Senin, 16 April 2012

Konser impor

“Hello Jakarta! Thanks for coming up and rock with us. You guys are amazing. Have a nice day!!”


Familiar dengan sepenggal kalimat diatas? Jika Anda adalah orang sering menonton konser band atau penyanyi luar negeri, kurang lebih kata-kata itulah yang mereka ucapkan. Dan sambutan tepuk tangan meriah plus chant “We want more! We want more!” membahana di seantero venue. Bisa ditebak, selanjutnya mereka memainkan encore perpisahan dengan lagu favorit para fans-nya. Penonton puas, euforia bakal berlangsung berhari-hari.


Saya sangat menyukai musik rock, dan wajar jika saya juga suka sekali nonton konser rock. Sebagai empat pilar hal duniawi yang membentuk karakter diri, rock concert adalah agenda salah satu wajib buat saya.


Lima tahun lalu, saya menyaksikan konser Megadeth di Tenis Indoor Senayan. Tiket hampir sold out. Setiap kali Dave Mustaine membawakan lagu, fans hapal lagu-lagunya, dan interaksi  antara band dengan fans selalu berjalan mulus. Itulah luar biasanya fans Indonesia.


Saya menyesal menonton di tribun VIP yang terlalu jauh dari panggung. Padahal tribun festival dibawah sana sangat tertib. Para headbangers itu memang sesekali saling dorong dan melakukan “ritual” moshing layaknya konser metal pada umumnya, tapi hanya sebatas itu saja.


Selanjutnya, saya keranjingan nonton konser. Kriterianya hanya satu, yaitu konser rock. Seperti halnya saya memandang hanya ada dua genre musik, rock dan bukan rock. Sebuah diskriminasi subjektif tentunya, karena musik dan seni memang dunia yang sangat jauh dari objektivitas dan keteraturan.


Saya tidak bisa berkata tidak pada skill para gitaris handal, para vokalis yang mampu bernyanyi dengan nada tinggi, dan para drummer yang sangat mantap menggebuk drum dan simbalnya. Sebuah kebahagiaan yang sederhana.


Berturut-turut, saya menyaksikan konser rock minimal setahun sekali. Extreme, Mr. Big, Stereophonics dan The Cranberries sudah saya lihat langsung penampilannya. Mr. Big yang paling mantap dari sisi sound system dan performance. Band favorit saya nomor 4 ini punya kelebihan yang unik, yaitu live performance mereka kualitasnya sepadan dengan yang terdapat di album mereka. Mereka benar-benar musisi panggung.


Tahun ini, saya terancam tidak bisa berangkat headbanging. Dream Theater lewat sudah. Harga tiket yang (menurut saya) kelewat mahal adalah alasan utama. Walaupun mereka adalah band favorit saya nomor 6, saya terpaksa mengubur impian untuk tidak menyaksikan langsung para profesor musik itu beraksi didepan mata dan kepala sendiri. Sungguh menyedihkan.


Java Rocking Land? Saya masih belum pasti bisa datang menyaksikan rockstar-rockstar itu tampil karena mungkin saat itu saya sedang menyambut kelahiran sang rockstar pemberian Tuhan. Tapi, lihat saja keadaannya nanti.


Menghadiri konser rock ditengah gempuran musik yang itu-itu saja bagaikan bertemu oase di padang pasir. Dan menghadiri konser itu sama saja berkumpul dengan orang-orang yang satu visi dalam memandang musik, juga sebagai bentuk selebrasi sederhana saya yang sehari-hari sudah penat dan pusing dengan hidup dan segala atribut semunya.


Tapi menyangkut hal ini, ada sedikit uneg-uneg yang saya punya. Fenomena ramainya konser musik artis luar negeri sepertinya melebihi animo para penggemar musik akan penampilan dari band dalam negeri sendiri. Beberapa artis lokal mengeluhkan fenomena ini, yang mana mereka merasa seperti menjadi tamu di negeri sendiri.


Saya punya opini sederhana, dimana wajar saja mereka ingin melihat langsung konser band favorit mereka yang biasanya hanya mereka dengarkan saja tanpa melihat langsung. Terlebih, kebanyakan musisi lokal tentu influence bermusiknya berasal dari mereka yang berada di barat sana, ditambah lagi, konser dari artis luar negeri hampir selalu menyajikan hal-hal yang spektakuler, karena mereka memang sangat matang dalam konsep panggung mereka.


Sebuah fenomena yang wajar jika artis luar negeri lebih diminati konsernya sekaligus menjadi bahan motivasi bagi artis-artis kita. Dalam hal kesiapan konser, para artis luar negeri itu patut ditiru.


Akan tetapi, hal ini menjadi pemandangan yang tidak mengenakkan saat band atau artis lokal tersebut menjadi pembuka konser artis luar negeri. Para penonton yang sudah tidak sabar ingin menyaksikan artis idola luar negerinya sering memberi sambutan yang kurang pantas kepada musisi dari negeri mereka sendiri. Para penonton ini tidak sabar untuk menyaksikan artis luar negeri idola mereka, untuk itulah mereka datang dan rela membayar mahal. Sayangnya, sikap mereka kurang respek terhadap musisi lokal.


