Minggu, 12 Maret 2017

Aku Mengikuti Gabriel Batistuta

"Aku tidak pernah menyukai sepak bola. Itu hanyalah pekerjaanku."

Itu adalah ucapan dari seorang bekas pesepak bola papan atas, bekas penyerang yang kemampuannya salah satu yang terhebat pada era 90an. Namanya Gabriel Omar Batistuta.

Lho, bagaimana mungkin seorang pemain hebat yang terlihat begitu total ketika bermain, tiba-tiba mengaku tidak menyukai sepak bola?

Ya, begitulah Batigol, julukan yang diberikan penonton kepadanya. Setiap orang, ternyata memiliki sisi lain dalam hidupnya, sisi yang tak pernah ia tunjukkan dalam keseharian.

Aku pun begitu.

Aku bekerja dari hari Senin hingga Jumat. Berangkat pagi hari, pulangnya kadang sampai larut malam. Dibayar cukup, karir pun tidak jelek. Dari pekerjaan ini aku bersyukur bisa menyambung hidup.

Tapi, aku menganggap ini hanya pekerjaan. Itu saja.

Aku juga kadang tidak nyaman dengan banyak hal seputaran pekerjaan ini. Aku benci politik kantor, aku juga tidak nyaman jika disuruh berdebat, padahal di pekerjaan ini, berdebat kadang diperlukan. Lebih lagi, aku juga tidak nyaman berkompetisi. Aku hanya melakukan pekerjaanku, membayar kepercayaan atasan-atasan, juga tidak mengecewakan mereka. Itu saja, cukup.

Aku paham betul dunia korporasi. Kita menjadi sekrup kecil di mesin besar, yang setiap saat bisa disingkirkan dan digantikan yang baru. Menjadi sekrup kecil seperti ini juga berarti bekerja sesuai fungsi. Ahli di bidang sesuai pekerjaan, tapi kadang berarti mengabaikan pengetahuan lain. Contohnya, pengetahuanku akan ibukota negara atau sejarah sepak bola tidak akan berguna di sini.

Tapi, aku senang mendengar cerita seperti Batistuta tadi. Tentang seseorang yang tidak mencintai pekerjaannya, namun tetap melakukannya dengan penuh totalitas dan menghasilkan pekerjaan yang berkualitas. Bagi para idealis, Batistuta boleh saja dicap oportunis. Tapi bagi saya, cerita hidup Batistuta yang tidak suka sepak bola namun mengakhiri karir sebagai pesepak bola sukses, sangat menginspirasi.

Batistuta menunjukkan kedewasaan. Ia mengalah dengan realita, demi kebaikan keluarganya. Bukankah seorang kepala keluarga harus memiliki jiwa seperti itu? Karena kebutuhan sandang pangan papan tidak dapat digantikan oleh kepuasan berkarya. Batistuta telah berbuat logis. Ia sadar, tidak semua orang bisa beruntung melakukan pekerjaan yang dicintai, sekaligus meraih kesuksesan materi. Kebanyakan orang, seperti halnya Batistuta, hanya bisa mendapatkan salah satunya saja.

Untuk saat ini, aku rasa meniru seorang Gabriel Omar Batistuta tidaklah buruk. 

Senin, 13 Februari 2017

Dave Mustaine dan Kemenangan Termanis

Saya tidak bisa berdiam diri saja ketika membaca berita tentang pengumuman Grammy Awards tahun 2017. Ada hal yang amat istimewa, yaitu menangnya band favorit nomor satu saya, Megadeth dalam penghargaan bergengsi ini. Betapa tidak, sepanjang tahun 2016 ini, saya sudah ribuan kali mendengarkan lagu Dystopia dengan level kekaguman yang sama sekali tidak berkurang seujung kuku pun. Dave Mustaine, sang leader, songwriter, vocalist dan guitarist mungkin merasa hal yang sama. Ramuannya kali ini berbuah penghargaan prestisius, bukan sekadar kepuasan batin karena terbiasa menghasilkan musik metal yang cerdas. Setelah ribuan karya cerdas sudah ia hasilkan, penghargaan bergengsi memang bonus yang manis.

