Saya punya kebiasaan mendengarkan lagu-lagu di situs Youtube. Mendengarkan lagu di situs ini memberikan pengalaman tersendiri. Selain bisa mendengar versi aslinya, kita juga berkesempatan mengetahui versi lain dari lagu tersebut, baik itu versi live, versi cover, dan lain-lain. Dalam kanal Youtube juga, kita bisa melihat dan mendengar pilihan lagu lain yang direkomendasikan. Ketika saya iseng meng-klik tautan itu, terdengarlah sebuah musik yang terasa asing menarik perhatian. Terdengar santai, tidak terlalu rumit tapi juga tidak murahan. Musiknya tidak seperti yang biasa saya dengar, tapi membuat saya penasaran untuk mendengarkannya sampai habis.
Telinga saya mengatakan bahwa lagu ini penuh kejutan. Notasi dan ketukannya membangun suasana berbeda, pola berbeda, yang pada akhirnya memperkenalkan hal baru kepada otak, dan langsung disambut oleh hati. Harry Beckwith, penulis terkenal yang merilis buku best seller: Marketing and Buyer Psychology mengamini hal ini dengan mengungkapkan bahwa otak manusia memang menyukai kejutan. Meski mudah terjebak dalam comfort zone, manusia juga tidak selalu menyukai sesuatu yang terlalu mudah ditebak.
Saya lantas berlagak seperti Sir Tom Jones, juri dari acara kompetisi musik ternama, The Voice edisi United Kingdom (Inggris). Jika juri lain menekan tombol 'I want you' dengan cepat pada saat blind audition, Sir Tom Jones dengan kalem menunggu hingga saat-saat terakhir sebelum akhirnya memutuskan untuk menekan atau tidak menekan tombol. Dia tidak ikut-ikutan juri lain, tidak terpengaruh keriuhan penonton, hanya percaya pada telinganya -karena dalam format acara The Voice, juri memang hanya mendengar suara, namun tidak melihat sosok sang penyanyi.
"I need to feel that what I'm hearing is an authentic expression of the person, not just a string of phrases that are copied from others," ujarnya ketika diwawancarai perihal apa yang membuatnya menekan tombol 'I want you'. "When I hit the button, I mean it," tutupnya.
Tapi, khidmatnya saya mendengarkan lagu sampai akhir bukanlah untuk memencet tombol, atau memutuskan apakah lagu ini enak atau tidak. Saya sudah tahu lagu ini enak, dan memutuskan untuk menikmati cinta pada pendengaran pertama akan lagu ini.
Lagu yang saya maksud berjudul You Make Loving Fun karya sebuah band lawas asal Inggris bernama Fleetwood Mac.
Cinta pada pendengaran pertama? Love at first hearing. Ya benar. Perbedaannya dengan kalimat mainstream cinta pada pandangan pertama atau love at first sight hanya terletak pada indra yang digunakan. Telinga dengan mata.
Saya bukan tipe yang bisa mencintai orang pada pandangan pertama. Kalau sekadar tertarik, mungkin saja. Sebaliknya, saya bisa menyukai sebuah lagu pada pendengaran pertama. Hanya dengan mendengarkan intro-nya, saya bisa langsung memutuskan bahwa lagu ini akan menjadi favorit, yang akan memasuki playlist dan akan menjadi teman keseharian.
Dalam beberapa hal, saya berpendapat telinga lebih dapat diandalkan ketimbang mata. Telinga adalah medium yang jujur dan bebas nilai. Segalanya bisa masuk tanpa tersaring. Berbeda dengan mata, yang lebih mudah tertipu penampakan lahiriah lalu membentuk persepsi yang tentu saja tidak bisa terhindar dari unsur subjektivitas.
Dangkalnya pandangan mata -meski tidak selalu- tidak jarang membuat kita kehilangan kesempatan untuk mengapresiasi hal positif, dan lebih buruk lagi, salah dalam menilai.
Kamis, 21 Mei 2015
Senin, 09 Maret 2015
My Nice Boss
Ini adalah cerita fiksi tentang seorang pemuda pekerja
kantoran, sebut saja dia Si Gondrong. Rambutnya memang tidak gondrong lagi,
karena kantor jelas tidak mengizinkannya. Tapi karena ia memanjangkan rambutnya
semasa kuliah, nama ‘Gondrong’ pun sudah melekat, sekalipun ia tidak lagi
gondrong.
Dengan cukuran rapi dan klimis, Gondrong kini menikmati “meja
mie ayam” miliknya. Disebut meja mie ayam, karena memang tidak ada sekat
seperti kubikal layaknya pekerja lain. Sebagai auditor, ia lebih banyak bekerja
di kantor klien dan amat jarang di kantor sendiri. Untuk itulah, kantor hanya
menyediakan meja besar dengan banyak kursi untuk para junior auditor seperti
dirinya. Tidak ada tempat duduk dan nomor ekstension yang tetap, karena siapa
yang datang duluan, dialah yang berhak menduduki tempatnya.
Gondrong memiliki senior-senior yang dapat dikategorikan galak
dan demanding. Mbak Martina misalnya,
dengan pengalamannya yang sudah lima tahun, ia jelas sudah tahu seluk beluk
pembuatan laporan untuk klien-kliennya. Ketika berurusan dengan anak buahnya,
ia bisa bersikap bengis seperti seorang sosiopat yang tidak memiliki empati. Tidak
peduli anak buahnya sedang sakit, ada urusan keluarga, tidak peduli siang atau
malam, awal pekan atau akhir pekan, mereka harus siap sedia jika dibutuhkan.
