Minggu, 18 Juni 2017

Cinta Monyet

“Dit, gue punya uang tiga ratus ribu rupiah nih. Menurut lo, mendingan gue pakai buat beli sepatu baru atau konsol game baru?” Tanya seorang teman saya saat masih duduk di bangku SMP, yang tentu saja jawaban saya kepadanya adalah konsol game baru. Tetapi beberapa hari kemudian, teman saya itu kembali menghampiri saya hanya untuk menunjukkan sepatu basket barunya yang begitu mentereng. Bermerek Fila, buatan Italia, yang menurut dia sih asli punya.

Ketika saya tanyakan alasannya, jawaban yang keluar dari mulut polosnya sungguh sederhana. “Kalo gue pakai sepatu kayak begini (sambil mengangkat sepatu ke dengkul), cewek-cewek pasti bakal merhatiin,” ujarnya sambil cengengesan dan berlalu meninggalkan saya yang melongo.

“Kalo begitu caranya, sales clerk sepatu pasti pacaranya banyak dong,” ujar saya dalam hati.

Lain lagi dengan cerita teman saya yang lain. Ia baru saja jadian dengan salah satu cewek yang terkategorikan “kembang sekolah”. Karena itulah anak kecil ini bangganya bukan main, padahal seragam celana pendek biru tuanya masih tidak mampu menyembunyikan koreng-korengan di dengkulnya, dan ketika belajar merokok, nafasnya masih terbatuk-batuk.

Kami biasa bermain sepak bola pada hari Sabtu siang sepulang sekolah. Teman saya itu biasanya rajin bermain bola, tapi gara-gara pacaran melulu, ia jadi sering tidak main. Karena kesal, saya memberinya peringatan sederhana yang kalau didengar sekarang amat nyinyir. “Elu pilih sepak bola atau cewek?”

Dan beberapa kisah lainnya yang sejenis, saya pernah alami kepada teman-teman saya. Ada pula teman saya yang melewatkan jadwal latihan band karena harus mengantarkan pacarnya pulang naik angkot. Padahal yang namanya menyewa studio, tentu saja tidak boleh datang telat, karena “argo sewa” akan terus berjalan dan si mas nyinyir penjaga studio berusia 30an yang selalu meledek kemampuan bermusik pas-pasan anak sekolah seperti kami tidak akan memberi toleransi keterlambatan. Pelanggaran akan komitmen-komitmen kecil seperti inilah yang membuat saya kesal terhadap mereka, dan seringnya saya mengambil “tindakan tegas”. Akibatnya, saya pun beberapa kali berurusan dengan cemberutnya pacarnya teman pada saya.

Saya betul-betul tumbuh menjadi seorang remaja yang begitu berseberangan terhadap yang namanya “cinta monyet”. Ya, memang sulit bagi saya untuk tidak bersikap sinis terhadap cinta monyet yang tak beralasan itu, di mana menurut teori teman saya yang beli sepatu Fila tadi, cewek-cewek bisa saja naksir cowok hanya karena melihat sepatu barunya. Atau kisah lain yang pernah teman saya yang lain alami, ia bisa naksir cowok hanya karena sisiran rambut belah tengahnya yang terbentuk sempurna layaknya para ikon rambut belah tengah 90an macam Nick Carter, Andy Lau, personel Patrio atau vokalis band Stinky pada era itu.

Saya sih bukannya dulu gak pernah naksir cewek, tapi karena dulu saya begitu kaku ketika ngobrol dengan gebetan, maka saya tidak berkesempatan merasakan cinta monyet itu. Dengan kata lain, saya ini amat katrok ketika berinteraksi dengan perempuan, apalagi gebetan. Ya terang saja dulu saya gak pernah punya pacar pas jaman sekolah. Tapi buat saya, ini bukanlah aib karena toh saya selalu merasa aman dan nyaman saja ketika mendatangi reuni sekolah tidak seperti beberapa teman yang dulu pacar (plus aibnya) banyak.

Tapi memang urusan cinta monyet ini bisa menimbulkan efek luar biasa. Seorang teman yang lain pernah sampai batal menonton konser Yngwie Malmsteen di kotanya hanya karena pacarnya ngambek, dan karena hal itu ia seperti menyesali keputusannya di kemudian hari. Dan teman saya yang lain pernah sampai merusak helm motor saya gara-gara ia pinjam untuk kencan dengan gebetannya. Entah kencan ekstrim macam apa yang mereka lakukan, dan sejak saat itu hubungan pertemanan saya dengan dia pun merenggang. Cinta monyet, biarpun terlihat sepele ternyata bisa membutakan.

Alangkah mengejutkannya, perilaku tak beralasan ala cinta monyet masih saja berlanjut bahkan ketika seseorang beranjak dewasa. Cukup banyak teman saya yang saya dengar mau saja diajak piknik keluar kota berduaan dengan orang yang belum ada ikatan pernikahan (mungkin butuh tempat curhat yang private dan jauh dari keramaian), padahal ujung-ujungnya kisah percintaannya kandas, dan akibatnya ia mengalami patah hati yang cukup mendalam. Ini mungkin akan menjadi opini tidak populer, tapi yang ada di benak saya, apa bedanya perilaku seperti ini dengan cinta monyet dalam versi dewasa? Kita juga pastinya sering mendengar cerita-cerita percintaan lain yang memang tidak masuk akal dan terlalu dipaksakan, juga terlalu banyak yang dikorbankan.

