Kemarin malam, untuk kali pertama dalam setahun lebih, saya pergi nonton bioskop. Film yang saya tonton adalah Mission Impossible: Rogue Nations. Lain kali saya akan bicara khusus tentang film ini, tapi singkatnya, semestinya judul Mission Impossible diganti dengan Ethan Hunt, karena menurut pendapat saya, semua yang ada di film ini (sejak sekuel pertama) adalah tentang seorang jagoan bernama Ethan Hunt.
Oke, sekian spoiler-nya. Kemarin, saya nonton film itu sendirian, seperti halnya saya nonton sendirian untuk banyak film lainnya. Bagi orang-orang modern -yang terbiasa terlalu banyak berbicara satu sama lain- nonton sendirian adalah hal yang aneh. Setidaknya, penilaian ini saya dapat dari beberapa orang yang saya kenal.
Apa tujuan nonton bioskop? Tentu saja untuk menonton film, bukannya untuk ngobrol. Tidak ada salahnya menonton film sendirian. Sejak jaman jomblo sampai kini saya sudah berkeluarga, saya masih suka nonton sendirian. Dan sepanjang itu pula komentar-komentar masih ada. Mereka bersikap seolah mereka adalah badan standarisasi pergi nonton bioskop, di mana teater bioskop adalah tempatnya orang pergi beramai-ramai, dan orang yang pergi sendirian adalah jomblo ngenes (jones), jomblo bingung (jombi) atau para antisosial aneh yang tidak punya teman.
Hal sama berlaku untuk kegiatan nonton bola. Katanya, bukan penggemar sepak bola kalau tidak suka nobar.
Manusia dengan segala standar yang mereka buat-buat. Dalam hidup yang mereka kotak-kotakkan.
Begitu pula ketika pergi makan. Apakah tujuan kita pergi ke sana? Tentu saja untuk makan. Bukan untuk ngobrol, bukan untuk berfoto. Bagi beberapa orang, pergi makan sendirian akan dianggap sama anehnya dengan yang nonton bioskop sendirian.
Padahal kalau kita memang ingin mengobrol, kita bisa memilih pergi kedai kopi -baik yang modern sampai yang kelas proletar-. Kalau memang ingin berdiskusi serius, kita bisa menyewa ruang meeting.
Itu kalau saya.
Pergi makan sendirian, atau nonton sendirian tidaklah aneh, sama dengan tidak anehnya mereka yang suka makan bareng-bareng atau nonton bareng-bareng. Yang aneh itu kalo pergi nonton berdua sambil gandeng-gandengan, peluk-pelukan dan mesra-mesraan dengan yang berjenis kelamin sama. HAHAHAHAHA.
Jumat, 07 Agustus 2015
Rabu, 22 Juli 2015
Draft Day – Review Film
Pernahkah kita berkumpul satu meja dengan 10 orang teman, di mana terdapat
tiga orang yang asik bercerita hingga tertawa terbahak-bahak, sementara tujuh
orang lainnya termasuk kita hanya terdiam karena tidak mengerti apa yang dibicarakan
tiga orang itu? Seolah mereka tidak sadar bahwa mereka sedang membicarakan
topik ‘lokal’ yang hanya dimengerti mereka sendiri, dan tentu saja dalam beberapa tingkatan akan membuat risih
orang-orang di sekitar mereka.
Saya berpendapat, dalam dunia olahraga, seperti
itulah negara Amerika Serikat.
Negara ini seolah menciptakan dunianya
sendiri. Mungkin ini adalah salah satu manifestasi mereka sebagai negara
adikuasa, yang merasa harus menjadi pelopor, bukannya pengikut. Mereka memiliki
versi sendiri terhadap sepak bola, yaitu (American) Football, dan mereka
sungguh berani sekali menyebut sepak bola konvensional sebagai soccer. Kecuali bola basket yang telah
dikenal luas oleh dunia, Amerika Serikat juga memiliki tontonan yang sepertinya
hanya mereka yang bisa mereka nikmati sendiri seperti Baseball, Nascar, hingga Hoki
Es.
Olahraga-olahraga ini tetaplah hidup meskipun negara lain
tidak ada yang mengikuti jejak mereka. Pasar dalam negeri mereka sudah cukup
untuk menjadi penggerak industri, dan tidak kalah pentingnya, mereka mampu
mengemas berbagai acara ini dengan teramat menarik, alias menggabungkannya
dengan unsur pertunjukan, atau showbiz.
Salah satu motor penggerak dalam industri pertunjukan adalah
dunia perfilman yang mereka miliki. Ketika mereka memfilmkan sesuatu, maka
penonton seakan dibuat terhipnotis sekaligus terhibur. Mereka yang tadinya awam
terhadap suatu subjek, dalam waktu kurang dari dua jam saja (sesuai durasi film)
lantas bisa berubah menjadi paham, terima kasih pada begitu lengkapnya penggambaran
dalam film.
Film berjudul Draft Day, rilis tahun 2014 dibintangi Kevin
Costner dan Jennifer Garner, bercerita tentang sebuah hari yang menjadi hajatan
tahunan yang penting di dunia American Football (selanjutnya disebut football
saja). Dalam momen yang dikenal dengan nama draft
day ini, klub-klub yang bertanding di Liga Nasional (NFL) diberi kesempatan
untuk mengontrak pemain-pemain terbaik dari universitas demi memperkuat tim
menghadapi musim yang baru.
Sejalan dengan sistem draft,
tim yang pada musim terakhir prestasinya paling buruk mendapatkan kesempatan
untuk mengambil first draft, atau
pemain paling menonjol dalam liga mahasiswa. Sebaliknya, tim yang musim lalu
prestasinya bagus, tidak mendapat keistimewaan dalam memilih pemain draft mereka. Hal ini bertujuan agar sebuah
tim tidak terus menerus terpuruk, atau sebaliknya tidak ada tim yang terlalu
mendominasi. Dalam sistem franchise
yang tidak mengenal promosi-degradasi, menjaga keseimbangan kompetisi memang
menjadi pilihan yang wajib diambil agar eksistensi terjaga.
