Minggu, 05 Juli 2015

LGBT

LGBT. Belakangan, singkatan ini amat populer di kalangan publik terkait keputusan Mahkamah Agung Amerika Serikat untuk melegalisasi pernikahan di antara kaum tersebut. Langkah ini menyusul negara-negara lain yang lebih dulu melegalkan, seperti Belanda, Slovenia, Finlandia, Belgia, Brasil, Selandia Baru, Kanada, Denmark, Prancis, Islandia, Irlandia, Luksemburg, Meksiko, Norwegia, Afrika Selatan, Spanyol, Swedia, Inggris, Portugal dan Uruguay.

Status Amerika Serikat sebagai negara adidaya, juga membuat negara tersebut secara tidak resmi menjadi pusat budaya dunia. Bagaimana tidak, seluruh dunia begitu hapal film-film produksi Hollywood, juga begitu fasih menyenandungkan lirik-lirik lagu yang dinyanyikan artis-artis asal negeri Paman Sam. Pemilihan presiden di negara itu juga tidak lepas dari perhatian dunia, dan tidak jarang menjadi headline dari media negara-negara dunia ketiga.

Maka rasanya tidak terlalu mengherankan jika isu LGBT yang terjadi di Amerika Serikat menjadi santapan pembahasan sebagian besar kita yang berada jauh di Indonesia. Sekalipun akan banyak pihak yang mencibir kelakuan ini sebagai tindakan latah dan reaksioner khas inlander. Berpuluh-puluh tulisan cerdas, bernas dan berkualitas naik cetak. Para pemuka agama, budayawan, selebriti dunia nyata sampai selebriti dunia maya pun ikut menyuarakan pemikiran-pemikiran yang amat mengagumkan.

Bagi mereka yang kontra, tentu dasar agama yang dikedepankan. Ada pula yang mengedepankan fitrah kita sebagai manusia yang memang berkembang biak demi kelangsungan peradaban. Ada juga pelajaran sejarah kaum Nabi Luth yang kembali diangkat tinggi-tinggi ke permukaan sebagai pengingat.

Tapi bagi mereka yang pro, dasar agama dibuang ditepikan. Pledoi yang (menurut mereka) lebih canggih, bermartabat, liberal, humanis dan modern diapungkan baik ke media cetak maupun media daring dengan tidak kalah gencarnya. Juga dengan melakukan aksi memasang latar pelangi pada profile picture, mengetik tagar #LoveWins, selebrasi hingga turun ke jalan. Bahwa orientasi seksual dan pelegalan pernikahannya adalah kemenangan yang paripurna bagi tegaknya Hak Asasi Manusia (HAM), sesuatu yang ter(disepakati) oleh dunia atas prakarsa mereka yang menjadi pemenang Perang Dunia II.

Yang kontra marah dengan ketidakwajaran ini, tapi yang pro lebih galak. Bukan hanya diserang, tapi merasa haknya dilimitasi. 

Saya bukannya bermaksud latah ingin ikut-ikut berkomentar, apalagi saya bukan siapa-siapa dan juga tidak memiliki kepentingan apapun. Saya juga tidaklah sepintar mereka para pegiat budaya modern yang begitu rajin membaca jurnal, buku, riset sehingga lantas bertransformasi menjadi sosok freethinker yang begitu mengagungkan logika dan superioritas ilmu pengetahuan. Agama itu dongeng yang dibuat-buat manusia, agama itu cuma alat propaganda, agama itu cuma buat jualan, agama itu impor. Agama begitu, agama begini.

Untuk yang satu ini, sikap saya sedari dulu sudah jelas. Saya tidak ingin mengatakannya secara gamblang. Tapi yang bisa saya katakan adalah, saya tidak ingin anak-anak saya menjadi seperti itu. Saya ingin anak-anak saya bersekolah, berkarya, menikah dengan pasangan lawan jenis, memiliki keturunan lalu hidup normal dan selamat dunia akhirat.

Dalam banyak hal, saya sebenarnya fleksibel.

TAPI, hanya untuk persoalan-persoalan remeh temeh seperti: 

  • makan nasi padang pakai tangan atau sendok dan garpu, 
  • makan bubur ayam diaduk atau tidak diaduk, 
  • memilih paha (ayam) daripada dada (ayam) sebagai pasangan makan nasi uduk, 
  • makan soto dengan nasi dicampur atau dipisah, 
  • memilih selai sarikaya atau coklat keju pada roti bakar, 
  • memilih antara gado-gado atau ketoprak, 
  • saus bolognaise atau carbonara, 
  • mau nikah di gedung atau di rumah, 
  • bulan madu di Bali atau Singapura, 
  • liburan ke pantai atau ke gunung.

Saya amat setuju jika hal-hal semacam ini dikembalikan saja kepada masing-masing preferensi individu. Namun tidak untuk hal signifikan seperti orientasi seksual.

Hal yang memang sudah fitrah dan prinsipil, tentunya harus diikuti sebagai bentuk ketaqwaan kita kepada sosok yang telah memberikan kita hidup, nafas, makan, rezeki, jodoh dan semua kehidupan yang sesaat ini. 

Hal-hal yang memang diatur untuk tujuan yang baik, oleh Dzat yang derajatnya bermiliar-miliar kali lipat hebatnya dari kita, memang kadang tidak masuk kepada logika. Lagipula, apalah arti logika kita sebagai manusia yang terbatas jika dibandingkan dengan ketentuan-Nya. Dia yang maha besar, tiada banding dan tiada batas.

Bukannya ingin menggurui. Selain memang bentuk akan sikap saya pribadi, saya hanya ingin membekali anak-anak saya menjalani zaman yang semakin lama semakin mengherankan ini. Zaman di mana yang salah diagungkan, orang alim dileluconkan, dan yang memegang prinsip malah dianggap kaku dan gak sesuai dengan tuntutan zaman yang udah modern. Modern muke lu!

Ini adalah sikap, dan saya tidak tertarik akan segala bentuk debat. Kalau punya pendapat berbeda, silakan tetap jalani dengan penuh tanggung jawab jangan asal ikut-ikutan. Tidak perlu juga membuang-buang energi untuk memengaruhi orang lain yang berpendapat berbeda. Ini sudah masalah prinsip. Let’s just agree to disagree. 

