Minggu, 06 April 2014

For My Daughter


Udah seminggu lebih kamu lahir, dan di tengah badai kesibukan, akhirnya baru sekarang saya sempat menuliskan catatan kecil yang simple ini.

Kedatanganmu ke dunia melengkapi kakakmu yang telah datang dua tahun sebelumnya tentu melengkapi hidup kami sebagai orang tua, setidaknya begitulah premis yang telah dibangun oleh masyarakat kita. "Udah sepasang deh, udah lengkap deh," ya, saya memang ikut mengamininya meski tanpa harus mengunggah foto-fotomu setiap hari lalu memberinya caption menarik. Dan sepertinya saya juga tidak akan memakaikanmu jumper-jumper bertema klub sepak bola karena alasan yang akan saya kasih tau lain waktu.

Mungkin sebagai sosok ayah, saya gak akan banyak menuntut kamu nantinya, seperti halnya saya menuntut kakakmu yang laki-laki. Bagaimanapun kamu anak perempuan. Saya tidak akan membiarkanmu bergelut terlalu larut dengan gelimang dunia. Tidak usah dengarkan pendapat-pendapat modern itu, karena saya sendiri tahu apa yang saya lakukan.

Ini bukanlah bentuk arogansi orang tua, melainkan bentuk perlawanan dan bentuk muaknya saya pada apa yang terjadi pada dunia dalam satu dekade ngawur ini, dan dekade-dekade yang entah akan seperti apa dan bahkan tidak akan terukur oleh formula derivatif sekalipun. Sebuah dekade yang makin menipiskan peran moral dan konservatisme, menertawakan segala nilai luhur, me-leluconkan orang-orang baik dan alim, lalu menabrakkannya dengan nilai konsumerisme, narsisme dan hedonisme yang kian hari kian menggelikan.

Tidak, saya tidak akan menyuruhmu untuk membenci segala spot light dan hingar bingar itu. Saya malah menantangmu kelak untuk menjadi agen perubahan, mendobrak segala hal-hal menggelikan itu dengan tanganmu sendiri. Saya hanya tidak ingin kamu tumbuh sebagai pengikut setia apapun yang ada dihadapanmu tanpa kamu melihatnya lebih dalam lagi. Intinya, jangan melakukan sesuatu hanya karena semua orang melakukannya. Tidak berarti hal yang disukai orang lain itu benar, dan tidak semua hal benar disukai orang lain. Jadilah orang yang memiliki value.

Memang tugas saya sebagai orang tua untuk mengajarkanmu tentang dunia, bahwa dalam beberapa hal, memang berlaku hitam dan putih. Tapi jangan membuatnya menjadi kaku. Ketahuilah semua, lalu pilihlah yang benar-benar sesuai dengan prinsip, tentunya prinsip yang tidak sekenanya. Jangan biarkan kebebasan berpikir dan berekspresi berlebihan yang berlaku sekarang ini menjadikanmu budak liberalisasi tanpa arah yang nantinya berujung pada hidup yang akan kamu sesali. 

Saya akan mencoba menjadi orang tua yang tidak megalomania menceritakan pencapaian, atau berkata "I've told you" setiap kali kamu melakukan kesalahan. Saya hanya menunjukkan, kamulah yang menentukan.

Tumbuhlah menjadi perempuan yang cerdas, salihah dan lemah lembut, meski tidak jarang hidup akan memaksamu berlari kencang, bersimbah peluh, menyikut, menendang, menghindar, atau bahkan diam sama sekali. Lagi-lagi saya tekankan untuk memiliki prinsip dan karakter yang kuat sehingga kamu bisa menentukan apa yang akan kamu lakukan, karena dalam hidup tidak ada istilah undo, tidak bisa diulang dan dihapus.

Jadilah pengagum seni, mainkan berbagai alat musik, berolahragalah dan lahaplah berbagai bacaan. Jadilah perempuan yang berbudaya dan tangguh. Lihatlah ke bawah dan jauhi kesombongan, jangan menganggap hidup ini money-sentris karena sampai di manapun, akan ada langit di atas langit. The more things you get, the more you want. Hidup ini hanyalah perjalanan singkat, just bring what you need.

