Senin, 04 Januari 2016

Tentang Kenangan dan Cewek Tercantik Se-Almamater

Malam itu, aktivitas saya dengan ponsel tidak seperti biasa. Jika biasanya ponsel relatif lebih sepi di malam hari, saat itu ponsel saya dibanjiri pesan yang saling berbalas di sebuah grup teman sekolah yang anggotanya memang sengaja diperuntukkan bagi cowok. Biasanya saya pasif di grup percakapan, tapi karena pada saat itu topik yang dibahas sungguh menarik, maka saya turut nimbrung.

Apa yang dibicarakan sampai sebegitu serunya? Peluang bisnis? Politik? Sepak bola? Otomotif? Bukan. Ternyata kami sedang membicarakan kenangan-kenangan lucu perihal percintaan di masa sekolah. Pemicunya adalah olok-olok kami kepada salah satu teman yang sampai sekarang masih menjomblo (grup kami berisi mayoritas bapak-bapak yang sudah menikah).

Entah kenapa, dunia memang kejam terhadap kaum jomblo. Ketika salah seorang teman iseng mencela si jomblo, lalu mencoba menjodohkannya dengan cewek jomblo cantik yang juga satu almamater, tiba-tiba semua ikut nimbrung. “Elo kenapa gak coba deketin si A aja sih? Kan dia belum nikah juga tuh,” ujar salah seorang teman, yang kemudian ditanggapi oleh yang lain. Si korban bully pun pasrah.

Untungnya, dia menanggapinya dengan santai. Ya namanya juga cowok, masa sih harus sensitif? Ya, walaupun pasti lah percakapan seperti ini bikin dia mikir. Hehehe. Maaf ya, kawan. Komedi memang beda tipis dengan tragedi, ya?

Tema cewek cantik dari almamater sekolah ini dengan mudah diputar-putar, dipelintir-pelintir, diselingi postingan foto-foto jaman dulu, lalu disambung-sambungkan dengan cerita lain dari masing-masing orang. Si ini dulu naksir si itu, si ini ditolak si itu, si ini pacaran jarak jauh dengan si itu.

Dari pembicaraan ini juga terungkap beberapa kisah terpendam. Si B misalnya, dibocorin rahasianya sama si C bahwa dia pernah naksir sama si R. Atau si D yang pernah nikung si G, atau si F yang pacaran sama mantan pacarnya si S. Dan sejenisnya. Dan sebagainya. Karena kisah ini sudah lama berlalu, dan masing-masing kita juga sudah melanjutkan hidup, semua celoteh ditanggapi dengan tawa lepas. Ya tidak lepas sih, namanya juga cuma chat dari ponsel, tidak bertemu langsung. Masing-masing istri pasti heran dengan tingkah kami saat itu yang cekikikan sendiri memandangi layar ponsel.

Pembahasan tentang kenangan memang selalu menggugah. Seberapa pahit dan getirnya selalu bisa ditanggapi dengan tawa. Jika mau berbesar hati, memang kenangan bukan untuk ditangisi. Yang namanya kenangan, memang tidak bisa terhapus walaupun kita sudah tidak berada di tempat yang sama, di kelas yang sama. Walaupun status kita sudah berubah dari pelajar menjadi pejabat, pengusaha, atau karyawan biasa.

Kalo buat saya sih, kenangan-kenangan saat kita masih sekolah seperti itu memang berguna untuk mewarnai hidup sehari-hari kini yang sudah disibukkan dengan berbagai persoalan besar dan pelik. Membahas kenangan masa lampau memang menyenangkan, selama memang tidak terus-terusan hingga lupa sama kenyataan hidup. Ya bagaimana bisa lupa, tiba-tiba waktu sudah menunjukkan jam 11 malam. Baru ingat kalau besoknya sudah harus bekerja kembali.

Selamat kembali kepada realita, kawan!

Jumat, 18 Desember 2015

Untuk Yang Suka Cancel Mendadak

Suatu ketika dalam percakapan di sebuah grup whatsapp:


B: 'Ayo! Gue pasti dateng!'