Cinta memang seharusnya pakai logika, tapi ternyata mengedepankan logika akan membuat cinta jadi hambar. Apakah akan terdengar seperti cinta jika kita belum apa-apa sudah menilai orang berdasarkan kendaraan yang ditunggangi atau ponsel pintar yang digunakan? Apakah kita harus mau saja dijodohkan dengan orang yang bahkan untuk diajak ngobrol saja tidak membuat nyaman? Apakah kita harus bersama orang yang hanya memanfaatkan dan tidak pernah ada buat kita? Lalu, apakah cinta harus “dibelokkan” begitu saja karena sejak awal berbeda prinsip tanpa dicoba jalani dulu?

Pada akhirnya, cinta monyet memang berbeda dengan cinta yang dewasa. Orang yang sudah dewasa tentu tidak menilai orang lain dari sepatu yang dikenakan. Ia akan melihat visinya ke depan yang tercermin dari derap-derap langkah yang dijalaninya sehari-hari, terlepas dari alas kaki yang dipakainya. Kita juga tidak lagi menilai orang lain dari sisiran rambutnya—karena anak-anak sekarang tidak hanya butuh sisir, tapi butuh pula pomade yang banyak--, tapi yang lebih penting adalah melihat bagian tubuh yang berada 3-5 cm di bawah sisiran rambut, yaitu isi otaknya. 

Bukan.. Bukan maksud saya mendewakan otak lho ya. Karena buat apa otak pintar tapi dipakai merendahkan orang lain, meledek para ahli agama, menyebarkan status kebencian di media sosial, dan menghina karya-karya orang lain. Tapi lebih kepada bagaimana ia menggunakan isi kepalanya itu agar kisah percintaan yang harusnya dijalani dengan penuh kedewasaan ini tidak lebih dari “cinta monyet dalam versi dewasa”. Dengan kata lain, percintaan tak berguna buang-buang waktu yang mengedepankan nafsu yang dibungkus cinta oleh mulut-mulut gombal, rayuan-rayuan murahan dan janji-janji yang ujung-ujungnya palsu.

Rabu, 31 Mei 2017

Makna Bukber

Saya ini, saking suka kurang kerjaannya, suka ngelamun ingetin masa yang udah lewat. Terutama momen-momen masa kecil saat masih belom mikirin hal-hal berat macam inflasi atau tagihan kartu setan kredit. Dan setelah berusaha mengingat lebih keras, ternyata masa-masa menyenangkan itu sebagian besar ada di bulan ramadhan.

Buat anak-anak, bulan ramadhan itu memang bulan liburan. Menggeser rutinitas dari yang biasanya terlalu berat ke sekolah menjadi rutinitas yang berpusat di mushola atau masjid. Atau pesantren kilat. Tapi, baik mushola, masjid atau pesantren kilat itu tidak jauh berbeda dengan liburan. Gak ada beban, gak ada ketakutan atau rasa stres seperti halnya di sekolah, pas masih ketemu sama orang-orang yang sangat peduli sama nilai raport dan menghakimi si raport jelek dengan mengatakan "Nilai lo jelek-jelek gitu, udah gede mau jadi apa?"

Waktu saya masih kecil, dan ketika memasuki bulan ramadhan, saya suka menginap beberapa hari di rumah nenek. Bukan rumah nenek di desa seperti judul pelajaran mengarang anak-anak SD yang begitu sih, karena rumah nenek saya pada waktu itu letaknya hanya kurang dari 40 km kalau dari Jakarta. Di rumah nenek, saya punya sekelompok teman bermain. Sebagian ada yang memang tinggal di sana, sebagian lagi yang seperti saya, yaitu menginap di rumah neneknya.

Bersama teman-teman itu, saya mengisi ramadhan dengan seru. Pagi-pagi buta setelah sahur dan sholat subuh, kami pergi ke tanah lapang dekat rumah. Untuk bermain sepak bola! Ya, main bola subuh-subuh kayak begitu ternyata sangat menyenangkan. Matahari masih belum terbit, sehingga cuaca sangat sejuk. Saat baru mulai bermain, langit masih gelap, lalu berangsur terang seiring terbitnya matahari. Saat matahari terbit itulah kami membubarkan diri. Walaupun tenggorokan jadi kering dan rasa haus tak terhindarkan, tapi kami gak peduli. Sesudah main bola, kami biasanya melanjutkan tidur sampai siang.

Karena bulan puasa, nggak afdhal dong kalau gak pergi ke masjid. Makanya itu, saya biasanya pergi ke masjid untuk mengikuti shalat berjamaah. Shalat dzuhur, saat lagi haus-hausnya, anak-anak kecil memang senang sekali berlama-lama ambil air wudhu, padahal biasanya sih terburu-buru. Kalau air keran itu tertelan sedikit, ya namanya rejeki.