Mungkin sudah terlalu banyak kata ‘jangan’ yang saya ucap, tapi memang beginilah dunia yang saya pahami. Penuh dengan jebakan, di samping keindahan. Kunyahlah semua yang renyah, dan ada kalanya kamu dipaksa mengunyah yang kamu tidak sukai. Tapi saat keraguan tiba, makanlah, lalu buanglah jika memang tidak sanggup, kalo kata Frank Sinatra. Memiliki anak bagi saya adalah tanggung jawab seumur hidup yang tidak bisa ditawar-tawar. Untuk itu saya tidak akan main-main dengan masa depanmu, dan jangan heran jika saya kelak akan menatap tajam lebih dulu siapa laki-laki yang kelak mengetuk pintu rumah untuk membawamu pergi menikmati hari yang cheesy.

And last but not least, baik-baiklah selalu dengan kakakmu dan jadilah anak yang meringankan jalan papa dan mamamu nanti di alam kubur, padang mahsyar dan shiraatal mustaqim, agar kita dapat berkumpul lagi suatu saat nanti. Oh, tentu saja saya akan selalu mendoakan keselamatan, kesehatan dan kebahagiaanmu. 

Minggu, 02 Maret 2014

The Art Of Selingkuh

Entah kenapa, belakangan ini cerita hidup gue diisi oleh fragmen perselingkuhan. Eits, maksudnya bukan gue yang selingkuh, coy, tapi orang-orang yang gue kenal.

Gue di sini bukan hendak menghakimi, hanya mencoba menempatkan diri pada situasi ini. Tanpa dihakimi pun, dan dengan pledoi secanggih apapun, yang namanya selingkuh tetep aja salah. Selingkuh, apalagi jika dilakukan saat sudah berumah tangga, adalah jelas sebuah pengkhianatan akan janji pernikahan yang pernah kita ucapkan dengan khidmat dan sungguh-sungguh di hadapan penghulu, mertua, orang tua dan tamu-tamu undangan. Sesuatu yang kadang-kadang diucapkan sambil terisak, entah karena merasa terharu atau berat.

Tapi poinnya adalah, kini semakin banyak aja kasus selingkuh ya. Memang sih gak pernah ada yang iseng membuat infografik berupa data statistik tentang berapa jumlah orang yang berselingkuh, pekerjaan bidang apa yang paling banyak kasus perselingkuhannya, apa sebab orang melakukan perselingkuhan dan lain-lain. Tapi dari berbagai penuturan dan cerita yang gue dengar sendiri, sedikitnya 3 dari 10 orang teman gue pernah melakukan tindakan ini, baik selingkuh secara fisik (“jajan”) maupun selingkuh secara perasaan yang berlanjut pada hubungan terlarang.

Kalo kata beberapa orang, ada sensasi yang didapat ketika berselingkuh. Adrenaline rush karena selalu takut ketahuan berpadu dengan benih-benih cinta yang muncul seperti layaknya yang kita alami jaman sekolah dulu. Menegangkan sekaligus menyenangkan, merasa kembali muda. Ngeri-ngeri sedap. Gitu katanya. That's the art of selingkuh. 'Art'? well, segala sesuatu yang ditambah unsur 'art' akan terlihat kece dan keren.

Mendengar cerita-cerita itu, gue jadi mensyukuri 'kekurangan' yang gue miliki. Gue orangnya gak romantis, cuek, simple, datar, gak trendy, gak keren, gak gaul, gak pinter ngomong, gak punya selera dan aktivitas yang mainstream. Teman-teman baik gue pun kebanyakan cowok. Jadi bisa dibilang kalau gue gak punya 'peluru' untuk berselingkuh, gak punya kelebihan yang bisa menarik perempuan lain. Pendek kata, gue gak punya faktor penarik untuk berselingkuh. Ada tembok tinggi yang memang secara natural gue buat sendiri yang gue yakin gak ada yang bisa memanjat, apalagi menjebolnya.