Dalam film arahan Ivan Reitman ini, Sonny Weaver Jr
(Costner), General Manager dari Cleveland Brown, tim football asal kota
Cleveland mendapatkan tawaran yang cukup menggiurkan dari tim Seattle Seahawk
berupa berupa pemilihan draft
pertama. Dari situ muncullah nama seorang quarterback
yang digambarkan begitu berbakat bernama Bo Callahan. Callahan adalah fenomena
dalam dunia football mahasiswa. Anthony Molina, pemilik Brown meminta Weaver Jr
mengiyakan tawaran tersebut. Staf pelatih Brown juga memberi rekomendasi
positif soal Callahan.
Namun Weaver Jr bukanlah sosok yang mudah percaya pada
angka-angka statistik semata maupun euforia sesaat yang timbul karena peluang
mendapatkan seorang pemain handal. Ia melihat hal yang orang lain tidak mampu
melihat, yaitu hal-hal nonteknis dari seorang pemain seperti sikap atau attitude, dan juga mampu menerjemahkan
data statistik sesuai konteksnya, bukan sekadar melihat angka-angka belaka lalu
mengambil kesimpulan yang dangkal. Weaver Jr adalah sosok idealis, cerdas,
keras kepala, sekaligus sedikit ‘gila’, menjadikan karakternya sebagai episentrum
dari film.
Dari sinilah kemudian tercipta drama, kehebohan pada hari-H draft day, juga betapa kerasnya
perjuangan Weaver Jr hingga pada akhirnya berhasil mendapatkan pemain-pemain
yang sesuai dengan kebutuhan tim, tidak peduli begitu banyak kritik dan keraguan
yang dialamatkan kepadanya.
Kelebihan utama dari film ini terletak pada pemaparan yang
jelas. Saya yang tidak mengerti banyak soal football
dan juga kompetisi Superbowl nyatanya mampu menikmati film ini dari awal hingga
akhir. Plot yang progresif memang cukup membantu sehingga penonton awam seperti
saya tidak perlu memutar otak terlalu keras tentang urutan kejadian. Dari film
ini pula tergambar betapa mumpuninya pengelola NFL dalam menerapkan
aturan-aturan rumit dari sistem draft,
sekaligus betapa menariknya industri olahraga Amerika Serikat karena ditunjang
oleh showbiz yang amat profesional.
Menonton film ini dari awal hingga akhir layaknya
menyaksikan seorang yang begitu handal dalam melakukan pekerjaannya. Pesan yang
ingin disampaikan sang pembuat film juga terkirim dengan baik, menggambarkan
dinamika dunia football secara umum, sekaligus ketegangan dalam draft day yang dieksekusi dengan amat mendetil.
Film ini sedikit mengingatkan saya pada film semisal The Damned United atau
Coach Carter, film yang menonjolkan ilmu manajemen, namun berlatar belakang
olahraga.
Saya sampai berharap, sepak bola konvensional memiliki film
sejenis ini. Film yang menggambarkan kesibukan bursa transfer, permainan para
agen, konflik antara presiden dengan pelatih klub, pemain dengan suporter, dan
lain-lain. Mengambil sudut pandang beberapa tokoh seperti Adriano Galliani,
Jorge Mendez, Brendan Rodgers, Florentino Perez, Jose Mourinho hingga Paul
Pogba rasanya cukup. Sayangnya, dunia Hollywood masih belum berteman dekat
dengan hingar bingar sepak bola Eropa.
Selasa, 21 Juli 2015
Membeli Kenangan Dalam Bentuk Bon Jovi
Segera setelah konfirmasi konser Bon Jovi di Gelora Bung
Karno, Jakarta, 11 September 2015 mendatang, generasi yang menjalani masa muda
tahun 1990an larut dalam euforia yang sama: Nostalgia.
Bon Jovi, band yang berdiri tahun 1983 di New Jersey, Amerika Serikat, memang
memiliki banyak hits
bertemakan cinta yang terkenal hingga ke seluruh dunia pada zaman itu. Always, I’ll Be There
For You, Bed of Roses, Keep The Faith, You Give Love a Bad Name, dan In These
Arms adalah sedikit di antaranya. Lagu-lagu rock ballad tadi
telah menjadi memori bagi sebagian besar dari anak-anak
90an.
Kedatangan Bon Jovi tentu saja membuat pria dan wanita usia 30 tahunan ke atas yang udah cocok dipanggil om dan tante (tapi sering denial) ini semakin senang, dan menambah alasan untuk beretorika bahwa zaman mereka muda lah yang paling menyenangkan. Setidaknya ada satu poin yang bisa ditambah para om dan tante yang teramat bangga dengan masa mudanya ini, yaitu saat merasakan cinta monyet, lagu Bon Jovi-lah yang mengiringi, bukannya band-band yang 'seperti itu'. Hehe.
Kedatangan Bon Jovi tentu saja membuat pria dan wanita usia 30 tahunan ke atas yang udah cocok dipanggil om dan tante (tapi sering denial) ini semakin senang, dan menambah alasan untuk beretorika bahwa zaman mereka muda lah yang paling menyenangkan. Setidaknya ada satu poin yang bisa ditambah para om dan tante yang teramat bangga dengan masa mudanya ini, yaitu saat merasakan cinta monyet, lagu Bon Jovi-lah yang mengiringi, bukannya band-band yang 'seperti itu'. Hehe.