Bicara respek terhadap karya orang lain, memang seperti inilah bangsa kita dalam menyikapinya. Begitulah…

Sabtu, 14 April 2012

Your character, your value, your way of life

Seorang teman lama mengajak bicara. Awalnya kami ngobrol hal-hal yang ringan dan penuh basa basi. Lalu pembicaraan meningkat ke topik yang cukup serius dan berisi. Saya bilang bahwa saya sekarang tertarik belajar sejarah dunia untuk menambah pengetahuan. Lalu singkat cerita di kesimpulan obrolan, dia menulis kalimat yang kurang lebih berbunyi begini. "Kalo w sih tetp jdi diri sndiri walopun bnyak teori2 dn pengetahuan2 bru yg msuk k khidupn w...ITU GW..."
Percakapan saya hentikan saat itu juga. Ini sih sama aja saya ngomong sama tembok. Atau saya mungkin sedang berbicara dengan seseorang yang udah hebat dan kaya raya, makanya dia gak tertarik lagi belajar apapun dari siapapun. Tapi, orang kaya kok cara nulisnya kaya gitu ya? Memang sejak awal sih saya agak malas chat sama dia, karena harus mengeja dan mencerna kata demi kata dari cara menulisnya yang ajaib itu.
Ada lagi nih. Seorang teman lama lainnya tiba-tiba mengirim pesan singkat. Seorang teman lama. Lama gak pernah ketemu. Tapi saya inget dia dulu pernah ngerusakin salah satu barang saya tapi gak tanggung jawab.
Teman  : “Bro, lo tau dimana sewa alat musik gak?”
Saya     : “Coba aja lo ke Studio musik, kan banyak tuh dimana-mana.”
Teman  : “Apa lo punya?”
Saya     : “Ada sih tapi gitar gue lagi dipake, bass senarnya karatan, drum juga udah di-pretelin”
Kemudian dia gak balas apa-apa lagi. What the hell...
Saya diam sesaat. Wow, time flies but character remains. And class is permanent.
Saya pernah baca buku yang kurang lebih bilang kepada kita untuk hati-hati dengan tindak tanduk dan hal-hal kecil yang kita perbuat. Ignorance, sikap permisif dan terlalu toleran sedikit demi sedikit akan membentuk habit. Dan jika sudah menjadi habit, lama-lama akan menjadi karakter atau biasa dikenal sebagai watak atau sifat.
Jika sudah menjadi karakter, itu akan terus menempel dalam diri seumur hidup. Itulah value, yang akan menjadi pegangan hidup seterusnya, yang akan Anda ajarkan kepada anak-anak dan orang-orang disekitar Anda, yang menjadi landasan untuk berpikir dan bertindak. Your way of life.
Saya juga sering mendengar dari orang tua saya mengenai orang yang berkarakter buruk. Bahwa karakter buruk bisa dibentuk dari kesalahan, dan kenaifan yang dibiarkan.
Kesalahan-kesalahan yang dibiarkan secara terus menerus akan nampak seperti sebuah kewajaran. Nilai-nilai kebenaran seolah menjadi kabur dan dianggapnya klise, karena hidup dianggapnya hanyalah soal mengambil manfaat dan kesenangan belaka. Teman hanya dianggapnya sebagai pihak-pihak yang bisa dia manfaatkan demi mencapai tujuannya.
Saya jadi ingat teman saya yang menanyakan tempat sewa alat musik tadi. Orang macam ini hanya akan menghubungi orang yang dia anggap teman hanya disaat dia butuh atau mengalami kesulitan. Dan jika dia sudah mendapatkan keinginannya, dia akan pergi dan menghilang kembali. Padahal, teman adalah aset terbesar dalam hidup. Tapi, dia memperlakukan asetnya seperti itu.
Lalu saya ingat teman saya yang anti-teori itu. Kenaifan yang membuat orang sudah (merasa) pintar sehingga (merasa) tidak perlu lagi belajar, dan kenaifan fatal yang menolak segala pengetahuan-pengetahuan baru yang diberikan kepadanya. Membuatnya hanya akan jalan ditempat dan tidak beranjak kemana-mana, dan terus mencari-cari pembenaran atas segala hal buruk yang terjadi kepadanya.
“Semua bukan salah saya. Yang salah itu cuaca, yang salah itu harga BBM naik, yang salah itu presiden dan pejabat, yang salah si itu dan si anu., yang salah itu bos saya, yang salah itu Pak RT, yang salah itu satpam, yang salah itu teman saya. Bukan saya yang salah.”
Saya yakin Anda bisa menilai dengan baik karakter dua orang teman saya ini.
Kita sebut saja: Si Dinosaurus dan Si Muka Tembok.
Saya penasaran, apa yang bakal terjadi sama si Dinosaurus yang punya prinsip saklek bin keukeuh ini. Mungkin suatu saat dia akan berkunjung kerumah saya sambil bawa anaknya yang masih balita. Lalu dengan gaya kebapakan dia mengasuh anaknya. “Nak, jangan nakal ya. Kamu ambil buku yang ada di rak itu, pakai buat mainan kamu. Corat-coret, sobek-sobek aja. Ini Papa lagi dudukin satu.”
Dan saya penasaran juga sama Si Muka Tembok. Mungkin dia akan menghilang lagi, lalu kembali lagi setelah sekian lama dan di saat yang tidak terduga. “Bro, tau dimana sewa mobil?”
Saya mau kutip perkataan dari seorang tokoh, John Steinbeck. "Kalau manusia berangsur menjadi tua, umumnya ia cenderung menentang perubahan, terutama perubahan yang mengarah kepada kebaikan."
Apakah Anda sudah tua?
Lihat sekeliling Anda, apakah Anda punya orang-orang yang menganggap Anda sebagai temannya?

Rabu, 11 April 2012

#kelasmenengahngehe

Di twitter, hastag ini sering banget muncul nih, biasanya merefer pada golongan yang dikenal sebagai the middle class. Di Indonesia, jumlahnya 130 jutaan orang, means setengah dari penduduk Indonesia adalah para middle class. Lucunya, mereka yang menyebut orang lain adalah si #kelasmenengahngehe, sering gak sadar bahwa mereka adalah bagian dari kelas itu.

