Senin, 09 Maret 2015

My Nice Boss

Ini adalah cerita fiksi tentang seorang pemuda pekerja kantoran, sebut saja dia Si Gondrong. Rambutnya memang tidak gondrong lagi, karena kantor jelas tidak mengizinkannya. Tapi karena ia memanjangkan rambutnya semasa kuliah, nama ‘Gondrong’ pun sudah melekat, sekalipun ia tidak lagi gondrong.

Dengan cukuran rapi dan klimis, Gondrong kini menikmati “meja mie ayam” miliknya. Disebut meja mie ayam, karena memang tidak ada sekat seperti kubikal layaknya pekerja lain. Sebagai auditor, ia lebih banyak bekerja di kantor klien dan amat jarang di kantor sendiri. Untuk itulah, kantor hanya menyediakan meja besar dengan banyak kursi untuk para junior auditor seperti dirinya. Tidak ada tempat duduk dan nomor ekstension yang tetap, karena siapa yang datang duluan, dialah yang berhak menduduki tempatnya.

Gondrong memiliki senior-senior yang dapat dikategorikan galak dan demanding. Mbak Martina misalnya, dengan pengalamannya yang sudah lima tahun, ia jelas sudah tahu seluk beluk pembuatan laporan untuk klien-kliennya. Ketika berurusan dengan anak buahnya, ia bisa bersikap bengis seperti seorang sosiopat yang tidak memiliki empati. Tidak peduli anak buahnya sedang sakit, ada urusan keluarga, tidak peduli siang atau malam, awal pekan atau akhir pekan, mereka harus siap sedia jika dibutuhkan.

Gondrong tidak pernah sampai membawa segala tindakan senior-seniornya ke hati. Ya, mungkin karena dia cowok juga. Dia sadar bahwa senior-senior itu menjadi sedemikian demanding karena mereka pun dituntut hal yang sama oleh para Manager-nya. Dan para manager juga dituntut hal yang sama pula oleh para Partner. Dan seterusnya. Sebagai penghuni terbawah dalam ‘rantai makanan’, Gondrong pun merasa tidak ada gunanya jika ia melawan.

Kita semua hanya memainkan peran, begitu pikirnya. Di balik tampang-tampang lelah dan tertekan semua yang bekerja di gedung ini, mungkin saja mereka sama sepertinya yang juga senang bermain. Senang menghabiskan akhir pekan sambil nongkrong bersama teman-teman seperti yang kadang dilakukannya, senang berfoto selfie dan ingin dipuji seperti kakak perempuannya, senang mengoleksi batu akik seperti pamannya, dan lain-lain. Pastilah ada aspek manusia yang sebenarnya tersembunyi di balik topeng-topeng itu.

Walaupun begitu, Gondrong tetaplah ingin melakukan sesuatu yang berbeda. Ketika ia dipromosi menjadi senior, ia bertekad untuk menjadi sosok senior yang lebih berempati, lebih bersahabat. Pokoknya lebih baik ketimbang senior-senior yang selama ini memperlakukannya.

Promosi
Waktu promosi pun tiba. Gondrong telah menjadi seorang auditor senior, posisi yang menuntutnya untuk bertanggung jawab atas segala kegiatan fieldwork yang dilakukan timnya. Mewawancarai klien, meminta dan mengumpulkan data, hingga membuat draft report. Posisi yang juga membuatnya memiliki anak buah.

Gondrong membuktikan janjinya. Ia adalah sosok senior kesayangan para junior. Sosok senior yang baik, berperasaan, berempati dan malah tidak segan untuk melakukan porsi pekerjaan junior jika diperlukan. Para junior pun berebut untuk menjadi anggota timnya. Ia juga tidak pelit dan tidak hitungan soal uang. Traktir-mentraktir, mengantar dan menjemput anak buahnya bukanlah hal luar biasa baginya.

Saya berhasil, begitu pikirnya. Pekerjaan beres, anggota tim menyukainya walaupun ia jauh lebih capek karena harus sering meng-cover pekerjaan anak-anak buahnya. Karir Gondrong pun terbilang cepat. Dalam waktu dua tahun saja, ia sudah dipromosi ke level Assistant Manager, atau satu level lagi di bawah Manager, posisi middle ladder yang tentu saja menjadi impian banyak orang.

Gondrong merasa terlalu lelah bekerja sebagai auditor. Hanya beberapa bulan sebelum promosi, ia mengundurkan diri untuk bergabung dengan perusahaan lain di luar industri auditor. Ia merasa sudah cukup, dan anak-anak buahnya juga telah ia persiapkan dengan baik. Begitu pikirnya.

Tapi ternyata ia tidak sepenuhnya benar. Beberapa bulan setelah kepindahannya, terjadi sedikit kekacauan dalam pengerjaan laporan klien-klien yang ia pegang dulu. Anak-anak buah yang dipikirnya sudah mampu bekerja secara mandiri, ternyata tidak mampu menyelesaikan laporan sesuai tenggat waktu yang disepakati. Pak Joko, atasannya dulu, menghubunginya.

“Ndrong, saya cuma mau kasih tau ke kamu kalo pekerjaan salah satu klien kamu yang dulu itu, kini bermasalah. Tim kami tidak mampu menyelesaikan laporan dengan tepat waktu.”