Satu hal yang menjadi kelebihan Bon Jovi adalah reception dari berbagai kalangan. Untuk
penggemar pop, melodi yang dihasilkan Bon Jovi masih bisa dinikmati, dan bagi rocker, hentakan-hentakan dihasilkan band ini tidaklah malu-maluin. Para metalhead pun akan dengan senang hati berbaur. Dan tidak ketinggalan, bagi para pujangga wanna be yang doyan ngegombalin gebetan, Jon
Bon Jovi adalah sosok panutan.
Bagi saya sendiri, ya sama saja. Lagu-lagu Bon Jovi menemani hari
demi hari semasa sekolah
dulu. Gitar-gitaran bareng, berlagak seperti mereka saat berlatih di studio band, sampai nonton bareng video konser mereka di stadion Wembley, London melalui perangkat video CD. Bon Jovi telah menciptakan kultur musik tersendiri di kalangan remaja 90an, suka atau tidak.
Dalam mengantisipasi kedatangan mereka, perasaan saya tidak seantusias ketika Metallica atau Megadeth datang. Lagu-lagu
lawas Bon Jovi hanya enak dinikmati jika dibawakan
dengan nada asli sesuai album rekaman. Namun faktor usia membuat saya sangsi
akan performa Jon nanti. Boleh jadi, nadanya diturunkan atau cara bernyanyinya
dimodifikasi.
Posisi gitaris juga tidak lagi dihuni sang ikon, Richie Sambora. Beberapa
orang yang saya kenal batal menonton konser karena ketiadaan Richie. Bagaimana tidak, Richie adalah sosok di balik solo gitar bluesy dalam lagu Always atau Lie To Me, juga suara revolusioner dalam lagu Livin' on a Prayer. Richie juga memiliki suara yang khas sebagai backing vocal. Menyaksikan Bon Jovi tanpa Richie Sambora, mungkin sama saja menyaksikan Guns n Roses tanpa Slash.
Karena alasan itulah saya memilih untuk
membeli tiket tribun, bukan festival seperti biasanya. Saya hanya ingin
nostalgia, berjingkrak sesaat dua saat, menikmati atmosfer musik 90an yang semakin jarang diperdengarkan secara massal, juga
berkumpul dengan generasi seangkatan tanpa gangguan dari histeria lebay khas abg.
Nantinya di stadion GBK, kita semua memang datang dengan tujuan ‘membeli’ kenangan.
Nantinya di stadion GBK, kita semua memang datang dengan tujuan ‘membeli’ kenangan.
Senin, 13 Juli 2015
Malam Lailatul Qadr
Jadi, suatu ketika saya bertemu seorang teman baik. Sepanjang ngobrol, dia dengan begitu yakin mengatakan hal-hal yang menjadi tujuannya. Aspirasinya. Apa yang ingin dicapainya. Dan sekarang dia mulai merancang jalannya itu.
Beberapa waktu lalu, saya bertemu teman baik lain. Dia bangkit dari sebuah luka yang besar, dan tahukah? Dia sekarang berjalan lebih kuat ketimbang dirinya sebelum terluka. Kini, dia tengah berada di seberang samudera untuk menggapai impiannya.
Sama halnya dengan teman saya yang satu lagi, teman yang begitu bergairah jika diajak berbicara pajak dan akuntansi. Silakan tertawa terbahak seolah ia adalah fanboy dari akun twitter auditor cabul, tapi kini ia tinggal beberapa langkah lagi akan menjadi partner, alias posisi tertinggi dalam karir jasa perpajakan. Dan ia amat mungkin meraihnya bahkan sebelum umurnya 40 tahun.
Lalu saya melihat pada diri sendiri. Apa tujuan saya? Mengapa saya masih berprinsip 'go with the flow' ketika teman-teman saya telah merintis jalannya sendiri, bukan sekadar mengikuti jalan yang tersedia? Mengapa saya masih saja harus pasrah, mengangguk, menurut, dan menahan diri setiap kali saya diperintahkan melakukan sesuatu? Dan mengapa saya rela saja diberitahu terus menerus tentang apa yang saya harus lakukan, dan bagaimana melakukannya.
Bukannya hendak tidak bersyukur. Sebaliknya, saya berterima kasih telah diberi kehidupan -bahkan kehidupan yang diinginkan jutaan manusia lain ini-. Meskipun saya berulang kali menyatakan penolakan, membelot dari jalan yang lurus, terlalu banyak mempertanyakan apa yang seharusnya cukup dijalankan, dan terlalu memusingkan perkara yang mungkin terlihat sepele bagi orang-orang besar itu.
Saya cuma menginginkan menjadi 'besar', tapi saya sendiri tidak yakin bagaimana cara menjembatani impian itu. Saya menginginkan banyak hal, tapi kenyataannya saya tidak visioner-visioner amat untuk bisa merancang jalan saya sendiri. Tidak seperti teman-teman baik saya.
Maka untuk itu, di malam ganjil 10 hari terakhir ramadan 1436 H yang saya sendiri tidak dapat memastikan apakah malam ini termasuk malam yang lebih baik daripada 1000 bulan, ijinkan saya berdiam diri untuk merenungi pertanyaan-pertanyaan mendasar tadi. Karena sebagai manusia yang terbatas akal dan pikirannya, terdapat beberapa hal yang saya merasa begitu memerlukan bimbingan, alih-alih merasa sombong bisa menentukan takdir sendiri. Atau merasa otak terlalu pintar untuk menafsirkan apa-apa yang sebenarnya harus dilakukan. Atau bahkan, terjebak dalam permainan 'si mata satu' di mana sebetulnya ialah yang menginginkan orang lain percaya bahwa apa yang sedang dikerjakannya dengan rapi tidak lebih dari sekadar teori konspirasi murahan. Tapi ini soal lain.
Kembali ke malam 1000 bulan. Jika memang inilah yang dimaksud, berikanlah saya sedikit tanda. Atau, jika memang tidak ada tanda, ya tidak masalah. Daripada membuat saya besar kepala, apalagi menjadi riya.