Yang lebih asik lagi adalah saat waktu ashar, karena ba'da ashar, kami akan kembali ke lapangan untuk bermain sepak bola. Ngabuburit. Kalau anak-anak sekarang ngabuburitnya naik motor bertiga atau berempat dengan norak dan rusuh, untungnya jaman kami cukup main bola aja. Dengan sisa-sisa tenaga yang masih ada, kami mengejar bola dan bertanding melawan kampung sebelah. Kalau ada benturan-benturan khas main bola, kami sebagai anak kecil yang patuh dan takut sama ustadz, saling mengingatkan dan menahan diri untuk tidak marah. "Jangan berantem, ini lagi puasa."

Ada satu anak kampung sebelah yang resek-nya bukan main. Dia sering mengolok-olok saya tanpa tujuan jelas. Di pikiran saya timbul niat jahil. Saat ia menjadi kiper, saya begitu bernafsu membawa bola ke arahnya. Anak itu masih sempat saja pongah dengan bilang "Tenang aja, dia gak bisa nendang kenceng, apalagi pakai kaki kiri." Saya terang saja terbahak-bahak dalam hati. Dia tidak tahu bahwa kaki kiri adalah kaki favorit saya untuk menendang dengan keras, sementara kaki kanan lebih saya andalkan untuk mengumpan. Ketika posisi sudah dekat dengannya, saya pun menendang bola sekuat tenaga... Dan sukses mengenai muka anak malang itu. Dia kesakitan. Mohon maaf, saya memang sengaja mengincar mukanya, bukannya gawang. Duh, jahat bener. Untung lidahnya gak tertelan.

Kegiatan pun berlanjut dengan buka puasa dan tarawih. Ketika waktunya berbuka, ya namanya anak kecil, kan pasti berebutan. Tapi ada salah satu teman yang memang anaknya agak giras kalo soal makanan. Dia mengambil terus makanan-makanan kecil yang disumbangkan warga itu untuk dirinya sendiri, bahkan dia hendak membungkusnya untuk dibawa pulang. Saat dia ditegur oleh anak yang lebih tua, baru deh dia ketakutan, lalu pulang dengan hati dongkol dan perasaan sedih. 

Lalu saat memasuki tarawih, biasalah, yang namanya anak kecil pasti ribut dan bercanda. Ada yang menendang pantat teman di depannya saat rukuk, ada yang tengok kanan kiri pasang wajah lucu, ada yang menaruh kotak amal di tangan temannya yang sedang khusyuk berdoa sampai merem-merem. Macam-macam deh. Dan setelah shalat selesai, kami serentak bubar secepat kilat sebelum ada bapak-bapak galak yang siap menjeweri kuping kami satu persatu. Besoknya, si bapak udah standby duduk di barisan anak-anak untuk memastikan keributan serupa tidak terjadi.

Okelah, keributan tidak terjadi di masjid. Sebagai gantinya, kami pindah ke luar masjid. Kain sarung kami buntal menjadi serupa godam. Kalau kena pukul, lumayan sakit. Atau kalau gak model godam, kami pakai seperti biasa untuk dijadikan selepet atau ninja-ninja-an. Tapi, perang sarung ini sangat menyenangkan. Daripada perang petasan atau tawuran di acara Sahur on The Road ala anak-anak jaman sekarang?

Main bola, perang sarung, bercanda. Ya begitulah bulan ramadhan menyenangkan itu, yang kemudian berlalu ke Idul Fitri, di mana kami menunggu angpau dari saudara-saudara yang lebih tua. Pakai baju baru, dan berkumpul kembali di rumah nenek. Saat berkumpul dengan saudara, keributan-keributan pun masih ada, hanya saja berbeda bentuknya. Keributan yang baru usai kalau ada yang nangis, atau ada barang yang pecah.

Kini setelah sudah dewasa, kami mengisi bulan ramadhan sudah lebih serius. Tidak bercanda lagi seperti jaman anak-anak. Ibadah ditingkatkan dan diseriuskan. Ajakan buka puasa bersama pun berdatangan, tetapi sebagian teman agak malas karena amat banyak kesulitannya. Jalan yang macet, ribet kalau mau shalat maghrib, ketinggalan tarawih berjamaah, dan pulang ke rumah dengan perut yang sudah terlalu kenyang dan mata yang sudah mengantuk. Bikin malas tarawih, akhirnya bablas tidur sampai sahur.

Apakah bukber selalu seperti itu? Ya, hampir selalu seperti itu. Itulah sebabnya tahun ini saya agak malas mengajak bukber, kecuali dengan teman-teman yang memang sudah jarang ketemu. Setelah tahun lalu saya berhasil berbuka puasa bersama dengan teman-teman dari seluruh jenjang sekolah, juga dengan tetangga rumah dan teman-teman kantor, saya sih sekarang ini mau pasif saja. Kalau memang ada acara itu, ya saya datangi, kalau tidak ada, ya saya tidak akan menginisiasi seperti biasa. 