Selasa, 23 Juni 2015

Antara Mushalla, Pahlawan Kesiangan dan Celana Jeans

Saya memiliki kenangan akan mushalla sederhana ini. Jaraknya hanya beberapa ratus langkah kaki dari rumah orang tua. Di mushalla itu, saya biasa mengerjakan salat tarawih saat bulan ramadan, juga sempat mengikuti taman pendidikan Al Quran semasa kecil.

Ketika itu, keadaan mushalla dapat dikatakan cukup memprihatinkan. Langit-langit yang rendah, ditambah lagi dengan ditutupnya pintu selatan untuk membatasi jamaah pria dan wanita, membuat bagian dalam mushalla tidak ubahnya ruang sauna. Mungkin terdengar berlebihan, tapi coba saja masuk ke sana saat jamaah sedang penuh-penuhnya. Oh iya, ditambah lagi, mushalla ini tidak memiliki fasilitas pendingin ruangan berupa AC. Hanya mengandalkan beberapa buah kipas angin, yang saling meniupkan hawa pengap yang tidak memiliki kesempatan untuk bersirkulasi dengan udara di luar.

Setidaknya, seperti itulah kenangan saya akan mushalla masa kecil itu.

Bertahun-tahun saya tidak lagi memiliki waktu untuk salat tarawih berjamaah di mushalla itu, terlebih setelah saya bekerja, di mana saya baru sampai di rumah pada malam hari, dan juga setelah saya menikah yang berarti pindah rumah.

Hingga beberapa hari lalu, saya kembali mengunjungi mushalla itu ketika ada kesempatan.

Betapa terkejutnya saya melihat bagian dalam mushalla. Ya, mushalla itu memang telah direnovasi total, sehingga dari luar saja sudah kelihatan berbeda. Lebih kokoh, lebih cantik. Namun bagian dalamnya lah yang benar-benar berbeda.

Bagian yang masih diperuntukkan bagi jamaah pria ini mengalami perbaikan dalam banyak hal. Penerangan, pendingin ruangan, bahkan papan elektronik berisi informasi waktu salat sudah terpampang gagah. Begitupula langit-langit yang sudah ditinggikan. Hilang sudah kesan sempit, rasa gerah dan berbagai ketidaknyamanan.

Selalu ada cerita di balik sebuah perubahan. Adalah sekelompok remaja generasi baru yang menggagas perubahan ini, di mana mereka juga mendapat dukungan dari sebagian tokoh masyarakat. Dengan telaten, mereka mencari donatur, lalu melakukan perbaikan menyeluruh atas mushalla, dengan beberapa di antara remaja ini turut langsung dalam renovasi. Yang luar biasa, mereka mengirim salah satu imam mushalla ke tanah suci dalam rangka ibadah umrah. Bahkan, sampai ada wacana untuk menjadikan mushalla ini sebagai masjid, meski untuk itu membutuhkan upaya yang lebih keras menyoal birokrasi pemerintahan, persetujuan warga dan juga pertimbangan kapasitas berbanding dengan jumlah jamaah. Namun 
soal meningkatkan status mushalla menjadi masjid, tentu saja merupakan persoalan lain.

Bagaimanapun, selalu ada pihak yang tidak suka pada 'mereka yang berada di panggung'.

Sekelompok 'anak lama' yang pada zaman saya kecil menjadi pengurus mushalla tidak terlalu senang dengan transformasi yang terjadi pada mushalla ini, sekalipun perubahan ini berjalan ke arah yang lebih baik.

Mereka, yang juga sudah meninggalkan lingkungan ini karena pekerjaan, pada suatu waktu berinisiatif mengadakan pertemuan kecil guna membahas fenomena ini. Tapi entah mengapa saya lebih melihatnya sebagai keputusasaan akan tergerusnya eksistensi. Segregasi berbasis semangat primordial coba dikumandangkan, seakan persoalan ini adalah persoalan kultur yang serius. Padahal semua orang tahu, pada intinya ini hanyalah soal melakukan perubahan ke arah yang lebih baik. Para 'anak lama' ini sebetulnya memiliki momentum mereka sendiri pada saat mereka masih menjadi pengurus mushalla, yang sayangnya tidak mereka manfaatkan pada saat itu. Terdengar seperti pahlawan kesiangan, bukan? 

Seakan tidak terlalu menghiraukan friksi antargolongan ini, saya menikmati betul salat di mushalla 'baru' ini. Begitu nyaman, jauh berbeda dengan yang saya alami sewaktu kecil.

Saya pun datang dengan membawa perbedaan sendiri. Di saat mayoritas jamaah mengenakan pakaian muslim berupa baju koko, sarung, dan peci, saya malah mengenakan 'setelan main' berupa poloshirt dan celana jeans.

Mengenakan celana jeans, apalagi untuk menghadiri salat berjamaah di rumah ibadah, menjadikan polemik bagi sebagian orang yang berpikiran sempit. Rasanya saya tidak perlu mengelaborasi polemik ini karena sudah terlalu banyak yang membahas. Pendek kata, bahan jeans, yang pada awal pembuatannya abad ke-18 diperuntukkan bagi pekerja pengeboran barang tambang, kurang sesuai dengan kepribadian (atau cara berpakaian) seorang muslim.

Saya tidak mau ikut mengkotak-kotakkan persoalan, karena mengenakan celana jeans, bagi saya adalah soal preferensi. Saya tidak bermaksud menjadikan preferensi pribadi sebagai pembenaran untuk menabrak aturan-aturan yang berlaku, namun setidaknya, preferensi mengenakan celana jeans bagi saya tidak lebih karena alasan kenyamanan. Bukan untuk menyombongkan diri atau apapun. Lagipula, apa yang mau disombongkan dari sebuah celana yang sudah bertahun-tahun dimiliki? Bahan jeans yang tebal dan awet, juga warna yang tidak monoton membuat saya lebih senang mengenakan berbahan denim ini. Terlebih, dalam keseharian di kantor, saya lebih sering mengenakan celana hitam berbahan katun. Anggap saja sekalian berganti suasana.

