Rabu, 28 Agustus 2013

Cerita Konser Metallica di Jakarta

Review pertama rasanya belum cukup, sekarang pengen review untuk kedua kali. 

Siang (24/8) itu sangat terik, tapi promotor memang memaksa saya untuk mengantre. Bukan antre sembarangan, tapi antre penukaran tiket band metal legendaris, Metallica.

Total 3 jam saya habiskan untuk menunggu antrian sebelum tiket akhirnya digenggam. Menunggu bukan hanya saat itu, tapi besoknya pas hari H saya menunggu lagi. Kali ini menunggu di FX Mall Senayan sedari siang hari hingga pintu dibuka pukul 17.00. Untungnya, kali ini saya ditemani banyak teman dari berbagai lingkungan dan berbagai usia, biasanya saya menonton konser rock atau metal sendirian karena sulit mencari teman bareng yang punya selera sama. Ada dua teman kantor (salah satunya seorang ekspatriat) yang usianya 5 tahun diatas, ada teman nongkrong yang masih kuliah, bahkan ada seorang sepupu. Sebuah acara nongkrong dadakan lintas generasi dan lintas bahasa.

Kami menghitamkan sebuah kedai kopi, plus membisinginya sesekali dengan obrolan-obrolan musik metal. Sesekali penampakan licin wanita-wanita metalhead berumur 30an juga menarik perhatian kami semua yang alhamdulillah laki-laki normal. Nongkrong dadakan ini berhasil mempersatukan orang-orang yang sebelumnya tidak saling kenal. Metallica memang luar biasa.

Satu jam sebelum pintu dibuka, kami sudah beranjak. Perut sudah diisi cukup makanan dan cairan, berjaga-jaga jika konser selesai hingga larut malam (dan memang benar). Kebetulan kami semua menonton di kelas festival. Sesampainya di venue, kami langsung mencari spot favorit. Saya dan empat orang teman akhirnya memilih tempat dekat sound engineer, meski agak jauh dari panggung, namun menurut salah seorang teman disinilah spot paling pas. Tidak terlalu bising, dan masih bisa melihat panggung dengan cukup jelas.

Seringai membuka konser dengan garang. Lima lagu mereka mainkan, dimana saya tidak tahu satupun lagu mereka (maafkan saya) dan menurut saya mereka fantastis. Satu lagu Ace of Spades dari band Motorhead mereka bawakan di akhir performa. Saya sih tidak mendengar celetukan “Turun!” di sekitar saya, tapi seorang teman bercerita jika di dekat tempatnya berdiri, sekelompok orang meneriaki Seringai untuk turun. Ah, sebuah attitude bule-sentris yang menyedihkan.

Memang penampilan Metallica yang ditunggu-tunggu. Saat check sound, suara bass drum terasa hentakannya hingga ke dada, begitu pula suara gitar gahar yang terus dimainkan di nada E mayor, menambah nuansa gelap dan garang. Memang berbeda jauh dengan kualitas sound yang diperuntukkan bagi Seringai.

Konser akhirnya dimulai. Seketika, lagu orkestrasi The Ecstasy of Gold terdengar megah dan big screen memunculkan sebuah klip. Sorak-sorai menggemuruh, lagu perdana Hit The Lights yang kencang digeber Hetfield cs dengan mulus, menjadikan head-banging masal. Belum sempat cooling down, Master of Puppets yang legendaris itu langsung dimainkan. Mosh pit langsung terbentuk dengan sendirinya, bahu bertemu bahu, adrenalin mencapai puncak.

Selanjutnya, beruntun mereka memainkan lagu-lagu dari gabungan album Kill ‘Em All, Ride The Lightning , And Justice For All dan Metallica (Black Album). Suasana menjadi syahdu saat nomor legendaris One dan Nothing Else Matters dibawakan. Tapi, Metallica tidak memberi waktu terlalu lama untuk cooling down, karena kemudian berbagai hits dari album Ride The Lightning dan Kill ‘Em All dibawakan, dengan Creeping Death dan Seek And Destroy sebagai penutup. Secara keseluruhan, Metallica tampil nyaris tanpa cacat. Suara vokal tidak fals, sound gitar dan bass terdengar pas, suara drum juga mantap. Energi yang terpancar dari musisi-musisi yang sudah seusia om kita (50 tahunan) ini sangat besar, mungkin lebih besar daripada anak-anak usia 20 tahunan jaman sekarang.