Betapapun keras hatinya seorang Dave Mustaine, ia tidak dapat berpaling begitu saja dari Grammy Awards, atau kita sebut Grammy saja. Ujung-ujungnya, Grammy sudah pasti menjadi acuan dunia, dan bagi musisi, menjadi pemenang penghargaan ini merupakan puncak penghargaan tertinggi sepanjang karir. Ibarat karyawan yang mendapatkan rating A+ ketika bekerja di sebuah grup regional perusahaan.

Kemenangan Grammy akan melontarkan penjualan album hingga stratosfer. Dari data yang dikumpulkan oleh NPR, sebuah portal musik berpengaruh di Amerika Serikat, kemenangan Album of The Year dari Herbie Hancock pada Grammy tahun 2008 meningkatkan penjualan albumnya hingga di atas 900%.

Ada 84 kategori yang diperlombakan dalam Grammy tahun 2017 ini, yang mana hal ini membuktikan apresiasi yang amat besar kepada banyak genre musik, meski genre pop dan turunannya masih mendominasi. Dari 84 penghargaan, memang dikenal hanya empat yang masuk kategori bergengsi, yaitu Record of The Year, Album of The Year, Song of The Year dan Best New Artist. Tapi sekali lagi, berhasil masuk nominasi dan merebut salah satunya saja sudah merupakan pencapaian yang amat besar.

Genre metal mungkin saja masih termarjinalkan dalam acara Grammy. Penghargaan terhadap genre musik bising dalam bentuk Best Metal Performance ini baru dimulai tahun 1989, itu pun masih bercampur dengan Best Hard Rock performance. Sejak 1990 lah kemudian penghargaan Best Metal dengan Best Rock dipisahkan.

Terpinggirkannya musik metal ini makin kentara dari cuplikan video wawancara Grammy dengan Mustaine dalam acara yang sama tahun 2011 lalu. Kala itu Mustaine yang sedang berjalan melewati karpet merah dipanggil oleh dua orang host, dan dari wawancara kikuk yang dilakukan, mereka sepertinya tidak tahu Dave Mustaine itu siapa. Untungnya, reaksi frontman sekaligus gitaris ini cool aja. Mustaine bahkan datar aja ketika genre musiknya secara keliru disamakan dengan rock, seolah para host itu belum pernah mendengarkan lagu metal seumur hidupnya.

Kiprah Megadeth di penghargaan Grammy sendiri sudah tidak asing lagi. Band yang dibentuk lebih dari tiga dekade lalu oleh Dave Mustaine ini telah 11 kali berhasil memasuki nominasi untuk Best Metal Performance, namun selalu gagal menyabet penghargaan. Padahal Metallica, yang notabene mantan rival Megadeth -sebelum mereka berbaikan- dalam genre ini telah meraih enam kali Grammy, yang kemudian menobatkan band yang dipimpin oleh Lars Ulrich ini sebagai salah satu band metal paling populer sekaligus peraih kesuksesan komersial terbesar di dunia.

Tapi sekarang, tahun 2017 ini, penantian panjang Megadeth akhirnya berbuah manis. Mereka berhasil juga meraih Grammy perdana setelah mengalahkan nominee lain yaitu Baroness, Gojira, Korn dan Periphery. “Finally!” adalah respon singkat penuh makna dari Mustaine di akun Twitter-nya yang bernama @DaveMustaine, yang langsung disambut riuh penggemar seantero jagad.

Ada satu lagi kejadian lucu yang patut diingat dari momen bersejarah ini. Ketika host mengumumkan Megadeth sebagai pemenang, home band malah memainkan intro lagu dan riff gitar dari Master of Puppets, yang notabene karya masterpiece dari Metallica. Yah, sepertinya mereka memang tidak siap dan tidak familiar sama sekali dengan lagu-lagu Megadeth. Satu lagi bukti betapa termarjinalkannya band speed metal yang skill dan tekniknya mungkin setara musisi jazz. Yang sabar ya, Om Dave, emang gak semua orang bisa mainin lagu Megadeth.

Mustaine, yang juga seorang genius (cek bukti kejeniusannya dalam album Dystopia dan Rust in Peace serta sebuah video kuis Jeopardy) menanggapinya dengan santai. Ketika melangkah menuju podium, ia malah menimpali home band dengan memainkan air guitar seakan mengiringi Master of Puppets. Sepertinya, segala kebencian yang pernah dipendamnya kepada band yang pernah memecatnya tahun 1983 silam ini sudah berangsur menghilang.

