Selasa, 10 Oktober 2017

Untuk Kita, Makhluk Akhir Zaman

Ada dua jenis ceramah atau kajian agama Islam yang gue suka, yaitu yang membahas tentang sejarah dan yang membahas tentang akhir zaman. Dengan belajar sejarah Islam, kita bisa tahu urutan peristiwa yang terjadi pada saat lahirnya agama Islam hingga sekarang. 

Apa yang membuat Islam pernah berjaya hingga ke daratan Andalusia, lalu apa yang menyebabkan runtuhnya khalifah pada tahun 1920an. Dengan belajar sejarah, percayalah bahwa iman kita bakal bertambah. Ini penting banget supaya kita gak terkontaminasi sama fitnah-fitnah yang memang menjadi ciri khas akhir zaman.

Bagaimana dengan belajar tentang akhir zaman? Mempelajari soal ini, berarti kita mempelajari masa depan. Kita memang tidak pernah tahu betul apa yang bakal terjadi, tapi semua memang sudah dituliskan. Lagi-lagi, kita harus mengimani apa yang sudah ditulis dalam kitab suci Al Qur'an dan hadis-hadis sebagai bagian dari Rukun Iman. 

Kalo kita pelajari semua, memang terkesan seram dan penuh huru-hara serta kehancuran. Banyak hal menyeramkan yang akan terjadi. Lalu pertanyaannya, apa yang harus kita perbuat?

Tidak lain, kita diminta untuk terus menjalankan hidup. Gue sendiri pernah mendengar sebuah perkataan bijak, bahwa jika kita mengetahui besok adalah hari kiamat tetapi di tangan kita ada sebuah bibit tanaman, maka kita tetaplah menanam bibit itu. Begitulah sikap kita sebagai Muslim.  

Iman kepada hari kiamat menjadi bagian dari Rukun Iman. Kalo kita gak percaya sama hari kiamat, berarti kita gak percaya sama Rukun Iman, yang dengan kata lain, kita gak percaya sama agama kita. Sorry to say, ini adalah sebuah penghakiman yang sangat jelas terang benderang.

Percaya sama hari kiamat, kalo menurut gue, bukan sekadar percaya lalu menjalani hidup tanpa mempersiapkannya. Karena kita punya ilmu dan punya waktu, sudah seharusnya kita rajin membaca dan mencari tahu seperti apa tanda-tanda kiamat. Persiapan fisik memang perlu, tapi lebih perlu lagi adalah persiapan dalam hal keimanan dan mengumpulkan kebaikan agar kita gak bergabung dengan golongan yang salah pada saat huru-hara besar itu terjadi. Karena konon, "golongan yang salah" itu malah sudah membaca lengkap hadis-hadis yang berasal dari nabi kita, dan karena memang mereka pada dasarnya kaum yang ingkar, mereka malah sudah mempersiapkan diri dengan cara mereka sendiri berdasarkan hadis nabi kita yang sudah mereka baca!

Dengan mengetahui tanda-tanda kiamat, kita akan mampu membaca zaman. Sudah berada di fase manakah kita. Tanda-tanda yang kita alami sudah banyak sekali. Gue gak akan jelaskan panjang lebar, silakan buka Youtube dan ketik tentang akhir zaman, di sana bakal banyak banget kita temui ustadz yang membahasnya dengan selengkap-lengkapnya. Memang ada ustadz yang membahasnya dengan terlalu banyak memakai metode “cocoklogi”, yaitu metode yang mengubung-hubungkan peristiwa satu dengan yang lain, padahal belum tentu benar. 

Saran gue, ambil aja ilmu dan ingat hadits-haditsnya, tapi gak usah terlalu dipikirin “cocoklogi-nya”. Tidak perlu sampai meledek apalagi menghina ajaran yang datang dari orang-orang yang ahli agama. Karena sebaik-baik umat di akhir zaman, adalah mereka yang tetap menegakkan keimanan, terlebih mereka yang berdakwah. 