Lalu keesokan paginya, sesuatu meminta saya membaca dan memahami Surah Adh Dhuha. Saya baca berulang-ulang, berpikir dan cari tahu.
Dan akhirnya saya mengerti.
Mengerti apa? Baca dan pahami sendiri isi Surah Adh Dhuha.
Beberapa waktu lalu, saya bertemu teman baik lain. Dia bangkit dari sebuah luka yang besar, dan tahukah? Dia sekarang berjalan lebih kuat ketimbang dirinya sebelum terluka. Kini, dia tengah berada di seberang samudera untuk menggapai impiannya.
Sama halnya dengan teman saya yang satu lagi, teman yang begitu bergairah jika diajak berbicara pajak dan akuntansi. Silakan tertawa terbahak seolah ia adalah fanboy dari akun twitter auditor cabul, tapi kini ia tinggal beberapa langkah lagi akan menjadi partner, alias posisi tertinggi dalam karir jasa perpajakan. Dan ia amat mungkin meraihnya bahkan sebelum umurnya 40 tahun.
Lalu saya melihat pada diri sendiri. Apa tujuan saya? Mengapa saya masih berprinsip 'go with the flow' ketika teman-teman saya telah merintis jalannya sendiri, bukan sekadar mengikuti jalan yang tersedia? Mengapa saya masih saja harus pasrah, mengangguk, menurut, dan menahan diri setiap kali saya diperintahkan melakukan sesuatu? Dan mengapa saya rela saja diberitahu terus menerus tentang apa yang saya harus lakukan, dan bagaimana melakukannya.
Bukannya hendak tidak bersyukur. Sebaliknya, saya berterima kasih telah diberi kehidupan -bahkan kehidupan yang diinginkan jutaan manusia lain ini-. Meskipun saya berulang kali menyatakan penolakan, membelot dari jalan yang lurus, terlalu banyak mempertanyakan apa yang seharusnya cukup dijalankan, dan terlalu memusingkan perkara yang mungkin terlihat sepele bagi orang-orang besar itu.
Saya cuma menginginkan menjadi 'besar', tapi saya sendiri tidak yakin bagaimana cara menjembatani impian itu. Saya menginginkan banyak hal, tapi kenyataannya saya tidak visioner-visioner amat untuk bisa merancang jalan saya sendiri. Tidak seperti teman-teman baik saya.
Maka untuk itu, di malam ganjil 10 hari terakhir ramadan 1436 H yang saya sendiri tidak dapat memastikan apakah malam ini termasuk malam yang lebih baik daripada 1000 bulan, ijinkan saya berdiam diri untuk merenungi pertanyaan-pertanyaan mendasar tadi. Karena sebagai manusia yang terbatas akal dan pikirannya, terdapat beberapa hal yang saya merasa begitu memerlukan bimbingan, alih-alih merasa sombong bisa menentukan takdir sendiri. Atau merasa otak terlalu pintar untuk menafsirkan apa-apa yang sebenarnya harus dilakukan. Atau bahkan, terjebak dalam permainan 'si mata satu' di mana sebetulnya ialah yang menginginkan orang lain percaya bahwa apa yang sedang dikerjakannya dengan rapi tidak lebih dari sekadar teori konspirasi murahan. Tapi ini soal lain.
Kembali ke malam 1000 bulan. Jika memang inilah yang dimaksud, berikanlah saya sedikit tanda. Atau, jika memang tidak ada tanda, ya tidak masalah. Daripada membuat saya besar kepala, apalagi menjadi riya.
Lalu keesokan paginya, sesuatu meminta saya membaca dan memahami Surah Adh Dhuha. Saya baca berulang-ulang, berpikir dan cari tahu.
Dan akhirnya saya mengerti.
Mengerti apa? Baca dan pahami sendiri isi Surah Adh Dhuha.
Kamis, 09 Juli 2015
Selingkuh Itu (Tidak) Indah
Belom terlalu lama sejak saya menuliskan topik
perselingkuhan, cerita tentang topik sensitif ini kembali menghampiri kehidupan
saya.
Untuk kali kesekian, saya mendengar cerita tentang
perselingkuhan yang dilakukan orang yang saya kenal. Sepertinya sekarang ini perselingkuhan udah bukan hal aneh. Lama-lama, bakal ada seleb media sosial yang ngomong "Ah elo mah overrated banget nanggapin perselingkuhan. Padahal 9 dari 10 orang udah melakukannya!"
Tapi, beginilah ceritanya:
Tapi, beginilah ceritanya:
Cerita pertama datang dari seorang.. katakanlah teman
lama. Dia melakukan perselingkuhan terang-terangan. Terang-terangan? Apakah dia gak suka melakukannya gelap-gelapan? Maksudnya adalah dia sudah dalam tahap cuek. Sudah berani bilang "Kamu mau dipoligami, atau dicerai?" Teman lama ini memang (sebelum menikah) dikenal sebagai playboy.
Tapi, seperti halnya playboy-playboy yang lain, dia punya kata-kata andalan: “Lebih baik bandel sebelum nikah, lalu insaf dan jadi suami setia selepas nikah. Daripada hidup lurus sebelum nikah, lalu bandel setelah nikah.”
Tapi, seperti halnya playboy-playboy yang lain, dia punya kata-kata andalan: “Lebih baik bandel sebelum nikah, lalu insaf dan jadi suami setia selepas nikah. Daripada hidup lurus sebelum nikah, lalu bandel setelah nikah.”
Pernyataan ini amat berbahaya. Tidak lebih dari generalisasi dangkal bahwa pria yang
hidupnya lurus (tidak main perempuan) sebelum menikah, sudah pasti kemungkinan
besar akan berselingkuh setelah mereka menikah. Cara berpikir ini terlalu sederhana, sekaligus melecehkan
para pria berkelakuan 'lurus' (dan pria gak laku-laku).
