Salah seorang teman yang saya temui ketika libur lebaran kemarin, adalah termasuk yang jarang itu. Dia meninggalkan selatan Jakarta menuju sebelah selatan lainnya namun di wilayah berbeda di Indonesia, yang malahan lebih dekat dengan perbatasan negeri tetangga. Sebuah kota kecil yang hanya berpenduduk 15 ribu jiwa menurut data tahun 2014 dari situs Wikipedia. Saya sengaja tidak menyebut namanya dan nama kota tempat tinggalnya agar ia tidak besar kepala, sebab yang saya akan tuangkan ini berisi kekaguman demi kekaguman.

Mereka yang merantau dari desa ke kota tidaklah memiliki beban. Tidak jarang kaum urban ini datang memenuhi sudut kota tanpa bekal apa-apa, bahkan tanpa pendidikan dan keahlian. Nothing to lose. Sebagian sukses, namun lebih banyak lagi yang gagal. 

Lain cerita dengan mereka yang lahir dan tumbuh di kota besar tetapi jalan hidup membawa mereka pergi merantau ke kota yang lebih kecil. Rasa kehilangannya akan lebih besar. Apalagi, merantau ke kota kecil tidaklah menjanjikan kesuksesan material seperti halnya yang dicari-cari oleh perantau kota besar.

Culture shock, sudah pasti. Yang tadinya terbiasa melihat cahaya terang benderang dan suasana yang ramai, tiba-tiba berhadapan dengan kegelapan dan kesunyian. Belum lagi mereka yang terbiasa dimanjakan koneksi internet, restoran-restoran nyaman, kafe-kafe sejuk dan mal-mal besar. Tentu saja akan sulit menerima jika semua itu digantikan dengan hamparan sawah, pantai, bukit atau hutan. Kalau hanya untuk tujuan berlibur satu-dua minggu sih asik dan kece, apalagi untuk dituangkan dalam buku dan berfoto-foto. Tapi bagaimana kalau harus ditinggali bertahun-tahun, lalu menikah, beranak pinak dan mungkin saja mati di sana?

Tentu saja ada begitu banyak hal yang lebih istimewa dengan menjadi perantau daerah pelosok. Merasakan bagaimana hidup sendiri tanpa teman dan sanak saudara, dan tidak jarang pula menjadi golongan minoritas berujung perlakukan diskriminatif. Apalagi, perputaran bisnis tidak selalu sesuai harapan, dan orang yang semula dipercaya amat mungkin berubah mengecewakan.

'Dalam keadaan kaya begini, gak ada yang bisa diandalkan selain nyali. Sebetulnya bisa saja minta beliin tiket pulang, tapi itu berarti menyerah. Gua mencoba bertahan hidup dengan banyak cara, dari bekerja di rumah sakit hingga bandara. Alhamdulillah sekarang sudah diterima bekerja di sebuah instansi pemerintah. Keadaan menjadi jauh lebih baik, sekarang sudah tahun ke enam di sana." Pengembaraan semacam ini rasanya sudah pasti menjadikan kita lebih bijaksana. 'Kalau dulu gak merantau, mungkin hidup gua bakal gak beres,' lanjutnya sambil memandang lurus ke depan, membayangkan kehidupan alternate universe-nya. 

Menjauhi gemerlap kota, di banyak sisi tentu saja lebih menyenangkan. Suasana yang lebih bersahaja, lalu lintas yang lebih bersahabat, orang-orang yang tidak tergesa dan terburu-buru, juga waktu yang berjalan begitu lambat adalah kenikmatan tersendiri dari mengambil pilihan hidup semacam ini. 'Nantinya sih kepingin tinggal di Depok lagi, tapi sepertinya masih lama. Sekarang cukup mudik setahun sekali aja. Ongkosnya mahal. Lagipula istri 'kan penduduk dari sana. Orang-orang mah mudik itu ke kampung, ini malah ke kota. Hehehe.' tutupnya dengan logat khas daerahnya yang sudah bercampur dengan logat Betawi.

Di kota besar, semua memang tersedia, tetapi apa gunanya jika kita sulit mencapai tujuan akibat kemacetan yang semakin parah? Di kota besar, kita boleh jadi memiliki lebih banyak teman, tapi bukankah kita lebih banyak menghabiskan waktu dengan mereka melalui dunia maya?

Untuk kawan saya yang menjalani hidup sebagai perantau di kota kecil nan jauh dari gemerlap kota, saya mengucap kata salut. Cerita-cerita seperti ini tentu saja lebih menarik buat saya. Semoga tetap rendah hati dan berada di bawah lindungan Tuhan.

Senin, 13 Juni 2016

Karena Nostalgia Cuma Sebatas Nostalgia


Mata saya berbinar seperti Crayon Sinchan yang melihat Kak Nanako ketika melihat iklan di salah satu akun instagram. Akun ini tidak menjual kaos, dompet atau sepatu, apalagi pelangsing, pemutih dan pembesar ini-itu. Yang dia jual adalah mainan konsol lawas! Konsol lawas ini macam-macam. Ada konsol generasi kedua yaitu Atari yang pertama kali diluncurkan tahun 1976. Lalu ada generasi ketiga dan keempat yaitu Nintendo, Sega dan Super Nintendo yang keluar tahun 90an.