Buat apa takut belajar tentang akhir zaman, padahal kita ini ya makhluk-makhluk akhir zaman. Semua bakal terjadi, hanya masalah waktu aja, entah akan terjadi di zaman anak-anak atau cucu-cucu kita, atau malah terjadi pada kita sendiri. Gak ada cara lain selain mempertebal keimanan dan mempersiapkan generasi penerus yang juga paham dengan situasi ini, biar mereka gak salah langkah dan salah pilih.


Kamis, 05 Oktober 2017

Where Have You Been All My Life, Rosanna?

Rosanna. Sudah pasti Rosanna adalah nama seorang wanita, bukan nama mas-mas. Tipikal cewek populer jaman SMA dan jadi rebutan pas jaman kuliah. Cewek idaman yang diperebutkan cowok-cowok, tapi mereka tetap berlaku sopan kepadanya karena memang kualitasnya bukan bohongan dan perilakunya tidak murahan.

Cewek bernama Rosanna ini telat gue kenal. Ehem, maksudnya dalam hal ini, lagu berjudul Rosanna milik band Toto ini benar-benar terlambat gue denger. Semuanya gak sengaja. Gue yang kesal karena music player di mobil tiba-tiba rusak, terpaksa menyetel radio. Padahal gue termasuk jarang dengerin radio karena ya namanya radio kan umumnya pasang songs jaman now, yang gue gak terlalu cocok.

Untungnya ada beberapa radio memang yang memiliki program semacam flashback, atau sengaja memainkan lagu-lagu dari era lawas, di mana saat itu musik benar-benar digarap seperti layaknya musik beneran. Songs jaman past emang beneran berkualitas. 

Di sinilah kuping gue bertemu Rosanna. Samar-samar, lagu ini seperti gak asing. Potongan-potongan lagu ini seperti pada part: 

"Meet you all the way...
Meet you all the way... Rosanna, yeah!" 

Part ini sepertinya sering gue denger pada masa yang gue juga lupa kapan. 

Karena jatuh cinta pada pendengaran pertama, gue mencoba melakukan riset sederhana tentang lagu ini. Lagu Rosanna menjadi andalan dalam album Toto berjudul IV. Rilis tahun 1982 dan meledak pada tahun 1983, tepat saat gue lahir. Terdengar masuk akal jadinya, mungkin emak gue pernah dengerin lagu ini pas gue masih bayi. 

Tiga puluh tahun lebih gue terpisah dengan lagu ini, lalu akhirnya ketemu pada saat yang gak diduga-duga. Udah kayak ketemu temen lama atau harta karun aja.. Dan sekarang, gue langsung menempatkan Rosanna di jajaran lagu paling enak yang pernah gue denger. Lagu-lagu lainnya menurut gue adalah Can't Stop Loving You dari Van Halen, Five Magics dari Megadeth, Dancing in the Moonlight dari Thin Lizzy dan You Could Be Mine dari Guns 'n Roses. 

Berusaha terdengar logis, apa yang membuat Rosanna sebegitunya? Gue gak pernah mentingin lirik dalam menilai lagu, tapi kalau membaca cerita di balik judulnya, nama Rosanna "dipinjam" oleh David Paich, si penulis lagu dari Rosanna Arquette, perempuan yang jadi pacar Steve Porcaro, rekan satu band dia saat itu. Lagu ini bukan menceritakan tentang si Rosanna Arquette, karena menurut Paich, lagu ini menceritakan soal high school romance. Nama Rosanna dipilih murni karena enak didengar dan mudah diingat sebagai imaji dari wanita yang disebutkan tadi di awal paragraf.

Lalu dari segi musikal, lagu ini jelas punya segalanya buat jadi superstar. Gampang dicerna, padahal "berat". Ketukan drum Jeff Porcaro yang gak lazim, biasa ia sebut half time shuffle adalah ketukan yang sampai sekarang belum bisa gue tiru. Biasanya, gue gak bisa meniru komposisi drum untuk lagu yang mengandalkan kecepatan atau teknik yang terlalu ruwet. Nah, si Jeff ini, yang udah almarhum, menggunakan pola yang betul-betul jarang digunakan di lagu populer. Terdengar gampang, padahal pas dimainin susah banget. 

