Rabu, 22 Mei 2013

My 20 silly things


“A simple things, where have you gone.” Begitulah potongan lirik lagu band Keane yang sangat banyak di-quote oleh orang-orang yang hidupnya mendadak sangat tertekan, entah karena fenomena puber atau karena sudah mulai mengalami mildlife crisis.

Hidup makin susah, ngapain juga serius-serius amat. Enjoy little things dan berbuat badung kadan-kadang boleh lah. Dengan demikian, saya coba mengingat-ingat hal-hal konyol yang pernah saya alami atau lakukan bersama teman-teman. Hal yang hanya bisa terjadi di masa lalu, hanya bisa ditertawakan di masa kini dan kemungkinan besar tidak bisa diulangi di masa depan.

1. Saya pernah mencuri singkong bersama teman-teman, dan lari terbirit-birit ketika kepergok.
2. Saya pernah mem-bully lawan tanding sepak bola yang songong dengan mengincar kepala si penjaga gawang. Berhasil karena wajahnya memerah akibat tendangan-tendangan saya. Setelah pertandingan selesai, kami nyaris berkelahi.
3. Saya pernah memecahkan lampu lapangan bola karena menabrak tiangnya, lalu karena teman-teman saya kabur, saya ikut kabur.
4. Saya pernah menjahili orang yang lewat depan rumah dengan memasang jebakan benang, jebakan lubang atau menyemprot wajah orang itu dengan semprotan air berbentuk suntikan.
5. Ketika manggung di sebuah acara, teman saya dengan telak salah memencet kunci gitar. Harusnya kunci A, dia memencet A minor. Dan itu bunyinya sangat santer terdengar. Sebagian penonton yang sepertinya mengerti lagu yang kami mainkan, wajahnya berubah bingung.
6. Ketika sedang berlatih di studio musik, saya pernah menyuruh teman saya untuk mencoba menggunakan Bass dengan 5 senar, karena 4 senar sudah biasa. Ketika mengetesnya, ia dengan percaya diri berbicara memakai mikrofon. “Oi, ini kok gak nyetem ya senarnya yang paling atas.” Lalu dijawab oleh teman saya yang lain (juga dengan mikrofon) “Kalo senar bass, senar 5 itu kunci dasarnya B, bukan E.” Seketika wajah teman saya merah padam sementara operator studio tertawa cekikikan.
7. Saya pernah menyuruh teman saya menyembunyikan sepeda teman saya yang lain, yang sedang berulang tahun. Ketika hendak pulang, ia mencari-cari sepedanya hingga matanya berkaca-kaca. Saya dan teman-teman menyembunyikan sepedanya dibalik sebuah pohon besar.
8. Saya pernah membentak teman saya yang malas berlatih sepak bola. Ketika itu, saya menghukumnya dengan menyuruhnya berlari dua putaran keliling komplek. Sementara teman saya yang lain mengawasi dengan sepeda.
9. Ketika sedang balap lari (balap lari biasa, bukan lomba), teman saya mendahului saya. Tidak terima, saya menjatuhkan badan ke punggungnya, lalu mendorongnya. Ia terjatuh dan saya menang. Tapi sesudah itu kakaknya yang perempuan mendatangi saya lalu mengomel tanpa henti.
10. Ketika bermain dirumah teman saya yang ibunya galak, saya sengaja menyembunyikan telur-telur ayam negeri miliknya. Saya pindahkan dari kulkas ke mesin cosmos penyimpan beras karena kesal. Lalu saya pulang.
11. Saya pernah naik angkot, lalu turun tanpa membayar. Masih belum mengerti kalo naik angkot itu bayar.
12. Saya pernah menonton 6 pertandingan sepak bola secara marathon. Dari jam 7 malam hingga 5 pagi.
13. Saya pernah mendengarkan 1 lagu berulang-ulang selama 6 jam, seperjalanan kereta api Jakarta-Semarang.
14. Saya pernah dihukum gara-gara tidak pernah mengerjakan latihan soal. Guru saya membentak. “Keluar! Kamu renungkan kesalahan kamu!” Bukannya merenung, saya malah main bola di lapangan.
15. Saya pernah menembaki ayam tetangga dengan pistol mainan yang pelurunya terbuat dari plastik.
16. Saya pernah bolos les pelajaran hanya untuk bermain sepak bola, saya selundupkan perlengkapan di tas sehingga tas saya sangat berat.
17. Saya pernah komporin teman agar putusin pacarnya. “lo mau pilih cewek atau sepak bola?” Tegas saya waktu itu karena kesal dengan kelakuan teman saya yang sering bolos latihan.
18. Saya pernah tidak mencukur rambut selama 4 tahun. Rambut saya yang keriting itu kemudian menghalangi pandangan teman-teman saya kepada papan tulis di kelas. Akibatnya, saya selalu duduk di bangku paling belakang bersama anak-anak bandel.
19. Saya sering meledek pengirim SMS mama minta pulsa atau penelpon yang menyebutkan kerabat dekat sedang sakit keras. Ledekan yang benar-benar membuat mereka marah.
20.  “Labil” adalah nama tengah saya jika menyangkut urusan percintaan. Saya bisa berubah sikap dan pendirian lebih cepat daripada Kotaro Minami berubah menjadi Satria Baja Hitam.

Rabu, 15 Mei 2013

Semoga Rock Tidak Mati

Dalam beberapa hal di dunia ini, saya merasa sendiri. Tidak mainstream, tidak seperti orang kebanyakan. Ya sebut saja saya tidak suka-suka amat pada pantai dan hanya suka musik rock.