Musik metal memang sudah kadung dicap jelek oleh banyak orang. Ada stereotip dan generalisasi kalau musik ini identik dengan pemujaan terhadap setan, liriknya berisi kisah bunuh diri, perang dan kematian. Musik metal juga katanya gak jelas, iramanya gak beraturan dan gak bisa dinikmati. 

Yah, kalo soal itu sih kita kembalikan saja. Apakah mereka yang memberi cap jelek itu sudah benar-benar melakukan riset terhadap genre metal? Apakah mereka sudah mendengarkan musik metal dengan seksama? Apakah juga berarti para musik pop yang mainstream itu bersih dari hal-hal jelek?

Senin, 30 Januari 2017

Dilarang Gondrong

Aku melangkah dengan malas sehabis bercermin. Tidak ada yang salah, hanya saja rambutku sudah terlalu panjang untuk ukuran seorang pekerja kantoran yang sehari-hari bekerja di gedung pencakar langit yang diisi orang-orang rapi.

Ini berarti, aku harus pergi ke tukang cukur rambut. Oh iya, rasanya sudah tiga bulan aku tidak mencukur rambutku. Bagi pria, terang saja menimbulkan efek semigondrong dan kesan urakan. Jenis yang tidak diinginkan di kebanyakan dunia korporasi. Tidak mengapa kamu bekerja dengan performa buruk asalkan rambutmu tertata rapi dan pendek. Jika rambutmu panjang, maka menyalahkanmu akan semakin gampang. 'Kamu terlalu banyak bersolek, jadinya lupa dengan tenggat waktu.' Atau kalimat seperti 'Poni rambutmu menghalangi pandangan ke kertas kerja.'

Aku memang lebih suka memanjangkan rambut. Itu sudah sejak lama. Aku tidak tahu persis alasannya. Jika dibilang banyak musisi rock--yang notabene genre favoritku-- berambut gondrong, ternyata tidak juga. Contohnya James Hetfield, si vokalis band Metallica, sekarang lebih sering tampil dengan rambut pendek. Jadi, perkara memanjangkan rambut betul-betul preferensi pribadi bagiku, dan itu sifatnya sangat subjektif.

Aku melangkah dengan malas menuju tempat pangkas rambut. Di sana, si Mamang yang asli dari Garut bertanya padaku soal rambutku mau dipotong model apa. Aku jelas tidak menyukai model kekinian--yang tipis di pinggir tapi dibelah pinggir di tengah, plus diberi pomade atau gel--makanya aku bilang padanya untuk merapikan saja rambutku.

Sampai tiga kali kuingat ia bertanya "Mau ditipisin lagi apa nggak, Mas?" dan tiga kali pula aku menjawab tegas dengan kata "Tidak!" Mungkin ia sengaja bertanya berulang kali untuk menggoyahkan pendirianku yang menolak potongan rambut model kekinian. Si Mamang mungkin sebal dengan orang seperti diriku. Jika saja semua orang berpikiran sepertiku, rasanya permintaan akan tenaga tukang cukur rambut akan sedikit. Dan karena faktor ini pula lah, aku tidak memiliki tukang cukur favorit. Bagiku, tempat pangkas rambut mungkin sama saja ngerinya dengan tempat praktik dokter gigi bagi anak kecil.

Entah kapan aku bisa berada di lingkungan kerja yang tidak mempermasalahkan potongan rambut. Kali terakhir aku membiarkan rambutku gondrong adalah saat di bangku kuliah, dan hingga saat ini momen itu belum lagi terulang. Yeah, memang agak aneh bagi orang-orang yang bekerja di bidang keuangan sepertiku untuk memanjangkan rambut, seolah di kantor selalu ada papan tak terlihat bertuliskan "Dilarang Gondrong!"

Senin, 09 Januari 2017

Tidak Semua Public Enemy Patut Dibenci

Di mana saja kita berkecimpung dengan sesama makhluk hidup bernama manusia, hampir pasti kita akan menemukan sosok yang tidak disukai orang-orang, atau biasa kita sebut dengan istilah si public enemy. Sebabnya pun macam-macam, dari yang objektif dan prinsipil hingga ke hal-hal kecil yang biasanya sangat subjektif. 