Dalam genre jazz, mungkin pola seperti ini sering didengar. Tapi Porcaro memasukkannya di lagu populer yang kemudian bisa diterima oleh khalayak ramai. Tidak salah lagi, Jeff Porcaro adalah seorang drummer sekaligus musisi yang underrated. Dan lagu ini adalah superstar. 

Belum lagi keyboard solo yang saling bersahutan dengan nada yang ikonik, vokal Bobby Kimball yang sama merdunya ketika menyanyi dengan suara rendah dan tinggi, juga solo gitar dari Steve Lukhater yang gak kalah gahar. Pokoknya gak ada yang ngalahin lagu ini. Jadinya sangat wajar ketika gue bertanya-tanya, ke mana aja sih Rosanna selama ini?

Rabu, 27 September 2017

I Hate Farewell

I have to admit, that I am very suck at saying goodbye. Farewell. I may have pissed or upset with some institutions, e.g. school, workplace, office, campus. But when it’s time to end the tenure then say goodbye to those places.. damn, it wasn't easy.

Once again, I may have pissed or being upset with them. I may have been treated unfairly, or being abused. But when I submitted the letter of resignation, or when I told the authorized person about my intention of leaving, all of the anger turned into sadness and doubts.

Suddenly, everything seems changed. Suddenly, they looked very nice, everything seems fun, and it was like I questioned my decision of leaving. I felt like my decision of leaving based on emotional rather than rational reason.

“Is this the right decision? Haven’t I put my best effort to resolve all the issues?” or something like “Will I be ok in the new place? Will I find better environment? Can I get along with new friends? What if I fail?"

And when the time had come to said goodbye to all my friends, my partner in crime.. I have to admit, that part was the toughest. Because based on my experiences, I decided to leave due to disagreement with the one who run the show: the management, the bosses, the teachers. But I barely had arguments with my peers. That’s why, for me, farewell’s sucks. 

Farewell, for me is when I took decision to follow my head. I had to go to find a better place. But deep inside, I had never wanted to leave. That’s why when my friends asked me to say few words to express my feeling, I didn’t know what to say. I lost for words. See? I am very suck at farewell.

Maybe this is the common feeling in every farewell or separation. But this is just a fact of life. There are always "goodbye" in every "hello". Only a matter of time. We are all gonna die anyway. 

Senin, 18 September 2017

Lima Lagu Pop/Rock Indonesia Terbaik

Setelah lama gak bikin entri soal musik (siapa juga yang nungguin?), akhirnya gue balik lagi. Sebelum gue mengikuti gagasan bahwa musik itu haram, ya gue buat dulu aja entri ini. Sebagai bukti kalau gue pernah tersesat terlalu jauh. Anyway, yang mau gue tulis adalah lima lagu pop/rock Indonesia terbaik. Yah mirip-mirip dengan yang ada di sebuah situsweb. Tapi kan kalo di situsweb itu versi artis. Karena ini adalah pendapat gue pribadi yang bukan artis, maka gue merasa tidak ada signifikansi dalam tulisan ini. Hanya pendapat pribadi yang sama sekali gak ada landasan teori dan gak bisa dijadikan patokan.

Langsung aja deh. Ini dia lima lagu pop/rock terbaik Indonesia versi gue:

Balik Telapak Tangan – Slank
Jujur aja sih sebenernya gue jarang menilai lagu dari kualitas lirik. Tapi untuk yang satu ini, lirik yang terdapat dalam lagu gubahan Slank bukan hanya merakyat, tapi kalo buat gue sih cocok dijadiin prinsip hidup. Vokal Bimbim di lagu ini mungkin bukan yang paling merdu untuk didengar, lalu aransemennya juga gak ada yang istimewa-istimewa amat.

Tapi seperti halnya ciri khas band Slank, bukan skill atau aransemen ribet yang jadi kekuatan mereka. Ketika lo mendengarkan Slank dengan lirik-liriknya yang realistis dan mengena seperti halnya lagu ini, ya elo bakalan suka aja.