Saya tidak menghitung dengan pasti berapa lagu yang mereka bawakan. Tapi durasi konser yang nyaris mencapai dua setengah jam lebih sungguh memuaskan dahaga para pecinta musik metal akan sebuah konser metal berkualitas. Hebatnya meski konser ini konser metal dan penontonnya berjumlah diatas 50 ribuan, tapi keamanan sangat terkendali. Bisa dipahami sih, yang menghadiri konser mayoritas sudah cukup berumur dan (no offense) mapan, jadi memang mereka datang dengan tujuan ingin menikmati konser, bukan untuk cari ribut dan mabuk.

Bagi sebagian orang, 20 tahun telah mereka habiskan menanti. Tepat tahun 1993, Metallica yang saat itu sedang jaya-jayanya dengan album Black memang mengguncang Jakarta dalam arti sebenarnya. Konser yang berlangsung di Stadion Lebak Bulus itu berlangsung ricuh karena banyak penonton yang tidak kebagian tiket. Kericuhan itu konon membuat Guns & Roses yang semula telah mengagendakan tur Jakarta membatalkan niat mereka.


5 dari 5 orang yang saya tanyakan pendapatnya tentang konser menjawab kurang lebih sama. Bagi mereka, konser Metallica (25/8) adalah konser terbaik, termegah dan terhebat yang pernah mereka saksikan. Catatan: 3 dari 5 orang teman saya itu bukan penggemar berat Metallica. Bagi saya sendiri, ini adalah mimpi yang menjadi kenyataan. Saya telah mendengarkan lagu-lagu mereka sejak 15 tahun lalu, dan masih memajang poster mereka di kamar sampai sekarang. Rasanya, uang sebesar 750 ribu rupiah plus pegal-pegal di kaki dan tenggorokan yang gatal sama sekali tidak sia-sia. Metallica gives you heavy!

Senin, 26 Agustus 2013

The Greatest Show by The Greatest Band in The World

Rasanya kata-kata gak cukup gambarin perasaan ini. Gimana nggak, konser Metallica semalam adalah konser terbaik yang pernah gue saksikan, ditambah fakta bahwa Metallica adalah band favorit nomor satu gue sepanjang masa.

Masih terpajang jelas poster Metallica di kamar lama gue di rumah orang tua, saat itu Jason Newstead masih jadi bassist, juga koleksi kaset lama sejak album Kill ‘em all saat almarhum Clifford Lee Burton masih mencabik bass. Ah, band ini terlalu besar artinya buat gue, terlalu subyektif dan bias mungkin tulisan gue ini.

Jika gue melihatnya dari sudut pandang penonton netral, konser semalam tetaplah luar biasa. Meski tata panggung tidak dibikin seperti Cunning Stunts yang spektakuler dimana panggung berada dibawah posisi penonton, dan band dibuat berada di tengah-tengah, tapi tetaplah tidak mengurangi kerennya konser. Sound yang super mantap, suara bass drum terdengar menggema sampai ke dada (literally), juga suara sound gitar dan bass yang terbagi dengan sempurna menjadikan tontonan konser semalam adalah tontonan musik terbaik yang pernah gue saksikan.

Lagi-lagi gue subjektif. Bagaimana enggak, lagu-lagu yang mereka bawakan adalah lagu-lagu yang sudah 15 tahun lebih gue selalu dengarkan. Di kamar sebelum berangkat sekolah dulu, di walkman pas jeda kuliah, di laptop sambil kerja di kantor. Gak cuma menemani aktivitas, tapi juga menemani sebagian besar perjalanan gue dari satu tempat ke tempat lain. Selalu ada kompilasi lagu Metallica yang gue dengar dari audio sederhana mobil. Pendek kata, Metallica adalah teman hidup gue (selain istri tentunya). Menyaksikan mereka secara langsung adalah impian yang jadi kenyataan. Gue udah nonton Megadeth, Mr. Big, Gun’s & Roses dan Metallica. My life is cool!

One, Creeping Death, Sanitarium, Master of Puppets, Fade to Black, Enter Sandman, Seek and Destroy, Blackened, dan lain-lain adalah kumpulan lagu sangar yang mencerminkan semangat dan energi tiada batas. Saat lagu One dibawakan, gue literally merinding. Dan saat Sanitarium dan Fade To Black dibawakan, gue secara instingtif terus melakukan air drumming.