Terlepas dari segregasi antara 'anak baru' dan 'anak lama', juga kain sarung dan celana bahan dengan celana jeans, tidak mengubah fakta bahwa yang kita perjuangkan adalah hal yang sama: kenyamanan dan kekhusyukan beribadah. Serta tentu saja memanfaatkan bulan ramadan sebaik-baiknya.

Jumat, 19 Juni 2015

Mengenang Ramadan Masa Kanak-kanak

Bulan Ramadan, selain merupakan bulan yang penuh berkah dan ampunan, juga dimaksudkan sebagai bulan untuk meredam. Bagi saya, bulan yang juga sering disebut bulan puasa ini memang sejatinya diperuntukkan untuk sedikit mengerem aktivitas kita setelah sebelas bulan lamanya beraktivitas. Banyak lembaga pendidikan mengurangi jam belajar, dan banyak perusahaan mengurangi jam kerja. Selain memberi kesempatan orang untuk lebih khusyuk dalam beribadah, juga memberi kesempatan untuk berkumpul lebih sering dengan keluarga. Pendeknya, banyak kegiatan duniawi yang dikurangi frekuensinya demi memanfaatkan momen penuh berkah ini.

Namun bagi anak-anak, bulan Ramadan bukanlah sebuah momen untuk meredam dan bercermin. Memangnya apa yang mau diredam dan direfleksikan dari masa kanak-kanak yang penuh sukacita? Apa pula yang perlu dipikirkan masak-masak oleh anak kecil yang belum memiliki tanggung jawab seberat orang dewasa?

Maka tidak heran jika bulan Ramadan, dengan segala nilai spiritual yang ada, akan selalu disambut dengan keriangan oleh anak-anak. Bagi anak-anak, bulan Ramadan bukanlah soal bagaimana mengkhatamkan bacaan Al Quran, shalat tarawih sebulan penuh, itikaf pada sepuluh malam terakhir, atau bagaimana cara berlomba-lomba dalam mengeluarkan amal. Bagi anak-anak, bulan Ramadan menjadi semacam kulminasi kemunculan tradisi-tradisi yang menyenangkan, yang hanya terjadi setahun sekali.

Dimulai dari malam pertama tarawih, anak-anak sudah riuh memenuhi masjid, mushalla atau surau. Bermodal kain sarung, mereka bercanda dengan teman-teman. Kain sarung digulung, lalu diayunkan dengan gerakan seperti back-hand ala petenis dunia, yang kemudian menghasilkan sensasi pedas pada kulit temannya yang terkena sabetan. Tidak mau kalah, sang korban membentuk kain sarungnya hingga menyerupai gada rantai, semacam senjata yang populer pada abad pertengahan. Ia balas memukulkan bola gulung kain sarungnya pada kaki temannya, hingga temannya itu menjerit kesakitan. Acara berantem-beranteman ini usai setelah salah seorang bapak-bapak melerai mereka, sambil menjewer atau menyentil kuping tentunya.

Sepanjang salat tarawih, anak-anak ini pun masih bercanda. Mengelitiki pinggang, menginjak kaki, hingga berebut tempat sujud membuat ibadah ini jauh dari khusyuk. Selepas salat, mereka langsung ngibrit sebelum orang-orang dewasa sempat memarahi, tapi kemudian tersadar harus kembali lagi ke mushalla karena harus meminta penceramah untuk menandatangani agenda ramadan sebagai tugas dari sekolah.

Sepulang dari masjid, anak-anak ini pulang ke rumah masing-masing untuk makan malam, lalu kembali keluar rumah untuk berkumpul di sekitaran masjid. Apa yang dilakukan? Pilihannya bermacam-macam, dari perang petasan dengan anak kampung sebelah, nimbrung permainan karambol orang dewasa, hingga bermain sepak bola jika lampu lapangan serba guna dinyalakan. 

Selepas bermain, mereka beristirahat sejenak. Minuman bersoda, es teh manis atau es temulawak menjadi pilihan. Minuman yang akan dibatasi konsumsinya jika berada di rumah. Sungguh nikmat air dingin kaya gula ini mengalir ke tubuh-tubuh yang belum saatnya memikirkan selembar kertas berisi hasil medical check up.

Tibalah pada saat yang dinantikan: membuat suara gaduh untuk membangunkan orang sahur. Kaleng, botol, galon atau apa saja digunakan untuk membuat bising. Begitu riuh, berisik dan gaduh. Namun begitu khas. Mereka lalu pulang ke rumah masing-masing untuk makan sahur, menunggu hingga adzan subuh sambil terkantuk-kantuk, lalu tertidur hingga siang hari jika sedang libur sekolah.

Sore harinya, kegiatan sudah dimulai kembali. Mengumpulkan makanan dari donatur untuk berbuka di masjid, tadarusan, lalu kembali bermain sepak bola di tanah lapang hingga adzan maghrib berkumandang. Lalu mereka berbuka puasa bersama dengan riang gembira. Makan dengan lahap hingga lupa diri, hingga perut sakit dan orang-orang dewasa mulai menceramahi “Tuh kan, udah dibilangin kalo makan buka puasa itu jangan rakus dan terburu-buru!” Minimal, kita pernah sekali mengalami kejadian semacam ini.

Setelah itu mereka kembali tarawih, lalu begitu terus sampai 30 hari. Sampai mereka bosan sendiri dan menanti-nantikan hari kemenangan, yaitu hari Idul Fitri. Saat di mana mereka tidak perlu lagi menahan lapar dan haus di siang hari, dan saat di mana mereka mendapatkan duit lebaran dari om, tante, kakek, nenek atau orang kampung terpandang yang melakukan open house. Juga menagih uang hadiah puasa kepada orang tua karena berhasil menamatkan puasa tanpa sekalipun batal. 

Siklus ini akan berlangsung bertahun-tahun sampai usainya masa kanak-kanak, sampai pada suatu masa di mana persoalan-persoalan lain mulai menghinggapi, hingga kemudian mereka menemukan makna ramadan yang lebih dalam lagi seiring dengan ilmu yang semakin bertambah.