Jengah – Pas Band
Gak usah bawa-bawa KBBI untuk menikmati lagu ini. Karena seperti kebanyakan yang terjadi, kata “jengah” menjadi salah satu kata yang sudah terlanjur diartikan secara keliru. Menurut KBBI, jengah adalah “malu atau kemalu-maluan”. Begitu mendengarkan lagu ini dan menghubungkan kepada konteks lirik, jelas artinya menjadi semakin salah kaprah.

Tapi sekali lagi, ini kita ngomongin lagu, bukannya tata atau kaidah bahasa. Betapa pun salah kaprahnya lagu ini terhadap makna bakunya, tetap gak menghilangkan fakta bahwa aransemen lagu ini sangat mantap. Secara teknikal, drum, bass, gitar dan vokalnya luar biasa. Gue bisa mendengarkan lagu ini berkali-kali tanpa merasa jengah.. eh maksudnya bosan.

Cukup Siti Nurbaya – Dewa 19
Tema yang gak terlalu umum tapi cukup sering terjadi di realita, cocoklogi yang pas, juga aransemen keren didahului oleh lagu akustik syahdu berjudul I.P.S. jelas menjadikan lagu ini sangat megah. Vokal Ari Lasso yang melengking, backing vokal Lilo yang proporsional, juga rhythm section yang ribet menjadikan lagu ini bagaikan superstar. Belum lagi solo gitar Andra yang keriting seperti biasa.

Kiranya – Protonema
Gue bukan fans berat band ini, dan hanya tahu sedikit aja lagu dari mereka. Tapi satu lagu ini betul-betul berkesan. Matang. Inilah yang pertama kali terpikirkan ketika dengerin lagu ini secara utuh. Dari intro, verse, chorus, bridge sampai solo gitar kedengeran banget kalo lagu ini memang dipikirin banget, dikulitin banget, dikulik banget macam persiapan seorang staf ahli dalam menyiapkan bahan presentasi untuk bosnya.

Semuanya serba pas, proporsional, effortless. Dan pada akhirnya menjadikan sebuah lagu yang timeless.

Sobat – Padi
Sebagai penggemar ketukan drum Yoyok, rasanya gak mungkin untuk gak memasukkan band ini di dalam daftar. Memang sulit memilih yang terbaik di antara lagu-lagu band Padi yang emang berkualitas. Tapi kalau menggabungkan kenyamanan aransemen, rhythm section yang solid dan kedalaman lirik, rasanya lagu inilah juaranya. Sebetulnya gue masih bingung milih lagu ini atau “Sang Penghibur” atau “Hitam” di dalam daftar, tapi gue akhirnya memilih lagu ini karena memang lagu inilah yang mengenalkan band Padi ke dunia musik Indonesia.


Selasa, 15 Agustus 2017

Mimpi 400 Kopi

Saya ini orangnya seneng kalo disuruh nyemangatin atau memotivasi orang lain. Tapi kalo udah menyangkut diri sendiri, saya suka minder. Berbicara soal penerbitan buku La Storia: Kumpulan Cerita Menarik AC Milan Era Berlusconi yang sudah rilis akhir Juli lalu, saya juga mengalami hal yang sama.

Sejak akhir tahun 2016 saat kami mulai sering ketemuan untuk ngobrolin sepak bola dan hal-hal kurang penting lainnya, Syakib, si penerbit buku Kawos Publishing sering meminta saya untuk mempublikasikan buku. Padahal, saya sama sekali tidak merasa punya kapasitas untuk itu. Tapi ketika kami sering ngobrol tentang dunia penerbitan buku dan dunia literasi (tsaaahh), lama kelamaan saya ikuti juga sarannya. Gak ada ruginya kok dicoba, pikir saya waktu itu.