C: 'Nah... Boleh tuh. Udah lama gak olahraga nih.
D: 'Boleh juga. Kapan dan di mana mainnya?'
B: 'Gue sih ikut kalian aja.'
C: 'Idem'
A: 'Ya udah, kita main di lapangan yang biasa. Hari sabtu malam jam 8 ya. Bener nih pada bisa?'
D: 'Bisa.'
C: 'Bisa dong'
B: 'Insya Allah'
A: 'Ok, gue udah book lapangan ya'
B: 'Eh, futsal jadi sabtu ini kan?'
A: 'Jadi lah, kan lapangan udah booked'
B: 'Oh iya. Hehehe. Jam berapa ya?'
A: 'Jam 8 bro.'
B: 'Sip'
Lalu saat h-1:
C: 'Eh bro, gimana futsalnya nih? Jadi kan?'
A: (mulai kesel) Bro, kan lapangan udah booked. Kalo gak ada pemberitahuan batal, ya berarti jadi.'
C: 'Oh iya. Hehehe. Sabar bro.'
A: 'Ok.'
D: 'Waduh ternyata besok ya? Gue kira minggu depan! Gue udah terlanjur bikin acara nih sama keluarga.'
B: 'Eh iya nih, gue lupa kalo besok mobil gue mau dipinjem sodara. Mudah2an udah balik ya pas main.'
C: 'Yah, kok pada begitu sih. Kalo elo berdua gak main, gue juga males ah!'
A: 'Yaah kan dari kemaren-kemaren udah dibilang jelas-jelas. Main di mana, jam berapa, hari apa. Lagian kalo emang ga bisa ya ngomongnya dari kemaren-kemaren dong. Ya udah lah kita cancel aja. Daripada ribet.'
B: 'Yah kok cancel sih bro, kan gue bilang kalo ga ada mobil baru deh gue gak dateng. Jangan ngambek dong.'
A: 'Emangnya elu gak bisa pergi tanpa mobil?'
B: 'Ya bisa sih, tapi kan ribet. Kalo ujan gimana?'
C: 'Iya jangan pada cancel mendadak dong, kasian tuh si A udah book lapangan. Gimana sih.'
D: 'Yah sorry bro, abis dari kemaren gue sibuk banget di kantor, jadi gak sempet buka whatsapp. Lagian gue gak enak sama anak gue, dia pengen main ke mall.'
A: 'Oke, gue gak mau berdebat. Semua emang punya alasan masing-masing. Futsal butuh 10 orang yang siap main, tapi kalo banyak yang cancel ya jelas kurang orang, dan gak bisa main. Lain kali jangan cancel mendadak dong. Gue kan udah bayar booking fee juga.'
D: 'Gue ganti deh booking fee nya. Lagian kan kalau dari awal gue bilang gak bisa, nanti elo pada jadi males ngerencanain. Hehehe.
A: 'Whatever..'

Familiar dengan situasi di atas? Acara futsal bareng memang kedengeran asik. Begitu penting bagi kita, terutama orang kota, yang butuh hiburan, butuh olahraga, butuh waktu buat kumpul sama teman-teman di tengah kesibukan mengumpulkan pundi-pundi kekayaan di dunia yang semakin matrealistis ini.

Tapi yang namanya kumpul bareng remeh temeh begini pun butuh komitmen, sodara-sodara. Butuh respek. Ini juga berlaku buat acara kumpul sejenisnya seperti karaoke atau makan di restoran, yang butuh pemesanan sejak jauh-jauh hari.

Kalau kita mau kumpul di suatu tempat, berarti kita harus pesan tempat itu jauh-jauh hari supaya kebagian. Itu aja udah butuh effort.

Banyak yang harus dikorbanin oleh si 'EO sukarela' ini. Waktu, uang, pulsa, tenaga. Si EO sukarela ini juga udah jauh-jauh hari kosongin jadwalnya, dan mungkin aja udah ngebatalin janji dengan orang lain, dan bisa juga batal pergi ke mall dengan anak dan istrinya.

Lalu bagaimana dengan pihak lapangan futsal yang sudah menyediakan waktunya buat kita, tapi tiba-tiba kita batal menggunakan lapangan? Jelas mereka rugi. Ada opportunity cost yang hilang kalo kata orang ekonomi. Mereka udah nolak pesenan orang lain, yang mungkin aja lebih niat untuk main daripada kita yang cuma untuk cari keringat.

Memang selalu ada alasan bagus untuk ketidakmampuan kita untuk komit. Ada pula yang sifatnya force majeur yang tentu saja akan dimengerti. Tapi kalau alasan batalnya hanya karena hal-hal sepele macam gak ada mobil, ujan gerimis, badan gatel-gatel, muka jerawatan, jari tangan ketusuk duri dan sejenisnya, apalagi elu mengada-ada sesuatu yang sebetulnya gak ada, ini sih udah masalah respek.

Kalo elu respek sama seseorang atau sesuatu, dan kalau elu respek sama diri sendiri supaya gak dibilang omdo, elu pasti akan usahain datang walau ada badai atau harus jalan kaki sekalipun. Respek emang dimulai dari hal-hal kecil sih.

Acara kumpul sama teman itu kedengeran sepele. Padahal kalau masih ada yang mau ngajak kita kumpul dan ketemuan, itu berarti kita masih diingat sebagai teman. Ini masih jauh lebih baik daripada nanti suatu saat kita gak pernah diajak kumpul lagi sama siapa pun.