Banyaknya angka yang muncul sebagai kelas menengah itu sendiri karena pengklasifikasian kelas menengah yang cukup luas. Ada low-middle class, mid-middle class dan up-middle class. Coba deh apakah Anda termasuk:

Kepemilikan benda:

1.     Punya mobil, walaupun cicilan. Entah itu mobil sepuluh juta umat atau mobil yang hanya bisa bikin orang ngayal.
2.     Punya motor, lunas atau kreditan. Kebanyakan motor bebek soalnya enteng dipake di jalanan macet Jakarta. Lupakan motor gaya dan boros bensin.
3.     Punya rumah, juga cicilan. Atau lagi nabung buat beli rumah.
4.     Punya apartemen, cicilan dan kadang bersubsidi. Sebisa mungkin strategis dan dekat sama tempat kerja.
5.     Koleksi macam-macam. DVD original dan bajakan, punya komputer rakitan, punya laptop pribadi.
6.     Tidak lupa koleksi barang-barang hasil kreasi almarhum Steve Jobs.
7.     Blackberry itu wajib kayaknya, bbm itu gak tergantikan.
8.     HP CDMA juga perlu kadang-kadang.
9.     TV LCD, dan sekarang LED.
10.  Macam-macam barang rumah tangga dengan merk sama: Krisbow.
11.  Kartu kredit, kartu debet, kartu diskon, kartu anggota yang bikin dompet tebel.
12.  Tenda, pelampung, perahu karet, tabung oksigen dan safety equipment lainnya. Buat jaga-jaga kalo ada bencana alam, mengingat Jakarta cukup rentan.


Aktivitas:

1.     Dalam setahun minimal liburan ke Bali, Lombok, region Asia Tenggara, Australia atau Hong Kong. Dan kalau masih bujangan bisa nabung untuk ke Eropa atau Amerika. Terbersit pula keinginan Umroh.
2.     Minimal sekali sebulan makan steak, pasta, ramen atau makanan impor mahal lainnya yang seporsi diatas 50 ribu, bahkan diatas 100 ribu. Tidak kagok saat makan di fine-dining restaurant dan tidak asing dengan istilah aglio-olio.
3.     Dalam setahun minimal sekali nonton konser artis luar negeri. Diutamakan beli presale. Tetap gaul tanpa membobol kantong.
4.     Aktif belanja di midnite sale, garage sale, atau clearance sale supaya bisa mendapat barang bagus dengan harga miring. Gengsi sekaligus stabilitas kantong terjaga.
5.     Ke Ambas, Tanah Abang, Mangga Dua atau Cempaka Mas juga ok lah.
6.     Sesekali nonton timnas bola di GBK, lalu mencak-mencak di twitter dan mendadak ngerti bola saat timnas kalah.
7.     Bensin tetap pake premium, dan marah-marah begitu tau ada rencana kenaikan BBM. Yang pake shell atau pertamax cuma ketawa-ketawa aja.
8.     Menyumbang bencana alam lewat stasiun tv.
9.     Menyekolahkan anak di pre-school.
10.  Sekolah lagi. Ambil S2, program profesi atau sertifikasi.
11.  Belajar bahasa asing selain Inggris, atau tingkatkan bahasa Inggris.


Investasi:
1.     Minimal punya asuransi jiwa
2.     Banyak juga yang punya asuransi unit-link
3.     Punya reksadana atau saham blue chip
4.     Properti (kontrakan, ruko, apartemen) tapi tinggal tetap di sub-urban
5.     Emas


Punya second job:
1.     Menulis di kolom surat kabar atau media online
2.     Membuat buku
3.     Menjadi pembicara
4.     Jualan online
5.     Calo tanah


Keanggotaan/langganan:
1.     TV kabel
2.     Pusat kebugaran
3.     Internet standar
4.     Salon
5.     Klub-klub kendaraan atau klub profesi dan ikatan alumni
6.     Dokter gigi, sekalian nanya-nanya pasang behel abis berapa
7.     Dokter muka, eh maksudnya perawatan kulit muka
8.     Bengkel
9.     Toko buku
10.  Tempat nongkrong favorit


Bacaan:
1.     Buku-buku pengelolaan keuangan. Gimana mempertahankan dan meningkatkan kekayaan.
2.     Majalah kesehatan dan gaya hidup. Biar tetep gaya.
3.     Artikel parenting.
4.     Berita bola, pengen tau kenapa PSSI kacau.
5.     Berita politik, biar gak dibohongi lagi sama politisi, apalagi menjelang pemilu dan pilkada.
6.     Buku-buku agama, biar tetep mawas diri.
7.     Buku-buku pengetahuan umum dan sejarah, supaya nambah pengetahuan.
8.     Berita teknologi dan gadget, biar update dan tau kalo bakal ada iPad 3, 4 dan seterusnya.


Dan seterusnya. Dan sejenisnya.


Silahkan definisikan sendiri, yang mana yang low, mid, atau upper middle class. Anda berada dimana. Dan sebagai manusia yang memiliki ambisi dan semangat, Anda tentu ingin naik kelas. Tapi, apakah kenaikan "kelas" ekonomi Anda akan membuat Anda juga naik "kelas" sebagai pribadi dan manusia?


Coba evaluasi, mana yang sudah Anda punya, mana yang belum. Saya yakin lebih banyak yang sudah punya daripada yang belum punya. Jika belum punya, pasti Anda akan bisa memilikinya cepat atau lambat.