Ah sudah gue bilang, pasti gue bias. Tapi meski begitu, gue yakin konser kemarin adalah sebuah konser untuk dikenang, yang pantas diceritakan sebagai pengalaman gak terlupakan. Gue juga yakin gak semuanya yang nonton kemarin bener-bener penggemar band ini, tapi mereka toh menikmati atmosfer konsernya.

Memang saat ini sudah bukan era mereka, tapi mereka seperti mencontohkan bagaimana musik harus dimainkan. Keras, lugas, brutal dan semangat. Tidak peduli seperti apa keadaan industri musik belakangan ini, dan juga bagaimana trend musik sekarang, Metallica tetaplah tak tergoyahkan. Mereka tetaplah band metal terhormat yang konsisten dan gak lekang dimakan zaman.

Konser Metallica semalam juga memberi banyak makna. Bagaimana attitude sebuah band besar kelas dunia, yang meski sudah berusia diatas 50an tapi tetap menyuguhkan performa layaknya anak-anak usia 20 tahunan. Energi mereka luar biasa, profesionalitas benar-benar mereka jaga dalam arti sebenarnya. Profesionalitas bukan berarti mereka adalah ‘musisi bayaran’ tapi juga mereka berperilaku menunjang hal itu. Performa total semalam adalah buktinya.

Mungkin banyak band metal berskill lebih tinggi dari mereka, juga lebih gahar dan sangar, tapi Metallica tetaplah punya ciri dan bunyian yang membedakan mereka dengan band lainnya. Karakter yang mereka punyai terlalu kuat, dan lagu-lagu yang mereka buat tidak pernah asal-asalan. Tidak hanya keras, tapi juga penuh harmonisasi.


Tidak heran jika bagi dunia musik metal, mereka adalah ikon. Tapi bagi gue pribadi, mereka adalah ikon dari musik. Selesai.

Kamis, 22 Agustus 2013

Siraman Rohani

Apa yang kita pikirkan ketika baru bangun tidur? Paling-paling soal kerjaan kantor, soal meeting pagi-pagi, soal makan siang sama klien, lalu malamnya ada reuni kecil dengan teman-teman sekolah. Bagi pelajar atau mahasiswa juga sama. Paling yang kita ingat lebih dahulu adalah Ujian Semesteran atau pilihan gaya rambut macam bagaimana untuk memikat gebetan.

Jarang sekali kita berterimakasih karena sudah 'dibangunkan' dari tidur, diberi nafas dan umur untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan kita atau diberi kesempatan untuk menjadi manusia yang bermanfaat. Pendeknya, diberi kesempatan melanjutkan hidup.

Memang gemerlapnya dunia sering bikin kita lupa. Gue juga bukan orang yang alim, tapi setidaknya gue paham bahwa kita-kita ini udah sering berprilaku diluar batas, sombong dan merasa tidak butuh siapa-siapa. Harta dan tahta yang kita punyai seolah cukup, dan yang ada malah kita selalu bersemangat mengembamgkan diri untuk terus menambah harta dan tahta itu.

Padahal, harta dan tahta itu punya siapa sih? Jiwa dan raga punya siapa sih? Tuh kan, kita pasti tau semua jawabannya. Kita sadar kalo semua ini punya Allah, hanya saja kita sering terlena.


Disitulah kita butuh siraman rohani. Dalam siraman rohani itu, apa yang diajarkan oleh para ahli agama bukanlah hal baru. Mereka bersumber pada kitab suci yang usianya udah ratusan tahun. Ajarannya sudah ada sebelum kita lahir, sudah lama dan selalu diulang-ulang. Kita juga udah sering mendengar, udah tau, udah ngerti. Kita hanya butuh untuk DIINGATKAN.

As simple as that.

Minggu, 18 Agustus 2013

Tujuan Travelling

Tiket murah dan kemunculan berbagai maskapai penerbangan membawa banyak perubahan. Perubahan yang terjadi bukan hanya pada destinasi liburan saja, tapi juga pada perilaku si turis itu sendiri. Saya tidak berniat nyinyirin turis-turis itu. Kasihan, sudah terlalu banyak yang nyinyirin mereka. Padahal pledoi yang mereka bikin adalah pledoi tak terbantahkan. “Nyinyir aja sih lo! Duit-duit gue!”

Entah kenapa saya sih tidak mau ikut-ikutan dalam arus turisme itu. Saya juga tidak khawatir kurang piknik, karena buat saya segala medium relaksasi itu sudah ada di hobi yang saya kerjakan. Dan buat saya, travelling itu bukan hobi, bukan pula medium “escape from routine” dan sejenisnya.