Dalam hal musik rock ini, saya memiliki kegelisahan yang terkadang saya pikir memang subjektif, tapi ternyata setelah membaca tulisan dan mengobrol dengan beberapa orang, memang sudah banyak orang yang seperti saya: merindukan kejayaan musik rock dan muak dengan musik sekarang.

Ya, memang industri musik sekarang ini sangat memprihatinkan. Lagu-lagunya standar dan itu-itu saja. Menggunakan komputer di sana-sini sebagai penghias lagu bukannya seperangkat drum, bas dan gitar saja sebagai nyawa lagu. Coba deh dengerin lagu-lagu sekarang (saya yakin anda tahu lagu-lagu seperti apa yang saya maksud), lalu dengarkan lagi tahun depan. Pasti sudah basi dan terasa tidak enak lagi didengar. Lalu coba dengar lagi lagu seperti I'll be there for you-nya Bon Jovi atau 18 and life-nya Skid Row. Bandingkan dengan lagu sekarang yang baru rilis satu tahun lalu.

Musik rock sebenarnya sederhana. Dave Grohl bilang bahwa anda tinggal membeli seperangkat drum bekas, gitar butut, bass butut dan amplifier yang suaranya sudah pecah, lalu ajak teman-teman anda untuk bermain di garasi rumah anda, dan mainkan musik berisik. Sesederhana itu. 

Sekarang banyak band yang tidak memiliki modal kemampuan bermusik yang cukup namun bisa sukses, dan banyak pula yang sekadar ikut-ikutan lalu hanya menjadi one hit wonder. Saya tidak berprasangka buruk, saya tahu banyak sekali musisi dengan kemampuan bermusik tinggi, tapi mereka juga tidak bisa mengeluarkan lagu dengan solo gitar panjang dan beat cepat karena akan dianggap “terlalu bising” dan tidak sesuai dengan permintaan pasar.

Musik rock jelas pantas mendapat apresiasi lebih, jauh dari yang didapat sekarang. Bagaimana tidak, musik rock ini memiliki band-band serta tokoh-tokoh yang bisa dibilang ikonik, dari mulai Elvis Presley, John Lennon, hingga Jimi Hendrix. Ataupun legenda-legenda hidup seperti Mick Jagger, Bruce Dickinson atau Lars Ulrich.

Sekarang, penyuka musik rock malah dibilang seleranya jadul atau angkatan tua. Pada saat saya menonton Guns & Roses ataupun Mike Portnoy & friends, memang menyedihkan bahwa tidak ada teman saya yang mau diajak menonton, dan pada saat sampai di venue, penonton yang hadir memang berkategori om-om eksekutif muda sukses yang sebenarnya terlalu tua jika kita lihat mereka ber-headbanging.

Bukankah musik rock seharusnya musik anak muda? Bukankah anak muda seharusnya enerjik, dinamis dan tidak galau? Bukankah seharusnya mereka menjadikan patah hati atau putus cinta sebagai lucu-lucuan dan bukannya diseriusin sampai galau?

Acara-acara rock seperti malu-malu untuk digelar, baik skala besar maupun kecil. Program di radio yang menyajikan musik rock seharian penuh hanyalah Rock Weekend KIS FM. Dari namanya saja sudah ketahuan, acara ini hanya diputar pada akhir minggu, dan hanya sekali. Di mal dekat tempat tinggal saya, acara musik classic rock sebenarnya ada, tapi mereka menaruhnya di hari minggu malam, bukan prime time seperti jumat malam atau sabtu malam. Seolah musik rock dianggap seperti dibiarkan ada saja, tapi tidak dibina.

Keruntuhan industri musik memang ibarat tinggal menunggu klub Wigan Athletic terdegradasi dari EPL (dan memang sudah terjadi). Saat ini, terlalu banyak studio musik yang gulung tikar karena kurangnya minat anak-anak muda pada kegiatan ngeband, juga kurang musimnya acara pentas seni yang menghadirkan konsep full-band karena mereka menggantinya dengan konsep akustik minimalis. Bisa dibayangkan musik macam apa yang dimainkan oleh anak-anak yang lebih suka nongkrong di minimarket sambil ngobrol ngalor ngidul? Bukannya anak-anak yang main gitar 4 jam sehari untuk ngulik lagu-lagu Joe Satriani?

Untungnya masih ada secercah harapan. Setidaknya konser rock masih rutin digelar, artis-artis lawas masih diundang demi membakar kembali semangat rock yang mulai padam diantara generasi muda. Situs seperti www.jakartabeat.net banyak sekali menghadirkan tulisan-tulisan provokatif yang membakar semangat rock untuk generasi muda agar mereka tidak menjadi generasi yang membuat musik rock punah.

Mereka yang berada di jakartabeat tersebut saya yakin berusia sama dengan saya, atau lebih tua. Meneriakkan sisa-sisa kejayaan musik rock lewat tulisan-tulisan dan ajakan-ajakan mereka. Memperkenalkan kembali musik yang memang lebih layak untuk dikulik dan dipelajari agar tidak terjadi missing link di generasi sekarang terhadap kedahsyatan musik rock.