Sekarang, terbukti kata-katanya itu hanya sampah. Dulu bandel, toh sekarang masih bandel.
Cerita kedua datang dari seorang perempuan paruh baya bersuami yang gagap teknologi alias gaptek. Ia membuat akun Facebook setelah
diajari tutorial sederhana oleh teman-teman searisannya. Untuk orang-orang yang
terlalu naif, Facebook bisa menjadi kotak pandora. Dan benar saja, perempuan
itu asik berselancar di situs temuan Mark Zuckerberg hingga kemudian bertemu
teman-teman lamanya.
Sudah ketebak, di antara teman-teman lama, terdapat mantan
pacar. Terjadilah CLBK (Cerita Lalu Belum Kelar) di antara mereka berdua.
Hubungan ini lalu mengalami eskalasi hingga ke tahap-tahap yang lebih
menyerempet bahaya.
Lalu, cerita ketiga dari teman saya lebih heboh lagi. Katakanlah nama teman saya ini Juki, dan selingkuhannya bernama Rogayah. Rogayah ini memang memiliki kerentanan selingkuh yang tinggi karena suaminya bekerja di luar kota. Jarang pulang. Nah si Juki ini seperti kucing garong yang gak bisa liat ikan asin nganggur dikit di meja makan. Disambarlah ikan asin ini.. eh maksudnya si Rogayah ini. Padahal, Juki juga sudah punya anak dan istri.
Seperti perselingkuhan pada umumnya, Juki dan Rogayah semula tidak menuntut satu sama lain. Mereka melakukannya just for fun. Gayung bersambut. Juki yang bandel ketemu Rogayah yang kesepian.
Tapi lama kelamaan, Rogayah meminta lebih. Karena kebetulan belum punya anak dari suami sahnya, ia lalu minta anak kepada Juki. Ia pengen dihamili oleh Juki. Pusinglah si Juki ini.
Seperti perselingkuhan pada umumnya, Juki dan Rogayah semula tidak menuntut satu sama lain. Mereka melakukannya just for fun. Gayung bersambut. Juki yang bandel ketemu Rogayah yang kesepian.
Tapi lama kelamaan, Rogayah meminta lebih. Karena kebetulan belum punya anak dari suami sahnya, ia lalu minta anak kepada Juki. Ia pengen dihamili oleh Juki. Pusinglah si Juki ini.
Tiga jenis cerita ini menggambarkan betapa naifnya kita. Dengan sedikit saja keleluasaan dan godaan, terjadilah perselingkuhan. Terlalu gampang dan murahan. Tapi sayangnya, mereka beranggapan bahwa cinta itu tidak pernah salah, hanya waktu yang salah. Kasihan banget si waktu, disalahin melulu. Dan mungkin karena alasan ini, sampai tercipta premis ngawur: selingkuh itu indah.
Lha kok waktu yang
disalahin? Jika memang cinta tidak salah, lalu apakah cinta peduli
pada keluarga yang menjadi korban? Sebagai makhluk yang dianugerahi akal sehat, kita memegang kendali, bukan
sebaliknya. Jika kita masih bersikap seperti anak kecil yang keinginannya
selalu ingin dituruti, apalah artinya umur yang bertambah, pangkat yang
meninggi, tabungan yang menggunung dan status sosial yang terhormat?
Tapi, bukan berarti saya adalah orang yang bener.
Saya masih belum berhak mengklaim diri sebagai orang yang bener, padahal belum teruji. Selain tidak punya mantan, saya juga gak punya pesona Don Juan dan uang Paman Gober. Lagian, ngapain sih cari-cari masalah baru dalam hidup. Tanpa begini-ginian, masalah udah banyak. Hidup udah susah, buat apa dibikin tambah susah.
Jadi buat saya, selingkuh itu susah, dan sama sekali tidak indah.
Minggu, 05 Juli 2015
LGBT
LGBT. Belakangan, singkatan ini amat populer di kalangan
publik terkait keputusan Mahkamah Agung Amerika Serikat untuk melegalisasi pernikahan di antara kaum tersebut. Langkah ini menyusul negara-negara lain yang lebih dulu melegalkan, seperti Belanda, Slovenia, Finlandia, Belgia, Brasil, Selandia Baru, Kanada, Denmark, Prancis, Islandia, Irlandia, Luksemburg, Meksiko, Norwegia, Afrika Selatan, Spanyol, Swedia, Inggris, Portugal dan Uruguay.
Status Amerika Serikat sebagai negara adidaya, juga membuat
negara tersebut secara tidak resmi menjadi pusat budaya dunia. Bagaimana tidak,
seluruh dunia begitu hapal film-film produksi Hollywood, juga begitu fasih
menyenandungkan lirik-lirik lagu yang dinyanyikan artis-artis asal negeri Paman
Sam. Pemilihan presiden di negara itu juga tidak lepas dari perhatian dunia,
dan tidak jarang menjadi headline
dari media negara-negara dunia ketiga.
Maka rasanya tidak terlalu mengherankan jika isu LGBT yang
terjadi di Amerika Serikat menjadi santapan pembahasan sebagian besar kita yang
berada jauh di Indonesia. Sekalipun akan banyak pihak yang mencibir kelakuan ini sebagai tindakan latah dan reaksioner khas inlander. Berpuluh-puluh tulisan cerdas, bernas dan berkualitas
naik cetak. Para pemuka agama, budayawan, selebriti dunia nyata sampai
selebriti dunia maya pun ikut menyuarakan pemikiran-pemikiran yang amat mengagumkan.
Bagi mereka yang kontra, tentu dasar agama yang
dikedepankan. Ada pula yang mengedepankan fitrah kita sebagai manusia yang memang
berkembang biak demi kelangsungan peradaban. Ada juga pelajaran sejarah kaum Nabi Luth yang kembali diangkat tinggi-tinggi ke permukaan sebagai pengingat.