Liburan buat saya adalah mengenal kota tujuan. Bagaimana sejarahnya, bagaimana kehidupan masyarakatnya. Dan karena saya penggemar sepak bola, saya juga selalu ingin merasakan denyut sepak bola di kota tujuan itu. Saat saya memutuskan untuk mendatangi kota lain, berarti saya memang ingin mencari tahu kota tersebut, bukannya ingin lari dari rutinitas atau ingin haha hihi semata, beli oleh-oleh, lalu pulang tanpa sebuah gagasan baru. Apalagi, mengganggu ibadah biksu dengan foto dari dekat dan mencak-mencak ketika pesta lampion batal. (Tuh kan nyinyir. Duh.)

Ya, pokoknya liburan itu lebih dari sekadar ngepath, posting foto dan ajang narsis. Harus ada makna yang kuat dari sebuah perjalanan. Harus ada perubahan dan wawasan baru dari perjalanan.


Itu sih saya ya, kalo emang punya pendapat lain ya bebas-bebas aja. Hihihi. Selamat piknik!

Senin, 08 Juli 2013

Ayo Main Bola!

Rasanya masih teringat jelas di memori saat gue dicela teman-teman (bukan teman yang baik sih) yang mengatai betapa culunnya gue karena gak bisa main bola dan gak tau gimana caranya nendang bola. Sebuah celaan yang kemudian seperti membangunkan monster yang telah lama bersembunyi dalam badan.

Monster itu menstimulus gue buat belajar main bola, lalu membungkam mulut para pencela itu. Gue gak tumbuh sebagai pesepakbola profesional juga sih, tapi gue bukanlah pesepakbola buruk. Gue hanya punya dua tujuan setiap bermain bola, yaitu bermain baik dan mencetak gol. Gak pernah sedikitpun terbersit untuk mencederai lawan, seperti si gendut kampret yang mendorong gue sampai sikut gue bergeser dari tempatnya. Gue bermain, karena gue mencintai permainan ini, bukan karena motivasi lain seperti taruhan atau gagah-gagahan. I see football as a beautiful game.

Passion gue teramat tinggi keterlaluan pada permainan ini. Jeleknya, passion ini seperti hantu yang sempat menghambat langkah gue karena terlalu sulit move on dan sulit menerima kenyataan kenapa gue gak bisa jadi pemain bola. Banyak tahap pencarian gue lalui sebelum mencapai tahap ikhlas seperti sekarang. Mencoba berdamai dengan hidup dan berusaha terlihat seperti bapak-bapak normal yang suka upload foto anak di social media dan menjadi karyawan yang rajin kerja lembur serta berdedikasi tinggi adalah bukti bahwa gue sudah pasrah dan rela menjalani dunia paralel dimana pemikiran gue gak sejalan dengan apa yang gue lakukan.

Meski demikian, gak ada penyaluran yang lebih besar pada sepak bola selain memainkannya. Ya, bermain sepak bola di lapangan adalah hal yang lebih menyenangkan daripada liburan mahal dengan kapal pesiar romantis sekalipun, atau teriak-teriak di karena adrenalin yang dibuat-buat saat memainkan water sport di pantai eksotis. Bahkan setelah gue menemukan kesenangan alternatif berupa menjadi penulis sepak bola sekalipun, tidak bermain sepak bola secara reguler adalah sebuah kegagalan tak termaafkan.

Perubahan status dari bujangan ke pajangan, plus dari mahasiswa girang ke karyawan senang udah cukup mereduksi waktu bermain bola gue. Apalagi sebuah catatan statistik kampret berupa hasil medical check up resmi mengalienasi gue dari lapangan bola. Kolesterol gue tinggi, akibat terlalu larut dalam rangkaian tipuan hedonisme berupa makanan-makanan lezat.

Lebih sakit membaca ini daripada tidak menemukan nama gue di pengumuman UMPTN. Tidak bermain bola adalah situasi terburuk yang bisa gue bayangkan, daripada tidak punya payung saat hujan deras atau tidak punya pacar selama sekolah. Dan kini, udah 3 bulan lebih lamanya gue istirahat dari lapangan. 3 bulan tidak menyenangkan yang tidak ingin gue alami lagi.