Lalu, apakah kita lantas harus ikut-ikutan membenci dia?

Biasanya, si public enemy ini memiliki kelakuan yang berbeda dari yang lain, dan cenderung negatif. Bisa jadi, ia suka berbohong, suka mencuri, suka menghina orang lain, suka minjem duit (tapi gak suka bayar), suka marah-marahin orang di tempat umum, suka pamer, narsis akut, kasar, cabul, pelit, rakus dan berbagai perilaku sejenis yang bersinggungan dengan perilaku seorang kriminal atau pengidap gangguan kejiwaan berskala rendah hingga menengah. Kalau memang seseorang dibenci karena hal-hal seperti itu, ya wajar saja jika kita ikut berhati-hati. 

Tapi di lingkungan sekitar yang kerap saya temukan, tidak jarang sosok public enemy ini hadir hanya karena opini subjektif dari beberapa orang yang kemudian diikuti secara berjamaah. Hanya karena dia beda, maka dia tidak disukai. Opini ini kemudian mengalami eskalasi ke tahap bully hingga kemudian terdoktrinlah hal-hal jelek tentang si public enemy ini di kepala orang-orang lalu kemudian kita akan berperilaku tidak adil kepadanya. Imbasnya, makhluk malang ini akan dikucilkan. Tidak ada yang mau mengajaknya makan siang, minum kopi bersama atau pergi ke acara-acara sosial lain.

Sayangnya, tidak semua opini subjektif tentang si public enemy ini benar adanya. Terjadilah fenomena knee-jerk  reaction. Orang-orang kemudian latah ikut-ikutan membenci padahal ia kenal baik dengan orang ini, atau tidak melihatnya dari sisi yang berbeda.

Mungkin memang sudah sifat dasar manusia untuk melepas kacamata objektifnya ketika sudah terlanjur dipengaruhi opini orang lain. Katakanlah seseorang menjadi public enemy gara-gara ia terkenal pelit, maka kemungkinan besar, si pemberi opini itu akan mulai mengamati kebiasaan-kebiasaan lain dari si public enemy untuk memberi bahan bakar bully. Contoh lain, misalnya ada seseorang yang tidak disukai di dunia kerja karena hasil kerjanya memang kurang bagus. Yang biasanya terjadi, si korban bakal dikomentari hal-hal tidak ada hubungannya dengan kinerja profesionalnya sebagai pekerja. Seolah-olah, sosok yang dibenci ini harus memiliki atribut lengkap untuk semakin dibenci dan dikucilkan, dan seolah-olah si pemberi opini ini adalah sosok panutan nan sempurna tiada banding.

Dari pengalaman saya sih, kenyataannya tidak semua public enemy itu betul-betul patut dibenci dan dijauhi. Mengapa kita tidak mencoba menilai orang secara menyeluruh, bukan hanya dari satu-dua tindak-tanduk yang diperlihatkannya. Apa yang ditunjukkan orang dalam keseharian di tempatnya bekerja atau bersekolah, biasanya tidaklah mencerminkan kehidupan seseorang yang sebetulnya. Setiap orang punya rahasia dan cerita hidup masing-masing yang tidak semua orang tahu, dan siapa tahu cerita itulah yang kemudian membentuk perilakunya sekarang. 

Manusia memang sosok yang kompleks, dan sayangnya tidak semua orang mau menyelami kompleksitas itu. Kebanyakan dari kita memilih menjadi pribadi yang malas melakukan verifikasi dan malas meneliti. Kita memilih cari aman dan mengikuti suara mayoritas, mengikuti kata si anu atau si itu, yang belum tentu kredibel. 

Siapalah kita ini yang merasa berhak membenci orang lain, padahal kita tidak terlalu kenal dengannya dan tidak tahu cerita hidupnya. Siapalah kita yang penuh dosa ini untuk menghakimi orang lain tanpa dasar, padahal siapa tahu di kemudian hari orang yang kita benci itu tahu-tahu menjadi penolong kita di saat kita butuh pertolongan. 