Kini, mereka telah berada pada usia 30an. Sedikit lagi memasuki midlife crisis. Zaman juga telah berubah. Mereka kini lebih memilih dibangunkan sahur oleh alarm pada ponsel pintar daripada suara anak-anak. Mereka kini juga lebih banyak memberi, daripada menerima. Betapa zaman telah berubah. Mereka juga tidak bisa bersantai lagi selama ramadan. Pekerjaan tetaplah pekerjaan, para atasan tidak akan peduli, toh kegiatan usaha tetap berjalan bahkan hingga malam takbiran. Deadline tetap saja deadline.

Lalu suatu ketika, tibalah mereka di mushalla tempat mereka biasa melakukan ibadah salat tarawih seperti saat mereka kecil. Mereka melihat kembali sekelompok anak kecil yang berisik dan membuat gaduh. Lalu pada malam takbiran, mereka kembali melihat anak-anak kecil yang sama bergantian menabuh bedug dan meneriakkan kalimat takbir tanpa lelah, sembari membagi-bagikan zakat fitrah berupa beras dan kebutuhan pokok kepada para mustahiq, atau golongan yang berhak menerima zakat. Di lain kesempatan, mereka membaca berita tentang keributan yang ditimbulkan anak-anak muda zaman sekarang pada acara Sahur On The Road (SOTR). Betapa bodohnya anak-anak kecil itu.

Kali ini, mereka hanya tersenyum, sembari mengingat bahwa hal-hal inilah yang dilakukan sewaktu kanak-kanak dulu. Berbeda dengan anak sekarang yang sudah serampangan mengendarai sepeda motor walau masih di bawah umur. Generasi 90an seperti mereka baru mengendarai motor saat mereka sudah mampu membelinya dengan gaji sendiri. Kembali ke tema sentral tulisan, bahwa bagaimanapun, dalam episode Ramadan yang datang setiap tahunnya, masa ramadan kanak-kanak tetaplah yang teramat berkesan untuk dilupakan. 

Senin, 15 Juni 2015

Teman Nongkrong Yang Asik

Interaksi dengan sesama manusia, suka atau tidak, adalah kebutuhan. Manusia tetaplah membutuhkan manusia lain, sekalipun ia kaya raya, sukses besar, ataupun melarat. Dan bentuk interaksi paling sederhana adalah saling berbicara, atau mengobrol. Mengobrol tentu tidak sekadar mengobrol, karena biasanya dilakukan sembari menyantap kudapan, menyeruput kopi, menyesap teh, merokok atau malah menenggak bir dingin. Apapun hidangannya, di manapun tempatnya, kegiatan seperti ini lazim disebut nongkrong.

Kecuali anda seorang antisosial, maka anda pasti pernah nongkrong, entah di warung kopi dekat rumah atau kafe sejuk dengan ambience yang tidak malu-maluin untuk difoto. Nongkrong ini, sayangnya bersifat eksklusif. Anda tentu tidak mau membuang-buang waktu untuk nongkrong bersama orang-orang yang tidak anda inginkan, bukan? Dan karena nongkrong identik dengan mengobrol, maka teman nongkrong adalah teman yang enak diajak mengobrol. Seperti apa orang itu? Saya sih punya kriteria sendiri.

Wawasan Luas
Sebuah ide besar kadang datang dari kegiatan sederhana seperti ini. Untuk mendapatkan ide tersebut, tidak jarang bahwa teman nongkrong yang asik ini adalah sosok yang berwawasan luas, atau setidaknya mahir di satu bidang. Dengan wawasan luas inilah, ia dapat memberikan pengetahuan yang tidak nanggung sehingga bisa mencerahkan kita yang hanya mendengar. 

Tapi, bukan berarti juga saya senang dengan seorang Mr. Know It All Wanna Be. Seseorang yang selalu terlihat ingin menonjol dalam setiap percakapan, selalu ingin dibilang paling tahu segalanya. Ketika anda berbicara musik jazz, ia langsung nimbrung seolah paling paham, begitu pula ketika anda beralih ke topik sejarah. Orang ini selalu sibuk menyandingkan pengetahuannya dengan lawan bicara. 

Anda tidak perlu berusaha keras bersikap seperti itu jika anda bukan seorang polymath seperti halnya Leonardo Da Vinci, Galileo Galilei, Confucius, Benjamin Franklin ataupun Bruce Dickinson.

Tidak Arogan
Seorang yang arogan bisa saja sebegitu membanggakan profesinya, seakan profesi lain tiada arti dan tanpa keahlian profesionalnya, maka tatanan masyarakat akan runtuh. Orang seperti ini menggunakan keahlian profesionalnya ataupun status pergaulannya sebagai standar untuk menilai orang lain.

Polisi arogan: “Elo semua gak bakal hidup aman kalo gak ada polisi kaya gue!”
Dokter arogan: “Kalo gak ada dokter kaya gue, siapa yang bakal ngobatin penyakit lo?”
Ekonom arogan: "Kalo bukan karena penelitian-penelitian gue, ekonomi bangsa ini bakal runtuh!"
Editor arogan: "Gak nyangka direktur perusahaan sekaliber dia masih gagap EYD saat menulis."
Anak mobil arogan: "Penampilannya memang keren, tapi lihat dong mobilnya, dekil dan gak terawat."

Memiliki keahlian tinggi dan pencapaian eksepsional di bidang yang digeluti memang membanggakan, tapi cobalah untuk sadar bahwa setiap orang memang terlahir memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Setiap orang juga telah memilih bidang keahliannya sendiri dan tidak mungkin untuk menjadi sempurna di semua bidang.

Dan jangan lupa, bagaimanapun anda merasa hebat, sesungguhnya anda tidak sehebat itu, kok. No matter how good you are, there are always someone better.

Berpikiran Terbuka
Hanya karena seseorang tidak pernah selingkuh (mungkin karena gak laku), bukan berarti dia berhak memberi label buruk kepada temannya yang berselingkuh karena terus menerus digoda teman perempuannya. Juga hanya karena seseorang memiliki pandangan politik berbeda, bukan berarti kita harus memaksakan pandangan politik kita.

Seseorang punya jalan cerita dan lika-liku hidup masing-masing yang menyebabkannya memilih suatu jalan, dan kita sama sekali tidak berhak menghakiminya karena cerita hidup seseorang memang berbeda-beda. Manusia memang terlalu terbiasa untuk melihat segala sesuatu dari luarnya saja, padahal apa yang dia lihat sama sekali tidak merepresentasikan yang terjadi. 

