Selasa, 15 Agustus 2017

Mimpi 400 Kopi

Saya ini orangnya seneng kalo disuruh nyemangatin atau memotivasi orang lain. Tapi kalo udah menyangkut diri sendiri, saya suka minder. Berbicara soal penerbitan buku La Storia: Kumpulan Cerita Menarik AC Milan Era Berlusconi yang sudah rilis akhir Juli lalu, saya juga mengalami hal yang sama.

Sejak akhir tahun 2016 saat kami mulai sering ketemuan untuk ngobrolin sepak bola dan hal-hal kurang penting lainnya, Syakib, si penerbit buku Kawos Publishing sering meminta saya untuk mempublikasikan buku. Padahal, saya sama sekali tidak merasa punya kapasitas untuk itu. Tapi ketika kami sering ngobrol tentang dunia penerbitan buku dan dunia literasi (tsaaahh), lama kelamaan saya ikuti juga sarannya. Gak ada ruginya kok dicoba, pikir saya waktu itu.

Februari 2017, saya pun mulai mengumpulkan materi tulisan. Beberapa materi sengaja saya ambil dari entri lama blog pribadi dan beberapa tulisan yang pernah saya kirim ke media-media daring. Setelah itu, tulisan saya perbaharui seperlunya, lalu saya gabungkan dengan tulisan-tulisan baru, lalu saya susun berdasarkan tema. Dalam waktu tiga bulan, seluruh naskah rampung, dan saya kembali kepada Syakib.

Tanpa banyak revisi dan komentar, Syakib dan juga Bang Ucup (Andibachtiar Yusuf) menyetujui naskah, lalu kemudian bergeraklah saya mencari teman yang lain untuk membuat desain sampul buku. Untungnya, saya kenal baik dengan Galih Satrio, desainer berbakat yang karyanya sudah go International (dikontrak oleh sebuah media dari Prancis, man!).

Untungnya lagi, kerjasama dengan Galih sangat mudah karena orangnya memang gak ribet. Hanya bermodal percakapan via ponsel, kami ngobrol soal tema buku, konsep sampul, lalu beberapa hari kemudian dia sudah kembali dengan beberapa konsep. Setelah saya kirimkan konsep itu kepada penerbit, mereka tinggal memilih salah satu, lalu kemudian buku siap masuk percetakan. Penerbit memutuskan mencetak 1.000 kopi buku.

Sebelum lebaran, buku naik cetak. Momen ini digunakan penerbit untuk mulai berpromosi. Buku siap dipesan lewat mekanisme PO (pre-order), yang baru akan sampai ke tangan pemesan kurang lebih sebulan setelahnya. Pada fase inilah pesimisme saya kembali muncul. Saya lalu bertanya kepada Syakib, berapa eksemplar penjualan yang dibutuhkan untuk setidaknya “balik modal”, yang kemudian dia jawab “Cukup 400 kopi.”

Dari angka itulah, saya mencanangkan target penjualan 400 kopi buku. Minimalis aja, toh waktu saya menerbitkan buku Piala Dunia bersama Gagas Media tahun 2014, buku itu hanya laku 200an kopi saja.

Setelah lebaran, saya dapat kabar kalau terjadi keterlambatan dari pihak percetakan, yang berimbas pada molornya waktu terbit hingga dua minggu. Saya merasa gak enak dong sama yang udah pesen. Kebetulan, saat itu yang sudah pesan sekitar 100 orang, jumlah yang juga saya gak sangka karena pre-order baru dibuka sekitar dua mingguan.

Bantuan lalu datang dengan masuknya beberapa reseller. Kebetulan, mereka memiliki banyak ‘massa’ dalam bentuk follower di akun media sosial yang mereka kelola. Hasilnya cukup tokcer, karena dari salah satu reseller saja, pemesanan mencapai lebih dari 200 buku. Saya makin kaget karena jumlah ini belum termasuk pemesanan yang dilakukan oleh basis kelompok suporter Milan, yaitu Milanisti Indonesia. Lewat pertemanan Bang Ucup, kerjasama dengan Milanisti Indonesia terealisasi, dengan hasil 400 orang memesan buku saya. Kira-kira setelah pre-order ditutup, sudah ada 800an pemesan yang membeli buku saya. Wow, dua kali lipat dari target awal yang saya canangkan!

Pasca ditutupnya pre-order, ternyata penjualan tidak berhenti. Masih ada beberapa pemesan lain yang menghubungi pihak penerbit, lalu kemudian dalam waktu kurang dari sebulan setelah pre-order ditutup, ternyata buku sudah habis. Syakib kembali menghubungi saya untuk mengabarkan bahwa cetakan kedua tengah dipersiapkan. Rencananya, 500 kopi akan dicetak untuk memenuhi animo pembeli yang masih berdatangan.

Saya masih tidak menyangka, ternyata penjualan buku sederhana hasil dari kesan-kesan saya mendukung Milan selama lebih dari 20 tahun telah dibaca 1.000 orang. Pemesannya pun hadir dari seluruh wilayah Indonesia. Dari tab mention akun Twitter, beberapa pembeli memfoto buku saya dari daerah tempat tinggalnya masing-masing. Memang kebanyakan masih di wilayah Pulau Jawa dan beberapa lagi di Sumatra, tapi ada pula beberapa pemesan dari wilayah tengah dan timur Indonesia seperti Alor, Palopo, hingga Papua.

