Selasa, 26 Januari 2016

My Circle



Beberapa waktu lalu, saya membaca postingan galau seorang teman di sebuah media sosial. Saya lupa kata-katanya, intinya sih ia merasa kesal dan sedih karena tidak dianggap sebagai inner circle oleh temannya.

Apa sih inner circle itu sehingga seseorang bisa gusar jika tidak dimasukkan ke dalamnya? Kalau menurut definisi yang saya baca lewat googling, inner circle adalah “a small, intimate, and often influential group of people.” Ada juga yang mendefinisikan sebagai “a clique or a group of people or who share a common interest, aim or purpose.”

Dari dua definisi tadi, ada beberapa unsur yang harus dipenuhi untuk menjadi sebuah inner circle. Pertama, adanya kumpulan orang. Selanjutanya, kumpulan tersebut hanya berisi kelompok kecil, berhubungan dekat, memiliki kesamaan tujuan dan ketertarikan. Berbeda dengan organisasi atau perkumpulan, inner circle jauh lebih informal dan santai. Tidak memiliki target yang ingin dicapai, tapi hanya ingin berkumpul saja. Atau jika tidak bisa berkumpul, setidaknya berbicara secara virtual pun bisa. Lebih santai tapi lebih akrab.

Saya sudah sering menuliskannya, dan tidak pernah bosan saya bilang kalau semakin kita dewasa, maka alokasi waktu untuk berkumpul bersama teman akan semakin berkurang, dan untuk itu kita akan selektif untuk mengalokasikan waktu yang sedikit itu untuk dihabiskan bersama orang-orang yang kita inginkan saja. Begitulah penerapan inner circle dalam lingkup pribadi.

Saya sendiri tidak terlalu mementingkan inner circle saya, karena saya tidak punya lagi geng pertemanan yang benar-benar dekat dan begitu sering menghabiskan waktu bersama. Yang kini saya lakukan adalah membentuk circle pertemanan saya sendiri, yang terdiri dari lingkaran terdekat yang berisi sedikit orang saja, hingga lingkaran terjauh yang berisi semakin banyak orang. Tanpa harus menyebut nama, beginilah lingkaran pertemanan saya:

Lingkaran Pertama – Best Friends

Istimewa. Berisi orang-orang yang satu pemikiran, satu visi, dan banyak kesamaan hobi dan ketertarikan, terlepas dari pencapaian dan kemampuan ekonomi kami. Ngobrol sama mereka gak ada habisnya. Orang-orang ini juga mampu mengerti becandaan saya, tahu baik-jeleknya saya, ngerti history saya dan mereka menerimanya dengan baik. Dan mereka gak judging! Setidaknya saya punya tiga orang di lingkaran ini, dan kami masih sering ketemu dan ngobrol tanpa harus merasa terganggu. Untuk lingkaran ini, sibuk hanyalah mitos. Saya akan menyediakan waktu untuk bertemu mereka.

Lingkaran Kedua – Good Friends

Dengan orang-orang ini, saya menyimpan respek, begitu pula sebaliknya, walau tanpa harus diungkapkan berlebihan. Orang-orang ini juga memiliki kesan baik secara keseluruhan, walaupun tidak selalu satu visi, kadang berbeda selera musik dan tempat berlibur favorit, juga berbeda cara hidup secara umum. Setidaknya saya punya 10an orang di sini. Saya mengingat hari-hari spesial mereka, mengucap doa tulus untuk mereka, dan tidak menolak kalo mereka ajak makan-makan.

Lingkaran Ketiga – Allies

Lingkaran ini berisi rekan-rekan seprofesi atau satu hobi yang baik. Bisa juga isinya kenalan-kenalan random yang bertahan cukup lama karena kesan yang baik. Mereka lebih dari sekadar rekan kerja, dan kadang-kadang menghabiskan waktu bersama di luar pekerjaan. Tidak jarang mengalami cekcok, tapi biasanya dapat diselesaikan dengan elegan, walaupun dengan agree to disagree. Biasanya berkumpul dalam rangka seremonial, dan setidaknya mereka ini akan saya sapa dalam hari-hari besar keagamaan.

