Jumat, 19 Juni 2015

Mengenang Ramadan Masa Kanak-kanak

Bulan Ramadan, selain merupakan bulan yang penuh berkah dan ampunan, juga dimaksudkan sebagai bulan untuk meredam. Bagi saya, bulan yang juga sering disebut bulan puasa ini memang sejatinya diperuntukkan untuk sedikit mengerem aktivitas kita setelah sebelas bulan lamanya beraktivitas. Banyak lembaga pendidikan mengurangi jam belajar, dan banyak perusahaan mengurangi jam kerja. Selain memberi kesempatan orang untuk lebih khusyuk dalam beribadah, juga memberi kesempatan untuk berkumpul lebih sering dengan keluarga. Pendeknya, banyak kegiatan duniawi yang dikurangi frekuensinya demi memanfaatkan momen penuh berkah ini.

Namun bagi anak-anak, bulan Ramadan bukanlah sebuah momen untuk meredam dan bercermin. Memangnya apa yang mau diredam dan direfleksikan dari masa kanak-kanak yang penuh sukacita? Apa pula yang perlu dipikirkan masak-masak oleh anak kecil yang belum memiliki tanggung jawab seberat orang dewasa?

Maka tidak heran jika bulan Ramadan, dengan segala nilai spiritual yang ada, akan selalu disambut dengan keriangan oleh anak-anak. Bagi anak-anak, bulan Ramadan bukanlah soal bagaimana mengkhatamkan bacaan Al Quran, shalat tarawih sebulan penuh, itikaf pada sepuluh malam terakhir, atau bagaimana cara berlomba-lomba dalam mengeluarkan amal. Bagi anak-anak, bulan Ramadan menjadi semacam kulminasi kemunculan tradisi-tradisi yang menyenangkan, yang hanya terjadi setahun sekali.

Dimulai dari malam pertama tarawih, anak-anak sudah riuh memenuhi masjid, mushalla atau surau. Bermodal kain sarung, mereka bercanda dengan teman-teman. Kain sarung digulung, lalu diayunkan dengan gerakan seperti back-hand ala petenis dunia, yang kemudian menghasilkan sensasi pedas pada kulit temannya yang terkena sabetan. Tidak mau kalah, sang korban membentuk kain sarungnya hingga menyerupai gada rantai, semacam senjata yang populer pada abad pertengahan. Ia balas memukulkan bola gulung kain sarungnya pada kaki temannya, hingga temannya itu menjerit kesakitan. Acara berantem-beranteman ini usai setelah salah seorang bapak-bapak melerai mereka, sambil menjewer atau menyentil kuping tentunya.

Sepanjang salat tarawih, anak-anak ini pun masih bercanda. Mengelitiki pinggang, menginjak kaki, hingga berebut tempat sujud membuat ibadah ini jauh dari khusyuk. Selepas salat, mereka langsung ngibrit sebelum orang-orang dewasa sempat memarahi, tapi kemudian tersadar harus kembali lagi ke mushalla karena harus meminta penceramah untuk menandatangani agenda ramadan sebagai tugas dari sekolah.

Sepulang dari masjid, anak-anak ini pulang ke rumah masing-masing untuk makan malam, lalu kembali keluar rumah untuk berkumpul di sekitaran masjid. Apa yang dilakukan? Pilihannya bermacam-macam, dari perang petasan dengan anak kampung sebelah, nimbrung permainan karambol orang dewasa, hingga bermain sepak bola jika lampu lapangan serba guna dinyalakan. 

Selepas bermain, mereka beristirahat sejenak. Minuman bersoda, es teh manis atau es temulawak menjadi pilihan. Minuman yang akan dibatasi konsumsinya jika berada di rumah. Sungguh nikmat air dingin kaya gula ini mengalir ke tubuh-tubuh yang belum saatnya memikirkan selembar kertas berisi hasil medical check up.

Tibalah pada saat yang dinantikan: membuat suara gaduh untuk membangunkan orang sahur. Kaleng, botol, galon atau apa saja digunakan untuk membuat bising. Begitu riuh, berisik dan gaduh. Namun begitu khas. Mereka lalu pulang ke rumah masing-masing untuk makan sahur, menunggu hingga adzan subuh sambil terkantuk-kantuk, lalu tertidur hingga siang hari jika sedang libur sekolah.

Sore harinya, kegiatan sudah dimulai kembali. Mengumpulkan makanan dari donatur untuk berbuka di masjid, tadarusan, lalu kembali bermain sepak bola di tanah lapang hingga adzan maghrib berkumandang. Lalu mereka berbuka puasa bersama dengan riang gembira. Makan dengan lahap hingga lupa diri, hingga perut sakit dan orang-orang dewasa mulai menceramahi “Tuh kan, udah dibilangin kalo makan buka puasa itu jangan rakus dan terburu-buru!” Minimal, kita pernah sekali mengalami kejadian semacam ini.

Setelah itu mereka kembali tarawih, lalu begitu terus sampai 30 hari. Sampai mereka bosan sendiri dan menanti-nantikan hari kemenangan, yaitu hari Idul Fitri. Saat di mana mereka tidak perlu lagi menahan lapar dan haus di siang hari, dan saat di mana mereka mendapatkan duit lebaran dari om, tante, kakek, nenek atau orang kampung terpandang yang melakukan open house. Juga menagih uang hadiah puasa kepada orang tua karena berhasil menamatkan puasa tanpa sekalipun batal. 

Siklus ini akan berlangsung bertahun-tahun sampai usainya masa kanak-kanak, sampai pada suatu masa di mana persoalan-persoalan lain mulai menghinggapi, hingga kemudian mereka menemukan makna ramadan yang lebih dalam lagi seiring dengan ilmu yang semakin bertambah.

