Senin, 07 September 2015

Tentang Butch Vig dan Kenapa Drummer Juga Musisi

Bagi sebagian orang, peran seorang drummer dalam sebuah band kerap dipandang sebelah mata. Ia tidak lebih dari 'penjaga beat' dari sebuah lagu. Seorang drummer juga disebut tidak wajib mengerti nada. Terdapat kesan bahwa tugasnya hanya memukul gumbrang-gambreng gedebak-gedebuk tek durungdung jess tanpa mengandalkan imajinasi dan kreativitas layaknya seorang musisi. 


Dan karena itulah sampai ada sinisme yang menyebut bahwa seorang drummer bukanlah musisi.



Ruang improvisasi bagi seorang drummer memang cukup terbatas. Seperti disebut di atas, ia cukup 'bermain aman' dan stabil sepanjang lagu. Jika terlalu banyak melakukan improvisasi, malah membingungkan personel lain, dan bisa jadi malah mengacaukan lagu. Maka tidak mengherankan jika dalam banyak kisah, pengakuan musikalitas yang didapat seorang drummer tidaklah sebesar yang didapat oleh vokalis atau gitaris.


Tapi sadarkah bahwa di situlah keunikan peran dari seorang drummer dalam sebuah band. Ia melakukan pekerjaan dengan metode yang berbeda, yang tentunya membutuhkan keahlian khusus. Kemampuannya berupa kordinasi yang baik antara tangan dan kaki, pengaturan tempo dan presisi pukulan belum tentu dimiliki pemegang instrumen lain.


Premis umum bahwa seorang drummer tidak perlu mengerti nada dan musik, menurut saya jelas keliru. Justru jika ingin menjadi drummer yang baik, ia harus mengerti lagu secara utuh, menyeluruh dan mendetil. Atribut ini dibutuhkan demi stabilitas permainan, demi fill yang enak didengar, tapi juga tidak 'datar'. 



Secara kebetulan, belakangan ini saya begitu terobsesi pada sebuah lagu karena permainan drumnya. Lagu yang menjadi obsesi saya kali ini berjudul Tell Me Where it Hurts, karya dari sebuah band alternative rock gaek, Garbage.

Jika tidak besar di era 90an, nama band ini memang cukup asing. Bahkan yang besar di era ini pun belum tentu tahu lagu-lagu band ini. Di Indonesia, band ini tidak mencapai kulminasi popularitasnya, padahal secara worldwide, Garbage telah menjual 17 juta kopi album. Dengan kata lain, di samping memiliki musikalitas cukup mumpuni, band ini memiliki pemerhati dan penggemar setia.

Lagu Tell Me Where it Hurts merupakan single unggulan album mereka tahun 2007 bertitel Absolute Garbage, dan saya menemukannya secara tidak sengaja ketika berselancar Youtube untuk mencari lagu dengan judul sama tetapi versi Kathy Troccoli (juga dipopulerkan oleh band akustik Filipina, MYMP).

Tadinya saya pikir, ini adalah lagu yang sama. Ternyata beda.

Buat kuping saya, ternyata lebih enak.

Kenapa bisa begitu? Salah satunya karena permainan drum yang begitu… begitu mengejutkan. Begitu bernyawa dan begitu menyatu. Bagaimana bisa sebuah aransemen drum yang biasanya hanya untuk mengawal beat sebuah lagu, menjelma sebagai nyawa dari lagu itu sendiri?

Begitu sih yang didengar oleh kuping amatir milik saya.

Lalu siapa sih drummer dari band ini? Usut punya usut, Butch Vig adalah nama drummer ini. Hehe, terdengar lucu ya ejaannya bagi kita orang Indonesia. Maafkan keterbatasan pengetahuan musik saya, tapi alangkah terkejutnya saya ketika mengetahui Vig adalah seorang musisi senior yang kini sudah menginjak usia 60 tahun!

Vig juga bukanlah seorang drummer biasa. Bukan sekadar pengawal irama dari sebuah lagu, tapi juga seorang produser dari album legendaris band Nirvana: Nevermind.

Wow, ini menjelaskan semuanya! Dengan musikalitas seperti ini, saya menjadi mahfum mengapa Vig mampu menciptakan beat dan pattern drum dari sebuah lagu dengan amat sangat menarik. Rasanya sulit membayangkan bagaimana lagu Tell Me Where it Hurts jika diisi oleh drummer biasa, bukan Butch Vig. 