Well, gue gak mau curhat sebenernya. Gue akan tambahin sedikit bobot dalam tulisan ini. David Conn, si jurnalis sport business pernah bilang dalam salah satu chapter di bukunya tentang lost generation of football yang terjadi di Inggris, yang notabene negara yang mendaulat diri sebagai penemu sepak bola.

Conn bilang bahwa ciri paling kentara dari modernisasi sepak bola adalah di dunia penyiaran. Rupert Murdoch melalui Sky Sports yang menjadikan sepak bola sebagai tontonan berbayar telah mengubah paradigma orang-orang Inggris. Paradigma itu adalah menjadi penonton yang baik karena stasiun TV menayangkan tontonan bagus, yang sayang untuk dilewatkan. Tidak hanya siaran langsung, tapi juga highlight pertandingan dan analisa canggih dari para pundit berjas dan berdasi, tidak mau kalah necis dengan pengamat pasar modal ataupun pengacara. Tayangan sepak bola sudah dikemas sedemikian ruma sehingga para pemirsa termanjakan, dan uang berlangganan yang mereka keluarkan terasa tidak percuma. Ya terang saja, kalau sudah mengeluarkan uang untuk berlangganan, masa sih kita harus beranjak dari sofa sambil makan pizza dan minum berkaleng-kaleng soda atau bir? Ngapain juga capai-capai main bola di lapangan, mendingan nonton orang main aja di TV. Kebiasaan ini juga membawa dampak obesitas, yang akhirnya makin mengurangi produksi generasi sehat yang mampu menjadi pesepakbola.

Terdengar berlebihan? Fenomena ini kemudian berkembang lebih liar. Dari revolusi penyiaran, kemajuan sektor industri pada akhirnya membutuhkan terlalu banyak ruang untuk pembangunan kantor dan gedung mereka. Ruang publik tereduksi, lapangan bola dihabisi. Semakin sulit bermain bola jika lapangan rumput plastik yang tersedia memaksa kita merogoh kocek 300 ribu rupiah perjamnya, atau kira-kira seorang anak sekolah harus patungan 30 ribu rupiah untuk bermain bersama teman-temannya. Tidak heran, lebih banyak anak muda yang lebih memilih nongkrong di minimarket dengan modal 30 ribu perak itu, karena bisa mendapatkan seporsi junk food dan segelas sirop beku, plus bisa ngegodain cewek.


Balik lagi ke absennya gue dari lapangan. Well, sudah saatnya mengakhiri penderitaan ini. Gue harus segera kembali ke lapangan dan dapetin lagi hal-hal yang bisa bikin gue seneng. Jadi seorang pria beranak satu di usia boring 30an bukan berarti menghilang dari lapangan. Bagaimanapun juga, sepak bola lebih enak dimainkan daripada sekadar dibicarakan atau ditonton saja. Ayo main bola!

Minggu, 09 Juni 2013

Indonesia Bebas Bubble Property?

Perumahan atau tempat tinggal adalah kebutuhan pokok, yang sayangnya makin hari makin mahal. Rasanya usaha kita sudah keras, kerja lembur sudah dilakukan, penghasilan juga terus meningkat. Namun, peningkatan harga rumah seperti tidak terkendali belakangan ini, sehingga seberapapun tingginya penghasilan kita, laju kenaikan harga properti sulit dikejar.

Saya pernah membaca di sebuah artikel. Sepasang suami istri, dua-duanya bekerja, memiliki penghasilan gabungan 7 juta rupiah per bulan. Mereka sudah 10 tahun menikah, dan belum bisa memiliki rumah sendiri. Dengan asumsi pengeluaran rumah tangga 3 juta per bulan, gaya hidup tidak hedon, tidak pernah eat for fun dan lain-lain, rumah masih belum bisa terbeli.

“Harga rumah untuk kelas menengah hingga menengah kebawah berkisar 200 hingga 700 juta. Uang muka minimal 50 juta plus administrasi dan lain-lain 20 juta. Saat ini, mencapai 70 juta saja sulit.” Begitu ucap mereka, juga terkait kebijakan Bank Indonesia yang menaikkan kewajiban DP rumah menjadi minimal 30% khusus untuk rumah diatas tipe 70m persegi.

Terlalu picik dan kurang sensitif rasanya jika kita menghakimi orang itu dengan mengatakan “Salah sendiri kenapa gajinya cuma bisa segitu?” Padahal sebuah negara memang punya kewajiban untuk menyediakan perumahan yang layak bagi rakyatnya, ketimbang terus membela kepentingan pihak tertentu dalam hal ini.