Kamis, 01 Desember 2016

Lagu-Lagu Rekomendasi

Belakangan ini, gue jarang posting tulisan bertema musik. Padahal, begitu banyak lagu-lagu baru yang sering gue dengarkan. Beberapa di antara lagu-lagu ini malah termasuk kategori berkesan, meskipun lagu ini sudah lama.

Dystopia
Sampai sekarang, gue belum beli album Megadeth yang berjudul Dystopia. Selain gue yang males melakukan pembelian online, gue juga merasa mendengarkannya lewat youtube saja sudah cukup. Dystopia ini keren. Gue padahal bukan yang pengamat musik metal banget, tapi bisa bilang kalo album ini keren, terutama lagu berjudul Dystopia, judul sama dengan albumnya.

Selama masa pengerjaan hingga rilisnya album Dystopia, beredar rumor reuni formasi Megadeth pada era emasnya, yaitu era Rust in Peace, album fenomenal yang rilis pada tahun 1990. Tapi Dave Mustaine, sang vokalis, pendiri sekaligus pemimpin band ini tidak menggubris rumor itu. Ia malah merekrut dua musisi, yaitu Chris Adler untuk mengisi pos drummer dan Kiko Loureiro di posisi lead guitar. Mereka menggantikan peran Shawn Drover dan Chris Broderick yang hengkang. Kiko menjadi anggota tetap, sementara Adler hanya direkrut untuk sebagai session player untuk keperluan rekaman dan proses tur konser.

Gue belum pernah dengar siapa Kiko Loureiro, bagaimana permainannya di band Angra, juga bagaimana karakternya. Tapi begitu mendengar lagu Dystopia, permainan Kiko betul-betul menghipnotis. Nada-nada yang dipilihnya untuk mengisi part solo begitu enak terdengar, meskipun speed tetap menjadi andalan utama. Kiko. Buat saya, meski lagu Dystopia tidak 'seberat' Tornado of Souls atau Holy Wars, tapi bukan berarti kalah kualitas. Dystopia menawarkan kombinasi antara skill musik tingkat tinggi, efisiensi sekaligus harmoni yang begitu menawan. Kalo mau dengar lagu lain yang "Kiko banget", coba saja dengarkan Conquer or Die di album yang sama.

Dari Dystopia, gue semakin meyakini bahwa Megadeth memang lebih keren ketimbang Metallica. Tentu saja, ini semata hanya pendapat pribadi.

KT Tunstall
Gue memang menggemari beberapa penyanyi wanita. Paula Cole, Tori Amos juga Christina Aguilera menjadi favorit. Tapi KT Tunstall? Awalnya, gue tidak begitu memperhatikan. Tetapi, sebuah situasi random mempertemukan kuping dengan lagu Tunstall berjudul Other Side Of The World. Sebetulnya tidak ada yang istimewa-istimewa amat dari materi lagu yang rilis tahun 2005 sebagai bagian dari album Eye To The Telescope ini. Dari segi eksplorasi warna musik dan aransemen pun seperti lagu pop-folk pada umumnya. Begitu pula dari segi lirik yang menceritakan balada hubungan jarak jauh.

Tapi Other Side Of The World seperti memberi hipnotis. Ada kenyamanan bagai bantal dan guling yang empuk ketika suara khas Tunstall dipadukan dengan lirik yang enak diucapkan, musik bertempo lambat dan iringan gitar akustik. Gue bisa mendengarkan lagu ini terus menerus. 

Old Time Rock 'n Roll
Akhirnya, lagu lawas dari Bob Seger berjudul Old Time Rock 'n Roll menjadi yang terakhir yang ingin gue bahas di tulisan ini. Old time rock 'n roll berisi lirik yang sangat-sangat mewakili selera gue dalam hal mendengarkan musik. Dalam lagu yang rilis tahun 1978 ini, Bob Seger menyuarakan kegundahannya pada musik era itu, yang menurut dia tidak memiliki jiwa yang sama dengan rock 'n roll lawas.

There's only sure way to get me to go
Start playing old time rock 'n' roll
Call me a relic, call me what you will
Say I'm old-fashioned, say I'm over the hill
Today' s music ain't got the same soul
I like that old time rock 'n' roll


Begitulah potongan liriknya, yang menyimpulkan isi lagu. Berarti, Bob Seger sudah merasa bahwa musik tahun 70an akhir sudah tidak enak lagi untuk didengar. Wah, kalo tahun-tahun keemasan itu saja udah dibilang gak enak lagi, gimana dengan musik sekarang?