Khusus Papua, saya memiliki kesan tersendiri. Kebetulan, Ricardo Salampessy, pemain sepak bola profesional yang bermain di Persipura bersedia menuliskan kata pengantarnya di buku saya. Karena hal inilah, dia kemudian memfollow akun twitter saya! Ketika saya hendak mengirimkannya dua kopi buku, saya pun berkomunikasi dengan dia via whatsapp, juga sempat berbicara via telepon. Gara-gara buku sederhana ini, saya jadi kenal sama pemain tim nasional!

Ini bukannya mau pamer atau gimana. Apanya yang mau dipamerin kalau terealisasinya buku ini lebih karena faktor pertemanan saya dengan para penerbit, bukan karena materi buku yang cemerlang. Karena di buku ini, saya memang lebih banyak membagikan kesan dan membangkitkan memori. Saya yakin sekali kalau ada banyak penulis yang lebih hebat dari saya, juga pengalamannya lebih banyak. Lalu ketika buku ini mendapat sambutan luar biasa, ini pun karena faktor pertemanan Bang Ucup yang sangat luas, hingga bisa mempromosikan buku ini secara tepat sasaran.

Anyway, rilisnya buku ini memberi saya motivasi. Motivasi untuk terus belajar, terus membaca, terus menonton, mengamati dan menghayati setiap pengalaman yang saya dapat. Siapa tahu saya bisa menelurkan karya-karya berikutnya, malah bisa jadi di luar sepak bola. Jika harus menerbitkan buku kedua, tentu saja pembaca mengharapkan pengalaman berbeda, syukur-syukur memberikan manfaat. Karena banyak sekali orang yang mengalami sindrom karya kedua. Begitu banyak karya musik yang cemerlang pada album pertamanya, tetapi melempem di album kedua, hal yang sama juga berlaku di dunia film.

Berawal dari mimpi 400 kopi (ala-ala Mimpi Sejuta Dollar gitu lah), saya pun akan berusaha terus berkarya. Dan karena keinginan menghasilkan karya ini selalu ada, maka tugas saya adalah terus meningkatkan kualitas di segala lini, juga menambah pertemanan dengan banyak pihak yang memang memberikan manfaat.


Kenapa Saya Tetap Gunakan Twitter

Saya udah sering ketemu teman dari sesama Gen-Y yang udah gak main media sosial Twitter. Kebanyakan dari mereka sekarang ini lebih sering berekspresi di Path, Instagram, atau malah balik lagi ke Facebook. Saya gak nanya alasannya kenapa sih, tapi kalo yang Saya duga, kebutuhan berekspresinya aja yang udah berubah.

Di Path, walaupun sekarang udah ada iklannya, kita bisa memposting aktivitas kita bahkan ke hal-hal paling remeh seperti tidur jam berapa, juga mempercantik status dengan #pathdaily. Jumlah teman yang dibatasi membuat Path terasa lebih personal, lalu konten-konten yang ada di dalamnya lebih ringan, dan sepertinya inilah yang menjadi nilai lebih yang dicari-cari.

Instagram, yang kini hanya kalah jumlah penggunanya dari Facebook dan Youtube sebagai platform social networking, juga menawarkan hal lain kepada para Gen-Y. Berjamurnya akun-akun produk begitu memanjakan para Gen-Y yang sedang tinggi hasrat berbelanjanya.

Lalu bagaimana dengan Twitter? Siapa yang bisa tergelak dan tergerak dengan barisan kata-kata yang hanya terdiri dari 140 karakter? Hanya berbentuk tulisan pula, tidak pakai meme lucu. Mengunggah gambar dan video juga dirasa kurang asik di Twitter, karena ya Twitter itu terlalu massal. Kecuali jika kita gembok akun Twitter supaya hanya di-follow oleh orang-orang yang kita mau, follower di akun kita itu bermacam-macam orang, dan saya rasa sih follower Anda gak akan tertarik juga melihat foto selfie yang sedang makan bakso kuah saat hujan turun. Alasan kita mem-follow seseorang atau sebuah admin di Twitter, menurut saya lebih karena kebutuhan akan informasi, bukan kepengen tahu kisah personal.

Dilihat dari tampilan, Twitter juga sangat old fashioned. Fungsi Twitter yang paling hebat paling dibuatkan chirpstory, tentu membatasi tendensi para netizen budiman yang senang berkomentar atas segala sesuatu, walaupun yang bukan pada bidang keahliannya.

Tentang banyaknya yang kembali ke Facebook, Saya sih melihat alasannya karena di platform ini, para netizen Gen-Y bisa dengan leluasa membagikan apa saja di wall teman-temannya, terutama pandangan politiknya. Dengan mantra “Feel free to unfriend/unfollow kalo gak nyaman”, dan dengan motto “pilihan saya paling benar dan yang lain salah”, para netizen garis keras yang juga membela suatu golongan dengan militan ini merasa enak-enak saja untuk mem-posting konten yang mengamini pemikiran mereka.