Properti Untuk Investasi, atau Spekulasi
Dari dulu, investasi dalam bentuk properti selalu jadi primadona. Harga tanah dan bangunan yang selalu naik dan tidak pernah turun menjadi alasan banyak orang untuk berinvestasi disini, meski properti bukanlah liquid asset yang mudah dijual. Kisah orang tua yang membelikan rumah bagi anaknya yang masih kecil sudah banyak kita dengar, hal itu mereka lakukan untuk berjaga-jaga jika harga properti melangit dan anak mereka tidak mampu membelinya. Pendeknya, mereka melakukan hedging pada properti yang mereka beli sekarang.

Kini, investasi orang-orang makin beragam seiring banyaknya proyek pembangunan apartemen-apartemen di pusat kota. Apartemen-apartemen itu dibeli untuk kemudian dijual lagi, atau disewakan. Tidak untuk ditinggali. Para developer jelas senang dengan fenomena ini karena proyek mereka pasti untung besar, seperti diberitakan disini.

Para investor baik kelas berat maupun kelas teri ini jelas mengharapkan keuntungan, dan bukan tidak mungkin pembeli rumah mereka berikutnya akan membeli rumah itu dengan tujuan yang sama, yaitu dijual kembali. Harga yang meningkat juga tidak mereka pikirkan, akibatnya investasi berubah menjadi spekulasi. Aktivitas seperti inilah yang juga menjadi salah satu penyebab harga rumah yang kian melambung dan cenderung tidak realistis.

Dalam hal ini, developer tentu tidak ada beban karena meskipun terjadi kredit macet yang berakibat penyitaan, para developer ini telah lebih dulu mendapat dana dari bank saat membangun proyek. Akan terjadi krisis ekonomi jika bank tidak mampu menjual properti yang mereka sita karena harganya sudah terlalu tinggi dan tidak ada yang mampu membelinya karena jauh diatas harga sebenarnya.

Bubble Property di Indonesia?
Pada fenomena bubble property, terjadi kenaikan harga yang tak terkendali sehingga properti tidak mampu dibeli oleh masyarakat. Akibatnya, akan banyak kredit macet. Setelah itu, kemudian harga properti mengalami crash alias jatuh tiba-tiba yang mengakibatkan pihak-pihak seperti pengembang dan kreditor (bank) ikut terpukul. Dengan kata lain, perekonomian akan ikut hancur.

Bank dunia beberapa waktu lalu pernah mengemukakan kekhawatiran terkait ancaman bubble property di Indonesia. Mereka melihat pada dua faktor, yaitu pertama adalah kenaikan harga apartemen yang mencapai 45% per Desember 2012, yang juga diikuti oleh sektor perkantoran dan industri. Kedua, tingkat pertumbuhan kredit apartemen yang juga meningkat, sehingga mendorong kenaikan harga properti.

Saya bukanlah seorang ekonom, namun banyak pihak yang meyakini bahwa kekhawatiran Bank Dunia tidak beralasan. Mereka tidak melihat faktor solidnya ekonomi makro di Indonesia, juga rasio kredit properti dan kredit nasional yang masih dalam batas normal.

Peningkatan jumlah kelas menengah yang merupakan konsumen properti juga berpengaruh untuk mencegah terjadinya bubble property. Kelas menengah dengan kemampuan konsumsi dan investasi yang tinggi akan selalu menjamin stabilitas demand-supply sektor perumahan. Artinya selama properti masih banyak pembeli, keadaan masih aman.

Benarkah demikian?

Ironi dan paradoks akhirnya melanda hidup banyak orang. Banyak apartemen atau rumah kosong dimana pemiliknya berharap untuk mendapat untung dari penjualan atau persewaan, sementara di lain sisi banyak orang yang sulit memiliki rumah meski sudah bertahun-tahun mengumpulkan uang. Keadaan sekarang memang seperti mendukung yang kaya makin kaya, yang miskin makin susah.

Meski banyak pihak yang mengatakan bahwa membicarakan bubble property adalah sesuatu yang berlebihan, namun potensi kesana jelas ada. Boleh saja harga properti di Indonesia jauh lebih rendah dibanding Singapura maupun Hong Kong misalnya, namun perbandingan tadi menjadi sia-sia mengingat disparitas pendapatan perkapita Indonesia dengan kedua negara tersebut masih menganga.

