Kamis, 31 Januari 2013

Tidak semua orang senang mendapat surat cinta

Surat cinta adalah termin usang jaman pakde dan bude kita kala mereka masih remaja. Surat yang berisi untaian kata-kata puitis dan rayuan gombal hingga berlembar-lembar ini digunakan oleh kaum pria untuk memikat wanita. Mereka  menggunakan kelihaiannya memainkan pena dan membuatnya menari-nari hingga membentuk kata-kata cinta yang menggebu-gebu.

Kini, di dunia yang sudah berjalan dengan era digital, anda akan dianggap aneh (jika bukan tidak waras) jika masih saja menulis surat cinta kepada wanita pujaan. Semua serba digital dengan kata-kata yang bisa dicontek dari hasil rajin meng-googling, template background gratisan dengan free trial sebulan, hingga emoticon-emoticon alay yang dimaksudkan untuk memberi kesan hidup pada tulisan.

Namun, jika kita hidup sebagai kaum pekerja, tidak ada yang bisa menolak “surat cinta” dari sang pemilik modal.

Selembar kertas berlogo dan berkepala surat itu berisi rangkaian kata-kata manis, seperti layaknya surat cinta. “Terima kasih atas kerja keras dan kontribusi anda pada perusahaan selama ini.. bla bla bla…” Lalu ditulis berapakah kenaikan upah anda, atau berapakah rating anda, lalu tidak lupa ditambah kata-kata template  yang sangat normatif. “Semoga anda bisa menikmati hasil pekerjaan anda dengan orang-orang tersayang.”

Sebagai kaum pekerja di kota besar, sangat jarang kita bisa mencapai kepuasan akan kenaikan upah dari perusahaan. Sifat dasar manusia kita sudah dari sononya tidak pernah puas, dan memandang “rumput tetangga selalu lebih hijau”.

Selembar kertas itu seolah seperti menjadi rapor kita saat kita sekolah dulu. Di kebanyakan perusahaan, juga diberlakukan sistem ranking, kurva distribusi normal dan apapun medium pengukuran yang tujuannya adalah untuk mengendalikan biaya gaji. Meski semua bekerja dengan baik, tetap harus ada yang mendapat nilai jelek.

Kadang sungguh ironis karena nasib kebanyakan dari kita ditentukan oleh sekelompok orang yang berada ribuan kilometer dari tempat kita berdiri. Dengan kuasanya, mereka bisa memainkan angka-angka tersebut semau mereka, menyesuaikan berapa yang mereka bisa ambil sebelum membagikannya kepada orang-orang yang sudah bekerja keras demi memajukan perusahaan mereka.

Mereka bisa mengendalikan perusahaan di negeri jauh yang mungkin bahkan mereka belum pernah kunjungi, menentukan penghasilan karyawan yang mereka bahkan tidak tahu namanya. Mereka menunggu setoran setiap bulan, menunggu presentasi dari laporan penjualan secara berkala, lalu memikirkan bagaimana cara mempertebal kekayaan mereka.

Sementara para slave ini hanya bisa tertegun, atau puas, atau pura-pura senang padahal beberapa waktu kemudian rajin membeli koran yang berisi iklan lowongan pekerjaan. Yang bijak akan selalu bilang “bersyukur aja” tapi yang dongkol akan mengupdate status di media chat dan social media secara emosional dan tak terkendali.

Semua itu cukup disebabkan oleh selembar kertas benama “surat cinta”. Layaknya surat cinta beneran, anda bisa dibuat terbuai, kecewa atau gila sekalian. Sementara para pengendali nun jauh disana yang telah menyetujui hal ini sedang memilih untuk menghisap cerutu Kuba atau mengganti velg mobil mewah mereka. Oh, atau memasangkan dompet LV mereka dengan sepatu Louboutin.

Sabtu, 26 Januari 2013

Cerita Coach Carter





Warning: Ini bukan film cinta.

Ada beberapa film yang meskipun sudah berkali-kali saya tonton, saya tidak pernah bosan mengulanginya. Film yang biasanya sarat pesan, menceritakan sejarah, menginspirasi dan juga bersifat melakukan pergerakan atau perubahan adalah favorit saya selain film-film action untuk hiburan tentunya.

Salah satu film yang saya maksud ini adalah Coach Carter. Film berdasarkan kisah nyata dari seorang pelatih bola basket sekaligus pendidik luar biasa, Ken Carter. Ia bukanlah pelatih basket dan guru biasa. Ia adalah seorang agen perubahan. Dan seperti biasa, akting natural dan penuh penjiwaan Samuel L. Jackson yang memainkan peran sebagai Coach Carter berhasil menggambarkan film ini secara keseluruhan. 