Gondrong tidak pernah sampai membawa segala tindakan senior-seniornya
ke hati. Ya, mungkin karena dia cowok juga. Dia sadar bahwa senior-senior itu
menjadi sedemikian demanding karena mereka pun dituntut hal yang sama oleh para
Manager-nya. Dan para manager juga dituntut hal yang sama pula oleh para Partner.
Dan seterusnya. Sebagai penghuni terbawah dalam ‘rantai makanan’, Gondrong pun
merasa tidak ada gunanya jika ia melawan.
Kita semua hanya memainkan peran, begitu pikirnya. Di balik
tampang-tampang lelah dan tertekan semua yang bekerja di gedung ini, mungkin
saja mereka sama sepertinya yang juga senang bermain. Senang menghabiskan akhir
pekan sambil nongkrong bersama teman-teman seperti yang kadang dilakukannya,
senang berfoto selfie dan ingin dipuji seperti kakak perempuannya, senang
mengoleksi batu akik seperti pamannya, dan lain-lain. Pastilah ada aspek
manusia yang sebenarnya tersembunyi di balik topeng-topeng itu.
Walaupun begitu, Gondrong tetaplah ingin melakukan sesuatu
yang berbeda. Ketika ia dipromosi menjadi senior, ia bertekad untuk menjadi
sosok senior yang lebih berempati, lebih bersahabat. Pokoknya lebih baik
ketimbang senior-senior yang selama ini memperlakukannya.
Promosi
Waktu promosi pun tiba. Gondrong telah menjadi seorang
auditor senior, posisi yang menuntutnya untuk bertanggung jawab atas segala
kegiatan fieldwork yang dilakukan timnya. Mewawancarai klien, meminta dan
mengumpulkan data, hingga membuat draft
report. Posisi yang juga membuatnya memiliki anak buah.
Gondrong membuktikan janjinya. Ia adalah sosok senior
kesayangan para junior. Sosok senior yang baik, berperasaan, berempati dan
malah tidak segan untuk melakukan porsi pekerjaan junior jika diperlukan. Para junior
pun berebut untuk menjadi anggota timnya. Ia juga tidak pelit dan tidak
hitungan soal uang. Traktir-mentraktir, mengantar dan menjemput anak buahnya
bukanlah hal luar biasa baginya.
Saya berhasil, begitu pikirnya. Pekerjaan beres, anggota tim
menyukainya walaupun ia jauh lebih capek karena harus sering meng-cover
pekerjaan anak-anak buahnya. Karir Gondrong pun terbilang cepat. Dalam waktu
dua tahun saja, ia sudah dipromosi ke level Assistant Manager, atau satu level
lagi di bawah Manager, posisi middle
ladder yang tentu saja menjadi impian banyak orang.
Gondrong merasa terlalu lelah
bekerja sebagai auditor. Hanya beberapa bulan sebelum promosi, ia mengundurkan
diri untuk bergabung dengan perusahaan lain di luar industri auditor. Ia merasa
sudah cukup, dan anak-anak buahnya juga telah ia persiapkan dengan baik. Begitu
pikirnya.
Tapi ternyata ia tidak sepenuhnya
benar. Beberapa bulan setelah kepindahannya, terjadi sedikit kekacauan dalam
pengerjaan laporan klien-klien yang ia pegang dulu. Anak-anak buah yang
dipikirnya sudah mampu bekerja secara mandiri, ternyata tidak mampu
menyelesaikan laporan sesuai tenggat waktu yang disepakati. Pak Joko, atasannya
dulu, menghubunginya.
“Ndrong, saya cuma mau kasih tau
ke kamu kalo pekerjaan salah satu klien kamu yang dulu itu, kini bermasalah. Tim
kami tidak mampu menyelesaikan laporan dengan tepat waktu.”
“Waduh, saya turut sedih nih,
Pak. Kira-kira, kenapa ya bisa begitu? Padahal sebelumnya tidak ada masalah.”
“Kamu tahu? Di situlah sebetulnya
masalahnya. Kamu terbiasa mengerjakannya sendiri dan terlalu melonggarkan
anak-anak buah kamu. Isu-isu yang besar juga kamu tangani dan pecahkan sendiri
tanpa melibatkan tim. Mereka memang senang bekerja dengan atasan seperti kamu,
tapi ternyata setelah kamu pergi, mereka malah kesulitan karena ternyata tidak
mendapat bekal yang cukup dari kamu.”
Gondrong pun terkejut sekaligus
terpana mendengar perkataan itu. Ia diam saja, tidak tahu bagaimana harus
menanggapi. Segala ilmu yang telah ia pelajari dan pengalaman yang ia dapat ternyata masih belum apa-apa. Baru kali ini ia merasa telah melakukan kesalahan perhitungan. Miscalculation perihal anak buah yang ternyata berdampak sama besarnya dengan miscalculation dalam hal angka.
“Eh tapi jangan salah sangka,
Ndong. Saya bukannya mau menyalahkan kamu. Gaya kepemimpinan kan memang
macam-macam. Ada yang otoriter, ada juga yang seperti kamu. Saya tidak mempermasalahkan
kesulitan ini, toh ini bisa terjadi pada siapa saja. Seiring waktu, mantan
anak-anak buahmu akan belajar dari pengalaman mereka.”