“Waduh, saya turut sedih nih, Pak. Kira-kira, kenapa ya bisa begitu? Padahal sebelumnya tidak ada masalah.”

“Kamu tahu? Di situlah sebetulnya masalahnya. Kamu terbiasa mengerjakannya sendiri dan terlalu melonggarkan anak-anak buah kamu. Isu-isu yang besar juga kamu tangani dan pecahkan sendiri tanpa melibatkan tim. Mereka memang senang bekerja dengan atasan seperti kamu, tapi ternyata setelah kamu pergi, mereka malah kesulitan karena ternyata tidak mendapat bekal yang cukup dari kamu.”

Gondrong pun terkejut sekaligus terpana mendengar perkataan itu. Ia diam saja, tidak tahu bagaimana harus menanggapi. Segala ilmu yang telah ia pelajari dan pengalaman yang ia dapat ternyata masih belum apa-apa. Baru kali ini ia merasa telah melakukan kesalahan perhitungan. Miscalculation perihal anak buah yang ternyata berdampak sama besarnya dengan miscalculation dalam hal angka.

“Eh tapi jangan salah sangka, Ndong. Saya bukannya mau menyalahkan kamu. Gaya kepemimpinan kan memang macam-macam. Ada yang otoriter, ada juga yang seperti kamu. Saya tidak mempermasalahkan kesulitan ini, toh ini bisa terjadi pada siapa saja. Seiring waktu, mantan anak-anak buahmu akan belajar dari pengalaman mereka.”

“Toh dari situ kamu bisa belajar, dong. Besi yang ditempa dengan keras akan menghasilkan pedang yang bagus dan tajam, tapi jika menempanya kurang keras, ya gak akan jadi apa-apa. Kamu bisa sebagus ini karena dulu kamu diajari oleh senior-senior yang galak, mungkin ini yang kamu belum sadari. Nah sekarang kan kamu sudah bekerja di tempat yang baru dan punya anak buah, maka tempalah anak-anak buah kamu dengan tepat, dan sesuaikan dengan ekspektasi kamu terhadap mereka. Kamu sudah nonton film Whiplash? Kira-kira begitulah dunia yang kita hadapi. Seorang Terence Flecher pun memiliki keyakinan bahwa the next Charlie Parker won’t get discouraged. Untuk membentuk karakter yang hebat, tentu dibutuhkan tempaan yang juga kuat, walaupun boleh jadi tidak semua orang bisa memahaminya.”

Gondrong terdiam cukup lama, lalu ia kemudian merespon “Benar juga sih kalau dipikir-pikir, Pak. Mereka yang dulunya menjadi anak buah saya sampai sekarang masih suka bercerita kepada saya. Mereka menceritakan betapa enaknya bekerja di bawah tim yang saya pimpin, berbeda dengan yang sekarang. Tadinya saya pikir, itu adalah sebuah tanda keberhasilan, tapi ternyata saya salah ya.. Tapi, Pak, saya punya satu pertanyaan lagi.. Bagaimana jika anak-anak buah saya malah berbalik membenci saya akibat sikap dan tuntutan yang saya berikan. Dan bukannya malah pekerjaan saya selesai, malahan jadi berantakan karena mereka tidak mau mengerjakan?”

“Memang tidak ada jalan yang mudah. Jika kamu ingin men-develop orang lain, hanya itu yang bisa dilakukan. Kecuali jika kamu hanya ingin memelihara para deadwood dan rela mendengarkan keluh kesah mereka terhadap segala sesuatu yang bahkan tidak perlu dikeluhkan. Dan bukannya saya memintamu untuk berhenti jadi orang baik, tapi kamu juga perlu memikirkan bahwa segala kelonggaran dan pemakluman yang telah kamu berikan kepada anak-anak buah kamu, akan berimbas pula pada atasan-atasan mereka yang menggantikan kamu. Mereka akan terus membanding-bandingkannya dengan kamu. Tentu saja hal ini akan membebani mereka. Saya bukannya menyarankan kamu untuk berubah dengan drastis, karena itu pasti sulit. Kamu hanya perlu untuk sesekali menjadi lebih keras, dan tentunya pada tempatnya. Tidak perlu memaki, misalnya. Cukup meninggikan sedikit nada suara dan memasang mimik wajah yang lebih serius dari biasanya, pasti mereka akan mengerti. Karena pada dasarnya, bawahan itu akan menuruti atasan, kok.”

“Tapi pak.. Benar-benar pertanyaan terakhir nih.. Kan memang tidak semua orang bisa di-develop. Dan tidak semua orang juga yang mau di-develop, bukan?”

“Ya, kamu benar. Tidak semua orang memiliki ambisi, sebagian hanya ingin ikut arus dan selamat. Itu juga tidak sepenuhnya salah. Hidup memang tidak sekadar di kantor, bukan?”

“Saya mengerti, Pak. Terima kasih atas waktunya. Terima kasih atas percakapan telepon ini.”

“Sama-sama. Oke, saya mau meeting dulu nih. Sampai ketemu lagi ya!”