Karena bagi generasi Y, atau baby boomers seperti saya yang kini sudah terlalu larut dalam pekerjaan, bertemu teman lama sangat menyenangkan. Dan makna dari bukber adalah sekalian reunian. Kalau asik, kali aja bisa berlanjut ke kegiatan-kegiatan lain. Kalau ternyata garing dan gak asik, ya setidaknya kita sudah gak lagi penasaran.

Dan untuk tahun ini, saya kepengen ketemu dengan teman-teman dari rumah nenek saya itu. Saya tahu, kita semua sudah berpencar, dan rasanya sudah lebih dari sepuluh tahun tidak bertemu. Tapi, apa salahnya berharap? Suatu saat saya akan menghubungi kalian. Satu persatu.


Senin, 08 Mei 2017

Konser ‘Rutin’ Megadeth Yang Mencukupkan Saya

34 tahun silam, hidup David Scott Mustaine alias Dave Mustaine seperti neraka. Ia dipecat dari band Metallica ketika sedang hendak melakukan rekaman di New York. Lars Ulrich, pentolan Metallica mengirimnya pulang ke ujung barat Los Angeles berbekal sebuah tiket bus. Sesampainya di rumah orang tuanya, Dave pun tidak memiliki pekerjaan dan tidak memiliki teman. Namun semalam (7/5) di panggung Sonic dalam festival Hammersonic yang berlangsung di Ancol, Jakarta, Dave Mustaine bersama band Megadeth yang salah satu lagunya berjudul Dystopia yang baru saja memenangkan Grammy Awards untuk kategori Best Metal Performance, menyuguhkan performa yang betul-betul berkelas dunia, dan hidupnya telah melangkah begitu jauh meninggalkan keterpurukan itu.

Mungkin sudah banyak yang mengetahui bahwa Dave Mustaine merupakan salah satu manusia yang melahirkan genre Trash Metal. Ketika masih memperkuat band Metallica, Mustaine-lah yang menciptakan riff bagi band yang kemudian memecatnya itu. Dari permainannya itulah Metallica mendapatkan pola lagu, hingga waktu kemudian makin mendewasakan dan mengembangkan musikalitas mereka hingga menjadi band metal legendaris dengan kesuksesan komersial terbesar. Bahkan ketika Metallica mengeluarkan album perdana Kill ‘Em All, ada empat lagu bikinan Mustaine yang dimasukkan, yaitu The Four Horseman (awalnya berjudul Mechanix), Phantom Lord, Jump in the Fire dan Metal Militia. Tanpa campur tangan Mustaine di awal pembentukan, mustahil nama Metallica bisa sebesar sekarang.

Oke, kita sudahi saja haru biru rivalitas Mustaine dan Megadeth dengan Metallica, karena setelah kedua band ini pada akhirnya berhasil dengan caranya masing-masing, mereka telah mengubur segala permusuhan seperti layaknya pria-pria paruh baya yang menertawakan kebodohan masa muda saat mereka bertindak tanpa berpikir, atau mengambil keputusan tanpa memikirkan konsekuensi. Ya, seperti kita-kita ini yang masih gak malu ribut-ribut di grup whatsapp padahal ketemu aja jarang.

Konser Hammersonic merupakan konser metal di Indonesia yang memiliki konsep multi-band seperti konsep multi-band yang sudah terbiasa diselenggarakan di negara lain, seperti Loudpark di Jepang. Saya pun baru kali ini menghadiri Hammersonic hanya karena ingin menonton Megadeth. Jujur saja, saya tidak begitu familiar dengan band lain.
Megadeth menurut saya terus saja menelurkan album-album yang kualitasnya cukup stabil. Album Dystopia yang dirilis tahun 2016 memiliki materi yang amat mantap. Lagu-lagu seperti Fatal Illusion, The Threat is Real, Conquer or Die hingga Dystopia memiliki kualitas yang amat prima, namun dengan sound yang segar dan tetap gahar khas Megadeth. “Ketika ingin membentuk band ini, saya memang menginginkan band yang keras, cepat dan brutal,” ujar Mustaine.

Pada konser kemarin, Megadeth menampilkan permainan yang sudah menjadi seperti rutinitas saja bagi standar mereka sendiri. Tidak ada unsur kejutan, interaksi yang aktif dengan penonton, tidak ada lagu-lagu tidak biasa, juga tidak ada aksi panggung pengalih perhatian seperti memanfaatkan sarana multi media, koreografi dan sebagainya. Tidak seperti band-band lain yang jika boleh saya berkata sedikit sinis di sini, memanfaatkan teknologi atau aksi panggung atraktif untuk menutupi musikalitas yang ala kadarnya. 

Paling-paling hanya kemunculan Vic Rattlehead, maskot mereka saja yang sedikit memberikan kejutan. Sisanya, Dave Mustaine hanya meminta band untuk ‘meminum empat botol air dari empat botol yang disediakan’.

Namun memang begitulah konser metal. Dave seakan tidak terlalu ambil pusing dengan penonton yang sepertinya kurang berisik. “This is a heavy metal concert, you’re just need to be silent and be a nice crown,” ujarnya sarkastis sebelum menggeber intro lagu Tornado of Souls—yang mana ia jarinya sedikit ‘terpeleset’. Mungkin ia sendiri mengerti karena Megadeth baru tampil jam 11 malam, dan di antara penonton itu pastinya banyak yang sudah datang dari pagi atau siang hari. Atau mungkin Mustaine memang tidak peduli. Ia mencoba tidak terpengaruh dengan situasi penonton atau apa pun. Ia hanya menggeber konser sesuai dengan kebiasaan dan kesepakatan dengan pihak pemilik acara. Seperti seorang profesional yang melakukan tugasnya dengan lengkap dan proporsional.