“Toh dari situ kamu bisa belajar,
dong. Besi yang ditempa dengan keras akan menghasilkan pedang yang bagus dan
tajam, tapi jika menempanya kurang keras, ya gak akan jadi apa-apa. Kamu bisa
sebagus ini karena dulu kamu diajari oleh senior-senior yang galak, mungkin ini
yang kamu belum sadari. Nah sekarang kan kamu sudah bekerja di tempat yang baru
dan punya anak buah, maka tempalah anak-anak buah kamu dengan tepat, dan sesuaikan
dengan ekspektasi kamu terhadap mereka. Kamu sudah nonton film Whiplash? Kira-kira
begitulah dunia yang kita hadapi. Seorang Terence Flecher pun memiliki
keyakinan bahwa the next Charlie Parker
won’t get discouraged. Untuk membentuk karakter yang hebat, tentu
dibutuhkan tempaan yang juga kuat, walaupun boleh jadi tidak semua orang bisa
memahaminya.”
Gondrong terdiam cukup lama, lalu
ia kemudian merespon “Benar juga sih kalau dipikir-pikir, Pak. Mereka yang dulunya menjadi anak buah saya sampai sekarang masih suka bercerita kepada saya. Mereka menceritakan betapa enaknya bekerja di bawah tim yang saya pimpin, berbeda dengan yang sekarang. Tadinya saya pikir, itu adalah sebuah tanda keberhasilan, tapi ternyata saya salah ya.. Tapi, Pak, saya punya satu pertanyaan lagi.. Bagaimana jika anak-anak buah saya malah berbalik membenci
saya akibat sikap dan tuntutan yang saya berikan. Dan bukannya malah pekerjaan saya selesai, malahan jadi berantakan karena
mereka tidak mau mengerjakan?”
“Memang tidak ada jalan yang
mudah. Jika kamu ingin men-develop
orang lain, hanya itu yang bisa dilakukan. Kecuali jika kamu hanya ingin
memelihara para deadwood dan rela mendengarkan keluh kesah mereka terhadap
segala sesuatu yang bahkan tidak perlu dikeluhkan. Dan bukannya saya memintamu untuk berhenti jadi orang baik, tapi
kamu juga perlu memikirkan bahwa segala kelonggaran dan pemakluman yang telah
kamu berikan kepada anak-anak buah kamu, akan berimbas pula pada atasan-atasan
mereka yang menggantikan kamu. Mereka akan terus membanding-bandingkannya
dengan kamu. Tentu saja hal ini akan membebani mereka. Saya bukannya menyarankan kamu untuk berubah dengan drastis, karena itu pasti sulit. Kamu hanya perlu untuk sesekali menjadi lebih keras, dan tentunya pada tempatnya. Tidak perlu memaki, misalnya. Cukup meninggikan sedikit nada suara dan memasang mimik wajah yang lebih serius dari biasanya, pasti mereka akan mengerti. Karena pada dasarnya, bawahan itu akan menuruti atasan, kok.”
“Tapi pak.. Benar-benar pertanyaan terakhir nih.. Kan memang
tidak semua orang bisa di-develop. Dan
tidak semua orang juga yang mau di-develop,
bukan?”
“Ya, kamu benar. Tidak semua
orang memiliki ambisi, sebagian hanya ingin ikut arus dan selamat. Itu juga tidak
sepenuhnya salah. Hidup memang tidak sekadar di kantor, bukan?”
“Saya mengerti, Pak. Terima kasih
atas waktunya. Terima kasih atas percakapan telepon ini.”
Jumat, 06 Maret 2015
Terbulity dan Martabucks
Lima sahabat duduk dalam sebuah rumah sederhana di kota Surabaya. Mereka memiliki kesamaan dalam selera kuliner, yaitu sama-sama penggemar martabak. Untuk mewadahi hobi ini, mereka berembuk untuk membuat gerai martabak. Ini adalah pembicaraan yang sudah puluhan kali dilakukan. Setelah sedari dulu mereka hanya berkumpul untuk bermain atau bersenda gurau, kini mereka berniat melakukan sesuatu yang lebih serius. Bukan tanpa resiko, karena jangankan pertemanan, ikatan keluarga saja bisa bubar jalan jika terjadi persengketaan dalam hal duit. Tapi mereka sudah berkomitmen, apapun yang terjadi nantinya, persahabatan akan tetap dijaga.
Semuanya telah disiapkan, tinggal eksekusi.
Mereka langsung membuka dua toko, di Surabaya sebagai induk, dan di Jakarta sebagai cabang. Toko ini diberi nama Terbulity, alias Terang bulan dengan quality, atau kwaliteit, atau kualitas. Dua dari mereka hijrah ke Jakarta untuk membuka gerai di ibukota. Sementara tiga lainnya mengelola cabang Surabaya.
Bisnis berjalan lancar. Tidak bombastis memang, tapi tidak juga terlalu sepi. Martabak yang mereka jual memang menggunakan bahan-bahan dengan mutu terbaik terbaik dan tentu saja berukuran besar, menjadikan pengalaman tersendiri dalam memakannya.
Suatu hari di cabang Jakarta datanglah seorang pebisnis, sebut saja dia Pak Teddy. Pak Teddy ini terkesan dengan rasa martabak mereka.
Pak Teddy lalu mengutarakan keinginan untuk jadi pelanggan tetap dan berkomitmen membeli dalam jumlah besar untuk penyediaan snack di kantornya. Tapi dia juga meminta Terbulity membuat varian baru dan ukuran-ukuran yang lebih kecil.
Sementara itu, gerai Terbulity di Surabaya berjalan seperti biasa. Dari usaha ini, mereka menjalin keakraban dengan pelanggan-pelanggan. Ada lima orang pelanggan tetap ini. Mereka datang dari berbagai profesi. Ada pegawai swasta, pemilik toko kelontong, penerjemah, pemandu wisata, hingga pegawai negeri.