Tapi bagi mereka yang pro, dasar agama dibuang
ditepikan. Pledoi yang (menurut mereka) lebih canggih, bermartabat, liberal,
humanis dan modern diapungkan baik ke media cetak maupun media daring dengan tidak kalah gencarnya. Juga dengan melakukan aksi memasang latar
pelangi pada profile picture,
mengetik tagar #LoveWins, selebrasi hingga turun ke jalan. Bahwa orientasi seksual
dan pelegalan pernikahannya adalah kemenangan yang paripurna bagi tegaknya Hak Asasi Manusia (HAM), sesuatu yang ter(disepakati) oleh dunia atas prakarsa mereka yang menjadi pemenang Perang Dunia II.
Yang kontra marah dengan ketidakwajaran ini, tapi yang pro lebih
galak. Bukan hanya diserang, tapi merasa haknya
dilimitasi.
Saya bukannya bermaksud latah ingin ikut-ikut berkomentar, apalagi
saya bukan siapa-siapa dan juga tidak memiliki kepentingan apapun. Saya juga tidaklah sepintar mereka para pegiat budaya modern yang begitu
rajin membaca jurnal, buku, riset sehingga lantas bertransformasi menjadi sosok freethinker
yang begitu mengagungkan logika dan superioritas ilmu pengetahuan. Agama itu dongeng yang dibuat-buat manusia, agama itu cuma alat propaganda, agama itu cuma buat jualan, agama itu impor. Agama begitu, agama begini.
Untuk yang satu ini, sikap saya sedari dulu sudah jelas. Saya
tidak ingin mengatakannya secara gamblang. Tapi yang bisa saya katakan adalah, saya tidak ingin anak-anak saya menjadi seperti itu. Saya ingin anak-anak saya bersekolah, berkarya, menikah dengan pasangan lawan jenis, memiliki keturunan lalu hidup normal dan selamat dunia akhirat.
Dalam banyak hal, saya sebenarnya fleksibel.
TAPI, hanya untuk persoalan-persoalan remeh temeh seperti:
Saya amat setuju jika hal-hal semacam ini dikembalikan saja kepada masing-masing preferensi individu. Namun tidak untuk hal signifikan seperti orientasi seksual.
TAPI, hanya untuk persoalan-persoalan remeh temeh seperti:
- makan nasi padang pakai tangan atau sendok dan garpu,
- makan bubur ayam diaduk atau tidak diaduk,
- memilih paha (ayam) daripada dada (ayam) sebagai pasangan makan nasi uduk,
- makan soto dengan nasi dicampur atau dipisah,
- memilih selai sarikaya atau coklat keju pada roti bakar,
- memilih antara gado-gado atau ketoprak,
- saus bolognaise atau carbonara,
- mau nikah di gedung atau di rumah,
- bulan madu di Bali atau Singapura,
- liburan ke pantai atau ke gunung.
Saya amat setuju jika hal-hal semacam ini dikembalikan saja kepada masing-masing preferensi individu. Namun tidak untuk hal signifikan seperti orientasi seksual.
Hal yang memang sudah fitrah dan
prinsipil, tentunya harus diikuti sebagai bentuk ketaqwaan kita kepada sosok
yang telah memberikan kita hidup, nafas, makan, rezeki, jodoh dan semua
kehidupan yang sesaat ini.
Hal-hal yang memang diatur untuk tujuan yang baik, oleh Dzat yang derajatnya bermiliar-miliar kali lipat hebatnya dari kita, memang kadang tidak masuk kepada logika. Lagipula, apalah arti logika kita sebagai manusia yang terbatas jika dibandingkan dengan ketentuan-Nya. Dia yang maha besar, tiada banding dan tiada batas.
Hal-hal yang memang diatur untuk tujuan yang baik, oleh Dzat yang derajatnya bermiliar-miliar kali lipat hebatnya dari kita, memang kadang tidak masuk kepada logika. Lagipula, apalah arti logika kita sebagai manusia yang terbatas jika dibandingkan dengan ketentuan-Nya. Dia yang maha besar, tiada banding dan tiada batas.
Bukannya ingin menggurui. Selain memang bentuk akan sikap saya pribadi, saya hanya ingin membekali anak-anak saya menjalani
zaman yang semakin lama semakin mengherankan ini. Zaman di mana yang salah
diagungkan, orang alim dileluconkan, dan yang memegang prinsip malah dianggap kaku dan gak sesuai dengan tuntutan zaman yang udah modern. Modern muke lu!
Ini adalah
sikap, dan saya tidak tertarik akan segala bentuk debat. Kalau punya pendapat
berbeda, silakan tetap jalani dengan penuh tanggung jawab jangan asal
ikut-ikutan. Tidak perlu juga membuang-buang energi untuk memengaruhi orang
lain yang berpendapat berbeda. Ini sudah masalah prinsip. Let’s just agree to disagree.
Selasa, 23 Juni 2015
Antara Mushalla, Pahlawan Kesiangan dan Celana Jeans
Saya memiliki kenangan akan mushalla sederhana ini. Jaraknya hanya beberapa ratus langkah kaki dari rumah orang tua. Di mushalla itu, saya biasa mengerjakan salat tarawih saat bulan ramadan, juga sempat mengikuti taman pendidikan Al Quran semasa kecil.
Ketika itu, keadaan mushalla dapat dikatakan cukup memprihatinkan. Langit-langit yang rendah, ditambah lagi dengan ditutupnya pintu selatan untuk membatasi jamaah pria dan wanita, membuat bagian dalam mushalla tidak ubahnya ruang sauna. Mungkin terdengar berlebihan, tapi coba saja masuk ke sana saat jamaah sedang penuh-penuhnya. Oh iya, ditambah lagi, mushalla ini tidak memiliki fasilitas pendingin ruangan berupa AC. Hanya mengandalkan beberapa buah kipas angin, yang saling meniupkan hawa pengap yang tidak memiliki kesempatan untuk bersirkulasi dengan udara di luar.