Akan tetapi bukan berarti konser yang sudah ‘tipikal’ ini tidak ada seru-serunya. Mustaine terlihat biasa-biasa saja meski baru menang Grammy Awards, dan ia pun tidak serta merta mendominasi set list lagunya dengan lagu-lagu yang ada di album Dystopia. Ia malah banyak mengeluarkan lagu-lagu hit lawas yang tentu saja disukai para penonton yang rata-rata sudah berumur 30-40 tahunan, yang tidak henti-hentinya menengok ke jam tangan atau ponsel, khawatir istri dan anak mereka menunggui di rumah, atau teringat beberapa jam lagi sudah hari Senin di mana mereka harus menghadiri pertemuan atau melanjutkan pekerjaan di kantor, dan hanya bisa mendengarkan musik metal lewat perangkat headphone agar yang tidak mengerti suka musik metal tidak terganggu.

Dave Mustaine memang ambisius, dan karena itu ia amat perfeksionis dan profesional. Ia tidak segan mendepak anggota band yang di matanya sudah tidak lagi kompeten dan kehilangan fokus. “Karena tujuan saya adalah menyamai level permainan Metallica dan bahkan melebihi mereka, maka saya membutuhkan musisi-musisi yang bukan hanya jago, tetapi juga ambisius dan memiliki gaya yang sesuai dengan band,” ungkap Mustaine pada awal pembentukan Megadeth. Hal yang kemudian diamini oleh salah seorang teman konser yang sepertinya baru kali pertama menyaksikan sebuah konser metal. “Gila. Gitarnya ngeri,” ujarnya jujur mengomentari suguhan dua dewa gitar, Mustaine dan Kiko Loureiro yang memang menjadi nyawa dari lagu-lagu Megadeth yang tingkat kesulitannya menggabungkan skill tinggi jazz, petikan-petikan menghanyutkan gitar klasik, dan energi tak ada habisnya dari musisi punk.

Sepanjang konser, hal-hal yang sudah direncanakan itu terlihat jelas. Segalanya seperti sudah diatur, misalnya fase cooling down di lagu A Tout Le Monde atau perkenalan personel pada lagu Holy Wars.. The Punishment Due. Bagi saya, konser pun menjadi mudah ditebak alurnya, dengan susunan lagu yang kurang lebih sama dengan yang mereka mainkan di Singapura dan Malaysia, beberapa hari sebelumnya. 

Tetapi, bukan berarti konser ini tidak menyenangkan. Sebaliknya, konser ini merupakan konser terbaik yang pernah saya saksikan secara kualitas teknik maupun sound, dengan intensitas yang seperti tidak ada turun-turunnya sama sekali karena lagu yang dibawakan juga amat kencang, bagaikan menaiki roller coaster yang hanya memberikan sedikit saja masa tenang. Tingkat kesalahan pun amat minim, dan kalaupun terjadi lebih karena faktor umur Dave saja yang sudah di atas 50 tahun. Belum pernah saya merasa begitu puasnya ketika konser selesai, hingga kemudian saya merasa tidak ingin pergi menonton konser band lain lagi.

Jika kemudian saya insaf dan tidak lagi mendengarkan musik—apalagi musik metal—karena alasan-alasan non-duniawi atau apalah itu, saya toh sudah tidak lagi merasa ada ruang hampa, karena konser tadi malam memang telah mencukupkannya.

Minggu, 12 Maret 2017

Aku Mengikuti Gabriel Batistuta

"Aku tidak pernah menyukai sepak bola. Itu hanyalah pekerjaanku."

Itu adalah ucapan dari seorang bekas pesepak bola papan atas, bekas penyerang yang kemampuannya salah satu yang terhebat pada era 90an. Namanya Gabriel Omar Batistuta.

Lho, bagaimana mungkin seorang pemain hebat yang terlihat begitu total ketika bermain, tiba-tiba mengaku tidak menyukai sepak bola?

Ya, begitulah Batigol, julukan yang diberikan penonton kepadanya. Setiap orang, ternyata memiliki sisi lain dalam hidupnya, sisi yang tak pernah ia tunjukkan dalam keseharian.

Aku pun begitu.

Aku bekerja dari hari Senin hingga Jumat. Berangkat pagi hari, pulangnya kadang sampai larut malam. Dibayar cukup, karir pun tidak jelek. Dari pekerjaan ini aku bersyukur bisa menyambung hidup.

Tapi, aku menganggap ini hanya pekerjaan. Itu saja.

Aku juga kadang tidak nyaman dengan banyak hal seputaran pekerjaan ini. Aku benci politik kantor, aku juga tidak nyaman jika disuruh berdebat, padahal di pekerjaan ini, berdebat kadang diperlukan. Lebih lagi, aku juga tidak nyaman berkompetisi. Aku hanya melakukan pekerjaanku, membayar kepercayaan atasan-atasan, juga tidak mengecewakan mereka. Itu saja, cukup.