Lima sekawan ini seketika menjadi akrab satu sama lain saking seringnya mereka membeli martabak nikmat Terbulity. Mereka terkesan dengan prinsip gerai martabak baru ini yang terbuat dari bahan-bahan berkualitas berukuran besar namun harganya lebih murah. Mereka tipe orang yang amat memerhatikan dua hal ini. Karena rasa adalah segalanya dan size does matter bigger is better.
Lama kelamaan, lima sekawan ini sudah diajarkan cara mengaduk, membentuk dan membalik-balik adonan di kuali, memotong dengan rapi, hingga mengemas dengan menarik. Bahkan resep dalam adonan pun mereka kini sudah tahu. Dengan begitu, terang saja mereka merasa sudah ikut memiliki toko. Lima sekawan ini pun mulai dilibatkan dalam pengambilan keputusan, strategi pemasaran, dan lain-lain.
Ketika toko Jakarta menjual martabak dengan ukuran lebih kecil dan rasa yang lebih variatif -yang banyak menghasilkan laba- mereka ikut bersuara. Mereka tidak setuju karena toko ini jadi berubah haluan sebagai pencari untung semata.
Perbedaan pendapat mewarnai jalannya toko Surabaya dan Jakarta. Toko Jakarta pun meradang, merasa dilangkahi dan tidak dianggap. Terlebih, memasukkan 'orang luar' tanpa persetujuan adalah sebuah bentuk pelanggaran komitmen.
Pada akhirnya, mereka pecah kongsi karena tidak kunjung menemukan pemecahan masalah. Gerai Jakarta pun menjual martabak dengan varian lebih banyak, sementara gerai Surabaya tetap menjual martabak berkualitas tinggi dan berukuran besar seperti sebelumnya. Mereka yang di Jakarta kemudian mengganti nama gerai Terbulity mereka dengan nama yang lebih mengena untuk orang-orang ibukta: Martabucks.
Sekarang, baik Terbulity maupun Martabucks berjalan sendiri-sendiri.
Semuanya telah disiapkan, tinggal eksekusi.
Mereka langsung membuka dua toko, di Surabaya sebagai induk, dan di Jakarta sebagai cabang. Toko ini diberi nama Terbulity, alias Terang bulan dengan quality, atau kwaliteit, atau kualitas. Dua dari mereka hijrah ke Jakarta untuk membuka gerai di ibukota. Sementara tiga lainnya mengelola cabang Surabaya.
Bisnis berjalan lancar. Tidak bombastis memang, tapi tidak juga terlalu sepi. Martabak yang mereka jual memang menggunakan bahan-bahan dengan mutu terbaik terbaik dan tentu saja berukuran besar, menjadikan pengalaman tersendiri dalam memakannya.
Suatu hari di cabang Jakarta datanglah seorang pebisnis, sebut saja dia Pak Teddy. Pak Teddy ini terkesan dengan rasa martabak mereka.
Pak Teddy lalu mengutarakan keinginan untuk jadi pelanggan tetap dan berkomitmen membeli dalam jumlah besar untuk penyediaan snack di kantornya. Tapi dia juga meminta Terbulity membuat varian baru dan ukuran-ukuran yang lebih kecil.
Sementara itu, gerai Terbulity di Surabaya berjalan seperti biasa. Dari usaha ini, mereka menjalin keakraban dengan pelanggan-pelanggan. Ada lima orang pelanggan tetap ini. Mereka datang dari berbagai profesi. Ada pegawai swasta, pemilik toko kelontong, penerjemah, pemandu wisata, hingga pegawai negeri.
Lima sekawan ini seketika menjadi akrab satu sama lain saking seringnya mereka membeli martabak nikmat Terbulity. Mereka terkesan dengan prinsip gerai martabak baru ini yang terbuat dari bahan-bahan berkualitas berukuran besar namun harganya lebih murah. Mereka tipe orang yang amat memerhatikan dua hal ini. Karena rasa adalah segalanya dan size does matter bigger is better.
Lama kelamaan, lima sekawan ini sudah diajarkan cara mengaduk, membentuk dan membalik-balik adonan di kuali, memotong dengan rapi, hingga mengemas dengan menarik. Bahkan resep dalam adonan pun mereka kini sudah tahu. Dengan begitu, terang saja mereka merasa sudah ikut memiliki toko. Lima sekawan ini pun mulai dilibatkan dalam pengambilan keputusan, strategi pemasaran, dan lain-lain.
Ketika toko Jakarta menjual martabak dengan ukuran lebih kecil dan rasa yang lebih variatif -yang banyak menghasilkan laba- mereka ikut bersuara. Mereka tidak setuju karena toko ini jadi berubah haluan sebagai pencari untung semata.
Perbedaan pendapat mewarnai jalannya toko Surabaya dan Jakarta. Toko Jakarta pun meradang, merasa dilangkahi dan tidak dianggap. Terlebih, memasukkan 'orang luar' tanpa persetujuan adalah sebuah bentuk pelanggaran komitmen.
Pada akhirnya, mereka pecah kongsi karena tidak kunjung menemukan pemecahan masalah. Gerai Jakarta pun menjual martabak dengan varian lebih banyak, sementara gerai Surabaya tetap menjual martabak berkualitas tinggi dan berukuran besar seperti sebelumnya. Mereka yang di Jakarta kemudian mengganti nama gerai Terbulity mereka dengan nama yang lebih mengena untuk orang-orang ibukta: Martabucks.
Sekarang, baik Terbulity maupun Martabucks berjalan sendiri-sendiri.
Selasa, 03 Februari 2015
Tahun Redam
“Solitude is the place of purification.”