Tapi buat saya sih, Twitter tetap paling nyaman. Selain karena kesederhanaan dan kemudahan menggunakannya tadi, tetap saja berita-berita yang berseliweran ini lebih cepat saya dapatkan dari Twitter. Selain itu, karena memang sudah lama menggunakannya, saya juga sudah follow akun-akun yang memang asik, juga beberapa “teman Twitter” yang asik diajak ngobrol. Well, di Twitter juga banyak yang snob dan sok tau sih, tapi untungnya ada fitur “Mute”, dan untuk beberapa orang yang emang bener-bener bikin males, saya bakal unfollow. Dan alasan terakhir, di Twitter ini saya gak di-follow sama saudara atau teman kantor! Itu penting banget demi kebebasan nge-twit. Hahaha.

Rabu, 02 Agustus 2017

Di Indonesia, Kita Tidak Boleh Kehilangan

Andibachtiar Yusuf, atau dikenal dengan nama panggilan Ucup, seorang sutradara film dan penggemar fanatik sepak bola, baru saja merampungkan bukunya yang berjudul Menjadi Indonesia. Tanpa bermaksud jadi spoiler, salah satu dari kumpulan esai pendek itu berisi tentang pengalamannya membandingkan penanganan kehilangan barang antara di Indonesia dengan negara-negara yang lebih maju dan teratur seperti Jepang.

Ucup menceritakan bahwa jika kita kehilangan barang saat berada di negara Jepang, maka kita tidak perlu khawatir karena kemungkinan besar bahwa barang kita itu akan kembali secara utuh. Saya juga pernah mendengar cerita dari teman yang lain yang juga pernah mengunjungi negeri Matahari Terbit itu. Ia pernah melihat sebuah ponsel yang tergeletak begitu saja di pinggir jalan tanpa ada seorangpun yang berani menyentuhnya. Jangankan ngambil, megang aja enggak! Lalu menurut informasi yang dia dapat dari orang-orang, ponsel berjenis iphone itu nantinya akan diambil kembali oleh pemiliknya, karena ia akan mudah saja melacak melalui aplikasi pelacak ponsel hilang. Selain itu, CCTV juga ada di mana-mana, dan jika Anda nekat mengambil iphone itu, maka siap-siap saja diciduk polisi. 

Meski demikian, orang-orang Jepang ini tentu saja sudah tahu bahwa mengambil yang bukan haknya adalah kejahatan. Dan tanpa adanya ancaman penangkapan, mereka sudah tahu kalau iphone itu bukanlah miliknya, jadi mereka tidak akan mengambil. Itulah keteraturan, dan begitulah ciri sebuah negara yang beradab.

Tentu sulit membandingkan negara-negara maju itu dengan Indonesia. Malah bisa jadi sepuluh jilid buku sendiri untuk itu. Tapi ya memang benar, di sini tuh memang harus ekstra waspada. Semenit saya barang kita tinggal tanpa pengawasan, maka sudah berpindah tangan secepat kilat. Saya sendiri sering mendengar cerita tentang hilangnya ponsel teman saya akibat dia kelupaan meninggalkannya di toilet kantor. Padahal, toiletnya ada di kantor, bukan di tempat umum.

Sementara saya juga pernah mendapatkan pengalaman yang tidak kalah ngenes. Ketika sedang terburu-buru, saya melupakan ponsel yang saya tinggal di atas mesin ATM di sebuah minimarket modern di Depok, dekat dengan rumah saya. Sepuluh menit setelah saya menyadari, ponsel itu sudah raib, dan ketika saya lacak melalui aplikasi, ponsel telah berpindah 10 km ke arah Ragunan! Hebatnya lagi, mas-mas petugas minimarket yang saya minta tolong untuk mengakses CCTV, kerjanya sungguh lambat luar biasa. Dia meminta izin kepada saya untuk mengecek komputer CCTV dari dalam kantor, lalu kembali ke saya 30 menit kemudian hanya untuk mengabarkan bahwa ia tidak bisa memutar balik (rewind) CCTV karena ia lupa password! Kompetensi dan komitmen mas-mas ini betul-betul tiada banding! Benar-benar layak dihadiahi penghargaan sebagai karyawan teladan seumur hidup, dan benar-benar layak tampil di TV nasional untuk menerima hadiah sepeda dari bapak presiden!

Sebetulnya dia menawarkan bantuan lain, yaitu mengakses lewat CCTV yang ada di mesin ATM, tapi dia langsung membeberkan berbagai keruwetan khas birokrasi, yang mana saya harus mengisi Berita Acara ini-itu, melapor kepada si itu dan si anu. Apa saja ia katakan untuk membuat saya mengurungkan niat. Hebat betul, kan?

Ya, saya memang akhirnya mengurungkan niat, dan si mas-mas itu akan melanjutkan hidup dengan membawa serta keteladanannya dalam bekerja, sambil mengunyahi produk mecin, menenggak multivitamin berkarbonasi satu pak sehari, dan memberi komentar cerdas pada artikel politik di Facebook. 

Selain karena ponsel yang hilang itu bukan jenis iphone yang mahalnya naudzubillah, saya juga telah memblok data-data ponsel saya, termasuk melakukan reset password semua akun media sosial yang saya punya. Tidak lupa, saya pun mengikhlaskan kehilangan ini sembari berharap si maling mendapatkan hidayah karena bela-belain segitunya ngambil ponsel yang harganya sungguh tidak seberapa!