Mana yang Anda butuhkan, mana yang sekedar ikut-ikutan. Saya percaya, Anda membeli yang Anda butuhkan karena Anda adalah konsumen cerdas. Anda tidak mungkin membeli iPad warna putih, hanya karena Anda punyanya yang hitam. Anda tau harga, tau manfaat, tau dimana dan kapan membelinya.


Dan yang paling penting: mana yang bermanfaat hanya bagi diri dan keluarga sendiri, mana yang bermanfaat buat orang lain dan lingkungan sekitar. Saya yakin Anda juga gak pernah lupa beramal dan berzakat. Tapi, apakah kita beramal dan berzakat sudah sesuai kewajiban? Atau hanya beramal dan berzakat sesuai uang sisa yang ada di kantong celana atau di sela-sela dashboard pintu mobil? Saya percaya Anda paham ilmu agama masing-masing dan juga mengamalkannya.


Ini bakal mendefinisikan hidup Anda. Untuk siapa, untuk apa Anda berjuang. Apa yang Anda inginkan, bagaimana cara meraihnya, bagaimana mempertahankannya. Saya yakin Anda lebih baik daripada semua ini. Saya yakin Anda semua bisa berkontribusi.


Jika para middle class bisa lebih berbagi dan berkontribusi, tentu negara ini akan semakin kuat. Middle class dengan daya beli tinggi, visi kedepan dan kemampuan ekonomi yang kuat akan makin kuat lagi jika bersatu dan tidak individualis. Jangan mau jadi si #kelasmenengahngehe yang maunya cuma senang-senang dan enak sendiri tanpa peduli nasib orang lain. Anda bisa jadi kelas menengah yang bermanfaat.


Saya tadi mendapat sebuah Broadcast Message yang bagus dari seorang teman. Ini beneran bagus, padahal biasanya pesan warna ungu semacam ini langsung saya hapus.

Isinya adalah: "Anda keluar rumah pagi hari menuju tempat kerja, menyetop taksi dan menyapa hangat si supir taksi. Supir taksi juga balik menyapa hangat, lalu mengemudi dengan tenang dan nyaman. Karena Anda merasa nyaman, Anda memberi tip kepada supir taksi. Argo menunjukkan dibawah 15 ribu, Anda memberi 20 ribu dan meminta supir taksi menyimpan kembaliannya.

Sang supir jadi punya uang lebih untuk sarapan, dia menambah satu lauk berupa ayam goreng karena tip Anda. Supir taksi juga memberi tip dua ribu rupiah kepada Ibu penjual sarapan. Ibu penjual sarapan memberi uang saku tambahan seribu rupiah kepada anaknya karena pemberian supir taksi tadi.

Si anak jadi bisa membeli bekal lebih berupa dua buah roti karena uang saku tambahan, dan bisa memberi sebuah roti diantaranya itu kepada temannya yang tidak membawa bekal."

Itu hanyalah contoh sederhana sebuah siklus kebaikan yang berawal dari selembar uang dua puluh ribu rupiah. Bayangkan apa yang bisa dimanfaatkan jika jumlahnya anda lipatkan 1000 kalinya. Satu kebaikan bisa terus bergulir dan terus memberikan manfaat. Satu tindakan kebaikan yang Anda lakukan akan membawa dampak kepada orang lain. Sebaliknya, satu keburukan yang Anda lakukan, bisa berakibat buruk juga bagi orang lain. Anda tentu sudah terlalu familiar dengan korupsi dan bagaimana dampaknya bagi bangsa ini.


Semangat!

Kamis, 05 April 2012

Saya dan Facebook saya - Alasan yang membuat Facebook tidak lagi menarik

"Oh, si itu baru nikah. Hmm. Oh yang ini istrinya. Ok. Good for him. Eh bentar-bentar, kok istrinya ini..."

"Oh si anu juga udah nikah. Suaminya yang ini? Oh begitu. Okay."

"Wow si ini udah punya anak ya. Itu foto anaknya dipajang terus sampe puluhan. Hmm."

"Wah gak nyangka bisa ketemu ini orang disini. Udah 10 taun lebih gak ketemu."

"Lagi-lagi ini anak menuhin news feed gue dengan iklan-iklannya. Yaudah lah namanya orang cari duit."

"WTF! Siapa nih yang nge-tag foto gue yang memalukan ini? Oh si itu. Bangsat, gue remove tag aja deh."

"Ini siapa sih yang add as friend? Mutual friend emang ada, tapi tetep aja gue gak kenal. Diemin dulu aja deh."

"Ini juga ada yang add friend. Gak kenal pula. Ignore."

"Eh ada message. Oh another pesan berantai omong kosong."

"Oh ada yang upload video nih. Wah yang komen banyak. Lho kok lama-lama jadi berantem? Wah kacau nih. Dua orang yang gak saling kenal berantem gara-gara main ini."

"Wah lupa tutup window chat. Orang-orang langsung pada ngajak ngobrol gini, padahal gue lagi cuma pengen browsing, gak pengen chat."

"Status galau dimana-mana... Menyedihkan."

"Di-add sama sepupu dan keponakan yang masih sekolah. Dan ternyata isi statusnya aneh-aneh ya."

"Waduh ini orang kok pacaran disini ya. Dunia milik berdua, yang lain ngontrak. Foto berduanya ada beralbum-album."

"Amit-amit. Ini orang super narsis. Judul album fotonya "Si Cantik" Ah masa seh."

"Ini orang sering banget ya nge-like statusnya sendiri. Elo yang bikin, elo yang kasih jempol sendiri. Okay --__--."

