Senin, 30 Januari 2017

Dilarang Gondrong

Aku melangkah dengan malas sehabis bercermin. Tidak ada yang salah, hanya saja rambutku sudah terlalu panjang untuk ukuran seorang pekerja kantoran yang sehari-hari bekerja di gedung pencakar langit yang diisi orang-orang rapi.

Ini berarti, aku harus pergi ke tukang cukur rambut. Oh iya, rasanya sudah tiga bulan aku tidak mencukur rambutku. Bagi pria, terang saja menimbulkan efek semigondrong dan kesan urakan. Jenis yang tidak diinginkan di kebanyakan dunia korporasi. Tidak mengapa kamu bekerja dengan performa buruk asalkan rambutmu tertata rapi dan pendek. Jika rambutmu panjang, maka menyalahkanmu akan semakin gampang. 'Kamu terlalu banyak bersolek, jadinya lupa dengan tenggat waktu.' Atau kalimat seperti 'Poni rambutmu menghalangi pandangan ke kertas kerja.'

Aku memang lebih suka memanjangkan rambut. Itu sudah sejak lama. Aku tidak tahu persis alasannya. Jika dibilang banyak musisi rock--yang notabene genre favoritku-- berambut gondrong, ternyata tidak juga. Contohnya James Hetfield, si vokalis band Metallica, sekarang lebih sering tampil dengan rambut pendek. Jadi, perkara memanjangkan rambut betul-betul preferensi pribadi bagiku, dan itu sifatnya sangat subjektif.

Aku melangkah dengan malas menuju tempat pangkas rambut. Di sana, si Mamang yang asli dari Garut bertanya padaku soal rambutku mau dipotong model apa. Aku jelas tidak menyukai model kekinian--yang tipis di pinggir tapi dibelah pinggir di tengah, plus diberi pomade atau gel--makanya aku bilang padanya untuk merapikan saja rambutku.

Sampai tiga kali kuingat ia bertanya "Mau ditipisin lagi apa nggak, Mas?" dan tiga kali pula aku menjawab tegas dengan kata "Tidak!" Mungkin ia sengaja bertanya berulang kali untuk menggoyahkan pendirianku yang menolak potongan rambut model kekinian. Si Mamang mungkin sebal dengan orang seperti diriku. Jika saja semua orang berpikiran sepertiku, rasanya permintaan akan tenaga tukang cukur rambut akan sedikit. Dan karena faktor ini pula lah, aku tidak memiliki tukang cukur favorit. Bagiku, tempat pangkas rambut mungkin sama saja ngerinya dengan tempat praktik dokter gigi bagi anak kecil.

Entah kapan aku bisa berada di lingkungan kerja yang tidak mempermasalahkan potongan rambut. Kali terakhir aku membiarkan rambutku gondrong adalah saat di bangku kuliah, dan hingga saat ini momen itu belum lagi terulang. Yeah, memang agak aneh bagi orang-orang yang bekerja di bidang keuangan sepertiku untuk memanjangkan rambut, seolah di kantor selalu ada papan tak terlihat bertuliskan "Dilarang Gondrong!"

Senin, 09 Januari 2017

Tidak Semua Public Enemy Patut Dibenci

Di mana saja kita berkecimpung dengan sesama makhluk hidup bernama manusia, hampir pasti kita akan menemukan sosok yang tidak disukai orang-orang, atau biasa kita sebut dengan istilah si public enemy. Sebabnya pun macam-macam, dari yang objektif dan prinsipil hingga ke hal-hal kecil yang biasanya sangat subjektif. 

Lalu, apakah kita lantas harus ikut-ikutan membenci dia?

Biasanya, si public enemy ini memiliki kelakuan yang berbeda dari yang lain, dan cenderung negatif. Bisa jadi, ia suka berbohong, suka mencuri, suka menghina orang lain, suka minjem duit (tapi gak suka bayar), suka marah-marahin orang di tempat umum, suka pamer, narsis akut, kasar, cabul, pelit, rakus dan berbagai perilaku sejenis yang bersinggungan dengan perilaku seorang kriminal atau pengidap gangguan kejiwaan berskala rendah hingga menengah. Kalau memang seseorang dibenci karena hal-hal seperti itu, ya wajar saja jika kita ikut berhati-hati. 

Tapi di lingkungan sekitar yang kerap saya temukan, tidak jarang sosok public enemy ini hadir hanya karena opini subjektif dari beberapa orang yang kemudian diikuti secara berjamaah. Hanya karena dia beda, maka dia tidak disukai. Opini ini kemudian mengalami eskalasi ke tahap bully hingga kemudian terdoktrinlah hal-hal jelek tentang si public enemy ini di kepala orang-orang lalu kemudian kita akan berperilaku tidak adil kepadanya. Imbasnya, makhluk malang ini akan dikucilkan. Tidak ada yang mau mengajaknya makan siang, minum kopi bersama atau pergi ke acara-acara sosial lain.