Rabu, 01 Mei 2013

My bands, my friends, my surroundings

Sebagai seorang yang antusias pada musik, selalu ada keinginan bagi saya untuk membentuk band dimanapun saya berkecimpung. Sudah beberapa band yang saya bentuk, atau band di mana saya menjadi anggota pelengkap. Ada yang bercita-cita tinggi, hanya sekejap, dan insidentil. Genrenya juga bermacam-macam. Inilah mereka:

Dreamer
Inilah nama band pertama saya. Kami bertemu dalam satu SMA. Sesuai namanya, kami memang hanya bermimpi. Band yang diisi oleh kumpulan anak muda labil dan bingung apakah mementingkan latihan band atau pacaran. Well, sebagai satu-satunya jomblo waktu itu di band ini, saya memang seperti tokoh antagonis yang pastinya tidak disukai pacar-pacar teman saya karena waktu latihan kerap mengganggu waktu mereka pacaran.

Band ini memainkan lagu-lagu khas orang baru belajar main musik. Lagu “band 3 kord” Green Day adalah yang paling sering kami mainkan. Saya memegang gitar di band ini. Kadang, kami juga memainkan Nirvana dan Metallica dengan kemampuan seadanya. Meski hanya sesaat dan tidak pernah manggung sekalipun, band ini adalah lambang perkenalan saya terhadap musik rock, yang sampai sekarang saya paling suka dibanding genre lain.

Setelah seorang personel (bassist) keluar karena merasa tidak cocok dengan personel lain, band ini kemudian bubar karena si vokalis dengan childish melarikan diri dan memilih untuk pacaran pada saat seharusnya mengikuti audisi tampil di acara sekolah.

Chicken Soup
Band kedua saya ini juga saya jalani di SMA. Setelah membubarkan Dreamer, saya bersama teman-teman baru yang menggemari band Dewa, Padi, dan Sheila on 7 yang saat itu sedang tenar memutuskan untuk membentuk band yang dinamakan Chicken Soup.

Nama ini diambil karena para personelnya berhati “chicken” alias pengecut dalam hal mendekati gebetan. Tapi secara skill, band ini jauh diatas Dreamer.

Saya masih memegang gitar, dan di audisi pertama kami gagal, padahal ekspektasi kami sangat tinggi saat itu. Semua kecewa, lalu personel band dirombak. Vokalis berganti, mengambil vokalis lain yang didepak oleh band lain. Pada saat manggung perdana, formasi band ini berubah total. Teman saya yang biasa bermain bass tiba-tiba memegang gitar, sementara sang keyboardis memegang bass.

Saat itu, memang saya kurang perhatian pada kualitas vokalis band kami. Bukan berarti vokalis kami jelek (ada 3 orang saat itu), tapi lebih karena tidak adanya pengaturan dan pembagian vokal. Kami terlalu sibuk mengurus aransemen lagu, sehingga abai pada kualitas vokal –hal yang membuat kami gagal lolos audisi.

Selepas lulus SMA, band ini praktis bubar, meski tidak ada kata bubar terucap.

Liar
Ini nama band yang asal terucap. Namanya juga asal, hasilnya pun kadang asal. Dalam band ini, saya mulai belajar main drum, yang akhirnya bertahan sampai sekarang. Di sini, saya bertemu seorang shredder guitarist yang sangat hobi untuk memainkan tehnik bergitar yang rumit. Ia penggemar Dewa era Ari Lasso, Guns & Roses, Mr. Big, dan Metallica. Band ini kemudian memainkan lagu-lagu tersebut.

Kesamaan genre yang kami usung membuat kami solid, namun kurangnya visi membuat kami jalan di tempat. Kami seperti katak dalam tempurung. Tidak bergaul dan tidak mencari network yang akan berguna bagi kami. Kami memang sempat manggung di beberapa acara, dan meninggalkan impresi positif. Tapi kemudian inkonsistensi permainan beberapa personel membuat band ini statis. Gitaris rhythm kami keluar karena memang dia angot-angotan, sementara bassist kami juga kemudian menyusul karena level permainannya tidak kunjung menyamai anggota lainnya.

Fireball
Dari personel Liar yang tersisa hanya 3, kami membentuk band dengan nama baru: Fireball. Saya mengambilnya dari sebuah judul lagu band Deep Purple. Dengan format minimalis ini, kami masih sanggup manggung di beberapa tempat, termasuk tempat ramai seperti mall. Kami lalu mencari-cari vokalis dan gitaris tambahan, pencarian itu berujung pada kedatangan dua orang teman eks personel band beraliran punk.

Kami sempat manggung sekali, sebelum kedua teman saya itu “menghilang” karena mereka kemudian bekerja diluar kota. Lalu saya mengajak seorang teman SMA untuk menjadi vokalis, dan hasilnya lumayan, meski sampai sekarang belum pernah tampil dimuka umum dengan formasi ini.

Kesibukan mengurus anak dan tempat kerja yang berjauhan membuat kami sulit berkumpul untuk latihan, padahal dengan band ini saya paling nyaman karena kesamaan genre. Sampai sekarang, sudah setahun lebih kami tidak berkumpul meski belum ada kata bubar.

Tax Freak
Ini adalah band paling megah yang pernah saya punya, baik secara materi lagu maupun tingginya level exposure. Band ini “banci” karena memainkan dua peran yaitu band kantor dan band senang-senang. Sebagai band kantor insidentil yang beranggotakan satu atau dua atasan, tentu ekspresi menjadi tertahan. Sebuah konsekuensi logis. Di sini, saya kembali memainkan gitar seperti jaman SMA dulu. Bersama band ini, saya harus juggling membagi waktu antara band dan pekerjaan. Dan memainkan peran ini memiliki tekanan yang memusingkan sekaligus menantang dan menyenangkan.