Jumat, 06 Maret 2015

Terbulity dan Martabucks

Lima sahabat duduk dalam sebuah rumah sederhana di kota Surabaya. Mereka memiliki kesamaan dalam selera kuliner, yaitu sama-sama penggemar martabak. Untuk mewadahi hobi ini, mereka berembuk untuk membuat gerai martabak. Ini adalah pembicaraan yang sudah puluhan kali dilakukan. Setelah sedari dulu mereka hanya berkumpul untuk bermain atau bersenda gurau, kini mereka berniat melakukan sesuatu yang lebih serius. Bukan tanpa resiko, karena jangankan pertemanan, ikatan keluarga saja bisa bubar jalan jika terjadi persengketaan dalam hal duit. Tapi mereka sudah berkomitmen, apapun yang terjadi nantinya, persahabatan akan tetap dijaga.

Semuanya telah disiapkan, tinggal eksekusi.

Mereka langsung membuka dua toko, di Surabaya sebagai induk, dan di Jakarta sebagai cabang. Toko ini diberi nama Terbulity, alias Terang bulan dengan quality, atau kwaliteit, atau kualitas. Dua dari mereka hijrah ke Jakarta untuk membuka gerai di ibukota. Sementara tiga lainnya mengelola cabang Surabaya.

Bisnis berjalan lancar. Tidak bombastis memang, tapi tidak juga terlalu sepi. Martabak yang mereka jual memang menggunakan bahan-bahan dengan mutu terbaik terbaik dan tentu saja berukuran besar, menjadikan pengalaman tersendiri dalam memakannya. 

Suatu hari di cabang Jakarta datanglah seorang pebisnis, sebut saja dia Pak Teddy. Pak Teddy ini terkesan dengan rasa martabak mereka.

Pak Teddy lalu mengutarakan keinginan untuk jadi pelanggan tetap dan berkomitmen membeli dalam jumlah besar untuk penyediaan snack di kantornya. Tapi dia juga meminta Terbulity membuat varian baru dan ukuran-ukuran yang lebih kecil. 

Sementara itu, gerai Terbulity di Surabaya berjalan seperti biasa. Dari usaha ini, mereka menjalin keakraban dengan pelanggan-pelanggan. Ada lima orang pelanggan tetap ini. Mereka datang dari berbagai profesi. Ada pegawai swasta, pemilik toko kelontong, penerjemah, pemandu wisata, hingga pegawai negeri.

Lima sekawan ini seketika menjadi akrab satu sama lain saking seringnya mereka membeli martabak nikmat Terbulity. Mereka terkesan dengan prinsip gerai martabak baru ini yang terbuat dari bahan-bahan berkualitas berukuran besar namun harganya lebih murah. Mereka tipe orang yang amat memerhatikan dua hal ini. Karena rasa adalah segalanya dan size does matter bigger is better.

Lama kelamaan, lima sekawan ini sudah diajarkan cara mengaduk, membentuk dan membalik-balik adonan di kuali, memotong dengan rapi, hingga mengemas dengan menarik. Bahkan resep dalam adonan pun mereka kini sudah tahu. Dengan begitu, terang saja mereka merasa sudah ikut memiliki toko. Lima sekawan ini pun mulai dilibatkan dalam pengambilan keputusan, strategi pemasaran, dan lain-lain.

Ketika toko Jakarta menjual martabak dengan ukuran lebih kecil dan rasa yang lebih variatif -yang banyak menghasilkan laba- mereka ikut bersuara. Mereka tidak setuju karena toko ini jadi berubah haluan sebagai pencari untung semata.

Perbedaan pendapat mewarnai jalannya toko Surabaya dan Jakarta. Toko Jakarta pun meradang, merasa dilangkahi dan tidak dianggap. Terlebih, memasukkan 'orang luar' tanpa persetujuan adalah sebuah bentuk pelanggaran komitmen.

Pada akhirnya, mereka pecah kongsi karena tidak kunjung menemukan pemecahan masalah. Gerai Jakarta pun menjual martabak dengan varian lebih banyak, sementara gerai Surabaya tetap menjual martabak berkualitas tinggi dan berukuran besar seperti sebelumnya. Mereka yang di Jakarta kemudian mengganti nama gerai Terbulity mereka dengan nama yang lebih mengena untuk orang-orang ibukta: Martabucks.


Sekarang, baik Terbulity maupun Martabucks berjalan sendiri-sendiri. 

Selasa, 03 Februari 2015

Tahun Redam

“Solitude is the place of purification.”

Sebuah quote pendek dari Martin Buber, seorang rabi yang dengan mudah bisa Anda cari di google ini sepertinya menjadi kalimat yang saya pegang belakangan ini. Sebuah pernyataan yang dapat menunjukkan keinginan untuk kembali ‘murni’, atau jika terlalu membebani: memulihkan jiwa.

Entah mengapa, sepanjang tahun 2014 lalu, saya merasakan ‘bising’ yang amat sangat. Bising berupa tenggat waktu yang mencekik, perdebatan-perdebatan tak berjung, target-target yang sulit, juga acara-acara berkumpul dengan pembahasan topik yang amat berat. Setelah melalui semua itu, saya lega. Tapi tidak bahagia. Saya merasa kehilangan cermin diri, kehilangan waktu untuk merenung, kehilangan waktu untuk sendirian.

Saya memang sering menyediakan waktu untuk sendirian setiap hari. Ketika semua sudah tidur, saya biasanya melakukan kegiatan apa saja yang bisa saya nikmati sendirian. Tapi sepanjang tahun lalu, kegiatan yang saya lakukan pun ternyata untuk orang lain, bukan untuk diri sendiri.