Gue gak akan naif berkata bahwa gue adalah pria yang hatinya bersih dan gak akan mungkin melakukan sedikitpun tindak perselingkuhan. Segalanya bisa terjadi, hidup gak bisa ditebak, manusia memang berbuat salah. Gue juga gak bisa mengklaim bahwa gue adalah suami yang setia tanpa cela, karena memang sampai detik ini gak ada satupun perempuan yang menggoda (atau potensial menggoda), atau memang gue belum melewati fase ini. Elo gak bisa mendapat peringkat 1 di kelas jika elo belum menaklukkan soal-soal sulit. Elo gak bisa mengklaim kalo lo orang baik kalo belum diuji. 

Manusia memang berbuat salah. Gue berbuat salah. Sering. Tapi mudah-mudahan enggak dalam aspek yang satu ini.

"Got a wife and kids in a Baltimore Jack
I went out for a ride and I never went back
Like a river that don't know where is flown
I took the wrong turn and I just keep going

Everybody's got a hungry heart
Everybody's got a hungry heart
Lay down your money and you play your part
Everybody's got a hungry heart

I met her in a kingstown bar
We fell in love I know it had to end
We took what we had, we ripped it apart
Now here I am got a kingstown again

Everybody need a place to rest
Everybody's want to have a home
Don't make the difference what nobody said
Ain't nobody wants to be alone" 


Hungry Heart-Bruce Springsteen

Ya, manusia memang selalu lapar dan gak pernah terpuaskan.


Kamis, 19 Desember 2013

Ironi Anak Orang Kaya

Alkisah ada seorang pemuda. Wajahnya tidak ganteng, tapi tidak juga jelek. Badannya tinggi tegap, pembawaannya ramah dan simpatik. Jika berbicara dengan orang lain, ia nampak antusias bahkan walaupun ia tidak terlalu dekat dengan lawan bicaranya. A decent guy.

Pemuda ini bukan pemuda kebanyakan. Ia anak tunggal yang terlahir dari keluarga menak, alias kaya raya, alias tajir. Keluarganya memiliki banyak harta dan bisnis yang setiap saat siap diwariskan untuk sang pemuda.

Sang pemuda dididik dengan benar. Sekolahnya baik, prestasinya baik, kelakuannya baik. Ia juga sangat nurut dan patuh pada orang tuanya, pada kakek dan neneknya. Ia seperti sudah berkali-kali diberi penegasan bahwa ialah pewaris tunggal kerajaan kecil dari keluarga besarnya, untuk itulah ia harus memiliki sifat-sifat yang dipandang perlu. Jadilah ia dibentuk untuk menjadi anak baik, penurut, sopan, pandai, lurus dan tidak macam-macam. Ia juga tidak sembarang berteman dengan orang. Anda pemabuk? Maaf, lingkaran pergaulan tertutup untuknya.

Sepertinya sudah terlalu banyak cerita picisan semacam ini, dan Anda pasti sudah terlalu bosan mendengarnya. Namun bukan rangkaian cerita tentang nasib si pemuda yang ingin saya sampaikan di sini.

Saya kasihan dengan si pemuda.

Ia memang tidak kekurangan harta, tidak pula kekurangan kasih sayang. Bahkan berlebih. Orang tua dan kakek-neneknya sangat menyayanginya, sangat membanggakannya. Si pemuda telah tumbuh sebagai anak idaman keluarga.  Namun dibalik semua itu, saya melihat hidupnya bagaikan robot. Robot  yang tinggal digerakkan dengan remote kemanapun maunya mereka.

Pemuda ini tidak pernah pulang larut malam bersama teman-temannya. Kegiatannya selalu dipantau, tidak pernah menonton konser hingga menjelang pagi, tidak pernah main Playstation di rumah atau kos-kosan teman sampai pagi, tidak pernah jalan-jalan ke luar negeri bersama teman-teman lalu memajang foto dengan sembrono di instagram dan path. Ia tidak berbicara sembarangan, tidak membuang-buang waktu. Hidupnya datar bagaikan musik... (ah sudahlah).

Satu lagi yang membuat saya kasihan adalah menyangkut perempuan. Sebagai pemuda normal, tentu saja ia mendambakan perempuan untuk menjadi pasangan hidupnya. Cuma ya itu, tidak sembarang perempuan yang diperbolehkan untuk memasuki kerajaan kecil milik keluarga besarnya. Perempuan itu harus cantik, kaya, baik hatinya, baik pergaulannya, sehat, seiman dan satu suku. Perempuan sempurna (di mata keluarga).