Sementara untuk versi “tanpa bos”, band ini memiliki keberagaman genre sesuai kegemaran para personelnya. Saya memainkan drum disini. Saya tidak bisa memaksakan genre rock pada anak-anak penggemar soul, pop atau R&B sebagai contohnya. Di band ini, saya belajar untuk menjadi pemain “pengiring” di mana kami memainkan lagu sesuai pesanan. Toleransi juga menjadi bagian penting dari band ini karena kami harus menyatukan berbagai ide yang datang dari preferensi pada genre berbeda.

Sampai sekarang, saya masih suka diajak latihan atau manggung oleh band ini, meski sudah tidak berada satu perusahaan dengan mereka. Setelah sempat berkoar-koar untuk menyeriusi band ini dan berencana membuat lagu sendiri, nampaknya mereka kini sudah lupa karena tenggelam terlalu dalam pada pekerjaan dan intensitas mengejar karir.

(No Name)
Band terbaru saya bersama teman kantor baru. Sebelumnya, katanya di kantor ini tidak pernah ada yang membentuk grup band, maka saya berinisiatif untuk membentuknya. Beranggotakan para mantan anak band dengan kemampuan merata dan tidak ada yang sangat menonjol, beda dengan di Tax Freak. Positifnya, kami besar di era yang berdekatan, dan menyukai genre yang relatif sama, yaitu rock sebagai dasar, dan lagu-lagu era 90an.

Setelah hanya beranggotakan 4 orang dan saya memainkan gitar, masuknya dua gitaris baru lalu menggeser saya ke posisi bass. Saya tidak memainkan drum karena sudah ada teman saya yang memang drummer. Formasi 6 orang ini berjalan cukup lancar dan kami telah menampilkan permainan bagus saat pertunjukan. Sayangnya, vokalis saya yang bersuara tinggi ini resign dari kantor.

Dan karena band ini memang sifatnya insidentil, sampai saat ini kami masih belum memikirkan lagi langkah selanjutnya. Oh iya, kalau saya sih akan belajar meningkatkan kemampuan bermain bass saja, instrumen yang belum saya kuasai benar.

***
Ya, demikian cerita band-band amatiran saya. Bagaimana dengan anda? 

Tentang Kepingan Memori dan Kontemplasi Stagnansi

Hari ini bukanlah hari yang baik buat saya. Bangun telat, akhirnya saya memutuskan mengendarai sepeda motor, bukan mobil seperti biasa. Saya kira tadinya ini keputusan bagus mengingat musim hujan (sepertinya) sudah usai. Tapi saya salah.

Hujan terus mengguyur kota Jakarta dari pukul 2 hingga maghrib, lalu berlanjut lagi hingga sekarang pukul 10 malam. Saya masih duduk di meja kerja untuk beres-beres sambil menunggu hujan reda, mengingat tidak ada persiapan jas hujan dari rumah. Akhirnya, saya berselancar.

Sedang bosan menulis atau membaca artikel sepak bola, saya membuka salah satu akun socmed yang telah lama saya cueki, Facebook. Dari berbagai klik dan penelusuran atas teman-teman, saya lalu menemukan seorang mutual friends yang ternyata teman saya saat SD dulu di Pasar Minggu. Teman-teman saya yang dari SD ini memang seperti tidak menjadi bagian hidup saya, karena saya masih terlalu kecil saat itu untuk mengenal mereka, bahkan mengingat nama dan wajah-wajah mereka. Tapi dari potongan-potongan kecil memori yang saya punya, akhirnya saya ingat beberapa orang teman, lalu asik berselancar kepada profil mereka, melihat-lihat foto mereka… yaa semacam aktivitas standar stalking lah.

Saya tidak akan add mereka as friend karena mereka sudah pasti sudah lupa dengan saya. Saya hanya 3 tahun sekelas dengan mereka, dari kelas 1 hingga kelas 3, sebelum kemudian saya pindah makin ke selatan, ke kota Depok.

Menemukan teman lama sama saja bertemu orang baru, tapi kita sudah kenal dia secara biodata, dan secara historis tentunya. Teman lama tersebut (apalagi teman masa kecil) tentunya sudah bukan lagi orang yang sama seperti yang kita kenal dahulu. Dan ketika saya mengklik satu persatu profil teman-teman lama yang saya ingat tersebut, saya hanya bisa tersenyum-senyum memandangi “etalase” kehidupan mereka yang telah mereka pajang di media sosial temuan Mark Zuckenberg ini.

Ada teman saya yang dulu anak orang kaya, kini menjadi seorang vokalis di sebuah band yang sepertinya ia bentuk bersama teman-teman kuliahnya. Ada pula teman saya yang menjadi staff IT di sebuah perusahaan, ada yang bekerja diluar negeri, ada yang bekerja sebagai pegawai pajak diluar pulau Jawa, dan lain-lain.

Wajah mereka masih tetap sama seperti dulu, saya seperti menyusun kepingan-kepingan memori lemah yang masih tersisa, mengingat-ingat wajah mereka, dan apa saja yang pernah saya lalui dalam waktu singkat masa kanak-kanak dengan mereka. Ah sayang sekali dulu belum ada kamera digital atau sejenisnya, sehingga foto-foto saya dengan mereka sudah raib entah kemana.