Sebuah quote pendek dari Martin Buber, seorang rabi yang
dengan mudah bisa Anda cari di google ini sepertinya menjadi kalimat yang saya
pegang belakangan ini. Sebuah pernyataan yang dapat menunjukkan keinginan untuk
kembali ‘murni’, atau jika terlalu membebani: memulihkan jiwa.
Entah mengapa, sepanjang tahun 2014 lalu, saya merasakan ‘bising’
yang amat sangat. Bising berupa tenggat waktu yang mencekik,
perdebatan-perdebatan tak berjung, target-target yang sulit, juga acara-acara
berkumpul dengan pembahasan topik yang amat berat. Setelah melalui semua itu,
saya lega. Tapi tidak bahagia. Saya merasa kehilangan cermin diri, kehilangan
waktu untuk merenung, kehilangan waktu untuk sendirian.
Saya memang sering menyediakan waktu untuk sendirian setiap
hari. Ketika semua sudah tidur, saya biasanya melakukan kegiatan apa saja yang
bisa saya nikmati sendirian. Tapi sepanjang tahun lalu, kegiatan yang saya
lakukan pun ternyata untuk orang lain, bukan untuk diri sendiri.
Setelah menyadari hal ini, saya langsung berpikir untuk
menjadikan tahun ini sebagai ‘tahun redam’. Tahun untuk lebih banyak berdiam
diri, dalam artian positif, dan juga untuk lebih banyak mendengar dan mencerna,
ketimbang melakukan aksi nyata.
Wujud dari hal ini, orang-orang akan melihat versi lebih
diam dari saya yang sudah dikenal pendiam. Tidak usah dibayangkan, karena toh
akan tercermin dari keseharian saya. Saya akan lebih jarang menelpon dan
mengobrol, lebih jarang berbalas pesan, dan juga lebih jarang untuk
berinteraksi di media sosial atau di group chat.
Saya juga ingin menahan diri untuk berkomentar mengenai
hal-hal yang tidak perlu dikomentari, ambil pusing terhadap hal-hal yang tidak
perlu dipusingkan, atau mempermasalahkan sesuatu yang sebetulnya tidak ada. Tidak
perlu juga membicarakan dan memusingkan perilaku orang lain.
Saya ingin membuat hidup saya lebih sederhana.
Memang, saya tidak mungkin berdiam diri di gua seperti yang
dilakukan para sufi, atau melakukan solo travelling untuk mencari tahu makna
kehidupan seperti yang dilakukan para backpacker. Tanggung jawab yang saya
miliki sebagai kepala keluarga sekaligus sebagai karyawan perusahaan tidak
memungkinkan untuk melakukan itu.
Tapi yang pasti, saya akan lebih memilah-milah segala
aktivitas yang akan saya lakukan, memilah-milah acara yang harus dihadiri,
bahkan untuk tahap yang lebih besar lagi, memilah-milah apa yang saya konsumsi
setiap harinya. Ada hal positif yang terjadi, yaitu saya kini menjadi tidak
sekonsumtif biasanya. Saya kini sudah bisa meredam berbagai keinginan akan
hal-hal yang sebenarnya tidak dibutuhkan.
Bukan pula berarti saya tidak akan bersedih jika seharusnya bersedih, gembira jika seharusnya gembira, atau marah jika seharusnya marah. Saya tidak bilang tentang menjadi robot tak berperasaan. Hanya saja, segala ekspresi dan emosi itu ingin saya tata lebih baik, sehingga dapat dikeluarkan dengan proper, tidak berlebihan, dan yang paling penting: pada tempatnya.
Kamis, 01 Januari 2015
Apalah Arti Sebuah Refleksi Akhir Tahun
Apa yang
menarik dari sebuah refleksi akhir tahun? Jika hanya membicarakan betapa
suksesnya kita, atau sebaliknya betapa merananya kita, tentu hanya akan
terdengar norak dan klise. Jika hanya menuliskan catatan kilas balik peristiwa
penting bulan per bulan, akan terlihat membosankan.
Tapi memang
tidak bisa dipungkiri, tahun 2014 ini buat gue adalah tahun yang teramat
berwarna untuk dibiarkan berlalu begitu saja. Gue akan mencatat refleksi ini
se-simple mungkin.
1. Rumah Sakit
Tahun 2014, beberapa
anggota keluarga dekat –bahkan keluarga inti- jatuh sakit. Sakit yang bukan
sembarang sakit, tapi sampai harus menjalani perawatan. Menunggui anggota
keluarga yang terbaring lemah di rumah sakit bukanlah hal menyenangkan. Entah
berapa kali gue mengunjungi rumah sakit tahun ini, walaupun beberapa di
antaranya adalah momen bahagia yaitu kelahiran anak kedua.
Saat orang
terdekat terbaring sakit, kita menjadi lebih bijak dalam bersikap. Klise
memang, tapi orang paling keji di dunia pun akan lebih memilih mendoakan
anggota keluarganya yang sedang sakit ketimbang mempermasalahkan hal lain. Momen
ini pula yang mendekatkan kita dengan keluarga, setelah biasanya kita melupakan
mereka dalam keseharian.
Di rumah
sakit pula, konon lebih banyak doa yang dipanjatkan dengan tulus ketimbang di
rumah ibadah.
2. Buku
Tak pernah
terpikirkan sebelumnya bahwa tulisan-tulisan sepak bola gue akan berakhir dalam
bentuk buku. Bukanlah buku ilmiah yang kaya pengetahuan dan kaya akan data,
bukan pula buku yang mengisahkan pengalaman nyata. Menulisnya pun ramai-ramai,
bukan tulisan gue seorang. Bagaimanapun respon atau berapapun angka penjualan,
gue juga gak ambil pusing.