Sayangnya, tidak semua opini subjektif tentang si public enemy ini benar adanya. Terjadilah fenomena knee-jerk  reaction. Orang-orang kemudian latah ikut-ikutan membenci padahal ia kenal baik dengan orang ini, atau tidak melihatnya dari sisi yang berbeda.

Mungkin memang sudah sifat dasar manusia untuk melepas kacamata objektifnya ketika sudah terlanjur dipengaruhi opini orang lain. Katakanlah seseorang menjadi public enemy gara-gara ia terkenal pelit, maka kemungkinan besar, si pemberi opini itu akan mulai mengamati kebiasaan-kebiasaan lain dari si public enemy untuk memberi bahan bakar bully. Contoh lain, misalnya ada seseorang yang tidak disukai di dunia kerja karena hasil kerjanya memang kurang bagus. Yang biasanya terjadi, si korban bakal dikomentari hal-hal tidak ada hubungannya dengan kinerja profesionalnya sebagai pekerja. Seolah-olah, sosok yang dibenci ini harus memiliki atribut lengkap untuk semakin dibenci dan dikucilkan, dan seolah-olah si pemberi opini ini adalah sosok panutan nan sempurna tiada banding.

Dari pengalaman saya sih, kenyataannya tidak semua public enemy itu betul-betul patut dibenci dan dijauhi. Mengapa kita tidak mencoba menilai orang secara menyeluruh, bukan hanya dari satu-dua tindak-tanduk yang diperlihatkannya. Apa yang ditunjukkan orang dalam keseharian di tempatnya bekerja atau bersekolah, biasanya tidaklah mencerminkan kehidupan seseorang yang sebetulnya. Setiap orang punya rahasia dan cerita hidup masing-masing yang tidak semua orang tahu, dan siapa tahu cerita itulah yang kemudian membentuk perilakunya sekarang. 

Manusia memang sosok yang kompleks, dan sayangnya tidak semua orang mau menyelami kompleksitas itu. Kebanyakan dari kita memilih menjadi pribadi yang malas melakukan verifikasi dan malas meneliti. Kita memilih cari aman dan mengikuti suara mayoritas, mengikuti kata si anu atau si itu, yang belum tentu kredibel. 

Siapalah kita ini yang merasa berhak membenci orang lain, padahal kita tidak terlalu kenal dengannya dan tidak tahu cerita hidupnya. Siapalah kita yang penuh dosa ini untuk menghakimi orang lain tanpa dasar, padahal siapa tahu di kemudian hari orang yang kita benci itu tahu-tahu menjadi penolong kita di saat kita butuh pertolongan. 

Kamis, 01 Desember 2016

Lagu-Lagu Rekomendasi

Belakangan ini, gue jarang posting tulisan bertema musik. Padahal, begitu banyak lagu-lagu baru yang sering gue dengarkan. Beberapa di antara lagu-lagu ini malah termasuk kategori berkesan, meskipun lagu ini sudah lama.

Dystopia
Sampai sekarang, gue belum beli album Megadeth yang berjudul Dystopia. Selain gue yang males melakukan pembelian online, gue juga merasa mendengarkannya lewat youtube saja sudah cukup. Dystopia ini keren. Gue padahal bukan yang pengamat musik metal banget, tapi bisa bilang kalo album ini keren, terutama lagu berjudul Dystopia, judul sama dengan albumnya.

Selama masa pengerjaan hingga rilisnya album Dystopia, beredar rumor reuni formasi Megadeth pada era emasnya, yaitu era Rust in Peace, album fenomenal yang rilis pada tahun 1990. Tapi Dave Mustaine, sang vokalis, pendiri sekaligus pemimpin band ini tidak menggubris rumor itu. Ia malah merekrut dua musisi, yaitu Chris Adler untuk mengisi pos drummer dan Kiko Loureiro di posisi lead guitar. Mereka menggantikan peran Shawn Drover dan Chris Broderick yang hengkang. Kiko menjadi anggota tetap, sementara Adler hanya direkrut untuk sebagai session player untuk keperluan rekaman dan proses tur konser.

Gue belum pernah dengar siapa Kiko Loureiro, bagaimana permainannya di band Angra, juga bagaimana karakternya. Tapi begitu mendengar lagu Dystopia, permainan Kiko betul-betul menghipnotis. Nada-nada yang dipilihnya untuk mengisi part solo begitu enak terdengar, meskipun speed tetap menjadi andalan utama. Kiko. Buat saya, meski lagu Dystopia tidak 'seberat' Tornado of Souls atau Holy Wars, tapi bukan berarti kalah kualitas. Dystopia menawarkan kombinasi antara skill musik tingkat tinggi, efisiensi sekaligus harmoni yang begitu menawan. Kalo mau dengar lagu lain yang "Kiko banget", coba saja dengarkan Conquer or Die di album yang sama.