Kini, mereka telah berada pada usia 30an. Sedikit lagi memasuki midlife crisis. Zaman juga telah berubah. Mereka kini lebih memilih dibangunkan sahur oleh alarm pada ponsel pintar daripada suara anak-anak. Mereka kini juga lebih banyak memberi, daripada menerima. Betapa zaman telah berubah. Mereka juga tidak bisa bersantai lagi selama ramadan. Pekerjaan tetaplah pekerjaan, para atasan tidak akan peduli, toh kegiatan usaha tetap berjalan bahkan hingga malam takbiran. Deadline tetap saja deadline.

Lalu suatu ketika, tibalah mereka di mushalla tempat mereka biasa melakukan ibadah salat tarawih seperti saat mereka kecil. Mereka melihat kembali sekelompok anak kecil yang berisik dan membuat gaduh. Lalu pada malam takbiran, mereka kembali melihat anak-anak kecil yang sama bergantian menabuh bedug dan meneriakkan kalimat takbir tanpa lelah, sembari membagi-bagikan zakat fitrah berupa beras dan kebutuhan pokok kepada para mustahiq, atau golongan yang berhak menerima zakat. Di lain kesempatan, mereka membaca berita tentang keributan yang ditimbulkan anak-anak muda zaman sekarang pada acara Sahur On The Road (SOTR). Betapa bodohnya anak-anak kecil itu.

Kali ini, mereka hanya tersenyum, sembari mengingat bahwa hal-hal inilah yang dilakukan sewaktu kanak-kanak dulu. Berbeda dengan anak sekarang yang sudah serampangan mengendarai sepeda motor walau masih di bawah umur. Generasi 90an seperti mereka baru mengendarai motor saat mereka sudah mampu membelinya dengan gaji sendiri. Kembali ke tema sentral tulisan, bahwa bagaimanapun, dalam episode Ramadan yang datang setiap tahunnya, masa ramadan kanak-kanak tetaplah yang teramat berkesan untuk dilupakan. 

Senin, 15 Juni 2015

Teman Nongkrong Yang Asik

Interaksi dengan sesama manusia, suka atau tidak, adalah kebutuhan. Manusia tetaplah membutuhkan manusia lain, sekalipun ia kaya raya, sukses besar, ataupun melarat. Dan bentuk interaksi paling sederhana adalah saling berbicara, atau mengobrol. Mengobrol tentu tidak sekadar mengobrol, karena biasanya dilakukan sembari menyantap kudapan, menyeruput kopi, menyesap teh, merokok atau malah menenggak bir dingin. Apapun hidangannya, di manapun tempatnya, kegiatan seperti ini lazim disebut nongkrong.

Kecuali anda seorang antisosial, maka anda pasti pernah nongkrong, entah di warung kopi dekat rumah atau kafe sejuk dengan ambience yang tidak malu-maluin untuk difoto. Nongkrong ini, sayangnya bersifat eksklusif. Anda tentu tidak mau membuang-buang waktu untuk nongkrong bersama orang-orang yang tidak anda inginkan, bukan? Dan karena nongkrong identik dengan mengobrol, maka teman nongkrong adalah teman yang enak diajak mengobrol. Seperti apa orang itu? Saya sih punya kriteria sendiri.

Wawasan Luas
Sebuah ide besar kadang datang dari kegiatan sederhana seperti ini. Untuk mendapatkan ide tersebut, tidak jarang bahwa teman nongkrong yang asik ini adalah sosok yang berwawasan luas, atau setidaknya mahir di satu bidang. Dengan wawasan luas inilah, ia dapat memberikan pengetahuan yang tidak nanggung sehingga bisa mencerahkan kita yang hanya mendengar. 

Tapi, bukan berarti juga saya senang dengan seorang Mr. Know It All Wanna Be. Seseorang yang selalu terlihat ingin menonjol dalam setiap percakapan, selalu ingin dibilang paling tahu segalanya. Ketika anda berbicara musik jazz, ia langsung nimbrung seolah paling paham, begitu pula ketika anda beralih ke topik sejarah. Orang ini selalu sibuk menyandingkan pengetahuannya dengan lawan bicara. 

Anda tidak perlu berusaha keras bersikap seperti itu jika anda bukan seorang polymath seperti halnya Leonardo Da Vinci, Galileo Galilei, Confucius, Benjamin Franklin ataupun Bruce Dickinson.

Tidak Arogan
Seorang yang arogan bisa saja sebegitu membanggakan profesinya, seakan profesi lain tiada arti dan tanpa keahlian profesionalnya, maka tatanan masyarakat akan runtuh. Orang seperti ini menggunakan keahlian profesionalnya ataupun status pergaulannya sebagai standar untuk menilai orang lain.

Polisi arogan: “Elo semua gak bakal hidup aman kalo gak ada polisi kaya gue!”
Dokter arogan: “Kalo gak ada dokter kaya gue, siapa yang bakal ngobatin penyakit lo?”
Ekonom arogan: "Kalo bukan karena penelitian-penelitian gue, ekonomi bangsa ini bakal runtuh!"
Editor arogan: "Gak nyangka direktur perusahaan sekaliber dia masih gagap EYD saat menulis."
Anak mobil arogan: "Penampilannya memang keren, tapi lihat dong mobilnya, dekil dan gak terawat."

Memiliki keahlian tinggi dan pencapaian eksepsional di bidang yang digeluti memang membanggakan, tapi cobalah untuk sadar bahwa setiap orang memang terlahir memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Setiap orang juga telah memilih bidang keahliannya sendiri dan tidak mungkin untuk menjadi sempurna di semua bidang.

Dan jangan lupa, bagaimanapun anda merasa hebat, sesungguhnya anda tidak sehebat itu, kok. No matter how good you are, there are always someone better.

Berpikiran Terbuka
Hanya karena seseorang tidak pernah selingkuh (mungkin karena gak laku), bukan berarti dia berhak memberi label buruk kepada temannya yang berselingkuh karena terus menerus digoda teman perempuannya. Juga hanya karena seseorang memiliki pandangan politik berbeda, bukan berarti kita harus memaksakan pandangan politik kita.