"Ternyata ada juga status yang ngejelekin tim bola eropa lain toh. Semangat amat ini orang. Emang tim Eropa itu siapanya dia sih? Engkongnya dia? Tantenya dia?"

"Eh ada yang komen status gue. Ya elah gak nyambung amat sih ini orang komennya. Ada lagi ini apaan coba, gak terlalu deket dan gak tau apa-apa pake ikut-ikutan komen. Sampah pula komennya. Ada ya orang yang komen status orang, padahal gak terlalu deket dan gak pernah ketemu."

"Oh biasalah si anu, emang suka post artikel berita ke akunnya."

"Apa lagi ini, game inilah game itulah, invitation buat main game inilah itulah. Pret."

"Oh si itu upload foto baru. Lagi jalan-jalan keluar negeri lho. Keren. Eh si ini juga upload, seperti biasa dengan pose di restoran, rasanya semua restoran di Jakarta udah pernah dia kunjungi."

"Wah ada lagi recent update nih. Ternyata si A in a relationship sama si B. Eh saat yang bersamaan si C no longer in a relationship. Sangat penting sekali."

"Eh ada wedding invitation nih. Tapi gue gak begitu deket sama ini orang. Dateng gak ya. Eit tunggu dulu, kayanya doi ngundang semua temen yang ada di akunnya ini deh. Niat ngundang atau basa basi sih? Jadi meragukan."

"I'm at Mall bla bla bla... (update from foursquare) Oh si anu lagi ke mall. Ya elah penting ya lo ke mall bilang-bilang ke orang. Menuh-menuhin news feed gue aja deh."

"Perasaan ini orang tiap jam update status deh. Oh pantes, ternyata di konek sama twitternya."

"Oh si anu ultah hari ini. Ikutan nyelametin ah."

"Wow ternyata temen gue ada 700 lebih. Apa iya gue kenal sama semua orang ini? Hmm."

"Oh jadi begini ya temuan Mark Zuckenberg ini sekarang. Kok malah jadi banyakan mudarat daripada manfaatnya ya, menurut gue sih. Apa tutup aja ya. Hmm. Oke, jadi pengguna pasif aja deh."

Rabu, 28 Maret 2012

The Raid, si pendobrak casual society

Pernah liat yang namanya casual crowd kan? Itu tuh, sekumpulan orang yang tau-tau ngumpul secara spontan tanpa dikomando karena adanya suatu kejadian. Yah misalnya kalo ada kecelakaan, mobil-mobil atau motor-motor banyak yang berhenti atau memperlambat kendaraannya. Ironisnya, mereka hanya melihat, memfoto, merekam gambar, namun tidak menolong sang korban. Hanya bikin macet. Dan sesampainya di kantor mereka, peristiwa itu mereka jadikan bahan obrolan bersama teman-temannya. Hanya sebatas itu.

Sekarang, orang Indonesia sedang dilanda 2 hal. Satu bersifat serius, satunya lagi bersifat lifestyle. Yang serius tentu saja wacana kenaikan BBM. Untuk yang satu ini gue sih enggan berkomentar.
 Mendingan ngomongin The Raid deh. The Raid itu apa sih?

Oh The Raid itu film action Indonesia yang pertama kali menembus Hollywood. Bahkan ada situs yang menyejajarkan film ini dengan film-film action hollywood macam Terminator dan Die Hard. The Raid itu pemain-pemainnya orang Indonesia tapi disutradarai dan diproduksi oleh orang bule. Banyak banget yang berkomentar bombastis mengenai film ini. Kebanyakan bilang ini film paling sadis yang pernah mereka lihat, atau setara sadisnya dengan film-film action hollywood seperti Kill Bill. Adegan berantem, tembak-tembakan, full-packed action dan seolah tanpa memberi nafas kepada penonton.


Yah namanya juga orang Indonesia ya yang sangat-sangat percaya sama yang namanya rekomendasi orang. Begitu social media ataupun media online ramai membicarakannya, seolah pantat kita seperti kebakaran. Kebakaran sehingga pengen cepat beranjak ke bioskop terdekat untuk turut mengantri tiket. That's makes us a CASUAL SOCIETY. Masyarakat yang suka pada sesuatu yang banyak disukai orang. Melakukan sesuatu yang dilakukan oleh banyak orang. Mengikuti trend yang sedang digemari banyak orang. Seorang teman saya juga bercerita bahwa dia sudah dua kali menonton film itu dalam dua hari berturut-turut. Ada juga sebuah posting seorang editor di sebuah media online yang gusar karena kelakuan para penonton bioskop itu.


Soal kelakuan penonton di bioskop kita, yah udah rahasia umum kali ya. Bahkan di bioskop mahal sekalipun, perilaku penontonnya banyak yang kampungan. Handphone berdering, dan si pemilik seolah sengaja lama mengangkatnya supaya seisi bioskop tahu apa ringtone yang dia pakai, lalu dia berbicara di telepon keras-keras, lalu setelah selesai dia bertindak seperti biasa tanpa dosa. Bukan cuma masalah handphone, banyak juga spoiler. Mereka yang udah nonton itu film sengaja ngomong kencang-kencang di depan teman-temannya soal adegan-adegan dan jalan cerita film yang tengah ditonton, which is terdengar juga oleh orang lain tentunya.