Tapi tetap saja, ini menunjukkan sisi bobrok kelakuan rakyat yang suka maling dan gak jujur, karyawan toko yang gak kompeten dan gak mau susah, dan segala perangkat keamanan yang hanya jadi pajangan.

Setelah membaca buku Ucup dan membandingkannya dengan situasi sehari-hari, rasanya memang benar bahwa Menjadi Indonesia bukanlah hal yang gampang. Kita harus waspada pada barang milik sendiri, karena kalau sudah ketinggalan, agak sulit rasanya berharap ada orang berhati budiman yang sukarela mengembalikannya kepada kita. Saya malah pernah dengar cerita teman saya yang kehilangan STNK motor, lalu si penemu STNK mendatangi rumahnya untuk mengembalikan, tetapi terus terang meminta imbalan dengan jumlah besar. "Yah, masih lebih murah kan mas, daripada ngurus STNK baru di Samsat?" Betul-betul potret manusia yang memiliki sifat tulus, ikhlas, ridho, berjiwa perwira yang layak dilestarikan serta namanya diabadikan sebagai nama kantor Samsat. 

Jangan pula berharap banyak pada sistem yang ada, karena biasanya cuma pajangan doang.  

Saya tidak bilang tidak ada orang seperti itu di Indonesia ya, tidak maksud melakukan generalisasi. Hanya saja sangat jarang.

Minggu, 30 Juli 2017

Memangnya Jadi Traveller Pasti Bijak?

Di era digital sekarang ini, entri berupa meme, atau gambar bertuliskan kata-kata singkat yang memiliki makna, begitu menjamur. Beberapa di antaranya cukup berguna dan inspiratif, dan sisanya menjadi sampah digital yang dilupakan.

Salah satu meme yang cukup saya ingat adalah yang bertuliskan kurang lebih begini: Kalau elo masih gampang tersinggung, mungkin pengalaman lo kurang banyak, main lo kurang jauh.

Hmm.

Pembuat meme ini seperti memberi keabsahan bahwa mereka yang pengalaman hidupnya sudah banyak--ditegaskan dengan aktivitasnya yang sering bepergian--niscaya akan menjadi orang yang sabar, dewasa, dan tentunya bijak.

Sebelum adanya meme ini pun sudah banyak sekali tulisan-tulisan yang menyeru kita untuk bepergian dan melakukan perjalanan untuk mengagumi ciptaanNya, kalau dalam Islam kegiatan ini dikenal dengan sebutan tafakur alam. Tujuannya apa lagi kalau bukan untuk membuat kita merasa kecil di hadapanNya, dengan cara melihat lebih banyak lagi keindahan alam dan keragaman budaya di seluruh penjuru dunia.

Tapi ternyata tidak selamanya kok, orang yang pengalaman hidupnya banyak dan perginya udah jauh-jauh itu lantas menjadi bijak.

Saya sendiri mengenal banyak orang yang sudah sering bepergian ke mana-mana. Lima benua, lima samudera mungkin sudah dijelajahi. Album-album fotonya penuh dengan perjalanan dari Santorini hingga San Fransisco, dari pulau di ujung barat hingga timur Indonesia.

Tapi kok ya, orangnya begitu-begitu aja. Masih suka sensi kalau dibecandain, masih suka ribut-ribut di grup whatsapp, masih suka ngaret kalau janjian, masih buang sampah sembarangan dari mobilnya, masih suka nyerobot antrean, masih gak ngerti kalau harus memprioritaskan tempat duduk kepada orang-orang tertentu di tempat umum, masih gak ngerti untuk mendahulukan yang keluar dari lift, KRL atau bis Transjakarta. Dan sebagainya. Lalu ke mana perginya hasil pembelajaran dari pergi jauh-jauh itu?

Yang ada malahan dia malah jadi snob. Merasa dirinya lebih baik daripada orang lain. Apa bedanya mereka dengan para penikmat kopi sejati yang menghakimi para peminum kopi sachet?

Saya pun bertanya-tanya, kenapa perjalanan jauh dan pengalaman banyak yang mereka dapat tidak mengubah sosok mereka menjadi lebih baik. Dengan catatan, tentunya tidak semuanya seperti itu. 

Kemungkinan besar, mereka bisa menyesuaikan kelakuan ketika menjadi turis di negara atau daerah orang, tapi ketika kembali ke tempat asal, kebiasaan buruk dan karakternya toh kembali lagi seperti sedia kala. Atau mungkin, tujuan perjalanannya hanya sebatas foto-foto narsis di tempat yang instagram-able.

Travelling memang menyenangkan dan bermanfaat, tapi apa iya menjadi traveller menjamin seseorang jadi lebih bijak? Dan apa iya harus keliling dunia dulu untuk mengerti cara berperilaku dewasa?


Selasa, 11 Juli 2017

Memaknai Sharpen the Saw Melalui Hiatus

Teman-teman tentu tahu tentang cerita berjudul Sharpen the Saw, salah satu dari cerita yang menjadi isi dari buku pengembangan manajerial ternama berjudul 7 Habits of Highly Effective People karya Stephen Covey yang legendaris itu.