Seseorang punya jalan cerita dan lika-liku hidup masing-masing yang menyebabkannya memilih suatu jalan, dan kita sama sekali tidak berhak menghakiminya karena cerita hidup seseorang memang berbeda-beda. Manusia memang terlalu terbiasa untuk melihat segala sesuatu dari luarnya saja, padahal apa yang dia lihat sama sekali tidak merepresentasikan yang terjadi. 

Lagipula, siapalah kita ini sampai merasa berhak untuk menilai hidup orang lain? 

Sikap Positif
Sangat menyenangkan nongkrong bersama orang-orang yang positif. Mereka tidak suka mengeluh, mereka memandang hidup dengan lebih optimis. Oke, sesekali mengeluh tentu tidak mengapa, tapi mbok ya jangan setiap nongkrong obrolannya keluhan melulu. Mengeluhkan bos yang gak cocok dengan kita, gaji yang kurang, istri yang galak, mertua yang bawel, anak yang bandel, perut yang menggendut, mobil yang butut, sampai rumah yang sempit. Tidak jarang, orang seperti ini sering membicarakan betapa enaknya hidup orang lain, hingga lupa mensyukuri apa yang sudah didapat. Rumput tetangga memang selalu terlihat lebih hijau.

Mengeluh tidak akan menyelesaikan masalah hingga anda sendiri yang bergerak untuk melakukan sesuatu. 

Dan ingatlah, betapapun anda menganggap hidup orang lain lebih baik, banyak orang tidak beruntung di luar sana yang menginginkan hidup seperti yang anda punya.

Tidak Banyak Bergosip
Bergosip, bukan hanya kerjaan wanita. Banyak juga pria yang gemar bergosip. Awalnya hanya ngomongin orang secara pekerjaan, lama kelamaan menjadi personal. Lama kelamaan sinis. Akhirnya, di matanya, segala sesuatu tentang orang yang digosipin itu menjadi jelek, dan dia ingin orang lain berpendapat sama. Memang bergosip kadang menyenangkan, tapi tidak lebih untuk lucu-lucuan belaka. Kalau sudah sampai tahap selalu menjelek-jelekkan, apalagi menghina dan menjatuhkan kredibilitas, tentu saja keterlaluan.

Small people talk about other people. Kita tidak akan terlihat baik dengan cara menjelekkan orang lain.

Rendah Hati
"It's hard to be humble... When we perfect in every way," begitulah kata orang, menggambarkan betapa sulitnya bersikap rendah hati. Terlebih pada era sosial media, di mana anda akan terbiasa memberitakan kepada dunia tentang apa yang anda lakukan, di restoran mana anda makan malam, di kafe mana anda ngopi, di hotel mana anda menginap, di kota mana anda berlibur, mobil apa yang anda kendarai, begitu nyamannya rumah besar anda, betapa pintarnya si kecil, juga seberapa kerennya koleksi batu akik anda.

Memiliki semua itu memang menyenangkan, tapi tentu saja anda tidak perlu memberitahu semua orang. Memperlihatkan satu-dua koleksi barang mungkin akan terlihat wajar sebatas aktualisasi diri, tapi perlukah anda memamerkan setiap jengkal isi rumah, semua kegiatan dan kumpulan foto tentang hebatnya si buah hati?

Itu tentang bersikap terhadap diri sendiri, lalu bagaimana bersikap terhadap orang lain? Jika seseorang sedang berbicara tentang pengalamannya, tanggapilah dengan positif. Misalnya si A sedang bercerita pengalaman liburannya ke Singapura, tidak perlu kita menyombongkan diri bercerita pengalaman liburan kita ke Paris. Walaupun kita memang pernah ke Paris, tidak perlu bercerita secara sukarela kecuali ketika orang lain bertanya.

Atau, jika teman kita bercerita tentang anaknya yang sudah bisa sholat, tidak perlu membandingkan dengan anak anda, sekalipun anak anda sudah hapal Al Quran.

Kita tidak perlu menunjukkan superioritas atas orang lain hanya untuk dibilang hebat. 

Selera Humor Yang Baik
Pertemanan tanpa cela-celaan tentu saja hambar. Begitu pula acara nongkrong tanpa menertawakan teman sendiri atau diri sendiri, tentu saja akan terlalu serius seperti halnya wawancara kerja atau rapat direksi. Alangkah menyenangkannya kita bertemu teman yang masih bisa diajak bercanda dan sedikit bersenda gurau, sekalipun teman kita itu sudah memiliki jabatan dan kedudukan yang tinggi.

Kita tidak perlu terlalu menjaga wibawa seperti ketika kita berada di kantor saat sedang nongkrong santai bersama teman. Kita juga tidak bisa berlaku seperti direktur ketika kita berada di depan anak-anak, karena anak-anak kita hanya ingin bersama sosok seorang ayah, bukan sosok direktur.

Karena hidup memang soal berakting dan menempatkan diri. 

Tidak Mendewakan Uang dan Tidak Pelit
Tujuan utama nongkrong adalah bertemu dan bersilaturahmi dengan teman, bukan semata mencari tambahan penghasilan. Menjadi sosok matrealistis di zaman sekarang memang tidak salah karena semua memang butuh uang, tapi mendasari segala tindakan dengan uang juga tidak baik.

"Mau minta tolong sama gue? Wani piro?
"Gue salut sama si A, biar orangnya culas, tapi uangnya banyak."

Orang seperti ini jelas akan melakukan sesuatu dengan mengharap imbalan, dan menilai seseorang dari banyaknya uang yang dimiliki. Cenderung menghalalkan segala cara demi uang. Peduli apa soal moral.

Kalo mau cepet kaya, ya gak usah nongkrong lah, sering-sering aja nonton video motivasi hadiah dari buku how to be rich for dummies yang elo pinjam dari teman. 