Lalu saya ingat-ingat lagi teman-teman lama saya yang lain. Dan setelah saya renungkan, hidup mereka sudah banyak yang jauh berubah dari kehidupan lama mereka. Bermacam-macam kehidupan terpampang dihadapan saya secara sesaat, membayangkan betapa dahulu kami masih sama-sama belajar di bangku sekolah. Meja yang sama coklat, kursi yang sama keras. Kini, masing-masing dari kami telah menduduki kursi yang boleh jadi berbeda. Bahkan, tidak sedikit yang bahkan belum memiliki kursi untuk menyandarkan lelah, karena kehidupan belum memberi mereka waktu untuk duduk bersantai.

Ah tanpa terasa hal ini membawa saya kemana-mana, termasuk bercermin pada diri sendiri. Dan ketika bercermin, saya bersyukur dengan segala kesederhanaan ini.


Selasa, 23 April 2013

My 10 Favorite Books



Buku adalah jendela dunia. Membaca membuat anda melihat dan mengenal. Sejak kecil, orang tua saya sering membelikan buku, mengajak ke toko buku. Saya sebenarnya bukan seorang geek atau pembaca buku akut. Boleh dibilang bacaan-bacaan yang saya tahu kebanyakan berasal dari artikel-artikel di internet.

Ya, saya tidak perlu malu untuk mengakui bahwa saya adalah generasi google. Referensi pertama saya dalam mencari tahu segala sesuatu adalah wikipedia sebelum kemudian mencari lebih dalam lagi ke sumber yang lain.

Hari ini adalah books day. Terinspirasi dari seorang teman, saya akan mencoba membuat daftar buku favorit. Buku-buku ini ada yang menggugah semangat, ada yang menghibur, hingga mengubah mindset. Saya tidak akan menulis buku agama dalam daftar ini, karena itu sifatnya personal. Dan karena saya passionate pada sepak bola, jangan heran jika ada beberapa buku sepak bola dalam daftar ini.

1. Imperium III oleh Eko Laksono
Buku ini sebenarnya adalah kumpulan cerita sejarah dunia yang dirangkum dalam sebuah buku. Penulis mengambil sejarah sebagai bahan rujukannya akan sebuah gagasan yang ia miliki soal manusia dan peradaban yang unggul. Eko dengan cair menceritakan sejarah peradaban dari berbagai era. Bagaimana sebuah peradaban itu bertransformasi dari kolot ke modern, hingga kemudian hancur oleh tangan-tangan mereka sendiri. Sebuah buku yang menjadi awal keberminatan saya pada sejarah.

2. Your job is (not) your career oleh Rene Suhardono
Membaca buku semacam ini disaat anda sedang menikmati pekerjaan sudah cukup membuat anda mengerem untuk berkaca. “Apakah ini pekerjaan yang sesuai dengan hati saya?”. Passion adalah inti dari buku ini. Passion adalah sesuatu yang membuat anda berbinar-binar saat melakukannya, tidak pernah takut dan tidak bosan.

Pada akhirnya, yang anda cari adalah kedamaian dan kebahagiaan. Dan jika anda melakukan pekerjaan sesuai passion, maka anda akan bahagia. Jika anda bahagia akan apa yang anda kerjakan, anda akan percaya diri. Dan jika anda percaya diri, maka anda akan sukses. Sebuah konsep berpikir yang berbeda 180 derajat dalam hidup saya setelah sebelumnya saya dicekoki oleh pandangan bahwa kesuksesan, jabatan dan harta akan membuat anda bahagia.

3. Nasional is me (Nasionalisme) by Pandji
Pandji adalah seorang pemuda paling optimistis soal negara Indonesia yang pernah saya lihat. Ditengah-tengah berbagai kehancuran dan kebobrokan yang melanda negara ini, Pandji mengajak kita untuk memandang dari sudut pandang lain, sekaligus mengajak kita untuk bergerak. Ya, bergerak dalam arti berkontribusi sesuai dengan apa yang kita mampu ketimbang hanya mengeluh dan mengkritik.

4. 99 Cahaya di Langit Eropa oleh Hanum Rais
Dalam buku yang ia tulis selama perjalanannya menemani suami bekerja dan melanjutkan studi di benua Eropa, Hanum mencoba mencari tahu mengenai sisa-sisa peninggalan peradaban Islam di benua biru ini. Meski demikian, ia sama sekali tidak mencoba menghakimi atau menilai. Buku ini tidak bias, melainkan obyektif. Dalam pencariannya ini pula, ia menceritakan pengalamannya hidup sebagai kaum minoritas dan mengajak kita untuk menjadi duta bagi agama Islam. Menunjukkan sikap-sikap terpuji dan elegan dan menunjukkan kebesaran ajaran Islam agar dunia dapat memandang agama ini lebih baik lagi. Sebuah buku dengan bingkai Islam, namun sebenarnya isinya universal.

5. How Soccer Explain The World oleh Franklin Foer
Franklin Foer adalah seorang penggemar sepak bola berkebangsaan Amerika Serikat, negara yang sama sekali tidak kental kultur sepak bolanya. Ia berkeliling dunia untuk melihat lebih dalam lagi makna sepak bola bagi banyak orang. Dalam pencariannya ini, ia banyak menemukan hal-hal mengejutkan dan seru tentang bagaimana sepak bola memang menyentuh kehidupan banyak orang. Ia juga banyak melihat sisi lain dari rivalitas antara klub satu dengan lainnya. Sebuah buku sepak bola yang menunjukkan bahwa sepak bola lebih dari budaya pop, tapi juga sudah menjadi budaya dunia. Buku ini bahkan tetap menarik untuk dibaca oleh siapapun, bukan hanya penggemar sepak bola.