Dari Dystopia, gue semakin meyakini bahwa Megadeth memang lebih keren ketimbang Metallica. Tentu saja, ini semata hanya pendapat pribadi.

KT Tunstall
Gue memang menggemari beberapa penyanyi wanita. Paula Cole, Tori Amos juga Christina Aguilera menjadi favorit. Tapi KT Tunstall? Awalnya, gue tidak begitu memperhatikan. Tetapi, sebuah situasi random mempertemukan kuping dengan lagu Tunstall berjudul Other Side Of The World. Sebetulnya tidak ada yang istimewa-istimewa amat dari materi lagu yang rilis tahun 2005 sebagai bagian dari album Eye To The Telescope ini. Dari segi eksplorasi warna musik dan aransemen pun seperti lagu pop-folk pada umumnya. Begitu pula dari segi lirik yang menceritakan balada hubungan jarak jauh.

Tapi Other Side Of The World seperti memberi hipnotis. Ada kenyamanan bagai bantal dan guling yang empuk ketika suara khas Tunstall dipadukan dengan lirik yang enak diucapkan, musik bertempo lambat dan iringan gitar akustik. Gue bisa mendengarkan lagu ini terus menerus. 

Old Time Rock 'n Roll
Akhirnya, lagu lawas dari Bob Seger berjudul Old Time Rock 'n Roll menjadi yang terakhir yang ingin gue bahas di tulisan ini. Old time rock 'n roll berisi lirik yang sangat-sangat mewakili selera gue dalam hal mendengarkan musik. Dalam lagu yang rilis tahun 1978 ini, Bob Seger menyuarakan kegundahannya pada musik era itu, yang menurut dia tidak memiliki jiwa yang sama dengan rock 'n roll lawas.

There's only sure way to get me to go
Start playing old time rock 'n' roll
Call me a relic, call me what you will
Say I'm old-fashioned, say I'm over the hill
Today' s music ain't got the same soul
I like that old time rock 'n' roll


Begitulah potongan liriknya, yang menyimpulkan isi lagu. Berarti, Bob Seger sudah merasa bahwa musik tahun 70an akhir sudah tidak enak lagi untuk didengar. Wah, kalo tahun-tahun keemasan itu saja udah dibilang gak enak lagi, gimana dengan musik sekarang?

Selasa, 29 November 2016

Tipe-Tipe Mantan


Makhluk yang satu ini sebetulnya tidak layak dikenang, dibicarakan, apalagi ditemui. Jangan coba-coba. Tapi gak ada salahnya juga sih mengenal tipe-tipe mereka, langsung lewat contoh situasi aja biar gampang dibayangkan.

1. Si Mantan Informatif
Ceritanya, Si Gondrong sedang datang kondangan sendirian. Tiba-tiba di situ ada salah satu mantan. Mereka bertemu dan ngobrol, walaupun awkward.
Mantan: Hai! Sendirian aja?
Gondrong: Iya.
Mantan: Pacar gak diajak?
Gondrong: Ngg.. Nggak.
Mantan: Oh sama dong. Gue juga gak bawa pacar.
Gondong: Oh gitu.
Mantan: Iya, soalnya dia lagi ada acara sama temen-temen kantornya gitu deh. Di kantor tuh dia aktif banget lho. Kamu emangnya nggak? Tapi aku sih gak masalah, ya selama kesibukannya positif. Kan menunjang karir dia juga ya.
Gondrong: Ya ya ya.
Mantan: Terus, dia itu pekerja keras banget. Jadi temen-temennya, termasuk aku, juga maklum kalo dia suka gak hadir di acara-acara.
Gondrong: Wow keren banget. Impressive. Eh tapi gue laper nih, gue makan dulu ya. Bye.