Memang kita harus mendahulukan keluarga. Katanya, acara kumpul-kumpul teman tidak lebih penting daripada kumpul-kumpul keluarga. Katanya, teman hanya ada saat kita berjaya tapi lupa saat kita susah. Katanya, teman itu datang dan pergi sementara keluarga itu abadi.

Man, itu mah bahasan yang beda. Kita lagi ngomongin bagaimana kita memperlakukan sebuah komitmen, bukan ngebandingin lebih penting mana antara teman dan keluarga. Intinya kalau memang dari awal gak bisa, ya bilang aja gak bisa. Jangan semangat pas ngerencanain, lalu banyak alasan dan ngacauin acara menjelang hari h. Gak perlu juga kita kasih harapan palsu dengan bilang kalau kita bisa datang hanya untuk menjaga antusiasme, padahal ujung-ujungnya cancel mendadak juga.

Respect your friends, respect others, respect yourself! Stop cancel mendadak!

Kamis, 17 Desember 2015

The Holiday

Libur juga akhirnya!

Man, setelah bergumul dengan pekerjaan yang menggunung, deadline yang mencekik dan ekspektasi pemilik modal yang sering tidak realistis, akhirnya sampai juga di penghujung tahun ini. Sebagai sedikit dari wujud kemurahan hati pemilik modal, mereka meliburkan perusahaan selama kurang lebih dua minggu.

Yup, dua minggu! Gak dua minggu kerja sih, tapi dua minggu kalender. Dan itu pun dipotong cuti. Tapi tetep aja, man, jarang-jarang ada korporasi yang ngasih kelonggaran sebegini banyaknya di akhir tahun. Temen-temen yang gue tanya aja, gak ada satu pun yang dapat libur. Ya boro-boro libur, beberapa orang yang gue kenal, malahan gak diperbolehkan ambil cuti oleh bos-bosnya yang terhormat.

Libur kali ini seperti datang dengan waktu yang pas. Ibarat komputer, badan perlu hibernasi. Virus-virus perlu dibersihin dan program-program yang sudah ketinggalan jaman perlu diperbaharui. Kalo ibarat mobil, mungkin perlu servis besar!

Tapi ya meskipun libur, bukan berarti hibernasi terus kaya beruang di musim dingin. Kita tetap butuh makan, butuh jalan-jalan, dan butuh mengisi ulang pengetahuan. Intinya, gue gak mau liburan ini cuma jadi libur bego, alias cuma diisi dengan makan, tidur, main PS, nonton film dan pergi ke mall. Gue juga gak mau menguras tenaga untuk menemui teman-teman lama, karena, toh mereka juga punya kesibukan. Kecuali kalau mereka yang mengajak, ya.

Bersih-bersih rumah? Memasak? Berkebun? Oh man, gue tuh 11-12 dengan Homer Simpson kalo urusan beginian. Leave it to the expert aja lah.

Jadi, sepertinya hal-hal ini yang akan gue kerjakan selama liburan:

Main Sama Anak
Disclaimer: ini bukan pencitraan. Sebagai budak korporasi, waktu gue memang dengan sukarela gue curahkan untuk kemaslahatan bapak-ibu pemilik modal yang terhormat. Karena itulah gue jadi sering pulang malam, dan ada saatnya masuk kerja pas tanggal merah atau akhir pekan.

Liburan ini jelas memberi waktu gue untuk main sama anak, menghabiskan waktu bersama mereka, mengajari mereka permainan yang menyenangkan sebelum tanpa sadar mereka tumbuh besar dan lebih suka menghabiskan waktu bersama teman-temannya.

Baca Buku
Berapa banyak buku yang belum gue baca meskipun udah dibeli? Entahlah. Sama seperti yang lain, gue rasa ini memang sindrom orang kota. Saking sibuknya sama kerjaan, jadi lupa menambah pengetahuan. Otak kehilangan kreativitas, perut menggendut, malas bergerak dan imajinasi mati. Cuma jadi seonggok daging yang bergerak ke sana kemari tanpa makna. Gua gak mau jadi orang itu.

Gak usah pasang target yang muluk-muluk soal berapa buku yang mau dibaca, dan gak usah juga beli buku baru, toh buku lama juga masih banyak yang belum dibaca. Yang jelas harus buku. Literatur. Novel fiksi atau non fiksi. Bukan artikel, bukan majalah bergambar. Gak harus bacaan berat atau filosofis kaya mas-mas yang jenius itu sih. Pokoknya baca.

Belajar Bahasa Baru
Tanpa bermaksud gaya-gayaan, belajar bahasa baru menurut gue adalah kebutuhan. Banyak manfaat didapat, dan sudah pasti memacu otak untuk terus berkembang. Sejak tahun lalu, gue sebenernya udah belajar bahasa Rusia. Tapi ya dasar tekad Nobita, sampai saat ini gue baru bisa membaca huruf Sirilik aja. Itu pun belum lancar-lancar amat. Kali ini, gue mau coba lagi.