Inilah yang saat ini mengganggu pikiran si pemuda. Ia baru saja putus dengan pacarnya, yang sayangnya memang hanya memiliki satu-dua kriteria dari belasan kriteria wajib yang ditetapkan oleh keluarga besar pemilik kerajaan kecil.

Dari lahir, ia sudah dibentuk untuk menuruti kata-kata orang tua dan keluarganya. Iapun tidak sampai hati untuk membangkang. Ia selalu ingat bahwa ia adalah seorang anak baik. Anak patuh dan penurut, kalo gak nurut nanti kualat. Ia seperti sudah di program untuk melakukan hal A, B dan C saja meskipun dunia menawarkan cerita A sampai Z.

Ia seperti mobil ferrari yang dipaksa berkendara sepelan bajaj. Ia bagaikan anak posh yang gagal nonton konser DWP gara-gara terjebak macet, padahal konser itu adalah penanda status gaulnya. Ia seperti kucing ras yang penurut, patuh dan tidak bisa berkelahi sehebat kucing garong. Ia memiliki pensil warna lengkap dengan 320 warna namun hanya boleh menggunakan 16 warna saja dalam menggambar. Ia adalah smartphone mahal yang digunakan oleh Om-om ganjen tapi gaptek. Ia bagaikan drummer metal yang dipaksa memainkan lagu pop!


Boleh saja keluarganya merasa senang dengan apa yang telah dipertontonkan si pemuda. Tapi bagi si pemuda, ia hanyalah menjalankan peran dan belajar untuk memenuhi ekspektasi keluarganya. Masa mudanya berlalu begitu saja tanpa kesan. Ia tidak pernah menikmati jadi robot, namun ia sendiri tidak kuasa untuk mempertanyakan program yang telah ditanamkan pada sistemnya.

Ironis!

Selasa, 26 November 2013

Brendon Grimshaw: Petualang, Pelestari Lingkungan

Brendon Grimshaw. Photo by Theflyingtortoise.blogspot.com

Nama Brendon Grimshaw mungkin asing bagi Anda. Ia bukanlah ahli agama, bukan atlet ternama, bukan aktor terkenal, bukan ilmuan terpandang, bukan sosialita yang banyak berseliweran di pesta-pesta terkemuka, bukan selebtweet yang penuh pencitraan, bukan pula politisi yang pandai bersilat lidah. Ia hanyalah seorang pria sederhana berasal dari Yorkshire, Inggris dengan keinginan yang sederhana yaitu melestarikan alam dengan caranya.

Tahun 60an, takdir membawa Grimshaw bertugas di negara gugusan pulau kecil di timur Afrika, Seychelles. Seychelles adalah negara kecil berpenduduk hanya 85.000 orang dengan banyak pantai-pantai indah belum terjamah, yang juga dalam sejarahnya merupakan tempat persembunyian para perompak, termasuk harta karunnya. Saat bekerja sebagai editor di surat kabar negeri itulah ia mengumpulkan uang dalam jumlah sangat besar saat itu, yaitu 8.000 pound untuk membeli sebuah pulau kecil kosong seluas 0,089 km bernama Moyenne.

Moyenne hanya berjarak 1 jam dari pulau Mahe, pulau utama Seychelles tempat ibukota Victoria berada. Tahun 1973, atau satu dekade setelah membeli pulau ini, Grimshaw memutuskan untuk pindah permanen. Moyenne, yang semula tidak memiliki apapun dan hanya berupa daratan kecil di tengah samudera Hindia, diubah secara drastis oleh Grimshaw bersama dengan orang yang ia pekerjakan yaitu pria lokal bernama Rene Antoine Lafortune.

Jika miliuner-miliuner Rusia dan Arab membeli pulau tropis sekitar wilayah ini untuk dijadikannya tempat peristirahatan sunyi dan mewah, maka Grimshaw tidaklah demikian. Ia dan Lafortune menanam 16.000 pohon, termasuk 700 pohon mahoni. Mereka juga membangun penangkaran bagi burung-burung, juga memelihara 120 ekor kura-kura raksasa yang terancam punah.