Setelah menyadari hal ini, saya langsung berpikir untuk menjadikan tahun ini sebagai ‘tahun redam’. Tahun untuk lebih banyak berdiam diri, dalam artian positif, dan juga untuk lebih banyak mendengar dan mencerna, ketimbang melakukan aksi nyata.

Wujud dari hal ini, orang-orang akan melihat versi lebih diam dari saya yang sudah dikenal pendiam. Tidak usah dibayangkan, karena toh akan tercermin dari keseharian saya. Saya akan lebih jarang menelpon dan mengobrol, lebih jarang berbalas pesan, dan juga lebih jarang untuk berinteraksi di media sosial atau di group chat.

Saya juga ingin menahan diri untuk berkomentar mengenai hal-hal yang tidak perlu dikomentari, ambil pusing terhadap hal-hal yang tidak perlu dipusingkan, atau mempermasalahkan sesuatu yang sebetulnya tidak ada. Tidak perlu juga membicarakan dan memusingkan perilaku orang lain.

Saya ingin membuat hidup saya lebih sederhana.

Memang, saya tidak mungkin berdiam diri di gua seperti yang dilakukan para sufi, atau melakukan solo travelling untuk mencari tahu makna kehidupan seperti yang dilakukan para backpacker. Tanggung jawab yang saya miliki sebagai kepala keluarga sekaligus sebagai karyawan perusahaan tidak memungkinkan untuk melakukan itu.

Tapi yang pasti, saya akan lebih memilah-milah segala aktivitas yang akan saya lakukan, memilah-milah acara yang harus dihadiri, bahkan untuk tahap yang lebih besar lagi, memilah-milah apa yang saya konsumsi setiap harinya. Ada hal positif yang terjadi, yaitu saya kini menjadi tidak sekonsumtif biasanya. Saya kini sudah bisa meredam berbagai keinginan akan hal-hal yang sebenarnya tidak dibutuhkan.

Mungkin akan terlihat aneh bagi orang-orang sekitar, tapi ternyata setelah menjalaninya selama beberapa bulan terakhir, saya merasa lebih tenang. Dan ternyata saya juga baru menemukan bahwa kebahagiaan buat saya adalah ketenangan. Tidak bising, tidak berisik. Inilah hal yang saya rasa telah lama hilang. Dan saya senang karena telah menemukannya kembali.

Bukan pula berarti saya tidak akan bersedih jika seharusnya bersedih, gembira jika seharusnya gembira, atau marah jika seharusnya marah. Saya tidak bilang tentang menjadi robot tak berperasaan. Hanya saja, segala ekspresi dan emosi itu ingin saya tata lebih baik, sehingga dapat dikeluarkan dengan proper, tidak berlebihan, dan yang paling penting: pada tempatnya.

Kamis, 01 Januari 2015

Apalah Arti Sebuah Refleksi Akhir Tahun

Apa yang menarik dari sebuah refleksi akhir tahun? Jika hanya membicarakan betapa suksesnya kita, atau sebaliknya betapa merananya kita, tentu hanya akan terdengar norak dan klise. Jika hanya menuliskan catatan kilas balik peristiwa penting bulan per bulan, akan terlihat membosankan.

Tapi memang tidak bisa dipungkiri, tahun 2014 ini buat gue adalah tahun yang teramat berwarna untuk dibiarkan berlalu begitu saja. Gue akan mencatat refleksi ini se-simple mungkin.

1. Rumah Sakit
Tahun 2014, beberapa anggota keluarga dekat –bahkan keluarga inti- jatuh sakit. Sakit yang bukan sembarang sakit, tapi sampai harus menjalani perawatan. Menunggui anggota keluarga yang terbaring lemah di rumah sakit bukanlah hal menyenangkan. Entah berapa kali gue mengunjungi rumah sakit tahun ini, walaupun beberapa di antaranya adalah momen bahagia yaitu kelahiran anak kedua.

Saat orang terdekat terbaring sakit, kita menjadi lebih bijak dalam bersikap. Klise memang, tapi orang paling keji di dunia pun akan lebih memilih mendoakan anggota keluarganya yang sedang sakit ketimbang mempermasalahkan hal lain. Momen ini pula yang mendekatkan kita dengan keluarga, setelah biasanya kita melupakan mereka dalam keseharian.

Di rumah sakit pula, konon lebih banyak doa yang dipanjatkan dengan tulus ketimbang di rumah ibadah.
      
      2. Buku
Tak pernah terpikirkan sebelumnya bahwa tulisan-tulisan sepak bola gue akan berakhir dalam bentuk buku. Bukanlah buku ilmiah yang kaya pengetahuan dan kaya akan data, bukan pula buku yang mengisahkan pengalaman nyata. Menulisnya pun ramai-ramai, bukan tulisan gue seorang. Bagaimanapun respon atau berapapun angka penjualan, gue juga gak ambil pusing.

Tapi ada perasaan yang gak bisa dijelaskan ketika melihat nama terpampang di toko buku besar, dan ini seakan membuat segala kerja keras bernilai. Bisa dibilang, ini adalah salah satu pencapaian paling mengesankan selama tahun 2014. Sebuah legacy dan portofolio yang nyata, dan mungkin saja ini adalah yang pertama dan terakhir.

Oh iya, dari menulis buku pula terjadi pengalaman-pengalaman seru lainnya, seperti siaran radio.