Sharpen the Saw, atau jika diterjemahkan bebas menjadi Mengasah Gergaji, menjadi habit atau kebiasaan nomor tujuh yang direkomendasikan penulis untuk menjadi orang (pemimpin) yang efektif. Tolok ukur efektif sendiri sudah jelas, yaitu orang ini mampu mengerjakan tugas demi tugasnya dengan cerdas, dengan memanfaatkan seluruh sumber daya serta teknologi yang dimiliki, dan yang karena itulah upaya yang dilakukannya lebih minim. Seringkali kualitas pimpinan dinilai dari seberapa efektif ia menyelesaikan tugas (kualitas), dan seberapa banyak yang mampu ia selesaikan (kuantitas).

Diletakkannya Sharpen the Saw di urutan terakhir bisa berarti macam-macam. Saya sih belum pernah membaca lengkap buku itu, belum pernah juga mengikuti pelatihannya. Tapi kalo saya tebak-tebak, bisa jadi karena kegiatan ‘mengasah gerjaji’ ini adalah sesuatu yang perlu dilakukan setelah membiasakan diri pada enam habits sebelumnya, yaitu be proactive, begin with end in mind, put first thing first, think win-win, seek first to understand then to be understood, dan synergize.

Keenam habits itu perlu dipertahankan, diperkuat, dipertajam. Ini memerlukan habits ketujuh, yaitu sharpen the saw tadi.

Kalau boleh saya ceritain secara singkat, ceritanya pada suatu malam, ada dua orang, satu masih muda dan yang lain sudah agak tua. Mereka sedang berlomba memotong pohon. Siapa yang lebih banyak memotong pohon ketika pagi tiba, dia yang menang.

Si muda tentu memiliki tenaga lebih besar. Tanpa banyak basa-basi, dia mulai memotong pohon dengan gergajinya. Satu demi satu pohon berjatuhan. Ia di atas angin. Sementara yang agak tua, ia juga memotong pohon dengan gergajinya. Tapi karena tenaganya kalah kuat, hasilnya tentu lebih sedikit daripada si muda.

Melihat hal itu, si anak muda makin percaya diri. Ia terus melakukan apa yang ia lakukan: memotong pohon tanpa henti, meski kecepatannya mulai menurun karena ia mulai kelelahan dan gergajinya mulai aus. 

Apa yang dilakukan oleh si agak tua? Ia berhenti sejenak. Si anak muda pun bingung dibuatnya, tapi ia malah tertawa dan terus memotong. Ia malah merasa saingannya itu sudah menyerah. Tapi ternyata, si pria agak tua itu sedang berhenti untuk beristirahat, lalu mengasah gergajinya. Setelah cukup beristirahat dan gergajinya berfungsi normal, ia kembali memotong pohon.

Beberapa jam kemudian, ternyata si pria muda tertidur saking lelahnya. Gergajinya juga sudah tumpul, akibatnya tidak bisa digunakan untuk memotong pohon. Sementara pria yang agak tua tadi masih sibuk menggergaji. Tenaganya masih ada, dan kondisi gergajinya tetap prima. Semua itu karena ia rajin mengasah, juga memberi waktu dirinya sendiri untuk beristirahat.

Kenapa sharpen the saw demikian pentingnya. Karena tidak lain, kita terkadang merasa lupa untuk mengembangkan diri. Sharpen the saw adalah manifestasi dari banyak hal rutin yang biasa kita temui sehari-hari. Hal-hal biasa yang sudah kita pahami, tapi karena rutinitas yang terlalu padat, kita kadang lupa lakukan pengembangan. Misalnya saja, kita berprofesi sebagai akuntan. Setiap hari kita akan menghadapi rutinitas akuntansi yang itu-itu saja. Jika kita tidak mengasah diri, misalnya mengikuti training, maka boleh jadi kemampuan kita tidak terasah, dan lama-lama menjadi tumpul.

Itu kalau akuntan. Lain lagi dengan profesi yang lebih mengandalkan otak kanan seperti pemain teater, musisi atau penulis. Memang pekerjaan-pekerjaan itu butuh latihan, belajar, dan berguru yang kontinyu demi meningkatkan kualitas. Tapi kalo dari pengalaman saya, ada hal yang tidak kalah penting selain terus berlatih, belajar dan berguru. Hal penting ini adalah beristirahat, seperti si penggergaji tadi. Atau istilah lainnya: hiatus.

Hiatus berarti mengerem sejenak. Bahkan untuk beberapa contoh, berhenti sempurna. Parkir. Pokoknya, ‘menghilang’ dulu. Mengistirahatkan otak kanan. Karena menggunakan otak kanan jelas berbeda dengan otak kiri. Jika otak kiri yang rasional akan senang-senang saja untuk mengerjakan yang rutin, otak kanan tentu berbeda. Untuk mendapatkan hasil yang lebih baik, otak kanan perlu diberi waktu istirahat yang cukup, dan berapa lamanya, tergantung masing-masing orang.

