Selasa, 15 September 2015

Bahaya Kesempurnaan

Baru-baru ini saya melihat postingan yang cukup mengena, dan akan saya sadur dengan tulisan yang kurang lebih seperti ini:

I.
Beberapa orang menjalani hidupnya dengan lurus, gak neko-neko, dan tanpa kesusahan berarti.

Sebut saja si A. Ia terlahir dari orang tua yang kaya. Bukan hanya kaya, tapi juga terpelajar, terpandang, terkenal dermawan, alim dan santun.

Sudah bisa ditebak, hidup si A selanjutnya amat lurus dan halus. Nilai sekolahnya baik, diterima di universitas favorit, lalu mendapatkan IPK tinggi. Sesudah lulus, ia dengan mudah diterima kerja di perusahaan besar.

Perempuan pun ngantri untuk menjadi pasangannya, dan akhirnya ia memilih wanita cantik, sehat, pintar juga sukses. Seperti dirinya. Sebelum memasuki usia 30, mereka menikah.

Setelah menikah, mereka langsung menempati rumah sendiri. Hubungan si A dengan mertua berjalan baik, dan vice versa dengan pasangannya. Dan betapa bahagianya karena mereka langsung dikaruniai momongan. Bukan hanya satu, tapi dua. Anak-anak mereka pun tumbuh sehat, dan mereka dididik dengan baik. Ketika mulai bersekolah, anak-anak mereka amat cerdas dan berprestasi.

Si A tidak pernah mengeluh di media sosial. Lha memangnya apa yang mau dikeluhkan? Foto-foto di media sosialnya adalah sebagian dari koleksi mobil-mobil mahal miliknya.
Lalu mereka kerap berlibur ke destinasi wisata dunia. Amerika Serikat, Eropa, Asia, Antartika (eh..). Dan ketika anak-anak sudah tumbuh remaja, si A dan pasangan menunaikan ibadah haji. Dan selang beberapa tahun, mereka sekeluarga besar menunaikan ibadah umrah.

Si A juga seorang pria setia. Tidak pernah melirik wanita lain sedikitpun dalam hidupnya. Sama halnya dengan pasangannya. Tidak heran, rumah tangga mereka adem ayem jauh dari keributan.

Hidup yang sempurna bukan? Ya, secara garis besar begitu. Memang ada pertengkaran, friksi dan sedikit beda pendapat. Semisal, tahun ini berliburnya ke pantai bukannya gunung, atau soal mengganti pajangan lampu kristal yang menurut si A sudah usang tapi menurut istri malah klasik. Atau semacam pertimbangan apakah si kembar akan bersekolah di Harvard atau Oxford. Atau, tentang si kembar yang rebutan mobil Audi ketika mereka mau pergi ke rumah teman.

Friksi-friksi semacam itulah.

Kehidupan seperti ini, coba tanyakan kepada diri anda sendiri, apakah anda menginginkannya? Saya bertaruh bahwa seperti inilah kehidupan yang sebagian besar dari kita inginkan.

II.
Tapi coba lihat bahaya terselubung dari kehidupan seperti ini. Katakanlah ada si B, salah satu teman sekolah si A yang kehidupannya begitu bertolak belakang.

Si A memang pandai, dan karena itulah ia selalu mendapat nilai yang baik semasa sekolah, dan juga karir yang cemerlang. Si B sebaliknya. Ia tidak dikaruniai otak encer dan rezeki sebanyak si A. Si B tidak pernah mendapat pekerjaan tetap. Apa komentar si A soal si B?

"Ah emang dasar si B aja orangnya males." 

Si A memang begitu mudah mendapat jodoh, yang cantik dan pintar seperti Shizuka pula. Bagaimana dengan si B? Jodohnya bisa dibilang telat, itupun dijodohkan orang tuanya. Lalu apa komentar si A?

"Hahaha. Ya wajar lah orang macam si B mana ada yang mau?? Masih untung dia dijodohin, akhirnya nikah juga deh."

Si A begitu cepat mendapat anak, lalu bisakah ia menahan diri untuk tidak mencibir teman-temannya yang susah mendapat anak? Ok, mungkin untuk yang satu ini bisa. Lalu ketika melihat anaknya si B yang kurang berprestasi, bagaimana komentar si A?

"Tuh liat, bapaknya aja kaya begini, gimana bisa ngedidik anak? Udah lihat nilai raport si kembar? Nanti saya pajang deh di semua akun media sosial saya."