Kan nongkrong juga butuh duit, masak sih minta ditraktir melulu? Irit atau pelit?

Tidak Keberatan Berbicara Hal Remeh Temeh
Kadang kita perlu membicarakan hal-hal yang lebih ringan dan menyenangkan. Kita yang sudah sehari-hari bertarung dengan deadline dan target, tentu saja malas dong jika ter(di)paksa terus menerus mendengarkan obrolan berbobot macam politik, hukum ataupun ekonomi ketika sedang bersantai. 

Why so serious?

Kamis, 21 Mei 2015

Cinta Pada Pendengaran Pertama

Saya punya kebiasaan mendengarkan lagu-lagu di situs Youtube. Mendengarkan lagu di situs ini memberikan pengalaman tersendiri. Selain bisa mendengar versi aslinya, kita juga berkesempatan mengetahui versi lain dari lagu tersebut, baik itu versi live, versi cover, dan lain-lain. Dalam kanal Youtube juga, kita bisa melihat dan mendengar pilihan lagu lain yang direkomendasikan. Ketika saya iseng meng-klik tautan itu, terdengarlah sebuah musik yang terasa asing menarik perhatian. Terdengar santai, tidak terlalu rumit tapi juga tidak murahan. Musiknya tidak seperti yang biasa saya dengar, tapi membuat saya penasaran untuk mendengarkannya sampai habis.

Telinga saya mengatakan bahwa lagu ini penuh kejutan. Notasi dan ketukannya membangun suasana berbeda, pola berbeda, yang pada akhirnya memperkenalkan hal baru kepada otak, dan langsung disambut oleh hati. Harry Beckwith, penulis terkenal yang merilis buku best seller: Marketing and Buyer Psychology mengamini hal ini dengan mengungkapkan bahwa otak manusia memang menyukai kejutan. Meski mudah terjebak dalam comfort zone, manusia juga tidak selalu menyukai sesuatu yang terlalu mudah ditebak.

Saya lantas berlagak seperti Sir Tom Jones, juri dari acara kompetisi musik ternama, The Voice edisi United Kingdom (Inggris). Jika juri lain menekan tombol 'I want you' dengan cepat pada saat blind audition, Sir Tom Jones dengan kalem menunggu hingga saat-saat terakhir sebelum akhirnya memutuskan untuk menekan atau tidak menekan tombol. Dia tidak ikut-ikutan juri lain, tidak terpengaruh keriuhan penonton, hanya percaya pada telinganya -karena dalam format acara The Voice, juri memang hanya mendengar suara, namun tidak melihat sosok sang penyanyi. 

"I need to feel that what I'm hearing is an authentic expression of the person, not just a string of phrases that are copied from others," ujarnya ketika diwawancarai perihal apa yang membuatnya menekan tombol 'I want you'. "When I hit the button, I mean it," tutupnya.

Tapi, khidmatnya saya mendengarkan lagu sampai akhir bukanlah untuk memencet tombol, atau memutuskan apakah lagu ini enak atau tidak. Saya sudah tahu lagu ini enak, dan memutuskan untuk menikmati cinta pada pendengaran pertama akan lagu ini. 


Lagu yang saya maksud berjudul You Make Loving Fun karya sebuah band lawas asal Inggris bernama Fleetwood Mac.

Cinta pada pendengaran pertama? Love at first hearing. Ya benar. Perbedaannya dengan kalimat mainstream cinta pada pandangan pertama atau love at first sight hanya terletak pada indra yang digunakan. Telinga dengan mata.

Saya bukan tipe yang bisa mencintai orang pada pandangan pertama. Kalau sekadar tertarik, mungkin saja.
Sebaliknya, saya bisa menyukai sebuah lagu pada pendengaran pertama. Hanya dengan mendengarkan intro-nya, saya bisa langsung memutuskan bahwa lagu ini akan menjadi favorit, yang akan memasuki playlist dan akan menjadi teman keseharian. 

Dalam beberapa hal, saya berpendapat telinga lebih dapat diandalkan ketimbang mata. Telinga adalah medium yang jujur dan bebas nilai. Segalanya bisa masuk tanpa tersaring. Berbeda dengan mata, yang lebih mudah tertipu penampakan lahiriah lalu membentuk persepsi yang tentu saja tidak bisa terhindar dari unsur subjektivitas. 


Dangkalnya pandangan mata -meski tidak selalu- tidak jarang membuat kita kehilangan kesempatan untuk mengapresiasi hal positif, dan lebih buruk lagi, salah dalam menilai.

Senin, 09 Maret 2015

My Nice Boss

Ini adalah cerita fiksi tentang seorang pemuda pekerja kantoran, sebut saja dia Si Gondrong. Rambutnya memang tidak gondrong lagi, karena kantor jelas tidak mengizinkannya. Tapi karena ia memanjangkan rambutnya semasa kuliah, nama ‘Gondrong’ pun sudah melekat, sekalipun ia tidak lagi gondrong.

Dengan cukuran rapi dan klimis, Gondrong kini menikmati “meja mie ayam” miliknya. Disebut meja mie ayam, karena memang tidak ada sekat seperti kubikal layaknya pekerja lain. Sebagai auditor, ia lebih banyak bekerja di kantor klien dan amat jarang di kantor sendiri. Untuk itulah, kantor hanya menyediakan meja besar dengan banyak kursi untuk para junior auditor seperti dirinya. Tidak ada tempat duduk dan nomor ekstension yang tetap, karena siapa yang datang duluan, dialah yang berhak menduduki tempatnya.

Gondrong memiliki senior-senior yang dapat dikategorikan galak dan demanding. Mbak Martina misalnya, dengan pengalamannya yang sudah lima tahun, ia jelas sudah tahu seluk beluk pembuatan laporan untuk klien-kliennya. Ketika berurusan dengan anak buahnya, ia bisa bersikap bengis seperti seorang sosiopat yang tidak memiliki empati. Tidak peduli anak buahnya sedang sakit, ada urusan keluarga, tidak peduli siang atau malam, awal pekan atau akhir pekan, mereka harus siap sedia jika dibutuhkan.