‘Mas, kalo lagi siaran radio tuh ngomong, jangan ngangguk atau geleng’ begitulah petuah dari sang announcer kocak yang gue lupa namanya.

      3.      Pajak
Kapan gue pernah suka sama pajak? Tidak pernah. Kuliah di jurusan pajak pun bukan keinginan, melainkan karena kebetulan. Selama kuliah, gue juga gak pernah dapat IPK yang memuaskan.

Tapi entah kenapa, pajak membawa rejeki. It pays all my bills. Selama delapan tahun kerja, selalu di bidang ini. Dari menjadi konsultan, hingga kini bekerja di sebuah perusahaan.

Khusus untuk tahun ini, sebuah lompatan besar terjadi. Buat orang yang gak passionate, ini tentu saja sebuah gift yang teramat cantik. Tapi gue gak menganggapnya sebagai hadiah, ini lebih kepada amanat. Dan yang namanya amanat, tentu harus diemban dengan sungguh-sungguh. Inilah sebabnya mengapa gue bilang bahwa buku yang gue terbitkan tadi mungkin menjadi yang pertama sekaligus terakhir. Amanah ini akan memaksa gue untuk mengerahkan fokus lebih dari seratus persen, dan sejenak melupakan yang lain.

Fokus. Ini adalah kata kuncinya. If you chase two rabbits, you will lose them all.

      4.      Teman
Gue sempat mengenal beberapa orang yang membuat kagum. Kagum akan pengetahuan dan cara hidup mereka. Tapi sayangnya, gue juga melihat orang-orang yang sama berubah menjadi sosok-sosok yang tak terbayangkan sebelumnya. I thought I knew you, but I didn’t.

Gue gak akan membeberkan pendapat gue, apalagi mengonfrontir. Gue akan diam saja sembari berharap hidup akan mengajarkan mereka. Secarik kertas yang pernah diremas memang tidak akan pernah bisa kembali licin seperti bentuk sebelumnya. Walaupun kita seterika sekalipun supaya kembali licin.

Begitulah dahsyatnya kata-kata. Untuk itu, gue akan lebih berhati-hati lagi menggunakannya. Dan karena alasan itu, gue banyak memilih diam. Diam adalah cara gue untuk menyelesaikan masalah, dengan waktu sebagai perantara. Tidak semua hal perlu dibicarakan, dan beberapa hal memang lebih baik jika didiamkan saja.

Bagaimanapun, you’ll get something when you lose something.

Sebuah ‘klub’ istimewa berhasil terbentuk, yang gue namakan sendiri sebagai The Breakfast Club. Bukan klub yang gimana-gimana sih, hanya kumpulan bapak-bapak berusia 30 tahunan dengan segala cerita glorifikasi dan melankolia midlife crisis yang sedang dijalani.
  
      5.      Musik
Menonton konser adalah sebuah kegiatan yang cukup paripurna bagi penggemar musik. Selain bisa melihat sang artis dari dekat, euforia akan sound yang dahsyat menghujam, performa mengagumkan dari para personel dan bagaimana lelahnya mengantre lalu berjingkrak selama berjam-jam menjadikan kegiatan nonton konser musik sebagai pengalaman tersendiri.

Karena alasan itu pula, gue gak mau menonton konser musik yang artis atau genre-nya bukan favorit. Bikin capek badan aja, apalagi buat bapak-bapak kantoran kaya gini. Untuk tahun 2014, terima kasih kepada seorang kolega yang mengajak nonton konser Dream Theater!
***
Lebih dari itu semua, tahun 2014 menghadirkan satu pelajaran penting: ‘Family comes first’.

Senin, 25 Agustus 2014

Setelah Elvis dan Beatles, Lalu Sekarang Apa?

Semalam, saya yang sudah cukup mengantuk menyempatkan diri untuk menonton sebuah talkshow di sebuah stasiun tv. Kebetulan, para bintang tamu yang hadir yaitu para vokalis band dari era 90an, menarik perhatian saya untuk menonton.

Pembicaraan antara host dengan narasumber awalnya berlangsung agak text book. Tapi lama kelamaan, para narasumber dengan pengetahuannya yang mumpuni di bidang musik memberi saya pengetahuan baru yang cukup menggelitik. Menggelitik untuk pertanyaan sesuai dengan judul entri tulisan ini.

Sebelum era sekarang, dunia musik seolah terbagi menjadi dua periode besar.Periode pertama adalah periode pertunjukan di mana gedung pertunjukan musik kerap dipenuhi penonton yang ingin menyaksikan sebuah konser musik. Pada masa itu, konser musik sudah berpadu dengan dunia pertunjukan sehingga hal-hal teknis semacam lighting, backing vocal, koreo dan sejenisnya juga sudah digarap –layaknya sebuah pertunjukan spektakuler.

Namun pertunjukan itu menampilkan seorang artis yang memainkan lagu orang lain, bukan lagunya sendiri. Elvis Presley yang notabene menjadi artis paling terkenal saat itu tidaklah memainkan lagunya sendiri, melainkan lagu yang orang lain tulis untuknya. Elvis, bagaimanapun tetaplah seorang musisi besar.Ia bernyanyi dan bermain gitar sama bagusnya, dan tentunya tampil di panggung dengan penuh kharisma. Ia adalah ikon saat itu. Elvis menandai sebuah era.