2. Si Mantan Tukang Ngatur
Suatu ketika, si Gondrong yang sedang lari pagi di tempat berolahraga kekinian, bertemu dengan salah satu mantan.
Gondrong: Oi. Apa kabar lu?
Mantan: Eh haaiiii.. Baik dong. Sendirian aja?
Gondrong: Iya.
Mantan: Eh, kenapa gitu sendirian?
Gondrong: Kan tujuannya emang olahraga, bukannya kumpul keluarga.
Mantan: Ya tapi kan garing banget gitu sendirian. Lagipula, itu sepatu kok gak match sih sama baju dan celana?
Gondrong: (mulai males) Ya elah. Suka-suka gue,
Mantan: Terus, kamu ke sini naik apa?
Gondrong: Motor
Mantan: Ih kok panas-panas gini naik motor sih. Percuma itu mobil di rumah gak dipake.
Gondrong: So?
Mantan: So? Helloowww.. Masih aja ya kamu itu kaya begitu. Berubah kenapa sih?!
Gondrong: Btw, elu siapa emangnya?
Mantan: *#@#$%^&*(

3. Si Mantan Ngarep
Suatu ketika, Gondrong sedang pergi ke toko buku. Di situ, ketemu dengan mantannya yang lain.
Mantan: Haiii
Gondrong: Eh elo.. Apa kabar?
Mantan: Baik dong. Kamu gimana?
Gondrong: Baik.
Mantan: Sendirian aja?
Gondrong: Iya.
Mantan: Mau ditemenin?
Gondrong: Ngg.. Emangnya elo gak lagi nyari buku juga?
Mantan: Aku udah dapet kok yang aku cari.
Gondrong: Mana? Kok gak bawa belanjaan?
Mantan: Kamuuu
Gondrong: (enek)
Mantan: Kamu cari buku apa sih? Sini aku bantuin. 
Gondrong: Bukan apa-apa kok. Biar gue cari sendiri aja. Makasih udah nawarin.
Mantan: Oh ya udah. Kamu udah makan?
Gondrong: Udah.
Mantan: Pake nasi?
Gondrong: Hah? Nasi? Nggak. Tadi makan kentang goreng aja.
Mantan: Idih. Mana kenyaaanngg? Ya udah, aku temenin makan deh yuk.
Gondrong: Makasih, tapi gue udah kenyang. Bener.
Mantan: Kalo ngopi aja gimana? Atau hot chocolate? Sandwich?
Gondrong: (pura-pura jawab telpon, lalu kabur)

4. Si Mantan Pengen Pinjem Duit
Saat lagi asik kerja di kantor, Gondrong mendapat pesan chat dari salah satu mantannya yang udah lama gak menghubungi.
Mantan: Hai.
Gondrong: Hai.
Mantan: Apa kabar?
Gondrong: Baik. Elu apa kabar?
Mantan: Aku baik... Hmm kamu sekarang lagi apa?
Gondrong: Ya biasalah, lagi kerja.
Mantan: Hmm.. Boleh ganggu sebentar?
Gondrong: Iya boleh. Ada apa?
Mantan: Aku mau minta tolong. Urgent banget nih.
Gondrong: Minta tolong apaan?
Mantan: Aku boleh pinjem duit sejuta gak? Plisss.. Nanti pas gajian aku ganti.
Gondrong: Pinjem duit? Buat apaan?
Mantan: Buat pegangan aja sih, say.. Ya maklum lah aku kan kalo weekend suka diajak jalan sama temen-temen.. Nah besok kan weekend, jadi temen-temen aku pada mau hang out gitu.. Ke Bali.. Terus aku gak ada pegangan uang.. Mau nolak, tapi gimana ya.. gak enak ntar dibilang sombong.
Gondrong: Yah, tapi gue lagi gak pegang duit. Udah kepake semua.
Mantan: Di dompet, ada berapa?
Gondrong: 50 ribu. Pas buat beli rokok sampe besok.
Mantan: Di rekening tabungan, emangnya gak ada?
Gondrong: Udah kepake bayar cicilan.
Mantan: Yah gimana dong... Gak bisa minta tolong pinjem ke nyokap kamu?
Gondrong: *leave chat.

5. Mantan Sok Tegar.
Kali ini, yang jadi subjeknya si Gondrong. Dia cukup terpukul ketika tahu bahwa salah satu mantannya akan menikah. Tapi ketika bertemu, ia berusaha sok cool dan sok kuat.
Gondrong: Eh selamat ya udah mau nikah.
Mantan: Makasih lho. Aku bahagia.
Gondrong: Kalian emang pasangan serasi.
Mantan: Really? Wah aku baru denger komentar ini dari kamu doang. Biasanya, orang suka pada nyela-nyela pacar aku. Katanya gini lah, gitu lah. Makasih ya kamu emang baik banget.
Gondrong: Masa sih? Paling-paling mereka cuma iri sama elo.
Mantan: Betul!! Mereka hanya menilai orang dari fisik dan harta. Padahal buat aku, bukan itu yang paling penting.
Gondrong: Setuju.
Mantan: Kamu emang bener-bener temen yang baik ya. Sebagai balasan atas kebaikan kamu, aku mau kasih kehormatan ke kamu.
Gondrong: Hah? Kasih kehormatan?
Mantan: Iya, maksudnya aku pengen kamu jadi fotografer buat pre-wedding dan wedding aku. Kan kamu jago motret-motret tuh.
Gondrong: Hmm.. Nanti gue liat skedul dulu. Tapi gue usahain kok.
Mantan: Makasih lho. Eh, tapi harganya, pake harga temen yaa..
Gondrong: Boleh. Gue kasih diskon.
Mantan: Seriuuussss? Waaahhh baik bangeetttt. Pacarku pasti seneng deh. Nanti aku minta dia hubungin kamu ya, buat urusin semuanya.
Gondrong: *rolling eyes.