Vig bukanlah sekadar pemain instrumen, tapi juga seorang musisi yang mengerti aransemen lagu, juga seorang produser dengan sentuhan emas. Seperti kita tahu, album Nevermind milik Kurt Cobain cs. menduduki posisi ke-30 sebagai album dengan penjualan terlaris dunia (catatan penjualan resmi sebesar 16,7 juta kopi), juga menjadi semacam album referensi wajib bagi pecinta genre musik Grunge.


Jadi, apakah seorang drummer bukan seorang musisi?

Minggu, 30 Agustus 2015

Empat Tipe Teman Yang Sebaiknya Kita Pertahankan

Semakin dewasa (tua!), dengan kesibukan pekerjaan yang seperti tidak ada habisnya dan juga keluarga yang harus diurus, kita akan semakin sedikit menghabiskan waktu bersama teman. Dan tentu saja kita jadi lebih selektif dalam memilih teman, berbeda dengan zaman sekolah dulu saat kita bisa berteman dengan siapa saja dan bisa menghabiskan waktu tanpa khawatir berlebih tentang hari esok.

Di lingkungan kerja, kita memang berteman, tapi tidak jarang hubungan pertemanan di sana hanyalah sebatas profesional. Banyak yang hanya memakai ‘topeng’, tidak sedikit pula sosok-sosok yang siap menunggu kita melakukan kesalahan untuk mengambil alih posisi kita.

Kita tetap membutuhkan teman-teman di luar kantor. Selain untuk memperluas wawasan, juga menghindari kejenuhan karena bertemunya elo lagi elo lagi. Lalu teman di luar kantor yang seperti apa yang sebaiknya kita pertahankan?

Si Cermin
‘Derajat’, visi, kemampuan finansial, selera, gaya hidup dan hobi orang ini kurang lebih sama dengan kita. Sangat menyenangkan memiliki figur seperti ini dalam hidup. Dengannya, kita jarang debat kusir, yang ada malah bertukar ide. Jika ada permasalahan, orang seperti ini juga mampu memberi saran yang membantu kita back on track. Karena satu ‘derajat’ tadi, jika kita membicarakan prestasi maka kita tidak akan dibilang sombong, dan jika membicarakan kemunduran, kita tidak akan dianggap lebay.

Si Role Model
Si role model adalah sosok teman yang memiliki pencapaian jauh di atas kita. Entah dari sisi spiritual, finansial, pengalaman hidup atau apapun itu. Sosok yang kita look up, atau sosok yang ingin kita tiru.

Kebalikan dengan si cermin, sang role model mungkin bukanlah orang yang paling enak diajak ngobrol, tapi ketika kita bertemu dengannya, kita akan terinspirasi dan termotivasi. Ya, kita kan hanya manusia biasa yang gak selalu stays on top. Dan kadang kita terlalu angkuh untuk meminta pertolongan orang lain untuk bangkit. Jika si cermin cenderung membawa hidup kita pada status quo, si role model ini selalu menantang kita untuk mencapai sesuatu yang lebih, atau setidaknya sesuatu yang baru.

Si Loyal
Seiring berlalunya waktu, teman seperti ini tidak pernah lupa dengan apa yang pernah dilalui. Dia akan selalu menghubungi untuk sekadar menanyakan kabar atau berbicara remeh temeh tanpa adanya agenda khusus. Dia jelas bukan tipe orang yang hanya datang ketika butuh atau ada maunya doang. Dia juga akan melihat sosok kita apa adanya, bukan dari atribut apa yang kita kenakan. Dalam beberapa kesempatan, kita dan si loyal akan bertukar hadiah atau hal-hal baik lainnya.

Si Simple
Teman seperti ini selalu membawa keceriaan. Bersama dia, bahkan kita bisa berbicara satir tentang kemalangan yang menimpa. Pemikirannya lebih sederhana dan cenderung memandang hidup dari sisi positif. Orang ini juga menghargai setiap perbedaan dan tidak akan memberi judgement dangkal dari satu sisi, seperti orang pada umumnya.

Rabu, 12 Agustus 2015

Bully

Ada beberapa jenis sifat dan perilaku orang yang saya tidak sukai. Salah satunya adalah sifat dan perilaku bullying. Bullying menjadi masalah bagi kebanyakan murid di sekolah. Korban bully ini tidak berdaya menghadapi intimidasi teman-teman sebayanya yang berbadan lebih besar dan berjumlah lebih banyak.