Selasa, 29 November 2016

Tipe-Tipe Mantan


Makhluk yang satu ini sebetulnya tidak layak dikenang, dibicarakan, apalagi ditemui. Jangan coba-coba. Tapi gak ada salahnya juga sih mengenal tipe-tipe mereka, langsung lewat contoh situasi aja biar gampang dibayangkan.

1. Si Mantan Informatif
Ceritanya, Si Gondrong sedang datang kondangan sendirian. Tiba-tiba di situ ada salah satu mantan. Mereka bertemu dan ngobrol, walaupun awkward.
Mantan: Hai! Sendirian aja?
Gondrong: Iya.
Mantan: Pacar gak diajak?
Gondrong: Ngg.. Nggak.
Mantan: Oh sama dong. Gue juga gak bawa pacar.
Gondong: Oh gitu.
Mantan: Iya, soalnya dia lagi ada acara sama temen-temen kantornya gitu deh. Di kantor tuh dia aktif banget lho. Kamu emangnya nggak? Tapi aku sih gak masalah, ya selama kesibukannya positif. Kan menunjang karir dia juga ya.
Gondrong: Ya ya ya.
Mantan: Terus, dia itu pekerja keras banget. Jadi temen-temennya, termasuk aku, juga maklum kalo dia suka gak hadir di acara-acara.
Gondrong: Wow keren banget. Impressive. Eh tapi gue laper nih, gue makan dulu ya. Bye.

2. Si Mantan Tukang Ngatur
Suatu ketika, si Gondrong yang sedang lari pagi di tempat berolahraga kekinian, bertemu dengan salah satu mantan.
Gondrong: Oi. Apa kabar lu?
Mantan: Eh haaiiii.. Baik dong. Sendirian aja?
Gondrong: Iya.
Mantan: Eh, kenapa gitu sendirian?
Gondrong: Kan tujuannya emang olahraga, bukannya kumpul keluarga.
Mantan: Ya tapi kan garing banget gitu sendirian. Lagipula, itu sepatu kok gak match sih sama baju dan celana?
Gondrong: (mulai males) Ya elah. Suka-suka gue,
Mantan: Terus, kamu ke sini naik apa?
Gondrong: Motor
Mantan: Ih kok panas-panas gini naik motor sih. Percuma itu mobil di rumah gak dipake.
Gondrong: So?
Mantan: So? Helloowww.. Masih aja ya kamu itu kaya begitu. Berubah kenapa sih?!
Gondrong: Btw, elu siapa emangnya?
Mantan: *#@#$%^&*(

3. Si Mantan Ngarep
Suatu ketika, Gondrong sedang pergi ke toko buku. Di situ, ketemu dengan mantannya yang lain.
Mantan: Haiii
Gondrong: Eh elo.. Apa kabar?
Mantan: Baik dong. Kamu gimana?
Gondrong: Baik.
Mantan: Sendirian aja?
Gondrong: Iya.
Mantan: Mau ditemenin?
Gondrong: Ngg.. Emangnya elo gak lagi nyari buku juga?
Mantan: Aku udah dapet kok yang aku cari.
Gondrong: Mana? Kok gak bawa belanjaan?
Mantan: Kamuuu
Gondrong: (enek)
Mantan: Kamu cari buku apa sih? Sini aku bantuin. 
Gondrong: Bukan apa-apa kok. Biar gue cari sendiri aja. Makasih udah nawarin.
Mantan: Oh ya udah. Kamu udah makan?
Gondrong: Udah.
Mantan: Pake nasi?
Gondrong: Hah? Nasi? Nggak. Tadi makan kentang goreng aja.
Mantan: Idih. Mana kenyaaanngg? Ya udah, aku temenin makan deh yuk.
Gondrong: Makasih, tapi gue udah kenyang. Bener.
Mantan: Kalo ngopi aja gimana? Atau hot chocolate? Sandwich?
Gondrong: (pura-pura jawab telpon, lalu kabur)