Selasa, 22 November 2016

Temanmu Bukan Cerminmu

Suatu ketika, si Gondrong membaca sebuah artikel motivasional yang kira-kira begini kesimpulannya: Surround yourself with positive people. Orang-orang sukses yang dari kebiasaan dan cara hidupnya, ia bisa memotivasi elo untuk mengikuti. Sehingga elo bisa sesukses dia.

Dalam artikel yang sangat lugas dan berapi-api itu, penulisnya juga berkata bahwa peruntungan dan nasib seseorang akan banyak bergantung pada dengan siapa ia berinteraksi sehari-hari. Proximity, atau kedekatan dikatakannya akan mempengaruhi cara berpikir, cara bertindak, bahkan cara bertutur. Memang tidak salah, karena orang Minang yang sudah lama tinggal di kota Surabaya misalnya, logat Minangnya bisa hilang berganti dengan logat medhok Jawa Timuran yang kental.

Si Gondrong juga pernah membaca sebuah Meme yang bertuliskan: “Show Me Your Friend, And I’ll Show You My Future”. Seolah menambahkan bahwa kalau kita keliru memilih teman, maka masa depan kita menjadi pertaruhan. Jika kita ingin sukses, maka kita harus berbaur dengan orang-orang yang menerapkan standar tinggi dalam hidupnya. Memacu dirinya untuk ikut sukses. Raise your bar! Begitulah kira-kira.

Sambil sok-sok merenung ala filsuf, si Gondrong lalu melihat kepada dirinya sendiri. Sedari kecil, ia telah memiliki berbagai lingkaran pertemanan. Dari lingkaran pertemanan itu, Gondrong telah bertemu bermacam-macam manusia dengan segala tabiat dan karakter. Si Gondrong pernah berada dalam teman sepermainan dengan perokok berat, peminum alkohol, pengguna narkoba, pemain cinta, si pengeluh, si pengemis cinta, si pesimis, si minder hingga si tukang ngutang. Si Gondrong juga pernah berteman dengan si pembaca kitab suci, si ambisius, si optimis, si pede, si lurus, si pandai, si rajin, si penurut dan si baik-baik lainnya.

Ia telah bertemu segala macam manusia. Bukan hanya bertemu, ia juga pernah menjalin pertemanan akrab atau menjalani proyek bersama dengan mereka.

Tapi, anehnya si Gondrong tidak merasa bahwa teman-temannya itu membawa perubahan signifikan dalam cara hidup, cara bersikap, cara bertutur dan cara berpikirnya. Misalnya ketika ia berteman dengan para perokok jaman SMP, ia tidak lantas ikut-ikutan menjadi perokok. Lalu ketika SMA ia berteman dengan remaja-remaja pandai, Gondrong tidak ikut-ikutan jadi rajin ke perpustakaan.

Bahkan kini, ketika si Gondrong berteman dengan para pengangguran atau para pekerja sektor informal, Gondrong tidak mengikuti jejak mereka. Dan ketika Si Gondrong bertemu dengan teman-temannya yang sukses dalam meniti karir di kancah korporasi, Si Gondrong tidak merasa menjadi bagian dari mereka.

Si Gondrong dengan hidupnya sendiri, yang hanya ia dan Tuhan yang menuntun jalan dan langkahnya, tanpa dipengaruhi orang lain. Ya, dalam hal-hal prinsipil semacam ini, Si Gondrong yang biasanya gampang ngalah, bisa berubah menjadi si gelas penuh yang tidak bisa menerima perubahan.

“Gondrong, itu liat dong temen lo yang sekarang sukses jadi Division Head di perusahaan besar. Itu temen sekolah lo dulu, lho. Masa sih elo gak ketularan suksesnya?”

“Gondrong, itu liat dong temen lo yang sekarang jadi pengusaha sukses. Masa sih elo gak pengen seperti dia?”

Begitu ucapan seorang teman.

Padahal, si teman itu tidaklah mengkritisi ketika tahu bahwa Gondrong juga berteman dengan berbagai pekerja dari sektor informal. Kang parkir, kang ojek, kang penunggu warung.