Gondrong tidak pernah sampai membawa segala tindakan senior-seniornya ke hati. Ya, mungkin karena dia cowok juga. Dia sadar bahwa senior-senior itu menjadi sedemikian demanding karena mereka pun dituntut hal yang sama oleh para Manager-nya. Dan para manager juga dituntut hal yang sama pula oleh para Partner. Dan seterusnya. Sebagai penghuni terbawah dalam ‘rantai makanan’, Gondrong pun merasa tidak ada gunanya jika ia melawan.

Kita semua hanya memainkan peran, begitu pikirnya. Di balik tampang-tampang lelah dan tertekan semua yang bekerja di gedung ini, mungkin saja mereka sama sepertinya yang juga senang bermain. Senang menghabiskan akhir pekan sambil nongkrong bersama teman-teman seperti yang kadang dilakukannya, senang berfoto selfie dan ingin dipuji seperti kakak perempuannya, senang mengoleksi batu akik seperti pamannya, dan lain-lain. Pastilah ada aspek manusia yang sebenarnya tersembunyi di balik topeng-topeng itu.

Walaupun begitu, Gondrong tetaplah ingin melakukan sesuatu yang berbeda. Ketika ia dipromosi menjadi senior, ia bertekad untuk menjadi sosok senior yang lebih berempati, lebih bersahabat. Pokoknya lebih baik ketimbang senior-senior yang selama ini memperlakukannya.

Promosi
Waktu promosi pun tiba. Gondrong telah menjadi seorang auditor senior, posisi yang menuntutnya untuk bertanggung jawab atas segala kegiatan fieldwork yang dilakukan timnya. Mewawancarai klien, meminta dan mengumpulkan data, hingga membuat draft report. Posisi yang juga membuatnya memiliki anak buah.

Gondrong membuktikan janjinya. Ia adalah sosok senior kesayangan para junior. Sosok senior yang baik, berperasaan, berempati dan malah tidak segan untuk melakukan porsi pekerjaan junior jika diperlukan. Para junior pun berebut untuk menjadi anggota timnya. Ia juga tidak pelit dan tidak hitungan soal uang. Traktir-mentraktir, mengantar dan menjemput anak buahnya bukanlah hal luar biasa baginya.

Saya berhasil, begitu pikirnya. Pekerjaan beres, anggota tim menyukainya walaupun ia jauh lebih capek karena harus sering meng-cover pekerjaan anak-anak buahnya. Karir Gondrong pun terbilang cepat. Dalam waktu dua tahun saja, ia sudah dipromosi ke level Assistant Manager, atau satu level lagi di bawah Manager, posisi middle ladder yang tentu saja menjadi impian banyak orang.

Gondrong merasa terlalu lelah bekerja sebagai auditor. Hanya beberapa bulan sebelum promosi, ia mengundurkan diri untuk bergabung dengan perusahaan lain di luar industri auditor. Ia merasa sudah cukup, dan anak-anak buahnya juga telah ia persiapkan dengan baik. Begitu pikirnya.

Tapi ternyata ia tidak sepenuhnya benar. Beberapa bulan setelah kepindahannya, terjadi sedikit kekacauan dalam pengerjaan laporan klien-klien yang ia pegang dulu. Anak-anak buah yang dipikirnya sudah mampu bekerja secara mandiri, ternyata tidak mampu menyelesaikan laporan sesuai tenggat waktu yang disepakati. Pak Joko, atasannya dulu, menghubunginya.

“Ndrong, saya cuma mau kasih tau ke kamu kalo pekerjaan salah satu klien kamu yang dulu itu, kini bermasalah. Tim kami tidak mampu menyelesaikan laporan dengan tepat waktu.”

“Waduh, saya turut sedih nih, Pak. Kira-kira, kenapa ya bisa begitu? Padahal sebelumnya tidak ada masalah.”

“Kamu tahu? Di situlah sebetulnya masalahnya. Kamu terbiasa mengerjakannya sendiri dan terlalu melonggarkan anak-anak buah kamu. Isu-isu yang besar juga kamu tangani dan pecahkan sendiri tanpa melibatkan tim. Mereka memang senang bekerja dengan atasan seperti kamu, tapi ternyata setelah kamu pergi, mereka malah kesulitan karena ternyata tidak mendapat bekal yang cukup dari kamu.”

Gondrong pun terkejut sekaligus terpana mendengar perkataan itu. Ia diam saja, tidak tahu bagaimana harus menanggapi. Segala ilmu yang telah ia pelajari dan pengalaman yang ia dapat ternyata masih belum apa-apa. Baru kali ini ia merasa telah melakukan kesalahan perhitungan. Miscalculation perihal anak buah yang ternyata berdampak sama besarnya dengan miscalculation dalam hal angka.

“Eh tapi jangan salah sangka, Ndong. Saya bukannya mau menyalahkan kamu. Gaya kepemimpinan kan memang macam-macam. Ada yang otoriter, ada juga yang seperti kamu. Saya tidak mempermasalahkan kesulitan ini, toh ini bisa terjadi pada siapa saja. Seiring waktu, mantan anak-anak buahmu akan belajar dari pengalaman mereka.”

“Toh dari situ kamu bisa belajar, dong. Besi yang ditempa dengan keras akan menghasilkan pedang yang bagus dan tajam, tapi jika menempanya kurang keras, ya gak akan jadi apa-apa. Kamu bisa sebagus ini karena dulu kamu diajari oleh senior-senior yang galak, mungkin ini yang kamu belum sadari. Nah sekarang kan kamu sudah bekerja di tempat yang baru dan punya anak buah, maka tempalah anak-anak buah kamu dengan tepat, dan sesuaikan dengan ekspektasi kamu terhadap mereka. Kamu sudah nonton film Whiplash? Kira-kira begitulah dunia yang kita hadapi. Seorang Terence Flecher pun memiliki keyakinan bahwa the next Charlie Parker won’t get discouraged. Untuk membentuk karakter yang hebat, tentu dibutuhkan tempaan yang juga kuat, walaupun boleh jadi tidak semua orang bisa memahaminya.”