4. Si Mantan Pengen Pinjem Duit
Saat lagi asik kerja di kantor, Gondrong mendapat pesan chat dari salah satu mantannya yang udah lama gak menghubungi.
Mantan: Hai.
Gondrong: Hai.
Mantan: Apa kabar?
Gondrong: Baik. Elu apa kabar?
Mantan: Aku baik... Hmm kamu sekarang lagi apa?
Gondrong: Ya biasalah, lagi kerja.
Mantan: Hmm.. Boleh ganggu sebentar?
Gondrong: Iya boleh. Ada apa?
Mantan: Aku mau minta tolong. Urgent banget nih.
Gondrong: Minta tolong apaan?
Mantan: Aku boleh pinjem duit sejuta gak? Plisss.. Nanti pas gajian aku ganti.
Gondrong: Pinjem duit? Buat apaan?
Mantan: Buat pegangan aja sih, say.. Ya maklum lah aku kan kalo weekend suka diajak jalan sama temen-temen.. Nah besok kan weekend, jadi temen-temen aku pada mau hang out gitu.. Ke Bali.. Terus aku gak ada pegangan uang.. Mau nolak, tapi gimana ya.. gak enak ntar dibilang sombong.
Gondrong: Yah, tapi gue lagi gak pegang duit. Udah kepake semua.
Mantan: Di dompet, ada berapa?
Gondrong: 50 ribu. Pas buat beli rokok sampe besok.
Mantan: Di rekening tabungan, emangnya gak ada?
Gondrong: Udah kepake bayar cicilan.
Mantan: Yah gimana dong... Gak bisa minta tolong pinjem ke nyokap kamu?
Gondrong: *leave chat.

5. Mantan Sok Tegar.
Kali ini, yang jadi subjeknya si Gondrong. Dia cukup terpukul ketika tahu bahwa salah satu mantannya akan menikah. Tapi ketika bertemu, ia berusaha sok cool dan sok kuat.
Gondrong: Eh selamat ya udah mau nikah.
Mantan: Makasih lho. Aku bahagia.
Gondrong: Kalian emang pasangan serasi.
Mantan: Really? Wah aku baru denger komentar ini dari kamu doang. Biasanya, orang suka pada nyela-nyela pacar aku. Katanya gini lah, gitu lah. Makasih ya kamu emang baik banget.
Gondrong: Masa sih? Paling-paling mereka cuma iri sama elo.
Mantan: Betul!! Mereka hanya menilai orang dari fisik dan harta. Padahal buat aku, bukan itu yang paling penting.
Gondrong: Setuju.
Mantan: Kamu emang bener-bener temen yang baik ya. Sebagai balasan atas kebaikan kamu, aku mau kasih kehormatan ke kamu.
Gondrong: Hah? Kasih kehormatan?
Mantan: Iya, maksudnya aku pengen kamu jadi fotografer buat pre-wedding dan wedding aku. Kan kamu jago motret-motret tuh.
Gondrong: Hmm.. Nanti gue liat skedul dulu. Tapi gue usahain kok.
Mantan: Makasih lho. Eh, tapi harganya, pake harga temen yaa..
Gondrong: Boleh. Gue kasih diskon.
Mantan: Seriuuussss? Waaahhh baik bangeetttt. Pacarku pasti seneng deh. Nanti aku minta dia hubungin kamu ya, buat urusin semuanya.
Gondrong: *rolling eyes.

Selasa, 22 November 2016

Temanmu Bukan Cerminmu

Suatu ketika, si Gondrong membaca sebuah artikel motivasional yang kira-kira begini kesimpulannya: Surround yourself with positive people. Orang-orang sukses yang dari kebiasaan dan cara hidupnya, ia bisa memotivasi elo untuk mengikuti. Sehingga elo bisa sesukses dia.

Dalam artikel yang sangat lugas dan berapi-api itu, penulisnya juga berkata bahwa peruntungan dan nasib seseorang akan banyak bergantung pada dengan siapa ia berinteraksi sehari-hari. Proximity, atau kedekatan dikatakannya akan mempengaruhi cara berpikir, cara bertindak, bahkan cara bertutur. Memang tidak salah, karena orang Minang yang sudah lama tinggal di kota Surabaya misalnya, logat Minangnya bisa hilang berganti dengan logat medhok Jawa Timuran yang kental.