Jika kamu berpikir bahwa bullying akan berakhir selepas sekolah, maka kamu salah besar! Bullying, seberapa pun saya bencinya, tetap saya saksikan (dan kadang saya sendiri alami) meski sudah di dunia kerja.

Kadang hanya bully-bully kecil dalam pergaulan sehari-hari. Beberapa orang memang punya kecenderungan mem-bully. Kalau ngomong gak mau kalah, suka memojokkan orang, dan bangga sendiri. Mem-bully orang lain memberinya kepuasan batin.

Oh ya sudahlah, kalau bertemu yang seperti itu, ya kasih aja biar dia seneng. Daripada dia jadi stres.

Tapi, kadang memang saya gak tahan. Kalo cowok, saya jadi pengen nonjok mulutnya. 
 
Lha kalo cewek?

Cuekin aja. Anggap aja nyamuk yang lagi ngerubung di atas kepala. Gak berbahaya walaupun ngeselin. Kalau ada sapu lidi, ya sabet aja mereka pakai sapu lini. Kalau ada semprotan anti serangga, ya semprot aja.

Sekali lagi, anggap aja suara-suara mereka itu seperti suara nyamuk yang akan dengan mudah kamu lupakan.

Selesai!

Senin, 10 Agustus 2015

Menjadi Bunglon

Adaptasi. Begitulah yang ada di pikiran saya ketika mengingat hewan bunglon. Salah satu kelebihan bunglon dibanding hewan lainnya adalah kemampuan mereka mengubah warna kulit tergantung pada lingkungan sekelilingnya. Ia dapat menyerupai warna batu, batang pohon atau daun. Adaptasi yang dilakukannya tentu saja berguna untuk mengelabui pemangsa. Untuk bertahan hidup.

Saya sedikit melihat sifat diri saya pada hewan ini. Dalam keseharian, saya cukup mahir untuk bersikap tidak mencolok. Stay low. Dalam lingkungan pekerjaan, saya pun lebih sering menahan diri ketimbang mengeluarkan emosi. Begitu pula dalam hal lainnya di mana saya tidak terlalu larut dalam emosi. Poker face, ekspresi datar, sikap cuek dan tidak stand out. 

Saya juga menemukan sifat ini ketika menulis. Gaya penulisan dan tema tulisan yang saya buat akan tergantung kepada tempat saya menulis, juga siapa pembacanya. Saya bisa menulis dengan gaya berbeda antara di blog pribadi, blog sepak bola, juga situs-situs mainstream sepak bola. Saya tidak mematok diri pada satu gaya. Tujuan saya
 menulis adalah untuk berbagi informasi, karena itulah saya tidak terlalu mementingkan apa yang disebut ciri khas. 

Tidak punya ciri khas, tidak punya jati diri, tidak punya pendirian adalah sisi negatif dari cara hidup seperti ini. Tapi memang dalam banyak hal, hidup memang bukan soal saya sendiri. Saya hidup untuk memberi makan keluarga, karena itulah saya bekerja sebagai pegawai swasta dengan karir yang cukup nyaman, meskipun saya tidak sebegitunya mencintai pekerjaan kantoran ini. Hidup adalah bagaimana kita berperan. Ketika berada di kantor, saya berperan sebagai karyawan, dan saya selalu bersungguh-sungguh untuk untuk menjadi karyawan yang baik. 


Tetapi ketika berada di rumah, saya berperan sebagai suami dan ayah sekaligus melepas atribut karyawan. Saya berusaha menjadi sosok menyenangkan bagi anak, dan tidak akan bersikap serius seperti ketika berada di kantor. Begitu pula ketika nongkrong bersama teman-teman, sudah pasti saya melepas atribut kepala keluarga dan karyawan. Saya akan bersenang-senang dengan sungguh-sungguh, dan karena itulah saya jarang membawa serta keluarga ketika sedang bersama teman-teman.

Semua memang ada tempatnya. Ikan mas koki dan ikan cupang tentu tidak bisa disatukan dalam satu kolam.

Jumat, 07 Agustus 2015

Apa Yang Salah Dari Nonton Bioskop Sendirian?