Si A begitu akur dengan mertuanya, vice versa dengan pasangannya. Lalu mampu gak si A untuk tidak meledek si B yang kerap bermasalah dengan mertua? Si A malah berkomentar begini:

"Harus bisa dong mengambil hati mertua. Tapi ya emang susah sih kalo masalahnya ekonomi."

Si A memiliki media sosial yang enak dipandang, atau.. ehm.. bikin iri. Tapi mampukah ia menahan diri untuk tidak mencibir koleksi ikan cupang milik si B?

"Udah gede masih aja maen ikan cupang! Harusnya tuh koleksi otomotif! Kayak gue!"

Si A begitu sering pergi ke luar negeri bersama keluarga. Begitu banyak negara mereka jelajahi. Lalu mampukah ia menahan diri untuk tidak pamer? Dan mampukah ia untuk tidak mengomentari liburan si B yang hanya ke Kebun Raya Bogor atau Kebun Binatang Ragunan?

"Oi! Emangnya gak bosen ke situ-situ doang?"

Si A juga begitu alim. Ia tidak sulit melangkahkan kaki untuk sholat di awal waktu dan berjamaah, juga melakukan sholat sunah, sholat tahajud, hingga bersedekah, berzakat dan berhaji. Dan segala bentuk ibadah lainnya. Lalu mampukah ia menahan diri untuk tidak riya, tidak menulis status yang memamerkan ibadah. Dan.. Apakah dia mampu menahan diri untuk tidak mencibir si B yang kualitas ibadahnya masih amat jauh di bawahnya?

"Woi! Solat apaan luh udah jam segini? Kaya gue dong kalo solat itu tepat waktu!"

Terakhir, si A begitu setia. Lalu mampukah ia menahan diri untuk tidak mencibir si B yang suka ngegodain tetangga rumah sebelahnya? 

"Lo emang gatel ya! Emangnya lu kepengen kaya si C yang bercerai? Lihat tuh, mempertahankan rumah tangga aja dia gak mampu!"

III.
Tanpa sadar, kita melakukan ini. Saya juga masih melakukan sebagian dari tulisan di atas, kok. Sebagai manusia, memang sudah sifat dasarnya yang ingin dipuji orang, senang dibilang berhasil. Senang disanjung padahal yang kita perlihatkan (terutama di media sosial) adalah sisi yang baik-baik dari kehidupan kita.

Sebaliknya kita kadang dengan entengnya menilai dan mengomentari kehidupan orang lain, padahal kita tidak cuma tahu sedikit. Kita dengan mudahnya mencibir sebuah persoalan padahal kita keliru melihat konteksnya. Ngomong emang gampang.

Kita amat mudah membanggakan apa yang kita punya. Anak, istri/suami, kekayaan, jabatan, pekerjaan, koleksi barang, gelar, kualitas ibadah, bahkan lingkar otak. Dan tidak jarang kita menganggap rendah orang yang memiliki sebaliknya.

Ah, betapa tidak mudahnya menjadi manusia, bukan? Kata orang, kefakiran dekat dengan kekafiran. Tapi ternyata, kesempurnaan juga dekat dengan itu, bukan?

Apa Yang Salah Dari Obrolan Haha-Hihi?

Beberapa kali, pertemuan atau acara nongkrong dengan seorang teman batal terlaksana. Sebabnya, bagi saya cukup mengejutkan. Dia bilang: Ini mau ngomongin proyek besar atau cuma haha-hihi?

Atau jika dalam sebuah grup whatsapp, ada saja yang protes jika terdapat percakapan haha-hihi. “Ini ngomongin apaan sih? Gak penting. Emang gak pada kerja? Kenapa gak posting hal-hal yang bermanfaat?”

Saya hanya terdiam jika mendengar jawaban seperti itu, meski dalam hati tertawa. Tertawa iba. Man, kalo mau cari yang penting, buka aja email kantor. Kalo mau cari yang bermanfaat, ya nonton aja video motivasi.

Di era modern ini, orang-orang sepertinya terlalu serius. Waktu adalah uang, percakapan harus penting, pertemuan harus membahas proyek dan ide-ide besar. Segala tindak-tanduk seperti harus diukur dengan manfaat. Kalo gak ada untungnya buat dia, ya buat apa didatengin?