Si Gondrong juga pernah membaca sebuah Meme yang bertuliskan: “Show Me Your Friend, And I’ll Show You My Future”. Seolah menambahkan bahwa kalau kita keliru memilih teman, maka masa depan kita menjadi pertaruhan. Jika kita ingin sukses, maka kita harus berbaur dengan orang-orang yang menerapkan standar tinggi dalam hidupnya. Memacu dirinya untuk ikut sukses. Raise your bar! Begitulah kira-kira.

Sambil sok-sok merenung ala filsuf, si Gondrong lalu melihat kepada dirinya sendiri. Sedari kecil, ia telah memiliki berbagai lingkaran pertemanan. Dari lingkaran pertemanan itu, Gondrong telah bertemu bermacam-macam manusia dengan segala tabiat dan karakter. Si Gondrong pernah berada dalam teman sepermainan dengan perokok berat, peminum alkohol, pengguna narkoba, pemain cinta, si pengeluh, si pengemis cinta, si pesimis, si minder hingga si tukang ngutang. Si Gondrong juga pernah berteman dengan si pembaca kitab suci, si ambisius, si optimis, si pede, si lurus, si pandai, si rajin, si penurut dan si baik-baik lainnya.

Ia telah bertemu segala macam manusia. Bukan hanya bertemu, ia juga pernah menjalin pertemanan akrab atau menjalani proyek bersama dengan mereka.

Tapi, anehnya si Gondrong tidak merasa bahwa teman-temannya itu membawa perubahan signifikan dalam cara hidup, cara bersikap, cara bertutur dan cara berpikirnya. Misalnya ketika ia berteman dengan para perokok jaman SMP, ia tidak lantas ikut-ikutan menjadi perokok. Lalu ketika SMA ia berteman dengan remaja-remaja pandai, Gondrong tidak ikut-ikutan jadi rajin ke perpustakaan.

Bahkan kini, ketika si Gondrong berteman dengan para pengangguran atau para pekerja sektor informal, Gondrong tidak mengikuti jejak mereka. Dan ketika Si Gondrong bertemu dengan teman-temannya yang sukses dalam meniti karir di kancah korporasi, Si Gondrong tidak merasa menjadi bagian dari mereka.

Si Gondrong dengan hidupnya sendiri, yang hanya ia dan Tuhan yang menuntun jalan dan langkahnya, tanpa dipengaruhi orang lain. Ya, dalam hal-hal prinsipil semacam ini, Si Gondrong yang biasanya gampang ngalah, bisa berubah menjadi si gelas penuh yang tidak bisa menerima perubahan.

“Gondrong, itu liat dong temen lo yang sekarang sukses jadi Division Head di perusahaan besar. Itu temen sekolah lo dulu, lho. Masa sih elo gak ketularan suksesnya?”

“Gondrong, itu liat dong temen lo yang sekarang jadi pengusaha sukses. Masa sih elo gak pengen seperti dia?”

Begitu ucapan seorang teman.

Padahal, si teman itu tidaklah mengkritisi ketika tahu bahwa Gondrong juga berteman dengan berbagai pekerja dari sektor informal. Kang parkir, kang ojek, kang penunggu warung.

Mengelilingi diri dengan orang sukses, toh tidak berpengaruh buat si Gondrong. Bahkan ketika si Gondrong masih suka nongkrong bareng dengan bos besarnya, ia toh tidak ikutan dipromosi saat penilaian kinerja. Sama saja.

Nasib kita, hanya kita dan Tuhan lah yang menentukan. Bukan teman. Jika seorang teman kini menjadi orang sukses, ya itu karena mereka memang patut mendapatkannya. Dan jika ada seorang teman yang nasibnya kurang beruntung, itu bisa jadi karena nasibnya yang kurang beruntung, atau usahanya yang kurang keras.

Apalagi, kebanyakan teman hanyalah mengaku teman apabila kita sukses. Dan kebanyakan teman yang lain, hanya menelpon kita kalau mau pinjam uang. Lalu ada juga teman lainnya yang sulit banget dianggap teman akibat postingan provokatif dan kampanye negatifnya di media sosial saat musim pilpres atau pilkada.


Teori pertemanan seperti ini tidaklah berlaku bagi si Gondrong. Titik.