Tapi ada
perasaan yang gak bisa dijelaskan ketika melihat nama terpampang di toko buku
besar, dan ini seakan membuat segala kerja keras bernilai. Bisa dibilang, ini
adalah salah satu pencapaian paling mengesankan selama tahun 2014. Sebuah legacy dan portofolio yang nyata, dan
mungkin saja ini adalah yang pertama dan terakhir.
Oh iya, dari
menulis buku pula terjadi pengalaman-pengalaman seru lainnya, seperti siaran
radio.
‘Mas, kalo
lagi siaran radio tuh ngomong, jangan ngangguk atau geleng’ begitulah petuah
dari sang announcer kocak yang gue lupa namanya.
3. Pajak
Kapan gue
pernah suka sama pajak? Tidak pernah. Kuliah di jurusan pajak pun bukan
keinginan, melainkan karena kebetulan. Selama kuliah, gue juga gak pernah dapat
IPK yang memuaskan.
Tapi entah
kenapa, pajak membawa rejeki. It pays all my bills. Selama delapan tahun
kerja, selalu di bidang ini. Dari menjadi konsultan, hingga kini bekerja di
sebuah perusahaan.
Khusus untuk
tahun ini, sebuah lompatan besar terjadi. Buat orang yang gak passionate, ini tentu saja sebuah gift yang teramat cantik. Tapi gue gak
menganggapnya sebagai hadiah, ini lebih kepada amanat. Dan yang namanya amanat,
tentu harus diemban dengan sungguh-sungguh. Inilah sebabnya mengapa gue bilang
bahwa buku yang gue terbitkan tadi mungkin menjadi yang pertama sekaligus
terakhir. Amanah ini akan memaksa gue untuk mengerahkan fokus lebih dari
seratus persen, dan sejenak melupakan yang lain.
Fokus. Ini adalah
kata kuncinya. If you chase two rabbits,
you will lose them all.
4. Teman
Gue sempat
mengenal beberapa orang yang membuat kagum. Kagum akan pengetahuan dan cara
hidup mereka. Tapi sayangnya, gue juga melihat orang-orang yang sama berubah
menjadi sosok-sosok yang tak terbayangkan sebelumnya. I thought I knew you, but I didn’t.
Gue gak akan
membeberkan pendapat gue, apalagi mengonfrontir. Gue akan diam saja sembari
berharap hidup akan mengajarkan mereka. Secarik kertas yang pernah diremas
memang tidak akan pernah bisa kembali licin seperti bentuk sebelumnya. Walaupun
kita seterika sekalipun supaya kembali licin.
Begitulah
dahsyatnya kata-kata. Untuk itu, gue akan lebih berhati-hati lagi
menggunakannya. Dan karena alasan itu, gue banyak memilih diam. Diam adalah
cara gue untuk menyelesaikan masalah, dengan waktu sebagai perantara. Tidak
semua hal perlu dibicarakan, dan beberapa hal memang lebih baik jika didiamkan
saja.
Bagaimanapun,
you’ll get something when you lose
something.
Sebuah
‘klub’ istimewa berhasil terbentuk, yang gue namakan sendiri sebagai The Breakfast Club. Bukan klub yang
gimana-gimana sih, hanya kumpulan bapak-bapak berusia 30 tahunan dengan segala
cerita glorifikasi dan melankolia midlife
crisis yang sedang dijalani.
5. Musik
Menonton
konser adalah sebuah kegiatan yang cukup paripurna bagi penggemar musik. Selain
bisa melihat sang artis dari dekat, euforia akan sound yang dahsyat menghujam, performa mengagumkan dari para
personel dan bagaimana lelahnya mengantre lalu berjingkrak selama berjam-jam
menjadikan kegiatan nonton konser musik sebagai pengalaman tersendiri.
Karena
alasan itu pula, gue gak mau menonton konser musik yang artis atau genre-nya
bukan favorit. Bikin capek badan aja, apalagi buat bapak-bapak kantoran kaya
gini. Untuk tahun 2014, terima kasih kepada seorang kolega yang mengajak nonton konser Dream Theater!
***
Lebih dari
itu semua, tahun 2014 menghadirkan satu pelajaran penting: ‘Family comes first’.
Senin, 25 Agustus 2014
Setelah Elvis dan Beatles, Lalu Sekarang Apa?
Semalam,
saya yang sudah cukup mengantuk menyempatkan diri untuk menonton sebuah
talkshow di sebuah stasiun tv. Kebetulan, para bintang tamu yang hadir yaitu
para vokalis band dari era 90an, menarik perhatian saya untuk menonton.
Pembicaraan
antara host dengan narasumber awalnya berlangsung agak text book. Tapi lama kelamaan, para narasumber dengan
pengetahuannya yang mumpuni di bidang musik memberi saya pengetahuan baru yang
cukup menggelitik. Menggelitik untuk pertanyaan sesuai dengan judul entri
tulisan ini.
Sebelum
era sekarang, dunia musik seolah terbagi menjadi dua periode besar.Periode
pertama adalah periode pertunjukan di mana gedung pertunjukan musik kerap
dipenuhi penonton yang ingin menyaksikan sebuah konser musik. Pada masa itu,
konser musik sudah berpadu dengan dunia pertunjukan sehingga hal-hal teknis
semacam lighting, backing vocal, koreo dan sejenisnya juga
sudah digarap –layaknya sebuah pertunjukan spektakuler.