Ibarat tim sepak bola, peran Jackson dalam film ini ibarat playmaker. Akting khasnya sungguh hidup dan mampu membawa jiwa kita kepada film ini. Ia sukses memerankan karakter keras Carter hingga anda akan berpikir seribu kali untuk mencari gara-gara dengan orang ini.

Seperti judulnya, film ini menceritakan perjuangan Carter, pelatih tim bola basket dari Richmond High School, sebuah sekolah yang berada di kota kecil wilayah California. Pelatih berkulit hitam itu menerima pekerjaan sebagai pelatih tim basket Richmond Oilers, tim yang bisa dibilang gurem dan sering kalah dalam kejuaraan bola basket regional.

Carter adalah alumni dari Richmond. Pada masanya bersekolah dan memperkuat tim basket Richmond, ia termasuk pencetak skor tertinggi sepanjang sejarah sekolah itu. Tehnik dan strategi bermain basket bukanlah barang baru baginya. Kepala sekolah memang bermaksud memanggil pemain legendaris seperti dirinya demi meningkatkan prestasi.

Yang menjadi perhatian Carter pada saat pertama kali datang menemui anak asuhannya adalah kondisi yang amat buruk. Anak asuhannya bukan hanya tidak bagus dalam bermain basket, tapi mereka yang menjadi anggota tim adalah siswa-siswa yang kebanyakan memang berkelakuan buruk. Para anggota tim ini amat tidak disiplin, suka membuat onar, dan sama sekali tidak memperhatikan pelajaran di kelas. Pertunjukan pertama yang Carter lihat adalah bagaimana timnya dipecundangi habis oleh tim tangguh, St. Francis.


Carter memandang bahwa pekerjaan ini bukan sekadar melatih basket, tapi lebih dari itu, ia ingin menyelamatkan anak-anak muda ini dari ketidakjelasan masa depan. Ia lantas membuat kontrak lebih dahulu dengan anak asuhannya. Kontrak itu berisi komitmen untuk memenuhi standar absensi dalam prosentase tertentu, duduk paling depan dalam setiap mata pelajaran, menentukan syarat minimum indeks prestasi sebesar 2.3, hingga kewajiban memakai setelan jas rapi di hari pertandingan.

Kontrak tersebut tentunya berat bagi sekelompok anak sulit diatur itu. Carter tidak sedikit menghadapi resistensi hingga pembangkangan dari anak asuhnya. Namun ia tetap teguh pada pendiriannya. Ia bahkan membiarkan Junior Battle, centre sekaligus pemain paling hebat di tim ini untuk pergi karena tidak mau mengikuti aturan.

Singkatnya, Carter bukan hanya berhasil mengubah tim basket culun menjadi tangguh, tapi lebih dari itu ia menyelamatkan masa depan remaja-remaja bermasalah.

“Sebagian besar anggota tim saya dulu, berakhir di penjara atau terbunuh setelah lulus sekolah. Saya ingin anda semua berpikir lebih jauh lagi lalu melanjutkan pendidikan ke bangku kuliah,” demikian isi dialog Carter yang menurut saya menjadi inti dari pesan moral yang terdapat di film ini.

So, menonton film ini bukan hanya menyaksikan olahraga bola basket, tapi juga menyaksikan kisah inspiratif seorang pelatih hebat.



Selasa, 15 Januari 2013

Last Night, a movie review




Entah kenapa topik selingkuh banyak berseliweran ke kehidupan gue belakangan ini. Kenapa sih orang selingkuh? 

Di film Last Night, perselingkuhan digambarkan dengan cara yang sedikit berbeda. Perselingkuhan ini terjadi dalam semalam saja, makanya judulnya sesuai dengan itu. 

Singkat aja, Last Night ini adalah sebuah gambaran nyata kisah perselingkuhan yang dilakukan oleh Michael (Sam Worthington) dan Joanna (Keira Knightly), sepasang suami istri yang baru tiga tahun menikah. Usia mereka jelas terlalu muda untuk dikatakan sebagai pengalaman puber kedua. 

Cerita dimulai saat pasangan yang tinggal di kota New York itu menghadiri pertemuan dengan rekan-rekan kerja dari kantor Michael. Dalam pertemuan itu, Michael sering terlihat mengobrol dengan Laura (Eva Mendes), rekan kerja Michael yang cantik dan menarik, yang belum pernah disinggung Michael kepada Joanna. 

Sepulang dari acara, Joanna terus mencecar Michael perihal Laura. Dari pandangannya, Joanna merasa bahwa Laura menyukai Michael, namun Michael menolak anggapan itu. Pertengkaran selesai setelah keduanya berbicara secara baik-baik.