Main Gitar
Jago main gitar adalah impian gue sejak kecil, dan sampai sekarang belum juga kesampaian. Gak peduli jari udah kaku dan ngeband udah jarang, jago main gitar sama sekali gak rugi.

Olahraga
Naahh ini dia yang wajib banget dikerjain. Top of the list setelah main sama anak. Dalam tiga tahun terakhir, frekuensi olahraga gue makin berkurang. Emang agak susah sih. Maen futsal selalu sulit ngajak orang. Teman-teman gue banyak banget alasannya kalau diajak main futsal, dari alasan sibuk ini-itu sampai gak ada mobil (man, kan sekarang ada Gojek dan sejenisnya). Main bola lapangan besar? Bisa engap-engapan deh.

Nge-gym? Renang? Kalo elo kenal gue dengan baik, maka elo gak bakal ngajak gue melakukan olahraga ini.

Squash? Golf? Bowling? Yaaa.. mungkin patut dicoba kalo pas ada teman. Bowling sounds great!

Minggu, 29 November 2015

Si Medioker

Hampir sembilan tahun sudah saya menjalani kehidupan sebagai pekerja kantoran. Bekerja sebagai (katanya sih) spesialis pada sebuah disiplin ilmu yang cukup menjanjikan dan semakin ke sini semakin dicari orang.

Katanya sih begitu, tapi bukan itu yang ingin saya bicarakan.

Pekerjaan ini, walaupun sering saya jalani sambil misuh-misuh dan menggelengkan kepala karena gak selesai-selesai, toh membawa rizki. Kalau berbicara materi, alhamdulillah saya dibayar cukup. Cukup untuk makan sehari-hari tapi memang tidak akan pernah cukup kalau setiap hari harus dipakai buat lunch, ngopi dan dinner cantik yang kalo difoto tuh instagram-able dan path-able. 

“Disyukuri aja, bro.”

Begitulah perkataan yang sering saya jumpai --baik dari teman sendiri, ataupun dari postingan cantik para keyboard warrior yang mengambil keuntungan besar dari kecenderungan orang untuk men-share postingan yang menurut mereka amat inspiratif-- bahwa di zaman yang serba sulit ini, kehidupan yang saya punya boleh jadi diinginkan oleh jutaan orang yang cari makan aja sulit.

Tapi secuplik kalimat curahan rasa syukur sekalipun tidak mampu mengubah fakta bahwa saya masih saja berangan tentang diri saya dalam versi kehidupan lain, atau sebut saja alternate universe. Saya masih suka berpikir tentang diri saya sebagai pesepak bola atau sebagai musisi, atau melakukan pekerjaan lain sehubungan dua bidang itu.

Mengapa hal seperti ini bisa terjadi pada saya, tentu ada hubungannya dengan masa kecil saya. Sewaktu masih sekolah, saya tidak memiliki ketertarikan terhadap mata pelajaran apa pun kecuali olahraga, seni musik dan chapter tentang peta buta dalam pelajaran Geografi. Untuk pelajaran eksakta, dari dulu pun saya adalah anak IPA gadungan yang selalu membenci pelajaran Fisika, dan tidak suka pelajaran Biologi. 

Hal-hal ini menjadikan saya tumbuh sebagai anak sekolah yang tidak memiliki visi. Tidak seperti teman-teman saya yang sedari SMA sudah tahu mau lanjut ke jurusan apa ketika kuliah nanti, dan untuk itu rajin mengikuti bimbel-bimbel. Saya sih hanya mengikuti proses, menjalani sistem yang sudah ada dan pasrah diombang-ambing oleh tuntutan yang terdengar tidak realistis dari guru dan orang tua. Dan semua itu juga menjadikan saya sebagai tipikal anak muda yang playing safe, average dan gak rebel.

Nilai-nilai akademis saya tidak bagus, tapi tidak juga jelek. Saya memang sulit mendapat nilai 100 atau predikat juara kelas, tapi ketika sedang 'sehat', rasanya saya akan mampu bertarung untuk keluar dari 'zona degradasi' di peringkat kelas. Saya hanya nyaman berada di tengah, nyaman tidak diperhatikan, dan rela dicibir oleh anak-anak yang (merasa lebih) pintar.

Oh iya, semasa sekolah, saya juga tidak merokok, mabok, tawuran dan pacaran. Gak neko-neko, atau secara sarkastis lebih pantas dibilang culun.

Bagian itu, toh sampai sekarang masih membuat saya kesal jika harus mengingatnya. Berprestasi enggak, bandel enggak. Gaul pun enggak. 

