Selasa, 11 Juli 2017

Memaknai Sharpen the Saw Melalui Hiatus

Teman-teman tentu tahu tentang cerita berjudul Sharpen the Saw, salah satu dari cerita yang menjadi isi dari buku pengembangan manajerial ternama berjudul 7 Habits of Highly Effective People karya Stephen Covey yang legendaris itu.

Sharpen the Saw, atau jika diterjemahkan bebas menjadi Mengasah Gergaji, menjadi habit atau kebiasaan nomor tujuh yang direkomendasikan penulis untuk menjadi orang (pemimpin) yang efektif. Tolok ukur efektif sendiri sudah jelas, yaitu orang ini mampu mengerjakan tugas demi tugasnya dengan cerdas, dengan memanfaatkan seluruh sumber daya serta teknologi yang dimiliki, dan yang karena itulah upaya yang dilakukannya lebih minim. Seringkali kualitas pimpinan dinilai dari seberapa efektif ia menyelesaikan tugas (kualitas), dan seberapa banyak yang mampu ia selesaikan (kuantitas).

Diletakkannya Sharpen the Saw di urutan terakhir bisa berarti macam-macam. Saya sih belum pernah membaca lengkap buku itu, belum pernah juga mengikuti pelatihannya. Tapi kalo saya tebak-tebak, bisa jadi karena kegiatan ‘mengasah gerjaji’ ini adalah sesuatu yang perlu dilakukan setelah membiasakan diri pada enam habits sebelumnya, yaitu be proactive, begin with end in mind, put first thing first, think win-win, seek first to understand then to be understood, dan synergize.

Keenam habits itu perlu dipertahankan, diperkuat, dipertajam. Ini memerlukan habits ketujuh, yaitu sharpen the saw tadi.

Kalau boleh saya ceritain secara singkat, ceritanya pada suatu malam, ada dua orang, satu masih muda dan yang lain sudah agak tua. Mereka sedang berlomba memotong pohon. Siapa yang lebih banyak memotong pohon ketika pagi tiba, dia yang menang.

Si muda tentu memiliki tenaga lebih besar. Tanpa banyak basa-basi, dia mulai memotong pohon dengan gergajinya. Satu demi satu pohon berjatuhan. Ia di atas angin. Sementara yang agak tua, ia juga memotong pohon dengan gergajinya. Tapi karena tenaganya kalah kuat, hasilnya tentu lebih sedikit daripada si muda.

Melihat hal itu, si anak muda makin percaya diri. Ia terus melakukan apa yang ia lakukan: memotong pohon tanpa henti, meski kecepatannya mulai menurun karena ia mulai kelelahan dan gergajinya mulai aus. 

Apa yang dilakukan oleh si agak tua? Ia berhenti sejenak. Si anak muda pun bingung dibuatnya, tapi ia malah tertawa dan terus memotong. Ia malah merasa saingannya itu sudah menyerah. Tapi ternyata, si pria agak tua itu sedang berhenti untuk beristirahat, lalu mengasah gergajinya. Setelah cukup beristirahat dan gergajinya berfungsi normal, ia kembali memotong pohon.

Beberapa jam kemudian, ternyata si pria muda tertidur saking lelahnya. Gergajinya juga sudah tumpul, akibatnya tidak bisa digunakan untuk memotong pohon. Sementara pria yang agak tua tadi masih sibuk menggergaji. Tenaganya masih ada, dan kondisi gergajinya tetap prima. Semua itu karena ia rajin mengasah, juga memberi waktu dirinya sendiri untuk beristirahat.

Kenapa sharpen the saw demikian pentingnya. Karena tidak lain, kita terkadang merasa lupa untuk mengembangkan diri. Sharpen the saw adalah manifestasi dari banyak hal rutin yang biasa kita temui sehari-hari. Hal-hal biasa yang sudah kita pahami, tapi karena rutinitas yang terlalu padat, kita kadang lupa lakukan pengembangan. Misalnya saja, kita berprofesi sebagai akuntan. Setiap hari kita akan menghadapi rutinitas akuntansi yang itu-itu saja. Jika kita tidak mengasah diri, misalnya mengikuti training, maka boleh jadi kemampuan kita tidak terasah, dan lama-lama menjadi tumpul.

Itu kalau akuntan. Lain lagi dengan profesi yang lebih mengandalkan otak kanan seperti pemain teater, musisi atau penulis. Memang pekerjaan-pekerjaan itu butuh latihan, belajar, dan berguru yang kontinyu demi meningkatkan kualitas. Tapi kalo dari pengalaman saya, ada hal yang tidak kalah penting selain terus berlatih, belajar dan berguru. Hal penting ini adalah beristirahat, seperti si penggergaji tadi. Atau istilah lainnya: hiatus.

Hiatus berarti mengerem sejenak. Bahkan untuk beberapa contoh, berhenti sempurna. Parkir. Pokoknya, ‘menghilang’ dulu. Mengistirahatkan otak kanan. Karena menggunakan otak kanan jelas berbeda dengan otak kiri. Jika otak kiri yang rasional akan senang-senang saja untuk mengerjakan yang rutin, otak kanan tentu berbeda. Untuk mendapatkan hasil yang lebih baik, otak kanan perlu diberi waktu istirahat yang cukup, dan berapa lamanya, tergantung masing-masing orang.

Salah seorang teman saya yang hobi menulis pernah mengalami hiatus ini selama beberapa bulan. Namun kemudian setelah ia ‘kembali’, langsung menghasilkan karya berupa buku. Begitu juga teman saya yang lain. Ketika aktivitas menulis membuatnya lelah, ia lantas berhenti. Tidak tanggung-tanggung, ia baru mulai menulis lagi setelah dua tahun! Ada lagi teman saya berikutnya. Dulunya ia cukup rutin menulis, tetapi kemudian ia mengalami kejenuhan luar biasa yang membuatnya ‘menepi’. Tapi setelah sekian lama, lebih dari dua tahun, ia tidak lagi menulis. Belakangan, saya baru tahu kalau ia berganti hobi, yaitu memotret. Kalau yang ini sih namanya bukan ‘mengasah gergaji’, tapi memang sudah bosan.