Michael kemudian mendapat ujian terbesarnya, yaitu tugas keluar kota bersama Laura. Elo bisa menebak apa yang terjadi setelahnya.

Michael, couldn't resist Laura's charm
Sementara di rumahnya, Joanna yang seorang penulis pergi keluar untuk membeli kopi. Di perjalanan, tanpa disangka ia bertemu Alex, mantan pacarnya yang tinggal di Paris, tapi lagi ada di New York. Alex mengajak Joanna untuk makan malam. Joanna semula ragu, namun kemudian mengiyakan.

Dan setelahnya, elo juga pasti bisa nebak apa yang terjadi. Jadi skornya berapa-berapa sodara-sodara? Iya bener, satu sama.

Menariknya, ending film ini dibiarkan menggantung, seolah membebaskan penontonnya untuk menerka-nerka apa yang terjadi selanjutnya.

Joanna, ternyata belum sepenuhnya move on
Dua-duanya terbawa suasana, terbawa roman picisan yang menipu dan melenakan tanpa memikirkan akibatnya. Gak ada yang patut ditiru sih dari film ini, tapi kalo dari sudut pandang hiburan jelas film ini menghibur. Akting dari seluruh pemeran sangat natural, percakapan sungguh hidup dan tidak monoton seolah mereka memang hidup di situ, seolah mereka memang nyata.

Minggu, 06 Januari 2013

Derailed, A movie review




Gue akan coba mengingat-ingat adegan per adegan dalam film berjudul Derailed ini.

"Kunci pintu, lapor polisi, dan kucing garong" adalah beberapa hal yang gue bisa highlight di film ini. Sebuah film thriller yang penuh kejutan, twisted dan memperlihatkan sisi gelap kehidupan.

Film rilis pada tahun 2005, hasil adaptasi novel berjudul sama. Menurut gue, film ini seru dan penuh cerita-cerita mengejutkan yang akan membuat kita bergumam “kok ada ya yang sampe begitu?,” seakan menolak kenyataan bahwa hidup memang penuh kejutan, hidup memang berbelok-belok tidak seperti rambut personel film Meteor Garden.

Pemandangan awal film adalah sebuah penjara. Seorang pria tak dikenal menggenggam kuat-kuat sebilah pisau, lalu menghampiri seorang pria lainnya. Kemudian film berjalan dengan alur mundur.

Lalu alur mundur itu menyajikan pemandangan berupa kereta listrik. Jika melihat rel kereta listrik yang terletak di atas jalan raya di sebuah film Hollywood, maka kemungkinan besar film itu mengambil tempat di kota Chicago. Contoh film lainnya yang banyak mempertontonkan jalur kereta api ini adalah film yang dibintangi Angelina Jolie, Wanted.

Ngomong-ngomong, apa sih inti dari film ini? Sesuai judulnya, Derailed, film ini bercerita tentang seorang yang keluar dari jalur hidupnya yang lurus.

Tokoh utama dari film ini adalah Charles Schine. Charles adalah seorang pekerja dengan karir bagus namun memiliki kesulitan di keluarganya karena sang anak menderita diabetes. Penyakit itu memaksanya untuk mengalokasikan biaya besar setiap bulan untuk pengobatan sang anak.

Suatu ketika, Charles (Clive Owen) yang juga seorang commuter berlari terbirit-birit mengejar kereta yang menuju arah tempat kerjanya. Karena tidak ingin tertinggal dan mengetahui kereta selanjutnya baru tiba setengah jam lagi, ia nekat memasuki kereta meski belum membeli karcis. Keadaan makin canggung karena ketika petugas karcis menagih denda, ia ternyata lupa membawa dompet. Lucinda Harris (Jennifer Aniston – masih tetep gak ngebosenin diliat) yang mengamati kejadian itu kemudian membayari tiket dan denda Charles.

Charles merasa tidak enak dan ingin membalas kebaikan Lucinda. Ia terus meminta bertemu Lucinda tanpa prasangka apapun pada awalnya, mereka juga saling mengetahui status masing-masing yang sudah berkeluarga. Memang dasar Lucinda yang charming, Charles berubah dari seorang bapak yang baik menjadi layaknya kucing garong yang melihat ikan goreng nganggur di meja makan.

Ini dia kelakuan si kucing garong:

“Lucinda, I bet 20 dollars that I can kiss you without touching your lips.” 
“Really? How can you do that?” 

Charles kemudian mencium bibir Lucinda. Ya terang aja kena bibirnya, Charles kemudian membayar 20 dollar kepada Lucinda. 