Baiklah, kawan. Mengerjakan sesuatu yang berguna, yang penting, yang bernilai, yang bermanfaat, yang ‘ada duitnya’ akan membuat kita (tampak) keren.

Tapi, tidakkah kita semestinya bisa menikmati hal-hal kecil di balik proyek-proyek besar yang sudah terbiasa dikerjakan dari balik meja kerja dan ruang meeting? Salah satu poin dalam catatan penting Si Colombus dalam fim komedi zombie, Zombieland, menyebutkan bahwa kita perlu “Enjoy Little Things”. Lalu dalam salah satu skena, muncullah adegan Colombus bersama Wichita, Tallahassee, dan Little Rock memporak-porandakan sebuah toko suvenir indian hingga berantakan. Lalu selepasnya, mereka terkekeh puas.

Kita yang sudah terbiasa dengan pekerjaan robotik keteraturan jadwal, tenggat waktu, atau target tentu saja sesekali membutuhkan situasi senggang. Sejenak bebas dari ‘ciuman Dementor’ yang sehari-hari sudah kita telan bulat-bulat demi mengepulkan dapur dan memenuhi isi lemari es untuk sebentar saja menikmati hal-hal yang bodoh. Atau apa saja yang membuat kita terbahak.

Sekali-dua kali meluangkan waktu untuk berbicara hal remeh temeh, saya rasa tidak salah. Terlebih untuk bercanda, menertawakan diri sendiri, mengenang kelucuan-kelucuan yang pernah terjadi.

Saya ingin sedikit menyadur kalimat dari sebuah tulisan yang, mohon maaf, saya lupa siapa penulisnya. Intinya begini: Hidup yang sudah singkat ini, akankah menyenangkan jika hanya diisi dengan memori akan endless meeting, omelan atasan, target yang terus dinaikkan, bonus yang tak pernah (dirasa) cukup, dan uang pensiun yang tak seberapa?

Ya, betul sekali kawan. Memang seperti inilah pilihan hidup yang dijalani. Sebagian orang berhasil menjalani hidup seperti idealismenya, tapi saya yakin lebih banyak orang yang cara hidupnya sudah dipilihkan oleh takdir, atau memang sudah terjebak dalam sistem. Dan gak ada yang salah di antara semua itu. Yang penting buat saya mah bisa hidup tanpa nyolong, nebeng, nipu, nyusahin atau nyakitin orang. Jadi orang bener.

Karena jadi orang bener itu susah, makanya kita sesekali butuh 'piknik'. Gak selalu harus pergi ke tempat yang instagram-able atau path-able. Cukup bersenda gurau bersama teman, karena memang itulah yang dicari dari obrolan atau acara nongkrong haha-hihi. Bahwa acara nongkrong bareng, yang meski kadang menelurkan ide hebat, tetapi tujuan sebenarnya adalah untuk melipir sejenak dari rutinitas dan kewajiban. 

Dan untuk itulah, semakin tidak bermutunya obrolan, maka akan semakin menyenangkan pula, bukan?

Sabtu, 12 September 2015

Konser Bon Jovi, Jakarta 11 September 2015: Ketika Jon Bon Jovi Asik Sendiri

Tidak dibawakannya lagu Always, Bed of Roses, I’ll be there for you dan These Days dalam konser Bon Jovi yang berlangsung semalam begitu hangat dibicarakan para penonton konser Bon Jovi yang berlangsung semalam di stadion Gelora Bung Karno. Secara teknis, konser megah yang menjadi tempat berkumpulnya para om dan tante pengidap midlife crisis ini memang nyaris sempurna, hanya saja para penonton masih membawa sedikit rasa penasaran akibat tidak dibawakannya lagu-lagu favorit tadi.

Namun ketimbang membicarakan hal-hal teknis ataupun set-list lagu, saya lebih tertarik mengomentari kejanggalan Bon Jovi tanpa Richie Sambora.

Richard Stephen “Richie” Sambora mungkin saja salah satu manusia yang diberikan bakat seni, atletis sekaligus kharisma oleh Tuhan. Saat masih bersekolah di Woodbridge High School, New Jersey, Sambora adalah anggota tim bola basket yang memenangi kejuaraan negara bagian. Alih-alih mengejar karir bola basket dan melanjutkan ke level NCAA lalu NBA, Sambora lebih memilih menekuni bakat lainnya: musik.