Lagipula, siapalah kita ini sampai merasa berhak untuk menilai hidup orang lain? 

Sikap Positif
Sangat menyenangkan nongkrong bersama orang-orang yang positif. Mereka tidak suka mengeluh, mereka memandang hidup dengan lebih optimis. Oke, sesekali mengeluh tentu tidak mengapa, tapi mbok ya jangan setiap nongkrong obrolannya keluhan melulu. Mengeluhkan bos yang gak cocok dengan kita, gaji yang kurang, istri yang galak, mertua yang bawel, anak yang bandel, perut yang menggendut, mobil yang butut, sampai rumah yang sempit. Tidak jarang, orang seperti ini sering membicarakan betapa enaknya hidup orang lain, hingga lupa mensyukuri apa yang sudah didapat. Rumput tetangga memang selalu terlihat lebih hijau.

Mengeluh tidak akan menyelesaikan masalah hingga anda sendiri yang bergerak untuk melakukan sesuatu. 

Dan ingatlah, betapapun anda menganggap hidup orang lain lebih baik, banyak orang tidak beruntung di luar sana yang menginginkan hidup seperti yang anda punya.

Tidak Banyak Bergosip
Bergosip, bukan hanya kerjaan wanita. Banyak juga pria yang gemar bergosip. Awalnya hanya ngomongin orang secara pekerjaan, lama kelamaan menjadi personal. Lama kelamaan sinis. Akhirnya, di matanya, segala sesuatu tentang orang yang digosipin itu menjadi jelek, dan dia ingin orang lain berpendapat sama. Memang bergosip kadang menyenangkan, tapi tidak lebih untuk lucu-lucuan belaka. Kalau sudah sampai tahap selalu menjelek-jelekkan, apalagi menghina dan menjatuhkan kredibilitas, tentu saja keterlaluan.

Small people talk about other people. Kita tidak akan terlihat baik dengan cara menjelekkan orang lain.

Rendah Hati
"It's hard to be humble... When we perfect in every way," begitulah kata orang, menggambarkan betapa sulitnya bersikap rendah hati. Terlebih pada era sosial media, di mana anda akan terbiasa memberitakan kepada dunia tentang apa yang anda lakukan, di restoran mana anda makan malam, di kafe mana anda ngopi, di hotel mana anda menginap, di kota mana anda berlibur, mobil apa yang anda kendarai, begitu nyamannya rumah besar anda, betapa pintarnya si kecil, juga seberapa kerennya koleksi batu akik anda.

Memiliki semua itu memang menyenangkan, tapi tentu saja anda tidak perlu memberitahu semua orang. Memperlihatkan satu-dua koleksi barang mungkin akan terlihat wajar sebatas aktualisasi diri, tapi perlukah anda memamerkan setiap jengkal isi rumah, semua kegiatan dan kumpulan foto tentang hebatnya si buah hati?

Itu tentang bersikap terhadap diri sendiri, lalu bagaimana bersikap terhadap orang lain? Jika seseorang sedang berbicara tentang pengalamannya, tanggapilah dengan positif. Misalnya si A sedang bercerita pengalaman liburannya ke Singapura, tidak perlu kita menyombongkan diri bercerita pengalaman liburan kita ke Paris. Walaupun kita memang pernah ke Paris, tidak perlu bercerita secara sukarela kecuali ketika orang lain bertanya.

Atau, jika teman kita bercerita tentang anaknya yang sudah bisa sholat, tidak perlu membandingkan dengan anak anda, sekalipun anak anda sudah hapal Al Quran.

Kita tidak perlu menunjukkan superioritas atas orang lain hanya untuk dibilang hebat. 

Selera Humor Yang Baik
Pertemanan tanpa cela-celaan tentu saja hambar. Begitu pula acara nongkrong tanpa menertawakan teman sendiri atau diri sendiri, tentu saja akan terlalu serius seperti halnya wawancara kerja atau rapat direksi. Alangkah menyenangkannya kita bertemu teman yang masih bisa diajak bercanda dan sedikit bersenda gurau, sekalipun teman kita itu sudah memiliki jabatan dan kedudukan yang tinggi.

Kita tidak perlu terlalu menjaga wibawa seperti ketika kita berada di kantor saat sedang nongkrong santai bersama teman. Kita juga tidak bisa berlaku seperti direktur ketika kita berada di depan anak-anak, karena anak-anak kita hanya ingin bersama sosok seorang ayah, bukan sosok direktur.

Karena hidup memang soal berakting dan menempatkan diri. 

Tidak Mendewakan Uang dan Tidak Pelit
Tujuan utama nongkrong adalah bertemu dan bersilaturahmi dengan teman, bukan semata mencari tambahan penghasilan. Menjadi sosok matrealistis di zaman sekarang memang tidak salah karena semua memang butuh uang, tapi mendasari segala tindakan dengan uang juga tidak baik.

"Mau minta tolong sama gue? Wani piro?
"Gue salut sama si A, biar orangnya culas, tapi uangnya banyak."

Orang seperti ini jelas akan melakukan sesuatu dengan mengharap imbalan, dan menilai seseorang dari banyaknya uang yang dimiliki. Cenderung menghalalkan segala cara demi uang. Peduli apa soal moral.

Kalo mau cepet kaya, ya gak usah nongkrong lah, sering-sering aja nonton video motivasi hadiah dari buku how to be rich for dummies yang elo pinjam dari teman. 

Kan nongkrong juga butuh duit, masak sih minta ditraktir melulu? Irit atau pelit?

Tidak Keberatan Berbicara Hal Remeh Temeh
Kadang kita perlu membicarakan hal-hal yang lebih ringan dan menyenangkan. Kita yang sudah sehari-hari bertarung dengan deadline dan target, tentu saja malas dong jika ter(di)paksa terus menerus mendengarkan obrolan berbobot macam politik, hukum ataupun ekonomi ketika sedang bersantai. 

Why so serious?