Lingkaran Keempat – Colleagues

Agak formil, atau profesional. Masih berada dalam lingkaran selama masih saling membutuhkan. Biasanya berisi rekan kerja yang baik dan asik, atau tetangga yang ramah dan suka membantu. Saya memegang prinsip don’t shit where you eat terhadap mereka. Selama masih saling respek dan tidak ada masalah besar dalam pekerjaan, maka semua akan baik-baik saja. 

Lingkaran Kelima – Good People

Orang-orang seperti ini bukanlah teman baik saya, tapi ada hal baik yang bisa saya contoh dari mereka. Berisi orang-orang yang pernah mengerjakan proyek singkat atau kegiatan bersama. Misalnya teman satu komunitas, atau mentor dalam pekerjaan.

Lingkaran Keenam – Derailed

Orang-orang ini pernah jadi teman baik saya, tapi waktu kemudian membuat kami lupa satu sama lain. Atau misalnya karena pernah ada hal gak enak yang membuat hubungan merenggang. Dan semakin merenggang. 

Contoh:
Misalnya, dulu pernah temenan, tapi misalnya pacarnya salah paham sampai marah-marah. Jadi males dong gue. Not worth fighting for.

Misalnya lagi nih, dulu pernah temenan baik, tapi karena dia pernah gak ngebalikin barang yang dia pinjem, atau ngebalikin tapi udah jadi rusak dan dia gak tanggung jawab, nah ini yang gue males.

Lingkaran Ketujuh – Cuma Kenal Aja

Pernah satu sekolah, pernah satu kantor, pernah satu kuliah, jadi teman di media sosial tapi dari dulu tidak pernah bener-bener dekat. Jika melihat profil mereka, hanya untuk kepo. Jika bertemu di jalan, mungkin akan mengobrol basa-basi saja. Atau mereka yang hanya menghubungi kalau ada perlunya doang.

Contoh pembicaraan: Cuaca cerah ya? Jalanan macet ya? Kereta penuh ya? BBM mahal ya? Pemerintah kok begini ya? Barcelona menang terus ya? Pertanyaan yang gak perlu dipikirin serius jawabannya.

Lingkaran Selanjutnya – Gak Usah Kenal

Yang pernah ngutang tapi gak bayar, yang pernah nipu mentah-mentah, yang pernah nyolong, yang pernah menghina, yang pernah nyakitin dengan omongan dan perbuatan, yang seringnya manfaatin doang, yang bener-bener beda visi.

Jumat, 15 Januari 2016

Dari Tragedi Ke Komedi



Kemarin, 14 Januari 2016, patut dicatat dalam sejarah bangsa ini. Serangan teroris yang menyasar daerah pertokoan Sarinah Thamrin, yang bisa dibilang jantungnya kota Jakarta menelan dua korban jiwa tak berdosa, dan Jakarta kemudian digelayut rasa takut. Teror dilanjutkan dengan tebaran pesan singkat berisi ancaman peledakan bom dan serangan lanjutan di beberapa titik keramaian, ditambah kabar akan sosok teroris berjubah putih bermotor trail yang siap memberedel senjata AK-47 kepada siapa saja yang dilihat.

Kepanikan sempat tersebar selama beberapa jam pertama. Informasi 'katanya si ini' dan 'katanya si anu' beredar viral tanpa filter, entah benar atau bohong. Pesan-pesan tadi membuat banyak orang takut, tempat berjualan pun ditutup, karyawan dipulangkan, dan sebagian pengelola gedung menyuruh penghuni tetap di dalam karena menanggap di luar tidak aman.

Tapi hanya beberapa jam saja, bangsa ini mampu mengubah tragedi menjadi komedi, tanpa mengurangi rasa hormat pada korban jiwa. Pesan-pesan menakutkan tadi ternyata hanyalah hoax belaka. Padahal di tempat kejadian, para casual crowd yang menyikapi hal ini dengan bergairah. Maklum saja, sehari-harinya mereka lebih sering mengrubungi dan memfoto korban kecelakaan atau shooting sinetron. Sekarang mereka bisa dapat foto atau video eksklusif berisi baku tembak polisi dengan teroris!