Namun
pertunjukan itu menampilkan seorang artis yang memainkan lagu orang lain, bukan
lagunya sendiri. Elvis Presley yang notabene menjadi artis paling terkenal saat
itu tidaklah memainkan lagunya sendiri, melainkan lagu yang orang lain tulis
untuknya. Elvis, bagaimanapun tetaplah
seorang musisi besar.Ia bernyanyi dan bermain gitar sama bagusnya, dan tentunya
tampil di panggung dengan penuh kharisma. Ia adalah ikon saat itu. Elvis
menandai sebuah era.
Setelah
era Elvis berlalu, muncullah sekelompok pemuda dari Liverpool, Inggris yang
kemudian membentuk sebuah band bernama The Beatles. Bedanya dengan Elvis, mereka
menuliskan lagunya sendiri. Lirik, melodi, harmoni, ekspresi, hingga pembagian
vokal juga mereka garap.Alih-alih meminta bantuan sekelompok penyanyi untuk
menjadi backing vocal, mereka
–seperti telah disinggung- membagi-bagi part vokal dalam lagu-lagu
mereka. Jadilah sebuah band yang menampilkan lagu mereka sendiri, lalu
menggabungkannya dengan unsur pertunjukan.
Apa
yang dilakukan oleh The Beatles saat itu ternyata disukai oleh publik. Hal ini
lantas menjadi sebuah revolusi di industri musik. The Beatles kemudian seperti
kita ketahui memberi pengaruh kepada nyaris seluruh musisi pop setelahnya. Nada,
notasi dan pola dari lagu-lagu pop maupun rock yang kita dengar sekarang bisa
dibilang terinsipirasi dari Paul McCartney dkk.
Kemudian,
band-band maupun penyanyi-penyanyi setelah Beatles yang mengembangkan apa yang dimulai.
Pada era 70an, para musisi dengan bakat-bakat luar biasa kemudian menciptakan tehnik-tehnik
baru sesuai dengan instrumen yang mereka kuasai, lalu menciptakan standar bahwa
seperti inilah musik harus digarap. Lagu demi lagu diproduksi dengan amat
serius, penuh cita rasa dan ekspresi yang maksimal.
Tehnik
bernyanyi, mencipta lagu, kostum dan lainnya kemudian semakin dieksplorasi.Skill dan taste dari para musisi menjadikan lagu-lagu semakin variatif. Musik
kemudian berkembang di bawah naungan industri kapitalis yang makin menyebarkan
pengaruh ini ke seluruh dunia. Dari sekadar kegiatan bernyanyi di kamar mandi
hingga menjadi industri yang amat masif. Musik pun bukan hanya sekadar trend,
pertunjukan atau ekspresi semata, melainkan sudah menjadi gaya hidup dan
budaya.
Kini
adalah masa di mana penikmat musik (dan musisi?) seperti lelah untuk menggarap
musik dengan level keseriusan dan kesempurnaan seperti generasi 70an atau 80an.
Industri musik pun seperti turut mengamini bahwa pasar telah jenuh dengan
musik-musik yang ‘berat’. Musik-musik yang lebih sederhana tidak masalah selama
lirik yang dinyanyikan mudah diingat dan dipahami, juga para artisnya
berpenampilan menarik.
Seakan
sejalan dengan budaya instan dan serba cepat, kebanyakan orang juga tidak ambil
pusing dengan kualitas lagu. (Mungkin) mereka kini mendengarkan lagu di tengah
aktivitas yang mereka lakukan, jadi ya asalkan lagu-lagu tersebut membangkitkan
mood untuk bekerja, ya tidak jadi soal. Lagu-lagu maupun musisi-musisi tersebut
begitu mudahnya timbul semudah mereka tenggelam.
Minggu, 03 Agustus 2014
Jadi, Metallica atau Megadeth?
Membanding-bandingkan
adalah salah satu pekerjaan favorit manusia. Apple dengan Samsung (terlepas
dengan adanya istilah apple to apple),
Maradona dengan Pele (terlepas dari mereka berdua berbeda generasi), Jupe
dengan DePe (terlepas dari.. ah sudahlah) dan lainnya. Alasan pun dicari-cari. Perselisihan
sepele pun diangkat habis-habisan seolah kedua subjek memang seperti air dengan
minyak yang tidak pernah bisa bersatu. Makin ribut, makin asik.
Namun di antara
pembandingan-pembandingan yang ada, saya lebih suka melihat bagaimana
orang-orang membandingkan dua band metal ternama, Metallica dan Megadeth (yang
bukan penikmat musik mereka feel free to
navigate away) yang seakan gak ada habisnya. Kebetulan, dua band ini hidup
di era yang sama, juga menghasilkan karya-karya dengan produktivitas dan kadar
kesuksesan finansial yang kurang lebih sama pula terlepas dari pasang surut
yang mereka alami.
Saya tidak
ingin menjadi orang ke-1233556789876543 yang turut membandingkan mereka. Menurut
saya karena faktor seorang Dave Mustaine-lah kedua band ini terus
dibanding-bandingkan. Seperti kita tahu, Mustaine yang notabene pendiri
Megadeth adalah mantan gitaris Metallica yang pemecatannya diwarnai kontroversi.
Kini Megadeth (Mustaine) dan Metallica nampak sudah akur, atau mungkin saja merasa
sudah terlalu tua untuk terus berantem
dan ngambek-ngambekan.