Balik lagi ke film The Raid itu sendiri. Kelihatan banget kalo orang kita merindukan film action Indonesia yang seperti ini. Mungkin terbiasa dan lebih sering nonton film drama. Film yang berisi adegan jalan kaki di pantai atau di taman, ujan-ujanan bareng, makan bareng sambil ngobrol-ngobrol ringan, tidak lupa dengan nuansa colorful di film itu. Warna warni. Kisah percintaan yang didramatisir tapi sebenarnya predictable. Happy ending ala hollywood movie. Karena kalau sad ending, banyak yang gak suka.


Dengan alasan keramaian tadi, saya memang belum menonton film itu. Entah kapan saya akan menontonnya, mungkin saat orang-orang mulai melupakannya. Orang masih takjub dengan skill beladiri Iko Uwais, senjata-senjata M-16, hand grenade, kejar-kejaran, jedot-jedotin kepala ke tembok atau darah bercucuran di film itu. Come on, semua hal itu sangat BIASA di film action. You guys shouldn't be get too stunned.


Dan posting seorang editor itu dia titik beratkan pada banyaknya tepukan tangan atau sorakan gembira setiap adegan kekerasan di film The Raid itu terjadi, dan itu sepanjang film. Yah mereka kangen nonton film action kali mbak, lebih-lebih itu film action Indonesia. Mereka takjub Indonesia bisa bikin film action. Dengan pemain orang Indonesia, lokasi di Indonesia. Itu hal baru. Fenomena baru.


Apresiasi nyata tentu patut dialamatkan kepada produser, sutradara, pemain, dan kru film ini, yang bahkan saya belum tahu nama-nama kalian. Kalian telah membuat ombak besar yang menghanyutkan sebagian besar orang-orang Indonesia, yang rela membeli tiket film kalian di saat mereka pusing dengan kenaikan harga BBM.


Kini orang-orang Indonesia dilanda euforia baru, euforia film action, film action dari negeri sendiri. Sisi positifnya, tidak ada lagi adegan film action abal-abal. Tidak ada lagi adegan berantem bohongan, gak kena tapi mental. Gak ada lagi ledakan yang menggunakan rekayasa komputer, yang kelihatan banget bohongannya. Dan gak ada kok naga-naga bohongan atau monster-monster bohongan seperti yang berseliweran di sinetron laga malam hari. Itulah mungkin yang bikin orang pada skeptis pada film action Indonesia. The Raid berhasil mematahkan semua keraguan itu.


Film action memang istimewa. Butuh banyak special effect, butuh banyak stuntman, butuh banyak modal juga akibat banyak properti yang dihancurkan. Film drama atau film setan culun gak butuh itu semua. Sudah sepatutnya film action lebih diapresiasi. Semakin banyaknya film action seperti ini akan memberi lebih banyak pilihan bagi penonton film Indonesia, yang udah mual-mual dan bosan disuguhi film-film bertema sama tadi, percintaan remaja dan film erotis berkedok film horor.


The Raid di dunia film Indonesia seperti halnya Gugun Blues Shelter di dunia musik Indonesia. Mereka berani beda, gak nanggung, dan membuat perubahan. Mereka memberikan lebih banyak pilihan, orisinil dan menginspirasi. The Raid bisa jadi sebuah gerbang bagi para imitator, dalam arti positif. Tirulah mereka, ikuti mereka, bikin lebih banyak lagi tema seperti ini, dan jadikan momen ini sebagai tonggak kebangkitan film Indonesia.


Selamat!

Senin, 26 Maret 2012

Jas Merah, Jangan sesekali melupakan sejarah

Oke, saya akan mulai tulisan ini dengan berkata jujur bahwa saya tidak membuka wikipedia, google ataupun buku pintar. Ini semua adalah ingatan dan hasil membaca dari dulu. Gaborone adalah ibukota Bostwana, Bujumbura adalah ibukota Burundi, Baku adalah ibukota Azerbaijan, Nassau adalah ibukota Bahamas. Bandara Douala adalah yang terjelek di Afrika, seperti halnya Charles de Gaulle di Eropa.


Semua itu bukan apa-apa, bukan sok pintar, bukan mau show-off. Itu hanyalah ketertarikan saya kepada places, atau nama tempat-tempat di dunia. Dunia yang bahkan saya belum pernah jelajahi. Banyak yang bilang bahwa ingatan-ingatan ini hanyalah tumpukan informasi yang tidak berguna dan layak dibuang, waste of brain capacity.


Mungkin mereka pikir harusnya saya membuang itu semua, sebagai karyawan yang berkarir di bidang pajak, saya seharusnya hapal Undang-Undang Pajak, PSAK, OECD model atau sejenisnya supaya bisa menunjang karir. Atau mereka pikir mungkin lebih baik saya menghapal judul-judul lagu yang sedang trend, nama band baru beraliran emo, nama restoran bagus, nama makanan enak, nama minuman enak, judul film drama cinta picisan, atau jadwal sale produk lifestyle supaya saya jadi orang yang mencerminkan gaya kekotaan. Pekerja ibukota. Metropolis. Meteroseksual. Metromini. You named it.


Menguasai bidang pekerjaan sepenuhnya dan mengenal lifestyle modern. Sepertinya itu ada di "manual book" para middle class worker, yang berupaya untuk meraih posisi top management secepatnya, lalu meraih yang dinamakan "sky limit income". Pengetahuan lainnya? Kebudayaan? Sejarah? Politik? Tidak penting. Okelah mungkin penting sih, buat ngobrol sama relasi. Supaya terkesan peduli.


I don't think so. Jika memang ini adalah mainstream, saya pilih melawan arus itu. Ketertarikan pada tempat-tempat dan ibukota di dunia itu membawa ketertarikan saya pada sesuatu yang menempel pada tempat-tempat itu. Sesuatu yang membentuk tempat itu menjadi seperti sekarang yaitu: SEJARAH.