Aku paham betul dunia korporasi. Kita menjadi sekrup kecil di mesin besar, yang setiap saat bisa disingkirkan dan digantikan yang baru. Menjadi sekrup kecil seperti ini juga berarti bekerja sesuai fungsi. Ahli di bidang sesuai pekerjaan, tapi kadang berarti mengabaikan pengetahuan lain. Contohnya, pengetahuanku akan ibukota negara atau sejarah sepak bola tidak akan berguna di sini.

Tapi, aku senang mendengar cerita seperti Batistuta tadi. Tentang seseorang yang tidak mencintai pekerjaannya, namun tetap melakukannya dengan penuh totalitas dan menghasilkan pekerjaan yang berkualitas. Bagi para idealis, Batistuta boleh saja dicap oportunis. Tapi bagi saya, cerita hidup Batistuta yang tidak suka sepak bola namun mengakhiri karir sebagai pesepak bola sukses, sangat menginspirasi.

Batistuta menunjukkan kedewasaan. Ia mengalah dengan realita, demi kebaikan keluarganya. Bukankah seorang kepala keluarga harus memiliki jiwa seperti itu? Karena kebutuhan sandang pangan papan tidak dapat digantikan oleh kepuasan berkarya. Batistuta telah berbuat logis. Ia sadar, tidak semua orang bisa beruntung melakukan pekerjaan yang dicintai, sekaligus meraih kesuksesan materi. Kebanyakan orang, seperti halnya Batistuta, hanya bisa mendapatkan salah satunya saja.

Untuk saat ini, aku rasa meniru seorang Gabriel Omar Batistuta tidaklah buruk. 

Senin, 13 Februari 2017

Dave Mustaine dan Kemenangan Termanis

Saya tidak bisa berdiam diri saja ketika membaca berita tentang pengumuman Grammy Awards tahun 2017. Ada hal yang amat istimewa, yaitu menangnya band favorit nomor satu saya, Megadeth dalam penghargaan bergengsi ini. Betapa tidak, sepanjang tahun 2016 ini, saya sudah ribuan kali mendengarkan lagu Dystopia dengan level kekaguman yang sama sekali tidak berkurang seujung kuku pun. Dave Mustaine, sang leader, songwriter, vocalist dan guitarist mungkin merasa hal yang sama. Ramuannya kali ini berbuah penghargaan prestisius, bukan sekadar kepuasan batin karena terbiasa menghasilkan musik metal yang cerdas. Setelah ribuan karya cerdas sudah ia hasilkan, penghargaan bergengsi memang bonus yang manis.

Betapapun keras hatinya seorang Dave Mustaine, ia tidak dapat berpaling begitu saja dari Grammy Awards, atau kita sebut Grammy saja. Ujung-ujungnya, Grammy sudah pasti menjadi acuan dunia, dan bagi musisi, menjadi pemenang penghargaan ini merupakan puncak penghargaan tertinggi sepanjang karir. Ibarat karyawan yang mendapatkan rating A+ ketika bekerja di sebuah grup regional perusahaan.

Kemenangan Grammy akan melontarkan penjualan album hingga stratosfer. Dari data yang dikumpulkan oleh NPR, sebuah portal musik berpengaruh di Amerika Serikat, kemenangan Album of The Year dari Herbie Hancock pada Grammy tahun 2008 meningkatkan penjualan albumnya hingga di atas 900%.

Ada 84 kategori yang diperlombakan dalam Grammy tahun 2017 ini, yang mana hal ini membuktikan apresiasi yang amat besar kepada banyak genre musik, meski genre pop dan turunannya masih mendominasi. Dari 84 penghargaan, memang dikenal hanya empat yang masuk kategori bergengsi, yaitu Record of The Year, Album of The Year, Song of The Year dan Best New Artist. Tapi sekali lagi, berhasil masuk nominasi dan merebut salah satunya saja sudah merupakan pencapaian yang amat besar.

Genre metal mungkin saja masih termarjinalkan dalam acara Grammy. Penghargaan terhadap genre musik bising dalam bentuk Best Metal Performance ini baru dimulai tahun 1989, itu pun masih bercampur dengan Best Hard Rock performance. Sejak 1990 lah kemudian penghargaan Best Metal dengan Best Rock dipisahkan.

Terpinggirkannya musik metal ini makin kentara dari cuplikan video wawancara Grammy dengan Mustaine dalam acara yang sama tahun 2011 lalu. Kala itu Mustaine yang sedang berjalan melewati karpet merah dipanggil oleh dua orang host, dan dari wawancara kikuk yang dilakukan, mereka sepertinya tidak tahu Dave Mustaine itu siapa. Untungnya, reaksi frontman sekaligus gitaris ini cool aja. Mustaine bahkan datar aja ketika genre musiknya secara keliru disamakan dengan rock, seolah para host itu belum pernah mendengarkan lagu metal seumur hidupnya.