“Itu 20 dollar paling cerdas dan keren yang pernah saya belanjakan”

Film ini lantas tidak lebih menjadi film perselingkuhan norak dan murahan. Ketika kemudian Charles mengajak Lucinda untuk check in ke hotel yang juga norak dan murahan, di sinilah cerita sesungguhnya dimulai. Gak perlu gue ceritain deh untuk soal ini, tonton aja sendiri biar seru.

Philippe. Kejam, brutal dan obsesif.
Yang jelas, setelah adegan itu, timbul hal-hal tak terduga seiring kemunculan Philippe (Vincent Cassel), seorang penjahat yang kejam, brutal dan obsesif. Ia bukan penjahat yang puas hanya mengambil sedikit, tapi juga ia bagaikan penyakit kanker yang berusaha menggerogoti hidup seseorang hingga habis.

Gue punya versi ending tersendiri di film ini. Beberapa alur cerita yang menurut gue terlalu absurd dan maksa, seharusnya bukan seperti itu. Ah namanya juga film Hollywood.

Moral of the story? Klise banget. Jangan coba-coba “keluar jalur”, belok-belok boleh aja asal cepat kembali ke track semula. Jangan juga tergoda sama kecantikan perempuan, karena wanita memang racun dunia!

Overall, film ini sungguh penuh kejutan, dan lagi-lagi underrated.

Selasa, 01 Januari 2013

Taken 2, a review




Gue selalu suka sama film yang secara detail memperlihatkan sudut-sudut kota. Taken 2 mengambil latar kota Istanbul. Film ini meneruskan cerita pertama yang banyak berlatar belakang kota Paris.

Film ini adalah film yang berisi kejam dan absurd-nya penjahat-penjahat dari sebuah kota di utara Albania bernama Tropoje, kota yang mendapatkan travel warning dari pemerintah Inggris, Kanada maupun Australia ini.

Absurdnya penjahat kota Tropoje? Well, di awal film sendiri sepertinya Hollywood (representasi Amerika Serikat tentu saja) memang menunjukkan bahwa mereka tidak henti-hentinya menjadikan diri mereka sebagai pahlawan. Mereka benar, yang lain salah. Jika tahun 90an hingga awal 2000an mereka sibuk merilis film-film dengan orang Vietnam atau Soviet bahkan makhluk angkasa luar sebagai penjahatnya, kini mereka banyak membuat film-film dengan kelompok Islam radikal sebagai penjahat. Tipikal steriotip dan propaganda mereka lah.

Gimana sih jalan ceritanya? Cerita berawal dari keinginan balas dendam dari orang tua Marko, penjahat yang dibunuh oleh Bryan Mills (Liam Neeson), seorang pensiunan CIA di Paris ketika kelompok Marko menculik anaknya, Kim (Maggie Grace). Para penjahat itu berencana akan menculik Mills, yang bersama Kim dan Lenore (mantan istri Bryan – diperankan oleh Famke Janssen) sedang berada di Istanbul.

Culik lagi, culik lagi. Ya memang inilah yang menjadi punchline sentral dari film, sekaligus pesan kepada kita semua bahwa memang bahaya culik ada dimana-mana. Film ini memang memberi panggung yang teramat besar bagi penculik.

Oh iya, dimana letak absurd lainnnya dari penjahat-penjahat itu? Pertama-tama adalah sikap dan karakter lebay dari ayah Marko, yaitu Murad (diperankan oleh Rade Serbedzia, aktor Serbia bertinggi nyaris 2 meter). Murad, yang adalah bos dari gangster Albania yang terkenal itu benar-benar digambarkan sebagai villain yang bengis, amoral dan heartless. Hanya peduli untuk membalas dendam saja.

The ruthless Murad

Sebuah penokohan villain yang menurut saya sangat klise karena justru film-film Hollywood belakangan ini sering memberikan karakter menarik dan punya selipan agenda moral pada kejahatannya [lihatlah karakter liberator mirip Che Guevara dalam diri Bane di The Dark Knight Rises] alih-alih karakter dangkal ala penjahat kelas teri seperti Harry dan Marv yang mencuri uang dari pemilik toko mainan anak-anak di film Home Alone.

Olivier Megaton sang sutradara maupun Luc Besson sang penulis seperti tidak memberi ruang bagi penonton untuk bersimpati pada sang penjahat, dan memberikan panggung tunggal pada seorang Bryan Mills sebagai sosok tangguh yang kebapakan, detail dan cermat.

Dengan memperlihatkan Murad bisa dengan mudah melewati penjagaan perbatasan Turki padahal membawa sekompi penjahat saja sudah terlihat absurd (jika memang ia memberi sogokan, itupun tidak diperlihatkan). Terlebih Murad berasal dari Tropoje Albania, yang anak SMP juga tahu kalau Albania tidaklah berbatasan langsung dengan Turki. Ia harus melewati Kosovo dan Bulgaria lebih dulu, atau melewati jalur selatan yang berarti Yunani dahulu untuk menuju ke yurisdiksi Turki.