Gondrong terdiam cukup lama, lalu ia kemudian merespon “Benar juga sih kalau dipikir-pikir, Pak. Mereka yang dulunya menjadi anak buah saya sampai sekarang masih suka bercerita kepada saya. Mereka menceritakan betapa enaknya bekerja di bawah tim yang saya pimpin, berbeda dengan yang sekarang. Tadinya saya pikir, itu adalah sebuah tanda keberhasilan, tapi ternyata saya salah ya.. Tapi, Pak, saya punya satu pertanyaan lagi.. Bagaimana jika anak-anak buah saya malah berbalik membenci saya akibat sikap dan tuntutan yang saya berikan. Dan bukannya malah pekerjaan saya selesai, malahan jadi berantakan karena mereka tidak mau mengerjakan?”

“Memang tidak ada jalan yang mudah. Jika kamu ingin men-develop orang lain, hanya itu yang bisa dilakukan. Kecuali jika kamu hanya ingin memelihara para deadwood dan rela mendengarkan keluh kesah mereka terhadap segala sesuatu yang bahkan tidak perlu dikeluhkan. Dan bukannya saya memintamu untuk berhenti jadi orang baik, tapi kamu juga perlu memikirkan bahwa segala kelonggaran dan pemakluman yang telah kamu berikan kepada anak-anak buah kamu, akan berimbas pula pada atasan-atasan mereka yang menggantikan kamu. Mereka akan terus membanding-bandingkannya dengan kamu. Tentu saja hal ini akan membebani mereka. Saya bukannya menyarankan kamu untuk berubah dengan drastis, karena itu pasti sulit. Kamu hanya perlu untuk sesekali menjadi lebih keras, dan tentunya pada tempatnya. Tidak perlu memaki, misalnya. Cukup meninggikan sedikit nada suara dan memasang mimik wajah yang lebih serius dari biasanya, pasti mereka akan mengerti. Karena pada dasarnya, bawahan itu akan menuruti atasan, kok.”

“Tapi pak.. Benar-benar pertanyaan terakhir nih.. Kan memang tidak semua orang bisa di-develop. Dan tidak semua orang juga yang mau di-develop, bukan?”

“Ya, kamu benar. Tidak semua orang memiliki ambisi, sebagian hanya ingin ikut arus dan selamat. Itu juga tidak sepenuhnya salah. Hidup memang tidak sekadar di kantor, bukan?”

“Saya mengerti, Pak. Terima kasih atas waktunya. Terima kasih atas percakapan telepon ini.”

“Sama-sama. Oke, saya mau meeting dulu nih. Sampai ketemu lagi ya!”

Jumat, 06 Maret 2015

Terbulity dan Martabucks

Lima sahabat duduk dalam sebuah rumah sederhana di kota Surabaya. Mereka memiliki kesamaan dalam selera kuliner, yaitu sama-sama penggemar martabak. Untuk mewadahi hobi ini, mereka berembuk untuk membuat gerai martabak. Ini adalah pembicaraan yang sudah puluhan kali dilakukan. Setelah sedari dulu mereka hanya berkumpul untuk bermain atau bersenda gurau, kini mereka berniat melakukan sesuatu yang lebih serius. Bukan tanpa resiko, karena jangankan pertemanan, ikatan keluarga saja bisa bubar jalan jika terjadi persengketaan dalam hal duit. Tapi mereka sudah berkomitmen, apapun yang terjadi nantinya, persahabatan akan tetap dijaga.

Semuanya telah disiapkan, tinggal eksekusi.

Mereka langsung membuka dua toko, di Surabaya sebagai induk, dan di Jakarta sebagai cabang. Toko ini diberi nama Terbulity, alias Terang bulan dengan quality, atau kwaliteit, atau kualitas. Dua dari mereka hijrah ke Jakarta untuk membuka gerai di ibukota. Sementara tiga lainnya mengelola cabang Surabaya.

Bisnis berjalan lancar. Tidak bombastis memang, tapi tidak juga terlalu sepi. Martabak yang mereka jual memang menggunakan bahan-bahan dengan mutu terbaik terbaik dan tentu saja berukuran besar, menjadikan pengalaman tersendiri dalam memakannya. 

Suatu hari di cabang Jakarta datanglah seorang pebisnis, sebut saja dia Pak Teddy. Pak Teddy ini terkesan dengan rasa martabak mereka.

Pak Teddy lalu mengutarakan keinginan untuk jadi pelanggan tetap dan berkomitmen membeli dalam jumlah besar untuk penyediaan snack di kantornya. Tapi dia juga meminta Terbulity membuat varian baru dan ukuran-ukuran yang lebih kecil. 

Sementara itu, gerai Terbulity di Surabaya berjalan seperti biasa. Dari usaha ini, mereka menjalin keakraban dengan pelanggan-pelanggan. Ada lima orang pelanggan tetap ini. Mereka datang dari berbagai profesi. Ada pegawai swasta, pemilik toko kelontong, penerjemah, pemandu wisata, hingga pegawai negeri.

Lima sekawan ini seketika menjadi akrab satu sama lain saking seringnya mereka membeli martabak nikmat Terbulity. Mereka terkesan dengan prinsip gerai martabak baru ini yang terbuat dari bahan-bahan berkualitas berukuran besar namun harganya lebih murah. Mereka tipe orang yang amat memerhatikan dua hal ini. Karena rasa adalah segalanya dan size does matter bigger is better.