Kamis, 21 Mei 2015

Cinta Pada Pendengaran Pertama

Saya punya kebiasaan mendengarkan lagu-lagu di situs Youtube. Mendengarkan lagu di situs ini memberikan pengalaman tersendiri. Selain bisa mendengar versi aslinya, kita juga berkesempatan mengetahui versi lain dari lagu tersebut, baik itu versi live, versi cover, dan lain-lain. Dalam kanal Youtube juga, kita bisa melihat dan mendengar pilihan lagu lain yang direkomendasikan. Ketika saya iseng meng-klik tautan itu, terdengarlah sebuah musik yang terasa asing menarik perhatian. Terdengar santai, tidak terlalu rumit tapi juga tidak murahan. Musiknya tidak seperti yang biasa saya dengar, tapi membuat saya penasaran untuk mendengarkannya sampai habis.

Telinga saya mengatakan bahwa lagu ini penuh kejutan. Notasi dan ketukannya membangun suasana berbeda, pola berbeda, yang pada akhirnya memperkenalkan hal baru kepada otak, dan langsung disambut oleh hati. Harry Beckwith, penulis terkenal yang merilis buku best seller: Marketing and Buyer Psychology mengamini hal ini dengan mengungkapkan bahwa otak manusia memang menyukai kejutan. Meski mudah terjebak dalam comfort zone, manusia juga tidak selalu menyukai sesuatu yang terlalu mudah ditebak.

Saya lantas berlagak seperti Sir Tom Jones, juri dari acara kompetisi musik ternama, The Voice edisi United Kingdom (Inggris). Jika juri lain menekan tombol 'I want you' dengan cepat pada saat blind audition, Sir Tom Jones dengan kalem menunggu hingga saat-saat terakhir sebelum akhirnya memutuskan untuk menekan atau tidak menekan tombol. Dia tidak ikut-ikutan juri lain, tidak terpengaruh keriuhan penonton, hanya percaya pada telinganya -karena dalam format acara The Voice, juri memang hanya mendengar suara, namun tidak melihat sosok sang penyanyi. 

"I need to feel that what I'm hearing is an authentic expression of the person, not just a string of phrases that are copied from others," ujarnya ketika diwawancarai perihal apa yang membuatnya menekan tombol 'I want you'. "When I hit the button, I mean it," tutupnya.

Tapi, khidmatnya saya mendengarkan lagu sampai akhir bukanlah untuk memencet tombol, atau memutuskan apakah lagu ini enak atau tidak. Saya sudah tahu lagu ini enak, dan memutuskan untuk menikmati cinta pada pendengaran pertama akan lagu ini. 


Lagu yang saya maksud berjudul You Make Loving Fun karya sebuah band lawas asal Inggris bernama Fleetwood Mac.

Cinta pada pendengaran pertama? Love at first hearing. Ya benar. Perbedaannya dengan kalimat mainstream cinta pada pandangan pertama atau love at first sight hanya terletak pada indra yang digunakan. Telinga dengan mata.

Saya bukan tipe yang bisa mencintai orang pada pandangan pertama. Kalau sekadar tertarik, mungkin saja.
Sebaliknya, saya bisa menyukai sebuah lagu pada pendengaran pertama. Hanya dengan mendengarkan intro-nya, saya bisa langsung memutuskan bahwa lagu ini akan menjadi favorit, yang akan memasuki playlist dan akan menjadi teman keseharian. 

Dalam beberapa hal, saya berpendapat telinga lebih dapat diandalkan ketimbang mata. Telinga adalah medium yang jujur dan bebas nilai. Segalanya bisa masuk tanpa tersaring. Berbeda dengan mata, yang lebih mudah tertipu penampakan lahiriah lalu membentuk persepsi yang tentu saja tidak bisa terhindar dari unsur subjektivitas. 


Dangkalnya pandangan mata -meski tidak selalu- tidak jarang membuat kita kehilangan kesempatan untuk mengapresiasi hal positif, dan lebih buruk lagi, salah dalam menilai.

Senin, 09 Maret 2015

My Nice Boss

Ini adalah cerita fiksi tentang seorang pemuda pekerja kantoran, sebut saja dia Si Gondrong. Rambutnya memang tidak gondrong lagi, karena kantor jelas tidak mengizinkannya. Tapi karena ia memanjangkan rambutnya semasa kuliah, nama ‘Gondrong’ pun sudah melekat, sekalipun ia tidak lagi gondrong.

Dengan cukuran rapi dan klimis, Gondrong kini menikmati “meja mie ayam” miliknya. Disebut meja mie ayam, karena memang tidak ada sekat seperti kubikal layaknya pekerja lain. Sebagai auditor, ia lebih banyak bekerja di kantor klien dan amat jarang di kantor sendiri. Untuk itulah, kantor hanya menyediakan meja besar dengan banyak kursi untuk para junior auditor seperti dirinya. Tidak ada tempat duduk dan nomor ekstension yang tetap, karena siapa yang datang duluan, dialah yang berhak menduduki tempatnya.

Gondrong memiliki senior-senior yang dapat dikategorikan galak dan demanding. Mbak Martina misalnya, dengan pengalamannya yang sudah lima tahun, ia jelas sudah tahu seluk beluk pembuatan laporan untuk klien-kliennya. Ketika berurusan dengan anak buahnya, ia bisa bersikap bengis seperti seorang sosiopat yang tidak memiliki empati. Tidak peduli anak buahnya sedang sakit, ada urusan keluarga, tidak peduli siang atau malam, awal pekan atau akhir pekan, mereka harus siap sedia jika dibutuhkan.

Gondrong tidak pernah sampai membawa segala tindakan senior-seniornya ke hati. Ya, mungkin karena dia cowok juga. Dia sadar bahwa senior-senior itu menjadi sedemikian demanding karena mereka pun dituntut hal yang sama oleh para Manager-nya. Dan para manager juga dituntut hal yang sama pula oleh para Partner. Dan seterusnya. Sebagai penghuni terbawah dalam ‘rantai makanan’, Gondrong pun merasa tidak ada gunanya jika ia melawan.