Abang-abang pengais rezeki di sekitaran Thamrin pun tetap berjualan seperti tidak terjadi apa-apa, bahkan mengaku dagangannya lebih cepat habis. Mereka bertemu dengan para pembeli yang kebanyakan kelas menengah yang punya ponsel pintar dengan kamera canggih dan sering main Path untuk berbagi momen dan mendapat 'love'.

Para desainer grafis beradu kreativitas mengedit foto dengan berbagai teknik memukau, para motivator online dan keyboard warrior yang menjalankan perannya untuk membalikkan teror pesan hoax menjadi pembangkit semangat, tidak ketinggalan random person yang punya kecenderungan untuk mengomentari segala hal, walau terbatas kepada grup whatsapp teman sekolah yang udah susah diajak kumpul ketemuan karena udah sibuk masing-masing dan terbiasa php-in janjian. 

Posting dengan tema parenting modern, tausyiah inspiratif, pandangan politik yang bernas, resep makanan enak yang kebarat-baratan dan desain rumah minimalis di Facebook pun sekilas berganti dengan meme-meme kreatif teror Sarinah (dan tentu saja akan segera balik lagi seperti semula). Belum lagi para stalker medsos yang sempat-sempatnya mencari tahu identitas sang polisi ganteng bersepatu Guc*i dan memakai tas Co*ch, juga polwan-polwan cantik yang tiba-tiba menenteng senapan mesin. Ada yang pakai analisa mata uang rupiah yang bisa tergelincir ke 17 ribu, ada ekonom-ekonom dadakan, ada pula pengamat intelejen beneran, dan ada juga orang biasa yang tiba-tiba bisa jadi pengamat. 

Untungnya awan hitam pun sirna. Semua mengambil peran masing-masing untuk memperbaiki keadaan, dan ternyata dalam hitungan jam saja, tragedi ini berangsur menjadi komedi. Sekali lagi, tanpa bermaksud menghilangkan rasa hormat kepada korban.

Di antara hal-hal tidak jelas dan tidak masuk di akal yang terjadi di negara ini, di antara banyaknya para alay yang naik motor ugal-ugalan bertiga di jalanan komplek, di antara ribut-ribut gak jelas (di Facebook doang sih) antara pemerintah haterz dan pemerintah loverz yang saling gemez, kita memiliki polisi-polisi tangguh, tidak hanya yang tambun saja. Publik kita juga punya karakter cuek, bocor dan bodor –entah karena hidupnya yang terbiasa tertekan, kurang diperhatikan atau memang kurang piknik- yang mampu membalikkan sebuah krisis menjadi euforia hanya dalam hitungan jam. Tagar #JakartaMencekam atau #PrayForJakarta sontak berubah menjadi #KamiTidakTakut, #KamiNaksir dan #KamiJugaNaksir bagaikan pesan kemenangan sekaligus tamparan telak bagi lawan. Untung saja tidak ada yang sampai menceburkan diri di air mancur Bunderan HI saking norakgirangnya.

Tapi apakah peristiwa ini perlu dirayakan seperti kemenangan? Tidakkah kita berpikir bahwa serangan ini bisa diikuti serangan-serangan lain yang lebih rapi dan terencana di waktu dan tempat yang sulit diduga? Jangan lupa, kita berhadapan dengan para ekstrimis yang tidak takut mati, yang sudah menyebabkan begitu banyak korban di belahan dunia lain. Sudah tepatkah reaksi kita untuk mengolok-olok balik mereka? Jika tujuan dari teror ini adalah untuk membuat takut, maka ini adalah kekalahan telak. Pembalasan mungkin datang, tapi biarlah masalah keamanan nasional ini dipikirkan oleh pihak berwenang.