Kiprah Megadeth di penghargaan Grammy sendiri sudah tidak asing lagi. Band yang dibentuk lebih dari tiga dekade lalu oleh Dave Mustaine ini telah 11 kali berhasil memasuki nominasi untuk Best Metal Performance, namun selalu gagal menyabet penghargaan. Padahal Metallica, yang notabene mantan rival Megadeth -sebelum mereka berbaikan- dalam genre ini telah meraih enam kali Grammy, yang kemudian menobatkan band yang dipimpin oleh Lars Ulrich ini sebagai salah satu band metal paling populer sekaligus peraih kesuksesan komersial terbesar di dunia.

Tapi sekarang, tahun 2017 ini, penantian panjang Megadeth akhirnya berbuah manis. Mereka berhasil juga meraih Grammy perdana setelah mengalahkan nominee lain yaitu Baroness, Gojira, Korn dan Periphery. “Finally!” adalah respon singkat penuh makna dari Mustaine di akun Twitter-nya yang bernama @DaveMustaine, yang langsung disambut riuh penggemar seantero jagad.

Ada satu lagi kejadian lucu yang patut diingat dari momen bersejarah ini. Ketika host mengumumkan Megadeth sebagai pemenang, home band malah memainkan intro lagu dan riff gitar dari Master of Puppets, yang notabene karya masterpiece dari Metallica. Yah, sepertinya mereka memang tidak siap dan tidak familiar sama sekali dengan lagu-lagu Megadeth. Satu lagi bukti betapa termarjinalkannya band speed metal yang skill dan tekniknya mungkin setara musisi jazz. Yang sabar ya, Om Dave, emang gak semua orang bisa mainin lagu Megadeth.

Mustaine, yang juga seorang genius (cek bukti kejeniusannya dalam album Dystopia dan Rust in Peace serta sebuah video kuis Jeopardy) menanggapinya dengan santai. Ketika melangkah menuju podium, ia malah menimpali home band dengan memainkan air guitar seakan mengiringi Master of Puppets. Sepertinya, segala kebencian yang pernah dipendamnya kepada band yang pernah memecatnya tahun 1983 silam ini sudah berangsur menghilang.

Musik metal memang sudah kadung dicap jelek oleh banyak orang. Ada stereotip dan generalisasi kalau musik ini identik dengan pemujaan terhadap setan, liriknya berisi kisah bunuh diri, perang dan kematian. Musik metal juga katanya gak jelas, iramanya gak beraturan dan gak bisa dinikmati. 

Yah, kalo soal itu sih kita kembalikan saja. Apakah mereka yang memberi cap jelek itu sudah benar-benar melakukan riset terhadap genre metal? Apakah mereka sudah mendengarkan musik metal dengan seksama? Apakah juga berarti para musik pop yang mainstream itu bersih dari hal-hal jelek?

Senin, 30 Januari 2017

Dilarang Gondrong

Aku melangkah dengan malas sehabis bercermin. Tidak ada yang salah, hanya saja rambutku sudah terlalu panjang untuk ukuran seorang pekerja kantoran yang sehari-hari bekerja di gedung pencakar langit yang diisi orang-orang rapi.

Ini berarti, aku harus pergi ke tukang cukur rambut. Oh iya, rasanya sudah tiga bulan aku tidak mencukur rambutku. Bagi pria, terang saja menimbulkan efek semigondrong dan kesan urakan. Jenis yang tidak diinginkan di kebanyakan dunia korporasi. Tidak mengapa kamu bekerja dengan performa buruk asalkan rambutmu tertata rapi dan pendek. Jika rambutmu panjang, maka menyalahkanmu akan semakin gampang. 'Kamu terlalu banyak bersolek, jadinya lupa dengan tenggat waktu.' Atau kalimat seperti 'Poni rambutmu menghalangi pandangan ke kertas kerja.'

Aku memang lebih suka memanjangkan rambut. Itu sudah sejak lama. Aku tidak tahu persis alasannya. Jika dibilang banyak musisi rock--yang notabene genre favoritku-- berambut gondrong, ternyata tidak juga. Contohnya James Hetfield, si vokalis band Metallica, sekarang lebih sering tampil dengan rambut pendek. Jadi, perkara memanjangkan rambut betul-betul preferensi pribadi bagiku, dan itu sifatnya sangat subjektif.

Aku melangkah dengan malas menuju tempat pangkas rambut. Di sana, si Mamang yang asli dari Garut bertanya padaku soal rambutku mau dipotong model apa. Aku jelas tidak menyukai model kekinian--yang tipis di pinggir tapi dibelah pinggir di tengah, plus diberi pomade atau gel--makanya aku bilang padanya untuk merapikan saja rambutku.

Sampai tiga kali kuingat ia bertanya "Mau ditipisin lagi apa nggak, Mas?" dan tiga kali pula aku menjawab tegas dengan kata "Tidak!" Mungkin ia sengaja bertanya berulang kali untuk menggoyahkan pendirianku yang menolak potongan rambut model kekinian. Si Mamang mungkin sebal dengan orang seperti diriku. Jika saja semua orang berpikiran sepertiku, rasanya permintaan akan tenaga tukang cukur rambut akan sedikit. Dan karena faktor ini pula lah, aku tidak memiliki tukang cukur favorit. Bagiku, tempat pangkas rambut mungkin sama saja ngerinya dengan tempat praktik dokter gigi bagi anak kecil.