Februari 2017, saya pun mulai mengumpulkan materi tulisan. Beberapa materi sengaja saya ambil dari entri lama blog pribadi dan beberapa tulisan yang pernah saya kirim ke media-media daring. Setelah itu, tulisan saya perbaharui seperlunya, lalu saya gabungkan dengan tulisan-tulisan baru, lalu saya susun berdasarkan tema. Dalam waktu tiga bulan, seluruh naskah rampung, dan saya kembali kepada Syakib.

Tanpa banyak revisi dan komentar, Syakib dan juga Bang Ucup (Andibachtiar Yusuf) menyetujui naskah, lalu kemudian bergeraklah saya mencari teman yang lain untuk membuat desain sampul buku. Untungnya, saya kenal baik dengan Galih Satrio, desainer berbakat yang karyanya sudah go International (dikontrak oleh sebuah media dari Prancis, man!).

Untungnya lagi, kerjasama dengan Galih sangat mudah karena orangnya memang gak ribet. Hanya bermodal percakapan via ponsel, kami ngobrol soal tema buku, konsep sampul, lalu beberapa hari kemudian dia sudah kembali dengan beberapa konsep. Setelah saya kirimkan konsep itu kepada penerbit, mereka tinggal memilih salah satu, lalu kemudian buku siap masuk percetakan. Penerbit memutuskan mencetak 1.000 kopi buku.

Sebelum lebaran, buku naik cetak. Momen ini digunakan penerbit untuk mulai berpromosi. Buku siap dipesan lewat mekanisme PO (pre-order), yang baru akan sampai ke tangan pemesan kurang lebih sebulan setelahnya. Pada fase inilah pesimisme saya kembali muncul. Saya lalu bertanya kepada Syakib, berapa eksemplar penjualan yang dibutuhkan untuk setidaknya “balik modal”, yang kemudian dia jawab “Cukup 400 kopi.”

Dari angka itulah, saya mencanangkan target penjualan 400 kopi buku. Minimalis aja, toh waktu saya menerbitkan buku Piala Dunia bersama Gagas Media tahun 2014, buku itu hanya laku 200an kopi saja.

Setelah lebaran, saya dapat kabar kalau terjadi keterlambatan dari pihak percetakan, yang berimbas pada molornya waktu terbit hingga dua minggu. Saya merasa gak enak dong sama yang udah pesen. Kebetulan, saat itu yang sudah pesan sekitar 100 orang, jumlah yang juga saya gak sangka karena pre-order baru dibuka sekitar dua mingguan.

Bantuan lalu datang dengan masuknya beberapa reseller. Kebetulan, mereka memiliki banyak ‘massa’ dalam bentuk follower di akun media sosial yang mereka kelola. Hasilnya cukup tokcer, karena dari salah satu reseller saja, pemesanan mencapai lebih dari 200 buku. Saya makin kaget karena jumlah ini belum termasuk pemesanan yang dilakukan oleh basis kelompok suporter Milan, yaitu Milanisti Indonesia. Lewat pertemanan Bang Ucup, kerjasama dengan Milanisti Indonesia terealisasi, dengan hasil 400 orang memesan buku saya. Kira-kira setelah pre-order ditutup, sudah ada 800an pemesan yang membeli buku saya. Wow, dua kali lipat dari target awal yang saya canangkan!

Pasca ditutupnya pre-order, ternyata penjualan tidak berhenti. Masih ada beberapa pemesan lain yang menghubungi pihak penerbit, lalu kemudian dalam waktu kurang dari sebulan setelah pre-order ditutup, ternyata buku sudah habis. Syakib kembali menghubungi saya untuk mengabarkan bahwa cetakan kedua tengah dipersiapkan. Rencananya, 500 kopi akan dicetak untuk memenuhi animo pembeli yang masih berdatangan.

Saya masih tidak menyangka, ternyata penjualan buku sederhana hasil dari kesan-kesan saya mendukung Milan selama lebih dari 20 tahun telah dibaca 1.000 orang. Pemesannya pun hadir dari seluruh wilayah Indonesia. Dari tab mention akun Twitter, beberapa pembeli memfoto buku saya dari daerah tempat tinggalnya masing-masing. Memang kebanyakan masih di wilayah Pulau Jawa dan beberapa lagi di Sumatra, tapi ada pula beberapa pemesan dari wilayah tengah dan timur Indonesia seperti Alor, Palopo, hingga Papua.