Sementara bagi kita yang awam ini, hidup tidak akan banyak berubah. Tetap saja kita akan menghadapi teror sehari-hari dari kemacetan, pengendara mobil yang sotoy dan suka bawa air soft gun, pengendara motor yang kalo salah malah lebih galakan dia, gaji di kantor yang naiknya sedikit-sedikit, ancaman PHK demi efisiensi (atau demi tidak berkurangnya dividen shareholder), cicilan motor PC* dan N*AX yang kita beli sekaligus saking bingung pilih yang mana, juga tagihan kartu kredit hasil belanja kalap di IK*A, Met*o atau M*ther*are.

Senin, 04 Januari 2016

Tentang Kenangan dan Cewek Tercantik Se-Almamater

Malam itu, aktivitas saya dengan ponsel tidak seperti biasa. Jika biasanya ponsel relatif lebih sepi di malam hari, saat itu ponsel saya dibanjiri pesan yang saling berbalas di sebuah grup teman sekolah yang anggotanya memang sengaja diperuntukkan bagi cowok. Biasanya saya pasif di grup percakapan, tapi karena pada saat itu topik yang dibahas sungguh menarik, maka saya turut nimbrung.

Apa yang dibicarakan sampai sebegitu serunya? Peluang bisnis? Politik? Sepak bola? Otomotif? Bukan. Ternyata kami sedang membicarakan kenangan-kenangan lucu perihal percintaan di masa sekolah. Pemicunya adalah olok-olok kami kepada salah satu teman yang sampai sekarang masih menjomblo (grup kami berisi mayoritas bapak-bapak yang sudah menikah).

Entah kenapa, dunia memang kejam terhadap kaum jomblo. Ketika salah seorang teman iseng mencela si jomblo, lalu mencoba menjodohkannya dengan cewek jomblo cantik yang juga satu almamater, tiba-tiba semua ikut nimbrung. “Elo kenapa gak coba deketin si A aja sih? Kan dia belum nikah juga tuh,” ujar salah seorang teman, yang kemudian ditanggapi oleh yang lain. Si korban bully pun pasrah.

Untungnya, dia menanggapinya dengan santai. Ya namanya juga cowok, masa sih harus sensitif? Ya, walaupun pasti lah percakapan seperti ini bikin dia mikir. Hehehe. Maaf ya, kawan. Komedi memang beda tipis dengan tragedi, ya?

Tema cewek cantik dari almamater sekolah ini dengan mudah diputar-putar, dipelintir-pelintir, diselingi postingan foto-foto jaman dulu, lalu disambung-sambungkan dengan cerita lain dari masing-masing orang. Si ini dulu naksir si itu, si ini ditolak si itu, si ini pacaran jarak jauh dengan si itu.

Dari pembicaraan ini juga terungkap beberapa kisah terpendam. Si B misalnya, dibocorin rahasianya sama si C bahwa dia pernah naksir sama si R. Atau si D yang pernah nikung si G, atau si F yang pacaran sama mantan pacarnya si S. Dan sejenisnya. Dan sebagainya. Karena kisah ini sudah lama berlalu, dan masing-masing kita juga sudah melanjutkan hidup, semua celoteh ditanggapi dengan tawa lepas. Ya tidak lepas sih, namanya juga cuma chat dari ponsel, tidak bertemu langsung. Masing-masing istri pasti heran dengan tingkah kami saat itu yang cekikikan sendiri memandangi layar ponsel.

Pembahasan tentang kenangan memang selalu menggugah. Seberapa pahit dan getirnya selalu bisa ditanggapi dengan tawa. Jika mau berbesar hati, memang kenangan bukan untuk ditangisi. Yang namanya kenangan, memang tidak bisa terhapus walaupun kita sudah tidak berada di tempat yang sama, di kelas yang sama. Walaupun status kita sudah berubah dari pelajar menjadi pejabat, pengusaha, atau karyawan biasa.