Ketika saya akhirnya kuliah di sebuah kampus yang katanya sih unggulan, saya pun masih menjadi the average. Saya jarang dapat nilai A, tapi saya juga tidak pernah mendapatkan lebih buruk dari C. 

Masa kuliah pun saya jalani tanpa kesan mendalam, baik dalam akademis maupun pergaulan. Di luar jam kuliah, saya tidak pernah melakukan kegiatan apa pun yang berkesan, apalagi yang bermanfaat bagi orang banyak. Hanya bermain ke sana-kemari tanpa tujuan yang jelas. 

Ada berapa trofi atau penghargaan yang saya punya di rumah? Tidak ada. Lomba balap karung, makan kerupuk, futsal antar RT dan sepak bola antar jurusan tentu tidak masuk hitungan. Saya kalah dari Beavis dan Butthead yang pernah mendapat bintang penghargaan dari Bill Clinton, dan bahkan kalah dari anak tetangga sebelah yang pernah mendapat penghargaan dari Pak RT karena berhasil menangkap maling.

Cerita di atas adalah sama sekali tidak menarik dan bahkan gak akan lolos nominasi tayang di majalah dinding sekolah atau papan maklumat di pos kamling. 

Sepertinya tidak sulit untuk membaca masa depan dari anak yang cara hidup dan berpikirnya seperti ini. Tapi masa depan memang tidak pasti, dan setiap orang memang memiliki turning point dalam hidupnya. Bagi saya, momen itu adalah ketika mulai berkeluarga, terlebih memiliki anak. Keadaan ini mau tidak mau memotivasi untuk memberikan yang terbaik bagi mereka, dan untuk itu saya rela menjadi sebuah baut untuk mesin besar bernama korporasi walaupun pikiran saya kadang-kadang berada di tempat lain.

Everything happens for a reason. Berkat kecintaan tak beralasan pada sepak bola dan musik, Tuhan pada akhirnya memberikan sedikit kemenangan di antara banyaknya kekalahan yang sudah saya alami. Tahun lalu, saya mendapatkan serangkaian pencapaian yang sebelumnya tidak pernah saya sangka-sangka, dan tanpa terasa, saya juga telah memantapkan diri untuk menjadi spesialis di bidang yang saya geluti. Berbagai peluang lain pun terbuka dengan sendirinya.

Untuk pekerja kantoran, menimbun pengetahuan di luar bidang pekerjaan adalah bentuk pemborosan kapasitas otak. Tapi saya percaya bahwa tidak ada satu pun pengetahuan yang percuma. Buktinya, saya menjadi lawan tangguh bagi teman-teman sekantor yang sedang keranjingan main Duel Otak.  Hehe.

Saya bukan tipe karyawan cemerlang yang setiap saat selalu siap dengan solusi non-ortodoks yang out of the box, dan setiap tahun selalu mendapat predikat eksepsional atau menjadi top performer. Tapi dalam bekerja, setidaknya saya memiliki rasa malu jika mengecewakan orang yang sudah membayar gaji saya. Saya juga selalu terbuka dengan pengalaman dan pengetahuan baru, dan tidak mengeluh jika diberi tugas yang sebelumnya saya tidak pernah kerjakan. Itulah yang biasanya saya jual kalau lagi interview. Haha.

Selama upah dari pemilik modal yang terhormat mampu mengepulkan dapur, sayalah si medioker yang siap memberikan apa saja. Tapi saya juga tipe karyawan yang kemungkinan besar akan resign andaikan tanpa sengaja menemukan bongkahan batu akik bernilai miliaran rupiah di suatu tempat.

Rabu, 11 November 2015

Tentang Masa Kecil Siapa Yang Lebih Bahagia

Belakangan ini, sering banget saya lihat postingan, baik berbentuk tulisan pendek, meme atau foto-foto berupa klaim tentang masa kecil anak 90an yang amat menyenangkan. Dari mulai bermain gambar tempel, kelereng, nonton Doraemon dan Power Ranger setiap minggu pagi, makan agar-agar dan lidi asin yang dijual abang-abang depan sekolah, hingga menyalahgunakan kaca rautan untuk mengintip rok anak perempuan.

Katanya, semua itu menyenangakan, tak tergantikan dan tak terlupakan, hingga meski sekarang semuanya sudah hilang, banyak di antara kita yang mencari-cari barang-barang 90an atau menonton pertunjukan musik 90an. Mungkin cuma kosakata slapstick 90an macam ‘au ah gelap’, ‘bokis’, ‘bokin’ ‘egelugu sigiagapaga’ dan model rambut belah tengah aja yang sudah ditinggalkan.