Mengelilingi diri dengan orang sukses, toh tidak berpengaruh buat si Gondrong. Bahkan ketika si Gondrong masih suka nongkrong bareng dengan bos besarnya, ia toh tidak ikutan dipromosi saat penilaian kinerja. Sama saja.

Nasib kita, hanya kita dan Tuhan lah yang menentukan. Bukan teman. Jika seorang teman kini menjadi orang sukses, ya itu karena mereka memang patut mendapatkannya. Dan jika ada seorang teman yang nasibnya kurang beruntung, itu bisa jadi karena nasibnya yang kurang beruntung, atau usahanya yang kurang keras.

Apalagi, kebanyakan teman hanyalah mengaku teman apabila kita sukses. Dan kebanyakan teman yang lain, hanya menelpon kita kalau mau pinjam uang. Lalu ada juga teman lainnya yang sulit banget dianggap teman akibat postingan provokatif dan kampanye negatifnya di media sosial saat musim pilpres atau pilkada.


Teori pertemanan seperti ini tidaklah berlaku bagi si Gondrong. Titik.

Selasa, 25 Oktober 2016

Surat Terbuka Dari Si Rendah Diri

Halo,
Pertama-tama, untuk kalian yang selalu percaya pada kemampuanku, terima kasih. Terima kasih banyak.

Dalam hidupku yang masih singkat ini, mainku yang kurang jauh, cerita hidupku yang datar dan catatan akademis dan prestasiku yang jauh dari kata membanggakan, aku kaget dan cenderung takjub jika kalian masih mempercayaiku.

Kalian percaya bahwa aku seharusnya mampu melakukan lebih dari yang sekarang kulakukan, dan karenanya, aku akan mampu meraih lebih daripada yang kupunya sekarang.

Kalian mungkin melihatku sebagai sosok yang tegar, tekun, tidak macam-macam, dan bekerja keras. Kalian juga tidak pernah membaca postingan keluhan dariku di media sosial. Kalian menganggapku cukup kuat untuk menghadapi masalah, atau setidaknya, cukup bebal.

Tapi masalahnya, di situlah kalian salah. Aku bukanlah orang kuat. Aku hanya mencoba terlihat kuat, terlebih di depan keluargaku. Sebagai kepala keluarga, aku mencoba menampilkan yang baik-baik saja. Aku juga mencoba terlihat bersemangat di depan atasan dan rekan kerjaku, hingga mereka percaya bahwa aku memiliki semangat kerja yang tinggi dan aku tidaklah mengecewakan.

Separuh hidup kujalani dengan ketakutan. Awalnya takut akan ketidakcukupan materi, lama kelamaan takut tidak bisa membantu orang tua dan tidak mampu mencukupi kebutuhan anak. Jadilah aku bekerja di bidang yang sebetulnya tidak terlalu kunikmati.

Tapi kalian senang. Senang dengan pencapaianku, dengan progresi yang kuhasilkan, dengan cicilan-cicilan riba yang kubayar pelan-pelan. Senang bahwa aku duduk nyaman sebagai anggota kelas menengah (ngehe). Tidak ambil pusing tentang apa yang kualami sebetulnya.

Setiap hari, ada saja pengencang saraf di kepalaku. Kudengar ada tekanan, paksaan, intimidasi. Ada tenggat waktu yang harus dijaga, ada kerjasama tim yang harus dilakukan. Ada konsekuensi berat jika aku tidak melakukan pekerjaanku dengan baik.

Suatu kali, seorang rekan kerja menghela nafas panjang. "Hidup itu sulit ya," ujarnya. Aku hanya mengangguk tanpa bisa menjawab. Itu pernyataan retoris, bung. Ya iyalah, apanya yang gak sulit jika kamu memilih menjadi sekrup kecil untuk sebuah mesin yang besar. Sekrup yang dipakai hingga aus, lalu akan diganti dengan mudahnya saat kau tidak lagi berdaya guna.

Aku tidak mau bilang kalau aku mengambil jalan yang salah. Aku justru bersyukur bahwa jalan ini telah membawaku kepada hal-hal yang tak pernah kubayangkan sebelumnya. Hanya saja, aku merasa terpenjara. Bahwa dalam menjalani hidup ini, aku terlalu memikirkan orang lain. Terlalu mendengarkan orang lain. Aku tidak pernah mendengarkan diriku sendiri.

Dalam situasi yang tidak normal, misalnya ketika aku menghadapi masalah di pekerjaan, atau ketika aku melakukan kesalahan, atau ketika menghadapi kesewenangan para penghuni puncak piramida di korporasi, perasaan tidak enak hati ini seperti berlipat ganda. Selain tersiksa karena masalah pekerjaan itu sendiri, aku juga menderita karena masalah ini semestinya bukan masalahku, karena toh ini bukanlah pekerjaan pilihanku. Kalau dianalogikan, ini seperti datang ke acara kumpul-kumpul basa-basi ke rumah saudara, udah gitu pulangnya kena macet parah.