Kalo buat saya sih, kenangan-kenangan saat kita masih sekolah seperti itu memang berguna untuk mewarnai hidup sehari-hari kini yang sudah disibukkan dengan berbagai persoalan besar dan pelik. Membahas kenangan masa lampau memang menyenangkan, selama memang tidak terus-terusan hingga lupa sama kenyataan hidup. Ya bagaimana bisa lupa, tiba-tiba waktu sudah menunjukkan jam 11 malam. Baru ingat kalau besoknya sudah harus bekerja kembali.

Selamat kembali kepada realita, kawan!

Jumat, 18 Desember 2015

Untuk Yang Suka Cancel Mendadak

Suatu ketika dalam percakapan di sebuah grup whatsapp:


B: 'Ayo! Gue pasti dateng!'

C: 'Nah... Boleh tuh. Udah lama gak olahraga nih.
D: 'Boleh juga. Kapan dan di mana mainnya?'
B: 'Gue sih ikut kalian aja.'
C: 'Idem'
A: 'Ya udah, kita main di lapangan yang biasa. Hari sabtu malam jam 8 ya. Bener nih pada bisa?'
D: 'Bisa.'
C: 'Bisa dong'
B: 'Insya Allah'
A: 'Ok, gue udah book lapangan ya'
B: 'Eh, futsal jadi sabtu ini kan?'
A: 'Jadi lah, kan lapangan udah booked'
B: 'Oh iya. Hehehe. Jam berapa ya?'
A: 'Jam 8 bro.'
B: 'Sip'
Lalu saat h-1:
C: 'Eh bro, gimana futsalnya nih? Jadi kan?'
A: (mulai kesel) Bro, kan lapangan udah booked. Kalo gak ada pemberitahuan batal, ya berarti jadi.'
C: 'Oh iya. Hehehe. Sabar bro.'
A: 'Ok.'
D: 'Waduh ternyata besok ya? Gue kira minggu depan! Gue udah terlanjur bikin acara nih sama keluarga.'
B: 'Eh iya nih, gue lupa kalo besok mobil gue mau dipinjem sodara. Mudah2an udah balik ya pas main.'
C: 'Yah, kok pada begitu sih. Kalo elo berdua gak main, gue juga males ah!'
A: 'Yaah kan dari kemaren-kemaren udah dibilang jelas-jelas. Main di mana, jam berapa, hari apa. Lagian kalo emang ga bisa ya ngomongnya dari kemaren-kemaren dong. Ya udah lah kita cancel aja. Daripada ribet.'
B: 'Yah kok cancel sih bro, kan gue bilang kalo ga ada mobil baru deh gue gak dateng. Jangan ngambek dong.'
A: 'Emangnya elu gak bisa pergi tanpa mobil?'
B: 'Ya bisa sih, tapi kan ribet. Kalo ujan gimana?'
C: 'Iya jangan pada cancel mendadak dong, kasian tuh si A udah book lapangan. Gimana sih.'
D: 'Yah sorry bro, abis dari kemaren gue sibuk banget di kantor, jadi gak sempet buka whatsapp. Lagian gue gak enak sama anak gue, dia pengen main ke mall.'
A: 'Oke, gue gak mau berdebat. Semua emang punya alasan masing-masing. Futsal butuh 10 orang yang siap main, tapi kalo banyak yang cancel ya jelas kurang orang, dan gak bisa main. Lain kali jangan cancel mendadak dong. Gue kan udah bayar booking fee juga.'
D: 'Gue ganti deh booking fee nya. Lagian kan kalau dari awal gue bilang gak bisa, nanti elo pada jadi males ngerencanain. Hehehe.
A: 'Whatever..'

Familiar dengan situasi di atas? Acara futsal bareng memang kedengeran asik. Begitu penting bagi kita, terutama orang kota, yang butuh hiburan, butuh olahraga, butuh waktu buat kumpul sama teman-teman di tengah kesibukan mengumpulkan pundi-pundi kekayaan di dunia yang semakin matrealistis ini.

Tapi yang namanya kumpul bareng remeh temeh begini pun butuh komitmen, sodara-sodara. Butuh respek. Ini juga berlaku buat acara kumpul sejenisnya seperti karaoke atau makan di restoran, yang butuh pemesanan sejak jauh-jauh hari.