Catat, pendapatan perkapita Indonesia 3 ribuan dollar AS, sementara Singapura 50 ribuan, alias nyaris 20 kali lipat dari Indonesia. Hal ini jelas berarti bahwa daya beli orang Indonesia masih jauh dibawah Singapura. Jangan sekadar melihat pada fenomena pertumbuhan kelas menengah semata, namun lihat pula banyak orang sudah termasuk dalam kategori kelas menengah yang masih kesulitan memiliki rumah, apalagi kelas bawah.

Akan makin sulit memperoleh rumah ketika para pengembang lebih memilih untuk mengerjakan proyek anjangsana alias proyek apartemen mewah berharga miliaran per unit, ketimbang menyediakan hunian murah seperti rumah susun untuk menjamin ketersediaan tempat tinggal bagi kalangan yang lebih membutuhkan.

Melihat fenomena ini, kekhawatiran Bank Dunia bukanlah omong kosong. Sesuatu harus dilakukan untuk mengendalikan harga properti dan merumuskan kebijakan disintensif pada praktek spekulasi di bidang properti.

Rabu, 05 Juni 2013

Fast & Furious 6, a movie review

Tanpa banyak bicara, Joe Taslim, aktor Indonesia yang namanya mencuat berkat peran apiknya di film The Raid akhirnya memasuki ranah Hollywood dengan turut membintangi film dengan profil tinggi, Fast & Furious. Bagi kita pemerhati dan penonton setia film, kehadiran Joe Taslim adalah motivasi ekstra untuk menonton film yang penuh dengan adegan mobil terbang ini, setidaknya agar kita terdengar update.

Joe Taslim ambil bagian dalam sebagian besar film, alias tidak muncul sebagai figuran. Ia memperlihatkan kemahiran bela diri yang tinggi, akting yang tidak kaku meski porsi dialog yang ia mainkan tidak sebanyak Vin Diesel atau Paul Walker, yang memang masih menjadi jagoan utama film ini.

F&F 6 sebenarnya tidak memberikan nuansa yang berbeda selain kehadiran seorang aktor Indonesia didalamnya. Setelah sekuel sebelumnya mereka mengacak-acak jalanan kota Rio De Janeiro, kini mereka mengambil latar kota sejuta CCTV, London. Mobil cepat, pertarungan tangan kosong dan senjata serta jagoan yang banyak tetaplah menjadi sesuatu yang dijual dari film ini.

Semakin lama, film ini seperti ingin membersihkan nama Dominic Toretto, yang semula selalu menjadi buronan polisi. Mereka menjadikan Toretto cs sebagai pemburu penjahat yang sesungguhnya bernama Owen Shaw, seorang mantan anggota tentara Amerika dengan spesialisasi kendaraan perang.

Tambahan drama, Letty, pacar dari Dom yang ‘sebelumnya’ mati, tiba-tiba muncul lagi dengan ingatan yang hilang dan berkomplot dengan Shaw. Ya, seperti yang sudah bisa ditebak, Letty kembali ke pelukan Dom. Absurd memang, karena Dom sudah memiliki pacar baru dari Brazil bernama Elena, seorang polisi dan juga seorang janda. Bagaimana sikap Elena selanjutnya hanya menambah keanehan cerita.

Family, La Famiglia, Keluarga. Itulah yang coba ditonjolkan oleh film ini, di luar adegan-adegan mobil cepat, mobil terbang, mobil meledak, mobil tergilas tank, cewek mobil dan mobil-mobil lainnya. Nilai keluarga yang diusung Dom memang unsur sentimental yang akan dengan mudah digali untuk mengaduk-aduk emosi dari penonton.

Drama kembali diletakkan dalam kematian. Ya, di tiap edisi film ini sepertinya selalu ada anggota yang mati. Seolah tercipta pola bahwa masing-masing anggota ‘keluarga’ ini akan mati satu persatu di setiap sekuelnya, dan hanya tinggal menyisakan Dom. Mungkin saja.

Melihat Jason Statham muncul di credit title, sudah jelas bahwa sekuel ketujuh film ini akan menghadirkan Statham sebagai villain. Menarik, karena selama ini kebanyakan Statham berperan sebagai jagoan. Tapi sebetulnya sekuel ketujuh ini adalah lanjutan dari sekuel ketiga. Coba aja tonton ulang sekuel ketiga yang judulnya Tokyo Drift ini.