Khusus Papua, saya memiliki kesan tersendiri. Kebetulan, Ricardo Salampessy, pemain sepak bola profesional yang bermain di Persipura bersedia menuliskan kata pengantarnya di buku saya. Karena hal inilah, dia kemudian memfollow akun twitter saya! Ketika saya hendak mengirimkannya dua kopi buku, saya pun berkomunikasi dengan dia via whatsapp, juga sempat berbicara via telepon. Gara-gara buku sederhana ini, saya jadi kenal sama pemain tim nasional!

Ini bukannya mau pamer atau gimana. Apanya yang mau dipamerin kalau terealisasinya buku ini lebih karena faktor pertemanan saya dengan para penerbit, bukan karena materi buku yang cemerlang. Karena di buku ini, saya memang lebih banyak membagikan kesan dan membangkitkan memori. Saya yakin sekali kalau ada banyak penulis yang lebih hebat dari saya, juga pengalamannya lebih banyak. Lalu ketika buku ini mendapat sambutan luar biasa, ini pun karena faktor pertemanan Bang Ucup yang sangat luas, hingga bisa mempromosikan buku ini secara tepat sasaran.

Anyway, rilisnya buku ini memberi saya motivasi. Motivasi untuk terus belajar, terus membaca, terus menonton, mengamati dan menghayati setiap pengalaman yang saya dapat. Siapa tahu saya bisa menelurkan karya-karya berikutnya, malah bisa jadi di luar sepak bola. Jika harus menerbitkan buku kedua, tentu saja pembaca mengharapkan pengalaman berbeda, syukur-syukur memberikan manfaat. Karena banyak sekali orang yang mengalami sindrom karya kedua. Begitu banyak karya musik yang cemerlang pada album pertamanya, tetapi melempem di album kedua, hal yang sama juga berlaku di dunia film.

Berawal dari mimpi 400 kopi (ala-ala Mimpi Sejuta Dollar gitu lah), saya pun akan berusaha terus berkarya. Dan karena keinginan menghasilkan karya ini selalu ada, maka tugas saya adalah terus meningkatkan kualitas di segala lini, juga menambah pertemanan dengan banyak pihak yang memang memberikan manfaat.


Kenapa Saya Tetap Gunakan Twitter

Saya udah sering ketemu teman dari sesama Gen-Y yang udah gak main media sosial Twitter. Kebanyakan dari mereka sekarang ini lebih sering berekspresi di Path, Instagram, atau malah balik lagi ke Facebook. Saya gak nanya alasannya kenapa sih, tapi kalo yang Saya duga, kebutuhan berekspresinya aja yang udah berubah.

Di Path, walaupun sekarang udah ada iklannya, kita bisa memposting aktivitas kita bahkan ke hal-hal paling remeh seperti tidur jam berapa, juga mempercantik status dengan #pathdaily. Jumlah teman yang dibatasi membuat Path terasa lebih personal, lalu konten-konten yang ada di dalamnya lebih ringan, dan sepertinya inilah yang menjadi nilai lebih yang dicari-cari.

Instagram, yang kini hanya kalah jumlah penggunanya dari Facebook dan Youtube sebagai platform social networking, juga menawarkan hal lain kepada para Gen-Y. Berjamurnya akun-akun produk begitu memanjakan para Gen-Y yang sedang tinggi hasrat berbelanjanya.

Lalu bagaimana dengan Twitter? Siapa yang bisa tergelak dan tergerak dengan barisan kata-kata yang hanya terdiri dari 140 karakter? Hanya berbentuk tulisan pula, tidak pakai meme lucu. Mengunggah gambar dan video juga dirasa kurang asik di Twitter, karena ya Twitter itu terlalu massal. Kecuali jika kita gembok akun Twitter supaya hanya di-follow oleh orang-orang yang kita mau, follower di akun kita itu bermacam-macam orang, dan saya rasa sih follower Anda gak akan tertarik juga melihat foto selfie yang sedang makan bakso kuah saat hujan turun. Alasan kita mem-follow seseorang atau sebuah admin di Twitter, menurut saya lebih karena kebutuhan akan informasi, bukan kepengen tahu kisah personal.