Sambora adalah seorang musisi all round yang bisa memainkan banyak alat musik seperti drum, gitar dan keyboard dengan sama baiknya. Namun di antara seluruh instrumen itu, Sambora lebih menekuni gitar. Musikalitasnya begitu tinggi lewat pengaruh blues, musik klasik dan rock ‘n roll tahun 60an. Selain Jimi Hendrix, George Harrison, Eric Clapton, Jeff Beck, Stevie Ray Vaughan dan B.B. King adalah panutannya dalam bergitar.

Bergabungnya Sambora ke band Bon Jovi seperti ‘meningkatkan level’ musik dari band ini. Tidak hanya aksi panggung yang flamboyan dan enak dilihat, kekompakannya dengan Jon Bongiovi di atas panggung juga menjadi pemandangan ikonik dari setiap konser Bon Jovi. Di dapur rekaman, Sambora juga tidak henti-hentinya menelurkan suara-suara yang begitu mudah membuai membran telinga setiap penggemarnya. Perpaduan lirik puitis ciptaan Jon dan melodi yang digubah dari petikan gitar Sambora bukan sekadar menghasilkan hits secara komersial, tetapi juga eargasm bagi para penikmat musik.

Maka memang sedikit janggal ketika semalam, Jon seperti begitu dominan di atas panggung. Terlalu dominan malah. Tidak ada sosok duet sehati yang biasanya membagi sisi kiri dan kanan panggung, tidak ada yang mampu mengimbangi kharisma alami dan gesture khas rock star Jon seperti halnya ketika Sambora masih menyayat instrumen enam string miliknya.

Jon dan Richie (oke, sekarang sebut saja Richie) memang bukanlah sosok yang sama. Jon sang quarterback, Richie sang wide receiver, Jon sang rockerbertipe family man yang sayang istri, dan Richie sang pemberontak yang flamboyan. Aksi panggung Jon sedikit mengingatkan pada Bruce Springsteen, sementara Richie seperti versi lain dari Joe Perry. Jika Jon adalah Captain America yang begitu jago dalam pertarungan tangan kosong dan begitu kuat kepemimpinannya, maka Richie adalah Iron Man yang canggih dan memiliki metode sendiri dalam melakukan pekerjaannya.

Tanpa Richie, Bon Jovi memang terus berjalan. Philip Eric Xenedis alias Phil X bukanlah gitaris kacangan. Ia terbiasa bermain dengan musisi-musisi papan atas lain seperti Tommy Lee, Orianthi Panagaris atau Alice Cooper. Tapi dari pemandangan yang saya saksikan dengan mata kepala sendiri semalam, Jon sedikit mengurangi ‘porsi’ solo dari Phil, seraya membaginya dengan gitaris spesialis tur yang kini dihuni oleh Matt O’Ree.

Saya jadi sedikit dejavu dengan konser Guns ‘n Roses tiga tahun lalu saat Axl Rose membawa tiga gitaris sekaligus untuk mengisi posisi yang biasa diisi gitaris yang tidak kalah ikoniknya, Saul Hudson alias Slash.

Permainan solo bergantian ini justru semakin menegaskan bahwa setidaknya sepertiga dari panggung memang milik Jon seorang. Nyaris tidak terlihat pembagian dua wing lantaran Jon lebih sering bernyanyi di bagian tengah panggung, membiarkan sisi kanan panggung kosong. Tidak kosong-kosong amat sih, karena keyboardist David Bryan terlihat cukup ‘sibuk’ dan mengokupasi area yang cukup besar di panggung.

Saya sendiri sudah mengantisipasi banyak hal, sekaligus tidak berharap terlalu banyak pada kualitas konser. Seperti diduga, ketebalan suara bass drummilik Tico Torres tidaklah terlalu fantastis (setidaknya jika dibandingkan dengan dentuman bass drum Lars Ulrich pada konser Metallica di tempat yang sama tahun 2013), tapi untungnya permainan enerjik dan presisi dari Torres seakan menutupi kurang ‘gahar’nya sound sistem perangkat miliknya.

Konser ini, amat mungkin menjadi konser besar dari sebuah band legendaris terakhir yang saya tonton. Mengharapkan Van Halen datang, mungkin saja sia-sia. Tapi bagaimanapun juga, keinginan untuk bernostalgia sudah tercapai, dan memori demi memori yang terbawa dari setiap lagu yang dibawakan betul-betul terpungut satu persatu, dan meninggalkan kesan tersendiri, yah walaupun dalam beberapa saat ke depan, konser ini akan sedikit demi sedikit dilupakan. Memang sedikit mengecewakan karena tidak ada satupun lagu dari albun These Days yang memang ‘Richie banget’ dibawakan. Untungnya, saya amat sangat terhibur dengan medley mengagumkan lagu Keep The Faith dengan Bad Medicine.