6. Lost Symbol oleh Dan Brown
Dan Brown boleh dibilang adalah salah satu ikon teori konspirasi. Karya-karyanya seakan mencoba menguak segala sesuatu yang semula tak terpikirkan. Kekuatan tulisan Brown terletak pada detail-detail kecil yang sangat rajin ia kupas. Artefak-artefak, perkumpulan rahasia, karya seni, tempat-tempat terkenal di dunia ia gambarkan dengan sangat terperinci sehingga memancing imajinasi pembacanya untuk turut berada di tempat itu. Lost Symbol membahas tentang organisasi Freemason yang terkenal memiliki pengaruh besar di dunia namun bergerak secara diam-diam, terencana, rapi dan memiliki struktur tertentu sehingga organisasi ini sangat misterius. Brown membahasnya dengan bergairah sehingga pembacanya sulit melepaskan diri dari bukunya, meski kebanyakan bukunya lebih tebal daripada kamus bahasa Inggris.

7. I am Zlatan oleh Zlatan Ibrahimovic
Zlatan Ibrahimovic adalah salah satu pesepakbola terhebat yang pernah saya saksikan permainannya. Tidak hanya hebat, ia juga terlihat arogan dan slengean. Tingkahnya di lapangan maupun luar lapangan sangat cuek, tidak peduli akan penilaian orang. Seperti rockstar. Dalam buku biografinya ini ia dengan berani menyerang orang-orang yang ia tidak sukai sepanjang karirnya, sekaligus menceritakan masa kecilnya yang keras akibat perceraian kedua orang tuanya. Hal ini membentuk kepribadiannya hingga kini. Ibra adalah seorang pemain bola yang berskill tinggi dan bersikap tanpa basa basi. Membaca biografinya tidak membutuhkan kecerdasan literasi yang berlebihan karena berisi kata-kata slengean dan apa adanya. Tanpa menggurui atau menceramahi. Buku biografi pesepakbola paling menarik yang pernah saya baca.

8. Biru oleh Fira Basuki
Sebuah novel lama yang mengharu biru sesuai judulnya, namun saya tidak melihat kesan mellow didalamnya. Bercerita tentang kehidupan alumni sebuah SMA di kota Bogor yang akan mengadakan sebuah reuni akbar untuk saling berkumpul kembali. Dalam perjalanan mengurus acara inilah terkumpul kembali kepingan-kepingan memori yang sempat terpisah dan tercerai berai selepas mereka lulus SMA. Dan tanpa mereka sangka, beberapa diantara mereka memiliki kehidupan yang saling berhubungan. Sebuah sketsa kehidupan sehari-hari yang memperlihatkan sisi kelam sekaligus moral seseorang, juga memperlihatkan perjalanan hidup seseorang yang tidak pernah bisa diduga. Tutur kata Fira sebagai penulis sangat lugas, berani sekaligus puitis. Kata demi kata yang ia rangkai di buku ini memang magis.

9.  Madre oleh Dee Lestari
Ini adalah karya Dee favorit saya diantara karya-karyanya yang lain. Filosofi Kopi juga saya suka sih. Kurang tingginya literasi yang saya miliki membuat saya tidak terlalu bisa menikmati karya Dee yang lain, yang lebih bisa dibilang karya sastra tinggi. Madre ini ringan, sederhana dan ringkas. Bercerita tentang objek yang sederhana namun ternyata memiliki makna yang dalam bagi orang-orang yang hidup bertahun-tahun dengannya. Sebuah cerita yang ringan namun ditulis dengan gaya bahasa yang sangat menarik.

10. Cowok Matre - Lupus oleh Hilman
Serial Lupus menjadi bacaan favorit anak-anak angkatan saya. Penokohan yang kuat dari geng trio Lupus-Boim-Gusur adalah geng impian. Mereka berbeda karakter namun tetap bisa bersahabat karena adanya rasa respek dari masing-masing. Seorang Lupus yang biasa-biasa saja secara tampang dan kehidupan ekonomi merupakan kebalikan dari karakter Boy dalam Catatan Si Boy, remaja rekaan yang juga besar di tahun 90an.

Dengan kesederhanaannya, karakter Lupus berhasil memikat banyak orang. Saya sebenarnya tidak terlalu ingat jalan cerita buku ini karena sudah lama sekali saya terakhir membacanya. Bukunya juga sudah hilang disita oleh Ibu guru karena teman saya yang meminjamnya dengan ceroboh membacanya saat jam pelajaran di sekolah dulu. Mungkin buku ini masih tersimpan di perpustakaan SMA saya. Mungkin saja. 

Yang terakhir kali saya ingat dalam adegan buku ini adalah bagaimana semua orang jadian dengan gebetan masing-masing lalu merayakannya dengan makan-makan, lalu menyisakan Boim dan Gusur yang belum laku-laku. Alhasil, Gusur memaksa Boim untuk berdandan ala wanita demi makan-makan gratis.
***
Catatan: Karya-karya ini saya baca sebelum saya (mencoba) menyelesaikan bacaan-bacaan lain yang lebih berat. Bukan bermaksud meniru atau ingin menjadi orang lain, tapi hanya sekadar ingin tahu. Mungkin saja tahun depan daftar ini berubah. Sementara, ya beginilah.

Rabu, 17 April 2013

Bacalah Buku Sejarah Alternatif!

Pernah denger ungkapan ‘sejarah milik penguasa’? atau 'penguasa membentuk sejarah?'?