Mungkin waktu sekolah kita udah cukup muak sama pelajaran ini. Menghapal nama, tahun, nama tempat sepertinya bukan sesuatu yang menarik buat anak-anak tanggung yang lebih suka pergi ke mall (suka ke mall sih sampai sekarang ya). Karena ya kita hanya menghapal tanpa tahu maksudnya. Pertanyaannya adalah "bagaimana" atau "apa" bukanlah "kenapa".


Atau kita menganggap sejarah hanyalah dongeng masa lampau yang tidak ada gunanya lagi untuk dibicarakan sekarang, toh semua sudah lewat. Kita mengalir saja seperti air, melangkah kedepan and don't look back in anger. Apakah begitu?


Padahal, lebih menarik kalau kita bertanya kenapa Eropa sempat mengalami Dark Ages dimana Paris dan London hanyalah kampung yang dihuni sekitar 30.000 orang yang di malam harinya menyeramkan. Kenapa di malam hari orang tua mereka melarang untuk pergi keluar rumah dengan alasan ada hantu tanpa kepala bergentayangan, lalu ada makhluk buas bernama naga penyembur api yang suka memangsa siapapun yang lewat.


Tahukah Anda bahwa di Eropa saat itu tidak ada lampu dijalan, pengobatan mengandalkan dukun dan semua penyakit dikaitkan dengan hal mistis. Eropa pernah mengalami hal itu sebelum seperti sekarang, sebelum mengalami masa renaisans.


Mereka lebih suka menyebut era itu sebagai "Middle Ages" ketimbang dark ages yang seperti aib. Di era itu, mereka tidak bisa baca tulis karena buku sangatlah mahal dan jarang. Mahal karena kertas mereka terbuat dari bulu domba yang mereka namakan perkamen. Buku hanya tersedia di biara, itupun tidak dibaca dan dijaga ketat karena takut dicuri. Sebuah peradaban yang terbelakang.


Mereka begitu karena kehancuran Romawi. Kemahsyuran era romawi yang kaya pengetahuan dan kebijakan sirna oleh suku barbar keji yang membakar buku-buku mereka, menghabisi warisan ilmu pengetahuan yang telah dipelajari berabad-abad, berbagai buah pikiran yang tertuang di buku, lukisan maupun karya seni dihancurkan dengan keji. Bangsa Eropa kemudian gelap, tanpa ilmu. Kenapa mereka yang tangguh dan hebat itu bisa luluh lantak ditangan suku tak berotak? Itu karena mabuk kekuasaan. Situasi aman dan seolah tanpa musuh membuat mereka terlena.


Para penghuni istana megah itu hanya bersenang-senang, mabuk, makan hingga kekenyangan dan perut mereka buncit, bersenang-senang dengan wanita-wanita. Begitu setiap hari hingga tidak sadar akan bahaya yang mengintai dari luar dan kealpaan mereka akan pertahanan negara.


Dan ingatkah disaat jaman kegelapan bangsa Eropa itu terdapat sebuah peradaban yang jauh lebih modern. Buku mereka banyak, filsuf dan orang alim dimana-mana, kehidupan istana yang mewah dan kota-kota mereka seperti dongeng?


Itulah Baghdad. Kota 1001 malam. Dan Baghdad kala itu memiliki kekuasaan yang melebihi luasnya imperium romanum. Kekhalifahan yang super-besar pengaruhnya hingga ke Eropa selatan, Afrika utara, India hingga kepulauan Nusantara. Kekhalifahan yang berperan menjadikan Indonesia sebagai negara paling banyak penganut agama Islam di dunia. Kekhalifahan itu pula menelurkan nama-nama mahsyur di bidang ilmu pengetahuan. Salah satu tokoh mereka yaitu Ibnu Sina di bidang kedokteran, yang kemudian oleh bangsa Eropa dikenal sebagai Avicenna, akan melatarbelangi berdirinya Universitas Salerno sebagai pusat pengetahuan kedokteran Eropa.


Dan mengapa kekhalifahan besar itu runtuh? Sama seperti Romawi, kesenangan yang tiada bataslah yang membuat mereka hancur. Dan sungguh familiar di saat ini, bahwa faktor terbesar penghancur suatu bangsa adalah KORUPSI. Itulah yang terjadi menjelang akhir khalifah Abbasyiah di Baghdad ditangan bangsa tangguh dan kejam bernama Mongolia. Kekuasaan yang tidak terbatas membuat semua orang ingin menjadi Sultan, ingin sekaya Sultan.


Akibatnya, terjadilah korupsi di pemerintahan daerah, dan berakibat pula disintegrasi diantara mereka. Kekuatan yang terpecah belah terendus oleh bangsa lain, dan hanya menunggu waktu yang tepat saja bagi mereka untuk melakukan serangan. Kekhalifahan yang besar itu hancur oleh tangan-tangan mereka sendiri.


Lalu bagaimana kisah Perang Salib yang merupakan perang paling banyak memakan korban jiwa sepanjanh sejarah umat manusia? Seperti apa Yerusalem? Mengapa terjadi konflik yang tidak pernah selesai di tanah yang dianggap suci oleh tiga agama itu? Jika kita paham sejarah, tentu kita tahu semua jawabannya. Dan dengan pemahaman serta kecanggihan teknologi sekarang, seharusnya kita bisa saling membantu dan membuat hidup lebih baik.