Saya toh merasakan juga pentingnya hiatus ini dalam beberapa hal. Bahkan untuk hal-hal yang di luar dari pekerjaan seniman. Ketika bekerja di kantor misalnya, diberikan jatah cuti. Gunanya jelas untuk menyegarkan pikiran dan menghilangkan penat. Tapi kok penat saya gak hilang-hilang walaupun sudah cuti?


Hmm… Oke itu adalah masalah saya yang tak kunjung terpecahkan, tapi untuk saat ini saya tidak ingin bicarakan.

Selasa, 04 Juli 2017

Grup Whatsapp Yang Semestinya Bermanfaat

Apakah bunyi-bunyi dan notifikasi yang paling menyita waktu orang-orang jaman sekarang? Saya berani nebak bahwa bunyi-bunyian itu berasal dari ponsel pintar milik mereka. Dari ponsel pintar itu, notifikasi yang timbul itu kebanyakan berasal dari aplikasi percakapan yang amat umum digunakan, yaitu Whatsapp. Lalu jika dipersempit lagi, panggilan chat itu lebih sering datang dari percakapan grup.

Ya, grup Whatsapp yang begitu fenomenal.

Fasilitas percakapan grup yang dibuat oleh aplikasi Whatsapp sebetulnya bukanlah ide yang baru. Berhubung sedang malas meneliti dan tidak ada signifikansi akademis atau signifikansi praktis dari postingan ini, maka saya akan mencoba berasumsi berdasarkan ingatan saja. Sebelum grup Whatsapp, pengguna ponsel cerdas diramaikan oleh grup Blackberry Messenger. Sebelum era ponsel cerdas, percakapan grup dimulai dari era mailing list (milis) yang disediakan oleh pemilik layanan email atau dengan email berantai.

Seiring pesatnya perkembangan ponsel pintar, kebiasaan menggunakan milis praktis ditinggalkan. Kini orang beralih ke percakapan grup lewat aplikasi chat messenger. Matinya milis barangkali senasib dengan senjakala layanan wartel yang tergerus oleh keberadaan telepon seluler atau ojek pangkalan yang tersapu ojek daring.

Whatsapp nampaknya masih yang terdepan dalam penyediaan aplikasi chat ini. Lagi-lagi saya sedang malas meneliti seberapa banyak pengguna layanan ini, tapi dari orang-orang pemilik ponsel cerdas yang saya temui, rasanya amat jarang yang tidak memasang aplikasi berwarna dominan hijau ini di ponsel cerdasnya, kecuali memang ia seorang agen rahasia yang identitasnya tidak boleh diketahui, atau ia seorang anti-sosial yang tidak punya teman sama sekali. Dan mereka yang punya aplikasi Whatsapp, hampir pasti tergabung dalam grup.

Konsekuensinya, kebanyakan dari kita akan memiliki banyak sekali grup Whatsapp. Malah kebanyakan grup yang ada di ponsel kita adalah hasil penarikan secara paksa. Kita yang tidak tahu apa-apa, tahu-tahu sudah ada di grup itu. Ada grup yang sifatnya serius seperti grup proyek dan grup pekerjaan, ada yang penuh basa-basi seperti grup keluarga besar, ada grup informatif seperti grup tetangga rumah dan grup sekolah anak. 

Lalu dengan derajat formalitas yang menurun, ada grup alumni sekolah, grup teman kantor lama, grup hobi atau grup komunitas. Ada pula grup yang mulai tidak formal seperti grup teman nongkrong, grup teman ngerokok, grup teman main PS, atau bahkan ada pula ‘grup di dalam grup’ alias beberapa orang dari grup besar yang sengaja membuat grup yang lebih kecil agar ngobrol lebih bebas, atau dengan tujuan bisa ngegosipin orang lain yang ada di grup besar. Sampai pada tingkat tertentu, ada pula grup-grup yang dibentuk untuk tujuan sementara seperti grup kepanitiaan atau grup acara tertentu.

Tentu semua grup ini punya tujuan masing-masing. Semua tergantung kesepakatan di awal. Tapi sebetulnya, melihat siapa orang-orang yang tergabung, semestinya kita sudah paham bahwa ada banyak ‘peraturan tidak tertulis’ yang berlaku terutama di grup-grup besar. Dalam grup besar, masa iya sih elo gak paham kalau di situ ada macam-macam orang dengan macam-macam tingkat pendidikan, keadaan ekonomi yang berbeda-beda, pandangan politik yang tidak seragam, bahkan preferensi merek sepeda motor yang belum tentu sama. Kita tentu harus paham konsekuensi memposting sesuatu di grup itu. Kalau bisa sih kita gak perlu lah posting gambar atau jokes tidak pantas, atau berdebat tanpa ujung yang malah jadi tontonan orang.

Bagaimanapun, manusia adalah makhluk kompleks. Sekalipun dia adalah teman lama jaman sekolahan, tidak ada yang tahu bahwa ia sudah berubah. Jika dulu dia mau saja dicela-cela, atau dipanggil dengan nama panggilan aneh, sekarang bisa saja dia berubah. Karena sudah jadi bos dan sehari-hari biasa dihormati orang, belum tentu ia berlapang dada dipanggil lagi dengan nama aib itu ketika bertemu lagi dengan teman-teman sekolahnya. Selain itu, kita mesti paham bahwa setiap orang punya cerita hidup masing-masing, karena itu kita gak bisa menempatkan standar kita kepada orang lain. Misalnya aja, kita lempar jokes yang kemudian bikin orang tersinggung, terus kitanya malah gak terima dan bilang "Jadi orang sensi banget!", padahal yang harusnya kita kendalikan adalah omongan kita, bukannya reaksi orang lain atas omongan kita. Karena itu dalam percakapan grup, empati adalah hal yang penting. Malahan dalam grup besar, sepertinya lebih baik menjadi silent reader dan berkomentar seperlunya.