Sebagian dari anda mungkin pernah, sebagian tidak. Dalam sejarah peradaban dunia, penguasa memang seperti memiliki hak preogratif untuk mengubah sejarah, meski itu termasuk memutarbalikkan fakta.

Bangsa kita sudah terlalu lelap dan nyaman di-ninabobo-kan penguasa. Jika anda besar di era 80-90an, anda pasti tahu apa yang saya maksud. Sebagai contoh, setiap tahunnya kita selalu diputarkan film Penghianatan G30S/PKI yang memperlihatkan kekejaman anggota partai berlambang palu dan arit itu dalam menyiksa para Jenderal (dan 1 Letnan). PKI akhirnya ditumpas, dibunuh tanpa diadili, dinobatkan sebagai organisasi terlarang, bahkan keturunan mereka dijadikan warga kelas tiga karena hak-haknya dibatasi oleh negara.

Setelah keruntuhan orde baru, barulah kita dibelalakkan oleh fakta-fakta baru yang justru bertolak belakang. Tentang keterlibatan CIA, konspirasi tingkat tinggi penggulingan Bung Karno, dan lain-lain yang tinggal anda googling saja. Atau jika tidak ada akses internet, tinggal cari saja bukunya di toko buku mainstream sekalipun. Sekarang, membeli buku “kiri” akan membuat anda terlihat keren, sementara membeli buku pasar modal hanya akan ditertawai oleh penggemar Joseph Stiglitz.

Kembali lagi ke persoalan. Rupanya, cengkraman orba masih sebegitu kuatnya sehingga orang-orang sebegitunya masih percaya pada pelajaran-pelajaran sejarah yang mereka pelajari sejak duduk di bangku sekolah. Setiap penguasa pasti penuh pencitraan, dan untuk penguasa yang sudah berkuasa selama 30 tahun lebih tentu dampaknya sangat besar bagi rakyatnya. Contohnya adalah tanggapan banyak orang tentang sebuah artikel RA Kartini di sebuah media online mainstream.

Melihat pada kolom komentar, sangat menyedihkan. Betapa orang-orang yang nampak berpendidikan sekalipun masih sulit untuk menerima fakta baru, masih terbuai dengan dongeng-dongeng sejarah yang telah puluhan tahun diceritakan pada mereka. Mereka dengan dangkal malah menilai tulisan orang lain tidak bermutu, padahal mereka sendiri hanya bisa berkomentar, tidak bisa menulis sedikitpun.

Indoktrinasi ini sudah menembus relung hati terdalam sebagian dari kita, sehingga kita sulit untuk menerima fakta baru. Di negara yang memang baru lepas dari kekuasaan absolut seperti Indonesia, memang sebuah pemahaman yang dipupuk sudah lintas generasi. Bahkan generasi muda sekarang masih banyak yang menganggap ideologi selain kapitalis adalah ideologi sesat dan terlarang.

Indoktrinasi ini telah menjadi budaya.

Tidak, saya tidak hendak menghakimi benar atau salahnya sebuah ideologi. Lagipula, ideologi berasal dari pemikiran, dimana pemikiran adalah sesuatu yang tidak bisa dipersalahkan begitu saja. Kita hanya bisa melihat seperti apakah sebuah peradaban yang terbentuk dengan pemikiran tersebut untuk menilai bagaimana pengaruh sebuah pemikiran pada orang banyak.

Untuk itulah kita perlu lebih banyak mencari. Sekarang banyak bacaan sejarah alternatif yang mudah diperoleh, banyak penerbit-penerbit yang menjual buku sejarah yang memuat fakta baru, dan ternyata diakui pula oleh dunia internasional. Bahkan, buku-buku itu banyak pula ditulis oleh sejarawan asing.

Jadi memang sudah saatnya bagi kita untuk lebih pro-aktif lagi dalam mencari literatur sejarah, mengikuti diskusi-diskusi tentang sejarah, atau mencari tahu jurnal sejarah. Buku sejarah terbitan orde baru sudah tidak bisa lagi dijadikan referensi.

Di era sekarang, kita harus berpikiran terbuka untuk menerima ide-ide baru seraya tidak membiarkan pikiran kita tertutup dengan ide-ide lama yang telah ditanamkan oleh penguasa lama lewat buku-buku paket pelajarannya maupun corong-corong informasi andalan mereka.

Hal ini sangat penting agar kita bisa lepas dari pembohongan masif yang selama ini kita telan bulat-bulat tanpa disaring. Sebuah bangsa tentu harus mengetahui dengan pasti sejarah bangsanya, dan tidak boleh melupakan sejarah. Lagi-lagi slogan jas merah (jangan sesekali melupakan sejarah) dapat kita aplikasikan.

Tapi sebelum itu semua, marilah kita membuka diri akan pengetahuan-pengetahuan baru, juga fakta-fakta baru yang mungkin kita akan temui. Perkaya literasi dengan banyak membaca agar kita bisa lebih cerdas dalam menangkap apa yang disampaikan, sekaligus kita bisa memilah mana yang baik dan mana yang buruk. Bukannya terus terperangkap pada penelaahan aksesoris dari sebuah tulisan yang malah hanya akan membawa kita jalan ditempat.

Apapun yang akan kita temui, boleh jadi sesuai harapan namun bisa juga jauh dari harapan, bahkan mengecewakan kita. Untuk itu dibutuhkan ketulusan dan keikhlasan dalam menerima kenyataan, ketimbang terus hidup dalam kebanggaan semu yang ternyata hanya dongeng belaka.