Dalam banyak hal, saya setuju tentang betapa menyenangkannya era 90an. 90an adalah masa di mana teknologi berkembang amat pesat. Telepon, komputer, dunia pertunjukan (showbiz) dan banyak teknologi lain yang muncul ke permukaan (khususnya di Indonesia) pada tahun 90an. Dan seperti ‘anak bayi’, penggunaan teknologi ini jadi pengalaman pertama yang bikin penasaran. Ketika telepon baru dipasang, kita sering terlalu lama menelpon teman atau layanan 0809 hingga orang tua mencak-mencak ketika tagihan telepon membengkak. Telepon dikunci, kita akali dengan memencet nomor pakai sendok. Jika sudah tidak mungkin lagi diakali, kita rela menyisihkan uang jajan untuk menelpon di wartel atau mengantre di telepon umum koin dengan risiko dipalak anak preman yang nongkrong di situ.

Revolusi dari teknologi dan maraknya dunia pertunjukan ini kemudian melahirkan dinamika dalam masa tumbuh anak-anak 90an. Tapi di tengah perubahan drastis ini, anak-anak 90an pun masih diajarkan oleh generasi sebelumnya (yaitu orang tua kita) untuk menyeimbangkan cara hidup. Jangan sampai teknologi dan gemerlapnya dunia pertunjukan ini membuat anak-anak 90an asik sendiri. Anak-anak 90an masih sering main petak umpet, benteng, galasin atau lompat karet di luar rumah, meski sesekali terlihat main dingdong di terminal dan Nintendo atau Sega di rumah.

Lalu timbul komparasi dengan masa kecil anak-anak sekarang, dan betapa berbedanya perilaku kesopanan anak 90an jika dibandingkan dengan anak-anak sekarang.

Yang seperti apa?

Tau sendiri lah. Yang masih SD sudah punya handphone, yang sedari belajar ngomong sudah dijejali gadget, yang umur 2 tahun sudah sekolah. Belum lagi menyoal pelajaran sekolah yang teramat berat, ikutan bimbel sana-sini yang menghabiskan masa kanak-kanak, lalu tuntutan untuk lulus ujian.

Ouch, untuk membahas soal ini satu persatu rasanya butuh postingan sendiri-sendiri.

Tapi intinya, hidup anak-anak sekarang yang sudah berat ini juga kemudian diperparah dengan kualitas acara tv yang semakin terdegradasi dan tentu saja tuntutan untuk bersaing dengan miliaran anak lain di seluruh dunia di tengah pasar bebas. Beberapa ahli mengatakan, bahwa akibat tuntutan ini, perilaku anak-anak sekarang memang cenderung makin individualis, agresif dan pemarah, kurang hormat dengan yang lebih tua, sedikit-sedikit ngadu gara-gara diomeli guru, manja, malas, kebanyakan makan, bahkan sampai ugal-ugalan naik motor dan pacar-pacaran yang semakin liar.

Saya tidak ingin menggurui. Tapi saya berpendapat bahwa klaim sepihak tentang masa menyenangkan anak 90an ini tidak akan berarti apa-apa untuk memperbaiki mental anak-anak sekarang. Pernahkah kita berpikir bahwa generasi keren 90an ini juga turut berandil bagi pembentukan mental anak-anak sekarang?

Kita mengeluhkan mengapa anak-anak sekarang malas gerak (mager). Tapi jika kita dulu bisa dengan leluasanya bermain di tanah lapang, apakah sekarang tanah lapang itu masih banyak tersedia untuk tempat main anak-anak kita? Tidak. Sekarang sudah berwujud mall, perumahan, tempat makan, dan lahan parkir.

Kita juga mengeluhkan anak-anak sekarang yang terlalu cepat dewasa. Lagunya sudah cinta-cintaan, bahasanya juga tua. Alay, lebay, labil. Padahal, ada andil tayangan di televisi dan tidak terbatasnya informasi dari internet. Lalu sudahkah kita menyediakan waktu untuk mengawasi tontonan televisi dan penggunaan smartphone mereka? Tidak, kita lebih sibuk bekerja dan menitipkan anak kepada si mbak.

Lalu anak-anak sekarang itu narsis dan suka selfie. Lha, bukannya ortunya juga begitu? Hehehe.

Lalu kita mengeluhkan tindakan no respect dari anak-anak sekarang. Tapi seberapa banyak kita meluangkan waktu untuk mengajari anak-anak dan keponakan kita jika kita sendiri terbuai dengan dunia konsumtif yang membuat kita semakin sibuk sehingga lupa mengajari mereka?

Anak-anak sekarang lebih egois dan tidak mau mengalah. Ya, gimana mau mengalah dan berempati jika semua keinginan anak selalu kita turuti. Semua dibelikan masing-masing, tidak kita ajarkan berbagi.