Adegan laughable lainnya adalah saat para penjahat yang sudah menodongkan pistol kepada Mills dan Lenore masih membiarkan Mills menelpon Kim dan membuat Mills sempat memberikan instruksi sulit untuk melarikan diri dan bersembunyi di lemari.

Kehebatan Mills-pun dieksploitasi. Layaknya seorang yang telah melumpuhkan basis gangster ini di kota Paris seorang diri, Mills diperlihatkan mampu menghapal jalan menuju tempat ia diculik meski kepalanya ditutup kain berwarna hitam. Mills lalu memandu Kim untuk menyelamatkan mereka melalui telepon seluler kecil yang ia selipkan di kaus kakinya.

Taken 2 juga menunjukkan sisi lain dari Kim, film ini memaksa si cewek girly merayap di dinding dengan pijakan seadanya, melempar granat, menembakkan pistol, memanjat ke atap, menyetir ugal-ugalan hingga berlari-lari di atap. Oh iya, tidak lupa kalau Kim (yang belum lulus ujian mengemudi) atas desakan ayahnya berani menerobos barikade tentara kedutaan Amerika Serikat yang menembakinya.

Kim, si girly yang dipaksa "beraksi"

“What are you gonna do, Dad?”
“What I do best.”

Frase “like father like daughter” coba dijejalkan dalam film ini ketika lebih banyak orang mengenal frase “like father like son.” Hubungan Bryan dan Kim memang digambarkan tidak harmonis karena semasa bekerja, Bryan tidak pernah memiliki waktu dengan Kim. Bryan-pun bercerai dengan Lenore. Oke, gambaran broken home dan romansa hubungan roller-coaster antara ayah dengan anak ini mengingatkan gue pada film Die Hard. Lucy, Holly dan John McClane. If you know what I mean.

Sudut-sudut kota Istanbul yang klasik dan selat Bosporus yang cantik itu adalah pemandangan menarik yang memberikan kesan tersendiri saat menyaksikan film ini, sebuah intermezzo apik dari dominasi adegan full thrilling. Keseharian orang Istanbul yang dulunya pernah dikuasai oleh Imperium Romawi dan Khalifah Utsmani, juga tergambar lewat potongan-potongan kegiatan di pasar, suara adzan, Blue Mosque hingga pengamen buta.

Dan seperti di seri pertamanya, Mills memang terlalu kuat bagi gerombolan penjahat itu, berapapun jumlah mereka, apapun senjata mereka. Mills terlalu taktikal, terencana, cerdas, cekatan, kuat sekaligus tampak seperti lebih tangguh dibanding Jason Bourne. Musuh yang paling kuat, yaitu tangan kanan Murad (lupa namanya siapa) juga relatif terlalu mudah untuk dihabisi Mills.

Selanjutnya, kedangkalan karakter Murad diperlihatkan puncaknya ketika ia coba menembak Mills dari belakang, dan sudah tertebak bahwa pistol itu telah dikosongkan pelurunya oleh Mills. Seperti ending predictable yang tidak klimaks.

Padahal tadinya saya berharap Mills dibawa ke Tropoje. Film ini bisa jauh lebih baik lagi sebenarnya.

Tidak lupa, film ini seperti dibiarkan menggantung oleh perkataan Murad bahwa anak-anaknya yang lain kelak akan membalaskan dendamnya. #kode banget nih bakal ada Taken 3.

Entah perasaan gue atau bukan, bahwa Jamie (diperankan oleh Luke Grimes), kekasih Kim adalah anggota komplotan Murad dengan perawakan unshaven dan lusuhnya. Semakin yakin saja bahwa akan ada sekuel ketiga dari film ini.

Kesimpulan: untuk kategori aksi, film ini menghibur dan menyenangkan untuk ditonton. Lupakan klise dan abaikan stereotipnya.

Tebak-tebakan untuk Taken 3: 


Nanti si Jamie ternyata beneran komplotan Albania itu. Dia emang sengaja memacari Kim karena agenda terselubung, yaitu penculikan. Timbullah konflik ayah-anak lagi di sekuel ini. Nantinya baru deh Kim diculik dan dibawa ke Tropoje. 


Di situlah film selesai, entah endingnya mau bagaimana.

Senin, 31 Desember 2012

Secuplik rasa syukur di 2012


Posting akhir tahun ini saya buka dengan salah satu scene dalam film dokumenter Being Liverpool. Iya, Liverpool yang itu. Disana ada perkataan singkat dari Brendan Rodgers, bos baru mereka.