Kemarin malam, untuk kali pertama dalam setahun lebih, saya pergi nonton bioskop. Film yang saya tonton adalah Mission Impossible: Rogue Nations. Lain kali saya akan bicara khusus tentang film ini, tapi singkatnya, semestinya judul Mission Impossible diganti dengan Ethan Hunt, karena menurut pendapat saya, semua yang ada di film ini (sejak sekuel pertama) adalah tentang seorang jagoan bernama Ethan Hunt.

Oke, sekian spoiler-nya. Kemarin, saya nonton film itu sendirian, seperti halnya saya nonton sendirian untuk banyak film lainnya. Bagi orang-orang modern -yang terbiasa terlalu banyak berbicara satu sama lain- nonton sendirian adalah hal yang aneh. Setidaknya, penilaian ini saya dapat dari beberapa orang yang saya kenal.

Apa tujuan nonton bioskop? Tentu saja untuk menonton film, bukannya untuk ngobrol. Tidak ada salahnya menonton film sendirian. Sejak jaman jomblo sampai kini saya sudah berkeluarga, saya masih suka nonton sendirian. Dan sepanjang itu pula komentar-komentar masih ada. Mereka bersikap seolah mereka adalah badan standarisasi pergi nonton bioskop, di mana teater bioskop adalah tempatnya orang pergi beramai-ramai, dan orang yang pergi sendirian adalah jomblo ngenes (jones), jomblo bingung (jombi) atau para antisosial aneh yang tidak punya teman.


Hal sama berlaku untuk kegiatan nonton bola. Katanya, bukan penggemar sepak bola kalau tidak suka nobar.

Manusia dengan segala standar yang mereka buat-buat. Dalam hidup yang mereka kotak-kotakkan.

Begitu pula ketika pergi makan. Apakah tujuan kita pergi ke sana? Tentu saja untuk makan. Bukan untuk ngobrol, bukan untuk berfoto. Bagi beberapa orang, pergi makan sendirian akan dianggap sama anehnya dengan yang nonton bioskop sendirian.

Padahal kalau kita memang ingin mengobrol, kita bisa memilih pergi kedai kopi -baik yang modern sampai yang kelas proletar-. Kalau memang ingin berdiskusi serius, kita bisa menyewa ruang meeting.

Itu kalau saya.

Pergi makan sendirian, atau nonton sendirian tidaklah aneh, sama dengan tidak anehnya mereka yang suka makan bareng-bareng atau nonton bareng-bareng. Yang aneh itu kalo pergi nonton berdua sambil gandeng-gandengan, peluk-pelukan dan mesra-mesraan dengan yang berjenis kelamin sama. HAHAHAHAHA.

Rabu, 22 Juli 2015

Draft Day – Review Film

Pernahkah kita berkumpul satu meja dengan 10 orang teman, di mana terdapat tiga orang yang asik bercerita hingga tertawa terbahak-bahak, sementara tujuh orang lainnya termasuk kita hanya terdiam karena tidak mengerti apa yang dibicarakan tiga orang itu? Seolah mereka tidak sadar bahwa mereka sedang membicarakan topik ‘lokal’ yang hanya dimengerti mereka sendiri, dan tentu saja dalam beberapa tingkatan akan membuat risih orang-orang di sekitar mereka. 

Saya berpendapat, dalam dunia olahraga, seperti itulah negara Amerika Serikat.

Negara ini seolah menciptakan dunianya sendiri. Mungkin ini adalah salah satu manifestasi mereka sebagai negara adikuasa, yang merasa harus menjadi pelopor, bukannya pengikut. Mereka memiliki versi sendiri terhadap sepak bola, yaitu (American) Football, dan mereka sungguh berani sekali menyebut sepak bola konvensional sebagai soccer. Kecuali bola basket yang telah dikenal luas oleh dunia, Amerika Serikat juga memiliki tontonan yang sepertinya hanya mereka yang bisa mereka nikmati sendiri seperti Baseball, Nascar, hingga Hoki Es.

Olahraga-olahraga ini tetaplah hidup meskipun negara lain tidak ada yang mengikuti jejak mereka. Pasar dalam negeri mereka sudah cukup untuk menjadi penggerak industri, dan tidak kalah pentingnya, mereka mampu mengemas berbagai acara ini dengan teramat menarik, alias menggabungkannya dengan unsur pertunjukan, atau showbiz.