Dilihat dari tampilan, Twitter juga sangat old fashioned. Fungsi Twitter yang paling hebat paling dibuatkan chirpstory, tentu membatasi tendensi para netizen budiman yang senang berkomentar atas segala sesuatu, walaupun yang bukan pada bidang keahliannya.

Tentang banyaknya yang kembali ke Facebook, Saya sih melihat alasannya karena di platform ini, para netizen Gen-Y bisa dengan leluasa membagikan apa saja di wall teman-temannya, terutama pandangan politiknya. Dengan mantra “Feel free to unfriend/unfollow kalo gak nyaman”, dan dengan motto “pilihan saya paling benar dan yang lain salah”, para netizen garis keras yang juga membela suatu golongan dengan militan ini merasa enak-enak saja untuk mem-posting konten yang mengamini pemikiran mereka.

Tapi buat saya sih, Twitter tetap paling nyaman. Selain karena kesederhanaan dan kemudahan menggunakannya tadi, tetap saja berita-berita yang berseliweran ini lebih cepat saya dapatkan dari Twitter. Selain itu, karena memang sudah lama menggunakannya, saya juga sudah follow akun-akun yang memang asik, juga beberapa “teman Twitter” yang asik diajak ngobrol. Well, di Twitter juga banyak yang snob dan sok tau sih, tapi untungnya ada fitur “Mute”, dan untuk beberapa orang yang emang bener-bener bikin males, saya bakal unfollow. Dan alasan terakhir, di Twitter ini saya gak di-follow sama saudara atau teman kantor! Itu penting banget demi kebebasan nge-twit. Hahaha.

Rabu, 02 Agustus 2017

Di Indonesia, Kita Tidak Boleh Kehilangan

Andibachtiar Yusuf, atau dikenal dengan nama panggilan Ucup, seorang sutradara film dan penggemar fanatik sepak bola, baru saja merampungkan bukunya yang berjudul Menjadi Indonesia. Tanpa bermaksud jadi spoiler, salah satu dari kumpulan esai pendek itu berisi tentang pengalamannya membandingkan penanganan kehilangan barang antara di Indonesia dengan negara-negara yang lebih maju dan teratur seperti Jepang.

Ucup menceritakan bahwa jika kita kehilangan barang saat berada di negara Jepang, maka kita tidak perlu khawatir karena kemungkinan besar bahwa barang kita itu akan kembali secara utuh. Saya juga pernah mendengar cerita dari teman yang lain yang juga pernah mengunjungi negeri Matahari Terbit itu. Ia pernah melihat sebuah ponsel yang tergeletak begitu saja di pinggir jalan tanpa ada seorangpun yang berani menyentuhnya. Jangankan ngambil, megang aja enggak! Lalu menurut informasi yang dia dapat dari orang-orang, ponsel berjenis iphone itu nantinya akan diambil kembali oleh pemiliknya, karena ia akan mudah saja melacak melalui aplikasi pelacak ponsel hilang. Selain itu, CCTV juga ada di mana-mana, dan jika Anda nekat mengambil iphone itu, maka siap-siap saja diciduk polisi. 

Meski demikian, orang-orang Jepang ini tentu saja sudah tahu bahwa mengambil yang bukan haknya adalah kejahatan. Dan tanpa adanya ancaman penangkapan, mereka sudah tahu kalau iphone itu bukanlah miliknya, jadi mereka tidak akan mengambil. Itulah keteraturan, dan begitulah ciri sebuah negara yang beradab.