Saya sering banget nemu beberapa orang yang gontok-gontokan di grup Whatsapp, padahal ketemu aja jarang, dan kenal deket juga enggak. Mending sih gontok-gontokan karena apa, lha ini berantem gara-gara salah satu komentarin sebuah gambar yang ia rasa gak sesuai dengan pendapatnya. Masing-masing lalu memaksakan pendapatnya dengan teorinya, dan gak ada yang mau kalah. Bahkan ada grup yang saya ikuti (percaya atau enggak), ada yang meributkan tentang kualitas ponsel merek A dengan kualitas ponsel merek B! Dan sejenisnya.

Grup yang awalnya bertujuan untuk menjaga silaturahmi, mengadakan reuni, yang ada malah pada sensi, baper, dan pada leave group. Reuni pun gak jadi-jadi.

Padahal seandainya aja kita mampu menahan ego dan kecenderungan untuk mengomentari segala sesuatu biar kelihatan pintar, grup Whatsapp bisa bermanfaat banget. Selain menyambung silaturahmi, adanya grup juga memudahkan penyebaran informasi penting, bisa juga menggalang dana bantuan dengan lebih cepat kalau-kalau ada yang butuh. Grup Whatsapp juga pastinya bisa membuka peluang-peluang bisnis, peluang kerja, atau apa saja yang berguna.

Yang jelas, sulit sekali bagi kita untuk keluar dari grup Whatsapp yang sudah kadung tidak membuat nyaman itu. Seperti lirik lagu Hotel California, “You can check out anytime you like, but you can never leave.” Alhasil, entah berapa banyak grup berisi sampah-sampah digital tidak berguna yang terpaksa kita aktifkan fitur silent atau mute.


Senin, 03 Juli 2017

Hidayah Memang Mahal

Libur panjang lebaran tidaklah membuat saya sibuk-sibuk amat. Sepadat-padat agenda jalan-jalan ke mall demi memuaskan lidah dengan makanan enak yang tidak terlalu berfaedah, saya biasanya sudah sampai di rumah sebelum magrib. Pulang malam paling hanya sesekali. Karena itulah saya jadi punya banyak waktu untuk melakukan hobi saya yang lain, yaitu berselancar di sebuah situsweb pembagi video. Dari tautan-tautan yang tersedia, siapa sangka terbuka banyak sekali kemungkinan.

Ketika mengikuti salah satu tautan, saya pun sampai di sebuah video yang menampilkan sebuah testimoni dari seseorang. Testimoni ini berupa alasan ia meninggalkan keyakinan yang selama ini ia anut untuk pindah ke keyakinan baru. Sang pemberi testimoni pun mengatakan dengan gamblang tentang alasannya berpindah keyakinan.

“Awalnya tidak sengaja. Saya adalah penganut taat dari agama lama saya. Namun tiba-tiba seorang teman tidak sengaja meninggalkan kitab sucinya di rumah saya. Saya pun membacanya, dan tiba-tiba timbul kegusaran dalam hati. Inikah yang sebetulnya saya cari? Saya lalu berdoa pada tuhan saya yang lama, tapi ternyata hati saya sudah tertambat ke tuhan yang baru. Dan saya pun meminta kepada tuhan yang baru untuk memberi saya tanda jika memang Dia adalah tuhan. Eh gak taunya tidak berapa lama kemudian, ia menampakkan wujudnya kepada saya. Mantaplah saya untuk berpindah.” Kurang lebih begitulah kata-katanya. Dan saya yakin, kita pernah mendengar cerita-cerita sejenis.

Well well well..

Saya tidak mau menghakimi sih, dan setiap orang memang memiliki cara masing-masing untuk menemukan tuhan. Tapi ingat, tuhan adalah maha pembalik hati manusia. Tuhan juga yang menentukan siapa yang ia beri petunjuk. Dan petunjuk itu sebetulnya sudah ada di mana-mana. Sudah tertulis di kitab suci dengan banyak ayat yang menjadi referensi. Coba saja cari ‘tanda-tanda kekuasaan Tuhan’, maka di kitab suci, Anda akan menemukan fenomena siang dan malam, matahari, makhluk hidup, dan lain-lain. Petunjuk-petunjuk itu adalah hal yang amat besar, dan sudah sepatutnya kita meyakini bahwa hal-hal sebesar dan serapi itu selayaknya memang diatur oleh zat yang jauuuuhhh lebih besar daripada manusia.

Siapalah kita yang dengan lancang meminta ‘tanda’ kepada tuhan, apalagi kemudian kita percaya pada mimpi atau penampakan-penampakan surealis yang asalnya bisa saja bukan dari tuhan langsung, tetapi dari salah satu makhlukNya yang menyamar. Sementara, sekali lagi, tanda-tanda kekuasaan tuhan sudah ditunjukkan sejak lama, kita hanya tinggal membaca. Matahari, bintang, bulan, tata surya. Yang diperlukan hanyalah kita rajin membaca. Itu saja.

Mohon maaf, tapi hati saya tidak bisa tersentuh dengan kisah perpindahan keyakinan melalui hal-hal semacam ini. Meskipun hal ini memang kembali kepada masing-masing orang.

Lalu kemudian saya melihat kisah kesaksian orang lain, dan ia menceritakan kisah yang sebaliknya. Ia menceritakan bahwa ia sebelumnya dibesarkan dengan cara atheis oleh orang tuanya. ‘Ketika kamu mati, semuanya sudah selesai. Akhirat atau apalah itu, hanya omong kosong.’ Demikian doktrin yang diinternalisasi secara masif ke kepalanya. Dan selama beberapa lama, hal itu berhasil.

Tapi sekali lagi, tuhan memang memberikan petunjuk kepada siapa yang dikehendakiNya. Lewat sebuah kegelisahan, ia mulai melakukan pencarian. Hampir semua agama dipelajarinya, hampir semua ritual didatanginya. Lalu kemudian ia mulai mantap pada salah satu agama. Tapi kemudian ia merasa membutuhkan sedikit lagi dorongan untuk makin memantapkan hati.