Oke, mungkin ini terlalu generalisir dan bias. Masih banyak di antara kita yang sadar pentingnya pendidikan kepada anak berkat buku-buku parenting dan artikel-artikel inspiratif yang sudah kita lahap. Tapi, tetap saja sebagian dari kita juga lalai, terlalu cuek dan terlalu sibuk, bukan?

Lagipula, bukan berarti tidak ada hal positif dari masa kecil anak-anak sekarang. Lihat aja betapa cepat pintarnya mereka (dilihat dari raport yang diposting orang tuanya di media sosial), membanjirnya pujian-pujian untuk mereka dari teman-teman ortu mereka, betapa jagonya bahasa Inggris mereka karena sudah kita biasakan mencampur bahasa Indonesia-Inggris di rumah, dan banyak sekali anak yang kecil-kecil udah bisa sholat tanpa disuruh.  

Man, generasi 90an emang keren, menyenangkan, dengan teramat banyak value positif di dalamnya. No doubt about it. Tapi mengapa semua itu seperti terlalu cepat hilang, tentu ada andil dari kita juga.

Buat apa klaim-klaim generasi keren ini-itu kalau value-nya tidak kita tularkan.

Selasa, 20 Oktober 2015

Kelamaan!

Langsung aja, berikut pengamatan iseng saya terhadap kebiasaan-kebiasaan dan cara hidup orang, yang menurut saya menghabiskan waktu terlalu lama, entah di suatu tempat, atau dalam hal melakukan suatu kegiatan. Mungkin sepele, tapi beberapa di antaranya punya dampak yang menurut saya cukup serius, apalagi kebanyakan di antaranya dilakukan di tempat umum atau menggunakan fasilitas umum.

Menggunakan ATM
Udah jelas, menghadapi orang seperti ini sedikit ngeselin, terlebih kalau kita lagi buru-buru. Beberapa orang --terutama yang gaptek—memang menghabiskan waktu terlalu lama di depan mesin ATM. Entah karena tidak mengerti cara membaca menu, atau bingung mengikuti instruksi.

Tapi yang lebih nyebelin sih mereka yang gak gaptek, tapi pergi ke ATM ramai untuk memenuhi banyak keperluannya sekaligus. Cek saldo, transfer, bayar tagihan atau keperluan-keperluan lain yang sebenarnya bisa dia lakukan di ATM non-tunai.

Berwudhu
Ya, wudhu. Atau ritual bersuci sebagai salah satu syarat sah ibadah sholat. Wudhu memang ada adabnya, dan juga harus sesuai dengan urutan-urutan. Terdapat pula sunnah rasul yang akan semakin menyempurnakan wudhu. Tapi, bukan berarti kita menghabiskan lima menit sendiri untuk membasuh tangan hingga telapak kaki, bukan? Ini wudhu, bukan mandi.

Lagipula, bukankah Rasul justru mengajarkan kita untuk menghemat air? Silakan cari referensi, karena saya gak mau ceramah. Tapi saya pernah baca kalau Rasulullah hanya menghabiskan 1 mud air (kira-kira 600ml) untuk berwudhu, dan satu sha (4 mud/2,4 liter) untuk mandi.

Konsultasi Dengan Dokter Anak
Sebenarnya tidak ingin terlalu spesifik, tapi dalam banyak contoh, ini cukup mengganggu. Banyak orang tua anak yang menghabiskan waktu terlalu lama di ruang praktik dokter anaknya. Saya pernah sampai menunggu setengah jam. Ya, memang si anak harus diperhatikan betul kesehatannya, tapi mbok ya diingat kalau anda tidak sedang mengunjungi psikolog.

Menunggu Makanan Turun Ke Perut
Sehabis makan, memang enaknya tidak langsung melakukan aktivitas yang lain. Males gerak, perut penuh, kaki berat, mata ngantuk. Ngerokok sebatang-dua batang atau ngobrol ngalor ngidul emang paling enak. Ya, boleh aja kalau elu lagi di rumah, tapi mbok ya jangan warteg atau warung nasi disamakan dengan rumah. Tunjukin lah sedikit empati terhadap orang-orang yang juga mengantre, apalagi kalau dia sudah menyendok nasi dan lauknya.

Bengong Di Lampu Merah
Di kota yang penduduknya selalu tergesa-gesa, memang hanya sedikit ruang yang tersisa untuk menikmati perjalanan. Apalagi, di lampu merah. Lampu merah memang mengesalkan, dan setiap orang selalu ingin cepat melaluinya. Makanya saat lampu beranjak hijau, para pengendara bergegas untuk kembali memacu kendaraan untuk melanjutkan perjalanan.