Lama kelamaan, lima sekawan ini sudah diajarkan cara mengaduk, membentuk dan membalik-balik adonan di kuali, memotong dengan rapi, hingga mengemas dengan menarik. Bahkan resep dalam adonan pun mereka kini sudah tahu. Dengan begitu, terang saja mereka merasa sudah ikut memiliki toko. Lima sekawan ini pun mulai dilibatkan dalam pengambilan keputusan, strategi pemasaran, dan lain-lain.

Ketika toko Jakarta menjual martabak dengan ukuran lebih kecil dan rasa yang lebih variatif -yang banyak menghasilkan laba- mereka ikut bersuara. Mereka tidak setuju karena toko ini jadi berubah haluan sebagai pencari untung semata.

Perbedaan pendapat mewarnai jalannya toko Surabaya dan Jakarta. Toko Jakarta pun meradang, merasa dilangkahi dan tidak dianggap. Terlebih, memasukkan 'orang luar' tanpa persetujuan adalah sebuah bentuk pelanggaran komitmen.

Pada akhirnya, mereka pecah kongsi karena tidak kunjung menemukan pemecahan masalah. Gerai Jakarta pun menjual martabak dengan varian lebih banyak, sementara gerai Surabaya tetap menjual martabak berkualitas tinggi dan berukuran besar seperti sebelumnya. Mereka yang di Jakarta kemudian mengganti nama gerai Terbulity mereka dengan nama yang lebih mengena untuk orang-orang ibukta: Martabucks.


Sekarang, baik Terbulity maupun Martabucks berjalan sendiri-sendiri. 

Selasa, 03 Februari 2015

Tahun Redam

“Solitude is the place of purification.”

Sebuah quote pendek dari Martin Buber, seorang rabi yang dengan mudah bisa Anda cari di google ini sepertinya menjadi kalimat yang saya pegang belakangan ini. Sebuah pernyataan yang dapat menunjukkan keinginan untuk kembali ‘murni’, atau jika terlalu membebani: memulihkan jiwa.

Entah mengapa, sepanjang tahun 2014 lalu, saya merasakan ‘bising’ yang amat sangat. Bising berupa tenggat waktu yang mencekik, perdebatan-perdebatan tak berjung, target-target yang sulit, juga acara-acara berkumpul dengan pembahasan topik yang amat berat. Setelah melalui semua itu, saya lega. Tapi tidak bahagia. Saya merasa kehilangan cermin diri, kehilangan waktu untuk merenung, kehilangan waktu untuk sendirian.

Saya memang sering menyediakan waktu untuk sendirian setiap hari. Ketika semua sudah tidur, saya biasanya melakukan kegiatan apa saja yang bisa saya nikmati sendirian. Tapi sepanjang tahun lalu, kegiatan yang saya lakukan pun ternyata untuk orang lain, bukan untuk diri sendiri.

Setelah menyadari hal ini, saya langsung berpikir untuk menjadikan tahun ini sebagai ‘tahun redam’. Tahun untuk lebih banyak berdiam diri, dalam artian positif, dan juga untuk lebih banyak mendengar dan mencerna, ketimbang melakukan aksi nyata.

Wujud dari hal ini, orang-orang akan melihat versi lebih diam dari saya yang sudah dikenal pendiam. Tidak usah dibayangkan, karena toh akan tercermin dari keseharian saya. Saya akan lebih jarang menelpon dan mengobrol, lebih jarang berbalas pesan, dan juga lebih jarang untuk berinteraksi di media sosial atau di group chat.

Saya juga ingin menahan diri untuk berkomentar mengenai hal-hal yang tidak perlu dikomentari, ambil pusing terhadap hal-hal yang tidak perlu dipusingkan, atau mempermasalahkan sesuatu yang sebetulnya tidak ada. Tidak perlu juga membicarakan dan memusingkan perilaku orang lain.

Saya ingin membuat hidup saya lebih sederhana.

Memang, saya tidak mungkin berdiam diri di gua seperti yang dilakukan para sufi, atau melakukan solo travelling untuk mencari tahu makna kehidupan seperti yang dilakukan para backpacker. Tanggung jawab yang saya miliki sebagai kepala keluarga sekaligus sebagai karyawan perusahaan tidak memungkinkan untuk melakukan itu.

Tapi yang pasti, saya akan lebih memilah-milah segala aktivitas yang akan saya lakukan, memilah-milah acara yang harus dihadiri, bahkan untuk tahap yang lebih besar lagi, memilah-milah apa yang saya konsumsi setiap harinya. Ada hal positif yang terjadi, yaitu saya kini menjadi tidak sekonsumtif biasanya. Saya kini sudah bisa meredam berbagai keinginan akan hal-hal yang sebenarnya tidak dibutuhkan.

Mungkin akan terlihat aneh bagi orang-orang sekitar, tapi ternyata setelah menjalaninya selama beberapa bulan terakhir, saya merasa lebih tenang. Dan ternyata saya juga baru menemukan bahwa kebahagiaan buat saya adalah ketenangan. Tidak bising, tidak berisik. Inilah hal yang saya rasa telah lama hilang. Dan saya senang karena telah menemukannya kembali.

Bukan pula berarti saya tidak akan bersedih jika seharusnya bersedih, gembira jika seharusnya gembira, atau marah jika seharusnya marah. Saya tidak bilang tentang menjadi robot tak berperasaan. Hanya saja, segala ekspresi dan emosi itu ingin saya tata lebih baik, sehingga dapat dikeluarkan dengan proper, tidak berlebihan, dan yang paling penting: pada tempatnya.

Kamis, 01 Januari 2015

Apalah Arti Sebuah Refleksi Akhir Tahun

Apa yang menarik dari sebuah refleksi akhir tahun? Jika hanya membicarakan betapa suksesnya kita, atau sebaliknya betapa merananya kita, tentu hanya akan terdengar norak dan klise. Jika hanya menuliskan catatan kilas balik peristiwa penting bulan per bulan, akan terlihat membosankan.