Well, Richie really gave us Something For The Pain.

Senin, 07 September 2015

Tentang Butch Vig dan Kenapa Drummer Juga Musisi

Bagi sebagian orang, peran seorang drummer dalam sebuah band kerap dipandang sebelah mata. Ia tidak lebih dari 'penjaga beat' dari sebuah lagu. Seorang drummer juga disebut tidak wajib mengerti nada. Terdapat kesan bahwa tugasnya hanya memukul gumbrang-gambreng gedebak-gedebuk tek durungdung jess tanpa mengandalkan imajinasi dan kreativitas layaknya seorang musisi. 


Dan karena itulah sampai ada sinisme yang menyebut bahwa seorang drummer bukanlah musisi.



Ruang improvisasi bagi seorang drummer memang cukup terbatas. Seperti disebut di atas, ia cukup 'bermain aman' dan stabil sepanjang lagu. Jika terlalu banyak melakukan improvisasi, malah membingungkan personel lain, dan bisa jadi malah mengacaukan lagu. Maka tidak mengherankan jika dalam banyak kisah, pengakuan musikalitas yang didapat seorang drummer tidaklah sebesar yang didapat oleh vokalis atau gitaris.


Tapi sadarkah bahwa di situlah keunikan peran dari seorang drummer dalam sebuah band. Ia melakukan pekerjaan dengan metode yang berbeda, yang tentunya membutuhkan keahlian khusus. Kemampuannya berupa kordinasi yang baik antara tangan dan kaki, pengaturan tempo dan presisi pukulan belum tentu dimiliki pemegang instrumen lain.


Premis umum bahwa seorang drummer tidak perlu mengerti nada dan musik, menurut saya jelas keliru. Justru jika ingin menjadi drummer yang baik, ia harus mengerti lagu secara utuh, menyeluruh dan mendetil. Atribut ini dibutuhkan demi stabilitas permainan, demi fill yang enak didengar, tapi juga tidak 'datar'. 



Secara kebetulan, belakangan ini saya begitu terobsesi pada sebuah lagu karena permainan drumnya. Lagu yang menjadi obsesi saya kali ini berjudul Tell Me Where it Hurts, karya dari sebuah band alternative rock gaek, Garbage.

Jika tidak besar di era 90an, nama band ini memang cukup asing. Bahkan yang besar di era ini pun belum tentu tahu lagu-lagu band ini. Di Indonesia, band ini tidak mencapai kulminasi popularitasnya, padahal secara worldwide, Garbage telah menjual 17 juta kopi album. Dengan kata lain, di samping memiliki musikalitas cukup mumpuni, band ini memiliki pemerhati dan penggemar setia.

Lagu Tell Me Where it Hurts merupakan single unggulan album mereka tahun 2007 bertitel Absolute Garbage, dan saya menemukannya secara tidak sengaja ketika berselancar Youtube untuk mencari lagu dengan judul sama tetapi versi Kathy Troccoli (juga dipopulerkan oleh band akustik Filipina, MYMP).

Tadinya saya pikir, ini adalah lagu yang sama. Ternyata beda.

Buat kuping saya, ternyata lebih enak.

Kenapa bisa begitu? Salah satunya karena permainan drum yang begitu… begitu mengejutkan. Begitu bernyawa dan begitu menyatu. Bagaimana bisa sebuah aransemen drum yang biasanya hanya untuk mengawal beat sebuah lagu, menjelma sebagai nyawa dari lagu itu sendiri?

Begitu sih yang didengar oleh kuping amatir milik saya.

Lalu siapa sih drummer dari band ini? Usut punya usut, Butch Vig adalah nama drummer ini. Hehe, terdengar lucu ya ejaannya bagi kita orang Indonesia. Maafkan keterbatasan pengetahuan musik saya, tapi alangkah terkejutnya saya ketika mengetahui Vig adalah seorang musisi senior yang kini sudah menginjak usia 60 tahun!

Vig juga bukanlah seorang drummer biasa. Bukan sekadar pengawal irama dari sebuah lagu, tapi juga seorang produser dari album legendaris band Nirvana: Nevermind.