Kalau kita mau kumpul di suatu tempat, berarti kita harus pesan tempat itu jauh-jauh hari supaya kebagian. Itu aja udah butuh effort.

Banyak yang harus dikorbanin oleh si 'EO sukarela' ini. Waktu, uang, pulsa, tenaga. Si EO sukarela ini juga udah jauh-jauh hari kosongin jadwalnya, dan mungkin aja udah ngebatalin janji dengan orang lain, dan bisa juga batal pergi ke mall dengan anak dan istrinya.

Lalu bagaimana dengan pihak lapangan futsal yang sudah menyediakan waktunya buat kita, tapi tiba-tiba kita batal menggunakan lapangan? Jelas mereka rugi. Ada opportunity cost yang hilang kalo kata orang ekonomi. Mereka udah nolak pesenan orang lain, yang mungkin aja lebih niat untuk main daripada kita yang cuma untuk cari keringat.

Memang selalu ada alasan bagus untuk ketidakmampuan kita untuk komit. Ada pula yang sifatnya force majeur yang tentu saja akan dimengerti. Tapi kalau alasan batalnya hanya karena hal-hal sepele macam gak ada mobil, ujan gerimis, badan gatel-gatel, muka jerawatan, jari tangan ketusuk duri dan sejenisnya, apalagi elu mengada-ada sesuatu yang sebetulnya gak ada, ini sih udah masalah respek.

Kalo elu respek sama seseorang atau sesuatu, dan kalau elu respek sama diri sendiri supaya gak dibilang omdo, elu pasti akan usahain datang walau ada badai atau harus jalan kaki sekalipun. Respek emang dimulai dari hal-hal kecil sih.

Acara kumpul sama teman itu kedengeran sepele. Padahal kalau masih ada yang mau ngajak kita kumpul dan ketemuan, itu berarti kita masih diingat sebagai teman. Ini masih jauh lebih baik daripada nanti suatu saat kita gak pernah diajak kumpul lagi sama siapa pun.

Memang kita harus mendahulukan keluarga. Katanya, acara kumpul-kumpul teman tidak lebih penting daripada kumpul-kumpul keluarga. Katanya, teman hanya ada saat kita berjaya tapi lupa saat kita susah. Katanya, teman itu datang dan pergi sementara keluarga itu abadi.

Man, itu mah bahasan yang beda. Kita lagi ngomongin bagaimana kita memperlakukan sebuah komitmen, bukan ngebandingin lebih penting mana antara teman dan keluarga. Intinya kalau memang dari awal gak bisa, ya bilang aja gak bisa. Jangan semangat pas ngerencanain, lalu banyak alasan dan ngacauin acara menjelang hari h. Gak perlu juga kita kasih harapan palsu dengan bilang kalau kita bisa datang hanya untuk menjaga antusiasme, padahal ujung-ujungnya cancel mendadak juga.

Respect your friends, respect others, respect yourself! Stop cancel mendadak!

Kamis, 17 Desember 2015

The Holiday

Libur juga akhirnya!

Man, setelah bergumul dengan pekerjaan yang menggunung, deadline yang mencekik dan ekspektasi pemilik modal yang sering tidak realistis, akhirnya sampai juga di penghujung tahun ini. Sebagai sedikit dari wujud kemurahan hati pemilik modal, mereka meliburkan perusahaan selama kurang lebih dua minggu.

Yup, dua minggu! Gak dua minggu kerja sih, tapi dua minggu kalender. Dan itu pun dipotong cuti. Tapi tetep aja, man, jarang-jarang ada korporasi yang ngasih kelonggaran sebegini banyaknya di akhir tahun. Temen-temen yang gue tanya aja, gak ada satu pun yang dapat libur. Ya boro-boro libur, beberapa orang yang gue kenal, malahan gak diperbolehkan ambil cuti oleh bos-bosnya yang terhormat.