Tapi memang tidak bisa dipungkiri, tahun 2014 ini buat gue adalah tahun yang teramat berwarna untuk dibiarkan berlalu begitu saja. Gue akan mencatat refleksi ini se-simple mungkin.

1. Rumah Sakit
Tahun 2014, beberapa anggota keluarga dekat –bahkan keluarga inti- jatuh sakit. Sakit yang bukan sembarang sakit, tapi sampai harus menjalani perawatan. Menunggui anggota keluarga yang terbaring lemah di rumah sakit bukanlah hal menyenangkan. Entah berapa kali gue mengunjungi rumah sakit tahun ini, walaupun beberapa di antaranya adalah momen bahagia yaitu kelahiran anak kedua.

Saat orang terdekat terbaring sakit, kita menjadi lebih bijak dalam bersikap. Klise memang, tapi orang paling keji di dunia pun akan lebih memilih mendoakan anggota keluarganya yang sedang sakit ketimbang mempermasalahkan hal lain. Momen ini pula yang mendekatkan kita dengan keluarga, setelah biasanya kita melupakan mereka dalam keseharian.

Di rumah sakit pula, konon lebih banyak doa yang dipanjatkan dengan tulus ketimbang di rumah ibadah.
      
      2. Buku
Tak pernah terpikirkan sebelumnya bahwa tulisan-tulisan sepak bola gue akan berakhir dalam bentuk buku. Bukanlah buku ilmiah yang kaya pengetahuan dan kaya akan data, bukan pula buku yang mengisahkan pengalaman nyata. Menulisnya pun ramai-ramai, bukan tulisan gue seorang. Bagaimanapun respon atau berapapun angka penjualan, gue juga gak ambil pusing.

Tapi ada perasaan yang gak bisa dijelaskan ketika melihat nama terpampang di toko buku besar, dan ini seakan membuat segala kerja keras bernilai. Bisa dibilang, ini adalah salah satu pencapaian paling mengesankan selama tahun 2014. Sebuah legacy dan portofolio yang nyata, dan mungkin saja ini adalah yang pertama dan terakhir.

Oh iya, dari menulis buku pula terjadi pengalaman-pengalaman seru lainnya, seperti siaran radio.

‘Mas, kalo lagi siaran radio tuh ngomong, jangan ngangguk atau geleng’ begitulah petuah dari sang announcer kocak yang gue lupa namanya.

      3.      Pajak
Kapan gue pernah suka sama pajak? Tidak pernah. Kuliah di jurusan pajak pun bukan keinginan, melainkan karena kebetulan. Selama kuliah, gue juga gak pernah dapat IPK yang memuaskan.

Tapi entah kenapa, pajak membawa rejeki. It pays all my bills. Selama delapan tahun kerja, selalu di bidang ini. Dari menjadi konsultan, hingga kini bekerja di sebuah perusahaan.

Khusus untuk tahun ini, sebuah lompatan besar terjadi. Buat orang yang gak passionate, ini tentu saja sebuah gift yang teramat cantik. Tapi gue gak menganggapnya sebagai hadiah, ini lebih kepada amanat. Dan yang namanya amanat, tentu harus diemban dengan sungguh-sungguh. Inilah sebabnya mengapa gue bilang bahwa buku yang gue terbitkan tadi mungkin menjadi yang pertama sekaligus terakhir. Amanah ini akan memaksa gue untuk mengerahkan fokus lebih dari seratus persen, dan sejenak melupakan yang lain.

Fokus. Ini adalah kata kuncinya. If you chase two rabbits, you will lose them all.

      4.      Teman
Gue sempat mengenal beberapa orang yang membuat kagum. Kagum akan pengetahuan dan cara hidup mereka. Tapi sayangnya, gue juga melihat orang-orang yang sama berubah menjadi sosok-sosok yang tak terbayangkan sebelumnya. I thought I knew you, but I didn’t.

Gue gak akan membeberkan pendapat gue, apalagi mengonfrontir. Gue akan diam saja sembari berharap hidup akan mengajarkan mereka. Secarik kertas yang pernah diremas memang tidak akan pernah bisa kembali licin seperti bentuk sebelumnya. Walaupun kita seterika sekalipun supaya kembali licin.

Begitulah dahsyatnya kata-kata. Untuk itu, gue akan lebih berhati-hati lagi menggunakannya. Dan karena alasan itu, gue banyak memilih diam. Diam adalah cara gue untuk menyelesaikan masalah, dengan waktu sebagai perantara. Tidak semua hal perlu dibicarakan, dan beberapa hal memang lebih baik jika didiamkan saja.

Bagaimanapun, you’ll get something when you lose something.

Sebuah ‘klub’ istimewa berhasil terbentuk, yang gue namakan sendiri sebagai The Breakfast Club. Bukan klub yang gimana-gimana sih, hanya kumpulan bapak-bapak berusia 30 tahunan dengan segala cerita glorifikasi dan melankolia midlife crisis yang sedang dijalani.
  
      5.      Musik
Menonton konser adalah sebuah kegiatan yang cukup paripurna bagi penggemar musik. Selain bisa melihat sang artis dari dekat, euforia akan sound yang dahsyat menghujam, performa mengagumkan dari para personel dan bagaimana lelahnya mengantre lalu berjingkrak selama berjam-jam menjadikan kegiatan nonton konser musik sebagai pengalaman tersendiri.

Karena alasan itu pula, gue gak mau menonton konser musik yang artis atau genre-nya bukan favorit. Bikin capek badan aja, apalagi buat bapak-bapak kantoran kaya gini. Untuk tahun 2014, terima kasih kepada seorang kolega yang mengajak nonton konser Dream Theater!
***
Lebih dari itu semua, tahun 2014 menghadirkan satu pelajaran penting: ‘Family comes first’.