Setelah era Elvis berlalu, muncullah sekelompok pemuda dari Liverpool, Inggris yang kemudian membentuk sebuah band bernama The Beatles. Bedanya dengan Elvis, mereka menuliskan lagunya sendiri. Lirik, melodi, harmoni, ekspresi, hingga pembagian vokal juga mereka garap.Alih-alih meminta bantuan sekelompok penyanyi untuk menjadi backing vocal, mereka –seperti telah disinggung- membagi-bagi part vokal dalam lagu-lagu mereka. Jadilah sebuah band yang menampilkan lagu mereka sendiri, lalu menggabungkannya dengan unsur pertunjukan.

Apa yang dilakukan oleh The Beatles saat itu ternyata disukai oleh publik. Hal ini lantas menjadi sebuah revolusi di industri musik. The Beatles kemudian seperti kita ketahui memberi pengaruh kepada nyaris seluruh musisi pop setelahnya. Nada, notasi dan pola dari lagu-lagu pop maupun rock yang kita dengar sekarang bisa dibilang terinsipirasi dari Paul McCartney dkk.

Kemudian, band-band maupun penyanyi-penyanyi setelah Beatles yang mengembangkan apa yang dimulai. Pada era 70an, para musisi dengan bakat-bakat luar biasa kemudian menciptakan tehnik-tehnik baru sesuai dengan instrumen yang mereka kuasai, lalu menciptakan standar bahwa seperti inilah musik harus digarap. Lagu demi lagu diproduksi dengan amat serius, penuh cita rasa dan ekspresi yang maksimal.

Tehnik bernyanyi, mencipta lagu, kostum dan lainnya kemudian semakin dieksplorasi.Skill dan taste dari para musisi menjadikan lagu-lagu semakin variatif. Musik kemudian berkembang di bawah naungan industri kapitalis yang makin menyebarkan pengaruh ini ke seluruh dunia. Dari sekadar kegiatan bernyanyi di kamar mandi hingga menjadi industri yang amat masif. Musik pun bukan hanya sekadar trend, pertunjukan atau ekspresi semata, melainkan sudah menjadi gaya hidup dan budaya.

Kini adalah masa di mana penikmat musik (dan musisi?) seperti lelah untuk menggarap musik dengan level keseriusan dan kesempurnaan seperti generasi 70an atau 80an. Industri musik pun seperti turut mengamini bahwa pasar telah jenuh dengan musik-musik yang ‘berat’. Musik-musik yang lebih sederhana tidak masalah selama lirik yang dinyanyikan mudah diingat dan dipahami, juga para artisnya berpenampilan menarik.

Seakan sejalan dengan budaya instan dan serba cepat, kebanyakan orang juga tidak ambil pusing dengan kualitas lagu. (Mungkin) mereka kini mendengarkan lagu di tengah aktivitas yang mereka lakukan, jadi ya asalkan lagu-lagu tersebut membangkitkan mood untuk bekerja, ya tidak jadi soal. Lagu-lagu maupun musisi-musisi tersebut begitu mudahnya timbul semudah mereka tenggelam.

Dengan segala fenomena ini, industri musik kemudian memasuki era baru yang somehow ya seperti yang kita dengar selama ini.

Minggu, 03 Agustus 2014

Jadi, Metallica atau Megadeth?

Membanding-bandingkan adalah salah satu pekerjaan favorit manusia. Apple dengan Samsung (terlepas dengan adanya istilah apple to apple), Maradona dengan Pele (terlepas dari mereka berdua berbeda generasi), Jupe dengan DePe (terlepas dari.. ah sudahlah) dan lainnya. Alasan pun dicari-cari. Perselisihan sepele pun diangkat habis-habisan seolah kedua subjek memang seperti air dengan minyak yang tidak pernah bisa bersatu. Makin ribut, makin asik.

Namun di antara pembandingan-pembandingan yang ada, saya lebih suka melihat bagaimana orang-orang membandingkan dua band metal ternama, Metallica dan Megadeth (yang bukan penikmat musik mereka feel free to navigate away) yang seakan gak ada habisnya. Kebetulan, dua band ini hidup di era yang sama, juga menghasilkan karya-karya dengan produktivitas dan kadar kesuksesan finansial yang kurang lebih sama pula terlepas dari pasang surut yang mereka alami.

Saya tidak ingin menjadi orang ke-1233556789876543 yang turut membandingkan mereka. Menurut saya karena faktor seorang Dave Mustaine-lah kedua band ini terus dibanding-bandingkan. Seperti kita tahu, Mustaine yang notabene pendiri Megadeth adalah mantan gitaris Metallica yang pemecatannya diwarnai kontroversi. Kini Megadeth (Mustaine) dan Metallica nampak sudah akur, atau mungkin saja merasa sudah terlalu tua untuk terus berantem dan ngambek-ngambekan.

Dua band ini adalah alasan mengapa saya bisa mengapresiasi musik metal yang bising, berisik, brutal dan (kalau kata seorang teman) biadab. Cerita perkenalan saya dengan genre inipun cukup unik. Saya yang hingga berusia 15 tahun tidak pernah dengerin musik metal tiba-tiba merasakan adanya sensasi aneh saat pertama kali mendengarkan nomor ballad Metallica semacam The Unforgiven dan lagu-lagu metal nge-rock yang terdapat di album metal sejuta umat, Black Album. Dari sinilah lalu berlanjut ke pencarian pada Megadeth di mana saya kemudian menemukan lagu Trust pada album Crypticwritings.