Ada pula konsol portable semacam Gamewatch (atau Gimbot, kalo anak Jakarta bilang), lalu ada Game Boy dan Game Gear. Terakhir, ada pula yang mulai canggih gambarnya seperti Sega Saturn, Nintendo 64 dan Sony Playstation edisi pertama. Lengkap dengan stik, adaptor dan kabel video yang masih berfungsi, konsol-konsol ini dibanderol dengan harga mulai dari 250 ribu hingga 750 ribu rupiah. Jumlah yang cukup mahal untuk membeli sepenggal dua penggal memori masa kanak-kanak.


Dari seluruh konsol tadi, saya paling berkesan dengan Super Nintendo. Alasannya sederhana, karena banyak game Super Nintendo yang saya suka dan masih ingat sampai sekarang, misalnya Super Mario World, Goof Troop, Killer Instinct, International Superstar Soccer, Captain Commando, Biker Mice From Mars, Street Fighter, Fatal Fury, Mortal Kombat, Dragon Ball dan lain-lain.


Tahu bakal begini, saya bakal lebih apik menyimpan mainan-mainan lawas saya dulu. Entah ke mana perginya mainan-mainan itu. Jadilah saya memutuskan untuk membelinya lagi, walaupun kalo menurut saya sih harganya cukup mahal. Gak apa-apalah, emak-emak muda aja bisa sebulan sekali ganti tas dan lipstick yang harganya 500 ribuan.


Begitu girangnya saya ketika akhirnya mendapati mesin Super Nintendo di rumah. Saya terngiang dengan perasaan lima belasan tahun lalu saat membeli konsol ini di Glodok ditemani almarhum kakek. Ketika saya nyalakan mesin ini, euforianya sungguh luar biasa. Sakral seperti ibadah ritual, syahdu seperti rasa rindu. Memori ini pun perlahan-lahan terkumpul saat logo permainan muncul, latar musik mengalun, hingga ketika akhirnya permainan dimulai. Sungguh nuansanya 90an sekali dan saya amat terharu bisa merasakannya di era sekarang.


Yang pertama kali saya coba tentu saja permainan Super Mario World. Level demi level dilalui, dan setengah jam pertama rasanya masih menyenangkan. Tapi anehnya, kemudian saya mulai bosan. Tidak seperti dulu saat saya kuat memainkannya berjam-jam. Tingkat kesulitan memang meningkat, tapi tetap tidak menjadikan saya makin penasaran seperti dulu.


Saya coba permainan lain, dan rasanya pun sama saja. Malah kebanyakan, saya merasa permainan-permainan ini kok gambarnya jelek amat ya. Sampai timbul pertanyaan di benak "Kok bisa ya dulu saya seneng banget main game seperti ini?"


Mungkin perasaan ini muncul karena sekarang ini saya sudah terbiasa memainkan yang lebih mutakhir dan mendekati realita melalui konsol PS3 dan PS4.


Ternyata memang hanya sebatas euforia saja yang saya alami, padahal awalnya begitu menggugah dan menyenangkan, tetapi pada saat dicoba ternyata hanya sebegitu saja. Saya akhirnya berkesimpulan kalau kita tidak akan bisa mengalami kembali rasa kegirangan main game yang dulu pernah ada, karena walaupun barangnya masih sama, ekspektasi kita sudah jauh berbeda karena sudah terbiasa disuguhi yang lebih baik.


Manusiawi.


Melakukan lagi hal-hal yang dulu pernah dilakukan memang menggoda. Tapi bagi saya, hanya euforianya saja yang besar. Mungkin saja saya hanya sekadar bosan pada permainan PS3 yang sekarang biasa saya mainkan. Tapi kalau Super Nintendo ini harus menggantikan peran PS3, ya enggak bisa juga. Untuk sekadar nostalgia saja ya bolehlah.

Kamis, 09 Juni 2016

Penolakan Tak Berwujud

Dalam hidup, kita memang berlomba dan berkompetisi. Misalnya saja saat mengikuti pertandingan bulutangkis, pemenang utama mendapat medali emas, runner-up menerima medali perak, dan penghuni peringkat tiga mendapat medali perunggu. Sementara yang lain tidak mendapat apapun.


Pun begitu halnya dengan kompetisi-kompetisi lainnya. Dunia tarik suara yang diperlombakan pun memakai format yang sama, yakni pemenang ditentukan dengan peringkat kesatu, dua dan tiga. Dan begitupula perlombaan balap karung atau makan kerupuk tujuh belas-an. Pemenang dan pecundang tersegregasi dengan jelas, antara siapa yang mendapat hadiah dan yang tidak. Atau jika panitianya berlimpah uang, maka pemenang akan mendapat hadiah utama, dan yang tidak menang akan diberi hadiah hiburan tanda terimakasih.