Tentu sulit membandingkan negara-negara maju itu dengan Indonesia. Malah bisa jadi sepuluh jilid buku sendiri untuk itu. Tapi ya memang benar, di sini tuh memang harus ekstra waspada. Semenit saya barang kita tinggal tanpa pengawasan, maka sudah berpindah tangan secepat kilat. Saya sendiri sering mendengar cerita tentang hilangnya ponsel teman saya akibat dia kelupaan meninggalkannya di toilet kantor. Padahal, toiletnya ada di kantor, bukan di tempat umum.

Sementara saya juga pernah mendapatkan pengalaman yang tidak kalah ngenes. Ketika sedang terburu-buru, saya melupakan ponsel yang saya tinggal di atas mesin ATM di sebuah minimarket modern di Depok, dekat dengan rumah saya. Sepuluh menit setelah saya menyadari, ponsel itu sudah raib, dan ketika saya lacak melalui aplikasi, ponsel telah berpindah 10 km ke arah Ragunan! Hebatnya lagi, mas-mas petugas minimarket yang saya minta tolong untuk mengakses CCTV, kerjanya sungguh lambat luar biasa. Dia meminta izin kepada saya untuk mengecek komputer CCTV dari dalam kantor, lalu kembali ke saya 30 menit kemudian hanya untuk mengabarkan bahwa ia tidak bisa memutar balik (rewind) CCTV karena ia lupa password! Kompetensi dan komitmen mas-mas ini betul-betul tiada banding! Benar-benar layak dihadiahi penghargaan sebagai karyawan teladan seumur hidup, dan benar-benar layak tampil di TV nasional untuk menerima hadiah sepeda dari bapak presiden!

Sebetulnya dia menawarkan bantuan lain, yaitu mengakses lewat CCTV yang ada di mesin ATM, tapi dia langsung membeberkan berbagai keruwetan khas birokrasi, yang mana saya harus mengisi Berita Acara ini-itu, melapor kepada si itu dan si anu. Apa saja ia katakan untuk membuat saya mengurungkan niat. Hebat betul, kan?

Ya, saya memang akhirnya mengurungkan niat, dan si mas-mas itu akan melanjutkan hidup dengan membawa serta keteladanannya dalam bekerja, sambil mengunyahi produk mecin, menenggak multivitamin berkarbonasi satu pak sehari, dan memberi komentar cerdas pada artikel politik di Facebook. 

Selain karena ponsel yang hilang itu bukan jenis iphone yang mahalnya naudzubillah, saya juga telah memblok data-data ponsel saya, termasuk melakukan reset password semua akun media sosial yang saya punya. Tidak lupa, saya pun mengikhlaskan kehilangan ini sembari berharap si maling mendapatkan hidayah karena bela-belain segitunya ngambil ponsel yang harganya sungguh tidak seberapa!

Tapi tetap saja, ini menunjukkan sisi bobrok kelakuan rakyat yang suka maling dan gak jujur, karyawan toko yang gak kompeten dan gak mau susah, dan segala perangkat keamanan yang hanya jadi pajangan.

Setelah membaca buku Ucup dan membandingkannya dengan situasi sehari-hari, rasanya memang benar bahwa Menjadi Indonesia bukanlah hal yang gampang. Kita harus waspada pada barang milik sendiri, karena kalau sudah ketinggalan, agak sulit rasanya berharap ada orang berhati budiman yang sukarela mengembalikannya kepada kita. Saya malah pernah dengar cerita teman saya yang kehilangan STNK motor, lalu si penemu STNK mendatangi rumahnya untuk mengembalikan, tetapi terus terang meminta imbalan dengan jumlah besar. "Yah, masih lebih murah kan mas, daripada ngurus STNK baru di Samsat?" Betul-betul potret manusia yang memiliki sifat tulus, ikhlas, ridho, berjiwa perwira yang layak dilestarikan serta namanya diabadikan sebagai nama kantor Samsat. 

Jangan pula berharap banyak pada sistem yang ada, karena biasanya cuma pajangan doang.  

Saya tidak bilang tidak ada orang seperti itu di Indonesia ya, tidak maksud melakukan generalisasi. Hanya saja sangat jarang.