Salah satu motor penggerak dalam industri pertunjukan adalah dunia perfilman yang mereka miliki. Ketika mereka memfilmkan sesuatu, maka penonton seakan dibuat terhipnotis sekaligus terhibur. Mereka yang tadinya awam terhadap suatu subjek, dalam waktu kurang dari dua jam saja (sesuai durasi film) lantas bisa berubah menjadi paham, terima kasih pada begitu lengkapnya penggambaran dalam film.

Film berjudul Draft Day, rilis tahun 2014 dibintangi Kevin Costner dan Jennifer Garner, bercerita tentang sebuah hari yang menjadi hajatan tahunan yang penting di dunia American Football (selanjutnya disebut football saja). Dalam momen yang dikenal dengan nama draft day ini, klub-klub yang bertanding di Liga Nasional (NFL) diberi kesempatan untuk mengontrak pemain-pemain terbaik dari universitas demi memperkuat tim menghadapi musim yang baru.

Sejalan dengan sistem draft, tim yang pada musim terakhir prestasinya paling buruk mendapatkan kesempatan untuk mengambil first draft, atau pemain paling menonjol dalam liga mahasiswa. Sebaliknya, tim yang musim lalu prestasinya bagus, tidak mendapat keistimewaan dalam memilih pemain draft mereka. Hal ini bertujuan agar sebuah tim tidak terus menerus terpuruk, atau sebaliknya tidak ada tim yang terlalu mendominasi. Dalam sistem franchise yang tidak mengenal promosi-degradasi, menjaga keseimbangan kompetisi memang menjadi pilihan yang wajib diambil agar eksistensi terjaga.

Dalam film arahan Ivan Reitman ini, Sonny Weaver Jr (Costner), General Manager dari Cleveland Brown, tim football asal kota Cleveland mendapatkan tawaran yang cukup menggiurkan dari tim Seattle Seahawk berupa berupa pemilihan draft pertama. Dari situ muncullah nama seorang quarterback yang digambarkan begitu berbakat bernama Bo Callahan. Callahan adalah fenomena dalam dunia football mahasiswa. Anthony Molina, pemilik Brown meminta Weaver Jr mengiyakan tawaran tersebut. Staf pelatih Brown juga memberi rekomendasi positif soal Callahan.

Namun Weaver Jr bukanlah sosok yang mudah percaya pada angka-angka statistik semata maupun euforia sesaat yang timbul karena peluang mendapatkan seorang pemain handal. Ia melihat hal yang orang lain tidak mampu melihat, yaitu hal-hal nonteknis dari seorang pemain seperti sikap atau attitude, dan juga mampu menerjemahkan data statistik sesuai konteksnya, bukan sekadar melihat angka-angka belaka lalu mengambil kesimpulan yang dangkal. Weaver Jr adalah sosok idealis, cerdas, keras kepala, sekaligus sedikit ‘gila’, menjadikan karakternya sebagai episentrum dari film.

Dari sinilah kemudian tercipta drama, kehebohan pada hari-H draft day, juga betapa kerasnya perjuangan Weaver Jr hingga pada akhirnya berhasil mendapatkan pemain-pemain yang sesuai dengan kebutuhan tim, tidak peduli begitu banyak kritik dan keraguan yang dialamatkan kepadanya.

Kelebihan utama dari film ini terletak pada pemaparan yang jelas. Saya yang tidak mengerti banyak soal football dan juga kompetisi Superbowl nyatanya mampu menikmati film ini dari awal hingga akhir. Plot yang progresif memang cukup membantu sehingga penonton awam seperti saya tidak perlu memutar otak terlalu keras tentang urutan kejadian. Dari film ini pula tergambar betapa mumpuninya pengelola NFL dalam menerapkan aturan-aturan rumit dari sistem draft, sekaligus betapa menariknya industri olahraga Amerika Serikat karena ditunjang oleh showbiz yang amat profesional.

Menonton film ini dari awal hingga akhir layaknya menyaksikan seorang yang begitu handal dalam melakukan pekerjaannya. Pesan yang ingin disampaikan sang pembuat film juga terkirim dengan baik, menggambarkan dinamika dunia football secara umum, sekaligus ketegangan dalam draft day yang dieksekusi dengan amat mendetil. Film ini sedikit mengingatkan saya pada film semisal The Damned United atau Coach Carter, film yang menonjolkan ilmu manajemen, namun berlatar belakang olahraga.