Kita semua hanya memainkan peran, begitu pikirnya. Di balik tampang-tampang lelah dan tertekan semua yang bekerja di gedung ini, mungkin saja mereka sama sepertinya yang juga senang bermain. Senang menghabiskan akhir pekan sambil nongkrong bersama teman-teman seperti yang kadang dilakukannya, senang berfoto selfie dan ingin dipuji seperti kakak perempuannya, senang mengoleksi batu akik seperti pamannya, dan lain-lain. Pastilah ada aspek manusia yang sebenarnya tersembunyi di balik topeng-topeng itu.

Walaupun begitu, Gondrong tetaplah ingin melakukan sesuatu yang berbeda. Ketika ia dipromosi menjadi senior, ia bertekad untuk menjadi sosok senior yang lebih berempati, lebih bersahabat. Pokoknya lebih baik ketimbang senior-senior yang selama ini memperlakukannya.

Promosi
Waktu promosi pun tiba. Gondrong telah menjadi seorang auditor senior, posisi yang menuntutnya untuk bertanggung jawab atas segala kegiatan fieldwork yang dilakukan timnya. Mewawancarai klien, meminta dan mengumpulkan data, hingga membuat draft report. Posisi yang juga membuatnya memiliki anak buah.

Gondrong membuktikan janjinya. Ia adalah sosok senior kesayangan para junior. Sosok senior yang baik, berperasaan, berempati dan malah tidak segan untuk melakukan porsi pekerjaan junior jika diperlukan. Para junior pun berebut untuk menjadi anggota timnya. Ia juga tidak pelit dan tidak hitungan soal uang. Traktir-mentraktir, mengantar dan menjemput anak buahnya bukanlah hal luar biasa baginya.

Saya berhasil, begitu pikirnya. Pekerjaan beres, anggota tim menyukainya walaupun ia jauh lebih capek karena harus sering meng-cover pekerjaan anak-anak buahnya. Karir Gondrong pun terbilang cepat. Dalam waktu dua tahun saja, ia sudah dipromosi ke level Assistant Manager, atau satu level lagi di bawah Manager, posisi middle ladder yang tentu saja menjadi impian banyak orang.

Gondrong merasa terlalu lelah bekerja sebagai auditor. Hanya beberapa bulan sebelum promosi, ia mengundurkan diri untuk bergabung dengan perusahaan lain di luar industri auditor. Ia merasa sudah cukup, dan anak-anak buahnya juga telah ia persiapkan dengan baik. Begitu pikirnya.

Tapi ternyata ia tidak sepenuhnya benar. Beberapa bulan setelah kepindahannya, terjadi sedikit kekacauan dalam pengerjaan laporan klien-klien yang ia pegang dulu. Anak-anak buah yang dipikirnya sudah mampu bekerja secara mandiri, ternyata tidak mampu menyelesaikan laporan sesuai tenggat waktu yang disepakati. Pak Joko, atasannya dulu, menghubunginya.

“Ndrong, saya cuma mau kasih tau ke kamu kalo pekerjaan salah satu klien kamu yang dulu itu, kini bermasalah. Tim kami tidak mampu menyelesaikan laporan dengan tepat waktu.”

“Waduh, saya turut sedih nih, Pak. Kira-kira, kenapa ya bisa begitu? Padahal sebelumnya tidak ada masalah.”

“Kamu tahu? Di situlah sebetulnya masalahnya. Kamu terbiasa mengerjakannya sendiri dan terlalu melonggarkan anak-anak buah kamu. Isu-isu yang besar juga kamu tangani dan pecahkan sendiri tanpa melibatkan tim. Mereka memang senang bekerja dengan atasan seperti kamu, tapi ternyata setelah kamu pergi, mereka malah kesulitan karena ternyata tidak mendapat bekal yang cukup dari kamu.”

Gondrong pun terkejut sekaligus terpana mendengar perkataan itu. Ia diam saja, tidak tahu bagaimana harus menanggapi. Segala ilmu yang telah ia pelajari dan pengalaman yang ia dapat ternyata masih belum apa-apa. Baru kali ini ia merasa telah melakukan kesalahan perhitungan. Miscalculation perihal anak buah yang ternyata berdampak sama besarnya dengan miscalculation dalam hal angka.

“Eh tapi jangan salah sangka, Ndong. Saya bukannya mau menyalahkan kamu. Gaya kepemimpinan kan memang macam-macam. Ada yang otoriter, ada juga yang seperti kamu. Saya tidak mempermasalahkan kesulitan ini, toh ini bisa terjadi pada siapa saja. Seiring waktu, mantan anak-anak buahmu akan belajar dari pengalaman mereka.”

“Toh dari situ kamu bisa belajar, dong. Besi yang ditempa dengan keras akan menghasilkan pedang yang bagus dan tajam, tapi jika menempanya kurang keras, ya gak akan jadi apa-apa. Kamu bisa sebagus ini karena dulu kamu diajari oleh senior-senior yang galak, mungkin ini yang kamu belum sadari. Nah sekarang kan kamu sudah bekerja di tempat yang baru dan punya anak buah, maka tempalah anak-anak buah kamu dengan tepat, dan sesuaikan dengan ekspektasi kamu terhadap mereka. Kamu sudah nonton film Whiplash? Kira-kira begitulah dunia yang kita hadapi. Seorang Terence Flecher pun memiliki keyakinan bahwa the next Charlie Parker won’t get discouraged. Untuk membentuk karakter yang hebat, tentu dibutuhkan tempaan yang juga kuat, walaupun boleh jadi tidak semua orang bisa memahaminya.”

Gondrong terdiam cukup lama, lalu ia kemudian merespon “Benar juga sih kalau dipikir-pikir, Pak. Mereka yang dulunya menjadi anak buah saya sampai sekarang masih suka bercerita kepada saya. Mereka menceritakan betapa enaknya bekerja di bawah tim yang saya pimpin, berbeda dengan yang sekarang. Tadinya saya pikir, itu adalah sebuah tanda keberhasilan, tapi ternyata saya salah ya.. Tapi, Pak, saya punya satu pertanyaan lagi.. Bagaimana jika anak-anak buah saya malah berbalik membenci saya akibat sikap dan tuntutan yang saya berikan. Dan bukannya malah pekerjaan saya selesai, malahan jadi berantakan karena mereka tidak mau mengerjakan?”