Lokasi Moyenne Island. Photo by Dailymail


Kerja keras terus dilakukan Grimshaw dalam mentransformasi pulau ini. Ia tidak menikah, sesuatu yang kelak disesalinya meskipun paham sepenuhnya bahwa dalam realitanya kisah cinta tidaklah seindah ending film produksi hollywood. Tidak akan ada wanita manapun yang sudi menemaninya untuk hidup di sebuah pulau kosong terpencil tanpa adanya mal dan pusat hiburan. Grimshaw sudah hidup dengan realita tersebut, dan berdamai dengannya. Grimshaw sudah cukup puas karena ayahnya, Raymond, sempat menghabiskan waktu bersamanya di pulau itu hingga meninggal. Adiknya juga kini tinggal di pulau Mahe bersama suaminya.

Grimshaw jelas tidak melakukan semua ini untuk uang. Sudah beberapa kali miliuner menawar pulau ini berpuluh-puluh kali lipat dari harga belinya, namun ia selalu menolak. Ia tidak ingin surga yang telah ia bangun ini diubah menjadi resor-resor mewah komersial. Ia memilih menghabiskan masa tuanya sebagai petualang, sebagai sahabat para binatang dan alam di pulau kecilnya, ketimbang menghadiahi sendiri dengan mansion mewah di negerinya yang dapat diperolehnya hasil penjualan pulau Moyenne yang telah ia bangun.

Upaya Grimshaw melindungi pulau ini berhasil. Setelah dua puluh tahun lebih, pemerintah Seychelles menjadikan Moyenne sebagai taman nasional. Dengan demikian, pulau tempat pelestarian kura-kura raksasa, burung-burung dan tanaman-tanaman tropis akan terbebas dari ancaman privatisasi. “Ia adalah Robinson Crusoe modern” ujar Joel Morgan, Menteri Lingkungan Hidup Seychelles, menyamakan Grimshaw dengan seorang petualang terkenal yang mampu bertahan hidup sendiri di sebuah pulau.

Juli 2012 lalu, Grimshaw telah wafat pada usia 87 tahun. Ia dimakamkan di liang lahat yang telah ia persiapkan semasa hidupnya, bersebelahan dengan makam ayahnya di pulau Moyenne. Ia menyusul Lafortune, koleganya yang telah pergi lima tahun sebelumnya.

Kisah inspiratif Grimshaw adalah kisah penuh pengorbanan, kesederhanaan, pengabdian dan kebesaran hati seorang yang begitu besar perhatiannya pada kelestarian lingkungan. Ia tidak banyak bicara, hanya berbuat. Boleh jadi, ia sempat berharap untuk menemukan harta karun bajak laut terkenal Oliver Levasseur. Namun seperti yang dikemukakan oleh Simon Reeve dalam artikelnya, Grimshaw sudah dari dulu menerima tawaran para miliuner yang tertarik pada pulaunya, jika memang uang menjadi tujuan.



Trouble In Paradise

Thilafushi: Photo from Dailymail

Apakah yang Anda ketahui dari Maladewa? Pantai-pantai berpasir putih? Air laut berwarna biru muda yang sangat cocok dipakai untuk kegiatan snorkling? Penginapan mewah yang hanya bisa dibayar untuk Anda yang punya uang berlebih? Pemandangan yang sangat keren untuk dipampang pada akun social media? Gambaran surga dunia?

Bagaimanapun Anda memandang Maladewa, atau Maldives, Anda mungkin perlu mencari tahu tentang daerah di sana bernama Thilafushi. Googling, maka Anda akan temukan. Rasanya begitulah pemeo umum yang berlaku pada era digital modern saat dunia telah memilih untuk mengungkap seluruh rahasianya.

Saya yang telah lebih dulu melihat tayangan dokumenternya di sebuah saluran televisi berbayar kebetulan telah mengakses berbagai berita dan artikel yang memuat salah satu pulau yang terdapat dalam gugusan pulau di selatan India ini.