Lalu kemudian, ia berdoa, seperti doa dari orang dalam cerita pertama di atas. ‘tuhan, berilah tanda kepada saya. Jika memang Engkau memang benar tuhan, berilah tanda apa saja. Kau kan mampu melakukan apa saja. Maka ayolah robohkan setengah rumah saya, atau bahkan tiupkan angin. Apa saja.’ Demikian pintanya, setengah memaksa.

Adakah tuhan memberikan tanda-tanda semacam itu? Tidak. Ia mengaku, tidak ada yang terjadi sama sekali. Suasana malam tetap hening, angin bertiup malas seperti biasa, langit pun tidak menunjukkan meteor atau bintang jatuh, atau semacamnya. Kecewa, ia kembali berdoa. Tapi kemudian hasilnya sama saja. Nihil. Tidak ada tanda atau penampakan. Juga tidak ada mimpi atau bisikan atau apalah itu.

Hari-hari pun berlalu, lalu hidayah kemudian datang dalam bentuk lain di saat iblis bisa saja mempengaruhi hatinya untuk kembali ke keadaan tak bertuhan. Ia terdorong untuk membaca lagi kitab suci agama itu, lalu kemudian ia menemukan ayat yang berisi ‘tanda-tanda kekuasaan’ dimaksud. Hasilnya, ia menemukan tanda-tanda tadi, berupa siang-malam, matahari, bintang, makhluk-makhluk. Lalu ia menangis. ‘Ternyata inilah yang saya cari. Inilah tanda-tandanya. Sudah jelas ada di sini. Di kitab ini.’

Ya, siapalah kita yang berani meminta tanda kecil seperti itu kepada zat yang telah menciptakan alam semesta berisi tujuh langit, yang masing-masing langitnya terdiri dari miliaran bahkan triliunan bintang. Bukankah Nabi Musa pernah sampai pingsan ketika di gurun Sinai ia meminta tuhan menampakkan dirinya, tetapi yang ada kemudian malah gunung-gunung hancur dan terjadi gempa besar, karena tuhan memang terlalu ‘besar’ untuk ditampung oleh planet bumi yang bagiNya hanya sebesar debu atau atom.

Kembali lagi ke keyakinan masing-masing, sih. Lagi-lagi, saya cuma bisa bilang kalau tuhan memberikan hidayah kepada siapa yang Dia kehendaki. Hidayah itu mahal, man. Dan kitalah yang butuh, bukan tuhan. Kita tidak bisa memaksa tuhan untuk menunjukkan tanda-tanda kekuasaannya secara langsung, gamblang dan tegas seperti halnya kisah pasukan gajah Abrahah yang diserbu burung Ababil, atau zaman-zaman nabi dan rasul dahulu ketika mukjizat tuhan memang diturunkan secara kasat mata. Kita kini hidup di zaman yang berbeda, kawan. Dan saya rasa, tidak ada tempat mencari hidayah yang lebih baik daripada rajin 'membaca'. 

Bukankah perintah tuhan yang pertama adalah "Baca. Bacalah dengan nama TuhanMu."


Minggu, 18 Juni 2017

Cinta Monyet

“Dit, gue punya uang tiga ratus ribu rupiah nih. Menurut lo, mendingan gue pakai buat beli sepatu baru atau konsol game baru?” Tanya seorang teman saya saat masih duduk di bangku SMP, yang tentu saja jawaban saya kepadanya adalah konsol game baru. Tetapi beberapa hari kemudian, teman saya itu kembali menghampiri saya hanya untuk menunjukkan sepatu basket barunya yang begitu mentereng. Bermerek Fila, buatan Italia, yang menurut dia sih asli punya.

Ketika saya tanyakan alasannya, jawaban yang keluar dari mulut polosnya sungguh sederhana. “Kalo gue pakai sepatu kayak begini (sambil mengangkat sepatu ke dengkul), cewek-cewek pasti bakal merhatiin,” ujarnya sambil cengengesan dan berlalu meninggalkan saya yang melongo.

“Kalo begitu caranya, sales clerk sepatu pasti pacaranya banyak dong,” ujar saya dalam hati.

Lain lagi dengan cerita teman saya yang lain. Ia baru saja jadian dengan salah satu cewek yang terkategorikan “kembang sekolah”. Karena itulah anak kecil ini bangganya bukan main, padahal seragam celana pendek biru tuanya masih tidak mampu menyembunyikan koreng-korengan di dengkulnya, dan ketika belajar merokok, nafasnya masih terbatuk-batuk.

Kami biasa bermain sepak bola pada hari Sabtu siang sepulang sekolah. Teman saya itu biasanya rajin bermain bola, tapi gara-gara pacaran melulu, ia jadi sering tidak main. Karena kesal, saya memberinya peringatan sederhana yang kalau didengar sekarang amat nyinyir. “Elu pilih sepak bola atau cewek?”

Dan beberapa kisah lainnya yang sejenis, saya pernah alami kepada teman-teman saya. Ada pula teman saya yang melewatkan jadwal latihan band karena harus mengantarkan pacarnya pulang naik angkot. Padahal yang namanya menyewa studio, tentu saja tidak boleh datang telat, karena “argo sewa” akan terus berjalan dan si mas nyinyir penjaga studio berusia 30an yang selalu meledek kemampuan bermusik pas-pasan anak sekolah seperti kami tidak akan memberi toleransi keterlambatan. Pelanggaran akan komitmen-komitmen kecil seperti inilah yang membuat saya kesal terhadap mereka, dan seringnya saya mengambil “tindakan tegas”. Akibatnya, saya pun beberapa kali berurusan dengan cemberutnya pacarnya teman pada saya.

Saya betul-betul tumbuh menjadi seorang remaja yang begitu berseberangan terhadap yang namanya “cinta monyet”. Ya, memang sulit bagi saya untuk tidak bersikap sinis terhadap cinta monyet yang tak beralasan itu, di mana menurut teori teman saya yang beli sepatu Fila tadi, cewek-cewek bisa saja naksir cowok hanya karena melihat sepatu barunya. Atau kisah lain yang pernah teman saya yang lain alami, ia bisa naksir cowok hanya karena sisiran rambut belah tengahnya yang terbentuk sempurna layaknya para ikon rambut belah tengah 90an macam Nick Carter, Andy Lau, personel Patrio atau vokalis band Stinky pada era itu.