Lihatlah jiwa yang tidak merdeka ini.

Aku menyadari sepenuhnya, bahwa di mana pun kita bekerja, tidak ada tuh merdeka. Kalau kita membuat perusahaan start-up, ada kebutuhan pelanggan yang harus kita puaskan. Jika jadi penulis, ada editor dan pihak penerbit yang harus diikuti aturan mainnya. Kalaupun kita mempunyai penerbit sendiri, sudah pasti ada kewajiban yang harus kita penuhi, yaitu menggaji karyawan. Bahkan, jika kita memilih untuk berjualan bakso atau bubur ayam di pinggir jalan, ada kepuasan pelanggan yang harus kita perhatikan.

Artinya, tetap saja ada kebebasan yang tergadai selama kita masih ingin tinggal di kota, ingin makan enak, ingin sekolah yang terbaik untuk anak, ingin mobil yang nyaman, ingin rumah yang nyaman. Aku tahu, jika bebas, pergi sajalah ke hutan, dan hiduplah di sana dengan mengandalkan hasil hutan.

Jangan menduduh dulu bahwa pikiranku sudah sampai ke sana. Yang kupikirkan hanyalah bagaimana kita bisa sedikit memuaskan jiwa. Aktualisasi diri yang membuat hasil kerja kita lebih optimal. Hasil kerja yang memang datang dari hati, bukan karena terdesak.

Apakah setidaknya aku bisa mendapatkannya?

Selasa, 27 September 2016

Istilah-Istilah Kantoran Yang Kedengeran Keren, Padahal...

Waktu baru pertama kali kerja, mungkin lo akan mendengar istilah-istilah bahasa Inggris yang disingkat. Awalnya bikin bingung, dan kedengerannya intelek. Padahal begitu paham maksudnya, ternyata gak jauh beda dengan apa yang dilakukan sehari-hari di luar kantor. Banyak banget istilah-istilah itu, gue pilih yang paling sering dihadapi:

Concall
Concall kependekan dari conference call. Concall ini gak lain adalah menelpon. Kegiatannya persis seperti orang yang saling bertelepon. Bedanya, concall memakai fasilitas speaker dan pembicaraan dilakukan oleh lebih dari dua orang. Pihak-pihak yang berkepentingan punya masing-masing topik yang mereka bicarakan kepada orang yang dituju. Gak semua orang mendominasi pembicaraan, karena biasanya si atasan lah yang pegang kendali. Yang masih kacung kupret sih biasanya kebagian jatah nyatet aja,

Dalam lingkup yang lebih canggih, concall bisa juga melibatkan beberapa pihak sekaligus di beberapa tempat. Misal, yang menelpon dari Jakarta, lalu pihak yang ditelpon ada yang di Amerika Serikat, Jepang dan Inggris. Selain menggunakan sarana telepon biasa, sekarang banyak kantor yang sudah menggunakan teknologi-teknologi lebih canggih misalnya dengan video call atau chat via masing-masing perangkat komputer, yang semodel webinar gitu lah.

Recon
Recon kependekan dari reconciliation, atau rekonsiliasi. Ngapain nih? Biasanya istilah ini dipakai oleh orang-orang dari divisi finance, accounting, pajak, atau mereka yang sehari-hari berhubungan dengan angka-angka. Recon perlu dilakukan apabila saat kita bekerja, terdapat selisih angka yang perlu dicari tahu sebabnya. Karena dalam dunia akuntansi, selisih sedikit rupiah aja harus ditelusuri. Bukan hanya ditelusuri, tapi juga dicari dokumen pendukungnya dan dimintai penjelasannya.

Siapa suruh jadi akuntan? :P

Meeting
Mungkin ini istilah yang gak asing. Meeting, atau rapat, atau pertemuan, memang penting dilakukan supaya kita tahu apa yang menjadi tugas kita dalam suatu pekerjaan atau proyek.

Dalam meeting ini sangat penting bagi seseorang untuk proaktif, tapi tanpa banyak mengajukan pertanyaan yang terlalu elementer. Kadang-kadang, meeting ini menjadi sarana bagi para penjual untuk 'menjual' sebaik mungkin barang atau jasa yang ditawarkan oleh perusahaannya. Kesuksesan penjualan banyak berawal dari kesuksesan meeting. 

Pembahasan yang dilakukan dalam meeting ini biasanya menyentuh hal-hal yang umum saja, kecuali kalau yang judulnya annual meeting atau cordination meeting yang memang pembahasannya amat mendetil, dan memakan waktu berhari-hari. 