Kencangnya promosi pariwisata, menjamurnya tiket murah, dan berbagai pengalaman seru yang dituangkan oleh para penulis perjalanan telah mengubah wajah banyak tempat di dunia. Kini  banyak tempat yang semula damai, terkucil dan tidak banyak yang memperhatikan berubah menjadi tempat komersil yang penuh dengan manusia-manusia haus liburan, yang telah menabung sepanjang tahun untuk menuju tempat-tempat ini dengan berbagai macam tujuan. Sesuatu yang sayangnya kebanyakan berdampak negatif pada kelestarian lingkungan, meskipun menghasilkan perputaran devisa pariwisata secara masif yang tentu saja akan didukung oleh yurisdiksi manapun.

Kembali ke Thilafushi, okelah saya jelaskan sedikit meskipun Anda sudah melakukan googling. Thilafushi adalah salah satu pulau kecil buatan seluas 7 km yang dibangun pada tahun awal 90an. Thilafushi ‘dikorbankan’ untuk menjadi tempat penampungan sampah raksasa bagi negara liliput ini. Kini, seperti yang teruang dalam Wikipedia, Thilafushi sudah menjadi ‘pulau gunung sampah’ yang ‘didatangi’ 330 ton sampah per hari. Sebagai informasi, seorang turis yang berkunjung ke Maladewa meninggalkan 3,5 kg sampah setiap harinya.

Gunung sampah di "surga". Picture from Wikipedia

Persoalan limbah pariwisata memang sejatinya adalah masalah klasik yang sepertinya hingga kini belum terselesaikan. Pemerintah Maladewa nyatanya memang memilih untuk melakukan lokalisasi pada sampah-sampah ini dengan cara mengorbankan sebuah pulau untuk dijadikan tempat pembuangan sampah akhir. Namun setelah sampah menggunung di pulau ini, mereka seolah tidak mengetahui bagaimana penanganan selanjutnya.

Lokalisasi sampah semacam ini bagaikan menaruh sedikit demi sedikit barang tidak terpakai di gudang rumah kita secara terus menerus, tanpa pernah kita membuang barang-barang lama untuk menggantikan barang-barang yang baru kita tempatkan.


Bukannya bermaksud untuk nyinyir dan menghakimi para turis, namun jika kita mengetahui hal buruk jarang terlihat dan terekspos semacam ini, setidaknya kita dapat memikirkan sesuatu untuk diperbuat, meskipun hanya sekadar membuat tulisan di ruang publik dunia maya seperti yang saya sedang lakukan.

Jumat, 25 Oktober 2013

Sekali Bantai, Dua Spesies Besar Terancam Punah

Saya bukanlah seorang science enthusiast. Walaupun di SMA dulu menghuni kelas 3 IPA, tapi itu hanyalah siasat agar pemilihan jurusan saat kuliah nantinya bisa lebih fleksibel. Anyway, bukan itu yang hendak saya bicarakan.

Secuek-cueknya pelajar pun pasti mengetahui apakah itu rantai makanan. Tuhan telah menciptakannya sedari dulu, bahkan sebelum manusia diciptakan. Dengan berjalannya rantai makanan, maka berjalan pula keseimbangan alam, dan berlanjut pula kehidupan.

Namun manusia memang terkadang terlalu kreatif, rakus, egois dan tidak berhati nurani. Kehadiran manusia memang menjadi salah satu alasan terbesar mengapa alam semakin rusak. Di negara manapun juga seperti itu, meskipun sudah banyak negara-negara yang lebih beradab.

Salah satu kekayaan alam yang paling banyak dirusak manusia adalah kekayaan laut. Sudah sering dicemari dengan sampah, terumbu karang di bom, ikan-ikan juga ditangkapi seenaknya.

Eh ntar dulu, saya juga bukan aktivis pecinta lingkungan yang sedang berkampanye. Memang tidak ada yang salah dari menangkap ikan. Mungkin saja aktivitas ini telah dilakukan sejak jaman manusia purba bernama latin yang sulit diingat itu. Ikan untuk makanan manusia juga sangat berlimpah ruah, dan tidak ada yang salah dari penangkapan ikan yang memang untuk tujuan dikonsumsi oleh manusia.