Dua lagu tadi menjadi gerbang perkenalan saya dengan album-album mereka yang lain, meskipun hingga kini saya masih tidak hapal sebagian besar lagu-lagu mereka. Yah, mungkin saya hanya hapal 30-50% lagu-lagu mereka, itupun yang memang sering dibawakan saat mereka konser. Saya bukanlah penggemar sejati musik metal jika mengacu pada kuantitas menyimak album dari dua band ini, terlebih saya tidak mendengarkan band metal lain selain mereka.

Anyway, Metallica dan Megadeth mungkin benar bising, berisik, brutal dan mungkin saja biadab. Tapi saya telah mencapai tahap untuk bisa menilai bahwa kedua band ini memainkan musik yang berkelas, susah ditiru, dan tentu saja susah untuk diminati oleh para penggila musik easy listening. “Mainin lagu yang santai aja-lah, jangan yang bikin sakit kuping,” demikian kutipan yang saya ingat dari seorang vokalis band pop dalam wawancaranya di sebuah majalah remaja seolah menganggap musik metal adalah musik yang tidak enak didengar.

Musik metal juga kerap digenerelisasi sebagai pembawa pengaruh buruk. Mereka dikatakan mengajarkan kekerasan, satanis dan anti ketuhanan. Lirik-liriknya juga kerap bertema ajakan bunuh diri maupun pemujaan terhadap hal-hal yang dianggap tidak pantas. Musik yang enggak banget.

Namun tidak sedikit pula pembelaan yang pernah saya dengar.

“Musik metal buat sebagian orang mungkin hanya musik yang berisik, tapi buat saya musik metal adalah musik yang paling pol dalam penyaluran ekspresi,” ujar salah satu gitaris cewek metal yang saya lupa namanya.

“Untuk mengerti musik metal memang diperlukan intelegensi. Kecepatan dan kerumitan memang gak semua orang bisa ngikutin,” tutur salah seorang random person yang saya temui pada konser Megadeth di Jakarta tahun 2007 lalu.

Metallica dan Megadeth adalah band cadas dengan intelegensi tinggi. Tidak sekadar memainkan musik cepat dan teriak-teriak gak jelas, sebaliknya mereka mengusung standar tinggi dalam penggarapan album maupun konser. Tidak ada lip-sync performance seperti artis-artis acara musik pagi dengan penjoget cuci-jemur, tidak ada chord dan rhythm section sederhana dan ketukan konstan menjemukan.

Bagaimana dengan sisi melodi? Well, dua band ini adalah band cadas yang mungkin paling melodik, soulful dan memiliki ciri khas. Notasi yang diambil Metallica mungkin banyak didominasi kord E mayor dengan variasi di sekitarnya, ataupun A minor. Nuansa gelap, getir dan artikulasi yang jelas dan berat menjadi ciri khas James Hetfield, sang frontman Metallica. Sementara Dave Mustaine yang menjadi leader sekaligus songwriter Megadeth memiliki warna vokal yang lebih crunchy dengan artikulasi yang kadang sulit diinterpretasi. Lagu-lagu yang dihasilkan juga sebetulnya berbeda, meskipun banyak yang bilang mirip.

Untuk urusan harmonisasi, Megadeth menurut saya masih lebih unggul. Marty Friedman, Dave Ellefson dan Nick Menza (Friedman dan Menza bersama dua Dave adalah anggota dari Classic Megadeth) adalah pemegang instrumen yang Anda inginkan dalam sebuah band. Presisi, kecepatan, dan harmoni yang mereka hasilkan membuat musik Megadeth terdengar serumit musik jazz namun dibungkus kebrutalan musik metal. Ini pula yang menyimpulkan bahwa secara line-up personel, Megadeth memang masih unggul.

Namun musik bukanlah sekadar skill. Seberapapun seringnya Hammett ‘terpeleset’ memainkan solo gitar pada nomor-nomor ballad (sehingga terdengar amat kentara) dan seberapapun Lars Ulrich yang memainkan drum dengan ketukan semaunya, tidaklah menjadikan Metallica kalah kualitas dari Megadeth.

Karakter vokal Hetfield masih sulit ditandingi vokalis band manapun. Metallica juga menelurkan Black Album, album yang bukan hanya super sukses secara komersial, tapi juga membantu memperkenalkan genre Metal kepada penggemar musik genre lain di seluruh dunia. Banyak penggemar metal (termasuk saya) yang kemudian turut mendengarkan Megadeth dan band metal lain setelah mendengarkan Black Album.

Inilah yang menjadikan Metallica seakan lebih terdengar berkarakter dan berpengaruh, terlepas dari nyaris sempurnanya Megadeth dalam bermusik. Vokal Hetfield, notasi-notasi yang mereka mainkan dan keberanian mereka untuk memodifikasi musik (walaupun banyak berkompromi dan menanggalkan akar), namun membawa mereka pada level kesuksesan komersial yang berada sedikit di atas Megadeth.


So, who wins? I still don’t know.

Kamis, 29 Mei 2014

Penggalan Lirik Lagu Favorit

Langsung aja, tanpa basa-basi, berikut beberapa potongan lirik lagu yang gue kagumi:

Dumb by Nirvana
Kurt Cobain memang jenius. Ia menertawakan dan mempersetankan segala kemalangan yang terjadi kepadanya, termasuk saat dengan entengnya ia berkata punya lem jika hatinya patah. Sebuah puisi satir yang mengagumkan.