Saya sih bukannya dulu gak pernah naksir cewek, tapi karena dulu saya begitu kaku ketika ngobrol dengan gebetan, maka saya tidak berkesempatan merasakan cinta monyet itu. Dengan kata lain, saya ini amat katrok ketika berinteraksi dengan perempuan, apalagi gebetan. Ya terang saja dulu saya gak pernah punya pacar pas jaman sekolah. Tapi buat saya, ini bukanlah aib karena toh saya selalu merasa aman dan nyaman saja ketika mendatangi reuni sekolah tidak seperti beberapa teman yang dulu pacar (plus aibnya) banyak.

Tapi memang urusan cinta monyet ini bisa menimbulkan efek luar biasa. Seorang teman yang lain pernah sampai batal menonton konser Yngwie Malmsteen di kotanya hanya karena pacarnya ngambek, dan karena hal itu ia seperti menyesali keputusannya di kemudian hari. Dan teman saya yang lain pernah sampai merusak helm motor saya gara-gara ia pinjam untuk kencan dengan gebetannya. Entah kencan ekstrim macam apa yang mereka lakukan, dan sejak saat itu hubungan pertemanan saya dengan dia pun merenggang. Cinta monyet, biarpun terlihat sepele ternyata bisa membutakan.

Alangkah mengejutkannya, perilaku tak beralasan ala cinta monyet masih saja berlanjut bahkan ketika seseorang beranjak dewasa. Cukup banyak teman saya yang saya dengar mau saja diajak piknik keluar kota berduaan dengan orang yang belum ada ikatan pernikahan (mungkin butuh tempat curhat yang private dan jauh dari keramaian), padahal ujung-ujungnya kisah percintaannya kandas, dan akibatnya ia mengalami patah hati yang cukup mendalam. Ini mungkin akan menjadi opini tidak populer, tapi yang ada di benak saya, apa bedanya perilaku seperti ini dengan cinta monyet dalam versi dewasa? Kita juga pastinya sering mendengar cerita-cerita percintaan lain yang memang tidak masuk akal dan terlalu dipaksakan, juga terlalu banyak yang dikorbankan.

Cinta memang seharusnya pakai logika, tapi ternyata mengedepankan logika akan membuat cinta jadi hambar. Apakah akan terdengar seperti cinta jika kita belum apa-apa sudah menilai orang berdasarkan kendaraan yang ditunggangi atau ponsel pintar yang digunakan? Apakah kita harus mau saja dijodohkan dengan orang yang bahkan untuk diajak ngobrol saja tidak membuat nyaman? Apakah kita harus bersama orang yang hanya memanfaatkan dan tidak pernah ada buat kita? Lalu, apakah cinta harus “dibelokkan” begitu saja karena sejak awal berbeda prinsip tanpa dicoba jalani dulu?

Pada akhirnya, cinta monyet memang berbeda dengan cinta yang dewasa. Orang yang sudah dewasa tentu tidak menilai orang lain dari sepatu yang dikenakan. Ia akan melihat visinya ke depan yang tercermin dari derap-derap langkah yang dijalaninya sehari-hari, terlepas dari alas kaki yang dipakainya. Kita juga tidak lagi menilai orang lain dari sisiran rambutnya—karena anak-anak sekarang tidak hanya butuh sisir, tapi butuh pula pomade yang banyak--, tapi yang lebih penting adalah melihat bagian tubuh yang berada 3-5 cm di bawah sisiran rambut, yaitu isi otaknya. 

Bukan.. Bukan maksud saya mendewakan otak lho ya. Karena buat apa otak pintar tapi dipakai merendahkan orang lain, meledek para ahli agama, menyebarkan status kebencian di media sosial, dan menghina karya-karya orang lain. Tapi lebih kepada bagaimana ia menggunakan isi kepalanya itu agar kisah percintaan yang harusnya dijalani dengan penuh kedewasaan ini tidak lebih dari “cinta monyet dalam versi dewasa”. Dengan kata lain, percintaan tak berguna buang-buang waktu yang mengedepankan nafsu yang dibungkus cinta oleh mulut-mulut gombal, rayuan-rayuan murahan dan janji-janji yang ujung-ujungnya palsu.

Rabu, 31 Mei 2017

Makna Bukber

Saya ini, saking suka kurang kerjaannya, suka ngelamun ingetin masa yang udah lewat. Terutama momen-momen masa kecil saat masih belom mikirin hal-hal berat macam inflasi atau tagihan kartu setan kredit. Dan setelah berusaha mengingat lebih keras, ternyata masa-masa menyenangkan itu sebagian besar ada di bulan ramadhan.

Buat anak-anak, bulan ramadhan itu memang bulan liburan. Menggeser rutinitas dari yang biasanya terlalu berat ke sekolah menjadi rutinitas yang berpusat di mushola atau masjid. Atau pesantren kilat. Tapi, baik mushola, masjid atau pesantren kilat itu tidak jauh berbeda dengan liburan. Gak ada beban, gak ada ketakutan atau rasa stres seperti halnya di sekolah, pas masih ketemu sama orang-orang yang sangat peduli sama nilai raport dan menghakimi si raport jelek dengan mengatakan "Nilai lo jelek-jelek gitu, udah gede mau jadi apa?"

Waktu saya masih kecil, dan ketika memasuki bulan ramadhan, saya suka menginap beberapa hari di rumah nenek. Bukan rumah nenek di desa seperti judul pelajaran mengarang anak-anak SD yang begitu sih, karena rumah nenek saya pada waktu itu letaknya hanya kurang dari 40 km kalau dari Jakarta. Di rumah nenek, saya punya sekelompok teman bermain. Sebagian ada yang memang tinggal di sana, sebagian lagi yang seperti saya, yaitu menginap di rumah neneknya.