Tapi apa yang terjadi? Bagai jauh panggang dari api, pertarungan menyangkut siapa yang lebih unggul masih saja terjadi. Memang sudah sifat manusia bahwa mereka hanya ingin tinggal dengan sesamanya. Sejarah juga mencatat bagaimana paham Nazisme, Fasisme, Komunisme, hingga gerakan macam xenophobia muncul. Inilah salah satu masalah mendasar dunia.


Seandainya para pemimpin kita belajar sejarah dengan benar, mereka seharusnya tidak mengulangi kesalahan para pendahulu. Mereka tidak akan korup, tidak akan bermewah-mewahan secara berlebihan. Seandainya rakyat juga belajar mengenai betapa buruknya akibat dari perilaku paham sempit, mungkin kekerasan tidak perlu terjadi. Semua itu bisa dipelajari dari sejarah.


Seandainya kita semua memaknai slogan Jas Merah seutuhnya. Jas Merah, jangan sesekali melupakan sejarah. Dengan mengetahui yang terjadi di masa lalu, kita bisa melangkah lebih baik. Memiliki gagasan lebih produktif untuk menjadikan dunia tempat yang lebih baik, dan tidak mengulangi kesalahan di masa lampau.


Seandainya..

Kamis, 15 Maret 2012

Si Tukang Peralat

Gue dulu punya teman yang suka mempengaruhi dan memperalat orang. Dia mempengaruhi teman-temannya mengenai potongan rambut yang bagus. "Sekarang jamannya spike, coy." Beberapa teman yang gampang terpengaruh besoknya langsung pergi ke tukang cukur banci, sebut saja namanya Nanda untuk mengurusi rambutnya. "Nan, di spike ya." Dan si Nanda dengan luwesnya menuruti permintaan temen-temen gue itu dengan gaya lenjenya. Tapi rambut teman gw yang menjadi korban provokasi itu jadinya malah kaya landak, karena bentuk kepala dan jenis rambutnya seperti itu.

Selanjutnya dia menyarankan untuk gak beli pizza merk A, karena menurut kakaknya, sausnya terlalu asam. Dia lalu menyarankan pizza merk B aja, yang udah biasa dimakan. Ternyata pas gue coba pizza merk A, lidah gue cocok-cocok aja. Dan gue heran dengan teman-teman gue yang menurut aja, padahal itu bahkan rekomendasi dari KAKAKNYA, bukan darinya. For God's sake.

Gak cukup, dia lalu mencoba pengaruhi orang dengan selera musiknya. Menurutnya, band emo itu keren. Tapi saat diputusin pacarnya, dia bilang Kerispatih lebih keren, dan dia mendengarkannya berulang-ulang sambil memandangi layar ponselnya, berharap mantan pacarnya menelpon.

Belum cukup, dia lalu merambah dunia film. Menurutnya film Salt itu gak keren, dan dia merekomendasikan untuk tidak menontonnya. Nyatanya, Salt adalah film konspirasi terbaik ever menurut gue.

Selain mempengaruhi, dia juga suka memperalat temannya sendiri. Pada suatu momen saat kumpul bareng di sebuah villa, dia dengan noraknya mengundang "local resident" kedalam area villa. Local resident itu kemudian digoda-goda, lalu dia kompori teman saya yang lain untuk "ngembat." Penyakit yang kronis, dan teman saya yang cuma jadi boneka itu mau saja diperalat. Gue deh yang bertindak sebagai orang menyebalkan dengan mengusir paksa "local resident" itu dan mengakhiri "pesta" norak mereka itu. Eh mereka marah. Kupret.

Familiar gak sih dengan situasi macam ini di bangsa kita? Kita bisa lihat sosok-sosok yang dianggap menyebalkan dan mengakhiri pesta norak itulah yang justru dimusuhi, sementara si tukang peralat tertawa dan bebas melenggang. Gak cuma itu, mereka lantas mengaburkan opini dan memecah belah.

Dilihat dari kacamata sepakbola nasional, tokoh-tokoh tukang peralat orang itulah yang kini berkeliaran. Mereka berkeliaran di social media, dimana informasi berkumpul dan berkembang secepat mobil formula satu. PSSI vs KPSI, IPL vs ISL, dan tentunya simpatisan-simpatisan mereka yang seperti saling melempar golok, celurit dan bom di ranah social media dan juga media citizenship journalism.

Mereka menulis artikel panjang lebar untuk membela kelompok mereka dan menjatuhkan kelompok lainnya. Mereka juga nge-twit dan bikin status FB yang memojokkan kelompok yang mereka anggap musuh. Twitwar terus, siram bensin terus. Buat mereka, bukan bangsa ini yang lebih penting, melainkan kelompok mereka diatas segalanya.

Thread-thread berisi ejekan dan celaan tidak lupa mereka bungkus rapi dengan kecintaan mereka kepada sepakbola. Orang-orang itu mengaku cinta sepakbola, tapi kenapa mereka malah merusaknya? Setiap ada kejadian tidak mengenakkan yang menimpa timnas, kedua kubu itu saling serang. "Beginilah timnas yang tidak diisi pemain-pemain terbaik." begitu kata si pro ISL. Dibalas dengan tangkas oleh simpatisan IPL "Ah dulu waktu diisi pemain-pemain ISL juga kalah terus." Sebutan liga tarkam, liga mafia, liga tidak laku, liga sepi penonton adalah kata-kata yang lebih sering kita dengar ketimbang hal-hal positif yang terjadi. Stasiun TV dan komentatorpun begitu, padahal mereka adalah corong informasi yang seharusnya bisa mempersatukan, bukannya memperkeruh keadaan.

Dan lagi-lagi, si tukang peralat hanya senyum-senyum saja menyaksikan pion-pion mereka bertarung di social media.