Salah seorang teman saya yang hobi menulis pernah mengalami hiatus ini selama beberapa bulan. Namun kemudian setelah ia ‘kembali’, langsung menghasilkan karya berupa buku. Begitu juga teman saya yang lain. Ketika aktivitas menulis membuatnya lelah, ia lantas berhenti. Tidak tanggung-tanggung, ia baru mulai menulis lagi setelah dua tahun! Ada lagi teman saya berikutnya. Dulunya ia cukup rutin menulis, tetapi kemudian ia mengalami kejenuhan luar biasa yang membuatnya ‘menepi’. Tapi setelah sekian lama, lebih dari dua tahun, ia tidak lagi menulis. Belakangan, saya baru tahu kalau ia berganti hobi, yaitu memotret. Kalau yang ini sih namanya bukan ‘mengasah gergaji’, tapi memang sudah bosan.

Saya toh merasakan juga pentingnya hiatus ini dalam beberapa hal. Bahkan untuk hal-hal yang di luar dari pekerjaan seniman. Ketika bekerja di kantor misalnya, diberikan jatah cuti. Gunanya jelas untuk menyegarkan pikiran dan menghilangkan penat. Tapi kok penat saya gak hilang-hilang walaupun sudah cuti?


Hmm… Oke itu adalah masalah saya yang tak kunjung terpecahkan, tapi untuk saat ini saya tidak ingin bicarakan.

Selasa, 04 Juli 2017

Grup Whatsapp Yang Semestinya Bermanfaat

Apakah bunyi-bunyi dan notifikasi yang paling menyita waktu orang-orang jaman sekarang? Saya berani nebak bahwa bunyi-bunyian itu berasal dari ponsel pintar milik mereka. Dari ponsel pintar itu, notifikasi yang timbul itu kebanyakan berasal dari aplikasi percakapan yang amat umum digunakan, yaitu Whatsapp. Lalu jika dipersempit lagi, panggilan chat itu lebih sering datang dari percakapan grup.

Ya, grup Whatsapp yang begitu fenomenal.

Fasilitas percakapan grup yang dibuat oleh aplikasi Whatsapp sebetulnya bukanlah ide yang baru. Berhubung sedang malas meneliti dan tidak ada signifikansi akademis atau signifikansi praktis dari postingan ini, maka saya akan mencoba berasumsi berdasarkan ingatan saja. Sebelum grup Whatsapp, pengguna ponsel cerdas diramaikan oleh grup Blackberry Messenger. Sebelum era ponsel cerdas, percakapan grup dimulai dari era mailing list (milis) yang disediakan oleh pemilik layanan email atau dengan email berantai.

Seiring pesatnya perkembangan ponsel pintar, kebiasaan menggunakan milis praktis ditinggalkan. Kini orang beralih ke percakapan grup lewat aplikasi chat messenger. Matinya milis barangkali senasib dengan senjakala layanan wartel yang tergerus oleh keberadaan telepon seluler atau ojek pangkalan yang tersapu ojek daring.

Whatsapp nampaknya masih yang terdepan dalam penyediaan aplikasi chat ini. Lagi-lagi saya sedang malas meneliti seberapa banyak pengguna layanan ini, tapi dari orang-orang pemilik ponsel cerdas yang saya temui, rasanya amat jarang yang tidak memasang aplikasi berwarna dominan hijau ini di ponsel cerdasnya, kecuali memang ia seorang agen rahasia yang identitasnya tidak boleh diketahui, atau ia seorang anti-sosial yang tidak punya teman sama sekali. Dan mereka yang punya aplikasi Whatsapp, hampir pasti tergabung dalam grup.

Konsekuensinya, kebanyakan dari kita akan memiliki banyak sekali grup Whatsapp. Malah kebanyakan grup yang ada di ponsel kita adalah hasil penarikan secara paksa. Kita yang tidak tahu apa-apa, tahu-tahu sudah ada di grup itu. Ada grup yang sifatnya serius seperti grup proyek dan grup pekerjaan, ada yang penuh basa-basi seperti grup keluarga besar, ada grup informatif seperti grup tetangga rumah dan grup sekolah anak. 

Lalu dengan derajat formalitas yang menurun, ada grup alumni sekolah, grup teman kantor lama, grup hobi atau grup komunitas. Ada pula grup yang mulai tidak formal seperti grup teman nongkrong, grup teman ngerokok, grup teman main PS, atau bahkan ada pula ‘grup di dalam grup’ alias beberapa orang dari grup besar yang sengaja membuat grup yang lebih kecil agar ngobrol lebih bebas, atau dengan tujuan bisa ngegosipin orang lain yang ada di grup besar. Sampai pada tingkat tertentu, ada pula grup-grup yang dibentuk untuk tujuan sementara seperti grup kepanitiaan atau grup acara tertentu.

Tentu semua grup ini punya tujuan masing-masing. Semua tergantung kesepakatan di awal. Tapi sebetulnya, melihat siapa orang-orang yang tergabung, semestinya kita sudah paham bahwa ada banyak ‘peraturan tidak tertulis’ yang berlaku terutama di grup-grup besar. Dalam grup besar, masa iya sih elo gak paham kalau di situ ada macam-macam orang dengan macam-macam tingkat pendidikan, keadaan ekonomi yang berbeda-beda, pandangan politik yang tidak seragam, bahkan preferensi merek sepeda motor yang belum tentu sama. Kita tentu harus paham konsekuensi memposting sesuatu di grup itu. Kalau bisa sih kita gak perlu lah posting gambar atau jokes tidak pantas, atau berdebat tanpa ujung yang malah jadi tontonan orang.