Bersama teman-teman itu, saya mengisi ramadhan dengan seru. Pagi-pagi buta setelah sahur dan sholat subuh, kami pergi ke tanah lapang dekat rumah. Untuk bermain sepak bola! Ya, main bola subuh-subuh kayak begitu ternyata sangat menyenangkan. Matahari masih belum terbit, sehingga cuaca sangat sejuk. Saat baru mulai bermain, langit masih gelap, lalu berangsur terang seiring terbitnya matahari. Saat matahari terbit itulah kami membubarkan diri. Walaupun tenggorokan jadi kering dan rasa haus tak terhindarkan, tapi kami gak peduli. Sesudah main bola, kami biasanya melanjutkan tidur sampai siang.

Karena bulan puasa, nggak afdhal dong kalau gak pergi ke masjid. Makanya itu, saya biasanya pergi ke masjid untuk mengikuti shalat berjamaah. Shalat dzuhur, saat lagi haus-hausnya, anak-anak kecil memang senang sekali berlama-lama ambil air wudhu, padahal biasanya sih terburu-buru. Kalau air keran itu tertelan sedikit, ya namanya rejeki.

Yang lebih asik lagi adalah saat waktu ashar, karena ba'da ashar, kami akan kembali ke lapangan untuk bermain sepak bola. Ngabuburit. Kalau anak-anak sekarang ngabuburitnya naik motor bertiga atau berempat dengan norak dan rusuh, untungnya jaman kami cukup main bola aja. Dengan sisa-sisa tenaga yang masih ada, kami mengejar bola dan bertanding melawan kampung sebelah. Kalau ada benturan-benturan khas main bola, kami sebagai anak kecil yang patuh dan takut sama ustadz, saling mengingatkan dan menahan diri untuk tidak marah. "Jangan berantem, ini lagi puasa."

Ada satu anak kampung sebelah yang resek-nya bukan main. Dia sering mengolok-olok saya tanpa tujuan jelas. Di pikiran saya timbul niat jahil. Saat ia menjadi kiper, saya begitu bernafsu membawa bola ke arahnya. Anak itu masih sempat saja pongah dengan bilang "Tenang aja, dia gak bisa nendang kenceng, apalagi pakai kaki kiri." Saya terang saja terbahak-bahak dalam hati. Dia tidak tahu bahwa kaki kiri adalah kaki favorit saya untuk menendang dengan keras, sementara kaki kanan lebih saya andalkan untuk mengumpan. Ketika posisi sudah dekat dengannya, saya pun menendang bola sekuat tenaga... Dan sukses mengenai muka anak malang itu. Dia kesakitan. Mohon maaf, saya memang sengaja mengincar mukanya, bukannya gawang. Duh, jahat bener. Untung lidahnya gak tertelan.

Kegiatan pun berlanjut dengan buka puasa dan tarawih. Ketika waktunya berbuka, ya namanya anak kecil, kan pasti berebutan. Tapi ada salah satu teman yang memang anaknya agak giras kalo soal makanan. Dia mengambil terus makanan-makanan kecil yang disumbangkan warga itu untuk dirinya sendiri, bahkan dia hendak membungkusnya untuk dibawa pulang. Saat dia ditegur oleh anak yang lebih tua, baru deh dia ketakutan, lalu pulang dengan hati dongkol dan perasaan sedih. 

Lalu saat memasuki tarawih, biasalah, yang namanya anak kecil pasti ribut dan bercanda. Ada yang menendang pantat teman di depannya saat rukuk, ada yang tengok kanan kiri pasang wajah lucu, ada yang menaruh kotak amal di tangan temannya yang sedang khusyuk berdoa sampai merem-merem. Macam-macam deh. Dan setelah shalat selesai, kami serentak bubar secepat kilat sebelum ada bapak-bapak galak yang siap menjeweri kuping kami satu persatu. Besoknya, si bapak udah standby duduk di barisan anak-anak untuk memastikan keributan serupa tidak terjadi.

Okelah, keributan tidak terjadi di masjid. Sebagai gantinya, kami pindah ke luar masjid. Kain sarung kami buntal menjadi serupa godam. Kalau kena pukul, lumayan sakit. Atau kalau gak model godam, kami pakai seperti biasa untuk dijadikan selepet atau ninja-ninja-an. Tapi, perang sarung ini sangat menyenangkan. Daripada perang petasan atau tawuran di acara Sahur on The Road ala anak-anak jaman sekarang?

Main bola, perang sarung, bercanda. Ya begitulah bulan ramadhan menyenangkan itu, yang kemudian berlalu ke Idul Fitri, di mana kami menunggu angpau dari saudara-saudara yang lebih tua. Pakai baju baru, dan berkumpul kembali di rumah nenek. Saat berkumpul dengan saudara, keributan-keributan pun masih ada, hanya saja berbeda bentuknya. Keributan yang baru usai kalau ada yang nangis, atau ada barang yang pecah.

Kini setelah sudah dewasa, kami mengisi bulan ramadhan sudah lebih serius. Tidak bercanda lagi seperti jaman anak-anak. Ibadah ditingkatkan dan diseriuskan. Ajakan buka puasa bersama pun berdatangan, tetapi sebagian teman agak malas karena amat banyak kesulitannya. Jalan yang macet, ribet kalau mau shalat maghrib, ketinggalan tarawih berjamaah, dan pulang ke rumah dengan perut yang sudah terlalu kenyang dan mata yang sudah mengantuk. Bikin malas tarawih, akhirnya bablas tidur sampai sahur.

Apakah bukber selalu seperti itu? Ya, hampir selalu seperti itu. Itulah sebabnya tahun ini saya agak malas mengajak bukber, kecuali dengan teman-teman yang memang sudah jarang ketemu. Setelah tahun lalu saya berhasil berbuka puasa bersama dengan teman-teman dari seluruh jenjang sekolah, juga dengan tetangga rumah dan teman-teman kantor, saya sih sekarang ini mau pasif saja. Kalau memang ada acara itu, ya saya datangi, kalau tidak ada, ya saya tidak akan menginisiasi seperti biasa. 