“If you wanna be success, you have to be confident. And if you wanna be confident, you have to be happy.”

Sebaris kalimat Rodgers tadi, sayangnya banyak yang diputar-putar oleh banyak orang, sehingga artinya berbeda jauh. Lihatlah contoh ini:

“If you wanna be happy, you have to be confident. And if you wanna be confident, you have to be success.”

Pola sama, kata-kata sama, namun peletakannya dibalik-balik. Artinya sangat berbeda.

Saya mungkin bisa murtad menjadi fans Liverpool jika saat melihat tayangan dan perkataan-perkataan inspiratif itu dari sang bos yang musim lalu melatih Swansea City itu. Buat saya, itu adalah kalimat tahun ini. Kalimat paling inspiratif yang pernah saya dengar.

Saya mungkin sudah sering membaca buku-buku mengenai passion, juga acara-acara talkshow yang menghadirkan Mario Teguh, namun tidak ada satupun kata-kata yang seampuh ucapan Rodgers tadi. Ucapan itu benar-benar bermakna dalam, merangkum dan mencakup segala hal, dan tentunya memiliki punchline yang sangat ampuh.

Apa yang dikatakan Rodgers tadi adalah salah satu kunci dari hidup ini, yaitu kebahagiaan yang akan mendorong kita kepada kesuksesan, bukan sebaliknya. Jika kita berbahagia dalam mengerjakan sesuatu, sukses yang erat kaitannya dengan materi adalah bonus. Namun kepuasan batin sudah pasti didapat.

Orang yang gak suka pada pekerjaannya sih bisa saja dia sukses, dan meraih materi. Tapi apakah hatinya bahagia? Belum tentu. Lagipula, apakah orang itu sudah pasti sukses? Belum tentu juga kan. Udah sukses materi gak didapat, sukses batin juga gak dapat. What a waste!

Kalo kata Frank Sinatra:

“For what is a man, what has he got? If not himself then he has naught.”

Seorang laki-laki adalah yang hidup dengan prinsipnya. Jika tidak, maka ia tersia-sia.

***

Dan di tahun 2012, saya bisa dengan tegas katakan bahwa saya bahagia. Saya bisa mencapai banyak hal, baik hal-hal yang orang yakin saya mampu mencapainya maupun hal-hal yang orang tidak yakin saya mampu mencapainya. Banyak sekali milestone dan pencapaian tahun ini.

Jika melihat pada definisi, milestone memiliki makna yang baik, yaitu terkait dengan pencapaian. Seorang bayi tidak akan bisa langsung berjalan, melainkan harus belajar duduk, berdiri dan merangkak terlebih dahulu. Duduk, berdiri dan merangkaknya si bayi itulah milestone dalam hidupnya, dan berjalan adalah puncak pencapaiannya sebelum diperkenalkan lagi kepada hal-hal lain.

Milestone kecil saya ada beberapa tahun ini.

Nonton konser GNR, tur sepak bola, punya website sepak bola, jadi penulis tetap sebuah media sepak bola, ikut proyek pembuatan buku sepak bola, bertemu orang-orang yang memiliki passion sama, mengisi podcast sepak bola, manggung di acara akhir tahun yang penuh kenangan, juga memainkan lagu enter sandman setelah sekian tahun hanya memainkan lagu-lagu pop cheesy.

Buat orang lain, itu mungkin gak ada apa-apanya, tapi buat saya itu sangat luar biasa. Hadiah dari Tuhan. Tuhan yang terlalu baik kepada saya.

Selain penuh milestone, tahun 2012 ini menjadi tahun penuh sejarah yang tidak terlupakan. Jika kelak saya bercerita kepada turunan-turunan saya, mungkin tahun 2012 ini adalah salah satu fase terpanjang yang banyak sekali akan saya ceritakan.

Di tahun ini, saya diberikan kepercayaan oleh Tuhan untuk merawat seorang manusia. Itu sudah menjadi milestone dan achievement tersendiri.

Dan entah bagaimana, di tahun 2012 ini kaki saya serasa lebih ringan dalam melangkah, tangan lebih ringan dalam mengetik kata demi kata, mulut lebih lancar dalam berbicara, mata lebih terlatih untuk membaca dan telinga lebih terlatih untuk mendengar.

Diatas itu semua, otak lebih terlatih untuk mendengarkan hati. Berjalan menemukan passion, menemukan apa yang diinginkan.