Ketika meeting, kemampuan berdiplomasi memegang peranan penting, banhak tidak jarang kemampuan untuk berdebat demi mempertahankan posisi dan pendapat. Ada beberapa orang yang saya kenal amat lihai dan liat ketika meeting, tapi kurang rapi dalam bekerja. The meeting specialist.

Discuss
Discuss, ya diskusi. Intinya, jika ada suatu pekerjaan yang kita rasa mentok, harus didiskusikan dengan tim atau dengan atasan. Diskusi sifatnya lebih iinformal daripada meeting, dan yang dibahas pun hal-hal yang lebih teknikal dan kongkrit. Diskusi ini biasanya juga dilakukan oleh sedikit orang saja, dan yang perlu saja.

Review
Review artinya memeriksa. Mengecek. Sama kaya kita di sekolah dulu, PR kita akan diperiksa oleh guru atau dosen. Ketika bekerja, hasil kerja kita akan di-review oleh atasan. 

Proses review ini tidak jarang menentukan kapabilitas si atasan, apakah ia menguasai bidangnya secara menyeluruh atau tidak. Jika si atasan tidak menguasai teknis secara mendalam, dia bisa saja dikadalin sama anak buahnya, dan hasil kerjanya tentu tidak maksimal.

Ada pula tipe atasan yang malas me-review. Jurus andalannya adalah dengan bilang ke bawahan "Gue percaya sama lo ya. Ini lo udah yakin kan gak ada yang salah?"

Follow up
Follow up ini maksudnya adalah memantau tahapan pekerjaan agar sesuai dengan target dan tenggat waktu yang ditentukan. Dalam melakukan follow up, kita memang harus rajin dan aktif, karena bisa jadi orang yang kita follow up itu memang lupa atau sengaja tidak mengerjakan yang kita minta. Boleh jadi, mereka merasa hal ini bukanlah tanggung jawabnya.

Follow up boleh jadi merupakan pekerjaan yang paling tidak menyenangkan. Kita harus memantau, mendengarkan keluhan orang lain, sampai dibohongi orang lain. Mereka akan bilang entar besok entar besok, dengan alasan sedang banyak pekerjaan. Biasanya, kalau kita mentok dengan keadaan seperti ini, menghubungi atasannya adalah cara terakhir yang bisa kita lakukan.

Appraisal
Inilah yang ditunggu-tunggu karyawan. Saat nasib si karyawan ditentukan oleh atasan, nasib atasan ditentukan oleh atasannya atasan, dan seterusnya hingga ke pemilik atau pemegang saham. Sistem kapitalisme ya memang begitu, menggunakan performance appraisal untuk mengukur kinerja karyawan, dan menjadi dasar untuk menentukan kenaikan gaji atau jumlah bonus yang diberikan.

Karena urusannya berkaitan dengan duit, biasanya hal-hal seperti ini menjadi topik sensitif. Namanya juga perusahaan, sudah pasti lebih mementingkan profit, dan karena itulah mereka amat selektif menilai kinerja karyawannya. Menentukan siapa yang berhak mendapat 'potongan kue' paling banyak di antara sedikit kue yang dibagikan.

Memang, tidak semua perusahaan mementingkan profit semata. Ada pula yang begitu mementingkan kesejahteraan karyawannya, sehingga si karyawan betah. Tapi itu sih biasanya berlaku bagi perusahaan yang memang kuat secara modal, atau yang pemiliknya gak pelit. Hehehe.

Drama
Siapa bilang esmud-esmud keren berdasi, berjas dan ber-blazer itu orang-orang yang lempeng dan hanya fokus melakukan pekerjaannya masing-masing? Mereka juga manusia, dan yang namanya manusia pasti ada saja sifat iri hati, egois, ingin menjatuhkan, dengki dan tidak senang dengan keberhasilan orang lain. Atau, tidak jarang pula terdapat hubungan khusus atau affair yang bisa menjadikan masalah semakin melebar dan tidak terkendali.

Sifat-sifat inilah yang bisa menjadikan suasana kerja naik-turun. Drama dalam pekerjaan dan kantor memang kadang-kadang seru untuk diikuti, bahkan dijalani. Drama itu bisa membentuk suasana di kantor, sepanjang terkendali. Tapi jika drama-drama itu terlalu berlebihan sehingga menghilangkan objektivitas kita dalam menilai, berarti suasana pekerjaan sudah tidak sehat.

***
Sebetulnya masih ada beberapa istilah lain yang lumayan sering kita dengar, misalnya promotion, assignment, probation, resign dan lain-lain. Lain kali lah kita bahas.