Karena bagi generasi Y, atau baby boomers seperti saya yang kini sudah terlalu larut dalam pekerjaan, bertemu teman lama sangat menyenangkan. Dan makna dari bukber adalah sekalian reunian. Kalau asik, kali aja bisa berlanjut ke kegiatan-kegiatan lain. Kalau ternyata garing dan gak asik, ya setidaknya kita sudah gak lagi penasaran.

Dan untuk tahun ini, saya kepengen ketemu dengan teman-teman dari rumah nenek saya itu. Saya tahu, kita semua sudah berpencar, dan rasanya sudah lebih dari sepuluh tahun tidak bertemu. Tapi, apa salahnya berharap? Suatu saat saya akan menghubungi kalian. Satu persatu.


Senin, 08 Mei 2017

Konser ‘Rutin’ Megadeth Yang Mencukupkan Saya

34 tahun silam, hidup David Scott Mustaine alias Dave Mustaine seperti neraka. Ia dipecat dari band Metallica ketika sedang hendak melakukan rekaman di New York. Lars Ulrich, pentolan Metallica mengirimnya pulang ke ujung barat Los Angeles berbekal sebuah tiket bus. Sesampainya di rumah orang tuanya, Dave pun tidak memiliki pekerjaan dan tidak memiliki teman. Namun semalam (7/5) di panggung Sonic dalam festival Hammersonic yang berlangsung di Ancol, Jakarta, Dave Mustaine bersama band Megadeth yang salah satu lagunya berjudul Dystopia yang baru saja memenangkan Grammy Awards untuk kategori Best Metal Performance, menyuguhkan performa yang betul-betul berkelas dunia, dan hidupnya telah melangkah begitu jauh meninggalkan keterpurukan itu.

Mungkin sudah banyak yang mengetahui bahwa Dave Mustaine merupakan salah satu manusia yang melahirkan genre Trash Metal. Ketika masih memperkuat band Metallica, Mustaine-lah yang menciptakan riff bagi band yang kemudian memecatnya itu. Dari permainannya itulah Metallica mendapatkan pola lagu, hingga waktu kemudian makin mendewasakan dan mengembangkan musikalitas mereka hingga menjadi band metal legendaris dengan kesuksesan komersial terbesar. Bahkan ketika Metallica mengeluarkan album perdana Kill ‘Em All, ada empat lagu bikinan Mustaine yang dimasukkan, yaitu The Four Horseman (awalnya berjudul Mechanix), Phantom Lord, Jump in the Fire dan Metal Militia. Tanpa campur tangan Mustaine di awal pembentukan, mustahil nama Metallica bisa sebesar sekarang.

Oke, kita sudahi saja haru biru rivalitas Mustaine dan Megadeth dengan Metallica, karena setelah kedua band ini pada akhirnya berhasil dengan caranya masing-masing, mereka telah mengubur segala permusuhan seperti layaknya pria-pria paruh baya yang menertawakan kebodohan masa muda saat mereka bertindak tanpa berpikir, atau mengambil keputusan tanpa memikirkan konsekuensi. Ya, seperti kita-kita ini yang masih gak malu ribut-ribut di grup whatsapp padahal ketemu aja jarang.

Konser Hammersonic merupakan konser metal di Indonesia yang memiliki konsep multi-band seperti konsep multi-band yang sudah terbiasa diselenggarakan di negara lain, seperti Loudpark di Jepang. Saya pun baru kali ini menghadiri Hammersonic hanya karena ingin menonton Megadeth. Jujur saja, saya tidak begitu familiar dengan band lain.
Megadeth menurut saya terus saja menelurkan album-album yang kualitasnya cukup stabil. Album Dystopia yang dirilis tahun 2016 memiliki materi yang amat mantap. Lagu-lagu seperti Fatal Illusion, The Threat is Real, Conquer or Die hingga Dystopia memiliki kualitas yang amat prima, namun dengan sound yang segar dan tetap gahar khas Megadeth. “Ketika ingin membentuk band ini, saya memang menginginkan band yang keras, cepat dan brutal,” ujar Mustaine.

Pada konser kemarin, Megadeth menampilkan permainan yang sudah menjadi seperti rutinitas saja bagi standar mereka sendiri. Tidak ada unsur kejutan, interaksi yang aktif dengan penonton, tidak ada lagu-lagu tidak biasa, juga tidak ada aksi panggung pengalih perhatian seperti memanfaatkan sarana multi media, koreografi dan sebagainya. Tidak seperti band-band lain yang jika boleh saya berkata sedikit sinis di sini, memanfaatkan teknologi atau aksi panggung atraktif untuk menutupi musikalitas yang ala kadarnya. 

Paling-paling hanya kemunculan Vic Rattlehead, maskot mereka saja yang sedikit memberikan kejutan. Sisanya, Dave Mustaine hanya meminta band untuk ‘meminum empat botol air dari empat botol yang disediakan’.

Namun memang begitulah konser metal. Dave seakan tidak terlalu ambil pusing dengan penonton yang sepertinya kurang berisik. “This is a heavy metal concert, you’re just need to be silent and be a nice crown,” ujarnya sarkastis sebelum menggeber intro lagu Tornado of Souls—yang mana ia jarinya sedikit ‘terpeleset’. Mungkin ia sendiri mengerti karena Megadeth baru tampil jam 11 malam, dan di antara penonton itu pastinya banyak yang sudah datang dari pagi atau siang hari. Atau mungkin Mustaine memang tidak peduli. Ia mencoba tidak terpengaruh dengan situasi penonton atau apa pun. Ia hanya menggeber konser sesuai dengan kebiasaan dan kesepakatan dengan pihak pemilik acara. Seperti seorang profesional yang melakukan tugasnya dengan lengkap dan proporsional.

Akan tetapi bukan berarti konser yang sudah ‘tipikal’ ini tidak ada seru-serunya. Mustaine terlihat biasa-biasa saja meski baru menang Grammy Awards, dan ia pun tidak serta merta mendominasi set list lagunya dengan lagu-lagu yang ada di album Dystopia. Ia malah banyak mengeluarkan lagu-lagu hit lawas yang tentu saja disukai para penonton yang rata-rata sudah berumur 30-40 tahunan, yang tidak henti-hentinya menengok ke jam tangan atau ponsel, khawatir istri dan anak mereka menunggui di rumah, atau teringat beberapa jam lagi sudah hari Senin di mana mereka harus menghadiri pertemuan atau melanjutkan pekerjaan di kantor, dan hanya bisa mendengarkan musik metal lewat perangkat headphone agar yang tidak mengerti suka musik metal tidak terganggu.