Libur kali ini seperti datang dengan waktu yang pas. Ibarat komputer, badan perlu hibernasi. Virus-virus perlu dibersihin dan program-program yang sudah ketinggalan jaman perlu diperbaharui. Kalo ibarat mobil, mungkin perlu servis besar!

Tapi ya meskipun libur, bukan berarti hibernasi terus kaya beruang di musim dingin. Kita tetap butuh makan, butuh jalan-jalan, dan butuh mengisi ulang pengetahuan. Intinya, gue gak mau liburan ini cuma jadi libur bego, alias cuma diisi dengan makan, tidur, main PS, nonton film dan pergi ke mall. Gue juga gak mau menguras tenaga untuk menemui teman-teman lama, karena, toh mereka juga punya kesibukan. Kecuali kalau mereka yang mengajak, ya.

Bersih-bersih rumah? Memasak? Berkebun? Oh man, gue tuh 11-12 dengan Homer Simpson kalo urusan beginian. Leave it to the expert aja lah.

Jadi, sepertinya hal-hal ini yang akan gue kerjakan selama liburan:

Main Sama Anak
Disclaimer: ini bukan pencitraan. Sebagai budak korporasi, waktu gue memang dengan sukarela gue curahkan untuk kemaslahatan bapak-ibu pemilik modal yang terhormat. Karena itulah gue jadi sering pulang malam, dan ada saatnya masuk kerja pas tanggal merah atau akhir pekan.

Liburan ini jelas memberi waktu gue untuk main sama anak, menghabiskan waktu bersama mereka, mengajari mereka permainan yang menyenangkan sebelum tanpa sadar mereka tumbuh besar dan lebih suka menghabiskan waktu bersama teman-temannya.

Baca Buku
Berapa banyak buku yang belum gue baca meskipun udah dibeli? Entahlah. Sama seperti yang lain, gue rasa ini memang sindrom orang kota. Saking sibuknya sama kerjaan, jadi lupa menambah pengetahuan. Otak kehilangan kreativitas, perut menggendut, malas bergerak dan imajinasi mati. Cuma jadi seonggok daging yang bergerak ke sana kemari tanpa makna. Gua gak mau jadi orang itu.

Gak usah pasang target yang muluk-muluk soal berapa buku yang mau dibaca, dan gak usah juga beli buku baru, toh buku lama juga masih banyak yang belum dibaca. Yang jelas harus buku. Literatur. Novel fiksi atau non fiksi. Bukan artikel, bukan majalah bergambar. Gak harus bacaan berat atau filosofis kaya mas-mas yang jenius itu sih. Pokoknya baca.

Belajar Bahasa Baru
Tanpa bermaksud gaya-gayaan, belajar bahasa baru menurut gue adalah kebutuhan. Banyak manfaat didapat, dan sudah pasti memacu otak untuk terus berkembang. Sejak tahun lalu, gue sebenernya udah belajar bahasa Rusia. Tapi ya dasar tekad Nobita, sampai saat ini gue baru bisa membaca huruf Sirilik aja. Itu pun belum lancar-lancar amat. Kali ini, gue mau coba lagi.

Main Gitar
Jago main gitar adalah impian gue sejak kecil, dan sampai sekarang belum juga kesampaian. Gak peduli jari udah kaku dan ngeband udah jarang, jago main gitar sama sekali gak rugi.

Olahraga
Naahh ini dia yang wajib banget dikerjain. Top of the list setelah main sama anak. Dalam tiga tahun terakhir, frekuensi olahraga gue makin berkurang. Emang agak susah sih. Maen futsal selalu sulit ngajak orang. Teman-teman gue banyak banget alasannya kalau diajak main futsal, dari alasan sibuk ini-itu sampai gak ada mobil (man, kan sekarang ada Gojek dan sejenisnya). Main bola lapangan besar? Bisa engap-engapan deh.

Nge-gym? Renang? Kalo elo kenal gue dengan baik, maka elo gak bakal ngajak gue melakukan olahraga ini.

Squash? Golf? Bowling? Yaaa.. mungkin patut dicoba kalo pas ada teman. Bowling sounds great!