“I think I'm dumb
Or maybe just happy
Think I'm just happy
My heart is broken
But I have some glue
Help me inhale”

Hal buruk memang kerap terjadi. Shit happens. Tapi kita sendirilah yang sebetulnya menentukan bagaimana dampaknya untuk kehidupan. Dan Cobain mengatasinya dengan kepura-puraan. Pura-pura tidak sakit, pura-pura tidak peduli, daripada terlalu tenggelam dalam kegalauan tak jelas. Pura-pura aja, lama-lama juga terbiasa dan bangkit lagi. Dan pada akhirnya, dia mengakui bahwa being dumb itu gak selalu buruk. Menjadi satir memang tidak selalu jelek, bukan?

"I'm not like them
But I can pretend
The sun is gone
But I have a light
The day is done
But I'm having fun”

Spirit of Radio by Rush
“Begin the day with a friendly voice
A companion, unobtrusive
Plays that song that's so elusive
And the magic music makes your morning mood”

Ini adalah bait pembuka dalam lagu mahakarya ciptaan Geddy Lee dan kawan-kawan. Suara cempreng Lee berpadu dengan permainan gitar skillful John Rutsey dan ketukan drum ajaib Neil Peart menjadikan band ini sebagai panutan berbagai band lainnya yang memainkan progressive rock. Sebagai salah satu suhu dalam genre ini, Rush jelas memiliki sesuatu untuk dikatakan soal industri musik, yang semakin lama semakin menggerus integritas dan kemurnian demi komersialisasi.

“One likes to believe in the freedom of music
But glittering prizes and endless compromises
Shatter the illusion of integrity”

Ya sudahlah, berbicara soal industri, memang benar adanya jika industri bergerak mengikuti pasar. Angka penjualan adalah segalanya, karena dari perspektif mereka sendiri inilah cara untuk survive. Dinding studio musik dan tempat konser yang berdebum akan kalah keras dengan suara para salesmen. Penggambaran yang brilian.

“For the words of the profits are written on the studio wall, Concert hall.
Echoes with the sounds, of salesmen”

Champagne Supernova by Oasis
Noel Gallagher pernah bilang kalo lagu ini gak punya makna yang spesifik, tergantung bagaimana kita saja yang mengartikannya. Ya, mungkin aja Noel emang bikin lagu ini sambil “high”.

"How many special people change? 
How many lives are living strange? 
Where were you while we were getting high?
Slowly walking down the hall 
Faster than a cannonball 
Where were you while we were getting high? 
Someday you will find me 
Caught beneath the landslide 
In a champagne supernova in the sky” 

Entah kenapa gue lebih milih untuk mengartikannya sebagai melankolia persahabatan. Kehilangan sosok teman dan sahabat, yang jarang bertemu karena kesibukan. “How many special people change / how many lives are living strange,” tidak lebih adalah perasaan kehilangan melihat sosok sahabat spesialnya telah berubah menjadi orang asing. Lagi-lagi barisan kata-kata metafor yang keren.

Walk by Foo Fighters
Gue selalu suka lirik optimis yang penuh pengharapan (meski agak klise), seperti lagu ini contohnya.
A million miles away your signal in the distance
To whom it may concern
I think I lost my way getting good at starting over
Every time that I return

Learning to walk again
I believe I've waited long enough where do I begin?
Learning to talk again
Can't you see I've waited long enough? Where do I begin?"

Lirik ini menggambarkan sebuah kegagalan, entah hubungan atau apapun. Tapi orang ini siap untuk memulai lagi dari awal. “Learning to walk again. Can’t you see I’ve waited long enough? Where do I begin?” Kalo kita ngeliat videoklipnya, terpampang jelas apa yang membuat Dave Grohl muak dan penat. Lihat aja deretan nama artis mainstream yang terpampang gamblang di situ.

Washington is Next! by Megadeth
Ketertarikan Dave Mustaine pada politik memang bukan rahasia lagi. Dalam beberapa lagu Megadeth seperti Peace Sells, but who’s buying, Holy Wars atau The World Needs a hero sudah dijelaskan kemuakan Mustaine pada dunia yang kerap mempermasalahkan perbedaan sekecil apapun, dan dijadikannya alasan untuk berperang. Di lagu Washington is Next ini, Mustaine lebih gamblang lagi menyuarakan pemikirannya.

“The quiet war has begun with silent weapons
And the new slavery is to keep the people poor and stupid; "Novus Ordo Seclorum"
 How can there be any logic in biological war?
We all know this is wrong, but the New World Order's Beating down the door
Oh, something needs to be done”

Dan di bait ini, Mustaine betul-betul memperlihatkan siapakah new pharaoh wanna be. Sudahlah, ini sudah menjelaskan semuanya.

“The word predicts the future and tells the truth about the past
Of how the world leaders will hail the new Pharaoh
The eighth false king to the throne
Washington is next!”

Itulah lirik-lirik keren versi gue sendiri. Sebenernya masih banyak lagi sih, tapi ini aja dulu. Gue gak punya lirik love song favorit sih, karena mereka sebetulnya sama aja, kalo gak obsesif ya masokis.