Dave Mustaine memang ambisius, dan karena itu ia amat perfeksionis dan profesional. Ia tidak segan mendepak anggota band yang di matanya sudah tidak lagi kompeten dan kehilangan fokus. “Karena tujuan saya adalah menyamai level permainan Metallica dan bahkan melebihi mereka, maka saya membutuhkan musisi-musisi yang bukan hanya jago, tetapi juga ambisius dan memiliki gaya yang sesuai dengan band,” ungkap Mustaine pada awal pembentukan Megadeth. Hal yang kemudian diamini oleh salah seorang teman konser yang sepertinya baru kali pertama menyaksikan sebuah konser metal. “Gila. Gitarnya ngeri,” ujarnya jujur mengomentari suguhan dua dewa gitar, Mustaine dan Kiko Loureiro yang memang menjadi nyawa dari lagu-lagu Megadeth yang tingkat kesulitannya menggabungkan skill tinggi jazz, petikan-petikan menghanyutkan gitar klasik, dan energi tak ada habisnya dari musisi punk.

Sepanjang konser, hal-hal yang sudah direncanakan itu terlihat jelas. Segalanya seperti sudah diatur, misalnya fase cooling down di lagu A Tout Le Monde atau perkenalan personel pada lagu Holy Wars.. The Punishment Due. Bagi saya, konser pun menjadi mudah ditebak alurnya, dengan susunan lagu yang kurang lebih sama dengan yang mereka mainkan di Singapura dan Malaysia, beberapa hari sebelumnya. 

Tetapi, bukan berarti konser ini tidak menyenangkan. Sebaliknya, konser ini merupakan konser terbaik yang pernah saya saksikan secara kualitas teknik maupun sound, dengan intensitas yang seperti tidak ada turun-turunnya sama sekali karena lagu yang dibawakan juga amat kencang, bagaikan menaiki roller coaster yang hanya memberikan sedikit saja masa tenang. Tingkat kesalahan pun amat minim, dan kalaupun terjadi lebih karena faktor umur Dave saja yang sudah di atas 50 tahun. Belum pernah saya merasa begitu puasnya ketika konser selesai, hingga kemudian saya merasa tidak ingin pergi menonton konser band lain lagi.

Jika kemudian saya insaf dan tidak lagi mendengarkan musik—apalagi musik metal—karena alasan-alasan non-duniawi atau apalah itu, saya toh sudah tidak lagi merasa ada ruang hampa, karena konser tadi malam memang telah mencukupkannya.

Minggu, 12 Maret 2017

Aku Mengikuti Gabriel Batistuta

"Aku tidak pernah menyukai sepak bola. Itu hanyalah pekerjaanku."

Itu adalah ucapan dari seorang bekas pesepak bola papan atas, bekas penyerang yang kemampuannya salah satu yang terhebat pada era 90an. Namanya Gabriel Omar Batistuta.

Lho, bagaimana mungkin seorang pemain hebat yang terlihat begitu total ketika bermain, tiba-tiba mengaku tidak menyukai sepak bola?

Ya, begitulah Batigol, julukan yang diberikan penonton kepadanya. Setiap orang, ternyata memiliki sisi lain dalam hidupnya, sisi yang tak pernah ia tunjukkan dalam keseharian.

Aku pun begitu.

Aku bekerja dari hari Senin hingga Jumat. Berangkat pagi hari, pulangnya kadang sampai larut malam. Dibayar cukup, karir pun tidak jelek. Dari pekerjaan ini aku bersyukur bisa menyambung hidup.

Tapi, aku menganggap ini hanya pekerjaan. Itu saja.

Aku juga kadang tidak nyaman dengan banyak hal seputaran pekerjaan ini. Aku benci politik kantor, aku juga tidak nyaman jika disuruh berdebat, padahal di pekerjaan ini, berdebat kadang diperlukan. Lebih lagi, aku juga tidak nyaman berkompetisi. Aku hanya melakukan pekerjaanku, membayar kepercayaan atasan-atasan, juga tidak mengecewakan mereka. Itu saja, cukup.

Aku paham betul dunia korporasi. Kita menjadi sekrup kecil di mesin besar, yang setiap saat bisa disingkirkan dan digantikan yang baru. Menjadi sekrup kecil seperti ini juga berarti bekerja sesuai fungsi. Ahli di bidang sesuai pekerjaan, tapi kadang berarti mengabaikan pengetahuan lain. Contohnya, pengetahuanku akan ibukota negara atau sejarah sepak bola tidak akan berguna di sini.

Tapi, aku senang mendengar cerita seperti Batistuta tadi. Tentang seseorang yang tidak mencintai pekerjaannya, namun tetap melakukannya dengan penuh totalitas dan menghasilkan pekerjaan yang berkualitas. Bagi para idealis, Batistuta boleh saja dicap oportunis. Tapi bagi saya, cerita hidup Batistuta yang tidak suka sepak bola namun mengakhiri karir sebagai pesepak bola sukses, sangat menginspirasi.

Batistuta menunjukkan kedewasaan. Ia mengalah dengan realita, demi kebaikan keluarganya. Bukankah seorang kepala keluarga harus memiliki jiwa seperti itu? Karena kebutuhan sandang pangan papan tidak dapat digantikan oleh kepuasan berkarya. Batistuta telah berbuat logis. Ia sadar, tidak semua orang bisa beruntung melakukan pekerjaan yang dicintai, sekaligus meraih kesuksesan materi. Kebanyakan orang, seperti halnya Batistuta, hanya bisa mendapatkan salah satunya saja.

Untuk saat ini, aku rasa meniru seorang Gabriel Omar Batistuta tidaklah buruk.