Dua band ini
adalah alasan mengapa saya bisa mengapresiasi musik metal yang bising, berisik,
brutal dan (kalau kata seorang teman) biadab. Cerita perkenalan saya dengan
genre inipun cukup unik. Saya yang hingga berusia 15 tahun tidak pernah
dengerin musik metal tiba-tiba merasakan adanya sensasi aneh saat pertama kali
mendengarkan nomor ballad Metallica
semacam The Unforgiven dan lagu-lagu metal nge-rock yang terdapat di album
metal sejuta umat, Black Album. Dari sinilah lalu berlanjut ke pencarian pada
Megadeth di mana saya kemudian menemukan lagu Trust pada album Crypticwritings.
Dua lagu
tadi menjadi gerbang perkenalan saya dengan album-album mereka yang lain,
meskipun hingga kini saya masih tidak hapal sebagian besar lagu-lagu mereka.
Yah, mungkin saya hanya hapal 30-50% lagu-lagu mereka, itupun yang memang sering
dibawakan saat mereka konser. Saya bukanlah penggemar sejati musik metal jika
mengacu pada kuantitas menyimak album dari dua band ini, terlebih saya tidak
mendengarkan band metal lain selain mereka.
Anyway, Metallica
dan Megadeth mungkin benar bising, berisik, brutal dan mungkin saja biadab. Tapi
saya telah mencapai tahap untuk bisa menilai bahwa kedua band ini memainkan
musik yang berkelas, susah ditiru, dan tentu saja susah untuk diminati oleh
para penggila musik easy listening. “Mainin
lagu yang santai aja-lah, jangan yang bikin sakit kuping,” demikian kutipan
yang saya ingat dari seorang vokalis band pop dalam wawancaranya di sebuah
majalah remaja seolah menganggap musik metal adalah musik yang tidak enak
didengar.
Musik metal
juga kerap digenerelisasi sebagai pembawa pengaruh buruk. Mereka dikatakan
mengajarkan kekerasan, satanis dan anti ketuhanan. Lirik-liriknya juga kerap
bertema ajakan bunuh diri maupun pemujaan terhadap hal-hal yang dianggap tidak
pantas. Musik yang enggak banget.
Namun tidak
sedikit pula pembelaan yang pernah saya dengar.
“Musik metal
buat sebagian orang mungkin hanya musik yang berisik, tapi buat saya musik
metal adalah musik yang paling pol dalam penyaluran ekspresi,” ujar salah satu
gitaris cewek metal yang saya lupa namanya.
“Untuk
mengerti musik metal memang diperlukan intelegensi. Kecepatan dan kerumitan memang
gak semua orang bisa ngikutin,” tutur
salah seorang random person yang saya
temui pada konser Megadeth di Jakarta tahun 2007 lalu.
Metallica
dan Megadeth adalah band cadas dengan intelegensi tinggi. Tidak sekadar
memainkan musik cepat dan teriak-teriak gak jelas, sebaliknya mereka mengusung
standar tinggi dalam penggarapan album maupun konser. Tidak ada lip-sync performance seperti artis-artis
acara musik pagi dengan penjoget cuci-jemur, tidak ada chord dan rhythm section sederhana
dan ketukan konstan menjemukan.
Bagaimana dengan
sisi melodi? Well, dua band ini adalah band cadas yang mungkin paling melodik, soulful dan memiliki ciri khas. Notasi
yang diambil Metallica mungkin banyak didominasi kord E mayor dengan variasi di
sekitarnya, ataupun A minor. Nuansa gelap, getir dan artikulasi yang jelas dan berat
menjadi ciri khas James Hetfield, sang frontman
Metallica. Sementara Dave Mustaine yang menjadi leader sekaligus songwriter
Megadeth memiliki warna vokal yang lebih crunchy dengan artikulasi yang kadang
sulit diinterpretasi. Lagu-lagu yang dihasilkan juga sebetulnya berbeda,
meskipun banyak yang bilang mirip.
Untuk urusan
harmonisasi, Megadeth menurut saya masih lebih unggul. Marty Friedman, Dave
Ellefson dan Nick Menza (Friedman dan Menza bersama dua Dave adalah anggota
dari Classic Megadeth) adalah
pemegang instrumen yang Anda inginkan dalam sebuah band. Presisi, kecepatan,
dan harmoni yang mereka hasilkan membuat musik Megadeth terdengar serumit musik
jazz namun dibungkus kebrutalan musik metal. Ini pula yang menyimpulkan bahwa
secara line-up personel, Megadeth
memang masih unggul.
Namun musik
bukanlah sekadar skill. Seberapapun seringnya Hammett ‘terpeleset’ memainkan
solo gitar pada nomor-nomor ballad (sehingga
terdengar amat kentara) dan seberapapun Lars Ulrich yang memainkan drum dengan
ketukan semaunya, tidaklah menjadikan Metallica kalah kualitas dari Megadeth.
Karakter vokal
Hetfield masih sulit ditandingi vokalis band manapun. Metallica juga menelurkan
Black Album, album yang bukan hanya super sukses secara komersial, tapi juga
membantu memperkenalkan genre Metal kepada penggemar musik genre lain di
seluruh dunia. Banyak penggemar metal (termasuk saya) yang kemudian turut
mendengarkan Megadeth dan band metal lain setelah mendengarkan Black Album.
Inilah yang
menjadikan Metallica seakan lebih terdengar berkarakter dan berpengaruh,
terlepas dari nyaris sempurnanya Megadeth dalam bermusik. Vokal Hetfield,
notasi-notasi yang mereka mainkan dan keberanian mereka untuk memodifikasi
musik (walaupun banyak berkompromi dan menanggalkan akar), namun membawa mereka
pada level kesuksesan komersial yang berada sedikit di atas Megadeth.
So, who wins? I still don’t know.
Langganan:
Postingan (Atom)