Jumat, 05 April 2013

Remembering Kurt Cobain


Saya masih kecil disaat musik hair metal sudah memasuki akhir dari era kejayaan. Musik hair metal memiliki ciri khas lengkingan suara vokalis yang mampu mencapai nada tinggi dan gitaris-gitaris dengan kemampuan shredding yang eksepsional. Itu adalah genre musik yang mendekati utopis dimana kehandalan skill berpadu dengan harmoni dan penampilan total dari seorang rocker.
Genre ini mengakhiri era seiring kemunculan sekelompok anak muda dari Seattle pimpinan Kurt Cobain. bersama Nirvana, ia mengusung musik cepat dan brutal. Ia memiliki tujuan untuk memainkan genre punk, namun oleh publik malah ditahbiskan menjadi sebuah trend baru yang mengawali kejayaan alternative rock.

"Selama masih ada ketidakadilan terjadi di dunia, selama itu musik rock akan terdengar." Begitulah kurang lebih ungkapan gagah sekaligus masokis tentang genre musik rock ini. Sebuah genre yang memang timbul karena bentuk protes sosial maupun kemarahan tak tersalurkan. 

Well, baik grunge maupun punk adalah genre turunan dari rock. Grunge atau punk sama-sama memiliki aura pemberontakan dalam penyampaian maksud mereka, lewat hentakan, teriakan dan juga ketukan cepat. Tidak semua vokalis bisa berteriak melengking semerdu Sebastian Bach, tidak semua gitaris bisa menciptakan melodi gitar serumit Marty Friedman dan sesyahdu Slash. 


Tidak semua orang juga memiliki ketahanan telinga untuk terus mendengarkan musik bising dan ribet sepert itu. Tapi bukan berarti mereka tidak bisa mengekspresikan diri dengan genre rock. Musik alternatif hadir untuk menampung lebih banyak lagi aspirasi.


Saat saya beranjak puber, Kurt Cobain telah tiada. Namun gaung dari musik yang ia mainkan bersama Nirvana tidak pudar. Lagu seperti Smells Like Teen Spirit, About a Girl, Lithium, ataupun Polly adalah lagu-lagu yang menemani saya belajar mengenal musik, lagu-lagu yang sering menjadi lagu gitaran teman-teman di sekolah maupun di tempat tongkrongan.

Banyak pula yang memanfaatkan gelombang fanatisme ini dengan membuat studio musik rumahan, dimana banyak anak-anak seusia SMP rajin datang sepulang sekolah, berteriak-teriak ala Cobain. Sungguh indah saat itu. Membayangkan apa yang dilakukan anak-anak sekarang sepulang sekolahnya, atau musik-musik apa yang mereka dengarkan, saya mendadak bergidik ngeri.
Permainan gitar yang garang dan kasar dari Cobain, juga rhythm section yang apik hasil kolaborasi Krist Novoselic dan Dave Grohl menghasilkan musik unik yang segar, berbeda dengan musik njelimet dari band-band hair metal. Lebih sederhana dan manusiawi, untuk itulah banyak penggemar hair metal yang memalingkan muka pada mereka. Memang sudah seperti hukum alam bahwa segala sesuatu memang ibarat roda berputar.

Bagaimanapun, Cobain tidak terlalu menikmati ketenarannya. Sifatnya yang penyendiri akibat kondisi broken home yang ia alami tidak cocok dengan derasnya pemberitaan media dan perhatian orang-orang kepadanya. Seorang Kurt Cobain yang cuek dan tidak memerlukan make up dan tatanan rambut saat manggung di acara televisi memang tidak akan sejalan dengan dunia entertainment yang secara tidak masuk akal menuntut seorang pria untuk dibedaki.
Cobain mendapat inspirasi membuat lagu secara sederhana, dari apa yang ia alami sehari-hari. Jika orang biasa tidak memiliki kemampuan untuk menangkap sebuah momen sederhana menjadi suatu yang bermakna, maka tidak Cobain.

Lagu legendaris Smells Like Teen Spirit terinspirasi dari ledekan teman dari mantan pacarnya yang memang pemakai parfum bermerek Teen Spirit. Karena sering bersamanya, aroma tubuh sang wanita yang bernama Tobi Vail itu menempel ke tubuh Cobain. “You are smells like teen spirit!” begitulah ledekan dari teman sang pacar.
Kematiannya yang terasa terlalu cepat menggemparkan dunia, tepat 19 tahun lalu. Kematiannya hanya berjarak 3 tahun sejak album fenomenal “Nevermind” rilis. Banyak spekulasi beredar. Orang biasa menganggap kematian sang vokalis adalah efek dari popularitas, para sinis menganggap kematiannya sebagai bentuk desperasi dan ketidakmampuan menghadapi fenomena “orang kaya baru”. Sementara para pecandu teori konspirasi menghubung-hubungkan kematiannya dengan sang istri, Courtney Love.

Apapun itu, Cobain telah tiada. Ia memang membuat musik sederhana. Teriakannya tidak semerdu Fredy Mercury, permainan gitarnya tidak sebersih Izzy Stradlin, dan lirik-liriknya tidak sepuitis Bon Jovi. Namun tidak pelak Cobain adalah sosok influental yang mempengaruhi banyak musisi lain setelahnya, banyak band lain yang mengikuti gayanya dan caranya yang cuek dalam bersikap. Gaya kidalnya, rambutnya yang acak-acakan menutupi wajah, dan suara serak plus sengau seperti meracau adalah ciri khasnya yang tidak akan pernah bisa ditiru orang lain.
Rest in peace, Kurt!