***

Mungkin kunci itu adalah keikhlasan. Itulah kunci kedua dalam hidup, yang saya percayai.
2012 adalah contoh sempurna betapa hal-hal yang dilakukan dengan kesenangan dan keikhlasan akan lebih indah. Bentuk keikhlasan juga bermacam-macam, dan saya yakin anda pasti sudah berikhlas dalam banyak hal, dari ikhlas mengantre launching gadget terbaru hingga mengantre bayar belanjaan anda di sebuah midnight sale. Apapun bentuk keikhlasan itu, anda bahagia bukan?

Setiap pintu rumah punya kunci masing-masing, begitu pula mobil dan sepeda motor, mereka juga punya sebuah kunci yang dibuat khusus untuk mereka. Seperti halnya kunci kebahagiaan dalam hidup, menurut saya adalah melakukan sesuatu yang disukai dan juga ikhlas menerima apapun yang ada.

“Kalo cuma bisa punya Lotto ya gak usah terganggu liat orang pakai Nike atau Adidas.”

“Kalo cuma punya gaji sekian dan temen lo dua kali dari yang lo dapet, ya apa terus lo bakal mati?”

“Kalo lo ngerasa udah kerja mati-matian tapi temen lo yang kerjanya lebih ringan daripada elo tapi dia ikut dapet pujian dari bos, ya terus ini bakal bikin lo ngedown?”

Mungkin orang-orang itu bekerja dengan terpaksa, sehingga yang menjadi ukuran kebahagiaan buat dia adalah materi semata.

“Gue udah gak happy, masa materi juga gue gak dapet?” Apakah begitu?

Alhamdulillah saya udah dikasih petunjuk bahwa hidup tidak harus begitu. Gak perlu memperhatikan pencapaian orang lain, gak perlu ngeliatin merk sepatu orang lain. Yang penting adalah bagaimana lo hidup dengan melakukan hal-hal yang menyenangkan, sehingga ukuran kebahagiaan bukan lagi materi.

***

Ya begitulah 2012. Sekarang bagaimana dengan 2013?

Well, apapun yang terjadi di 2013 nanti saya ikhlas. Yang jelas di 2012 ini saya udah dikasih kunci untuk menghadapi apapun. Saya tinggal melanjutkan apa yang sudah saya perjuangkan di 2012. 

2012 ini ibarat ketemunya passion, 2013 dan seterusnya tinggal lanjutin terus.

2013 saya bakal tetep nulis artikel sepak bola, tetep jadi orang kantoran yang baik-baik aja, tetep belajar sejarah dan lebih banyak baca, tetep nonton film-film action, tetep nonton konser-konser rock, tetep nonton bola, dan gak lupa jalanin semuanya dengan senang dan ikhlas.

Udahlah, gak perlu nyinyirin tahun baru. Gak perlu nyinyir karena ini budaya barat, budaya paganism atau apapun. Nyatanya, seluruh dunia memang menutup kegiatannya dan membuka lembaran baru di pergantian tahun masehi ini. Kalau anda memang berharap tahun baru versi anda sendiri, silahkan menangkan dulu pertempuran, sehingga anda bahkan bisa mengubah kalender dunia.

Alhamdulillah!

Senin, 24 Desember 2012

Attack on Leningrad



Jika boleh memilih sekian banyak hal-hal yang underrated di dunia ini, biarkanlah gue memilih salah satunya yaitu film Attack on Leningrad.

Tidak, gue tidak akan mengomentari aspek sinematografi, acting, casting, juga istilah-istilah teknis dunia perfilman lainnya yang gue gak kuasai. Tapi gue tertarik karena film ini lekat dengan sejarah Perang Dunia 2.

Film yang disutradarai oleh Alexandr Buravsky ini memiliki 3 bahasa yaitu Rusia, Jerman dan Inggris dengan bahasa Rusia yang paling dominan digunakan dalam film. Ya iyalah judulnya aja menonjolkan kota Leningard yang sekarang bernama St. Petersburg.

Jika elo berharap melihat orang pacaran di taman, berantem lalu ketemu lagi di akhir film layaknya tipikal film Hollywood, elo gak akan temukan di film ini. Yang elo lihat adalah kota tidak berdaya yang di bombardir pesawat tempur,  penduduk yang kelaparan, juga pemandangan suram kota tempat meletusnya Revolusi Bolshevik ini.

Film yang berlatar waktu musim dingin tahun 1941 ini punya mengangkat dua tema besar, pertama tentang cerita seorang jurnalis Inggris bernama Kate Davis (diperankan Mira Sorvino), kedua tentang penyerangan 900 hari kepada Leningrad itu sendiri. Kate, jurnalis yang berbasis di Moskow ini ditugaskan untuk meliput situasi di Leningrad. Kota ini tengah mengalami krisis akibat serbuan tentara Nazi Jerman, serbuan yang menjadi rangakaian invasi terbesar di dunia dan paling ambisius dari Adolf Hitler yang dikenal dengan operasi Barbarossa.