Entah kapan aku bisa berada di lingkungan kerja yang tidak mempermasalahkan potongan rambut. Kali terakhir aku membiarkan rambutku gondrong adalah saat di bangku kuliah, dan hingga saat ini momen itu belum lagi terulang. Yeah, memang agak aneh bagi orang-orang yang bekerja di bidang keuangan sepertiku untuk memanjangkan rambut, seolah di kantor selalu ada papan tak terlihat bertuliskan "Dilarang Gondrong!"

Senin, 09 Januari 2017

Tidak Semua Public Enemy Patut Dibenci

Di mana saja kita berkecimpung dengan sesama makhluk hidup bernama manusia, hampir pasti kita akan menemukan sosok yang tidak disukai orang-orang, atau biasa kita sebut dengan istilah si public enemy. Sebabnya pun macam-macam, dari yang objektif dan prinsipil hingga ke hal-hal kecil yang biasanya sangat subjektif. 

Lalu, apakah kita lantas harus ikut-ikutan membenci dia?

Biasanya, si public enemy ini memiliki kelakuan yang berbeda dari yang lain, dan cenderung negatif. Bisa jadi, ia suka berbohong, suka mencuri, suka menghina orang lain, suka minjem duit (tapi gak suka bayar), suka marah-marahin orang di tempat umum, suka pamer, narsis akut, kasar, cabul, pelit, rakus dan berbagai perilaku sejenis yang bersinggungan dengan perilaku seorang kriminal atau pengidap gangguan kejiwaan berskala rendah hingga menengah. Kalau memang seseorang dibenci karena hal-hal seperti itu, ya wajar saja jika kita ikut berhati-hati. 

Tapi di lingkungan sekitar yang kerap saya temukan, tidak jarang sosok public enemy ini hadir hanya karena opini subjektif dari beberapa orang yang kemudian diikuti secara berjamaah. Hanya karena dia beda, maka dia tidak disukai. Opini ini kemudian mengalami eskalasi ke tahap bully hingga kemudian terdoktrinlah hal-hal jelek tentang si public enemy ini di kepala orang-orang lalu kemudian kita akan berperilaku tidak adil kepadanya. Imbasnya, makhluk malang ini akan dikucilkan. Tidak ada yang mau mengajaknya makan siang, minum kopi bersama atau pergi ke acara-acara sosial lain.

Sayangnya, tidak semua opini subjektif tentang si public enemy ini benar adanya. Terjadilah fenomena knee-jerk  reaction. Orang-orang kemudian latah ikut-ikutan membenci padahal ia kenal baik dengan orang ini, atau tidak melihatnya dari sisi yang berbeda.

Mungkin memang sudah sifat dasar manusia untuk melepas kacamata objektifnya ketika sudah terlanjur dipengaruhi opini orang lain. Katakanlah seseorang menjadi public enemy gara-gara ia terkenal pelit, maka kemungkinan besar, si pemberi opini itu akan mulai mengamati kebiasaan-kebiasaan lain dari si public enemy untuk memberi bahan bakar bully. Contoh lain, misalnya ada seseorang yang tidak disukai di dunia kerja karena hasil kerjanya memang kurang bagus. Yang biasanya terjadi, si korban bakal dikomentari hal-hal tidak ada hubungannya dengan kinerja profesionalnya sebagai pekerja. Seolah-olah, sosok yang dibenci ini harus memiliki atribut lengkap untuk semakin dibenci dan dikucilkan, dan seolah-olah si pemberi opini ini adalah sosok panutan nan sempurna tiada banding.

Dari pengalaman saya sih, kenyataannya tidak semua public enemy itu betul-betul patut dibenci dan dijauhi. Mengapa kita tidak mencoba menilai orang secara menyeluruh, bukan hanya dari satu-dua tindak-tanduk yang diperlihatkannya. Apa yang ditunjukkan orang dalam keseharian di tempatnya bekerja atau bersekolah, biasanya tidaklah mencerminkan kehidupan seseorang yang sebetulnya. Setiap orang punya rahasia dan cerita hidup masing-masing yang tidak semua orang tahu, dan siapa tahu cerita itulah yang kemudian membentuk perilakunya sekarang. 

Manusia memang sosok yang kompleks, dan sayangnya tidak semua orang mau menyelami kompleksitas itu. Kebanyakan dari kita memilih menjadi pribadi yang malas melakukan verifikasi dan malas meneliti. Kita memilih cari aman dan mengikuti suara mayoritas, mengikuti kata si anu atau si itu, yang belum tentu kredibel. 

Siapalah kita ini yang merasa berhak membenci orang lain, padahal kita tidak terlalu kenal dengannya dan tidak tahu cerita hidupnya. Siapalah kita yang penuh dosa ini untuk menghakimi orang lain tanpa dasar, padahal siapa tahu di kemudian hari orang yang kita benci itu tahu-tahu menjadi penolong kita di saat kita butuh pertolongan.