Namun akan menjadi masalah jika ikan yang ditangkapi adalah ikan yang berjumlah lebih sedikit daripada jumlah ikan yang ditangkapi untuk dikonsumsi, misalnya ikan hiu dan ikan lumba-lumba. Mungkin terlalu besar penghayatan mereka pada pemeo “Masih banyak ikan di laut” hingga mereka berpikir sebanyak apapun ikan mereka tangkap, ketersediaan ikan tetap akan terjaga. Apalagi mereka yang berpikir “Ah gue hanya nangkap 10 ekor kok, sementara jumlah ikan ada jutaan bahkan ratusan juta ekor.”

Yaelah bro, jika pemikiran lo ditiru 1000 orang dan pekerjaan itu lo lakukan selama 20 tahun, coba tuh hitung berapa banyak ikan yang bakal ludes?

Sayangnya, kerusakan ini memang telah berlangsung lama. Indonesia bersama India telah ditahbiskan sebagai negara dengan jumlah penangkapan hiu terbesar di dunia. Kekayaan biota laut yang dimiliki Indonesia memang menyimpan miliaran pesona yang seakan tiada habis, sirip hiu yang berharga mahal untuk dikonsumsi sebagai obat juga sayang untuk dilewatkan para manusia yang lapar dan tamak namun tidak peduli pada lingkungan.

Hiu adalah hewan yang berada pada ujung rantai makanan, sebelum pengurai. Berkurangnya populasi hiu secara drastis akan otomatis mengurangi jumlah pemangsa ikan-ikan besar yang merupakan pemangsa ikan-ikan yang dapat dikonsumsi manusia. Pendek kata, populasi hiu yang berkurang akan merusak rantai makanan, dan akan mempengaruhi ketersediaan makanan bagi manusia juga. Sekarang sih belum seberapa terasa efeknya, tapi bagaimana 50 tahun lagi?

Namun ini baru permulaan. Cerita memilukan selanjutnya datang dari perairan Lampung, dimana banyak nelayan yang turut membunuh ikan lumba-lumba untuk dijadikannya umpan dalam menangkap ikan hiu. Satu aktivitas, dua spesies besar terancam punah.

Jadi, masih doyan sup sirip hiu?

Jumat, 20 September 2013

Galau Sehat

Di tahun 90an, bahkan 2000an, kosakata ‘galau’ jarang digunakan. Kata tersebut baru muncul dua tahun kebelakang setelah banyak anak-anak muda menggunakannya. Remaja galau adalah potret anak muda masa kini. Percepatan pendewasaan yang mereka dapati dari tayangan televisi yang menyajikan acara-acara percintaan dewasa dan lagu-lagu yang juga bertemakan cinta memang membuat adik-adik kita ini cepat terserang virus galau.

Galau itu manusiawi, karena manusia memang mudah sekali merasa tidak nyaman jika terjebak pada situasi yang tidak diinginkan. Bedanya, sekarang lagi musimnya galau itu diekspresikan dengan sebebas-bebasnya. Tapi gak ada salahnya jika kegalauan hati disalurkan untuk menciptakan hal positif. Contoh galau paling keren yang pernah saya dengar adalah kegalauan Dave Mustaine. Pentolan band metal Megadeth ini sempat menjadi anggota band metal lainnya, Metallica. Mustaine didepak karena masalah kecanduan alkohol, hal yang sangat memukulnya.

"Too bad they couldn't see this lethal energy
and now the final scene, a global darkening" 

Begitulah potongan lirik lagu Set World Afire dalam album So Far, So Good.... So What! yang ditulis Mustaine pada hari ia dipecat. "No warning, no second chance."  Demikian dia menggambarkannya.
Mustaine boleh jadi galau, tapi apa yang ia lakukan? Ia membentuk Megadeth. Sama-sama keras, metal dan brutal. Banyak pengamat bilang jika dari musikalitas, Megadeth jelas diatas Metallica meski secara penjualan album dan ketenaran, Metallica masih di atas Megadeth. Tapi tetap saja hal itu menunjukkan bahwa Mustaine telah melalui fase negatif dalam hidupnya dengan sukses. Ia membuktikan diri bahwa ia mampu melangkah maju dengan kemauan keras.


Nah, Dave Mustaine galau menghasilkan Megadeth, kalo lo menghasilkan apa? :)