Bagaimanapun, manusia adalah makhluk kompleks. Sekalipun dia adalah teman lama jaman sekolahan, tidak ada yang tahu bahwa ia sudah berubah. Jika dulu dia mau saja dicela-cela, atau dipanggil dengan nama panggilan aneh, sekarang bisa saja dia berubah. Karena sudah jadi bos dan sehari-hari biasa dihormati orang, belum tentu ia berlapang dada dipanggil lagi dengan nama aib itu ketika bertemu lagi dengan teman-teman sekolahnya. Selain itu, kita mesti paham bahwa setiap orang punya cerita hidup masing-masing, karena itu kita gak bisa menempatkan standar kita kepada orang lain. Misalnya aja, kita lempar jokes yang kemudian bikin orang tersinggung, terus kitanya malah gak terima dan bilang "Jadi orang sensi banget!", padahal yang harusnya kita kendalikan adalah omongan kita, bukannya reaksi orang lain atas omongan kita. Karena itu dalam percakapan grup, empati adalah hal yang penting. Malahan dalam grup besar, sepertinya lebih baik menjadi silent reader dan berkomentar seperlunya.

Saya sering banget nemu beberapa orang yang gontok-gontokan di grup Whatsapp, padahal ketemu aja jarang, dan kenal deket juga enggak. Mending sih gontok-gontokan karena apa, lha ini berantem gara-gara salah satu komentarin sebuah gambar yang ia rasa gak sesuai dengan pendapatnya. Masing-masing lalu memaksakan pendapatnya dengan teorinya, dan gak ada yang mau kalah. Bahkan ada grup yang saya ikuti (percaya atau enggak), ada yang meributkan tentang kualitas ponsel merek A dengan kualitas ponsel merek B! Dan sejenisnya.

Grup yang awalnya bertujuan untuk menjaga silaturahmi, mengadakan reuni, yang ada malah pada sensi, baper, dan pada leave group. Reuni pun gak jadi-jadi.

Padahal seandainya aja kita mampu menahan ego dan kecenderungan untuk mengomentari segala sesuatu biar kelihatan pintar, grup Whatsapp bisa bermanfaat banget. Selain menyambung silaturahmi, adanya grup juga memudahkan penyebaran informasi penting, bisa juga menggalang dana bantuan dengan lebih cepat kalau-kalau ada yang butuh. Grup Whatsapp juga pastinya bisa membuka peluang-peluang bisnis, peluang kerja, atau apa saja yang berguna.

Yang jelas, sulit sekali bagi kita untuk keluar dari grup Whatsapp yang sudah kadung tidak membuat nyaman itu. Seperti lirik lagu Hotel California, “You can check out anytime you like, but you can never leave.” Alhasil, entah berapa banyak grup berisi sampah-sampah digital tidak berguna yang terpaksa kita aktifkan fitur silent atau mute.


Senin, 03 Juli 2017

Hidayah Memang Mahal

Libur panjang lebaran tidaklah membuat saya sibuk-sibuk amat. Sepadat-padat agenda jalan-jalan ke mall demi memuaskan lidah dengan makanan enak yang tidak terlalu berfaedah, saya biasanya sudah sampai di rumah sebelum magrib. Pulang malam paling hanya sesekali. Karena itulah saya jadi punya banyak waktu untuk melakukan hobi saya yang lain, yaitu berselancar di sebuah situsweb pembagi video. Dari tautan-tautan yang tersedia, siapa sangka terbuka banyak sekali kemungkinan.

Ketika mengikuti salah satu tautan, saya pun sampai di sebuah video yang menampilkan sebuah testimoni dari seseorang. Testimoni ini berupa alasan ia meninggalkan keyakinan yang selama ini ia anut untuk pindah ke keyakinan baru. Sang pemberi testimoni pun mengatakan dengan gamblang tentang alasannya berpindah keyakinan.

“Awalnya tidak sengaja. Saya adalah penganut taat dari agama lama saya. Namun tiba-tiba seorang teman tidak sengaja meninggalkan kitab sucinya di rumah saya. Saya pun membacanya, dan tiba-tiba timbul kegusaran dalam hati. Inikah yang sebetulnya saya cari? Saya lalu berdoa pada tuhan saya yang lama, tapi ternyata hati saya sudah tertambat ke tuhan yang baru. Dan saya pun meminta kepada tuhan yang baru untuk memberi saya tanda jika memang Dia adalah tuhan. Eh gak taunya tidak berapa lama kemudian, ia menampakkan wujudnya kepada saya. Mantaplah saya untuk berpindah.” Kurang lebih begitulah kata-katanya. Dan saya yakin, kita pernah mendengar cerita-cerita sejenis.

Well well well..