Saya sampai berharap, sepak bola konvensional memiliki film sejenis ini. Film yang menggambarkan kesibukan bursa transfer, permainan para agen, konflik antara presiden dengan pelatih klub, pemain dengan suporter, dan lain-lain. Mengambil sudut pandang beberapa tokoh seperti Adriano Galliani, Jorge Mendez, Brendan Rodgers, Florentino Perez, Jose Mourinho hingga Paul Pogba rasanya cukup. Sayangnya, dunia Hollywood masih belum berteman dekat dengan hingar bingar sepak bola Eropa.

Selasa, 21 Juli 2015

Membeli Kenangan Dalam Bentuk Bon Jovi

Segera setelah konfirmasi konser Bon Jovi di Gelora Bung Karno, Jakarta, 11 September 2015 mendatang, generasi yang menjalani masa muda tahun 1990an larut dalam euforia yang sama: Nostalgia.

Bon Jovi, band yang berdiri tahun 1983 di New Jersey, Amerika Serikat, memang memiliki banyak hits bertemakan cinta yang terkenal hingga ke seluruh dunia pada zaman itu. Always, I’ll Be There For You, Bed of Roses, Keep The Faith, You Give Love a Bad Name, dan In These Arms adalah sedikit di antaranya. Lagu-lagu rock ballad tadi telah menjadi memori bagi sebagian besar dari anak-anak 90an. 

Kedatangan Bon Jovi tentu saja membuat pria dan wanita usia 30 tahunan ke atas yang udah cocok dipanggil om dan tante (tapi sering denial) ini semakin senang, dan menambah alasan untuk beretorika bahwa zaman mereka muda lah yang paling menyenangkan. Setidaknya ada satu poin yang bisa ditambah para om dan tante yang teramat bangga dengan masa mudanya ini, yaitu saat merasakan cinta monyet, lagu Bon Jovi-lah yang mengiringi, bukannya band-band yang 'seperti itu'. Hehe.

Satu hal yang menjadi kelebihan Bon Jovi adalah reception dari berbagai kalangan. Untuk penggemar pop, melodi yang dihasilkan Bon Jovi masih bisa dinikmati, dan bagi rocker, hentakan-hentakan dihasilkan band ini tidaklah malu-maluin. Para metalhead pun akan dengan senang hati berbaur. Dan tidak ketinggalan, bagi para pujangga wanna be yang doyan ngegombalin gebetan, Jon Bon Jovi adalah sosok panutan.

Bagi saya sendiri, ya sama saja. Lagu-lagu Bon Jovi menemani hari demi hari semasa sekolah dulu. Gitar-gitaran bareng, berlagak seperti mereka saat berlatih di studio band, sampai nonton bareng video konser mereka di stadion Wembley, London melalui perangkat video CD. Bon Jovi telah menciptakan kultur musik tersendiri di kalangan remaja 90an, suka atau tidak. 

Dalam mengantisipasi kedatangan mereka, perasaan saya tidak seantusias ketika Metallica atau Megadeth datang. Lagu-lagu lawas Bon Jovi hanya enak dinikmati jika dibawakan dengan nada asli sesuai album rekaman. Namun faktor usia membuat saya sangsi akan performa Jon nanti. Boleh jadi, nadanya diturunkan atau cara bernyanyinya dimodifikasi. 

Posisi gitaris juga tidak lagi dihuni sang ikon, Richie Sambora. Beberapa orang yang saya kenal batal menonton konser karena ketiadaan Richie. Bagaimana tidak, Richie adalah sosok di balik solo gitar bluesy dalam lagu Always atau Lie To Me, juga suara revolusioner dalam lagu Livin' on a Prayer. Richie juga memiliki suara yang khas sebagai backing vocal. Menyaksikan Bon Jovi tanpa Richie Sambora, mungkin sama saja menyaksikan Guns n Roses tanpa Slash.

Karena alasan itulah saya memilih untuk membeli tiket tribun, bukan festival seperti biasanya. Saya hanya ingin nostalgia, berjingkrak sesaat dua saat, menikmati atmosfer musik 90an yang semakin jarang diperdengarkan secara massal, juga berkumpul dengan generasi seangkatan tanpa gangguan dari histeria lebay khas abg. 

Nantinya di stadion GBK, kita semua memang datang dengan tujuan ‘membeli’ kenangan.