Wow, ini menjelaskan semuanya! Dengan musikalitas seperti ini, saya menjadi mahfum mengapa Vig mampu menciptakan beat dan pattern drum dari sebuah lagu dengan amat sangat menarik. Rasanya sulit membayangkan bagaimana lagu Tell Me Where it Hurts jika diisi oleh drummer biasa, bukan Butch Vig. 

Vig bukanlah sekadar pemain instrumen, tapi juga seorang musisi yang mengerti aransemen lagu, juga seorang produser dengan sentuhan emas. Seperti kita tahu, album Nevermind milik Kurt Cobain cs. menduduki posisi ke-30 sebagai album dengan penjualan terlaris dunia (catatan penjualan resmi sebesar 16,7 juta kopi), juga menjadi semacam album referensi wajib bagi pecinta genre musik Grunge.


Jadi, apakah seorang drummer bukan seorang musisi?

Minggu, 30 Agustus 2015

Empat Tipe Teman Yang Sebaiknya Kita Pertahankan

Semakin dewasa (tua!), dengan kesibukan pekerjaan yang seperti tidak ada habisnya dan juga keluarga yang harus diurus, kita akan semakin sedikit menghabiskan waktu bersama teman. Dan tentu saja kita jadi lebih selektif dalam memilih teman, berbeda dengan zaman sekolah dulu saat kita bisa berteman dengan siapa saja dan bisa menghabiskan waktu tanpa khawatir berlebih tentang hari esok.

Di lingkungan kerja, kita memang berteman, tapi tidak jarang hubungan pertemanan di sana hanyalah sebatas profesional. Banyak yang hanya memakai ‘topeng’, tidak sedikit pula sosok-sosok yang siap menunggu kita melakukan kesalahan untuk mengambil alih posisi kita.

Kita tetap membutuhkan teman-teman di luar kantor. Selain untuk memperluas wawasan, juga menghindari kejenuhan karena bertemunya elo lagi elo lagi. Lalu teman di luar kantor yang seperti apa yang sebaiknya kita pertahankan?

Si Cermin
‘Derajat’, visi, kemampuan finansial, selera, gaya hidup dan hobi orang ini kurang lebih sama dengan kita. Sangat menyenangkan memiliki figur seperti ini dalam hidup. Dengannya, kita jarang debat kusir, yang ada malah bertukar ide. Jika ada permasalahan, orang seperti ini juga mampu memberi saran yang membantu kita back on track. Karena satu ‘derajat’ tadi, jika kita membicarakan prestasi maka kita tidak akan dibilang sombong, dan jika membicarakan kemunduran, kita tidak akan dianggap lebay.

Si Role Model
Si role model adalah sosok teman yang memiliki pencapaian jauh di atas kita. Entah dari sisi spiritual, finansial, pengalaman hidup atau apapun itu. Sosok yang kita look up, atau sosok yang ingin kita tiru.

Kebalikan dengan si cermin, sang role model mungkin bukanlah orang yang paling enak diajak ngobrol, tapi ketika kita bertemu dengannya, kita akan terinspirasi dan termotivasi. Ya, kita kan hanya manusia biasa yang gak selalu stays on top. Dan kadang kita terlalu angkuh untuk meminta pertolongan orang lain untuk bangkit. Jika si cermin cenderung membawa hidup kita pada status quo, si role model ini selalu menantang kita untuk mencapai sesuatu yang lebih, atau setidaknya sesuatu yang baru.

Si Loyal
Seiring berlalunya waktu, teman seperti ini tidak pernah lupa dengan apa yang pernah dilalui. Dia akan selalu menghubungi untuk sekadar menanyakan kabar atau berbicara remeh temeh tanpa adanya agenda khusus. Dia jelas bukan tipe orang yang hanya datang ketika butuh atau ada maunya doang. Dia juga akan melihat sosok kita apa adanya, bukan dari atribut apa yang kita kenakan. Dalam beberapa kesempatan, kita dan si loyal akan bertukar hadiah atau hal-hal baik lainnya.

Si Simple
Teman seperti ini selalu membawa keceriaan. Bersama dia, bahkan kita bisa berbicara satir tentang kemalangan yang menimpa. Pemikirannya lebih sederhana dan cenderung memandang hidup dari sisi positif. Orang ini juga menghargai setiap perbedaan dan tidak akan memberi judgement dangkal dari satu sisi, seperti orang pada umumnya.