Setidaknya, seperti itulah kenangan saya akan mushalla masa kecil itu.
Bertahun-tahun saya tidak lagi memiliki waktu untuk salat tarawih berjamaah di mushalla itu, terlebih setelah saya bekerja, di mana saya baru sampai di rumah pada malam hari, dan juga setelah saya menikah yang berarti pindah rumah.
Hingga beberapa hari lalu, saya kembali mengunjungi mushalla itu ketika ada kesempatan.
Betapa terkejutnya saya melihat bagian dalam mushalla. Ya, mushalla itu memang telah direnovasi total, sehingga dari luar saja sudah kelihatan berbeda. Lebih kokoh, lebih cantik. Namun bagian dalamnya lah yang benar-benar berbeda.
Bagian yang masih diperuntukkan bagi jamaah pria ini mengalami perbaikan dalam banyak hal. Penerangan, pendingin ruangan, bahkan papan elektronik berisi informasi waktu salat sudah terpampang gagah. Begitupula langit-langit yang sudah ditinggikan. Hilang sudah kesan sempit, rasa gerah dan berbagai ketidaknyamanan.
Selalu ada cerita di balik sebuah perubahan. Adalah sekelompok remaja generasi baru yang menggagas perubahan ini, di mana mereka juga mendapat dukungan dari sebagian tokoh masyarakat. Dengan telaten, mereka mencari donatur, lalu melakukan perbaikan menyeluruh atas mushalla, dengan beberapa di antara remaja ini turut langsung dalam renovasi. Yang luar biasa, mereka mengirim salah satu imam mushalla ke tanah suci dalam rangka ibadah umrah. Bahkan, sampai ada wacana untuk menjadikan mushalla ini sebagai masjid, meski untuk itu membutuhkan upaya yang lebih keras menyoal birokrasi pemerintahan, persetujuan warga dan juga pertimbangan kapasitas berbanding dengan jumlah jamaah. Namun soal meningkatkan status mushalla menjadi masjid, tentu saja merupakan persoalan lain.
Bagaimanapun, selalu ada pihak yang tidak suka pada 'mereka yang berada di panggung'.
Sekelompok 'anak lama' yang pada zaman saya kecil menjadi pengurus mushalla tidak terlalu senang dengan transformasi yang terjadi pada mushalla ini, sekalipun perubahan ini berjalan ke arah yang lebih baik.
Mereka, yang juga sudah meninggalkan lingkungan ini karena pekerjaan, pada suatu waktu berinisiatif mengadakan pertemuan kecil guna membahas fenomena ini. Tapi entah mengapa saya lebih melihatnya sebagai keputusasaan akan tergerusnya eksistensi. Segregasi berbasis semangat primordial coba dikumandangkan, seakan persoalan ini adalah persoalan kultur yang serius. Padahal semua orang tahu, pada intinya ini hanyalah soal melakukan perubahan ke arah yang lebih baik. Para 'anak lama' ini sebetulnya memiliki momentum mereka sendiri pada saat mereka masih menjadi pengurus mushalla, yang sayangnya tidak mereka manfaatkan pada saat itu. Terdengar seperti pahlawan kesiangan, bukan?
Seakan tidak terlalu menghiraukan friksi antargolongan ini, saya menikmati betul salat di mushalla 'baru' ini. Begitu nyaman, jauh berbeda dengan yang saya alami sewaktu kecil.
Saya pun datang dengan membawa perbedaan sendiri. Di saat mayoritas jamaah mengenakan pakaian muslim berupa baju koko, sarung, dan peci, saya malah mengenakan 'setelan main' berupa poloshirt dan celana jeans.
Mengenakan celana jeans, apalagi untuk menghadiri salat berjamaah di rumah ibadah, menjadikan polemik bagi sebagian orang yang berpikiran sempit. Rasanya saya tidak perlu mengelaborasi polemik ini karena sudah terlalu banyak yang membahas. Pendek kata, bahan jeans, yang pada awal pembuatannya abad ke-18 diperuntukkan bagi pekerja pengeboran barang tambang, kurang sesuai dengan kepribadian (atau cara berpakaian) seorang muslim.
Saya tidak mau ikut mengkotak-kotakkan persoalan, karena mengenakan celana jeans, bagi saya adalah soal preferensi. Saya tidak bermaksud menjadikan preferensi pribadi sebagai pembenaran untuk menabrak aturan-aturan yang berlaku, namun setidaknya, preferensi mengenakan celana jeans bagi saya tidak lebih karena alasan kenyamanan. Bukan untuk menyombongkan diri atau apapun. Lagipula, apa yang mau disombongkan dari sebuah celana yang sudah bertahun-tahun dimiliki? Bahan jeans yang tebal dan awet, juga warna yang tidak monoton membuat saya lebih senang mengenakan berbahan denim ini. Terlebih, dalam keseharian di kantor, saya lebih sering mengenakan celana hitam berbahan katun. Anggap saja sekalian berganti suasana.
Terlepas dari segregasi antara 'anak baru' dan 'anak lama', juga kain sarung dan celana bahan dengan celana jeans, tidak mengubah fakta bahwa yang kita perjuangkan adalah hal yang sama: kenyamanan dan kekhusyukan beribadah. Serta tentu saja memanfaatkan bulan ramadan sebaik-baiknya.