Malang menimpa Kate. Saat peliputan, bis yang ditumpanginya dibom oleh pesawat Jerman mengakibatkan banyak jatuh korban dari pihak jurnalis. Kate selamat, namun ia tidak ditemukan saat pencarian sehingga pemerintah Uni Soviet menyatakan bahwa ia tewas.

Kate mencoba bertahan hidup, dan ia beruntung bertemu seorang polisi wanita tangguh dan idealis, Nina Tsvetkova. Kate kehilangasn surat-suratnya karena pengeboman, sehingga Nina membuatkan Kate identitas palsu dengan nama Ekaterina Gonzalez. Nina menjadikan Kate seorang Spanyol karena memang pada masa itu banyak warga Spanyol yang melarikan diri ke Rusia akibat kekejaman pemerintahan diktator Jenderal Franco.

Nina lalu mengizinkan Kate tinggal dirumahnya bersama kakaknya dan dua keponakannya. Kate sangat baik pada Sima dan Yura, dua keponakan Nina. Yura digambarkan mengalami kelumpuhan akibat kurang gizi, namun berotak cerdas. Kate sangat menyayanginya.

Kate Davis
Situasi Leningrad sangat parah. Saat musim dingin yang ganas tiba, bencana kelaparan justru datang karena tentara Nazi memang tidak langsung menyerbu dan membumihanguskan kota, namun mereka memotong jalur distribusi makanan. Pemerintah setempat akhirnya memberlakukan sistem penukaran kupon untuk sebuah roti.

Jatah makanan yang lama kelamaan berkurang akhirnya menjadikan pemandangan menyedihkan timbul di mana-mana. Kuda yang diambil dagingnya bahkan ketika masih hidup, penduduk yang memakan lem dan tanah karena lem mengandung sagu dan tanah mengandung gula, hingga kanibalisme menjadi potret sejarah gelap bagi kota ini yang coba disampaikan oleh sang pembuat film.

Cerita berkembang dramatis ketika diketahui ternyata Kate adalah seorang anak dari bekas Jenderal Rusia yang mengabdi pada Tsar, pihak yang digulingkan oleh pemerintah komunis lewat revolusi Bolshevik. Ayah Kate kabur ke Inggris lalu menikahi seorang wanita Inggris yang akhirnya menjadi ibu Kate. Untuk menghindari bahaya, Kate memakai nama keluarga ibunya, Davis. Fakta ini membuat intelejen Soviet mencoba mengamankannya, namun usaha-usaha itu tidak pernah berhasil.

Gue menemukan satu hal menarik lagi dalam film ini yaitu keberadaan Danau Ladoga. Danau yang beku setiap musim dingin ini adalah satu-satunya jalan keluar dari kota Leningrad yang sudah dikepung ketika jalur darat rentan serangan. Danau Ladoga ini kemudian dikenal sebagai The Road of Life yang akhirnya dijadikan PBB sebagai World Heritage karena menjadi “jalan kehidupan” untuk mengungsi maupun pendistribusian makanan bagi penduduk kota Leningrad semasa invasi.

Setelah berhasil menyebrangi Danau Ladoga dengan selamat, Kate justru memutuskan untuk tinggal di kota dan meninggalkan Phil (diperankan Gabriel Byrne), kekasihnya yang telah menunggu di ujung lain danau. Phil sebenarnya memiliki keinginan untuk membawa Kate kembali ke Moskow, untuk kemudian pulang ke London. Namun Kate tidak memungkiri asal usulnya tadi dan ia memilih untuk tinggal di Leningrad. 

Sayangnya memang tidak dipaparkan dengan jelas bagaimana pergumulan hati Kate mengenai asal usulnya ini, dan tiba-tiba kita diperlihatkan keputusan mengejutkan perempuan ini untuk menetap dan kemudian mati di Leningrad. Plot yang kurang kuat.

Tidak ada hal menarik lain selain muatan sejarah yang kental di film ini. Cerita-cerita yang diinspirasi dari sejarah memang selalu menarik hingga gue abai terhadap efek film yang umumnya menjadi jualan dari film-film Hollywood, juga aksen British yang kaku dari Sorvino, yang notabene seorang Amerika. Setelah gue telusuri, film yang rilis di tahun 2009 ini ternyata hanya dibuat versi DVD saja, tidak tayang di bioskop. Panggung terbesarnya adalah Festifal film di Pusan, Korea Selatan.

Ya memang hanya sedikit dari kita yang tertarik pada sejarah.