Rabu, 12 Agustus 2015

Bully

Ada beberapa jenis sifat dan perilaku orang yang saya tidak sukai. Salah satunya adalah sifat dan perilaku bullying. Bullying menjadi masalah bagi kebanyakan murid di sekolah. Korban bully ini tidak berdaya menghadapi intimidasi teman-teman sebayanya yang berbadan lebih besar dan berjumlah lebih banyak.

Jika kamu berpikir bahwa bullying akan berakhir selepas sekolah, maka kamu salah besar! Bullying, seberapa pun saya bencinya, tetap saya saksikan (dan kadang saya sendiri alami) meski sudah di dunia kerja.

Kadang hanya bully-bully kecil dalam pergaulan sehari-hari. Beberapa orang memang punya kecenderungan mem-bully. Kalau ngomong gak mau kalah, suka memojokkan orang, dan bangga sendiri. Mem-bully orang lain memberinya kepuasan batin.

Oh ya sudahlah, kalau bertemu yang seperti itu, ya kasih aja biar dia seneng. Daripada dia jadi stres.

Tapi, kadang memang saya gak tahan. Kalo cowok, saya jadi pengen nonjok mulutnya. 
 
Lha kalo cewek?

Cuekin aja. Anggap aja nyamuk yang lagi ngerubung di atas kepala. Gak berbahaya walaupun ngeselin. Kalau ada sapu lidi, ya sabet aja mereka pakai sapu lini. Kalau ada semprotan anti serangga, ya semprot aja.

Sekali lagi, anggap aja suara-suara mereka itu seperti suara nyamuk yang akan dengan mudah kamu lupakan.

Selesai!

Senin, 10 Agustus 2015

Menjadi Bunglon

Adaptasi. Begitulah yang ada di pikiran saya ketika mengingat hewan bunglon. Salah satu kelebihan bunglon dibanding hewan lainnya adalah kemampuan mereka mengubah warna kulit tergantung pada lingkungan sekelilingnya. Ia dapat menyerupai warna batu, batang pohon atau daun. Adaptasi yang dilakukannya tentu saja berguna untuk mengelabui pemangsa. Untuk bertahan hidup.

Saya sedikit melihat sifat diri saya pada hewan ini. Dalam keseharian, saya cukup mahir untuk bersikap tidak mencolok. Stay low. Dalam lingkungan pekerjaan, saya pun lebih sering menahan diri ketimbang mengeluarkan emosi. Begitu pula dalam hal lainnya di mana saya tidak terlalu larut dalam emosi. Poker face, ekspresi datar, sikap cuek dan tidak stand out. 

Saya juga menemukan sifat ini ketika menulis. Gaya penulisan dan tema tulisan yang saya buat akan tergantung kepada tempat saya menulis, juga siapa pembacanya. Saya bisa menulis dengan gaya berbeda antara di blog pribadi, blog sepak bola, juga situs-situs mainstream sepak bola. Saya tidak mematok diri pada satu gaya. Tujuan saya
 menulis adalah untuk berbagi informasi, karena itulah saya tidak terlalu mementingkan apa yang disebut ciri khas. 

Tidak punya ciri khas, tidak punya jati diri, tidak punya pendirian adalah sisi negatif dari cara hidup seperti ini. Tapi memang dalam banyak hal, hidup memang bukan soal saya sendiri. Saya hidup untuk memberi makan keluarga, karena itulah saya bekerja sebagai pegawai swasta dengan karir yang cukup nyaman, meskipun saya tidak sebegitunya mencintai pekerjaan kantoran ini. Hidup adalah bagaimana kita berperan. Ketika berada di kantor, saya berperan sebagai karyawan, dan saya selalu bersungguh-sungguh untuk untuk menjadi karyawan yang baik. 


Tetapi ketika berada di rumah, saya berperan sebagai suami dan ayah sekaligus melepas atribut karyawan. Saya berusaha menjadi sosok menyenangkan bagi anak, dan tidak akan bersikap serius seperti ketika berada di kantor. Begitu pula ketika nongkrong bersama teman-teman, sudah pasti saya melepas atribut kepala keluarga dan karyawan. Saya akan bersenang-senang dengan sungguh-sungguh, dan karena itulah saya jarang membawa serta keluarga ketika sedang bersama teman-teman.

Semua memang ada tempatnya. Ikan mas koki dan ikan cupang tentu tidak bisa disatukan dalam satu kolam.