Ketika itu, keadaan mushalla dapat dikatakan cukup memprihatinkan. Langit-langit yang rendah, ditambah lagi dengan ditutupnya pintu selatan untuk membatasi jamaah pria dan wanita, membuat bagian dalam mushalla tidak ubahnya ruang sauna. Mungkin terdengar berlebihan, tapi coba saja masuk ke sana saat jamaah sedang penuh-penuhnya. Oh iya, ditambah lagi, mushalla ini tidak memiliki fasilitas pendingin ruangan berupa AC. Hanya mengandalkan beberapa buah kipas angin, yang saling meniupkan hawa pengap yang tidak memiliki kesempatan untuk bersirkulasi dengan udara di luar.
Setidaknya, seperti itulah kenangan saya akan mushalla masa kecil itu.
Bertahun-tahun saya tidak lagi memiliki waktu untuk salat tarawih berjamaah di mushalla itu, terlebih setelah saya bekerja, di mana saya baru sampai di rumah pada malam hari, dan juga setelah saya menikah yang berarti pindah rumah.
Hingga beberapa hari lalu, saya kembali mengunjungi mushalla itu ketika ada kesempatan.
Betapa terkejutnya saya melihat bagian dalam mushalla. Ya, mushalla itu memang telah direnovasi total, sehingga dari luar saja sudah kelihatan berbeda. Lebih kokoh, lebih cantik. Namun bagian dalamnya lah yang benar-benar berbeda.
Bagian yang masih diperuntukkan bagi jamaah pria ini mengalami perbaikan dalam banyak hal. Penerangan, pendingin ruangan, bahkan papan elektronik berisi informasi waktu salat sudah terpampang gagah. Begitupula langit-langit yang sudah ditinggikan. Hilang sudah kesan sempit, rasa gerah dan berbagai ketidaknyamanan.
Selalu ada cerita di balik sebuah perubahan. Adalah sekelompok remaja generasi baru yang menggagas perubahan ini, di mana mereka juga mendapat dukungan dari sebagian tokoh masyarakat. Dengan telaten, mereka mencari donatur, lalu melakukan perbaikan menyeluruh atas mushalla, dengan beberapa di antara remaja ini turut langsung dalam renovasi. Yang luar biasa, mereka mengirim salah satu imam mushalla ke tanah suci dalam rangka ibadah umrah. Bahkan, sampai ada wacana untuk menjadikan mushalla ini sebagai masjid, meski untuk itu membutuhkan upaya yang lebih keras menyoal birokrasi pemerintahan, persetujuan warga dan juga pertimbangan kapasitas berbanding dengan jumlah jamaah. Namun soal meningkatkan status mushalla menjadi masjid, tentu saja merupakan persoalan lain.
Bagaimanapun, selalu ada pihak yang tidak suka pada 'mereka yang berada di panggung'.
Sekelompok 'anak lama' yang pada zaman saya kecil menjadi pengurus mushalla tidak terlalu senang dengan transformasi yang terjadi pada mushalla ini, sekalipun perubahan ini berjalan ke arah yang lebih baik.
Mereka, yang juga sudah meninggalkan lingkungan ini karena pekerjaan, pada suatu waktu berinisiatif mengadakan pertemuan kecil guna membahas fenomena ini. Tapi entah mengapa saya lebih melihatnya sebagai keputusasaan akan tergerusnya eksistensi. Segregasi berbasis semangat primordial coba dikumandangkan, seakan persoalan ini adalah persoalan kultur yang serius. Padahal semua orang tahu, pada intinya ini hanyalah soal melakukan perubahan ke arah yang lebih baik. Para 'anak lama' ini sebetulnya memiliki momentum mereka sendiri pada saat mereka masih menjadi pengurus mushalla, yang sayangnya tidak mereka manfaatkan pada saat itu. Terdengar seperti pahlawan kesiangan, bukan?
Seakan tidak terlalu menghiraukan friksi antargolongan ini, saya menikmati betul salat di mushalla 'baru' ini. Begitu nyaman, jauh berbeda dengan yang saya alami sewaktu kecil.
Saya pun datang dengan membawa perbedaan sendiri. Di saat mayoritas jamaah mengenakan pakaian muslim berupa baju koko, sarung, dan peci, saya malah mengenakan 'setelan main' berupa poloshirt dan celana jeans.
Mengenakan celana jeans, apalagi untuk menghadiri salat berjamaah di rumah ibadah, menjadikan polemik bagi sebagian orang yang berpikiran sempit. Rasanya saya tidak perlu mengelaborasi polemik ini karena sudah terlalu banyak yang membahas. Pendek kata, bahan jeans, yang pada awal pembuatannya abad ke-18 diperuntukkan bagi pekerja pengeboran barang tambang, kurang sesuai dengan kepribadian (atau cara berpakaian) seorang muslim.
Saya tidak mau ikut mengkotak-kotakkan persoalan, karena mengenakan celana jeans, bagi saya adalah soal preferensi. Saya tidak bermaksud menjadikan preferensi pribadi sebagai pembenaran untuk menabrak aturan-aturan yang berlaku, namun setidaknya, preferensi mengenakan celana jeans bagi saya tidak lebih karena alasan kenyamanan. Bukan untuk menyombongkan diri atau apapun. Lagipula, apa yang mau disombongkan dari sebuah celana yang sudah bertahun-tahun dimiliki? Bahan jeans yang tebal dan awet, juga warna yang tidak monoton membuat saya lebih senang mengenakan berbahan denim ini. Terlebih, dalam keseharian di kantor, saya lebih sering mengenakan celana hitam berbahan katun. Anggap saja sekalian berganti suasana.
Terlepas dari segregasi antara 'anak baru' dan 'anak lama', juga kain sarung dan celana bahan dengan celana jeans, tidak mengubah fakta bahwa yang kita perjuangkan adalah hal yang sama: kenyamanan dan kekhusyukan beribadah. Serta tentu saja memanfaatkan bulan ramadan sebaik-baiknya.
Langganan:
Postingan (Atom)