Yang dititikberatkan dalam aneka perlombaan ini adalah kejelasan antara siapa yang menang dan kalah. “The winner standing tall, the loser standing small. It’s easy and it’s plain, why should I complain” begitu kata band ABBA dalam menghayati arti dari sebuah kompetisi. Semuanya sudah ditetapkan dengan jelas dan terang benderang, tak ada keraguan dan tanda tanya. Oleh karenanya, untuk apa harus protes?


Namun bagaimana dengan kekalahan yang tak berwujud? Kita sudah menjalani sebuah proses, tetapi tidak mengetahui apakah kita menang atau kalah. Yang ada, kita malah akan menjalani periode ‘digantung tanpa kejelasan’ sebelum akhirnya mengetahui bahwa sudah ada pemenang selain kita yang terpilih.


Begitulah rasanya dalam mencari pekerjaan, baik pencari kerja yang baru lulus kuliah yang tidak akan terlalu ‘jual mahal’ atau pun pekerja berpengalaman yang sudah mulai ‘picky’. Para pencari kerja ini akan mengalami periode pasang surut. Di awal proses rekrutmen, para ‘pemburu kepala’ ini akan berbaik hati menghubungi kita, lalu beramah tamah demi mendapatkan informasi yang diinginkan. 


Setelah itu, mereka akan membuat janji dengan kandidat, bahkan tidak sedikit yang rela menganggarkan jamuan di restoran mahal. Percakapan dengan kandidat pun terjadi. Namun lama kelamaan keadaan berbalik. Kandidat yang terpesona dengan presentasi dari pemburu kepala kemudian berharap bahwa ia akan menjadi orang yang cocok untuk pekerjaan yang ditawarkan. 


Mulailah timbul rasa resah dan gelisah menghantui pikiran si kandidat. Mulai melihat-lihat lagi apakah perusahaan yang sekarang mempekerjakannya sudah cukup baik memperlakukan, padahal selama ini cuek-cuek saja. Lalu kemudian mulailah ia mencari-cari tahu tentang si calon tempat kerja baru, dan jika perlu mencoba produk-produknya.


Harapan pun membuncah ketika panggilan kedua, ketiga dan keempat didapat. Rasanya proses kepindahan hanya tinggal formalitas. Berita ‘bahagia’ pun mulai disiarkan, mula-mula kepada orang-orang terdekat, yang kemudian menjalar hingga ke seantero kantor. Mulai banyak sosok yang bertanya, sekadar ingin tahu, tapi sebetulnya tidak peduli-peduli amat. Atau mereka hanya iri saja.


Apa daya, di tengah euforia dan optimisme yang membuncah, kabar akan proses final tidak kunjung didapat. Ingin menghubungi si pemburu kepala, tapi hati masih gengsi. Okelah baru satu minggu tidak dikabari, mungkin mereka masih mempersiapkan ini-itu. Namun kemudian dua minggu, sebulan, dua bulan pun berlalu tanpa kejelasan. Ketika dihubungi, jawabannya hanyalah lip service belaka. Tidak ada kata gamblang penolakan, atau kabar bahwa posisi yang dituju sudah diisi oleh kandidat lain.


Digantung itu gak enak, Jenderal! Begitu menyebalkannya berada di situasi ‘digantung’ ini. Saat di mana kegagalan atau kekalahan tidak ada wujudnya, dan baru disadari setelah waktu berlalu terlalu lama. Sampai kemudian waktu pula yang akan 'menyembuhkan'.


Untuk itulah, saya akan jauuhh lebih menghargai perusahaan yang memberitahukan penolakan secara gamblang, baik langsung ataupun lewat email. “We are sorry that we have selected another candidate to the position that you have applied. We would like to thank you for the participation. We will keep your resume, and we will contact you if there are opportunities in the future.” 

Di atas adalah contoh email penolakan kerja dari perusahaan kepada kandidat.


Udah nolak, masih juga ngasih harapan (palsu). Ya gak pa-pa lah, setidaknya mereka masih punya guts untuk berkata-kata, dan tentunya empati untuk tidak membiarkan kita jadi korban harapan palsu hingga waktu yang tidak dapat ditentukan.


Sebetulnya situasi ini juga sama aja sih dengan orang yang lagi pedekate. Situasi digantung begini pasti udah pernah dirasain, di mana si target tanpa kita ketahui sudah memiliki banyak kandidat, seperti halnya perusahaan yang sedang mencari calon karyawan. Dalam mengejar cinta seseorang, kita memang tidak ubahnya seperti pelamar kerja, yang dapat dengan mudah dilupakan sejenak meskipun kita sudah bersusah payah. 

Tapi tenang, akan selalu ada penghiburan. Kalo kata Lupus ke Boim "Dunia belum berakhir. Ditolak belum tentu diterima."