Saya tidak mau menghakimi sih, dan setiap orang memang memiliki cara masing-masing untuk menemukan tuhan. Tapi ingat, tuhan adalah maha pembalik hati manusia. Tuhan juga yang menentukan siapa yang ia beri petunjuk. Dan petunjuk itu sebetulnya sudah ada di mana-mana. Sudah tertulis di kitab suci dengan banyak ayat yang menjadi referensi. Coba saja cari ‘tanda-tanda kekuasaan Tuhan’, maka di kitab suci, Anda akan menemukan fenomena siang dan malam, matahari, makhluk hidup, dan lain-lain. Petunjuk-petunjuk itu adalah hal yang amat besar, dan sudah sepatutnya kita meyakini bahwa hal-hal sebesar dan serapi itu selayaknya memang diatur oleh zat yang jauuuuhhh lebih besar daripada manusia.

Siapalah kita yang dengan lancang meminta ‘tanda’ kepada tuhan, apalagi kemudian kita percaya pada mimpi atau penampakan-penampakan surealis yang asalnya bisa saja bukan dari tuhan langsung, tetapi dari salah satu makhlukNya yang menyamar. Sementara, sekali lagi, tanda-tanda kekuasaan tuhan sudah ditunjukkan sejak lama, kita hanya tinggal membaca. Matahari, bintang, bulan, tata surya. Yang diperlukan hanyalah kita rajin membaca. Itu saja.

Mohon maaf, tapi hati saya tidak bisa tersentuh dengan kisah perpindahan keyakinan melalui hal-hal semacam ini. Meskipun hal ini memang kembali kepada masing-masing orang.

Lalu kemudian saya melihat kisah kesaksian orang lain, dan ia menceritakan kisah yang sebaliknya. Ia menceritakan bahwa ia sebelumnya dibesarkan dengan cara atheis oleh orang tuanya. ‘Ketika kamu mati, semuanya sudah selesai. Akhirat atau apalah itu, hanya omong kosong.’ Demikian doktrin yang diinternalisasi secara masif ke kepalanya. Dan selama beberapa lama, hal itu berhasil.

Tapi sekali lagi, tuhan memang memberikan petunjuk kepada siapa yang dikehendakiNya. Lewat sebuah kegelisahan, ia mulai melakukan pencarian. Hampir semua agama dipelajarinya, hampir semua ritual didatanginya. Lalu kemudian ia mulai mantap pada salah satu agama. Tapi kemudian ia merasa membutuhkan sedikit lagi dorongan untuk makin memantapkan hati.

Lalu kemudian, ia berdoa, seperti doa dari orang dalam cerita pertama di atas. ‘tuhan, berilah tanda kepada saya. Jika memang Engkau memang benar tuhan, berilah tanda apa saja. Kau kan mampu melakukan apa saja. Maka ayolah robohkan setengah rumah saya, atau bahkan tiupkan angin. Apa saja.’ Demikian pintanya, setengah memaksa.

Adakah tuhan memberikan tanda-tanda semacam itu? Tidak. Ia mengaku, tidak ada yang terjadi sama sekali. Suasana malam tetap hening, angin bertiup malas seperti biasa, langit pun tidak menunjukkan meteor atau bintang jatuh, atau semacamnya. Kecewa, ia kembali berdoa. Tapi kemudian hasilnya sama saja. Nihil. Tidak ada tanda atau penampakan. Juga tidak ada mimpi atau bisikan atau apalah itu.

Hari-hari pun berlalu, lalu hidayah kemudian datang dalam bentuk lain di saat iblis bisa saja mempengaruhi hatinya untuk kembali ke keadaan tak bertuhan. Ia terdorong untuk membaca lagi kitab suci agama itu, lalu kemudian ia menemukan ayat yang berisi ‘tanda-tanda kekuasaan’ dimaksud. Hasilnya, ia menemukan tanda-tanda tadi, berupa siang-malam, matahari, bintang, makhluk-makhluk. Lalu ia menangis. ‘Ternyata inilah yang saya cari. Inilah tanda-tandanya. Sudah jelas ada di sini. Di kitab ini.’

Ya, siapalah kita yang berani meminta tanda kecil seperti itu kepada zat yang telah menciptakan alam semesta berisi tujuh langit, yang masing-masing langitnya terdiri dari miliaran bahkan triliunan bintang. Bukankah Nabi Musa pernah sampai pingsan ketika di gurun Sinai ia meminta tuhan menampakkan dirinya, tetapi yang ada kemudian malah gunung-gunung hancur dan terjadi gempa besar, karena tuhan memang terlalu ‘besar’ untuk ditampung oleh planet bumi yang bagiNya hanya sebesar debu atau atom.

Kembali lagi ke keyakinan masing-masing, sih. Lagi-lagi, saya cuma bisa bilang kalau tuhan memberikan hidayah kepada siapa yang Dia kehendaki. Hidayah itu mahal, man. Dan kitalah yang butuh, bukan tuhan. Kita tidak bisa memaksa tuhan untuk menunjukkan tanda-tanda kekuasaannya secara langsung, gamblang dan tegas seperti halnya kisah pasukan gajah Abrahah yang diserbu burung Ababil, atau zaman-zaman nabi dan rasul dahulu ketika mukjizat tuhan memang diturunkan secara kasat mata. Kita kini hidup di zaman yang berbeda, kawan. Dan saya rasa, tidak ada tempat mencari hidayah yang lebih baik daripada rajin 'membaca'. 

Bukankah perintah tuhan yang pertama adalah "Baca. Bacalah dengan nama TuhanMu."