Tapi memang ada beberapa orang yang memang terlalu selow dan asik menikmati perjalanan, seolah sedang plesiran jadi turis. Otaknya terlalu lama mengirim perintah kepada telapak kaki untuk cepat menekan pedal gas ketika lampu berganti hijau, sehingga terjadi diam sesaat. Mending kalo hanya sesaat, bagaimana jika sampai 20 detik? Dijamin udah diklakson sama pengendara di belakangnya.

***
Ini hanya beberapa contoh yang terpikirkan. Ada pula beberapa tempat lain seperti toilet umum, bank, dan lainnya. Di banyak tempat, terutama pelayanan publik atau ruang privat yang kita bayar untuk gunakan, beberapa orang memang kerap berbuat seenaknya. Parahnya lagi, orang-orang macem begini umumnya marah jika ditegur.

“Gue bayar, kok!” “Duit-duit gue!”

Iya, emang elu bayar. Iya emang itu duit elu. Tapi kalo elu sedang memakai fasilitas publik, atau ketika kegiatan elu mengganggu orang lain, atau membuat orang lain terlalu lama menunggu, jelas saja orang lain berhak untuk menegur.

Tapi, ini Indonesia, bung. Di sini, yang salah bisa lebih galak daripada yang bener.

Senin, 19 Oktober 2015

Kamu Hanya Seekor Ayam!

Suatu ketika, si Gondrong melihat seekor kucing berjalan di atap rumah. Langkahnya mantap, tapi tiba-tiba ia terjatuh. Rupanya, ia menginjak sehelai daun basah yang licin sehingga ia terpeleset.

Si Gondrong juga pernah melihat tupai melompat-lompat dengan terampil di antara pohon-pohon. Tiba-tiba ia terlempar akibat berpijak pada dahan pohon yang sudah lapuk.

Si Gondrong juga pernah mendengar cerita seorang dokter berpengalaman yang salah mendiagnosa penyakit pasien, atau seorang tukang ojek senior yang tiba-tiba tersasar saat melewati jalan tembus yang ia biasa lewati. Kamu juga pernah dengar, kan?

Lalu suatu ketika, motor si Gondrong juga pernah dibuat bermasalah gara-gara pekerjaan yang dilakukan oleh seorang montir senior yang sudah dia percaya. 

Lain lagi teman si Gondrong yang perempuan. Ia begitu berang karena potongan rambutnya gagal total, padahal yang mengerjakannya adalah penata rambut ternama yang telah ia bayar mahal.

Andrea Pirlo pernah salah umpan, Diego Maradona pernah gagal melewati lawan, Michel Platini pernah gagal menendang penalti. Kirk Hammett juga pernah salah menekan nada di gitarnya, begitu pula Axl Rose yang pernah out of tune ketika bernyanyi. John Stockton juga pernah gagal melakukan lemparan bebas. Dan sebagainya, dan sejenisnya.

Kamu juga pernah membaca kisah hidup Steve Irwin atau Ayrton Senna, kan? Pasti dong.

Kamu juga pasti pernah mendengar cerita seorang akuntan handal yang salah memposting jurnal, seorang pengacara yang salah menginterpretasi peraturan, seorang analis yang salah menghitung proyeksi, atau seorang insinyur yang salah memperhitungkan kebutuhan bahan bangunan, dan seorang koki yang salah menakar bumbu.

Mereka semua ahli di bidang masing-masing. Tapi tetap bisa salah, bukan? Mereka yang bisa melakukan pekerjaannya walaupun sambil merem, tapi tetap saja bisa keliru, bukan?

Lalu si Gondrong melihat dirimu. Ya, kamu. Kamu memang berbakat. Berpotensi besar. Tapi semua itu masih dalam tahap ‘calon’, belum ‘jadi’. Masih belum punya karya, tapi kok bisa-bisanya menghina karya orang lain? Dan tidak jarang kamu menghina kompetensi seseorang, yang padahal bidangnya kamu tidak kuasai. Kamu tidak lebih dari seekor ayam yang dengan jemawanya mengajari musang tentang cara berburu yang baik. Kamu hanyalah seekor ayam, yang berani-beraninya meledek cara ikan berenang.

Kamu memang menguasai teknis, teori segala macam kamu lahap, pengalaman sudah mulai dirintis, mentor kamu juga hebat-hebat. Tapi, seperti yang saya bilang, sehebat apa pun kamu nantinya, bukan tidak mungkin kamu akan mengalami ‘kesialan’ yang akan membuatmu melakukan kesalahan mendasar yang memalukan. 


Dan sebagus apa pun kamu, pasti masih ada yang jauh lebih bagus. Dan di atas langit masih ada langit.



Dan kalaupun kamu memang sudah hebat seperti yang kamu bayangkan, tetap saja tidak ada alasan untuk sombong, bukan?



Karena kamu hanya seekor ayam!

Duh, ayam.