“Memang tidak ada jalan yang mudah. Jika kamu ingin men-develop orang lain, hanya itu yang bisa dilakukan. Kecuali jika kamu hanya ingin memelihara para deadwood dan rela mendengarkan keluh kesah mereka terhadap segala sesuatu yang bahkan tidak perlu dikeluhkan. Dan bukannya saya memintamu untuk berhenti jadi orang baik, tapi kamu juga perlu memikirkan bahwa segala kelonggaran dan pemakluman yang telah kamu berikan kepada anak-anak buah kamu, akan berimbas pula pada atasan-atasan mereka yang menggantikan kamu. Mereka akan terus membanding-bandingkannya dengan kamu. Tentu saja hal ini akan membebani mereka. Saya bukannya menyarankan kamu untuk berubah dengan drastis, karena itu pasti sulit. Kamu hanya perlu untuk sesekali menjadi lebih keras, dan tentunya pada tempatnya. Tidak perlu memaki, misalnya. Cukup meninggikan sedikit nada suara dan memasang mimik wajah yang lebih serius dari biasanya, pasti mereka akan mengerti. Karena pada dasarnya, bawahan itu akan menuruti atasan, kok.”

“Tapi pak.. Benar-benar pertanyaan terakhir nih.. Kan memang tidak semua orang bisa di-develop. Dan tidak semua orang juga yang mau di-develop, bukan?”

“Ya, kamu benar. Tidak semua orang memiliki ambisi, sebagian hanya ingin ikut arus dan selamat. Itu juga tidak sepenuhnya salah. Hidup memang tidak sekadar di kantor, bukan?”

“Saya mengerti, Pak. Terima kasih atas waktunya. Terima kasih atas percakapan telepon ini.”

“Sama-sama. Oke, saya mau meeting dulu nih. Sampai ketemu lagi ya!”

Jumat, 06 Maret 2015

Terbulity dan Martabucks

Lima sahabat duduk dalam sebuah rumah sederhana di kota Surabaya. Mereka memiliki kesamaan dalam selera kuliner, yaitu sama-sama penggemar martabak. Untuk mewadahi hobi ini, mereka berembuk untuk membuat gerai martabak. Ini adalah pembicaraan yang sudah puluhan kali dilakukan. Setelah sedari dulu mereka hanya berkumpul untuk bermain atau bersenda gurau, kini mereka berniat melakukan sesuatu yang lebih serius. Bukan tanpa resiko, karena jangankan pertemanan, ikatan keluarga saja bisa bubar jalan jika terjadi persengketaan dalam hal duit. Tapi mereka sudah berkomitmen, apapun yang terjadi nantinya, persahabatan akan tetap dijaga.

Semuanya telah disiapkan, tinggal eksekusi.

Mereka langsung membuka dua toko, di Surabaya sebagai induk, dan di Jakarta sebagai cabang. Toko ini diberi nama Terbulity, alias Terang bulan dengan quality, atau kwaliteit, atau kualitas. Dua dari mereka hijrah ke Jakarta untuk membuka gerai di ibukota. Sementara tiga lainnya mengelola cabang Surabaya.

Bisnis berjalan lancar. Tidak bombastis memang, tapi tidak juga terlalu sepi. Martabak yang mereka jual memang menggunakan bahan-bahan dengan mutu terbaik terbaik dan tentu saja berukuran besar, menjadikan pengalaman tersendiri dalam memakannya. 

Suatu hari di cabang Jakarta datanglah seorang pebisnis, sebut saja dia Pak Teddy. Pak Teddy ini terkesan dengan rasa martabak mereka.

Pak Teddy lalu mengutarakan keinginan untuk jadi pelanggan tetap dan berkomitmen membeli dalam jumlah besar untuk penyediaan snack di kantornya. Tapi dia juga meminta Terbulity membuat varian baru dan ukuran-ukuran yang lebih kecil. 

Sementara itu, gerai Terbulity di Surabaya berjalan seperti biasa. Dari usaha ini, mereka menjalin keakraban dengan pelanggan-pelanggan. Ada lima orang pelanggan tetap ini. Mereka datang dari berbagai profesi. Ada pegawai swasta, pemilik toko kelontong, penerjemah, pemandu wisata, hingga pegawai negeri.

Lima sekawan ini seketika menjadi akrab satu sama lain saking seringnya mereka membeli martabak nikmat Terbulity. Mereka terkesan dengan prinsip gerai martabak baru ini yang terbuat dari bahan-bahan berkualitas berukuran besar namun harganya lebih murah. Mereka tipe orang yang amat memerhatikan dua hal ini. Karena rasa adalah segalanya dan size does matter bigger is better.

Lama kelamaan, lima sekawan ini sudah diajarkan cara mengaduk, membentuk dan membalik-balik adonan di kuali, memotong dengan rapi, hingga mengemas dengan menarik. Bahkan resep dalam adonan pun mereka kini sudah tahu. Dengan begitu, terang saja mereka merasa sudah ikut memiliki toko. Lima sekawan ini pun mulai dilibatkan dalam pengambilan keputusan, strategi pemasaran, dan lain-lain.

Ketika toko Jakarta menjual martabak dengan ukuran lebih kecil dan rasa yang lebih variatif -yang banyak menghasilkan laba- mereka ikut bersuara. Mereka tidak setuju karena toko ini jadi berubah haluan sebagai pencari untung semata.

Perbedaan pendapat mewarnai jalannya toko Surabaya dan Jakarta. Toko Jakarta pun meradang, merasa dilangkahi dan tidak dianggap. Terlebih, memasukkan 'orang luar' tanpa persetujuan adalah sebuah bentuk pelanggaran komitmen.

Pada akhirnya, mereka pecah kongsi karena tidak kunjung menemukan pemecahan masalah. Gerai Jakarta pun menjual martabak dengan varian lebih banyak, sementara gerai Surabaya tetap menjual martabak berkualitas tinggi dan berukuran besar seperti sebelumnya. Mereka yang di Jakarta kemudian mengganti nama gerai Terbulity mereka dengan nama yang lebih mengena untuk orang-orang ibukta: Martabucks.


Sekarang, baik Terbulity maupun Martabucks berjalan sendiri-sendiri.